Finecolour: Twin Marker Pemula Alternatif Copic

IMG_1554

Semenjak beli twin marker merk TouchFive di akhir tahun 2017 yang lalu (baca reviewnya disini–Red), gw sudah lebih sering menggambar menggunakan spidol dibanding alat pewarna yang lain, berhubung juga karena tuntuan pekerjaan (*duilee…).

Walopun suka seni, tapi kemampuan gw hanya a lil’ bit of everything, termasuk menggambar, jadi gw termasuk level pemula lah ya… Untuk orang-orang seperti gw, yang pemula atau keterbatasan dana, lebih baik mencoba dengan alat gambar yang gak mahal-mahal dulu, makanya kemaren gw memutuskan untuk beli twin marker merk TouchFive yang harga set 60 warnanya masih terjangkau sama gw, itu pun gw beli secondhand udh sama buku gambar Canson dengan hanya Rp 400.000.

IMG_1559

Namun akhirnya gw tergiur dengan merk Finecolor karena color rangenya yang lebih banyak, dan blending warnanya lebih smooth daripada merk TouchFive walau pun keduanya berasal dari negara yang sama alias Cina (yaiyalah ya, wong beda harga). Sama seperti TouchFive, Finecolor adalah alcohol-based marker yang lebih murah daripada Copic –>> twin marker kasta bangsawan, per piece nya harga Rp 45.000! Selain harga, perbedaanya dengan TouchFive adalah Finecolor bisa dibeli satuan sedangkan TouchFive dan TouchNew harus per set. Sepertinya, kalo diurut berdasarkan kasta, kasta tertinggi setelah Copic adalah Finecolour, disusul TouchNew dan terakhir TouchFive.

Twin marker Finecolour ada dua variant, yang casenya warna hitam dan warna putih. Yang warna hitam harganya lebih mahal, Rp 25.000, karena ada brush nib yang lebih empuk dan enak digunakan untuk hasil yang lebih smooth. Sedangkan yang warna putih, harganya Rp 15.000/ piece. Karena saking sukanya sama range warnanya, jadi gw udah mulai nyicil mengkoleksi Finecolour, namun baru mampu yang warna putih aja, itu pun rasanya udah tekor karena dibanding pembelian twin marker sebelumnya.

Kalau dari penampakan luar, design twin marker hampir-hampir mirip satu sama lain, dengan nama dan nomor warna tertera di ujung-ujung tutup spidol. Perbedaannya dengan TouchFive, kepala tutupnya berbeda bentuk pada masing-masing ujung untuk membantu memudahkan pengguna membedakan mana yang broad nib dan nib yang lancip. Tutup spidol bagian broad nib bentuknya kotak, sedangkan yang lancip berbentuk oval. Di bagian badan spidol juga diberikan tanda garis abu-abu untuk ujung yang lancip. Hal ini mungkin terkesan remeh-temeh, tapi membuktikan kualitas produsen yang memikirkan kenyamanan penggunanya dengan mendetail.

IMG_1568.JPG

Alasan utama kenapa awalnya gw membeli Finecolour adalah karena mencari tone kulit yang lebih natural. Variant warna kulit dari set TouchFive yang gw punya terlalu pink dan gradasi warna kurang lengkap.

IMG_1571

Perbedaan ukuran nib. Atas: TouchFive, tengah: Finecolour Rp 25.000, bawah: Finecolour Rp 15.000

IMG_1582

Perbandingan tone warna kulit merk TouchFive dan Finecolour. Tone kulit merk Finecolour gw kurang lengkap karena warna-warna yang gw mau ada yang sold-out.

Finecolour juga lebih mudah ditemukan di art supply shops di Bali (entah lah ya kalau di Padang), atau juga bisa beli satuan via online, tapi gak enaknya gak bisa dicoba dong ya, hiks!

Overall, untuk beginner’s level, twin marker ini recommended banget. Tapi kalo kalian emang hobi banget gambar dan menggambar hampir setiap hari, mendingan dicicil langsung merk Copic, karena kelebihan Copic bisa di refill tintanya, sedangkan merk lain harus beli lagi.

Happy playing with colors, guys!

Advertisements

Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia

IMG_0123

Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

  1. BukaBuku

Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

2. BukuKita

BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

3. Periplus

Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

4. Books and Beyond

Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

5. Book Depository

Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!