Wanita dalam Perlombaan

I am so amazed and thankful for the existence of internet and social media, tanpa mereka gw gak akan bisa hidup sebebas ini, gw berani memilih ngejalanin apa yang gw lakuin sekarang karena gw yakin gw beruntung hidup di zaman yang tepat. Zaman dimana orang bisa sukses tanpa harus merelakan tidak menjadi diri mereka sendiri. Namun demikian gw kadang rindu zaman sebelum adanya social media, waktu dimana kita gak perlu berlomba-lomba mengukuhkan eksistensi diri, berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih bahagia, sukses, bahkan tingkat iman pun diperlombakan. Waktu dimana kita melakukan sesuatu karena rasa suka, bukan karena ajang di panggung yang semu.

Dari pandangan gw sendiri sebagai pengamat (dan mungkin tanpa sadar pernah menjadi peserta), wanita adalah yang lebih sering ikut perlombaan fana ini. Emang udah fakta umum sepertinya kalo wanita memang jiwa kompetitif dan insekuritasnya lebih mudah diombang-ambingkan daripada pria. Atau mungkin pria lebih jago menyembunyikan insecurities mereka ketimbang kita.

Memang sulit jadi wanita, kita selalu hidup berkompetisi. Kalo kata Oscar Wilde, “Women don’t dress up to impress men, women dress up to annoy other women.” Sadly true. Di umur yang sudah sedikit melebihi seperempat abad ini, gw udah melihat dan menjadi bagian dalam kompetisi wanita ini, kompetisi yang gak jelas judulnya apa, namun intinya, dalam kompetisi ini kita harus menunjukkan dan kadang menjatuhkan wanita lain untuk meraih gelar ‘Gw lah yang paling wanita sejati!’. Di tiap jenjang umur pun, kategori yang diperlombakan berbeda-beda, namun piala akhir tetap sama, yaitu gelar ‘wanita sejati’. Dengan adanya sosial media, kompetisi ini semakin sengit dan jelas terpampang.

Gw sudah melewati umur dimana kriteria ‘wanita sejati’ ditentukan oleh bentuk fisik. Kulit warna ini lebih baik dari warna ini, tinggi badan segini lebih baik daripada yang itu, lingkar badan, jenis rambut, cara berpakaian, dan lain-lain. Hal ini paling kenceng terjadi di usia belasan tahun, biasanya diiringi dengan kompetisi ‘siapa yang punya kawan paling banyak dan nge-hits abis’. Kalo kemana-mana bareng orang se-genk udah kayak mau kampanye. Tinggal bikin yel-yel aja lagi.

Ketika udah bertambah umur, level kompetisi semakin sulit karena berhubungan dengan pernikahan. Dimulai dari umur 23 tahun, foto tunangan, prewedding, undangan, pernikahan dan honeymoon semakin bertebaran. Hal ini tergantung di kota mana kamu tinggal atau kuliah dulu, kalo di kota besar mungkin agak relaxed. Fisik bukan lagi masalah yang penting, yang penting di level ini adalah status. Buat apa cantik kalo nikahnya belakangan, begitu lah kira-kira stereotypenya. Di umur ini banyak banget jiwa-jiwa insecure bermunculan, kode minta diajak nikah berserakan. Apalagi bagi yang belum mendapatkan pengalaman kerja atau gak puas dengan pekerjaannya, fikirannya pingin nikah aja, seolah-olah nikah adalah solusi wahid bagi semua masalah. Kalo masih jomblo atau galau tanpa kejelasan hubungan di umur ini, bertahan lah. Nanti juga momen ini berlalu di umur 25 tahun.

Gw ngerasain dan ngeliat dengan jelas gimana kompetisi di umur ini terjadi. Banyak yang promosi diri sebagai wife material nomero uno, hobby dan cara berpakaian pun  pun langsung berubah drastis, caption yang elegan jangan sampe ketinggalan, walau pun hasil copas. Ada kenalan yang tiba-tiba rajin posting hal-hal berbau agama, cara berpakaiannya berubah drastis. Ternyata lagi ngincer ustadz, walau pun ustadz-ustadzan. Kalo udah putus, ganti lagi, kode lagi. Pengambilan keputusan dengan cepat, banyak yang nikah dengan memaksakan hubungan yang sebenernya gak bisa lagi (ujung-ujung pas nikah langsung cerai atau diselingkuhin), kadang alasannya se-sepele hanya ingin pamer foto prewedding atau foto bareng suami di sosial media. Sosial media membuat seolah-olah nikah itu masalah gampang, yang penting bisa bikin caption #withhubby, adu du du duh…

Dengan adanya sosmed, persaingan di fase ini makin berat, karena adanya banyak aspek. Dari ada dan ketidak-adaan pasangan sampai acara resepsi. Harus ada foto bridal shower dengan girls squad-nya, belum lagi prewedding, foto aja gak cukup, harus pake video juga biar oke dan geger seantero Instagram. Undangan juga harus kece, baju bridesmaid jangan sampe malu-maluin. Di umur ini, umur baru mulai kerja dan berpenghasilan, tapi persahabatan diuji karena banyaknya ‘biaya persahabatan’ yang harus dijaga, dari persiapan bridal shower, jahit baju bridesmaid, sokongan kado, tiket pesawat, akomodasi, makeup artist, dan entrebe-entrebe lainnya. Semuanya demi apa? Demi menang lomba!

Lalu apakah kompetisi ini berhenti setelah menikah? Kagak, welcome to the next level. Level dimana suami aja gak cukup, harus punya anak juga untuk pembuktian betapa wanita sejatinya kita ini. Bagi yang telah melewati fase sebelumnya dengan status ‘masih single’, ini adalah momen dimana kalian bakal jadi penonton para istri-istri baru berkompetisi di level ‘siapa yang hamil duluan’. Sumpah ini konyol banget, seolah-olah membuktikan uterus siapa yang paling unggul. Saking konyolnya, bagi yang masih single bakal sering ditanyain sama teman lain yang sudah menikah apakah teman dekat kita yang juga baru menikah sudah hamil atau belum, kenapa gak tanya langsung sama orangnya aja yak? Gw kan bukan suaminya, gak pergi control ke dokter bareng gw juga. Kalo di fase sebelumnya bertebaran foto dengan pasangan dari engagement sampai honeymoon, di fase ini foto yang bertebaran adalah foto hasil test pack atau hasil USG. Langsung deh posting-posting tentang anak, menjadi orang tua, dan bahagianya menjadi istri. Gw ikut seneng kalo liat temen-temen gw bahagia, tapi ketika masalah punya anak dijadikan bahan perlombaan, aku hanya bisa facepalm.

Di fase ini adalah dimana tidak sedikit kenalan-kenalan yang sudah menikah tadi jadi sensitif berkelebihan masalah belom punya anak, terlebih kalo ditanya sudah berapa lama menikah. Gemes rasanya kalo liat perempuan yang sedih, kesepian dan merasa gak sempurna karena belum punya anak biologis. Hellow… lady, you’re still a woman!

Wanita-wanita yang udah menikah dan punya anak juga punya kompetisi lain sesama mereka, salah satu contohnya siapa yang bisa tetap menjaga penampilan, langsing dan menawan walau pun sudah launching produk. Hal ini memberikan pressure kepada mamah muda yang gak bisa back to normal pasca melahirkan seperti artis-artis di media, gak semua orang punya genetik dan kondisi fisik yang sama. Ada yang jadi udah males foto selfie lagi karena ngerasa udah gak cantik lagi, jauh benar kalo dibanding waktu single dulu yang tiap menit upload foto narsis muka close-up melulu, sampe ada yang udah bedah plastik untuk mengecilkan segala bagian yang membesar, dari bentuk hidung, pipi, perut, dan lain-lain.

Setelah lewat umur 27 tahun, para kontestan yang gagal nikah di umur 23-25 tahun tadi ternyata sudah banyak yang telah berubah, mereka bebas melalang buana menghabiskan duitnya untuk dirinya sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain, banyak juga yang karirnya menanjak atau telah menemukan passionnya. Tanpa disadari mungkin mereka melakukan pembenaran, ‘syukurlah gw belum nikah, daripada udah nikah hidupnya cuma gitu-gitu aja.’ Di lain sisi, pihak yang sudah berlabel istri gak mau kalah, seolah-olah gak ada posisi yang lebih indah dan terhormat selain menjadi istri, apalagi kalo udah jadi istri, bisa juga jadi ibu biologis, sudah lah jannah di tangan.

Namun para ibu-ibu yang udah punya anak pun juga bersaing dengan sesama emak-emak perihal siapa yang jadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Siapa yang mengasuh anaknya sendiri dengan siapa yang memperkerjakan baby sitter. Siapa yang hanya bergantung dari dompet suami dengan siapa yang punya penghasilan tambahan atau ikut membantu keuangan keluarga.

Ya ampun, baru 27 tahun gw hidup di bumi tapi udah banyak banget segala kompetisi yang gak jelasnya hadiahnya apa. Membuat gw jadi bertanya-tanya setelah umur ini, levelnya apa lagi? Kadang gw heran sama yang rela mati-matian transgender buat jadi wanita, persaingan di dunia wanita keras lho, bro! Kalo sekarang anak mereka masih sama-sama kecil, masih belum punya pendapat yang permanent. Gimana nanti kalo anak-anaknya udah pada remaja atau lulus kuliah, apakah kita harus bersaing siapa yang anaknya paling banyak prestasi akademik? Masuk sekolah mana, pilih jurusan apa, nikah ama siapa dan umur berapa, dan pilihan-pilihan lainnya yang menentukan prestasi seorang wanita menjadi seorang ibu. Bukannya hal itu terlalu selfish, hanya untuk pembuktian diri sendiri kita harus mengorbankan orang lain. Orang tua yang hasilnya memaksakan kehendak kepada anaknya mungkin adalah orang tua yang belum lepas dari bayang-bayang perlombaan.

Kenapa dan kenapa kita gak bisa berbahagia saja atas pilihan kita DAN pilihan orang lain, berbahagia atas apa yang terjadi di diri kita DAN di orang lain. Tanpa harus membandingkan siapa yang lebih bahagia, sukses atau lebih wanita sejati. Karena selama kita masih sering membandingkan, gak ada yang sebenarnya menjadi pemenang.

Hanya karena kamu sudah menikah, bukan berarti yang masih single hidupnya merana dan kesepian. Hanya karena kamu belum menikah, bukan berarti yang sudah menikah hidupnya tidak bahagia dan terkekang. Hanya karena kamu sudah punya anak, bukan berarti mereka yang belum adalah wanita gagal. Hanya karena kamu belum punya anak, bukan berarti mereka yang sudah punya anak hidupnya terbatas. Kalau kamu memilih menjadi wanita karir, bukan berarti mereka yang menjadi ibu rumah tangga adalah lemah. Kalau kamu memilih jadi ibu rumah tangga, bukan berarti mereka yang bekerja adalah durhaka.

Siapa lah kita untuk punya wewenang mendefinisikan standar kebahagiaan orang lain. Terlebih lagi masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang di luar kontrol diri kita, bukan kita yang mengatur. Setiap orang punya jam yang berbeda-beda, adzan shalat aja beda RT beda waktu, bisa gak barengan, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang. Perempuan sesama perempuan sebaiknya sama-sama mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain agar terlihat lebih sempurna. Tentang apa yang terjadi di masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain kita hanya punya dua pilihan; either berbahagia dan iklas atau berburuk hati dan prasangka. Pilihan pertama tidak memakan biaya sedangkan pilihan yang kedua menghabiskan budget, tenaga dan waktu.  Rempong, ciiinnn…

 

Advertisements

Feb’s Faves: Skincare Drugstore & Organic Murah

cIMG_2037

Semenjak di Bali kemaren, hasrat belanja skincare organic dan drugstore gw terpenuhi karena banyak pilihan tersedia, gak seperti di Sumatra Barat atau Lampung dulu. Yang pasti gw selalu mengincar yang se-natural mungkin dan anti beli yang mahal, dulu gw udah pernah coba produk-produk dari yang mahal sampe yang murah gak jelas karena cuma jadi korban marketing. Dengan pengetahuan yang udah lebih mumpuni, udah fixed deh yang natural memang lebih baik dan cantik–walau pun harus bermodal–gak mesti mahal. Beberapa produk ini udah gw pake selama 2-3 bulanan, so here’s why I like them:

  1. Energizing Day Cream by Himalaya

IMG_2046

Gw emang udah lama banget nyari day cream yang cocok, selama ini pake produk dari Acnes dan BioDerma tapi ngerasa kurang greget karena gak mengandung pelindung dari sinar UV, terlalu ringan untuk di umur aku yang telah meninggalkan usia belia ini, haha… Pertama kali beli agak ragu karena harganya agak mahal juga sih dan packagingnya gak travel friendly, tapi setelah dipakai hasilnya lumayan oke, creamnya cepat meresap dan menahan minyak lebih lama dibanding dua merk sebelumnya.

2. Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Gw udah ngefans banget lah ya sama brand ini, khusus untuk body butternya gw udah pernah review di postingan sebelumnya, bisa dicheck disini.

3. Face Serum Mineral Botanica

IMG_2043

Face serum ini ternyata penting banget agar manfaat cream-cream setelahnya terserap dengan baik dan lebih maksimal. Sebelumnya gw pake pre-serum dari The Body Shop dari rangkaian Drops of Youth dan gw udah menggunakan itu bertahun-tahun, tapi hanya dipake untuk ritual malam aja, karena mahal ciiinn… jadi pemakaiannya diutamakan di malam hari aja, nasib miskin memang begini lah.. haha. Terus ketemu dengan face serum dari Mineral Botanica ini, ada dua varian face serum; acne untuk wajah berjerawat dan brightening yang fungsinya untuk mencerahkan dan anti-aging. Jangan tertipu dengan kata brightening-nya dan berharap kulit bisa jadi putih, karena sebenarnya yang dimaksud adalah membuat kulit lebih fresh dan lebih kencang.

4. Castor Oil Utama Spice

IMG_2040

As you may know, gw penggemar body oil, dari VCO, olive oil, rose hip oil, dll. Utama Spice yang produk-produknya banyak menggunakan bahan minyak alami adalah salah satu incaran gw. Salah satunya adalah castor oil yang baru gw coba dan baru pertama kali denger tentang castor oil. Castor Oil berasal dari tanaman Riccinus Communis ini memiliki keistimewaan di antaranya:

  • Mengangkat kotoran sisa make-up (bahkan yang waterproof)
  • Low comodogenicity, artinya tidak beresiko menimbulkan komedo/ jerawat
  • Baik untuk rambut dan kulit kepala yang kering
  • Dapat digunakan sebagai pelarut maskara yang kering

5. Baby Skin Pore Eraser by Maybelline

IMG_2045

Cocok untuk bagian hidung yang lebih mudah oil, sebelumnya gw pernah pake Wonderblur dari The Body Shop, tapi mehong bo’… Ternyata produk dari Maybelline ini gak jauh beda kualitasnya, bikin bagian hidung jadi smooth banget dan oil control lebih lama dibanding hanya dengan menggunakan moisturizer aja. Pore erasernya ini diambilnya sedikit aja dan dioleskan hanya dibagian yang pori-porinya lebih terbuka.

6. Micellar Cleansing Water by Garnier

IMG_2041

Micellar water udah booming banget semenjak diperkenalkan oleh Bio Derma yang harganya mahal banget. Emang bener sih, micellar water ini emang terobosan baru yang lebih mengangkat kotoran muka bahkan setelah cuci muka. Namun setelah menghabiskan tiga botol micellar water dari Bio Derma yang tidak ramah di kantong, gw mulai mencari alternatif baru yang lebih murah dan mudah didapatkan di Sumatra Barat, dan pilihan jatoh ke brand Garnier. Awalnya deg-degan takut gak cocok, ternyata kualitasnya gak jauh beda kok, emang sih pake yang BioDerma wanginya lebih harum dan rasanya lebih fresh, tapi untuk masalah pengangkatan kotoran, hasilnya sama kok.

7. Purifying Neem Mask by Himalaya Herbals

IMG_2039

Menurut aku ada dua brand yang bisa jadi alternatif varian Tea Tree dari TBS, yaitu Acnes dan Himalaya. Neem mask ini tekstur dan hasilnya mirip dengan charcoal mask TBS, tapi wanginya lebih nyengat. Aku tadinya sering pake clay mask dari Utama Spice, tapi rempong juga kalo harus diracik dulu, jadilah pilih Neem Mask ini yang bentuknya tube, praktis digunakan, murah, banyak, dan ampuh buat jerawat!

8. Hair Oil by Botaneco Garden

IMG_2042

Berhubung gw gak bisa hidup tanpa hair dryer dan catokan, jadi berbagai vitamin rambut is a must untuk menjaga ujung rambut dan kehitamannya. Kalo menggunkan VCO atau olive oil, rambut jadi berminyak dan lepek, sedangkan kalo pake hair oil dari Botaneco Garden ini membuat rambut lebih berkilau tanpa rasa lepek, wanginya juga harum, botolnya aman dari tumpah. Gw sih lebih suka ini daripada hair oil dari L’Oreal.

#BeautyReview: Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Beauty brand yang paling sering gw review di blog gw adalah Utama Spice karena I’ve fallen in love with this organic skincare brand! Well, I’m into organic skincare only, gak nafsu deh kalo ngeliat brand-brand lain yang lebih mahal dan lagi hebring, karena menurut gw, untuk apa buang duit mahal-mahal kalo cuma untuk barang-barang kimiawi yang gak natural, belum tentu baik, dan apalagi kalo pake animal testing segala. Yang bikin gw tambah cinta dengan Utama Spice ini adalah karena ini brand Indonesia, made in Bali!

Dulu gw adalah customer The Body Shop, namun sekarang udah selingkuh, hehe. Hanya produk Drops of Youth yang masih gw pake, selebihnya, terutama untuk produk yang berbasis oil, sudah digantikan dengan Utama Spice. Selain karena rasa nasionalisme yang tinggi, harganya jauh lebih murah, kandungan alaminya pun lebih banyak. Difikir-fikir, untuk apa menghabiskan duit untuk produk organic yang diimpor dari negara lain padahal negeri sendiri sangat-sangat kaya raw materials.

Menambah list panjang koleksi Utama Spice gw adalah body butternya yang menjadi salah satu my current faves di semester pertama tahun 2018 ini. Body butter dari Utama Spice saat ini ada lima varian; Rose Allure, Lavender, Tropical Flower, Lemongrass Ginger, dan Cocoa Love. Masing-masing varian memiliki campuran oil yang berbeda-beda yang menentukan wanginya. Terdapat dua size kemasan, yang kecil ukuran 30 gr dengan harga Rp 26.000 dan yang besar ukuran 100 ml dengan harga Rp 83.000. Kecuali untuk varian Cocoa Love, ya… Harganya dua kali lipat lebih mahal, mungkin karena bahan dasarnya Cocoa Seed Butter yang lebih mahal.

Pertama kali coba testernya di store Utama Spice di Ubud, well teksturnya beda banget dengan body butter yang banyak di pasaran Indonesia. Kalo body butter lain umumnya teksturnya lotion yang lengket, body butter Utama spice lebih mirip butter dan berkesan oily, ya karena bahan utamanya memang minyak, yaitu Virgin Coconut Oil yang sangat baik untuk kulit. Awalnya ngerasa aneh emang, takutnya lengket-lengket gitu, namun ternyata enggak banget! Minyaknya langsung lumer di kulit dan membuat kulit coklat gw terlihat mengkilap seperti abis pake tanning oil namun tanpa rasa lengket! Namun baunya gak selembut produk lain seperti TBS, makanya aku cuma beli yang Rose Allure dan Tropical Flower yang menurut aku wanginya gak terlalu strong.

Berbeda dengan varian yang lain, Cocoa Love teksturnya sangat-sangat padat seperti balm. Wanginya harum coklat banget sehingga biking ngidam Silverqueen setiap kali dibuka, hehe. Karena soliditynya, gw pun makenya harus mengikis pake kuku bagian luar dulu baru dioleskan ke tubuh. Hasilnya di kulit gak nampak kilau minyak seperti yang lain, namun wanginya tahan lama dan bikin kulit lembut. Tapi aku mensejajarkan Cocoa Love ini dengan Petroleum Jelly, Lucas Papaw dan kawan-kawan yang lebih sering digunakan untuk kulit-kulit kasar seperti di siku, telapak kaki, lutut, dll. Kenapa? Karena harganya mahal, hehe.. padahal enak banget kalo kulit jadi wangi-wangi coklat gitu.

Untuk harga segitu, mungkin banyak yang merasa ukurannya terlalu mini. Namun sebenarnya kalo kamu memakainya dengan cara yang benar, akan bertahan lama. Karena kita gak perlu make banyak-banyak seperti body lotion, cukup tipis-tipis aja saat dibalur akan merata ke bagian yang lain. Buat aku yang rajin menggunakan body butter setiap hari saja, yang ukuran 30gr itu bisa bertahan untuk 2-3 minggu. Oia, body butter ini juga dibundle menjadi gift set yang lucu banget dengan tin can khas Bali, cocok buat jadi oleh-oleh dari Bali! Pemesanan produk bisa langsung di situs resmi Utama Spice atau lewat IG mereka.

Review produk Utama Spice yang lain di blog aku:

#BaliDiary: Gak Enaknya Tinggal di Bali

I LOVE BALI SO MUCH…

Satu-satunya daerah di Indonesia yang gw bikin gw jatuh cinta pertama kali adalah Bali. Sebelumnya gw udah pernah buat tulisan kenapa tinggal di Bali itu enak. Tapi gimana pun juga, semua hal ada plus dan minusnya. Tulisan kali ini membahas kurang enaknya tinggal di Bali, bagi gw hal-hal berikut ini hanya hal minor, gak sebanding dengan plus pointsnya. Anyway, hopefully ini bisa jadi informasi dan bahan pertimbangan buat kamu-kamu yang niat pindah ke Bali temporarily or permanently 😀

  • Bali = Banyak Libur

Bali bisa jadi singkatan dari “Banyak Libur”. Hari libur di Bali bisa dua-tiga kali lipat libur nasional. Orang Bali yang masih menjaga tradisi memang hobby banget bikin perayaan dan upacara. Jadi di Bali berlaku kalender libur lokal. Eits, mungkin bagi beberapa, banyak yang malah seneng ya kalo banyak liburnya! Ya mungkin aja, kalo kamu bekerja sebagai PNS atau kantoran. Tapi bagi kamu yang menjalankan usaha sendiri, jadi repot deh kalo toko-toko pada tutup dan para pekerja kamu pada cuti libur, deadline jadi ngaret karena libur. Makanya sekarang banyak usaha di Bali yang memvariasi karyawannya dengan agama dan asal dari daerah lain biar bisa tetep jalan di hari libur lokal.

  • Penutupan Jalan yang Bikin Macet

Masih berkaitan dengan poin pertama, kadang-kadang upacara keagamaan seperti ngaben, bisa memakan jalan sepenuhnya dan berakibat penutupan jalan. Alhasil jadi macet di jalan alternatif. Tapi ya maklum lah ya namanya juga Indonesia, hampir di semua daerah di negara ini adalah hal lumrah yang namanya ‘makan’ jalan umum buat acara hajatan. Bedanya, kalo di Bali, bisa nutup sepanjang jalan, bukan cuma gang depan rumah aja. Hehe… Repot dah kalo lagi buru-buru naik taxi online, mana jalan di Bali pada kecil-kecil –..–“

  • Balinese are (too) slow and relaxed

Waktu gw di Lampung dulu, orang-orang Bali terkenal dengan keuletan dan kerajinannya, makanya banyak orang Bali yang sukses di Lampung. Ternyata Balinese yang tinggal di Bali jauh berbeda. Yah sama lah ya, orang Minang di perantauan dengan orang Minang yang belum pernah merantau juga kan beda. Mungkin ini efek tinggal di daerah yang terlalu nyaman, alhasil gaya hidup mereka terlalu nyantai alias gak ‘ngoyo’. Secara background gw Sumatra, jadi kerasa banget. Salah satu kelebihan di SumBar adalah orangnya cepat tanggap, contoh kecilnya aja kalo di tempat makan. Kalo di SumBar, mayoritas pelayanannya cepat tanggap. Tapi di Bali, sloooowww banget, gw keburu starving! Huhu… Ternyata bukan cuma gw aja yang merasakan ini, temen-temen bule gw juga merasakan hal yang sama! Di pekerjaan yang lainnya juga begitu, hal ini jadi berdampak ke beberapa industri di Bali yang akhirnya kalah bersaing dengan negara lain. Salah satu contohnya adalah usaha garmen. Pernah ada masa dimana industri garmen di Bali laris manis, namun sekarang investor-investor asing banyak yang sudah berpindah ke Filipina dan China, seperti yang pernah gw dengar dari podcast tentang seorang fashion designer yang pernah mencoba produksinya di Bali. Kebanyakan businessmen garment yang bertahan di Bali adalah new businessmen atau mereka yang tulus cinta kepada Bali dan memilih membantu kehidupan di Bali.

  • Misinterpretasi cueknya orang Bali

Salah satu yang bikin betah tinggal di Bali adalah karena orang-orangnya yang tidak ngurusin urusan orang atau pun memaksakan sesuatu ke orang lain. Namun, karena terlampau cuek, orang Bali bisa disalahartikan sebagai tidak ramah. Apalagi kalo kamu berasal dari daerah dengan tingkat basa-basi tinggi seperti Sumatra Barat dan Jawa. Gw pertama kali dateng agak shocked, kenapa ya ni orang-orang kok sensitif ke gw, apa ada yang salah dengan muka gw yang membuat mereka jadi bad mood. Ternyata memang orang Bali begitu, kurang berbasa-basi. Kalo ada temen-temen gw dari Sumatra yang datang berkunjung, mereka juga merasa begitu dan gw harus menjelaskan bahwa sebenernya mereka gak berniat seperti itu. Yah begitulah, di Sumatra kebanyakan basa-basi alhasil kepo. Di Bali terlalu cuek, jadi gak ramah. Haha, serba salah ya!

  • Susah Cari Parkiran

Jalanan di Bali itu kecil-kecil. Mungkin karena berasal dari desa-desa kecil dan gak menyangka kalo Bali bakal berkembang seperti ini, jadi infrastrukturnya masih skala desa. Menurut aku, tempat paling mudah di Bali untuk cari parkiran cuma di Denpasar yang merupakan kota tuanya Bali, karena Denpasar dari dulu sudah dirancang sebagai daerah pemerintahan (that’s why Denpasar is the most borrriiing part of Bali for me, but I lived there, hiks!). Contohnya jalan-jalan di Ubud dan Kuta yang sempit-sempit banget, toko-toko gak punya parkiran, satu parkiran untuk semua. Jadi kita harus jalan kaki ke tempat yang dituju. Walau pun enak juga sih jalan kaki di Bali, cuci mata liat toko-toko yang unik-unik, tapi kalo lagi buru-buru kan susyeeh jugaa…

  • Kurangnya variasi jenis pekerjaan

Hal ini gak berlaku bagi gw sih, karena di Bali sebenernya cocok dengan gw dari semua aspek, berhubung gw juga enterpreneur. Namun hal ini pastinya berbeda dengan kalian yang sudah terbiasa dengan dunia korporasi. Bidang yang paling berkembang di Bali adalah pariwisata, jadi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah yang berhubungan dengan pariwisata dan lifestyle. Katanya sih, kalo kamu bisa berbahasa Inggris, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Bali. Tapi ya gitu deh, otomatis range jenjang karir tidak seluas di kota-kota besar seperti Jakarta. Bali cocok banget bagi orang-orang yang bekerja remotely (digital nomad), tapi buat orang-orang yang kerjanya bergantung dengan lokasi dan korporasi, agak susah sih untuk pindah ke Bali.

  • Almost Everything is Imported

Bisa dibilang, ‘nyawa’ Bali terletak di bidang pariwisata. Bali bukan daerah penghasil sumber daya alam, hanya bergantung pada pariwisata. Walaupun masyarakatnya masih banyak yang bertani dan pergi ke sawah, tapi itu lebih kepada tradisi dan kebiasaan (kerjanya sih di sawah, padahal income-nya dari villa, hehe), namun hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, gak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata di Bali. Kebutuhan makanan (dari bawang, cabe dll) dikirim dari Jawa atau Lombok. Kain Bali pun bukan dari Bali, tapi dari Jawa. Tas rotan yang lagi ngehits banget dan disebut Tas Bali, sebenarnya dari Lombok dan dijual murah banget di Lombok, sekitar Rp 100.000, namun di Bali harganya udah naik starts from Rp 200.000 sampe Rp 700.000! Tapi tetep aja banyak yang beli! Haha.

  • Terlalu nyaman

Nah, lho! Kok bisa terlalu nyaman malah jadi gak enak?? Well, di satu sisi kita penting juga untuk menghadapi ketidaknyamanan kalo kita mau berkembang. Apalagi kalo kita disekeliling Balinese yang slow and relaxed. Akhirnya gw lebih sering bergaul dengan bulenya di Bali biar jiwa kompetitif gw tetep hidup. Terus, di Bali gak ada demo, gak ada spanduk-spanduk hate-speech atau provokasi. Jadi gak kerasa kalo negara kita ini politiknya lagi kacau balau. Di satu sisi bagus sih, bikin kepala dan hati tenang. Tapi buruk juga kalo kita jadi gak mawas diri bahwa hal negatif tersebut ada.

  • Second-Class Citizen

Kalo di postingan yang sebelumnya gw mensyukuri karena sering dapet diskon KTP, kali ini gw bahas kejadian yang bertentangan dimana WNI diperlakukan lebih rendah ketimbang WNA, dan mirisnya lagi perlakuan diskriminatif tersebut malah dilakukan oleh sesama WNI sendiri! Gak semua sih seperti ini, hanya sebagian kecil, tapi sangat menyebalkan kalo melihat ‘saudara’ sendiri malah mendewakan bule. Biasanya terjadi di tempat hiburan seperti cafe dan clubs. Mereka memprioritaskan tamu bule untuk memenuhi tempatnya agar terlihat lebih eksklusif, padahal kan harga makanan yang dibayar juga sama aja! Contohnya aja di sebuah club malam yang lagi hits banget saat ini, yaitu La Favela. Gw udah kecewa banget sama club satu ini, udah banyak review buruk di internet juga buat tempat satu ini yang mana hanya memberikan free entry ke tamu bule. Karena disangka bule (entah darimana sih gw ini bulenya… –..–“) awalnya gw disambut baik, tapi pas gw udah ngomong bahasa Indonesia, langsung disuruh memperlihatkan KTP dan no free entry, pake waiting list lagi, katanya lagi full. Begitunya ada tamu bule, langsung diperbolehkan masuk. WTF banget kan, no more waiting, langsung aja gw cabs! Langsung deh gw udah black list semua tempat yang masih satu group sama La Favela ini, termasuk yang di Canggu, La Brisa, udah ilfeel duluan gw untuk berkunjung kesana.

  • Bersaing Lapangan Pekerjaan dengan Bule

Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan lw untuk bersaing dengan bule dan pasarnya sendiri lebih memilih yang bule ketimbang orang lokal. Salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai guru yoga dan instruktur surfing, secara gitu gaji dua pekerjaan ini sangatlah menggiurkan. Bali kan terkenal banget sebagai mecca nya yoga setelah India, sehingga yoga di Bali diperlakukan sebagai komoditas untuk dijual ke turis-turis, baik turis domestik mau pun internasional. Sedih juga kalo liat turis domestik sendiri lebih prefer sama pengajar bule dan memandang sebelah mata kualitas bangsa sendiri. Well, pengalaman gw yoga di Bali, kalo dibilang masalah bahasa, Bahasa Inggris para pengajar yoga WNI yang gw temuin udah super duper banget! Malah yang pengajar bule dari negara-negara seperti Perancis dan Rusia lah yang kacau balau yang merusak konsentrasi gw. Pengajar Indonesia juga gak kalah kompeten kok! Gw pernah bayar mahal sama pengajar bule di salah satu tempat yoga yang tenar, namun kecewa banget karena ternyata cuma dapet fotokopian kertas berisi lima kalimat. Usut punya usut, banyak kejadian di Bali dimana para bule-bule ini bekerja tanpa KITAS atau pun visa kerja. Mereka orang-orang yang baru lulus teacher training (yang mana juga digalang tiap kali owner yoga studionya lagi butuh duit) sehingga penghasilan mereka itu gak dipotong dengan pajak. Sedangkan para guru yoga WNI harus bayar sertifikasi yang mahal dan pajak penghasilan. Sedihnya lagi, hal ini terjadi juga karena adanya korupsi di level pemerintahan. Awal-awal dulu gw juga tergiur dengan this so-called bule charm, namun setelah tahu hal ini (gw dapet bocoran dari tenaker lokal dan orang dekat para businessmen bule ini), gw lebih baik bayar mahal tapi masuk ke saku orang Indonesia sendiri daripada bayar lebih murah di tempat yang gak mematuhi peraturan negara gw.

***

However, I still love Bali and Bali is still the best for me! I will leave Bali soon, but I leave to come back. Bali, I will come back for sure!

Finecolour: Twin Marker Pemula Alternatif Copic

IMG_1554

Semenjak beli twin marker merk TouchFive di akhir tahun 2017 yang lalu (baca reviewnya disini–Red), gw sudah lebih sering menggambar menggunakan spidol dibanding alat pewarna yang lain, berhubung juga karena tuntuan pekerjaan (*duilee…).

Walopun suka seni, tapi kemampuan gw hanya a lil’ bit of everything, termasuk menggambar, jadi gw termasuk level pemula lah ya… Untuk orang-orang seperti gw, yang pemula atau keterbatasan dana, lebih baik mencoba dengan alat gambar yang gak mahal-mahal dulu, makanya kemaren gw memutuskan untuk beli twin marker merk TouchFive yang harga set 60 warnanya masih terjangkau sama gw, itu pun gw beli secondhand udh sama buku gambar Canson dengan hanya Rp 400.000.

IMG_1559

Namun akhirnya gw tergiur dengan merk Finecolor karena color rangenya yang lebih banyak, dan blending warnanya lebih smooth daripada merk TouchFive walau pun keduanya berasal dari negara yang sama alias Cina (yaiyalah ya, wong beda harga). Sama seperti TouchFive, Finecolor adalah alcohol-based marker yang lebih murah daripada Copic –>> twin marker kasta bangsawan, per piece nya harga Rp 45.000! Selain harga, perbedaanya dengan TouchFive adalah Finecolor bisa dibeli satuan sedangkan TouchFive dan TouchNew harus per set. Sepertinya, kalo diurut berdasarkan kasta, kasta tertinggi setelah Copic adalah Finecolour, disusul TouchNew dan terakhir TouchFive.

Twin marker Finecolour ada dua variant, yang casenya warna hitam dan warna putih. Yang warna hitam harganya lebih mahal, Rp 25.000, karena ada brush nib yang lebih empuk dan enak digunakan untuk hasil yang lebih smooth. Sedangkan yang warna putih, harganya Rp 15.000/ piece. Karena saking sukanya sama range warnanya, jadi gw udah mulai nyicil mengkoleksi Finecolour, namun baru mampu yang warna putih aja, itu pun rasanya udah tekor karena dibanding pembelian twin marker sebelumnya.

Kalau dari penampakan luar, design twin marker hampir-hampir mirip satu sama lain, dengan nama dan nomor warna tertera di ujung-ujung tutup spidol. Perbedaannya dengan TouchFive, kepala tutupnya berbeda bentuk pada masing-masing ujung untuk membantu memudahkan pengguna membedakan mana yang broad nib dan nib yang lancip. Tutup spidol bagian broad nib bentuknya kotak, sedangkan yang lancip berbentuk oval. Di bagian badan spidol juga diberikan tanda garis abu-abu untuk ujung yang lancip. Hal ini mungkin terkesan remeh-temeh, tapi membuktikan kualitas produsen yang memikirkan kenyamanan penggunanya dengan mendetail.

IMG_1568.JPG

Alasan utama kenapa awalnya gw membeli Finecolour adalah karena mencari tone kulit yang lebih natural. Variant warna kulit dari set TouchFive yang gw punya terlalu pink dan gradasi warna kurang lengkap.

IMG_1571

Perbedaan ukuran nib. Atas: TouchFive, tengah: Finecolour Rp 25.000, bawah: Finecolour Rp 15.000

IMG_1582

Perbandingan tone warna kulit merk TouchFive dan Finecolour. Tone kulit merk Finecolour gw kurang lengkap karena warna-warna yang gw mau ada yang sold-out.

Finecolour juga lebih mudah ditemukan di art supply shops di Bali (entah lah ya kalau di Padang), atau juga bisa beli satuan via online, tapi gak enaknya gak bisa dicoba dong ya, hiks!

Overall, untuk beginner’s level, twin marker ini recommended banget. Tapi kalo kalian emang hobi banget gambar dan menggambar hampir setiap hari, mendingan dicicil langsung merk Copic, karena kelebihan Copic bisa di refill tintanya, sedangkan merk lain harus beli lagi.

Happy playing with colors, guys!

Pengalaman gw jadi trader dadakan

Sekitar 2-3 tahun yang lalu, belum banyak orang di Indonesia yang tau tentang cryptocurrency. Sekarang ini, gw udah beberapa kali liat bapak-bapak driver gojek yang lagi ngetem di warteg mantengin situs exchange/trading crypto Indonesia. Memang berdasarkan riset beberapa media, tahun 2017 kemaren yang membuat value crypto semakin tinggi adalah tingginya angka investor dari kalangan mom-and-pop speculators, bukan lagi dari kalangan bos-bos besar semata.

Gw sendiri pun, yang cuma cewek biasa tanpa background trading sama sekali,  sudah mendapatkan keuntungan yang (bagi gw sih) besar. Cukup untuk membiayai hidup gw di Bali buat ambil kursus fashion design yang alamakjang mahal bingit– biaya gw kuliah S1 selama empat tahun gak ada apa-apanya dengan vocational school ini yang pertemuannya bisa dihitung. Dan, cukup pula untuk membiaya produksi koleksi design pertama gw yang akan launching bulan February nanti (berhubung gw standarnya tinggi alias sok elit, gw selektif banget sama bahan kain, tekor pisan eke, hiks!) Eitsss…. jangan cepet tergiur dengan kalimat-kalimat gw yang barusan, karena kenyataannya gak segampang itu. Gw bikin tulisan ini karena masih sedikitnya resource berbahasa Indonesia tentang pengalaman trading crypto, sebaiknya dipikir-dipikir dulu sebelum mau gambling uang DP rumah, atau biaya susu anak buat trading crypto. Karena pengalaman gw meraup untung dari crypto currency datang dengan dua kejadian yang sangat berbeda.

Kejadian pertama gw murni karena gw hoki banget, kata kakek gw sih gw ini hokinya gede sedangkan abang gw itu pintar, jujur gw tersinggung dengan komen ini, huh! Seperti kebanyakan orang awam, coin crypto yang gw kenal pertama kali adalah Bitcoin yang harganya saat ini masih yang paling tinggi. Waktu gw pertama kali kenal, harganya masih di bawah 20 juta rupiah (per Januari 2018, harga 1 Bitcoin berkisar di Rp 240 juta). Gw tau Bitcoin dari internet dan temen-temen bule gw, salah satu temen bule gw malah udah bikin rumah, perusahaan, ngegaji 5 orang karyawan dari trading crypto yang dia udah lakukan selama 3 tahun. Temen gw ini, sebut saja si Tarjo, menjadikan trader sebagai pekerjaan utamanya sampai saat ini. Terus gw cari dong success stories dari penambang Bitcoin, dan ya gw tergiur buat naro uang, daripada gw taro di deposito bank. Karena yang gw baca cuma success stories doank, ya jadi pemikiran gw tentang crypto cuma yang indah-indahnya aja. Tarjo bilang, kunci utama untuk newbie adalah untuk ‘HANYA MEMULAI DENGAN JUMLAH UANG YANG LO GAK TAKUT KALO HILANG’. Kalo bagi lo, kehilangan 1 juta bikin lo sedih, ya jangan. Mulai dengan Rp 500 ribu ke bawah.

Yaudah deh saat itu gw bisa dibilang cuma ngasal aja naro duit karena gw fikir yaudah lah toh gw juga belum mau make saat itu, jumlahnya masih di angka yang gw gak akan sedih banget kalo kehilangan. Jadi gw gak pernah yang namanya ngecheckin harga, or duit gw nambah apa enggak. Trus entah kenapa dengan begonya (sumpah ini bego banget, jangan ditiru, gw cuma hoki!) gw naro duit lagi dengan jumlah yang gw udah ngerasa ngenes kalo ilang. Buat gw yang masih level tempe ini, kalo udah di atas Rp 2,5 juta udah bisa bikin gw pingin mecahin kaca kalo hilang. Tapi karena waktu itu emang gw lagi gak butuh dalam waktu dekat, jadi gw gak pernah ngecheck. Sampe gw lupa kalo duit gw disana.

Beberapa bulan setelahnya, gw sampai di point dimana gw merasa mau gak mau gw harus ambil pendidikan dan pengalaman di dunia fashion design kalo gw emang mau terjun sepenuhnya, ini bukan hal yang semudah belajar dari youtube doank (walopun youtube udah ngebantu ilmu gw banyak banget sih..) Karena selama gw di Sumatra Barat, pendidikan dan pengalaman yang gw dapetin bener-bener minim karena susah cari designer disana yang mau berbagi, kalo pun ada, mereka masang tarif yang gak kira-kira, padahal mereka mengajar tanpa modul. Ya males lah gw, mendingan gw keluar Sumbar. Barulah gw inget sama duit gw itu, pas gw buka, sumpah gw kaget banget ternyata harga Bitcoin udah naek 5 kali lipat, begitu juga duit gw! Pikir gw, mungkin karena emang niat gw baik, untuk belajar, jadi ada aja rezeki. Yaudah deh duitnya langsung gw tarik. Saat itu gw gak mau hold Bitcoinnya karena menurut gw investasi gw yang paling penting adalah peningkatan ilmu dan skills, buat apa duit banyak di tabungan tapi gak bisa dipake dan dinikmatin.

Ternyata, setelah dijalani, gw menyadari kalo estimasi biaya gw kurang dan butuh 2 kali lipat lagi kalo gw mau tenang sampai end target gw tercapai. Pusing dong gueh, gimana cara cepat buat dapet easy money. Yang kefikiran pertama kali ya Bitcoin, tapi gw gak bisa menunggu lama berbulan-bulan seperti sebelumnya, gw butuh cepat karena waktu gw terbatas. Jadi kali ini gw bener-bener ambil resiko dengan menggunakan SELURUH uang gw satu-satunya, ada kemungkinan kalo gw bisa mencapai atau lebih dari target, atau malah gw besoknya langsung jadi gembel di Bali. Disini lah baru gw merasakan kerasnya dunia trading. Jangan percaya deh kalo liat video-video anak ABG di youtube yang udah bilang pendapatan sekian per hari dari trading, gak segampang itu cuy prakteknya!

Karena kali ini gw make duit seluruhnya, gw pelajari cara ngebaca chart, analysis, dan banyak-banyak baca situs news crypto, situasi politik yang berkemungkinan mempengaruhi harga. Kali ini gak cuma main di koin besar seperti Bitcoin, tapi lebih ke koin-koin kecil seperti Ripple, Dash, ETH, XLM, etc. Dengan koin kecil, persentase gw lebih besar, jadi kalo naik, ya gw untung gede, kalo turun ya gw rugi gede. Dan gw bener-bener intense trading, hampir 24 jam selama 3 minggu full! Gw hampir gak bisa ngapa-ngapain selain mantengin market, sampe aktivitas utama gw di fashion design sempat terganggu karena gw gak fokus. Mata gw sampe kering, belom pernah seumur hidup gw mata gw berasa kayak gini. Selama 3 minggu ini, hidup dan perasaan gw seperti diobok-obok. Hari ini mungkin dapet profit 3 juta, tapi besoknya hilang 7 juta, atau sebaliknya. Gimana coba rasanya lo liat di depan mata lo duit lo hilang belasan juta dalam hitungan detik gara-gara internet lo nge-lag waktu lagi set limit. Saldo lo saat ini bukan lah saldo lo yang seutuhnya, karena kemungkinan selalu ada selama uang itu belom lo transfer ke rekening lo. In the end, gw berhasil menghasilkan lebih dari 20 juta selama 3 minggu itu, sesuai dengan target gw di awal. Dan gw memutuskan untuk berhenti sama sekali trading karena gw babak belur, physically and emotionally! Kondisi fisik mempengaruhi our emotional state. Kalo gw terusin, gw gak bahagia hidup kayak gini, karena gw sampe di titik dimana gw gak bisa trust diri gw sendiri buat nyebrang jalan, nah bayangin segitu parahnya! Yang ada di kepala gw cuma fluktuasi harga terbaru, sampe-sampe pas gw lagi beli ketoprak dan ditanya mau berapa banyak cabenya, gw malah jawab dengan harga koin terbaru. Waks! Buat apa gw tinggal di salah satu pulau terindah di dunia tapi gw gak bisa nikmatin, buat apa dikasih sehat tapi minta sakit. Tapi walopun demikian gw akui, sejauh ini, ini rekor penghasilan 1 bulan gw yang paling tinggi, selama dulu gw kerja aja gak pernah sampe segini, apalagi dalam waktu yang sesingkat ini. Mungkin bagi sebagian orang, duit segitu mah cuil yah… bagi gua sih udah wow, hehe…

Dari pengalaman gw yang udah gw jabarin, beda banget kan perbandingannya kejadian pertama dan kedua. Di kejadian pertama gw bisa tenang, masih bisa nikmatin hidup. Kejadian kedua, gw sadar-gak-sadar bermain dengan emosi, susah untuk rational karena gw menggunakan duit yang gw butuhkan. Gw sempet bertanya apakah gw seperti karena gw gak work smart ya, mungkin kalo smart trader kerjanya gak segininya… Gw konsul dengan si Tarjo, tapii selama gw kenal dia, memang Tarjo ini salah satu orang yang paling hardworking yang gw kenal. Sampe waktu dia liburan ke Bali aja dia tetep gak bisa bener-bener liburan karena harus check market. Tarjo bilang, “Welcome to my world! It’s a living hell, haha!”, Tarjo mengakui udah beberapa kali pengobatan mata, penyakit terbaru dia adalah cidera pergelangan tangan karena kelamaan di depan laptop (pergelangan tangan yang tidak aktif bergerak dan berdiam di posisi yang sama dalam waktu lama ternyata bisa menyebabkan cidera!)

Lo bisa bilang dengan gampang, “beli pas merah, jual pas ijo”, pas prakteknya gak segampang itu, mbah! Lo gak bisa tau tu candle merah bakalan sepanjang apa, walopun menurut ilmu dan analysis ini-itu bakalan berada di titik support sekian. Yang udah expert aja masih meleset, apalagi gw yang trader dadakan kemaren sore. Yang udah belajar baca chart, news etc aja masih meleset, apalagi yang cuma bermodal iman! Contohnya aja, pertengahan Desember 2017 kemaren harga Bitcoin berada di all-time high Rp 290 juta, langsung dalam kurang dari 25 menit saja dropped ke 210 juta, sampe sekarang–3 minggu kemudian–harga Bitcoin belum pulih juga. Karena lo gak bisa sepenuhnya membaca reaksi pasar dan sentimen apa yang dirasakan pasar terhadap suatu koin, tiap tahun, bulan, minggu, atau hari atau jam pasti beda.

Beberapa poin yang bisa gw jadikan pelajaran dari pengalaman trading gw:

  • Hanya gunakan uang yang lw gak takut ilang kalo lo masih mau tidur nyenyak. Jangan gunain uang yang seharusnya buat DP motor, pendidikan anak, etc buat trading. Karena gimana pun juga, sejauh ini crypto trading masih bergantung pada spekulasi. Kalo aja gw trading dengan uang yang gw gak takut ilang, gw gak akan kebawa emosi segampang itu dalam mengambil keputusan kapan harus cut loss atau hold. Jangan mudah tergiur dengan cerita-cerita tentang kaya mendadak karena bitcoins dan langsung aja mempertaruhkan biaya hidup keluarga di cryptocurrency. **Talk to myself. Kalo gw sih masih mending, tanggungan hidup gw masih diri gw sendiri, kalo gw gagal ya yang rugi gw. Nah kalo yang udah pada berkeluarga kan bisa berabeee….
  • Control your own greed. Beberapa kesalahan yang gw lakukan adalah karena gw gak mengontrol kemarukan gw. One of my mentors told me, the biggest enemy in business is not your competitor but your own greed. Padahal hari itu gw udah profit cukup, tapi gw mau lebih, ujug-ujug gw malah lost lebih besar dari profit. Kan gak mungkin yang namanya harga uptrend mulu. Hidup gak segampang itu cuy! Nah kalo udah kayak gini, kebawa emosi nih. Trading kalo pake emosi sumpah bahaya banget! Begitu juga saat ngesetting limit jual/beli, gak usah terlalu maruk lah, karena nyangkut itu rasanya merana, bos!
  • Don’t put in all of your money in one coin. Jangan terlalu cinta atau kepedean sama satu coin. Kalo satu koin jatuh, lw masih ada back-up dari koin lain.
  • Do your own research tentang potensi suatu koin (walopun, again, ini semua berdasarkan spekulasi, media juga kadang dibayar si developer coin kan buat promosi). Jangan hanya bergantung dengan apa yang lo baca di chat room, karena banyak orang dengan berbagai kepentingan dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda disana. Penyebar hoax ada dimana-mana.
  • English is very important! Fluktuasi harga (walopun beda negara/exchange bisa beda harga) dipengaruhi oleh banyak hal, seperti situasi politik di negara lain. Update tentang hal ini mostly berbahasa Inggris, jangan berani ambil resiko gede kalo bahasa Inggris lo masih bergantung sama Google Translate, udah tau Google Translate masih sering error, masa lo mau mempertaruhkan nasib lo sama mesin!
  • Semua koin berawal dari harga rendah, BTC sebelum di harga 200 jutaan juga bermulai di harga receh.
  • Gak selamanya CL (cut loss) itu buruk. Gw heran kalo baca di CR masih aja ada orang yang berbangga hold suatu koin padahal udah jatoh 70% and keeps getting worse, gak jelas tujuan ni orang apa, lo ini trader apa tukang jaga koin??
  • Jangan confuse tujuan lo antara mengumpulkan koin, atau mengumpulkan rupiah, itu dua hal yang berbeda. Kalo lo mengumpulkan koin, bisa jadi jumlah koin lo banyak tapi profit lo berkurang, atau profit lo bertambah tapi jumlah koin lo berkurang. Orang yang ngumpulin koin biasanya untuk investasi jangka panjang. Orang yang butuh duit cepet  buat daily life kayak gw sebaiknya mengumpulkan IDR.
  • Kalo udah profit, sebaiknya IDR disimpan, dan trade lagi hanya dengan modal awal. Jangan dengan seluruh IDR (modal dan profit). Ini emang hal basic, tapi sering banget kelupaan deh!
  • Trading ini masalah serius, gak bisa dijadiin part-time job atau income sampingan. Jangan mimpi deh. Cerita gw di awal emang gw hoki banget, tapi gak semua orang bisa hoki gitu. Ada tuh temen gw yang dia hold suatu koin tanpa trading, trus harga tu koin naik berkali-kali lipat. Dia udah merasa jadi orang pintar banget karena gak ngapa-ngapain eeeh jadi kaya mendadak. Belum sempet ber-euphoria, tau-tau harga turun jauh di bawah harga waktu dia beli. Langsung zonk donk matanya. Tapi lumayan lah ya, udah ngerasain jadi orang pintar, walopun sesaat. Untungnya dia punya main job yang gajinya gede pake banget (ya maklum lah namanya juga expats di Indonesia), dan dia juga beli dengan jumlah yang menurut dia cetek. Jadi gak berasa sedih banget dia hilang di bawah 5 juta mah, cuma sebel aja dia dikasih PHP sama coin, haha..

    Dari pengalaman yang udah jelasin, gw udah menaikkan bendera putih dari dunia trading, gak mau deh gw hidup kayak gini. Gw salut lah sama si Tarjo yang melakukan ini semua demi dia bisa pensiun dini di umur 35 tahun. Dia bilang, “Gw bakal kerja abis-abisan sampe umur gw 35 tahun dan pensiun dini, nikmatin hidup dan melakukan hal lain.” Ya iya sih bener, tapi lah kalo iya dengan gaya hidup kayak gini bisa ngebuat gw sehat sampe umur 35, lah kalo dengan hidup di masa muda kayak gini terus mah, bisa-bisa udah KO gw nanti di sebelum umur 35, gimana mau nikmatin hidupnya? Sekarang gw gak mau maruk profit lagi, berhubung gw merasa udah mengumpulkan sedikit lebih dari target gw, lebih baik gw berhenti beresiko. Karena waktu dan tenaga yang gw berikan untuk trading bagi gw gak worth it kalo dibanding dengan apa yang gw lewatkan dan korbankan. Gw masih ada hold beberapa koin yang gw anggap potensial namun dalam jumlah sedikit, yang kalo duit gw harus ilang, dalam jumlah segitu gw gak sedih banget lah, kalo naik ya syukur. Anggep aja untung-untung berhadiah.

    Mungkin lebay banget ya cerita gw ini, ya maklum lah gw kan bukan trader atau pun financial expert. Jadi mental gw gak kuat untuk bertahan lama-lama. Salut lah gw sama traders sejati, gak sanggup gw ngejalanin hidup lo, hehehe…

    Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia

    IMG_0123

    Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

    1. BukaBuku

    Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

    2. BukuKita

    BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

    3. Periplus

    Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

    4. Books and Beyond

    Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

    5. Book Depository

    Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

    Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!