Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Advertisements

Mengurus Visa Turis Australia Sendiri: mudah dan lima hari kelar!

2018 has been a travelling year for me! Tiap bulannya, dari Januari sampai Juni, I have  not and will not stay in one city only, udah ada jadwal travelling! Jadi susah sih untuk fokus on my thingies, tapi yah disyukuri aja mumpung rezeki. Tahun ini juga pertama kalinya gw ke luar negeri setelah 27 tahun hidup di bumi, dimulai dari Malaysia di bulan April kemaren–mainstream banget ya ke Malaysia–and in this May, I will fly to Aussie for two weeks! Woohoo!

Gara-garanya Abang gw wisuda S2nya di Adelaide and we havent met since he left almost two years ago, so my mother sudah kangen akut dan pingin ngehadirin wisuda, disangkanya acara wisuda di luar se-hebring wisuda di Indonesia. Sebenernya gw sih gak pingin pergi mengingat biayanya mahal banget, lebih baik uangnya dipake buat yang lain, but my mother insisted and she doesn’t speak any English, gak mungkin dong dese dibiarin pergi sendiri, takutnya nanti emak gw dititipin narkoba ama orang trus udah muncul aja di TV. Duh, kebanyakan nonton Narcos ini gw!

Berhubung ada tiket promo, jadi kami beli tiket dulu sebelum mengurus visa, udah gitu baru mengurus visa dalam 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan! Padahal menurut rekomendasi dari kisah-kisah di internet, sebaiknya persiapkan waktu dua bulan sebelum jadwal, just in case visa ditolak dan harus re-apply, diperkirakan pengurusan visa memakan waktu 15 s/d 30 hari, malah ada yang pernah sampai 1,5 bulan dan ujung-ujungnya ditolak. Nah lho, jadi tambah horror kan! Ini juga pengalaman pertama gw mengurus visa, so I was very nervous, lah kok ya mau ngasih devisa ke negara orang aja prosedurnya lebih susah dibanding ujian SPMB yang menentukan jalan hidup gw, sedangkan mereka bisa gampang aja keluar-masuk negara kita, oh susahnya jadi pemilik passport hijau ini! Hiks!

Namun sebenarnya hal ini gw rasa rumit karena belom pernah mengurus visa, kalo sudah pernah, berkas-berkasnya hampir sama untuk apply ke negara lain. Jadi pastikan aplikasi kamu lengkap se-lengkaplengkapnya walau pun yang bakal memutuskan orang kedutaan juga, at least you’ve done your part well.

Hal pertama yang gw lakukan adalah riset dari internet dari sumber resmi dan cerita di blog yang visanya ditolak dan diterima. Maka itu gw simpulkan untuk mengurus visa sendiri daripada ke agen karena banyaknya visa perorangan yang apply melalui agen memakan waktu lama dan kebanyakan agen tidak perduli dengan kelengkapan data kita, toh mau visa kita ditolak atau diterima mereka tetep dapet duit. Mereka hanya terima aplikasi kita (yang mana harus kita isi sendiri, bukan dibantuin) dan dikirim ke VFS Global (agen resmi pengurusan visa yang ditunjuk oleh kedutaan Aussie).

Oh ya, dengan ditunjuknya VFS, kedutaan tidak menerima pendaftaran langsung ke kedutaan, mungkin mereka males kalo rame orang berbondong-bondong dateng ke kantornya. So, agen-agen seperti Dwi**ya Tour dll hanya jadi perpanjangan tangan yang memakan biaya tidak perlu. Di bagian pengisian formulir juga ada pertanyaan apakah kita menggunakan agen atau tidak, menurut gw sih ini menjadi bahan pertimbangan bagi kedutaan karena biasanya orang-orang yang menggunakan agen dinilai suka ambil shortcut gitu deh. Lagian, semenjak bulan November 2017 lalu, pendaftaran visa Australia sudah bisa melalui online di link ini, so kita yang tidak harus datang langsung ke kantor VFS yang cuma ada di Jakarta dan Bali. Tapi berhubung gw ada urusan lain ke Jakarta, jadi gw memilih mendatangi langsung ke VFS Jakarta yang berlokasi di Kuningan City Mall lantai 2.

Sebelum gw jelaskan detailnya apa aja yang harus dipersiapkan, I want you to keep this in mind bahwa pihak kedutaan menilai dari hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu.

Supporting documents yang akan dicantumkan mengacu ke poin-poin di atas, walaupun namanya supporting documents, tapi sangat berpengaruh sebagai bahan pertimbangan kedutaan, semakin lengkap semakin baik, daripada di-reject dan duit melayang. Visa OZ berbeda dengan visa negara lain yang bisa mengajukan banding ketika visa ditolak dan ada kemungkinan uang dikembalikan. Sedangkan visa OZ sungguh raja tega! Kalau sampai direject, harus bayar dan daftar ulang lagi. Detail checklist kelengkapan formulir dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Kebanyakan sumber yang gw baca di internet adalah yang mengurus visa untuk orang yang sudah bekerja, bukan wiraswasta atau pun freelancer seperti gw. So, gw akan membuat posting khusus tentang kelengkapan data apa aja untuk kasus gw di post ini daripada terlalu panjang kalo dibahas dalam satu post ini.

Setelah siap semua data yang diperlukan, kita harus mendaftar appointment dulu ke situs resmi VFS, karena kalo sampai gak daftar dan langsung go show aja, kita bakal kena biaya tambahan sebesar Rp 115.000 per applicant (di denda gitu, ya ampun mau bertamu aja kena denda ya, somse banget dah ini negara!) Disitu kita bisa memilih hari dan jam yang bagi kita memungkinkan kapan kita datang, bisa direschedule maksimal 2 kali.

Data yang dimasukkan harus sama persis dengan yang di passport, karena kalo typo sedikit aja bisa berabe. Berhubung gw pergi sama mama, gak perlu bikin dua akun, satu akun aja dengan dua data applicant. Satu akun maksimal 5 applicant. Jadi kalau kamu pergi dengan suami, istri, dan dua anak, kamu harus mengisi empat data applicant.

Setelah selesai kamu akan mendapatkan email undangan dari VFS yang ditunjukkan saat datang ke kantornya, gak perlu di print, ditunjukkan dari HP juga gapapa. Dan gak harus datang semuanya, satu orang saja juga boleh, karena gak ada wawancara, hanya penyetoran document aja dan pembayaran visa sebesar 135 AUD (jadi besarnya biaya tergantung kurs yang berlaku ya!) dan biaya pendaftaran ke VFS sebesar Rp 165.000, ada biaya lain kalau mau dapat pemberitahuan proses visa via SMS sebesar Rp 25.000 per applicant, total yang gw bayar saat itu Rp 1.730.000 per applicant. Karena banyaknya jumlah pertanyaan di formulir subclass 600, kalau ada pertanyaan yang ragu, bisa ditanya langsung ke staffnya maksudnya apa.

Untuk visa turis, kita tidak perlu membawa semua dokumen asli kecuali passport yang akan ditunjukkan saat pelaporan ke VFS. Namun passport ini bisa langsung dibawa pulang dan tidak ditinggal di VFS. Berbeda dengan pengajuan melalui agen yang meminjam passport kita sampai ada jawaban dari kedutaan. Repot banget kan kalo passport kita dipinjam selama 1 bulan dan akan pergi ke luar negri sementaranya!

Pembayarannya melalui cash, kalau melalui debit dan berbeda bank akan kena charge 3%, lumayan bowh buat jajan somay. Disaat pengecekan document ada lembaran checklist yang diisi oleh staff VFS, pihak kedutaan akan mengacu ke lembar tersebut sebelum membaca isi dokumen kita, so pastikan kita mengecheck ulang apakah sudah sesuai sebelum kita tanda tangan. Seperti kasus gw yang si Mbaknya awalnya menulis gw tidak menyertakan beberapa supporting documents yang padahal ada, jadi dikoreksi sama Mbaknya, total kelengkapan gw lengkap banget malah, haha! Nah ini enaknya mengurus sendiri, sedangkan kalo lewat agen, kita tidak bisa lihat data kita diisi dengan benar atau tidak.

VFS ternyata gak mengurus visa Aussie saja, tapi juga negara-negara lain seperti NZ dan UK. Untuk ke Aussie, lokasinya di paling belakang. Begitu masuk sudah terasa aura imigrasi karena melalui metal scan, dilarang membawa laptop ke dalam. So kalau kamu bawa laptop, harus dititip dan bayar biaya penitipan.

Setelah bayar, yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Staffnya bilang akan diproses dalam waktu 15 sampai 30 hari, tergantung pihak kedutaan. Waduh, padahal gw cuma punya waktu 3 minggu sebelum keberangkatan! But I think I’ve done my part very very well, clearly dan super complete, hence gw bisa dikatakan confident dengan aplikasi gw.

Saat itu kami mendaftar pada tanggal 18 April 2018 yang jatuh di hari Rabu, setelah lima hari kerja (so, Sabtu dan Minggu gak diitung ya bro), email cinta dari kedutaan sudah datang dan menyatakan visa kami approved! YEAY!! Saking senengnya sampe joget-joget India, minus tiang bendera aja! Oh ya, selama lima hari itu kami juga mendapat SMS kok dari VFS tentang proses visa kami. Mungkin juga karena kami apply tidak di high season, jadi prosesnya cepat. Kalau visa sudah pernah diapprove, saat apply lagi dikemudian hari jadi lebih meyakinkan. Akan sulit bagi kamu mendaftar visa kalau sudah pernah ditolak dua kali, ibaratnya ya pacaran putus-balik sama mantan lebih dari dua kali, ya mendingan move on ke negara lain aja, hehe.

Good luck buat yang lagi berjuang visa! 😀

pic_approved

Persyaratan Visa Turis Australia

2000px-australia_stub

I’m so excited that this year marks the first international travel in my life, setelah bulan April lalu travelling ke Malaysia yang mainstream itu dan bulan May 2018 ini ke Aussie! This is the first time I applied for a visa yang katanya sih bikin deg-degan, namun sebenernya enggak juga kalo dokumen kamu udah lengkap dan meyakinkan. Buktinya visa gw granted hanya dalam waktu lima hari kerja! Baca prosesnya disini 😀

Document checklist dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Intinya, dalam memberikan persetujuan visa, pihak kedutaan menimbang hal-hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu. Atau kamu menulis niatan hanya untuk berlibur, tapi kamu cantumkan juga pingin cari suami bule, wah bisa berabe disangka cewek gak bener! Haha, niatan Tinder-annya disimpan untuk diri sendiri aja ya, sis!

Berikut daftar apa aja yang gw submit untuk kondisi gw dan mama gw (karena gw pergi berdua mama, namun satu applicant satu dokumen ya, gak digabung), disusun berurutan:

  1. Cover Letter atau bisa dibilang surat pembuka untuk petugas yang akan me-review aplikasi kita nanti. Cover letter ini membantu petugas menyimpulkan tentang aplikasi kita daripada harus langsung bergulik dengan formulir dan supporting documents yang suka ngacak. Di cover letter ini kita menjelaskan:
    • Siapa diri kita,
    • Tanggal dan tujuan berkunjung. Karena tujuan gw adalah mendatangi wisuda kakak gw, gw tulis demikian lengkap dengan nama universitasnya, selebihnya untuk jalan-jalan,
    • Pekerjaan atau usaha kita. Karena pihak kedutaan ingin yakin bahwa kita akan balik ke negara kita,
    • Runtutan supporting documents yang diberikan,
    • Cover letter harus singkat, tidak bertele-tele dan usahakan hanya satu halaman. Contoh cover letter gw bisa dilihat di sini: Cover Letter Visa Aussie Cihud
  2. Formulir 1419 yang sudah diisi, bisa didownload di sini. Bisa diisi dengan diedit langsung di pdf atau dengan tulisan tangan, usahakan tidak ada coretan dan data yang diisi sama persis dengan dengan data asli, karena typo sedikit aja bisa jadi masalah. Formulir ini berisi 17 halaman dan 53 pertanyaan. Nanti akan gw bikin post tersendiri tentang panduan mengisi formulir ini. Sabar ya, bro sis!
  3. Bukti pembayaran pendaftaran visa sebesar 135 AUD dan biaya logistik sebesar Rp 165.000 (diisi oleh petugas VFS Global)
  4. Fotokopi passport yang masih berlaku, setidaknya enam bulan sebelum expiration date. Yang difotokopi bagian depan yang ada no passport dan foto, bagian belakang, dan semua bagian dalam yang ada cap imigrasi ketika kamu melakukan perjalanan luar negeri. Cap-cap dari negara-negara ini katanya berpengaruh, kalo kamu sudah pernah ke luar negeri, apalagi Amerika. Untungnya, di bulan April kemaren gw ke Malaysia, jadi gak kosong melompong banget lah passport gw. Kalo ada passport lama, fotokopi passport lama juga dicantumkan.
  5. Satu lembar pas foto berwarna ukuran passport terbaru, tidak lebih dari 6 bulan, dengan latar belakang putih, ditempel di kotak di kanan atas formulir 1419. Jangan lupa di bagian belakangnya ditulis nama dan no passport, kalo-kalo tercecer. Fotonya close up sampai pundak, jangan sampai pake gaya alay ya, apalagi pake filter Snapchat. Kalo gak sempat foto, bisa foto langsung di photo box yang ada di kantor VFS Global (Agen resmi yang ditunjuk kedutaan Australia untuk pengajuan visa, jadi nanti dokumen kita disubmit di sini, bukan di kedutaan) seharga Rp 50.000.
  6. Fotokopi KTP, Kartu Keluarga dan akte kelahiran. Untuk orang tua yang tidak memiliki akte kelahiran, bisa menggunakan ijazah terakhir.
  7. Surat keterangan ganti nama (bila ada, misal dulunya nama kamu Lucinta Luna sekarang berganti menjadi Muhammad Brad Pitt).
  8. Surat Nikah (bagi yang sudah menikah), bagi yang belum gak usah bikin Surat Jomblo Galau segala ya, hehe! Bagi wanita yang sudah menikah dan pergi tanpa didampingi suami, perlu dilampirkan juga KTP suami dan surat izin dari suami, seperti yang gw buatkan untuk mama gw. Contoh surat izin suami bisa dilihat di sini: Contoh Surat Izin Suami Visa Australia
  9. Bukti status pekerjaan/ usaha, yang meliputi:
    • Fotokopi NPWP, kalo bisa dengan print SPT terakhir
    • Surat referensi dari kantor yang menyatakan kamu adalah karyawan disana dan harus balik kalo udah selesai jalan-jalannya. Yang ini gw gak punya karena sudah berhenti bekerja dan menjalankan usaha sendiri.
    • Berhubung mama sudah pensiun, jadi dilampirkan surat pensiunnya dan bukti kepemilikan usaha, seperti surat keterangan usaha dari kelurahan atau bukti pembayaran pajak. Untuk kasus gw yang basis usahanya online, maka gw memberikan screenshots Instagram usaha gw. Kalau kamu freelancer atau blogger, kamu juga bisa menyertakan screenshot blog atau IG kamu. Sekalian promosi kali ya, hehe…
  10. Bukti kesanggupan finansial (kecukupan dana), yang meliputi:
    • Rekening koran dalam 3 bulan terakhir dengan jumlah dana yang cukup. Ada yang bilang, minimal saldo 50 juta namun banyak yang hanya sekitar 20-30 jutaan dan tetap approved. Intinya, kepastian bahwa kamu bisa mengcover biaya hidup per hari di Aussie yang kira-kira 120 AUD, jadi kalo kamu liburan selama 3 minggu, tinggal dikalikan aja ya!
    • Oh ya, pihak kedutaan akan mereview secara detail aktivitas yang ada di rekening kita, jadi jangan tiba-tiba menambah saldo puluhan juta mendekati tanggal pendaftaran, karena akan mencurigakan, seolah-olah kita minjem demi buat visa (walo pun kadang emang kenyataannya begitu sih ya… hehe) Namun di kasus gw, terjadi pelonjakan saldo puluhan juta karena dibantu oleh Mama yang menjadi sponsor gw, maka itu harus dijelaskan di sponsorship letter bahwa pelonjakan saldo secara tiba-tiba yang terjadi adalah karena dan sepengetahuan pihak sponsor.
    • Slip gaji tiga bulan terakhir (kalo ada).
    • Kalo punya credit card, surat pernyataan limit kartu kredit dari bank.
    • Sponsorship letter bagi kamu yang biaya perjalanannya ditanggung oleh orang lain, misal: housewife yang dibiayai suami atau seperti gw yang walau pun sudah memiliki penghasilan namun dibantu oleh pihak keluarga. Di surat tersebut menjelaskan pekerjaan dan keadaan finansial si pemberi sponsor dan apa aja yang dibantu cover oleh sponsor. Mereka gak mau dong ya orang yang financially unstable ngesponsorin orang lain, maka itu kamu juga perlu mencantumkan fotokopi rekening koran 3 bulan terakhir atau slip gaji dari sponsor kamu. Contoh sponsorship letter gw bisa dilihat di sini: Contoh Surat Sponsor Visa Turis Cihud
  11. Bukti kepemilikan aset di Indonesia. Well, mereka ingin memastikan bahwa kamu ada alasan untuk balik ke Indonesia, jadi kalau ada rumah, property lainnya yang atas nama kamu bisa dicantumkan juga. Karena ada lho kisahnya yang memiliki tabungan yang melebihi cukup namun ditolak karena statusnya yang wanita lajang tanpa kepemilikan aset, seolah-olah mencurigakan gitu, because she seemed like she didn’t have something that tied her to come back. Padahal dasar negara mereka aja yang parno kali ya! Hihi.
  12. Invitation Letter dari keluarga atau kerabat di Australia. Berhubung gw akan mendatangi acara wisuda abang gw, jadi gw mendapatkan invitation letter dari pihak universitas. Invitation ini penting banget lho, untuk meyakinkan kalo kita bukan datang tak diundang atau pergi tak diantar ibarat jaelangkung, hehe, gak dink! Intinya, kalo benar ada, akan menambah poin. Kalo tidak ada invitation, ya gak usah di-ada-adain. Kalo sampai pihak kedutaan menghubungi orang tersebut dan terbukti bohong, kan bisa berabe! Di invitation letter personal dari abang gw juga dijelaskan status visa dan passportnya doi, serta apa aja yang akan dibantu oleh pihak inviter, kalo inviter kamu juga adalah sponsor kamu, perlu dijelaskan disana. Tidak lupa kamu juga harus menyertakan fotokopi visa dan passport si inviter. Saking complete nya, gw juga melampirkan akte kelahiran abang gw, biar makin convincing eke sama doi sodaraan lho, mak! Contoh invitation letter gw bisa dilihat di sini: Contoh Invitation Letter Visa Turis Cihud
  13. Bagi anak yang berumur di bawah 18 tahun dan:
    • Berpergian tanpa kedua orangtua, Formulir 1229 dan fotokopi KTP mereka; atau,
    • Berpergian dengan salah satu orangtua, Formulir 1229 dari orangtua yang tidak pergi dan fotokopi KTP orang tua tersebut.
  14. Bagi yang berumur 75 tahun, diperlukan tes kesehatan (Formulir 26) di salah satu panel dokter dan asuransi perjalanan selama masa kunjungan di Australia.
  15. Print tiket PP dan booking akomodasi selama di Aussie (kalo sudah beli)
  16. Itinerary perjalanan atau agenda kegiatan perjalanan (kepo banget kan ya ini negara!), gak usah detail banget juga sih, kasarnya aja, misalnya tanggal sekian berangkat, tanggal sekian berada di mana, etc. Itinerary ini gak harus juga sih ya, tapi kalo ada lebih baik

Catatan tambahan:

  • Biaya pengurusan visa bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kurs dollar Australia.
  • Per November 2017, aplikasi visa Australia untuk WNI sudah bisa melalu online di sini tanpa harus datang langsung ke kantor VFS Global.
  • Jika memilih mendaftar langsung, sebelum mendatangi kantor VFS Global untuk pendaftaran visa, harus membuat janji temu dulu via online di sini. Datang tanpa janji temu akan dikenakan denda sebesar Rp 115.000. Kantor VFS Global terdapat di Jakarta dan Bali.
  • Semua dokument diprint dan difotokopi di kertas A4, tidak dipotong kecil-kecil, contohnya fotokopi KTP di satu lembar A4 tersendiri, tidak digabung dengan fotokopi NPWP.
  • Cover letter, sponsorship letter dan surat izin suami dibuat dalam bahasa Inggris dan disertai tanda tangan di atas materai Rp 6.000,-.
  • Untuk visa turis, tidak perlu memberikan/ menunjukkan dokumen asli kecuali passport. Dokumen berbahasa Indonesia seperti akte, surat kelurahan, dll juga tidak perlu ditranslate ke bahasa Inggris. Berbeda dengan pengajuan visa pelajar, business atau pun WHV yang harus menunjukkan dokumen asli dan ditranslate English.
  • Kalau ada yang lupa atau salah difotokopi, di kantor VFS ada tempat fotokopi dengan biaya Rp 500,- per lembar. Mehong ya ciiinnn…. Udah dapet bakso tusuk itu, mah! Hehe.
  • Dokumen tidak perlu distaples, diberi map atau dibundle di binder, karena nantinya akan dimasukkan ke dalam map tersendiri oleh pihak VFS saat dikirim ke kedutaan.
  • Saat submit dokumen di kantor VFS Global, kelengkapan dokumen akan dicheck oleh petugas dan diisi ke satu lembar pernyataan yang akan menjadi rujukan pihak kedutaan sebelum membaca dokumen kita, so pastikan kamu membaca apa yang diisikan petugas sebelum kamu tanda tangan, ya!
  • Kamu sendiri yang harus sensitif dengan data di dokumen kamu, yang artinya menjelaskan sebelum dipertanyakan. Contoh, menjelaskan alasan kalo ada pelonjakan saldo di rekening, atau di passport kamu ada keadaan dimana kamu bolak-balik ke negara yang sama selama tiga kali dalam waktu yang berdekatan, padahal karena urusan kantor. Takutnya malah disangka imigran gelap yang mencari pekerjaan di negara tersebut, hadeuh!

Nah, kalo kamu sudah merasa komplit semua documentnya, selanjutnya nasib pendaftaran visa berada di tangan kedutaan, at least you know you’ve done your part well dan bisa tenang selama proses menunggu.

Good luck and cheers 😀

 

Wanita dalam Perlombaan

I am so amazed and thankful for the existence of internet and social media, tanpa mereka gw gak akan bisa hidup sebebas ini, gw berani memilih ngejalanin apa yang gw lakuin sekarang karena gw yakin gw beruntung hidup di zaman yang tepat. Zaman dimana orang bisa sukses tanpa harus merelakan tidak menjadi diri mereka sendiri. Namun demikian gw kadang rindu zaman sebelum adanya social media, waktu dimana kita gak perlu berlomba-lomba mengukuhkan eksistensi diri, berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih bahagia, sukses, bahkan tingkat iman pun diperlombakan. Waktu dimana kita melakukan sesuatu karena rasa suka, bukan karena ajang di panggung yang semu.

Dari pandangan gw sendiri sebagai pengamat (dan mungkin tanpa sadar pernah menjadi peserta), wanita adalah yang lebih sering ikut perlombaan fana ini. Emang udah fakta umum sepertinya kalo wanita memang jiwa kompetitif dan insekuritasnya lebih mudah diombang-ambingkan daripada pria. Atau mungkin pria lebih jago menyembunyikan insecurities mereka ketimbang kita.

Memang sulit jadi wanita, kita selalu hidup berkompetisi. Kalo kata Oscar Wilde, “Women don’t dress up to impress men, women dress up to annoy other women.” Sadly true. Di umur yang sudah sedikit melebihi seperempat abad ini, gw udah melihat dan menjadi bagian dalam kompetisi wanita ini, kompetisi yang gak jelas judulnya apa, namun intinya, dalam kompetisi ini kita harus menunjukkan dan kadang menjatuhkan wanita lain untuk meraih gelar ‘Gw lah yang paling wanita sejati!’. Di tiap jenjang umur pun, kategori yang diperlombakan berbeda-beda, namun piala akhir tetap sama, yaitu gelar ‘wanita sejati’. Dengan adanya sosial media, kompetisi ini semakin sengit dan jelas terpampang.

Gw sudah melewati umur dimana kriteria ‘wanita sejati’ ditentukan oleh bentuk fisik. Kulit warna ini lebih baik dari warna ini, tinggi badan segini lebih baik daripada yang itu, lingkar badan, jenis rambut, cara berpakaian, dan lain-lain. Hal ini paling kenceng terjadi di usia belasan tahun, biasanya diiringi dengan kompetisi ‘siapa yang punya kawan paling banyak dan nge-hits abis’. Kalo kemana-mana bareng orang se-genk udah kayak mau kampanye. Tinggal bikin yel-yel aja lagi.

Ketika udah bertambah umur, level kompetisi semakin sulit karena berhubungan dengan pernikahan. Dimulai dari umur 23 tahun, foto tunangan, prewedding, undangan, pernikahan dan honeymoon semakin bertebaran. Hal ini tergantung di kota mana kamu tinggal atau kuliah dulu, kalo di kota besar mungkin agak relaxed. Fisik bukan lagi masalah yang penting, yang penting di level ini adalah status. Buat apa cantik kalo nikahnya belakangan, begitu lah kira-kira stereotypenya. Di umur ini banyak banget jiwa-jiwa insecure bermunculan, kode minta diajak nikah berserakan. Apalagi bagi yang belum mendapatkan pengalaman kerja atau gak puas dengan pekerjaannya, fikirannya pingin nikah aja, seolah-olah nikah adalah solusi wahid bagi semua masalah. Kalo masih jomblo atau galau tanpa kejelasan hubungan di umur ini, bertahan lah. Nanti juga momen ini berlalu di umur 25 tahun.

Gw ngerasain dan ngeliat dengan jelas gimana kompetisi di umur ini terjadi. Banyak yang promosi diri sebagai wife material nomero uno, hobby dan cara berpakaian pun  pun langsung berubah drastis, caption yang elegan jangan sampe ketinggalan, walau pun hasil copas. Ada kenalan yang tiba-tiba rajin posting hal-hal berbau agama, cara berpakaiannya berubah drastis. Ternyata lagi ngincer ustadz, walau pun ustadz-ustadzan. Kalo udah putus, ganti lagi, kode lagi. Pengambilan keputusan dengan cepat, banyak yang nikah dengan memaksakan hubungan yang sebenernya gak bisa lagi (ujung-ujung pas nikah langsung cerai atau diselingkuhin), kadang alasannya se-sepele hanya ingin pamer foto prewedding atau foto bareng suami di sosial media. Sosial media membuat seolah-olah nikah itu masalah gampang, yang penting bisa bikin caption #withhubby, adu du du duh…

Dengan adanya sosmed, persaingan di fase ini makin berat, karena adanya banyak aspek. Dari ada dan ketidak-adaan pasangan sampai acara resepsi. Harus ada foto bridal shower dengan girls squad-nya, belum lagi prewedding, foto aja gak cukup, harus pake video juga biar oke dan geger seantero Instagram. Undangan juga harus kece, baju bridesmaid jangan sampe malu-maluin. Di umur ini, umur baru mulai kerja dan berpenghasilan, tapi persahabatan diuji karena banyaknya ‘biaya persahabatan’ yang harus dijaga, dari persiapan bridal shower, jahit baju bridesmaid, sokongan kado, tiket pesawat, akomodasi, makeup artist, dan entrebe-entrebe lainnya. Semuanya demi apa? Demi menang lomba!

Lalu apakah kompetisi ini berhenti setelah menikah? Kagak, welcome to the next level. Level dimana suami aja gak cukup, harus punya anak juga untuk pembuktian betapa wanita sejatinya kita ini. Bagi yang telah melewati fase sebelumnya dengan status ‘masih single’, ini adalah momen dimana kalian bakal jadi penonton para istri-istri baru berkompetisi di level ‘siapa yang hamil duluan’. Sumpah ini konyol banget, seolah-olah membuktikan uterus siapa yang paling unggul. Saking konyolnya, bagi yang masih single bakal sering ditanyain sama teman lain yang sudah menikah apakah teman dekat kita yang juga baru menikah sudah hamil atau belum, kenapa gak tanya langsung sama orangnya aja yak? Gw kan bukan suaminya, gak pergi control ke dokter bareng gw juga. Kalo di fase sebelumnya bertebaran foto dengan pasangan dari engagement sampai honeymoon, di fase ini foto yang bertebaran adalah foto hasil test pack atau hasil USG. Langsung deh posting-posting tentang anak, menjadi orang tua, dan bahagianya menjadi istri. Gw ikut seneng kalo liat temen-temen gw bahagia, tapi ketika masalah punya anak dijadikan bahan perlombaan, aku hanya bisa facepalm.

Di fase ini adalah dimana tidak sedikit kenalan-kenalan yang sudah menikah tadi jadi sensitif berkelebihan masalah belom punya anak, terlebih kalo ditanya sudah berapa lama menikah. Gemes rasanya kalo liat perempuan yang sedih, kesepian dan merasa gak sempurna karena belum punya anak biologis. Hellow… lady, you’re still a woman!

Wanita-wanita yang udah menikah dan punya anak juga punya kompetisi lain sesama mereka, salah satu contohnya siapa yang bisa tetap menjaga penampilan, langsing dan menawan walau pun sudah launching produk. Hal ini memberikan pressure kepada mamah muda yang gak bisa back to normal pasca melahirkan seperti artis-artis di media, gak semua orang punya genetik dan kondisi fisik yang sama. Ada yang jadi udah males foto selfie lagi karena ngerasa udah gak cantik lagi, jauh benar kalo dibanding waktu single dulu yang tiap menit upload foto narsis muka close-up melulu, sampe ada yang udah bedah plastik untuk mengecilkan segala bagian yang membesar, dari bentuk hidung, pipi, perut, dan lain-lain.

Setelah lewat umur 27 tahun, para kontestan yang gagal nikah di umur 23-25 tahun tadi ternyata sudah banyak yang telah berubah, mereka bebas melalang buana menghabiskan duitnya untuk dirinya sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain, banyak juga yang karirnya menanjak atau telah menemukan passionnya. Tanpa disadari mungkin mereka melakukan pembenaran, ‘syukurlah gw belum nikah, daripada udah nikah hidupnya cuma gitu-gitu aja.’ Di lain sisi, pihak yang sudah berlabel istri gak mau kalah, seolah-olah gak ada posisi yang lebih indah dan terhormat selain menjadi istri, apalagi kalo udah jadi istri, bisa juga jadi ibu biologis, sudah lah jannah di tangan.

Namun para ibu-ibu yang udah punya anak pun juga bersaing dengan sesama emak-emak perihal siapa yang jadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Siapa yang mengasuh anaknya sendiri dengan siapa yang memperkerjakan baby sitter. Siapa yang hanya bergantung dari dompet suami dengan siapa yang punya penghasilan tambahan atau ikut membantu keuangan keluarga.

Ya ampun, baru 27 tahun gw hidup di bumi tapi udah banyak banget segala kompetisi yang gak jelasnya hadiahnya apa. Membuat gw jadi bertanya-tanya setelah umur ini, levelnya apa lagi? Kadang gw heran sama yang rela mati-matian transgender buat jadi wanita, persaingan di dunia wanita keras lho, bro! Kalo sekarang anak mereka masih sama-sama kecil, masih belum punya pendapat yang permanent. Gimana nanti kalo anak-anaknya udah pada remaja atau lulus kuliah, apakah kita harus bersaing siapa yang anaknya paling banyak prestasi akademik? Masuk sekolah mana, pilih jurusan apa, nikah ama siapa dan umur berapa, dan pilihan-pilihan lainnya yang menentukan prestasi seorang wanita menjadi seorang ibu. Bukannya hal itu terlalu selfish, hanya untuk pembuktian diri sendiri kita harus mengorbankan orang lain. Orang tua yang hasilnya memaksakan kehendak kepada anaknya mungkin adalah orang tua yang belum lepas dari bayang-bayang perlombaan.

Kenapa dan kenapa kita gak bisa berbahagia saja atas pilihan kita DAN pilihan orang lain, berbahagia atas apa yang terjadi di diri kita DAN di orang lain. Tanpa harus membandingkan siapa yang lebih bahagia, sukses atau lebih wanita sejati. Karena selama kita masih sering membandingkan, gak ada yang sebenarnya menjadi pemenang.

Hanya karena kamu sudah menikah, bukan berarti yang masih single hidupnya merana dan kesepian. Hanya karena kamu belum menikah, bukan berarti yang sudah menikah hidupnya tidak bahagia dan terkekang. Hanya karena kamu sudah punya anak, bukan berarti mereka yang belum adalah wanita gagal. Hanya karena kamu belum punya anak, bukan berarti mereka yang sudah punya anak hidupnya terbatas. Kalau kamu memilih menjadi wanita karir, bukan berarti mereka yang menjadi ibu rumah tangga adalah lemah. Kalau kamu memilih jadi ibu rumah tangga, bukan berarti mereka yang bekerja adalah durhaka.

Siapa lah kita untuk punya wewenang mendefinisikan standar kebahagiaan orang lain. Terlebih lagi masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang di luar kontrol diri kita, bukan kita yang mengatur. Setiap orang punya jam yang berbeda-beda, adzan shalat aja beda RT beda waktu, bisa gak barengan, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang. Perempuan sesama perempuan sebaiknya sama-sama mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain agar terlihat lebih sempurna. Tentang apa yang terjadi di masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain kita hanya punya dua pilihan; either berbahagia dan iklas atau berburuk hati dan prasangka. Pilihan pertama tidak memakan biaya sedangkan pilihan yang kedua menghabiskan budget, tenaga dan waktu.  Rempong, ciiinnn…

 

Feb’s Faves: Skincare Drugstore & Organic Murah

cIMG_2037

Semenjak di Bali kemaren, hasrat belanja skincare organic dan drugstore gw terpenuhi karena banyak pilihan tersedia, gak seperti di Sumatra Barat atau Lampung dulu. Yang pasti gw selalu mengincar yang se-natural mungkin dan anti beli yang mahal, dulu gw udah pernah coba produk-produk dari yang mahal sampe yang murah gak jelas karena cuma jadi korban marketing. Dengan pengetahuan yang udah lebih mumpuni, udah fixed deh yang natural memang lebih baik dan cantik–walau pun harus bermodal–gak mesti mahal. Beberapa produk ini udah gw pake selama 2-3 bulanan, so here’s why I like them:

  1. Energizing Day Cream by Himalaya

IMG_2046

Gw emang udah lama banget nyari day cream yang cocok, selama ini pake produk dari Acnes dan BioDerma tapi ngerasa kurang greget karena gak mengandung pelindung dari sinar UV, terlalu ringan untuk di umur aku yang telah meninggalkan usia belia ini, haha… Pertama kali beli agak ragu karena harganya agak mahal juga sih dan packagingnya gak travel friendly, tapi setelah dipakai hasilnya lumayan oke, creamnya cepat meresap dan menahan minyak lebih lama dibanding dua merk sebelumnya.

2. Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Gw udah ngefans banget lah ya sama brand ini, khusus untuk body butternya gw udah pernah review di postingan sebelumnya, bisa dicheck disini.

3. Face Serum Mineral Botanica

IMG_2043

Face serum ini ternyata penting banget agar manfaat cream-cream setelahnya terserap dengan baik dan lebih maksimal. Sebelumnya gw pake pre-serum dari The Body Shop dari rangkaian Drops of Youth dan gw udah menggunakan itu bertahun-tahun, tapi hanya dipake untuk ritual malam aja, karena mahal ciiinn… jadi pemakaiannya diutamakan di malam hari aja, nasib miskin memang begini lah.. haha. Terus ketemu dengan face serum dari Mineral Botanica ini, ada dua varian face serum; acne untuk wajah berjerawat dan brightening yang fungsinya untuk mencerahkan dan anti-aging. Jangan tertipu dengan kata brightening-nya dan berharap kulit bisa jadi putih, karena sebenarnya yang dimaksud adalah membuat kulit lebih fresh dan lebih kencang.

4. Castor Oil Utama Spice

IMG_2040

As you may know, gw penggemar body oil, dari VCO, olive oil, rose hip oil, dll. Utama Spice yang produk-produknya banyak menggunakan bahan minyak alami adalah salah satu incaran gw. Salah satunya adalah castor oil yang baru gw coba dan baru pertama kali denger tentang castor oil. Castor Oil berasal dari tanaman Riccinus Communis ini memiliki keistimewaan di antaranya:

  • Mengangkat kotoran sisa make-up (bahkan yang waterproof)
  • Low comodogenicity, artinya tidak beresiko menimbulkan komedo/ jerawat
  • Baik untuk rambut dan kulit kepala yang kering
  • Dapat digunakan sebagai pelarut maskara yang kering

5. Baby Skin Pore Eraser by Maybelline

IMG_2045

Cocok untuk bagian hidung yang lebih mudah oil, sebelumnya gw pernah pake Wonderblur dari The Body Shop, tapi mehong bo’… Ternyata produk dari Maybelline ini gak jauh beda kualitasnya, bikin bagian hidung jadi smooth banget dan oil control lebih lama dibanding hanya dengan menggunakan moisturizer aja. Pore erasernya ini diambilnya sedikit aja dan dioleskan hanya dibagian yang pori-porinya lebih terbuka.

6. Micellar Cleansing Water by Garnier

IMG_2041

Micellar water udah booming banget semenjak diperkenalkan oleh Bio Derma yang harganya mahal banget. Emang bener sih, micellar water ini emang terobosan baru yang lebih mengangkat kotoran muka bahkan setelah cuci muka. Namun setelah menghabiskan tiga botol micellar water dari Bio Derma yang tidak ramah di kantong, gw mulai mencari alternatif baru yang lebih murah dan mudah didapatkan di Sumatra Barat, dan pilihan jatoh ke brand Garnier. Awalnya deg-degan takut gak cocok, ternyata kualitasnya gak jauh beda kok, emang sih pake yang BioDerma wanginya lebih harum dan rasanya lebih fresh, tapi untuk masalah pengangkatan kotoran, hasilnya sama kok.

7. Purifying Neem Mask by Himalaya Herbals

IMG_2039

Menurut aku ada dua brand yang bisa jadi alternatif varian Tea Tree dari TBS, yaitu Acnes dan Himalaya. Neem mask ini tekstur dan hasilnya mirip dengan charcoal mask TBS, tapi wanginya lebih nyengat. Aku tadinya sering pake clay mask dari Utama Spice, tapi rempong juga kalo harus diracik dulu, jadilah pilih Neem Mask ini yang bentuknya tube, praktis digunakan, murah, banyak, dan ampuh buat jerawat!

8. Hair Oil by Botaneco Garden

IMG_2042

Berhubung gw gak bisa hidup tanpa hair dryer dan catokan, jadi berbagai vitamin rambut is a must untuk menjaga ujung rambut dan kehitamannya. Kalo menggunkan VCO atau olive oil, rambut jadi berminyak dan lepek, sedangkan kalo pake hair oil dari Botaneco Garden ini membuat rambut lebih berkilau tanpa rasa lepek, wanginya juga harum, botolnya aman dari tumpah. Gw sih lebih suka ini daripada hair oil dari L’Oreal.

#BeautyReview: Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Beauty brand yang paling sering gw review di blog gw adalah Utama Spice karena I’ve fallen in love with this organic skincare brand! Well, I’m into organic skincare only, gak nafsu deh kalo ngeliat brand-brand lain yang lebih mahal dan lagi hebring, karena menurut gw, untuk apa buang duit mahal-mahal kalo cuma untuk barang-barang kimiawi yang gak natural, belum tentu baik, dan apalagi kalo pake animal testing segala. Yang bikin gw tambah cinta dengan Utama Spice ini adalah karena ini brand Indonesia, made in Bali!

Dulu gw adalah customer The Body Shop, namun sekarang udah selingkuh, hehe. Hanya produk Drops of Youth yang masih gw pake, selebihnya, terutama untuk produk yang berbasis oil, sudah digantikan dengan Utama Spice. Selain karena rasa nasionalisme yang tinggi, harganya jauh lebih murah, kandungan alaminya pun lebih banyak. Difikir-fikir, untuk apa menghabiskan duit untuk produk organic yang diimpor dari negara lain padahal negeri sendiri sangat-sangat kaya raw materials.

Menambah list panjang koleksi Utama Spice gw adalah body butternya yang menjadi salah satu my current faves di semester pertama tahun 2018 ini. Body butter dari Utama Spice saat ini ada lima varian; Rose Allure, Lavender, Tropical Flower, Lemongrass Ginger, dan Cocoa Love. Masing-masing varian memiliki campuran oil yang berbeda-beda yang menentukan wanginya. Terdapat dua size kemasan, yang kecil ukuran 30 gr dengan harga Rp 26.000 dan yang besar ukuran 100 ml dengan harga Rp 83.000. Kecuali untuk varian Cocoa Love, ya… Harganya dua kali lipat lebih mahal, mungkin karena bahan dasarnya Cocoa Seed Butter yang lebih mahal.

Pertama kali coba testernya di store Utama Spice di Ubud, well teksturnya beda banget dengan body butter yang banyak di pasaran Indonesia. Kalo body butter lain umumnya teksturnya lotion yang lengket, body butter Utama spice lebih mirip butter dan berkesan oily, ya karena bahan utamanya memang minyak, yaitu Virgin Coconut Oil yang sangat baik untuk kulit. Awalnya ngerasa aneh emang, takutnya lengket-lengket gitu, namun ternyata enggak banget! Minyaknya langsung lumer di kulit dan membuat kulit coklat gw terlihat mengkilap seperti abis pake tanning oil namun tanpa rasa lengket! Namun baunya gak selembut produk lain seperti TBS, makanya aku cuma beli yang Rose Allure dan Tropical Flower yang menurut aku wanginya gak terlalu strong.

Berbeda dengan varian yang lain, Cocoa Love teksturnya sangat-sangat padat seperti balm. Wanginya harum coklat banget sehingga biking ngidam Silverqueen setiap kali dibuka, hehe. Karena soliditynya, gw pun makenya harus mengikis pake kuku bagian luar dulu baru dioleskan ke tubuh. Hasilnya di kulit gak nampak kilau minyak seperti yang lain, namun wanginya tahan lama dan bikin kulit lembut. Tapi aku mensejajarkan Cocoa Love ini dengan Petroleum Jelly, Lucas Papaw dan kawan-kawan yang lebih sering digunakan untuk kulit-kulit kasar seperti di siku, telapak kaki, lutut, dll. Kenapa? Karena harganya mahal, hehe.. padahal enak banget kalo kulit jadi wangi-wangi coklat gitu.

Untuk harga segitu, mungkin banyak yang merasa ukurannya terlalu mini. Namun sebenarnya kalo kamu memakainya dengan cara yang benar, akan bertahan lama. Karena kita gak perlu make banyak-banyak seperti body lotion, cukup tipis-tipis aja saat dibalur akan merata ke bagian yang lain. Buat aku yang rajin menggunakan body butter setiap hari saja, yang ukuran 30gr itu bisa bertahan untuk 2-3 minggu. Oia, body butter ini juga dibundle menjadi gift set yang lucu banget dengan tin can khas Bali, cocok buat jadi oleh-oleh dari Bali! Pemesanan produk bisa langsung di situs resmi Utama Spice atau lewat IG mereka.

Review produk Utama Spice yang lain di blog aku:

#BaliDiary: Gak Enaknya Tinggal di Bali

I LOVE BALI SO MUCH…

Satu-satunya daerah di Indonesia yang gw bikin gw jatuh cinta pertama kali adalah Bali. Sebelumnya gw udah pernah buat tulisan kenapa tinggal di Bali itu enak. Tapi gimana pun juga, semua hal ada plus dan minusnya. Tulisan kali ini membahas kurang enaknya tinggal di Bali, bagi gw hal-hal berikut ini hanya hal minor, gak sebanding dengan plus pointsnya. Anyway, hopefully ini bisa jadi informasi dan bahan pertimbangan buat kamu-kamu yang niat pindah ke Bali temporarily or permanently 😀

  • Bali = Banyak Libur

Bali bisa jadi singkatan dari “Banyak Libur”. Hari libur di Bali bisa dua-tiga kali lipat libur nasional. Orang Bali yang masih menjaga tradisi memang hobby banget bikin perayaan dan upacara. Jadi di Bali berlaku kalender libur lokal. Eits, mungkin bagi beberapa, banyak yang malah seneng ya kalo banyak liburnya! Ya mungkin aja, kalo kamu bekerja sebagai PNS atau kantoran. Tapi bagi kamu yang menjalankan usaha sendiri, jadi repot deh kalo toko-toko pada tutup dan para pekerja kamu pada cuti libur, deadline jadi ngaret karena libur. Makanya sekarang banyak usaha di Bali yang memvariasi karyawannya dengan agama dan asal dari daerah lain biar bisa tetep jalan di hari libur lokal.

  • Penutupan Jalan yang Bikin Macet

Masih berkaitan dengan poin pertama, kadang-kadang upacara keagamaan seperti ngaben, bisa memakan jalan sepenuhnya dan berakibat penutupan jalan. Alhasil jadi macet di jalan alternatif. Tapi ya maklum lah ya namanya juga Indonesia, hampir di semua daerah di negara ini adalah hal lumrah yang namanya ‘makan’ jalan umum buat acara hajatan. Bedanya, kalo di Bali, bisa nutup sepanjang jalan, bukan cuma gang depan rumah aja. Hehe… Repot dah kalo lagi buru-buru naik taxi online, mana jalan di Bali pada kecil-kecil –..–“

  • Balinese are (too) slow and relaxed

Waktu gw di Lampung dulu, orang-orang Bali terkenal dengan keuletan dan kerajinannya, makanya banyak orang Bali yang sukses di Lampung. Ternyata Balinese yang tinggal di Bali jauh berbeda. Yah sama lah ya, orang Minang di perantauan dengan orang Minang yang belum pernah merantau juga kan beda. Mungkin ini efek tinggal di daerah yang terlalu nyaman, alhasil gaya hidup mereka terlalu nyantai alias gak ‘ngoyo’. Secara background gw Sumatra, jadi kerasa banget. Salah satu kelebihan di SumBar adalah orangnya cepat tanggap, contoh kecilnya aja kalo di tempat makan. Kalo di SumBar, mayoritas pelayanannya cepat tanggap. Tapi di Bali, sloooowww banget, gw keburu starving! Huhu… Ternyata bukan cuma gw aja yang merasakan ini, temen-temen bule gw juga merasakan hal yang sama! Di pekerjaan yang lainnya juga begitu, hal ini jadi berdampak ke beberapa industri di Bali yang akhirnya kalah bersaing dengan negara lain. Salah satu contohnya adalah usaha garmen. Pernah ada masa dimana industri garmen di Bali laris manis, namun sekarang investor-investor asing banyak yang sudah berpindah ke Filipina dan China, seperti yang pernah gw dengar dari podcast tentang seorang fashion designer yang pernah mencoba produksinya di Bali. Kebanyakan businessmen garment yang bertahan di Bali adalah new businessmen atau mereka yang tulus cinta kepada Bali dan memilih membantu kehidupan di Bali.

  • Misinterpretasi cueknya orang Bali

Salah satu yang bikin betah tinggal di Bali adalah karena orang-orangnya yang tidak ngurusin urusan orang atau pun memaksakan sesuatu ke orang lain. Namun, karena terlampau cuek, orang Bali bisa disalahartikan sebagai tidak ramah. Apalagi kalo kamu berasal dari daerah dengan tingkat basa-basi tinggi seperti Sumatra Barat dan Jawa. Gw pertama kali dateng agak shocked, kenapa ya ni orang-orang kok sensitif ke gw, apa ada yang salah dengan muka gw yang membuat mereka jadi bad mood. Ternyata memang orang Bali begitu, kurang berbasa-basi. Kalo ada temen-temen gw dari Sumatra yang datang berkunjung, mereka juga merasa begitu dan gw harus menjelaskan bahwa sebenernya mereka gak berniat seperti itu. Yah begitulah, di Sumatra kebanyakan basa-basi alhasil kepo. Di Bali terlalu cuek, jadi gak ramah. Haha, serba salah ya!

  • Susah Cari Parkiran

Jalanan di Bali itu kecil-kecil. Mungkin karena berasal dari desa-desa kecil dan gak menyangka kalo Bali bakal berkembang seperti ini, jadi infrastrukturnya masih skala desa. Menurut aku, tempat paling mudah di Bali untuk cari parkiran cuma di Denpasar yang merupakan kota tuanya Bali, karena Denpasar dari dulu sudah dirancang sebagai daerah pemerintahan (that’s why Denpasar is the most borrriiing part of Bali for me, but I lived there, hiks!). Contohnya jalan-jalan di Ubud dan Kuta yang sempit-sempit banget, toko-toko gak punya parkiran, satu parkiran untuk semua. Jadi kita harus jalan kaki ke tempat yang dituju. Walau pun enak juga sih jalan kaki di Bali, cuci mata liat toko-toko yang unik-unik, tapi kalo lagi buru-buru kan susyeeh jugaa…

  • Kurangnya variasi jenis pekerjaan

Hal ini gak berlaku bagi gw sih, karena di Bali sebenernya cocok dengan gw dari semua aspek, berhubung gw juga enterpreneur. Namun hal ini pastinya berbeda dengan kalian yang sudah terbiasa dengan dunia korporasi. Bidang yang paling berkembang di Bali adalah pariwisata, jadi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah yang berhubungan dengan pariwisata dan lifestyle. Katanya sih, kalo kamu bisa berbahasa Inggris, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Bali. Tapi ya gitu deh, otomatis range jenjang karir tidak seluas di kota-kota besar seperti Jakarta. Bali cocok banget bagi orang-orang yang bekerja remotely (digital nomad), tapi buat orang-orang yang kerjanya bergantung dengan lokasi dan korporasi, agak susah sih untuk pindah ke Bali.

  • Almost Everything is Imported

Bisa dibilang, ‘nyawa’ Bali terletak di bidang pariwisata. Bali bukan daerah penghasil sumber daya alam, hanya bergantung pada pariwisata. Walaupun masyarakatnya masih banyak yang bertani dan pergi ke sawah, tapi itu lebih kepada tradisi dan kebiasaan (kerjanya sih di sawah, padahal income-nya dari villa, hehe), namun hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, gak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata di Bali. Kebutuhan makanan (dari bawang, cabe dll) dikirim dari Jawa atau Lombok. Kain Bali pun bukan dari Bali, tapi dari Jawa. Tas rotan yang lagi ngehits banget dan disebut Tas Bali, sebenarnya dari Lombok dan dijual murah banget di Lombok, sekitar Rp 100.000, namun di Bali harganya udah naik starts from Rp 200.000 sampe Rp 700.000! Tapi tetep aja banyak yang beli! Haha.

  • Terlalu nyaman

Nah, lho! Kok bisa terlalu nyaman malah jadi gak enak?? Well, di satu sisi kita penting juga untuk menghadapi ketidaknyamanan kalo kita mau berkembang. Apalagi kalo kita disekeliling Balinese yang slow and relaxed. Akhirnya gw lebih sering bergaul dengan bulenya di Bali biar jiwa kompetitif gw tetep hidup. Terus, di Bali gak ada demo, gak ada spanduk-spanduk hate-speech atau provokasi. Jadi gak kerasa kalo negara kita ini politiknya lagi kacau balau. Di satu sisi bagus sih, bikin kepala dan hati tenang. Tapi buruk juga kalo kita jadi gak mawas diri bahwa hal negatif tersebut ada.

  • Second-Class Citizen

Kalo di postingan yang sebelumnya gw mensyukuri karena sering dapet diskon KTP, kali ini gw bahas kejadian yang bertentangan dimana WNI diperlakukan lebih rendah ketimbang WNA, dan mirisnya lagi perlakuan diskriminatif tersebut malah dilakukan oleh sesama WNI sendiri! Gak semua sih seperti ini, hanya sebagian kecil, tapi sangat menyebalkan kalo melihat ‘saudara’ sendiri malah mendewakan bule. Biasanya terjadi di tempat hiburan seperti cafe dan clubs. Mereka memprioritaskan tamu bule untuk memenuhi tempatnya agar terlihat lebih eksklusif, padahal kan harga makanan yang dibayar juga sama aja! Contohnya aja di sebuah club malam yang lagi hits banget saat ini, yaitu La Favela. Gw udah kecewa banget sama club satu ini, udah banyak review buruk di internet juga buat tempat satu ini yang mana hanya memberikan free entry ke tamu bule. Karena disangka bule (entah darimana sih gw ini bulenya… –..–“) awalnya gw disambut baik, tapi pas gw udah ngomong bahasa Indonesia, langsung disuruh memperlihatkan KTP dan no free entry, pake waiting list lagi, katanya lagi full. Begitunya ada tamu bule, langsung diperbolehkan masuk. WTF banget kan, no more waiting, langsung aja gw cabs! Langsung deh gw udah black list semua tempat yang masih satu group sama La Favela ini, termasuk yang di Canggu, La Brisa, udah ilfeel duluan gw untuk berkunjung kesana.

  • Bersaing Lapangan Pekerjaan dengan Bule

Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan lw untuk bersaing dengan bule dan pasarnya sendiri lebih memilih yang bule ketimbang orang lokal. Salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai guru yoga dan instruktur surfing, secara gitu gaji dua pekerjaan ini sangatlah menggiurkan. Bali kan terkenal banget sebagai mecca nya yoga setelah India, sehingga yoga di Bali diperlakukan sebagai komoditas untuk dijual ke turis-turis, baik turis domestik mau pun internasional. Sedih juga kalo liat turis domestik sendiri lebih prefer sama pengajar bule dan memandang sebelah mata kualitas bangsa sendiri. Well, pengalaman gw yoga di Bali, kalo dibilang masalah bahasa, Bahasa Inggris para pengajar yoga WNI yang gw temuin udah super duper banget! Malah yang pengajar bule dari negara-negara seperti Perancis dan Rusia lah yang kacau balau yang merusak konsentrasi gw. Pengajar Indonesia juga gak kalah kompeten kok! Gw pernah bayar mahal sama pengajar bule di salah satu tempat yoga yang tenar, namun kecewa banget karena ternyata cuma dapet fotokopian kertas berisi lima kalimat. Usut punya usut, banyak kejadian di Bali dimana para bule-bule ini bekerja tanpa KITAS atau pun visa kerja. Mereka orang-orang yang baru lulus teacher training (yang mana juga digalang tiap kali owner yoga studionya lagi butuh duit) sehingga penghasilan mereka itu gak dipotong dengan pajak. Sedangkan para guru yoga WNI harus bayar sertifikasi yang mahal dan pajak penghasilan. Sedihnya lagi, hal ini terjadi juga karena adanya korupsi di level pemerintahan. Awal-awal dulu gw juga tergiur dengan this so-called bule charm, namun setelah tahu hal ini (gw dapet bocoran dari tenaker lokal dan orang dekat para businessmen bule ini), gw lebih baik bayar mahal tapi masuk ke saku orang Indonesia sendiri daripada bayar lebih murah di tempat yang gak mematuhi peraturan negara gw.

***

However, I still love Bali and Bali is still the best for me! I will leave Bali soon, but I leave to come back. Bali, I will come back for sure!