Cara Menjadi Fashion Designer Otodidak

Dari kecil aku emang suka gambar dan suka membuat sesuatu, apa pun itu (termasuk membuat kegaduhan, haha). Tapi sayangnya minat dan bakat ini gak disalurkan oleh keluarga dan orang tua karena difikirnya hanya main-main dan di mata orang tua gw mungkin seni bukanlah pilihan hidup yang tepat.

Alhasil gw kuliah di jurusan Sastra Inggris dan kerja di lembaga konservasi lingkungan hidup internasional. Setelah beberapa tahun gw mulai jenuh dan berfikiran, gw ini sebenernya tujuan hidupnya apa sih, yang beneran bikin gw senang itu apa dan gw mau dikenal sebagai apa. Pekerjaan gw saat itu sangat baik dari ilmu, pengalaman, dan gaji, namun gw merasa sudah saatnya gw mulai fokus mengembangkan diri gw di bidang yang memang gw suka dan tidak terikat untuk pergi ke kantor atau dinas ke hutan belantara. So, gw memutuskan untuk mempelajari fashion design, namun gw bukan orang kaya, gw gak akan mampu untuk bayar biaya sekolah fashion yang biayanya selangit, belum lagi ditambah biaya hidup dan biaya per project nanti, lebih mahal lah dari biaya kuliah kedokteran paket ekstensi.

Bukan cuma dari masalah biaya, I also couldnt afford another 4 years of study, I didnt have the time, kecuali gw anak bangsawan yang mau kerja apa gak pun gak masalah. So gw menggunakan uang tabungan gw dan kerja apa aja yang bisa dikerjain untuk ngumpulin duit (dari ngajar sampe crypto trading pun gw jabanin) untuk mengambil langkah-langkah selanjutnya.

Walau pun gw bukan lulusan sekolah fashion, gw gak mau punya kemampuan yang malu-maluin, seenggaknya gw harus mengerti basic dari apa yang mereka pelajari di perkuliahan, baik dari elements and principles of fashion design, illustration, construction, textiles, manufacturing dll. Karena gw percaya bahwa everything in life can be learned, dan di zaman internet ini, akses belajar melimpah, asal ada niat dan mau ngeluangin waktu. Alhasil, walau pun masih merintis, tapi sekarang gw udah merasakan menghasilkan uang dari dunia fashion design. Ini berdasarkan pengalaman gw sendiri, apa aja yang gw jalanin untuk menjadi seorang fashion designer.

Menurut gw, banyak prasangka yang salah tentang dunia fashion dan title menjadi seorang fashion designer. Orang hanya tau luarnya aja dan hanya mau menjadi bagian luarnya aja, yang kesannya glamor dll. Terutama di Indonesia sendiri, banyak kita lihat figur designer, namun yang bener-bener melakukan tugas fashion designer mungkin gak seberapa. Bisa dibilang, kita beruntung tinggal di negara buruh, jadi upah para penjahit gak setinggi di luar negeri. Penjahit di negara maju pada kaya-kaya lho, karena pekerjaan skill dan custom products itu dihargai nilai tinggi. Sehingga lulusan sekolah fashion luar negeri, seperti Parson dll, memang diwajibkan untuk bisa menjahit sendiri, malah ada training dimana mereka disuruh menjahit 100 T-shirt untuk melatih dan membiasakan keterampilan mereka.

So, di Indonesia, bisa dibilang, kalo ada modal untuk beli kain dan mengupah penjahit, seseorang bisa jadi designer dan mulai menjual jasanya asal pintar membuat koneksi. Kalo punya modal lebih banyak lagi malah mampu menyewa orang lain yang lulusan fashion untuk merancang sebuah koleksi untuk dia. Apakah ini salah? Well, gak juga, rezeki orang berbeda-beda. Toh dia masih masih terlibat dalam proses design, walau pun gak terlibat penuh. Kalo di luar negeri, yang bisa mencapai posisi ini hanya nama-nama besar seperti Chanel, Prada, John Galliano, dll. Namun mereka menjalani proses yang sangat panjang untuk bisa sampai di posisi itu, John Galliano misalnya, doi bekerja di bawah nama orang lain selama 20 tahun sebelum menjadi sebesar sekarang. Namun di negara kita, proses itu bisa di short cut, itulah rezeki negara kita. Namun, yang perlu diingat, gak semua orang terlahir punya modal lebih dari cukup, seperti gw misalnya. Dan menurut gw, mengutip dari salah satu guru fashion gw yang sangat gw hormati, Zoe Hong, “Skills yang kamu kuasai atau tidak kuasai akan menentukan atau membatasi kamu akan jadi designer seperti apa.”

Yup, bener banget. Gw gak bisa bergantung sama yang namanya ‘hoki’. Gak mungkin seorang designer namanya di atas terus, terlebih lagi, gw gak mau kerja bergantung dengan lokasi. Banyak orang yang gak bisa pindah tempat tinggal karena udah terlanjur usahanya di suatu daerah. Orang yang punya ilmu dan skill yang lebih akan tau caranya untuk naik lagi ketika dia terjatuh. Ilmu dan kemampuan yang kita punya juga memberikan pilihan untuk gak selalu menjadi pengusaha dan berdiri sendiri. Kalo kita cuma bergantung sama penjahit dan modal nyontek model di Pinterest, kita jadi mau gak mau harus usaha sendiri, dan usaha gak selamanya berada diatas angin. Ketika usaha jatuh, akan susah kalo mau ngelamar kerja. So, in the end it’s up to you, mau jadi designer yang seperti apa, sama contohnya dengan pekerjaan lain, misal guru, what kind of teacher do you want to be?

  1. LEARN WHAT FASHION DESIGN IS ABOUT AND WHAT A FASHION DESIGNER IS

Pelajari basic dari design dan fashion itu sendiri. Banyak-banyak meng-google kurikulum perkuliahan sekolah fashion design dan mulai mencari informasi tentang masing-masing subject. Kalo gw sih, gw banyakin searching textbooks apa yang mereka gunakan untuk panduan pembelajaran dan gw search PDFnya, atau kalau gak ada ya terpaksa harus beli bukunya dari luar negeri dan harganya memang agak mahal. Tapi sebanding dengan ilmu apa yang didapat, karena kalo kita hanya bergantung sama resource berbahasa Indonesia, gak akan pernah cukup, kita masih sangat jauh ketinggalan. Gw memang bukan sarjana fashion, tapi ternyata pengetahuan gw gak kalah dengan mereka yang sudah lulusan fashion design, terutama sarjana fashion design universitas dalam negeri. Sudah banyak kok gw ketemu mereka yang tadinya lulusan SMK tata busana, lalu kuliah tata busana juga, namun ternyata pengetahuan dan kemampuannya di bawah gw dikarenakan mereka hanya bergantung dengan ilmu yang dikasih sama guru/ dosen mereka dan gak rajin untuk belajar dari sumber lain. Padahal ilmu itu selalu berkembang.

Dengan mempelajari benar-benar fashion design, kita jadi bisa tau siapa aja yang terlibat dalam pembuatan sebuah koleksi dan pilihan karir apa aja yang tersedia. So, pilihan karir di dunia fashion itu gak sesempit pemahaman awam tadi yang harus punya modal banyak. Contohnya gw sekarang, kalo gw hanya bergantung dari penjualan baju gw, ya gw gak bisa makan dong, secara creative works take time to take off, gw belum punya nama dan memulai dari bawah. Namun gw bisa menghasilkan juga masih dalam dunia fashion dengan kemampuan gw di dunia fashion yang lain, seperti freelance flat sketching and technical design. Apa itu? Ya di google, yak!

2. GET A TRAINING AND FIND A MENTOR

Kalo dibilang bener-bener otodidak, seseorang gak akan bisa bener-bener menjadi fashion designer, karena di bidang tertentu memang perlu guru dan proper training. Ada bidang dari fashion design yang lo bisa pelajari sendiri, tapi ada juga bidang yang kita memang mau gak mau harus mempunyai training yang cukup, seperti contohnya patternmaking dan menjahit. Walau pun kamu gak berencana untuk menjahit bajumu sendiri nanti, gak ada salahnya kita mengerti pengetahuan basic construction itu seperti apa. Gw punya temen (bule) yang jadi designer di Bali tapi langsung terjun bebas ke bisnis tersebut tanpa punya skill dan punya product, alhasil dia menghabiskan waktu dan uang yang banyak karena cuma satu masalah yang basic banget. Orang yang sudah mengerti basic, setidaknya gak akan membuat kesalahan sebanyak itu.

Namun untuk meminimalisir biaya pembelajaran, gw mensiasati dengan mengambil les jahit privat saja, untuk teori kebanyakan gw belajar sendiri dari internet dan buku. Namun gw juga mengambil les dengan seorang designer yang gw udah tau kualitasnya dan memiliki kredibilitas akademik, untuk mengetahui lebih dalam dunia fashion itu seperti apa sih, dan juga untuk mendapatkan feedback dan arahan design gw. Kalo belajar, dibilang gratis banget ya gak ada. Bahkan mau daftar beasiswa pun kita harus keluar modal kan, biaya tes TOEFLnya lah, medical check up, translate ijazah, dll.

3. PRACTICE AND SELF-DISCIPLINE

Bedanya dengan orang yang kuliah fashion, mereka mau gak mau harus ngikutin struktur, sehingga mereka punya timeline yang terukur. Sedangkan kita yang otodidak bergantung dengan disiplin diri kita sendiri. Ini yang paling susah dan gak semua orang bisa untuk fokus selama berjam-jam, berhari-hari dan berbulan-bulan untuk mempelajari suatu bidang.

4. DOCUMENT YOUR PROGRESS

Seringnya karena belajar sendiri, kita jadi gak tau progress kita ini udah sampe mana, beda dengan mereka yang sekolah, mereka punya grading yang lebih jelas. So, kita jadi ngerasa kok kayaknya pengetahuan gak nambah ya. Untuk mencegah itu, coba bikin track record setiap harinya belajar apa, walau pun hanya belajar 1 jam. Nanti misalnya sudah 100 hari, kita bisa melihat ke belakang kalo memang kita sudah berkembang dari kita sebelumnya.

5. BUILD YOUR PORTOFOLIO, NETWORK AND REACH OUT TO PEOPLE

Mulai lah mencicil dengan membuat karya, mau karya tersebut ada yang beli apa enggak, yang penting dibuat dulu. Disitu lah kita mengukuhkan kalo kita sudah memulai karir ini dan memberitahukan kepada orang lain tentang apa yang kita kerjakan. Portofolio itu mungkin gak berefek instan, tapi kita gak tau di kemudian hari seperti apa. Mungkin client gak butuh saat itu, tapi ketika nanti tiba saat dia butuh, dia tau bakal kemana.

6. NEVER STOP LEARNING AND ALWAYS IMPROVISE

Sudah menghasilkan karya bukan berarti tahap pembelajaran berhenti disitu. Semakin gw mempelajari suatu bidang semakin gw merasa gw gak tau apa-apa karena ternyata bidang fashion design itu luas dan dalam banget. Bahkan gw punya temen yang lulusan Parson pun bilang, gak akan cukup rasanya mempelajari fashion design selama 4 tahun itu, karena banyak banget ilmunya dan selalu berkembang. Nah lho, doi yang lulusan Parson aja bilang gitu, apalagi kita yang belajar otodidak, harus lebih semangat lagi! Hehe.

Dan kita juga harus pinter berimprovisasi dengan langkah dan karya kita, karena seperti yang gw bilang tadi, creative works take time to take off. And sometimes we fail, sometimes we succeed. So, if plan B doesn’t work, think about and execute plan C to Z!

Just never give up, every thing worth having never comes easily.

Bridesmaid dress_2706

Advertisements

Pengalaman Terbang dengan Ethiopian Airlines

20180721_200556

Penampakan dalam pesawat Ethiopian Airlines

Perjalanan ke luar negeri kedua gw di tahun ini adalah ke Afrika Selatan di akhir bulan Juli sampai Agustus kemaren. Biar lebih berasa African trip, jadi gw pilih airlinesnya juga yang Afrika-afrika gitu deh, yaitu dengan Ethiopian Airlines karena gw juga mau coba-coba airlines setelah sebelumnya terbang dengan Singapore Airline waktu ke Australia.

Selain itu juga karena waktu itu harganya lagi promo karena penerbangan gw saat itu adalah penerbangan perdana maskapai ini di Indonesia, makanya waktu gw berangkat, ada acara ceremonial dulu di pintu gate keberangkatan (dari pembuka oleh para manager dan tari-tarian Ethiopia gitu deh) dan penumpang yang berangkat hanya 40 orang, itu pun 90% para keluarga dari si manager tersebut. Yang orang Indonesia saat itu hanya gw dan satu orang lagi, selebihnya warga kulit hitam semua. Karena cuma 40 orang, jadi gw bebas pindah tempat duduk dan tidur selonjoran, hehe.

Penerbangan ke Afrika Selatan dari Indonesia totalnya adalah 22 jam terbang dengan dua kali transit, di Bangkok dan Addis Ababa. Transit di Bangkok penumpang tidak turun dari pesawat, karena hanya menaikkan penumpang lain dari Bangkok ke Ethiopia, hanya di Addis Ababa kita ganti pesawat. Ini adalah penerbangan terlama selama hidup gw selama ini, walau pun bisa dibilang pesawatnya nyaman, tapi gak kebayang sampe umur berapa gw kuat terbang lagi selama itu, haha!

20180808_155632

Pilihan makanan utama: beef, chicken, and fish. Gak ada pilihan menu B2 (alias pork).

Pesawat yang digunakan adalah pesawat yang besar dengan susunan bangku 3-4-3, layaknya pesawat penerbangan internasional. Untuk kualitas pesawat dan service, bisa dibilang sih kurang lebih sama dengan Singapore Airlines. Kenyamanan tempat duduknya dengan space kaki yang lebih luas dan manusiawi (kalo dibanding budget flights like Lion Air or Air Asia, haha) atau mungkin juga karena bule–apalagi orang kulit hitam–kan badannya gede-gede, jadi emang standarnya segitu, sedangkan untuk gw yang orang Asia, segitu sih udah nyaman dan luas (karena kebiasaan pake penerbangan murah sih ya, haha).

20180721_200613

Setiap bangku juga dilengkapi dengan in-flight entertainment yang sama persis alatnya dengan Singapore Airlines. Kita juga bisa pake USB dari device pribadi dan bisa ngecharge laptop dan hp (ada colokan listrik juga di bawah kursi). Perbedaannya isinya gak se-up-to-date Singapore Airlines, dan kebanyakan isinya film Afrika walau pun menggunakan bahasa Inggris. Makanannya pun juga enak-enak seperti Singapore Airlines, kita gak akan kelaparan karena dibagikan makan setiap penerbangan dan pramugari rajin mondar-mandir nawarin minuman. Bagi gua terasa berbeda kalo dibanding dengan Singapore Airlines adalah:

  1. Kurangnya variasi konten di in-flight entertainmentnya,
  2. Pramugarinya gak se-ramah dan gak peduli penampilan seperti pramugari Asia. Mereka baik sih, cuma gak murah senyum seperti orang Asia. Dan kalo pramugari Singapore Airlines, mau penerbangannya selama apa juga mereka penampilannya tetep rapi dan klimis, sedangkan pramugari Ethiopian Airlines lebih cuek dengan penampilan, layaknya orang yang sedang travelling, rambut mereka kadang sama kusutnya dengan rambut gw, haha, jadi gw merasa ada temennya gitu.
  3. Penumpangnya kebanyakan orang kulit hitam, such an experience juga sih buat gw. Gw ngerasa kulit gw ini udah hitam eksotis, ternyata gw malah yang paling putih di pesawat itu (untuk standar kulit berwarna, hehe).
20180809_163956

Bayi yang entah kenapa ngeliatin gw terus dan minta foto sama gw, disangka badut kali yak!

Seragam pramugarinya tidak menggunakan rok, mereka pakai celana dan kalo lagi mondar-mandir nawaran makanan-minuman, mereka pakai celemek. Jadi kerasa banget bahwa pekerjaan utama mereka adalah safety and service, gak kayak pramugari di Indonesia yang kebanyakan belagu gitu ya, hehe. Berbeda dengan pramugari Singapore Airlines yang badannya sumpah kecil banget, pramugari Ethiopian Airlines badannya lebih besar dan tinggi, mukanya eksotis gitu dengan matanya yang besar dan tulang rahangnya yang tinggi. Yang gw kurang suka sih style makeupnya, menurut gw style makeupnya lebih tebal dan pake warna lipstik yang gonjreng, gw sih kurang suka yang begitu, tapi ini selera pribadi ya…

Waktu di pesawat, gw sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa penumpang dan ternyata bagi mereka cewek yang cantik itu yang badannya besar dan tinggi, so mereka gak mengerti kenapa cewek Asia (especially Thailand) pada pingin punya badan sekecil mungkin, terlebih lagi mereka gak tinggi. Haha, tiap negara emang punya definisi cantik yang berbeda!

Overall gw punya impression positif untuk Ethiopian Airlines, tapi mungkin kalo gw terbang ke Afrika Selatan lagi gw akan mempertimbangkan Singapore Airlines aja karena maskapai tersebut memilik direct flight yang cuma 10 jam aja dongs…

Tipe-Tipe Bule di Bali

Bali sebagai destinasi wisata internasional memang mengundang banyak wisatawan internasional yang biasa disebut “bule” dalam bahasa Indonesia (walau pun kadang kata ‘bule’ lebih sering dikaitkan dengan ras kaukasoid).

Bule-bule ini banyak yang udah tinggal cukup lama di Bali atau yang tamu rutin setiap tahun. Banyak alasan mereka datang ke Bali, Bali sendiri memiliki keunikan ‘vibe’ yang berbeda-beda di setiap daerahnya sehingga tipe-tipe orang yang kita temukan di Canggu akan berbeda dengan yang di Ubud, begitu juga Kuta dan Sanur dll. Walau pun sering dianggap superior oleh bangsa kita sendiri, padahal bule itu sama aja dengan kita karena mereka juga sama-sama manusia, yang baik ya baik, yang jahat ya jahat. Ada yang pinter, ada yang setengah dan ada yang ‘otak kuah kacang’ juga. Pengalaman gua tinggal di Bali membuat gw bisa mengkategorikan bule-bule itu menjadi beberapa tipe (**disusun random):

  1. Bule Ordinary Tourist

Bule yang ini hanya wisatawan biasa, tujuannya hanya berlibur dalam waktu relatif singkat, gak ada tujuan lain (misal mencari jati diri, atau investasi). Biasanya sama pasangan atau sama keluarga. Mereka gak sibuk-sibuk cari penginapan atau transportasi yang murah karena mereka cuma mau nyaman, dan mereka juga gak seberapa make time to know the locals karena mereka cuma akan disana sebentar saja. Dari cara jalannya pun mereka berbeda, karena biasanya lebih lambat karena mereka melihat-lihat sekitar dan untuk shopping souvenirs. Mereka biasanya ada di tempat-tempat wisata yang mainstream seperti Pantai Kuta, Tegalalang di Ubud etc.

2. Bule Party-Mode

Nah ini dia bule yang tujuannya mabok dan party doank (dan sex), mereka melihat Bali hanya sebagai Vegas-tanpa-cassino murah muriah. Kebanyakan berasal dari Australia, karena paling dekat dengan Indonesia, usianya kebanyakan masih dedek-dedek bule yang kerjaan di negaranya sebenernya masih entry-level, misal waiter, penjaga toko dll, tapi karena konversi dolar ke rupiah, mereka jadi bisa seneng-seneng dengan murah yang belum tentu di negaranya mereka bisa. Gak cuma dedek-dedek ababil, ada juga yang usia dewasa yang lagi mengalami puber kedua (atau gak berhenti puber) kali ya, hehe.

Destinasinya cuma night clubs and bars di daerah Seminyak. Looking for drinks, dance, drugs, and hookups. Boring buat gua mah. Bule begini nih yang sasarannya para prostitutes dan one-night-standers. Mereka gak mencari cinta, jadi kalo ketemu di Tinder dengan bule yang stay di daerah Seminyak, jangan berharap lebih, ya! Hehe.

3. Bule Kismin: Bule Backpacker, Bule Kehabisan Duit karena Gak Mau Pulang

Bule miskin atau PaHe (Paket Hemat) ada yang karena emang tujuannya backpacker dan ada juga yang karena keasikan tinggal di Bali tapi gak mau pulang-pulang, jadi lama-lama duitnya abis dongs. Kalo bule backpacker, kisminnya masih terhormat (menurut gw sih ya..) siapa tau mereka cuma mau bikin record perjalanan termurah aja, bukan berarti mereka kere. Mereka berjiwa adventurous, berbaur dengan lokal, makan-makanan lokal, dan seringnya ke tempat-tempat anti-mainstream, kayak pantai dan air terjun yang masih belum terjamah gitu. Tujuannya wisatanya lebih ke berpetualang dan mengenal kultur negara lain, walau pun kere, mereka ini punya ‘charm’ tersendiri, yah pesonanya anak Mapala gitu deh, hehe…

Sedangkan kategori bule kismin yang satunya lagi lebih mengarah ke gembel. Yang begini lebih baik dijauhin, mereka mengerti cara memanfaatkan kebaikan orang lokal dan kadang mau numpang hidup via couchsurfing dalam waktu yang relatively lama (hitungan bulan) dan selalu cari masalah kalo diminta pindah.

4. Bule Eat, Pray, Love Syndrome

Ini adalah kategori bule mencari cinta. Kesuksesan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert berdampak magis membuat para hopeless romantic ini datang ke Bali dengan tujuan mencari cinta atau mencari inspirasi, biar kayak si penulis gitu ya… Jiwa-jiwa yang insecured dan sedang mencoba membangun optimisme dan berharap menemukan sesuatu di Bali, kebanyakan sih berjiwa penulis gitu. Paling banyak ditemukan di daerah Ubud (karena si Elizabeth Gilbert perginya ke Ubud) sambil memegang pena dan notebook di meja-meja cafe, layaknya orang menunggu ditendang inspirasi. Tapi believe it or not, karena banyaknya penulis yang tinggal di Ubud, Ubud bisa dijadikan tempat yang baik bagi para penulis ini untuk networking atau belajar dari penulis senior juga!

5. Bule Hippie

Bule Hippie adalah salah satu tipe manusia yang sering ditemukan di Ubud, mereka kadang terlalu (sok) spiritual gitu sampe-sampe kalo mereka ngomong, kita jadi bingung mereka ini lagi ngomong apa ngelantur mabok. Mungkin niatnya terdengar bijak tingkat dewa, tapi malah jadi kebanyakan bullshit kadangan, haha. Seringnya mereka melakukan yoga, tapi gak cuma yoga olahraga fisik, lebih ke spiritualitas. Yang spiritual tapi masih normal juga banyak kok, bedanya kalo udah level hippie ini, udah di luar normal. Mereka gak begitu peduli dengan penampilan, terlihat seperti gembel, hobi nyeker dan kadang-kadang bau badan (entah dengan alasan spiritual macam apa).

6. Bule Pensiunan

Oma dan opa bule yang sudah pensiun dan mau menjalani masa-masa pensiunnya dengan senang-senang ke tempat-tempat eksotis di negara berkembang seperti Bali biasanya berlokasi di Sanur. Kenapa Sanur?? Karena Sanur adalah Seminyak zaman dulu, dulu Sanur adalah tempat party dan hectic, namun sekarang sudah berpindah ke Seminyak jadi Sanur lebih adem buat para elderly ini. Makanya kalo ke Sanur banyaknya bule-bule yang udah tua yang mencari ketenangan atau bule-bule yang berwisata dengan keluarga karena mungkin Kuta dinilai kurang aman buat keluarga (ya iyalah ya, kalo lakinya digodain hookers gimana coba, hehe). Mereka gak peduli dengan yoga di Ubud atau dugem di Seminyak.

7. Bule Yoga Melulu

Bule Yoga berbeda dengan bule hippie, bule yoga gak segila bule hippie. Tujuan mereka memang untuk memperdalam yoga atau sedang mengambil teacher training, jadi kerjanya yoga melulu, sehari bisa ambil 3-4 kelas, gila gak itu! Bule Yoga kebanyakan di Ubud, tapi gak menutup kemungkinan di Canggu karena dengan di Canggu juga banyak studio yoga yang oke dan karena Bule Yoga lebih fleksibel dan fun orangnya ketimbang Bule Hippie, Canggu terlalu ‘berisik’ mungkin buat bule Hippie.

8. Bule Senior

Bule Senior maksudnya bukan bule gaek, tapi bule yang udah lama tinggal di Indonesia, baik tahunan atau sudah menikah dengan orang Indonesia. Bule tipe ini sudah lebih mengerti tentang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dari yang sedikit sampai yang lancar dan tau seluk-beluk jalan di Bali. Karena bule ini udah terbiasa dengan beberapa kekurangan sifat orang Indonesia (misal ngaret), mereka jadi lebih toleran, atau malah mereka jadi ikutan ngaret. Ada yang bilang, saking santainya hidup di Bali, bule aja bisa ngaret!

9. Bule Surfer

Bule Surfer menduduki peringkat bule paling seksi menurut Madame Citra Ayu Wardani, hahaha. Mereka dengan kulit terpapar mataharinya dan hobi maen-maen sama ombak, kalo keluar ngegotong papan surfer sambil topless, dan karena olahraga surfing, dadanya biasanya keren dan ‘memanggil’ gitu deh–memanggil buat ditatap. Surfer juga biasanya orangnya asik dan easy-going, gak cuma surfer cowok, tapi juga cewek. Ada yang sudah bekerja sebagai instruktur surfing baik dengan legal dan illegal, hehe. Bule Surfer banyak ditemukan di daerah pantai, seperti Canggu, Uluwatu etc.

10. Bule Start-up/ Digital Nomad

Bali gak cuma sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai tempat kerja impian para digital nomads yang banyak berkembang di generasi millenial. Bali bisa dibilang salah satu pusat start-up di Indonesia, didukung dengan adanya coworking space Dojo dan Hubud yang masuk dalam nominasi coworking space terbaik dan community-oriented di dunia. Thank’s to YouTube yang semakin mengiklankan Bali sebagai lokasi idaman bagi para digital nomads. Banyak yang menemukan rekan kerja atau dapat kerjaan juga di Bali karena berkumpul di pusat digital nomads ini, pekerjaannya juga menarik-menarik dari content creator, programmer, marketer, designer, trader, dropshipper dll.

Tujuan mereka datang ke Bali yang paling utama adalah mencapai digital nomad lifestyle, so mereka bukan yang tipe mencari cinta, spiritual etc. Mereka punya goals dan semangat untuk maju yang kuat tapi juga tetap bisa diajak asik, karena sehabis kerja mereka nyantai ke pantai, tapi kalo lagi kerja ya serius banget. Ini tipe bule yang paling gw suka untuk gw deketin, karena semangat, kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya yang bagi gw menginspirasi. Gua jadi belajar dari mereka ternyata cara nyari duit yang anti-mainstream dan fun itu banyak asal mau kerja keras. Gaya mereka emang santai (tipikal gaya anak startup lah ya…) tapi duitnya oke punya. Namun karena mereka freelancers atau entrepreneur, mereka bukan tipe bule hura-hura, mereka saving money for what might happen in the future.

Bule StartUp bisa ditemukan di daerah Canggu dan Hubud karena dua tempat ini punya coworking yang paling keren dan paling banyak diminati. Paling keren kalo udah programmer terus juga surfer, adududuhhhh… udah lah bang, pasang harga aja, Adek beli! Hahah!

Mereka biasanya tinggal di Bali untuk durasi yang semi-permanent, hitungan bulan sampai tahunan, yah namanya juga nomads, jadi pindah-pindah.

11. Bule Money-Minded

Bule Money-Minded berbeda dengan Bule StartUp, bule ini hanya melihat Bali sebagai ladang investasi. Di otaknya cuma beli tanah atau beli properti, mereka menuntut gimana caranya biar bisa cepat dan mudah beli tanah di Indonesia tapi mereka gak peduli untuk membantu membangun Bali. Mereka cuma bisa complain dan berfikiran buruk tentang orang lokal–walau pun emang sih banyak kasusnya orang lokal yang menipu bule dan bawa lari kepemilikan tanah/ properti karena orang asing hanya bisa beli Hak Pakai untuk 50 tahun unless memakai nama orang Indonesia. Gak sedikit dari mereka yang nikahin lokal hanya untuk bisnis, kadang yang orang lokalnya gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Bukannya gw mau ngejudge ya, tapi gw gak ngerti gimana caranya bisa sayang kalo komunikasi aja gak nyambung, bukan dari masalah bahasa tapi juga dari topik pembahasan.

Bule Money-Minded ini gak peduli untuk berbaur dengan orang lokal kalau gak ada untungnya. Bule ini, ketika mereka memiliki bisnis di Bali, hanya perduli dengan harga tenaga kerja murah. Ini tipe bule yang gua gak suka, pernah di beberapa seminar ketika mereka complain ini-itu tentang Indonesia, gw debat abis. “Lo mau enaknya doank, lo dateng ke Indonesia enggak bayar visa, enggak harus tes kefasihan bahasa Indonesia, mana konversi dolar ke rupiah pula. Nah orang gua, mau bikin negara lo untung aja harus bayar berjuta-juta dulu buat tes bahasa doang. Do we complain? Kagak. Nah sampeyan segala enak, cuma ngikutin peraturan aja gak mau. Lo mau berurusan sama orang Indonesia, tapi buat belajar bahasa orang aja lo gak mau, ya itu sih namanya minta ditipu, Bro/ Mbak’e!” Mereka complain peraturan negara kita susah, woy gak ngaca apa gw ngurus visa buat masuk negara dia liburan aja susahnya minta ampun. Nah kan, jadi esmosi ini gw. Huhah!!

12. Bule Influencer

Karena keeksotisan dan ketenaran Bali, maka banyak travel vloggers atau seleb Instagram dari beberapa negara yang memasukkan Bali ke daftar wajib mereka. Kita mungkin gak kenal mereka, tapi ternyata di negara mereka sendiri mereka mempunya following yang cukup banyak, paling banyak nangkring di daerah Canggu, Seminyak dan Uluwatu. Beberapa yang pernah gw ketemuin langsung adalah Lost Le Blanc, Laura Reid dan alm. Ryker Gambler. Tapi saat itu gw gak tau mereka siapa dan kalau mereka ternyata YouTuber. Kadang tipe bule ini agak annoying sih, bukan tipe bule doank dink, maksud gw tipe manusia jenis ini in general kayaknya emang gak asik di dunia nyata, terlalu self-centered, hehe.

13. Bule Mafia dan Illegal

Bule jenis ini biasanya ngejalanin bisnis dengan cara suap dan bohong, misalnya bekerja atau memperkerjakan sesama bule dengan visa turis di Indonesia tanpa work permit etc. Hampir mirip dengan Bule Money-Minded, namun Bule Mafia/ Illegal juga termasuk orang dengan criminal record di negaranya, misal child predators dan juga orang-orang yang visanya udah habis tapi males ngurus sehingga keberadaan mereka di Indonesia jadi illegal. Gak bisa disalahin merekanya doank juga karena justru negara kita yang kenapa bisa memperbolehkan orang-orang dengan criminal record masuk dengan mudah.

14. Bule Seniman

Bali banyak mengundang hati para seniman dari berbagai negara, dari musisi, penulis, dan pelukis. Beberapa di antaranya memilih menetap dan menikah dengan orang Indonesia dan membuat museum karya-karya mereka, salah satu contohnya alm. Antonio Blanco yang memiliki museum di Ubud. Kebanyakan seniman ini tinggal di daerah Ubud.

15. Bule Heroes

Bule Heroes adalah para bule yang memiliki sifat terpuji dan patut dicontoh. Mereka bener-bener cinta dengan Bali dan Indonesia sehingga mereka banyak membantu lewat charity dan membangun organisasi relawan, dari relawan membantu anak-anak jalanan, binatang terlantar, bersihin pantai, edukasi, dll. Karena jasanya bagi masyarakat setempat, gak sedikit dari mereka yang diberikan gelar adat dari masyarakat Bali.

16. Bule Asia

Bule Asia adalah bule dari negara-negara Asia yang kurang lebih bentuk fisiknya mirip sama kita, kebanyakan berasal dari Thailand, Jepang dan Filipina. Makanya kalau gw lagi jalan-jalan di Bali sendiri, orang lokal selalu mencoba berbahasa Inggris sama gw karena gw disangkanya wisatawan asing.

17. Bule Setengah Bule

Ini adalah bule blasteran dari pernikahan campuran orang Indonesia dengan Bule. Hasil produk blasteran ini emang beda pula pesonanya. Mereka fasih berbahasa Inggris dan Indonesia ketimbang orang tuanya.

18. Bule TKA

Bule ini adalah tenaga kerja asing di Indonesia, mereka bekerja di pulau lain di Indonesia, contohnya pilot-pilot bule yang kerja di daerah-daerah atau yang kerja di perusahaan asing di kota besar lain. Biasanya mereka ke Bali karena kangen dengan western environment, ya maklum lah kita juga kalo tinggal di negara orang juga pasti bakal kangen dengan suasana Asia.

#CADAS2018: Gelandangan di Adelaide

20180521_141248.jpg

Sebagai warga negara dari negara berkembang, gambaran awal gue tentang negara maju seperti Australia adalah rakyatnya makmur sentosa karena negaranya beneran berusaha memberikan yang terbaik buat warganya, pajak tinggi tapi emang bisa dinikmati rakyat, kebutuhan hidup terpenuhi, gak kayak negara kite yang uang buat bikin KTP aja dikorupsi rame-rame.

Australia juga memberikan jaminan pensiunan yang baik untuk warganya, makanya banyak orang-orang tua yang bekerja sebagai volunteer di tempat-tempat seperti museum dll dan gak digaji, karena mereka juga hidupnya udah secured. Dengan gambaran seperti itu, gw jadi gak ngerti kenapa masih gw liat ada homeless people di Adelaide.

Orang-orang ini hidup hanya dengan tas yang berisi kebutuhan hidup untuk empat musim. Mereka menggunakan fasilitas publik untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dengan bis gratis, mandi, buang air dll. Gue disana saat musim dingin, kebayang dong kalo harus berada di luar ruangan terus selama berbulan-bulan di udara seperti itu. So, orang-orang ini kadang curi-curi kesempatan di fasiitas umum seperti perpustakaan, pengalaman yang lucu ketika gw ngeliat orang yang pura-pura ngebaca buku di perpustakaan dengan kacamata yang ada stiker mata, sehingga seolah-olah dia lagi baca buku, padahal numpang tidur, hehe.

Gw penasaran, kok masih ada yang hidup jadi gembel disini dan kenapa gak ada gw temuin gelandangan yang usia anak-anak (beda dengan Indonesia yang gelandangan dari segala umur ada). Berbuhung gw anaknya hiperaktif, jadi gw selalu mencari event yang ada di suatu kota yang lagi gw tempati dari internet, apps yang biasa gw pake untuk menemukan event-event menarik adalah Eventbrite. So, hampir setiap hari selama di Adelaide, gw selalu aja ada event yang gw datengin, dari seminar sampe kelas yoga dan dance dan malah malam perkumpulan orang-orang Arab pun gw datengin (padahal gw bukan Arab!). Salah satu event yang gw datengin adalah charity event tentang homeless people ini dimana komunitas tersebut mencoba menolong para homeless people dengan bantuan makanan, pakaian, sharing skill untuk mencari kerja, atau hanya being someone to talk to, dan sebagai mediasi aspirasi dari apa yang mereka harapkan dari pemerintah. Jadi gw ikutan deh, jarang-jarang kan gw nemu gembel bule-bule, hehe.

Ada sekitar 15 gelandangan yang dikumpul saat itu, sebagian besarnya ras kulit putih dan semuanya berusia dewasa, gak ada usia anak-anak. Saat itu gw bertanya hampir ke mereka semua tentang apa yang terjadi di hidup mereka sehingga mereka bisa di situasi ini, kenapa sampe negara gak bisa menolong lagi. Kesimpulan gw dari para gelandangan ini dan juga informasi dari para volunteer adalah bahwa penyebab kemiskinan paling tinggi di Australia adalah ADDICTION alias penyakit kecanduan terhadap sesuatu, baik itu candu drugs, alcohol dan judi. 

Setiap orang punya alasan masing-masing yang membuat mereka berada di situasi seperti itu, pemicu kebanyakan adalah depresi yang bisa disebabkan karena kejadian buruk di masa lalu atau ketidakpuasaan dengan sesuatu. Salah satu contohnya, ada ibu-ibu yang jadi gelandangan karena korban sex abuse waktu dia masih berumur 18 tahun dan berpuluh-puluh tahun kemudian kejadian itu masih mempengaruhi dia sehingga dia gak bisa fokus bekerja dan mengejar mimpinya, it’s hard for her to get back on her feet, padahal waktu itu dia baru aja keterima kuliah di universitas bergengsi dengan harapan sukses di kemudian hari.

Awalnya, karena gw berasal dari negara yang katanya negara miskin, mendengar alasan kata addiction membuat gw sekilas gak simpati karena gw berfikir, itu kan pilihan lo, lah di negara gw lebih banyak orang-orang yang lebih pantas ditolong karena mereka gak pernah punya pilihan. Tapi sebenernya itu pemikiran yang ignorant, karena just because mereka hidup di negara kaya tidak menjamin kalo hidup mereka terlepas dari masalah.

Addiction memang terdengar seperti pilihan, namun sebenarnya mereka juga helpless. Coba fikirkan kalo aja saat umur begitu belia, kita dikhianatin oleh orang yang kita percaya separah itu, sedangkan gua aja waktu masih 17 tahun enggak dibolehin kuliah di tempat yang gw mau, gw memendam kekesalan itu sampe lebih dari lima tahun, dan itu mempengaruhi gw membuang-buang waktu, uang dan tenaga selama bertahun-tahun.

Alasan kenapa gak ada gelandangan anak-anak adalah karena negaranya punya child care yang baik, kalo ketemu anak gak keurus di jalanan, negara mengambil alih. Namun demikian gak ada yang menjamin anak-anak tersebut bisa terlepas dari kekecewaan setelah mereka dewasa walau pun negara udah berusaha sebisa mungkin.

Depresi bukan lah hal yang sepele. Gak ada orang yang memilih untuk depresi, bahkan Dewi Persik yang gila drama sekali pun. Para volunteer ini sebagian memiliki background yang pernah berhubungan dengan pengidap depresi, entah keluarga atau temannya, jadi mereka membantu para gelandangan ini sebagai mediasi harapan dari para gelandangan ini bagi pemerintah dan masyarakat, memberi donasi atau hanya sebagai somebody to talk to for a night. Karena bisa jadi ada yang berencana mengakhiri hidupnya karena merasakan kesepian dan kegagalan yang mendalam, tapi karena seseorang ‘lending his ears and attention’ bahkan hanya untuk sejenak, itu bisa merubah pilihan orang tersebut.

Cerita dari Afrika Selatan, Ternyata Afsel itu…

IMG-20180723-WA0003

Negara-negara di benua Afrika bukan lah negara destinasi wisata yang umum bagi orang Indonesia, kita juga gak tau banyak tentang benua tersebut, malah banyak yang masih mengeneralisasi benua tersebut sebagai sebuah negara! **Duuh!!

Gua sendiri juga gak tau banyak tentang Afrika Selatan sebelum tenarnya Trevor Noah (komedian dan host The Daily Show dari Afsel yang berketurunan campuran saat apartheid masih berlaku). Dulu gua cuma tau dari World Cup tahun 2010 dimana Afsel adalah salah satu host countrynya. Who had known delapan tahun kemudian gw malah berkesempatan berkunjung ke Afrika Selatan.

Berikut adalah beberapa hal yang ternyata berbeda dengan apa yang orang Indonesia persepsikan tentang Afrika Selatan:

  • Bukan negara miskin!

LOL, selama ini kita selalu aja dapat gambaran yang gak bagus-bagus tentang Afrika, seolah-olah semua negara di benua Afrika adalah negara kismin, penuh kelaparan, jorok, dll. Padahal gak semua negara seperti itu, sama dengan negara-negara di benua Asia, ada yang miskin, STD, dan maju. Afsel mungkin salah satu negara yang maju, pendapatan perkapita mereka menempati urutan ke 76 sedangkan Indonesia berada di peringkat 120 berdasarkan data dari IMF. Capetown, ibu kota legistatifnya, masuk dalam nominasi The Best City to Live In pada tahun 2016. Afsel memiliki tambang emas yang melimpah juga.

  • Negaranya bersih!

‘Miskin’ yang gw maksud mungkin berbeda maknanya kalo dibandingkan oleh pemahaman dari negara-negara barat, bagi mereka mungkin Afsel masih masuk dalam kategori negara berkembang, tapi bagi gw yang datang dari negara yang seperti Indonesia, bagi gw Afsel lebih maju dalam banyak hal ketimbang kita. Salah satu contoh kemajuannya aja adalah kesadaran masyarakatnya untuk gak buang sampah sembarangan. Negaranya bersih banget kalo dibanding Indonesia yang tiap 3 meter ketemu sampah. Gw melewati beberapa slum area (bronx) yang mayoritas dihuni kulit hitam dan salutnya adalah bahwa bahkan slum area nya pun bersih minta ampun! Gak ada sampah berserakan atau bau-bauan (apalagi bau kali keitem-iteman) sepanjang jalan. Bahkan anak kecil aja sadar buat lebih baik ngantongin sampah di sakunya sampai ketemu kotak sampah daripada harus buang sampah bukan di tempatnya. Apa kabar di Indonesia?? Jangan kan buang sampah, lah buang ingus, dahak dan upil aja bisa ditempat umum.

Saat berbelanja juga sangat jarang diberikan kantong plastic, banyak yang membawa tas belanjaan sendiri, penggunaan kantong plastic juga dikenakan biaya tambahan. Udara disana bersih, sehingga jarak pandang pun bisa jauh. Duh, kalo liat yang begini suka jadi ngerasa miris kalo inget negeri sendiri, selama ini kepedean kalo kita lebih ‘maju’ dibanding Afrika (in general), ternyata enggak juga cinnn!

  • Gak cuma kulit hitam, ada kulit putihnya juga!

Inget gak film Mean Girls dimana Lindsay Lohan yang anak baru mengenalkan dirinya yang baru pindah dari Afsel dan anak-anak di sekolah barunya di Amerika menanyakan kenapa dia berkulit putih kalo dia dari Afsel?? Hehe, begitu juga sepertinya persepsi orang Indonesia tentang Afsel, disangka hitam semua! Padahal, sebagai negara ex-apartheid, banyak warga kulit putih juga di Afsel. Mereka sudah menghuni Afsel selama ratusan tahun dari generasi ke generasi. Saat Apartheid berlaku, mereka tidak hidup berbaur dengan warga kulit hitam, namun setelah jatuhnya rezim Apartheid di tahun 1994, sudah mulai terjadi perbauran antar mereka. Walau pun belum sepenuhnya berbaur (yah namanya juga masih baru, baru 24 tahun), tapi gak mesti kalo kulit putih kaya semua atau kalo hitam pasti miskin. Banyak juga kulit putih yang memiliki pekerjaan blue-collar kok, in the end what you can do defines what you will be, not what you’re born with.

11% dari total populasi di Afsel adalah ras kulit putih yang mayoritas berketurunan Belanda, Perancis, Inggris dan Jerman. Dari nama belakang/ nama keluarganya kita bisa tau seseorang berketurunan dari negara mana. Kulit berwarna (termasuk Asia) menduduki 9% dari jumlah populasi, tapi sangat jarang gw temukan orang Asia selain India disana.

Dinamika dan hubungan kedua ras di Afsel menurut gw sangat menarik yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan mereka dan punya kesamaan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Nanti gua akan bikin tulisan khusus tentang hal ini.

  • Ada penguin di Afsel!
IMG-20180811-WA0011

Penguins di Boulders Beach

img-20180811-wa0008.jpgSelama ini jujur gw sangka penguins cuma ada di kutub, ternyata gw malah ketemu dan berenang bareng penguins di Boulders Beach, Cape Town! Seneng banget bisa ketemu binatang satu ini karena mereka lucu banget apalagi kalo baca tentang bagaimana setianya mereka kepada pasangannya. Cara jalannya juga lucu banget dengan kaki-kaki pendeknya, dan mereka cuek aja gitu berenang bareng manusia, SWAG banget lah gayanya! Hehe…

  • Afsel juga punya musim dingin

Ketika gua memberi tahu teman-teman gua kalo gua akan ke Afsel, salah satu reaksi mereka adalah disangkanya gua mau pergi berjemur, hehe. Padahal Afsel memiliki musim dingin juga, di beberapa daerah malah mencapai di bawah 0 C. Gue emang udah ditraining musim dingin saat sebelumnya ke Australia, tapi ini jauh lebih dingin dan windy. Beberapa hari gua harus make baju empat sampai lima lapis! Haha

Kalo dulu gua ngeliat negara luar yang punya lebih dari dua musim sempet iri, karena kalo liat fashionnya kayaknya seru aja gitu. Jadi gua udah mempersiapkan baju-baju kece buat musim dingin, nyatanya ketika berada di udara seperti itu, mana kepikiran lagi buat tampil kece! Yang penting hangat, dan buat gua bener-bener kangen Indonesia, gua bener-bener gak suka musim dingin!!

IMG-20180811-WA0000

Satu-satunya hari gua bisa pake baju satu lapis doang, itu pun cuma bertahan 4 jam, abis itu dingin lagi.

  • They have no idea about Indonesia

Sama seperti kita yang juga awam tentang negara mereka, mereka juga buta dengan yang namanya Indonesia, mungkin saat gua bilang gw orang Indonesia adalah pertama kalinya mereka mendengar kata itu. Bahkan saat gua sebut nama Bali pun, masih banyak yang gak tau Bali itu apa, khususnya orang kulit hitam dan berwarna. Orang kulit putih lebih banyak yang tau tentang Bali karena mereka surfing (well, surfing is more like a white people’s thingie, kayaknya gua gak pernah deh liat orang kulit item surfing, di Bali or Afsel. Kalo di Afsel, karena sebelumnya orang kulit hitam dilarang memasuki pantai-pantai tertentu pada masa apartheid.). Gak cuma tau tentang Bali, tapi surfers juga tau tentang Mentawai, tapi malah gak tau Indonesia. Hahaha… Sampai-sampai waktu itu di sebuah resort gua menemukan cangkir yang tulisannya ‘Made in Indonesia’, lalu gua bilang “That’s where I’m from.”

Gua juga jarang menemukan orang yang mirip gw, I mean, kulit berwarna memang ada (hasil dari kawin campur), tapi mereka kan bukan terlihat seperti gua walau pun warna kulitnya hampir mirip. Sedangkan di Australia, masih ada orang-orang yang mirip gw karena lebih dekat dengan Asia. Jadi orang-orang disini pun bingung gua ini apa, karena gua bukan terlihat seperti chinese dan bukan indian, bukan juga timur tengah. Ada seorang penjaga toko yang bilang ke gw, “You’re racially ambiguous.” Haha, you just haven’t seen enough Asians, girl!

Selain warna kulit dan bentuk wajah, kayaknya bentuk tubuh gw disana juga jarang. Biasanya wanita kulit hitam dan berwarna disana badannya lebih gemuk-gemuk pake banget, saat masih remaja badannya pada bagus-bagus kayak Beyonce zaman dulu, alhasil karena badan ini gw sering disangka masih anak kecil, padahal gw udah 28 tahun masbro dan mbak’e!

  • Harga barang-barang elektronik yang mahal banget

Konversi rupiah ke mata uang Afsel (Rand) gak terlalu tinggi gap nya seperti dollar lainnya, 1 Rand nya berkisar Rp 1000,-an, so menurut gw sih biaya hidup untuk makan dan transportasi gak terlalu mahal banget, masih agak sama dengan beberapa daerah wisata di Bali. Kalo dibanding dengan harga makanan di Adelaide, kurang lebih setengah harga di Adelaide. Tapi untuk produk seperti pakaian dan elektronik, harganya mahal pake ampun. Bisa dibilang kita masih beruntung sebagai negara buruh, jadi harga barang gak mehong-mehong amet karena manufactured in Indonesia.

Di Indonesia, TV flat screen bukan barang mewah, di angkot aja banyak. Sedangkan di Afsel harga TV sekitar 20 jutaan, gak semua orang bisa gonta-ganti HP kayak di Indonesia karena disana harga HP dan internet gak murah. Makanya beberapa kenalan gua yang orang Afsel dan kerja di Indonesia pada gila beli kamera dan barang-barang elektronik disini. Kamera yang disini harga 10 juta, disana harganya bisa 30 juta, ajegile! So, kalo mereka balik ke negara mereka, mereka pada buka jasa titip beli, yang mana harganya lebih murah dari harga toko di Afsel walau pun udah di mark-up 2 kali lipat, lumayan kan buat ongkos tiket pesawat, haha.

FB_IMG_1533930135096

Belajar Online di Skillshare dan Udemy dengan Murah

intro_image01

Banyak online learning platform yang bisa ditemukan di internet, dari yang berbayar seperti Udemy sampai yang gratisan seperti YouTube. Enak memang belajar dari YouTube karena gratisan, tapi karena gw mengerti tipe cara belajar gw, gw memutuskan untuk ambil beberapa course di Udemy dan Skillshare.

Salah satu kekurangan gw–atau mungkin kelebihan–adalah gw gak bisa belajar atau melakukan sesuatu tanpa struktur, patokan dan aturan. Kalo gw baca buku aja gw gak bisa ngelompat-lompat halaman walau pun bukunya antologi cerpen. Beberapa kekurangan belajar di YouTube adalah:

  • Gak ada struktur, pembuat konten membuat konten based on demand, seringnya semua materi dirampung dalam video-video QnA. Dari topik di level satu, langsung loncat ke level 12, loncat lagi ke level 4.
  • Gak ada standar penyampaian pengajaran, maksudnya seperti kualitas audio dan video, karena juga gak ada tim yang mereview. Mau YouTuber-nya kebanyakan ngomong “Uumm…”  atau keseringan ngibasin rambut, juga kita cuma bisa terima-terima aja, hehe.

Hal kayak gini membuat gw puyeng kalo lagi mempelajari dasar dari sesuatu, kalo dasarnya aja udah gak bener, ke depannya bakal susah. Mereka yang mengerti flaw dari YouTube ini membuat platform yang khusus untuk yang mau belajar dan mengajar online. Gak cuma Udemy dan Skillshare, ada banyak seperti Coursera, Lynda, Duolingo dll. Gw pernah coba beberapanya, namun sekarang yang lagi aktif gw pelajari ada di Udemy dan Skillshare. Masing-masing platform memiliki business model dan target market yang berbeda-beda, jenis courses yang ada pun berbeda-beda. Udemy dan Skillshare bisa dibilang hampir mirip, karena banyak kelas di bidang-bidang kreatif ketimbang situs yang lain, pengajar yang ada di Udemy juga kadang buka kelas di Skillshare.

Yang paling berbeda antara Udemy dan Skillshare adalah business modelnya dimana Udemy jenisnya pay per course (bayar per kelas) sedangkan Skillshare dengan langganan perbulan. Harga kelas di Udemy banyak yang diskon sampai menjadi $10, bisa juga cari kupon diskon di situs-situs diskon, kayak yang gw lakukan ketika mengambil kelas digital illustration dan fashion technical drawing. Kelas yang dibayar bisa diakses selamanya. Sedangkan di Skillshare, dengan biaya bulananan $8 – $15, kita bisa belajar apa aja sepuasnya ambil kelas sebanyak-banyaknya selama kita gak berhenti subscription. Enaknya lagi, kita dapat one-month free trial, atau cari kupon biar bisa dapet promo gratis 2 bulan atau 3 bulan hanya dengan $0.99. Subscription bisa dicancel kapan aja.

Jadi mana yang lebih murah?? Tergantung. Tergantung seberapa sering kamu bisa meluangkan waktu dalam tiap bulannya untuk belajar. Sekilas mungkin Skillshare kedengaran lebih murah, karena cuma bayar satu kali dalam sebulan. Padahal, kalo kamu gak punya waktu untuk belajar dalam satu bulannya atau cuma mengambil satu kelas dalam sebulan (itu pun gak diselesaikan), ya sama aja rugi. Karena kelas-kelas yang ada Skillshare umumnya berdurasi lebih pendek-pendek, karena dipecah-pecah per materi, jadi cuma 35 menit sampai 1 jam per kelas. Sedangkan di Udemy kebanyakan berdurasi lebih panjang.

Di kedua situs kita juga bisa liat trailer video dulu buat lihat tipe pengajar dan bahan ajarnya seperti apa, kalo gak cocok ya tinggal cari guru yang lain. Menurut gw sih, untuk bidang yang gw mau pelajari, banyaknya yang tersedia di tingkat Basic sampai Intermediate, yang Advanced jarang (gak tau ya kalo bidang lain, seperti coding, gimana). Yaiyalah ya bro, kalo mau master mah bayar kuliah, hehe.

Menurut gw sih, kalo kita udah mengerti dasar, kita jadi mudah kalo mau belajar dari YouTube. Kita bisa search sesuai kebutuhan kita, sedangkan kalo bener-bener belajar dari nol, kita jadi bingung mana yang harus dipelajari duluan kalo langsung terjun bebas ke YouTube. Makanya gw kalo belajar dasar dari sesuatu biasanya berulang-ulang dan dari banyak guru, karena setiap orang punya ilmu dan teknik yang berbeda-beda. Seperti waktu belajar patternmaking pun, dari penjahit gak tamat SD sampe yang designer lulusan luar negeri pun gw mau belajar. Di Skillshare dan Udemy, gw juga ambil kelas basic patternmaking lagi karena pasti ada sesuatu yang mereka lakukan berbeda, walau pun hanya dalam 10 menit. Tambah lagi karena kebanyakan pengajarnya adalah orang luar, standar mereka pasti berbeda.

Enaknya di Skillshare, karena biayanya bulanan, jadi kita bisa patungan sama temen, satu akun buat rame-rame. Yah kalo $15/month tapi yang make 15 orang mah ya gak rugi dong ya…. hehe.

Dan pastikan guru yang kita pilih memang kredibel di bidangnya, atau seenggaknya, tahu cara mengajar (pinter tapi kalo gak bisa ngajar juga percuma). Alasan kenapa gw memilih kelas Technical Drawing for Fashion Design di Udemy adalah ya karena guru yang gw suka adanya di Udemy.

Oia, semua kelas menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (namanya juga platform internasional), jadi pastikan kamu seenggaknya memiliki kemampuan bahasa Inggris pasif yang mumpuni, atau bisa sekalian juga buat latihan listening Bahasa Inggris kan, hehe.

Gw pribadi sih merasa puas dengan kelas-kelas yang gw ambil dan waktu yang gw luangkan untuk belajar dari orang-orang ini. Menurut gw biaya segitu gak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang gw dapat, karena dengan belajar dari mereka gw bisa ngehasilin duit lagi dengan skill yang baru. Juga, kalo dibandingkan dengan biaya belajar offline (misal ambil kursus di kota tempat kita tinggal), belajar online masih sangat-sangat jauh lebih murah. Gw tau persis karena salah satu kelas yang gw ambil itu biayanya jutaan untuk satu kali pertemuan di salah satu tempat pembelajaran di Bali (itu baru di Bali, belom yang di Jakarta!), pengetahuan dan pengalaman pengajarnya masih dipertanyakan.

So, kalo kamu punya waktu luang, apalagi buat mamak-mamak muda atau karyawan yang kerjaanya masih agak santai, gak ada salahnya ngeluangin waktu buat belajar di internet, ketimbang hal-hal yang kurang bermanfaat kan 😀

Persyaratan Mendaftar Visa Turis Afrika Selatan

0357f1a4b2e1bc9

Afrika Selatan memang bukan tujuan wisata yang umum di kalangan orang Indonesia, sehingga info di internet tentang pendaftaran visa turis ke negara ini tidak sebanyak negara-negara seperti Australia dan New Zealand. Mungkin karena jauhnya atau juga karena masih banyak orang kita yang berfikiran, “Ngapain ke Afrika? apaan yang bisa diliat di Afrika? Negara miskin begitu.” Well, pertama, Africa is a continent, not a country and is a hella big continent, jadi wajar aja kalo ada bagian-bagian yang miskinnya, ya tinggal dibandingin aja ke benua Asia.

Padahal sebenernya, banyak negara di benua Afrika yang jauh lebih maju dibanding negara kita Indonesia, salah satunya adalah Afrika Selatan yang mana menjadi tuan rumah World Cup 2010. Ibukota legislativenya, Cape Town, sendiri bahkan mendapat nominasi The Best City to Live in di tahun 2016.

Berhubung gw baru aja mendaftar visa turis ke Afsel, so gw pingin share persyaratan dan pengalaman apa aja yang gw tau selama mengurus visa turis ke negara ini. Oia, seperti waktu mendaftar visa turis Australia, gw juga tetap tidak melalui agen, melainkan daftar sendiri. Berbeda dengan visa Aussie yang lewat perantara resmi yang ditunjuk oleh kedutaan, pendaftaran visa turis Afsel mendaftar langsung ke kedutaan, walaupun bisa juga lewat pos.

  1. Cover Letter, biasakan kalo semua yang bersifat pendaftaran formal begini dibikin cover letter. Disini kita menjelaskan siapa diri kita secara singkat dan tujuan kita apa. Cover letter ini juga berguna sebagai pengganti surat keterangan bekerja bagi orang yang sudah berhenti bekerja dan menjalankan usaha sendiri (seperti gw), yang bisa dibilang merangkup sebagai declaration letter. Contoh cover letter gw bisa di download disini,Cover Letter Visa Aussie Cihud
  2. Formulir visa BI 84 yang sudah diisi dengan tinta hitam dan huruf kapital,
  3. Pas foto berwarna terbaru (tidak lebih dari 6 bulan) ukuran 4×6 sebanyak 2 buah, jangan lupa untuk menuliskan nama dan nomor passport di bagian belakang foto, just in case tercecer,
  4. Passport asli yang masih berlaku min 6 bulan,
  5. Fotokopi KTP,
  6. Fotokopi passport,
  7. Surat keterangan bekerja dari perusahaan (kalau bekerja, kalau usaha sendiri, buat di cover letter saja dan disertakan surat keterangan milik usaha dari kelurahan, kalau ada, kalau gak ada gapapa),
  8. Bukti bookingan tiket pesawat dan akomodasi, kalo tidak menginap di hotel (misal: ada host yang mensponsori), maka sertakan juga sponsorship letter,  identitas pihak sponsor ( fotokopi passport yang dicap kepolisian negara sana, rekening koran 3 bulan terakhir dan bukti pembayaran tagihan listrik/ air kediamannya)
  9. Rekening koran 3 bulan terakhir,
  10. Itinerary perjalanan, singkat-singkat aja gak perlu mendetail. Misal, tanggal sekian dimana, tanggal sekian kemana, etc.
  11. Bukti pembayaran visa turis sebesar Rp 650.000,-

NOTES:

  • Aplikasi diantar langsung atau lewat pos ke Kedutaan Afrika Selatan di Wisma GKBI lantai 7, Sudirman, Jakarta.
  • Berbeda dengan waktu mendaftar visa Aussie, pendaftaran visa Afsel cuma sedikit aja yang mendaftar, dan kemungkinan sih prosesnya jadi lebih cepat. Katanya sih berkisar dari 5-15 hari kerja.
  • Karena cuma sedikit yang mendaftar, jadi petugas kedutaan lebih fokus untuk membantu kita kalau ada yang kurang jelas/ belum lengkap, bahkan sampai diberikan kontaknya karena saat itu gw bilang kalo gw gak tinggal di Jakarta dan harus balik ke Sumbar hari itu juga. Aplikasi gw saat itu kurang cap polisi aja, alhasil gw bawa pulang ke Sumbar dan dikirim lagi dari Sumbar. Tapi gw pake JNE yang sehari sampe, yang harganya Rp 300.000, karena udah trauma ngirim dokumen berharga pake yang standar dan di daerah gw gak ada DHL. Petugas yang bersangkutan juga menurut gw sih helpful dan gak galak kok, jadi gak usah takut bertanya kalo ada yang ragu.
  • Yang berbeda dari waktu gw mendaftar visa Aussie–yang sama-sama menggunakan sponsor–adalah bahwa fotokopi/scanned passport pihak sponsor harus diberi stamp dari kepolisian negara mereka, so pihak sponsor harus pergi dulu ke kantor polisinya buat minta dilegalisir, jadi ngerepotin gitu deh ya.. hehe.
  • Rekening koran juga bukan fotokopi buku tabungan aja (waktu apply visa OZ gw hanya pake fotokopi buku tabungan), tapi beneran cetakan rekening koran dari bank, karena katanya harus ada cap resmi bank.
  • Passport kita dikirim juga ke kedutaan, berbeda dengan apply visa OZ yang visa kita tidak perlu ditahan selama proses.
  • Untuk keperluan bisnis, perlu menyertakan surat undangan dari perusahaan / organisasi di Afrika Selatan yang mengundang beserta tempat tinggal nantinya.
  • Yellow fever certificate jika pernah berkunjung ke negara yang ada yellow fever nya

Good luck!