My Startup Weekend Experience in Bali

I didn’t know about Startup Weekend until end of last year when someone who I just met for the first time–who then later become my friend–told me about it and volunteered to be my sponsor for the event.

I was in Bali for my fashion design course and as I am a hyperactive person, I always looked for interesting events in the area, I wanted to make the best of my time in Bali. There’s a cafe-coworking space in Sanur which regularly holds free events/ talks every week that I always tried to come when I could, even though it’s not close to where I stayed. In one event, at that time Aaron Mashano was the speaker, I met Jennifer. She’s a foreigner living in Bali and pursuing her fashion design career (but with different approach from mine) and she’s almost similar like me, she likes to come to events as well.

Then she told me that there was an event in the upcoming week which is very cool and a good learning and networking experience that she really liked. I didn’t really understand what it was at that time, and also hearing that it’s a paid event and in dollar rate, I thought I wouldnt be able to join. I was surprised that Jennifer just offered herself to be my sponsor, meaning she’d pay for the events and let me stay at her place during the event (because the event was held in Ubud, which is 30km from my place). It’s not cheap I think to give to someone you just met for the first time, I didnt know why she just trusted me, she only asked me to promise that I would give my dedication to the event. So I said yes and promised her that I would not take it for granted.

I didn’t know much info about what the event is about and how things would be run. All I knew is that you might pitch ideas of a startup and then we would be grouped into the chosen startup ideas. I didn’t know really clearly what to expect from the event, I only knew there would be winners in the end, and I like winning. So I already prepared an idea and a one-minute speech for a pitch.

Startup Weekend is actually a global event now run by Techstars with the help of a lot of Volunteers. It’s held in hundreds cities in the world annually, in Indonesia it’s held in several major cities like Jakarta, Bandung and Bali. But the one in Bali is the most different from other cities in Indonesia because the one in Bali has internationally mixed participants while in other cities are mostly Indonesians.

It’s a 2,5 day event started from Friday night until Saturday night. In 54 hours, we learned and experienced what it’s like to make a startup, from finding the ideas to brainstorming the execution to sell it. We’re given the opportunity to pitch our idea in such a short presentation time (so we had to make every second and sentence count) then sell it to market (the audience), recruit team, and make a product mockup. My idea and team was chosen as the 3rd winner. I was very happy that I also made a remarkable impression to the people there, every presentation I made always caught attention.

23622357_1720814677942481_4818529713690288732_n

It’s a very good event to network with people who might need your work in the future or if you’re looking for a side project to break from your routine. As for freelancers, networks is a vital part.

At that time I totally had no idea that it could be used for that, I was just there to compete and have fun. So I didnt understand why people were really putting their time, efforts and energy to the max for just a weekend activity. Now I understand that they were marketing their selves. Who knows you might find a potential client who’s looking for say a designer or programmer. At least the people who know about what you do could refer you someday to someone.

This year, I will join the event again or the ones next year in order to market myself. I will come back with different strategy and different mission. Last year I came to win and to prove my idea, but this year I’ll come to market myself as a graphic designer/ illustrator. If you’re a freelancer/ digital nomad, Bali is the right place for you to find and be found. Hence I’m preparing myself for it, that’s why I’ve been locking myself in my room since I arrived from SA to improve my skill, learning from the very basics. I’m not a good drawer, many people can draw much better than I do, but I’ve learned several skills by myself because I didnt have the fortune to pay for expensive schools. That being said, I’m a hardworker. I’ve had some plans what I’d do and make people remember me again, to tell that I’m not only a fashion designer but also I can do digital art work. Hopefully things will go as planned or better, I cant wait!! Watch Startup Weekend 2018’s video here and see more photos here.

 

Advertisements

Liburan di Gili Air: Island Life!!

IMG-20180704-WA0019

Salah satu bucket list gw untuk ke Gili Air sudah tercapai di akhir tahun 2017 kemarin. (Baca post ini untuk perjalanan menyeberang ke Gili Air dari Bali). Gili Air adalah salah satu dari Kepulauan Gili yang berada di Lombok Utara. Yang duluan naik daun adalah Gili Trawangan, namun Gili Trawangan terlalu ‘party’ untuk gw yang cupu ini.

Walau pun kurang terdengar di telinga wisatawan lokal, Gili Air dan Gili Meno juga gak kalah diserbu oleh wisatawan asing, justru bisa dibilang 90%nya turis asing, mungkin saat disana gw satu-satunya turis Indonesia karena apa yang ditawarkan oleh kepulauan Gili ini bukan tipikal liburannya orang Indonesia. Kenapa?? Karena #islandlife banget, you got not much to do but relaxing. Hiburan cuma cafe and bars. Saking sedikitnya wisatawan lokal, sampe-sampe orang lokal disana gak ada yang menyangka kalau gw orang Indonesia juga, mereka selalu menyangka gw bule dan mencoba berbicara bahasa Inggris. Walau pun udah pake Bahasa Indonesia, mereka masih juga sulit percaya.

IMG-20180704-WA0016

Kesamaan dari tiga kepulauan Gili tersebut adalah adanya larangan kendaraan bermotor beroperasi demi menjaga kebersihan udara di daerah wisata tersebut. Jadi jangan harap bisa menggunakan Uber atau Gojek disini, karena kendaraan publik yang ada cuma cidomo, yang seperti delman namun menggunakan ban besar seperti ban mobil, karena untuk di daerah berpasir, ban ini lebih stable dibandingkan ban delman yang ramping pada umumnya.

Walau pun demikian, biaya berlibur di Gili Air bisa dibilang mahal untuk dompet Indonesia. Harga hotel dan makanan di cafe-cafe termasuk mahal (kalo untuk bule sih tetep aja murah). Dan tidak seperti di Bali yang masih ada pilihan range harga, range harga di Gili Air sama rata, harga bule! Mungkin juga hal ini disebabkan karena–hampir sama seperti Bali–Kepulauan Gili ini bukan daerah penghasil apa-apa, jadi satu-satunya kekuatan mereka hanya di industri pariwisata. Bahkan bawang dan cabe pun mereka harus memesan dari Lombok. Jadi bisa dibayangkan ya gimana miskinnya beberapa tahun lalu daerah ini. Namun tiba-tiba booming kecipratan Gili Trawangan yang kecipratan juga dari Lombok yang mana kecipratan dari Bali.

Ada dua opsi untuk transportasi selama di Gili, yaitu dengan menggunakan cidomo atau menyewa sepeda harian yang harganya jauh berbeda. Dengan cidomo, ke satu tujuan aja bisa sampai Rp 50ribu yang padahal jaraknya kurang dari 2 km! Tentunya gw memilih merental sepeda aja (walau pun gw udah hampir lupa cara mengendarai sepeda, terakhir kali gw naik sepeda itu waktu masih tomboy, yaitu kelas 6 SD!), bukan karena mahalnya saja tapi karena gw gak tega liat kuda-kuda itu. Sepeda-sepeda yang warna-warni ini bisa dirental dengan harga Rp 30ribu sampai Rp 50rb per hari (tergantung situ bule atau lokal, hehe).

IMG-20180704-WA0021

Namun peminjaman sepeda adanya agak jauh dari dermaga, jadi harus berjalan dulu sambil menggeret-geret koper, kalo di jalanan aspal sih mudah, nah ini jalanannya masih pasir, mau gak mau harus digotong, hiks!

Saking banyaknya turis asing, gw gak berasa di Indonesia! Namun ternyata, berhubung saat gw datang itu lagi hebohnya status Gunung Agung, jadi wisatawan yang gw lihat saat itu katanya sih hanya 20% dari biasanya, hwaks!! kebayang dong gimana kaya rayanya ini supir-supir cidomo di hari normal! Sedangkan di saat sepi begitu aja, penghasilan mereka jauh melampaui para sarjana! Hiks hiks!

Lebih baik memilih akomodasi yang dekat dengan dermaga, karena kebayang dong gimana capeknya kalo harus naik sepeda bolak-balik 6 km per hari, bisa-bisa gw tinggal tulang! Apalagi kalau mau keluar di malam hari, walau pun cafe-cafe buka sampai malam, tapi tetep aja jalan baliknya jauh dan gelap!

IMG_20171231_134552_507

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Kadang-kadang sinyal internet pun timbul-tenggelam, padahal udah memakai Telkomsel. Cafe dan restaurant yang ada di Gili Air hampir sama dekorasinya seperti yang di Bali, vibe yang relaxed dengan lagu-lagu pantai yang gak peduli dengan Top 40. Gw memilih hotel tempat gw tinggal karena disana ada studio yoga tepat di depannya, namun jauh dari dermaga dan ‘pusat kota’. Harga kelas yoga di Gili Air relatif sama dengan di Bali namun semua pengajarnya (di semua studio. cuma ada 3 studio yoga di Gili Air saat itu) bule, orang lokal sana masih belum mengerti yoga kayaknya, hehe. Gua juga mendapatkan diskon KTP, sama seperti di Bali.

Gak perlu takut susah mencari uang cash karena banyak terdapat ATM berbagai bank kok disana. Tapi gak usah belanja-belanja deh mendingan, karena semua produk diimpor dari either Bali atau Jawa, bahkan harga kaus pantai yang di Bali hanya Rp 40an disana bisa mencapai Rp 200rb! Duhh….

Anyway, the diving makes up for it! Pertama kalinya gw nyobain diving, walau pun cuma kecipak-kecipuk aja di pinggiran (karena gw gak bisa berenang. Ok please, jangan diketawain. –..–“). Gw diving hampir setiap hari, lautnya bersih dan benar-benar biru. Kebayang gimana relaxednya duduk di tepi pantai sambil dengerin podcast/ baca buku. Saat kembali ke Bali, teman-teman di Bali semakin kaget kenapa kulit gw semakin gosong setiap harinya dibanding saat pertama kali pindah. Hahaha!

IMG-20180704-WA0018

 

Menyeberang ke Gili Air dari Bali

IMG-20180704-WA0014

Sayang banget kalo lagi liburan di Pulau Bali dalam waktu yang agak lama dan gak nyempetin ke Kepulauan Gili. Kepulauan Gili ini terbagi menjadi Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Gili Trawangan mungkin lebih familiar di telinga orang banyak, namun sebenernya Gili Air dan Meno sama bagusnya kok, malah justru Gili Trawangan itu udah terlalu ‘hype’ dan party banget, kebanyakan bule-bule muda in party mode. Tapi kalo emang party yang lo cari, lebih baik ke Gili Trawangan dan cobain boat partynya.

Berbeda dengan vibe di Gili T, Gili Air lebih chill dan relax, kalo orang Indonesia mungkin jarang banget yang tipe liburannya begini, jadi gak banyak wisatawan domestik yang berkunjung ke Gili Air. Gili Air dan Gili Meno lebih ke liburannya a la bule. Hehe.

Untuk mencapai kepulauan Gili dan Lombok dari Bali, kita hanya perlu menyebrang menggunakan kapal Fery dari pelabuhan Padangbay atau Benoa. Biaya perjalanannya untuk PP adalah sekitar Rp 400ribu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari kota ke pelabuhan. Sekedar tips, jangan tertipu dengan perusahaan-perusahaan yang kamu temukan dari internet karena berharap harga yang mereka pasang di internet lebih murah, padahal ternyata enggak. Yah, namanya juga Indonesia, semua bisa ditawar. Justru kalau datang langsung dan ketemu agen-agen malah lebih dapat murah, kalo bisa minta kontaknya orang tersebut buat perjalanan selanjut-selanjutnya. Alhasil waktu lagi mengantri mendaftar tiket, ternyata masing-masing orang membayar harga yang berbeda-beda. Maklum lah, Indonesia.

Setelah membayar, kita akan mendapatkan stiker tergantung tujuan kita, ke Gili T, Air, Meno atau Lombok. Stiker tersebut dipasang di baju kita sebagai tanda pengenal. Disarankan untuk ambil kapal keberangkatan pagi karena kalau siang, mereka akan ngaret banget, maklum lah negara kita Indonesia tercinta. Dan juga kapal baru akan berangkat kalo jumlah minimu penumpang sudah tercapai, keberangkatan lewat dari jam 5 sore akan sulit sehingga mau gak mau harus menyewa fastboat sendiri yang jauh lebih mahal.

Bisa dibilang 90% wisatawannya adalah bule, saat di kapal kita bener-bener berasa di negara lain (tapi kalo di Bali mah yang begini wajar). Dulu di tahun 2009 waktu gw ke Lombok dan Trawangan dari Bali, kapalnya sih masih jelek-jelek. Yang sekarang sudah nyaman dan bersih.

Perjalanan ditempuh dari Bali ke Gili Air sekitar 1,5 jam. Pertama naik di kapal sebelum berangkat, awak kapal mengumumkan safety guide dalam bahasa Inggris yang acak-kadut, namun karena doi mengakuinya, alhasil jadi lucu dan penumpang tertawa. Selama di perjalanan kita akan melihat pemandangan sekitar yang keren banget, membuat gw teringat kembali masa-masa gw masih kerja di WWF Indonesia.

Oia, kita juga bisa naik ke atas kapal dan bersantai disana, namun gak ada kursi, jadi lesehan dengan bule-bule yang sengaja berjemur di atas kapal. Pertama, boat akan berhenti di Gili Trawangan untuk menurunkan/ menaikkan penumpang, baru setelah itu ke Gili Air yang hanya 10 menit dari Gili Trawangan.

Saat sampai di Dermaga Teluk Nara di Gili Trawangan, gw sangat amazed melihat betapa jernihnya air disana! Di pinggir pantai sudah menanti para penumpang bule yang menunggu kapalnya. Kalo Gili Trawangan yang udah hype aja masih seindah ini, maka gw jadi gak sabaran gimana kerennya Gili Air nanti!

It was such an experience! Klik disini untuk baca pengalaman liburan gw selama di Gili Air. Dan perlu diingat, kalau ke kepulauan Gili lewat jalur udara dari Bali, akan memakan waktu dan biaya yang lebih lama dan mahal lagi karena ada biaya taksi bandara-pelabuhan dan public speedboat dengan kisaran harga Rp 75ribu s/d Rp 250ribu, tergantung jumlah penumpang.

IMG-20180704-WA0013

#BaliDiary: Yang Dikangenin dari Bali

Gak kerasa ternyata udah tiga bulan lebih meninggalkan Bali semenjak bulan Maret lalu. Gw stay di Bali selama kur-leb 6 bulan (baca pengalaman gw di Bali di sini), bisa dibilang waktu yang panjang tapi juga pendek. Pendek tapi juga panjang.

Enam bulan emang bukan waktu yang singkat, tapi di Bali selama 6 bulan itu terasa pendeek banget karena Bali adalah satu-satunya daerah yang “Cihud Banget!”, so gw sangat menikmati pengalaman gw di Bali. Namun walau pun hanya enam bulan, pengalaman yang gw dapet selama disana berasa panjaaang banget, entah karena gw anaknya yang pecicilan, jadi gw benar-benar memaksimalkan waktu gw disana buat ketemu orang-orang dan mendatangi tempat-tempat yang gw jarang bisa temuin.

Gw bukan tipe anak yang hobby party atau ngegehol gak jelas, atau orang-orang yang ke Bali cuma buat vlogging Youtube biar kayak selebgram. Keseharian gw di Bali, selain kursus gw saat itu, adalah mendatangi event-event keren gratisan seperti seminar, free trainings, coworking space, event seni, networking dengan lokal dan bule yang ngejalanin bisnis di sana atau sekedar turis tahunan, kelas yoga dan meditasi, ke pantai (hampir 3 x seminggu!) dan yaah… tipe aktivitas-aktivitas seperti ini lah ya… gw emang bukan tipikal turis lokal yang ke Bali, kebanyakan orang Indonesia yang ke Bali ngumpulnya di Seminyak dan musti partaayy hard gitu deh, kadang gw gak ngerti juga sih, kalo mau party mah ngapain di Bali yang gak ada apa-apanya kalo dibanding Jakarta. Bali menurut gw lebih cocok jadi tempat rileksasi ketimbang destinasi dugem atau ‘nakal-nakalan’, hihi.

Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantai dan keunikan tradisinya. Tapi menurut gw sih, Indonesia mah kemana-mana juga indah, kemana-mana juga unik. Pantai yang seindah di Bali juga banyak kok di kampung orang tua gw di Sumatra Barat. Terasiring sawah seperti di Tegalalang atau Canggu?? Bah… apalagi itu, bejibun! Pekerjaan gw dulu di WWF Indonesia membuat gw udah jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, terutama daerah-daerah marginal, so menurut gw kekayaan alam yang Bali punya, menangnya di advertising menteri pariwisata Indonesia jaman Soeharto dulu, hehe.

14470

Emang iya gw sering banget ke pantai waktu di Bali dulu. Tapi yang gw kangenin banget dari Bali itu bukan pantainya, bukan wisata alamnya, bukan cafe-cafe kerennya… melainkan vibe alias energinya. (Wah udah maen energi segala nih pembahasan gw!)

Vibe yang gw dapetin di Bali itu beda banget sama yang gw rasain di kota-kota lain di Indonesia yang udah gw singgahi. Vibe ini emang sesuatu yang gak berwujud fisik, tapi bisa dirasakan. Kan kita bisa ngerasain daerah mana yang bikin kita ngerasa nyaman, sangat nyaman, kurang nyaman atau hampir gila. Vibe suatu daerah diciptakan bukan hanya dari kondisi alam, cuaca, tapi juga orang-orang di dalamnya. Katanya sih, “People don’t choose Bali, it’s Bali that chooses people”. Well, mungkin emang benar, orang-orang yang ke Bali memang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, tapi punya kesamaan yang sulit diungkapkan namun bisa dirasakan. Kita bisa tau, “Ni orang Bali banget nih…” atau “Lo ini cocoknya tinggal di Bali.” Gw salah satu di antaranya, bisa dilihat lah ya dari tulisan-tulisan di blog gw ini, pola fikir gw, atau sekedar foto-foto gw di Instagram, susah diprediksi kalo gw punya darah Sumatra Barat alias Minang. Hehe…

Kalo orang bule yang ke Bali, well mereka punya alasan lain selain vibe, yaitu alasan ekonomi. Karena bagi mereka hidup di Bali itu murah banget dan mereka bisa dapat fasilitas kelas atas yang sulit mereka dapatkan di negaranya. Tapi kalo ada orang Indonesia yang ke Bali, yang gw temuin sih, jiwa-jiwanya ya mirip-mirip gw lah… So, kita bisa ngerasain ada kesamaan walau pun hanya kenal dari ngobrol 20 menit.

Berdasarkan pengamatan tidak profesional gw sih, orang Indonesia yang bukan asli Bali dan pindah ke Bali, bisa dikelompokkan menjadi dua tipe berdasarkan pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Kelompok pertama adalah karena alasan ekonomi dari daerah asalnya yang sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Mereka biasanya memiliki pekerjaan entry level atau pedagang kaki lima di Bali, kebanyakan berasal dari daerah-daerah seperti Sumba, NTT, Jawa, dll.

Kelompok kedua, memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi seperti tingkat universitas atau SMA/K atau punya pengalaman kerja di daerah sebelumnya. Biasanya memiliki minat dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan seni/ kreatifitas, seperti musisi, penulis, designer, tattoo artist, makeup artist, dll. Orang-orang dari kelompok yang kedua ini biasanya punya jiwa yang bebas atau rasa kecewa dengan daerah-daerah sebelumnya. Mereka-mereka yang punya kepribadian yang bentrok dengan norma-norma di daerah sebelumnya, yang gerah dengan apa yang dianggap normal di daerah tersebut namun bagi mereka itu gak normal. Biasanya sih gak terlalu ambisius dengan kesuksesan materi, tapi juga gak mau hidup kere-kere banget. Maksudnya, semangat kerja tapi kerjanya gak mau ngoyo banget sampe gak bisa dinikmatin hasilnya.

Salah banget orang-orang yang mikir kalo Bali itu ‘daerah nakal’ karena terkesan bebas. Seriously, kalo gw mah, ke Bali itu nyari tenang, bukan nyari nakal. Kalo mau nakal mah ngapain jauh-jauh ke Bali, dimana aja nakal bisa dicari di daerah paling religius sekali pun, tapi TENANG itu susah didapetin. Mereka yang masih berpikiran negative begitu kemungkinan adalah orang-orang yang:

  1. Belom pernah tinggal di Bali,
  2. Belom pernah nakal. (Well, persepsi ‘nakal’ tiap orang berbeda-beda.)

Kerasa banget bedanya setelah lama di Bali dan gw maen ke Jakarta, baru keluar bandara aja langsung energi negatif bermunculan. Spanduk-spanduk politis yang rasis, macetnya dan apalagi gw merasa awkward pas masuk pusat perbelanjaan seeing people trying to be someone they’re not even though it hurts. Their makeup was as thick as their heels, not to forget hair extension and faux designers stuffs. That is…. rare to find in Bali. Spanduk-spanduk yang hampir mirip juga gw temukan saat balik ke Sumatra (apalagi yang super konservatif), terlebih dengan embel-embel agama. Belum lagi dengan generalisasi kepercayaan dan pengaplikasiannya.

Gw gak bilang itu buruk, selama itu dan tinggal di daerah seperti itu membuat lo senang dan nyaman, then go for it, you do you. But if you feel like you found similarities with my views and you happen to read this, then you know what I mean and you’ll love Bali for sure. We all have places where our souls belong to, we just need to find where it is, a place that can feed us financially, emotionally, spiritually, and intellectually.

14469

 

Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!