#CADAS2018 Day 1: Ke Australia dengan Singapore Airlines

It was the 14th of May 2018, my Mom and I were ready to fly to Adelaide, South Australia. YEAY! Tiket pesawat yang kami beli waktu itu sedang di harga promo, hanya Rp 6.500.000 untuk return tickets kelas ekonomi per orangnya dengan maskapai Singapore Airlines. Lagi hoki juga ini, karena kalo dibanding dengan AirA*ia harganya sama tapi gak dapet makan nekkk… giling aja penerbangan 8 jam gak makan-minum, hehe.

20180514_191103.jpg

my mom doesnt really like camera –-..–“

Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Singapore Airlines, maklum lah kere. Dan ternyata, pengalaman pertama gua ini membuat gw memberikan nilai A+ buat Singapore Airlines untuk servis dan fasilitasnya! Highly recommended untuk melakukan penerbangan panjang. Penerbangan kami menuju Adelaide melalui transit di Singapore. Penerbangan dari Jakarta ke Singapore selama 1,5 jam dan Singapore ke Adelaide 6 jam.

Pesawat yang digunakan adalah tipe Airbus yang gede itu, jadi susunan bangkunya bukan 3-3 melainkan 3-4-3. Enggak kayak budget airlines yang jarak antar bangkunya mepet sangat, Singapore Airline seperti Garuda Indonesia yang lebih luas dan manusiawi, hehe. Mungkin udah standarnya kalo maskapai nasional begitu ya.

Setiap bangkunya mendapatkan screen TV untuk entertainment yang berisi musik, podcasts, film, TV series dan game. Judul-judul film dan TV series yang tersedia juga keren-keren lho! Selama penerbangan gw menonton beberapa TV series dan film, salah satunya All the Money in the World yang terinspirasi dari kisah nyata. Di bawah layar, ada remote yang bisa digunakan juga sebagai stick untuk main games.

20180525_170455Yang paling gw suka selama penerbangan dengan Singapore Airlines adalah gw gak pernah kekurangan makanan, ibarat perbaikan gizi dalam pesawat, dan makanannya bisa dibilang enak untuk standar masakan pesawat, bukan sekedar makan. Makanannya selalu lengkap dengan dengan makanan utama, side dish, drinks, dan desert. Malah di perjalanan siang hari, kami juga diberikan ice cream seperti Con*llo gitu. Pramugari/a nya telaten putar-balik buat nawarin minuman, jadi gak akan kehausan. Kayaknya sih udah habis susu satu kotak untuk gw doank, haha. Maklum kak, perbaikan gizi. :p

Sebelum terbang kita diberikan handuk hangat buat bikin fresh, begitu juga setelah beberapa jam di pesawat. Beda banget dengan fligt attendant Indonesia (kecuali Garuda Indonesia–apalagi maskapai L*on Air) yang attitudenya ampun dah dan mukanya dipelintir tanpa senyum, flight attendant Singapore Airline sangat ramah-ramah, attentive dan sopan banget. Selalu mengucapkan ‘thank you’ dan ‘excuse me/ sorry’, berasa banget jiwa ‘service’ mereka memang ada, bukan sekedar jadi pekerjaan keren-kerenan.

Setelah total 7,5 jam perjalanan dan transit 1 jam, tanggal 15 May 2018 pagi kami sampai di Adelaide International Airport. Udara dingin langsung menusuk walau pun baju udah tebal, mata gw sampe berair saking dinginnya, sebenernya sih sekitar 13 C – 17 C, tapi gw kan manusia iklim tropis banget, sedangkan di Ubud aja bisa menggigil! Oia, ada yang menarik ketika baru sampai di airport, gw menemukan adanya daerah bernama Younghusband di Australia! Waduh, kira-kira apa ya yang kita bisa temukan di daerah itu?? I still prefer older guys though, no brondong, hihi!

20180515_060850.jpg

Advertisements

Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia

IMG_0123

Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

  1. BukaBuku

Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

2. BukuKita

BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

3. Periplus

Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

4. Books and Beyond

Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

5. Book Depository

Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!