Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.Β  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Advertisements

Co-working Spaces in Bali

Millennials have brought a new style in work habits in which we prefer to be able to still make money from anywhere we want. Bali as the holiday destination is also in the digital nomads’ travel lists where they want to travel yet still be productive.

Co-working space is basically you’re renting a desk instead of a whole room or building as a place where you go to be more productive even when you’re working freelance or on your own stuffs. Maybe this sounds a bit strange, why would you leave your job to later spend money just to go to an office? Well, for many people, we can be more productive and motivated when we’re surrounded with people with the same working ambience, while at home or a nice cafe, we tend to procrastinate.

To be honest, I didn’t know about this concept until August 2017 when I came to Bali. I was totally amazed by this idea, also the fact that most co-working spaces in Bali have communities and interesting programs that help you to network or improve your knowledge in other fields. Here are some co-working spaces that I’d been to during my stay in Bali from October 2017 to March 2018. These places are located in different parts of Bali, if you don’t know, one good thing and very unique about Bali is that every area has different vibe and different characteristics of people. Say, Ubud is more like the meditation and yoga center, Kuta is for party animals, Sanur is where the oldies go to, Canggu is creative and relaxed.

  1. Kumpul Coworking

Kumpul is located in Sanur and shares the building with a creative house Rumah Sanur, a cafe and coffee shop, then a shop. Equipped with a good internet connection and office equipments (printer, fotocopy, skype rooms, lockers, infocus etc), it has a well-balanced proportion of members between locals and foreigners. Faye Alund, the founder, is also an amazing woman who likes to share and help women and communities as I’ve attended some events for women entrepreneurs that she held. It collaborates with Google and became the place where Google’s Gapura Digital initiative took place. Various membership package starts from Rp 30.000,- (USD 2.2) for hourly drop in, one day visit Rp 200.000 (USD 15) , weekly and monthly packages for 20 and 40 hours, and unlimited monthly and weekly. There’s discount for Indonesians too. However, I didn’t register myself here because lately there have been less events and people, also I’m not a Sanur people.

*Photo source: Kumpul’s IG

2. The Night Market Cafe and Coworking

It’s located about 5-7 km from Seminyak, I don’t really know what the owner’s concept of the place is. The building is nice, the cafe is also good and cheap, but for a coworking place, the music is too loud and there’s no office equipments nor community like other coworkings. But it rents out meeting rooms also with good internet connection, with electricity socket almost in every table. There’s no border between the cafe and coworking, so you can be in the same room with lovey-dovey couples, families, etc while you’re working. There’s no membership fee either, you just need to buy the food. It doesn’t open 24 hrs, and I don’t recommend coming at after 16.00 as the cafe starts to get busy.

**Photo source: The Night Market’s Instagram

3. Genius Cafe and Coworking Sanur

28276860_10213665110653658_4367410962601371589_n

with my besties, Jennifer and Gaby on my last day.

Even though Sanur is not my fave in Bali, but I came to Sanur Beach almost every week for the free talks that the place holds every week. Every day it has regular free events, and my fave was the talks where people who are already experts in their own field can register themselves to host a talk, mostly business coach. During the talks, they give 50% discount on food and drinks for Indonesians and Genius members. Although it also doesn’t have office equipments, skype rooms and indoor rooms, it has a very nice community with very positive vibe. The staffs are very friendly, they remember our names. I met some good people here where I’ve learned a lot from, including Dee, the owner and founder of the place. She’s a Rusian woman with a love for Bali and dedication to women empowerment. When I visit Bali again, Genius cafe is in my must-visit list for sure, I miss the people already! Check out its price here.

4. Hubud

Hubud is the first co-working space in Bali, one of the two coworkings in Ubud. Hubud is for me one of the best, it is designed with an open space concept, surrounded by gardens, and equipped with amenities such as fast internet, a printer, a scanner, a copier, and a seminar room. Located near The Monkey Forest, next to Habitat Cafe. The people in Hubud are fun, also every week they hold regular events and most of them are free. Too bad I’m not an Ubud person, but would like to visit Hubud again in my next Bali visit.

Check out its price here.

5. Dojo

Dojo is the winner, it’s my fave coworking space, also because I’m more of a Canggu person. Well, you’ll know what I mean if you’ve been to Bali. Dojo has the coolest office place because it has a pool! Yess, you can work by the pool on bean bags and if you’re lucky, hot guys usually jump into the pool, what a distraction you wish you have in your office, right? It opens 24 hours and offers you a night worker membership for you who work like an owl (read: at night). The coolest thing about Dojo is the vibe that you get from the people there, every week they hold free talks for members and public, Dojo also provides events where start-ups can meet up and network. Some successful youtubers and vloggers did talks here, I was lucky to get knowledge from them. It also has regular photography meetings. Btw, in Canggu and Ubud, people are either barefoot or in flip-flops, and when you enter the coworking space, you leave your flip-flops outside and work barefoot. Also, there’s no AC in Dojo, unless in the meeting rooms.

Check out its gallery, price and events here.

Actually, I made a youtube video on this topic, I didn’t take pics, hence I’m using photos from their own IG accounts. But if you wanna see a tour of the coworking spaces, please kindly watch my vid πŸ˜€

Happy nomad life, everyone!

#BaliDiary: Gak Enaknya Tinggal di Bali

I LOVE BALI SO MUCH…

Satu-satunya daerah di Indonesia yang gw bikin gw jatuh cinta pertama kali adalah Bali. Sebelumnya gw udah pernah buat tulisan kenapa tinggal di Bali itu enak. Tapi gimana pun juga, semua hal ada plus dan minusnya. Tulisan kali ini membahas kurang enaknya tinggal di Bali, bagi gw hal-hal berikut ini hanya hal minor, gak sebanding dengan plus pointsnya. Anyway, hopefully ini bisa jadi informasi dan bahan pertimbangan buat kamu-kamu yang niat pindah ke Bali temporarily or permanently πŸ˜€ (**Baca tulisan-tulisan gw tentang tinggal di Bali di sini.)

  • Bali = Banyak Libur

Bali bisa jadi singkatan dari “Banyak Libur”. Hari libur di Bali bisa dua-tiga kali lipat libur nasional. Orang Bali yang masih menjaga tradisi memang hobby banget bikin perayaan dan upacara. Jadi di Bali berlaku kalender libur lokal. Eits, mungkin bagi beberapa, banyak yang malah seneng ya kalo banyak liburnya! Ya mungkin aja, kalo kamu bekerja sebagai PNS atau kantoran. Tapi bagi kamu yang menjalankan usaha sendiri, jadi repot deh kalo toko-toko pada tutup dan para pekerja kamu pada cuti libur, deadline jadi ngaret karena libur. Makanya sekarang banyak usaha di Bali yang memvariasi karyawannya dengan agama dan asal dari daerah lain biar bisa tetep jalan di hari libur lokal.

  • Penutupan Jalan yang Bikin Macet

Masih berkaitan dengan poin pertama, kadang-kadang upacara keagamaan seperti ngaben, bisa memakan jalan sepenuhnya dan berakibat penutupan jalan. Alhasil jadi macet di jalan alternatif. Tapi ya maklum lah ya namanya juga Indonesia, hampir di semua daerah di negara ini adalah hal lumrah yang namanya ‘makan’ jalan umum buat acara hajatan. Bedanya, kalo di Bali, bisa nutup sepanjang jalan, bukan cuma gang depan rumah aja. Hehe… Repot dah kalo lagi buru-buru naik taxi online, mana jalan di Bali pada kecil-kecil –..–“

  • Balinese are (too) slow and relaxed

Waktu gw di Lampung dulu, orang-orang Bali terkenal dengan keuletan dan kerajinannya, makanya banyak orang Bali yang sukses di Lampung. Ternyata Balinese yang tinggal di Bali jauh berbeda. Yah sama lah ya, orang Minang di perantauan dengan orang Minang yang belum pernah merantau juga kan beda. Mungkin ini efek tinggal di daerah yang terlalu nyaman, alhasil gaya hidup mereka terlalu nyantai alias gak ‘ngoyo’. Secara background gw Sumatra, jadi kerasa banget. Salah satu kelebihan di SumBar adalah orangnya cepat tanggap, contoh kecilnya aja kalo di tempat makan. Kalo di SumBar, mayoritas pelayanannya cepat tanggap. Tapi di Bali, sloooowww banget, gw keburu starving! Huhu… Ternyata bukan cuma gw aja yang merasakan ini, temen-temen bule gw juga merasakan hal yang sama! Di pekerjaan yang lainnya juga begitu, hal ini jadi berdampak ke beberapa industri di Bali yang akhirnya kalah bersaing dengan negara lain. Salah satu contohnya adalah usaha garmen. Pernah ada masa dimana industri garmen di Bali laris manis, namun sekarang investor-investor asing banyak yang sudah berpindah ke Filipina dan China, seperti yang pernah gw dengar dari podcast tentang seorang fashion designer yang pernah mencoba produksinya di Bali. Kebanyakan businessmen garment yang bertahan di Bali adalah new businessmen atau mereka yang tulus cinta kepada Bali dan memilih membantu kehidupan di Bali.

  • Misinterpretasi cueknya orang Bali

Salah satu yang bikin betah tinggal di Bali adalah karena orang-orangnya yang tidak ngurusin urusan orang atau pun memaksakan sesuatu ke orang lain. Namun, karena terlampau cuek, orang Bali bisa disalahartikan sebagai tidak ramah. Apalagi kalo kamu berasal dari daerah dengan tingkat basa-basi tinggi seperti Sumatra Barat dan Jawa. Gw pertama kali dateng agak shocked, kenapa ya ni orang-orang kok sensitif ke gw, apa ada yang salah dengan muka gw yang membuat mereka jadi bad mood. Ternyata memang orang Bali begitu, kurang berbasa-basi. Kalo ada temen-temen gw dari Sumatra yang datang berkunjung, mereka juga merasa begitu dan gw harus menjelaskan bahwa sebenernya mereka gak berniat seperti itu. Yah begitulah, di Sumatra kebanyakan basa-basi alhasil kepo. Di Bali terlalu cuek, jadi gak ramah. Haha, serba salah ya!

  • Susah Cari Parkiran

Jalanan di Bali itu kecil-kecil. Mungkin karena berasal dari desa-desa kecil dan gak menyangka kalo Bali bakal berkembang seperti ini, jadi infrastrukturnya masih skala desa. Menurut aku, tempat paling mudah di Bali untuk cari parkiran cuma di Denpasar yang merupakan kota tuanya Bali, karena Denpasar dari dulu sudah dirancang sebagai daerah pemerintahan (that’s why Denpasar is the most borrriiing part of Bali for me, but I lived there, hiks!). Contohnya jalan-jalan di Ubud dan Kuta yang sempit-sempit banget, toko-toko gak punya parkiran, satu parkiran untuk semua. Jadi kita harus jalan kaki ke tempat yang dituju. Walau pun enak juga sih jalan kaki di Bali, cuci mata liat toko-toko yang unik-unik, tapi kalo lagi buru-buru kan susyeeh jugaa…

  • Kurangnya variasi jenis pekerjaan

Hal ini gak berlaku bagi gw sih, karena di Bali sebenernya cocok dengan gw dari semua aspek, berhubung gw juga enterpreneur. Namun hal ini pastinya berbeda dengan kalian yang sudah terbiasa dengan dunia korporasi. Bidang yang paling berkembang di Bali adalah pariwisata, jadi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah yang berhubungan dengan pariwisata dan lifestyle. Katanya sih, kalo kamu bisa berbahasa Inggris, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Bali. Tapi ya gitu deh, otomatis range jenjang karir tidak seluas di kota-kota besar seperti Jakarta. Bali cocok banget bagi orang-orang yang bekerja remotely (digital nomad), tapi buat orang-orang yang kerjanya bergantung dengan lokasi dan korporasi, agak susah sih untuk pindah ke Bali.

  • Almost Everything is Imported

Bisa dibilang, ‘nyawa’ Bali terletak di bidang pariwisata. Bali bukan daerah penghasil sumber daya alam, hanya bergantung pada pariwisata. Walaupun masyarakatnya masih banyak yang bertani dan pergi ke sawah, tapi itu lebih kepada tradisi dan kebiasaan (kerjanya sih di sawah, padahal income-nya dari villa, hehe), namun hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, gak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata di Bali. Kebutuhan makanan (dari bawang, cabe dll) dikirim dari Jawa atau Lombok. Kain Bali pun bukan dari Bali, tapi dari Jawa. Tas rotan yang lagi ngehits banget dan disebut Tas Bali, sebenarnya dari Lombok dan dijual murah banget di Lombok, sekitar Rp 100.000, namun di Bali harganya udah naik starts from Rp 200.000 sampe Rp 700.000! Tapi tetep aja banyak yang beli! Haha.

  • Terlalu nyaman

Nah, lho! Kok bisa terlalu nyaman malah jadi gak enak?? Well, di satu sisi kita penting juga untuk menghadapi ketidaknyamanan kalo kita mau berkembang. Apalagi kalo kita disekeliling Balinese yang slow and relaxed. Akhirnya gw lebih sering bergaul dengan bulenya di Bali biar jiwa kompetitif gw tetep hidup. Terus, di Bali gak ada demo, gak ada spanduk-spanduk hate-speech atau provokasi. Jadi gak kerasa kalo negara kita ini politiknya lagi kacau balau. Di satu sisi bagus sih, bikin kepala dan hati tenang. Tapi buruk juga kalo kita jadi gak mawas diri bahwa hal negatif tersebut ada.

  • Second-Class Citizen

Kalo di postingan yang sebelumnya gw mensyukuri karena sering dapet diskon KTP, kali ini gw bahas kejadian yang bertentangan dimana WNI diperlakukan lebih rendah ketimbang WNA, dan mirisnya lagi perlakuan diskriminatif tersebut malah dilakukan oleh sesama WNI sendiri! Gak semua sih seperti ini, hanya sebagian kecil, tapi sangat menyebalkan kalo melihat ‘saudara’ sendiri malah mendewakan bule. Biasanya terjadi di tempat hiburan seperti cafe dan clubs. Mereka memprioritaskan tamu bule untuk memenuhi tempatnya agar terlihat lebih eksklusif, padahal kan harga makanan yang dibayar juga sama aja! Contohnya aja di sebuah club malam yang lagi hits banget saat ini, yaitu La Favela. Gw udah kecewa banget sama club satu ini, udah banyak review buruk di internet juga buat tempat satu ini yang mana hanya memberikan free entry ke tamu bule. Karena disangka bule (entah darimana sih gw ini bulenya… –..–“) awalnya gw disambut baik, tapi pas gw udah ngomong bahasa Indonesia, langsung disuruh memperlihatkan KTP dan no free entry, pake waiting list lagi, katanya lagi full. Begitunya ada tamu bule, langsung diperbolehkan masuk. WTF banget kan, no more waiting, langsung aja gw cabs! Langsung deh gw udah black list semua tempat yang masih satu group sama La Favela ini, termasuk yang di Canggu, La Brisa, udah ilfeel duluan gw untuk berkunjung kesana.

  • Bersaing Lapangan Pekerjaan dengan Bule

Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan lw untuk bersaing dengan bule dan pasarnya sendiri lebih memilih yang bule ketimbang orang lokal. Salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai guru yoga dan instruktur surfing, secara gitu gaji dua pekerjaan ini sangatlah menggiurkan. Bali kan terkenal banget sebagai mecca nya yoga setelah India, sehingga yoga di Bali diperlakukan sebagai komoditas untuk dijual ke turis-turis, baik turis domestik mau pun internasional. Sedih juga kalo liat turis domestik sendiri lebih prefer sama pengajar bule dan memandang sebelah mata kualitas bangsa sendiri. Well, pengalaman gw yoga di Bali, kalo dibilang masalah bahasa, Bahasa Inggris para pengajar yoga WNI yang gw temuin udah super duper banget! Malah yang pengajar bule dari negara-negara seperti Perancis dan Rusia lah yang kacau balau yang merusak konsentrasi gw. Pengajar Indonesia juga gak kalah kompeten kok! Gw pernah bayar mahal sama pengajar bule di salah satu tempat yoga yang tenar, namun kecewa banget karena ternyata cuma dapet fotokopian kertas berisi lima kalimat. Usut punya usut, banyak kejadian di Bali dimana para bule-bule ini bekerja tanpa KITAS atau pun visa kerja. Mereka orang-orang yang baru lulus teacher training (yang mana juga digalang tiap kali owner yoga studionya lagi butuh duit) sehingga penghasilan mereka itu gak dipotong dengan pajak. Sedangkan para guru yoga WNI harus bayar sertifikasi yang mahal dan pajak penghasilan. Sedihnya lagi, hal ini terjadi juga karena adanya korupsi di level pemerintahan. Awal-awal dulu gw juga tergiur dengan this so-called bule charm, namun setelah tahu hal ini (gw dapet bocoran dari tenaker lokal dan orang dekat para businessmen bule ini), gw lebih baik bayar mahal tapi masuk ke saku orang Indonesia sendiri daripada bayar lebih murah di tempat yang gak mematuhi peraturan negara gw.

(Baca tulisan gw tentang Tipe-Tipe Bule di Bali disini.)

***

However, I still love Bali and Bali is still the best for me! I will leave Bali soon, but I leave to come back. Bali, I will come back for sure!

#BaliDiary: Enaknya Tinggal di Bali

Setelah 27 tahun hidup di dunia, hal yang gw pahami tentang diri gw adalah bahwa salah satu bentuk kebutuhan gw untuk saat ini adalah merantau, millenial banget gak sih… hehe, ya gapapa toh, mumpung masih bisa! It’s when you break out of your comfort zone that you really find yourself. Dan gw percaya bahwa everyone in life is looking for a place to call home, gw gak percaya bahwa hidup adalah hanya menerima pilihan yang dipilihkan orang lain buat lw, meaning that bukan berarti the place you’re born in atau pun your parents’ origin bisa dipaksakan menjadi identitas seseorang. That’s why I’m moving places to places to eventually decide which one is really my home.

Gw udah pindah-pindah tempat beberapa kali dalam hidup gw, tapi so far, mostly di Pulau Sumatra. Destinasi perantauan impian gw dari dulu adalah Bali, gw penasaran banget sama Bali, saat ini dan sejauh ini, menurut gw satu-satunya daerah di Indonesia yang ‘Cihud Banget!’ adalah Pulau Dewata. Dan akhirnya ketika gw memilih untuk melanjutkan studi untuk karir impian gw, gw memilih melakukannya di Bali ketimbang di daerah lain seperti Jakarta atau Surabaya etc. Karena juga, dari masalah kualitas seimbang dengan harga yang jauh sangat lebih murah. Sampai dengan tulisan ini dibuat, gw udah tinggal selama 1,5 bulan di Bali. Satu bulan sebelum pindah, gw sempat 2 minggu liburan di Bali–terakhir kali gw ke Bali di tahun 2009–yang membuat gw makin mantap untuk memilih Bali.

Namanya juga hidup, kenyataan seringnya gak seindah mimpi kita dulu. Pasti lah ada juga yang bikin gw sebel tentang Bali, pasti lah ada juga bad days (**Baca tulisan-tulisan gw tentang tinggal di Bali di sini). However, buat gw, lebih baik having bad days in Bali than having bad days anywhere else. Yang gw bakal bahas sekarang yang enak-enaknya aja dulu, dari sudut pandang gw sebagai sesama orang Indonesia juga.

  1. Banyak hiburan yang MUDAH DIJANGKAU

Terutama wisata alam, alias banyak banget pantai-pantai yang indahnya pake banget tapi lokasinya juga gak jauh-jauh amet dan tiap daerahnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nuance yang lo dapetin dari pantai di Kuta berbeda dengan yang di Canggu, beda lagi dengan yang di Uluwatu, Sanur, dll. Dan yang paling penting adalah MUDAH DIJANGKAU, alias gak jauh-jauh amet. Jalan 30 menit juga udah ketemu pantai, pantainya bagus lagi! Di kota-kota yang pernah gw tinggali sebelumnya, hiburan terdekat cuma mall atau pusat perbelanjaan, sedangkan gw bukan anak mall. Di Pekanbaru, untuk nemuin wisata alam aja harus ditempuh dalam 6 jam dulu deh ke Sumatra Barat, itu pun baru ketemu air terjun Lembah Harau, apalagi kalo mau ke pantai, beuh… makin panjang lagi perjalanan! Gw suka wisata alam, tapi gw juga gak suka kalo harus terlalu banyak effort dan preparation untuk menjangkaunya. Emang sih jumlah transportasi publik di Bali sangat minim, tapi untungnya sekarang udah ada taxi dan ojek online dengan tarif yang murah, sangat membantu buat orang yang gak bisa mengendarai motor seperti gw ini. Makasih banget, Bang Nadim!

2. Gak banyak mall tapi fasilitas lumayan komplit

I’m not a big city girl, not a fan of big malls kayak yang di Jakarta. Tapi kalo tinggal di daerah yang semuanya serba sulit di dapat atau pola pikir orang-orangnya masih tertutup, gw juga gak nyaman. Di Bali cuma ada sekitar 3 pusat perbelanjaan yang bisa disebut mall, itu pun kecil-kecil kalo untuk ukuran mall. Namun fasilitas lumayan lengkap kok!

3. No macet

Dibilang gak ada sama sekali sih ya gak juga, ada juga macet di daerah-daerah tertentu dan kadar macetnya masih level tempe, cuma dikit dan lw masih bisa bergerak, bukan berarti stuck total berjam-jam seperti Jakarta. Sehingga, hidup lw masih bisa impulsive, kalo tiba-tiba mau ke suatu tempat, masih bisa dilakukan. Gak kayak di Jakarta yang hidup lw tiap harinya hanya bisa memiliki 1-2 rencana. Dari lokasi gw tinggal ke Pantai Canggu jaraknya 14 km dan hanya memakan waktu 30-45 menit.

4. Balinese’s high tolerance to differences

Aset Pulau Bali bukan hanya kekayaan keindahan alamnya, tapi juga manusia-manusianya! Suatu daerah gak akan bisa mengembangkan potensi pariwisatanya kalo belum mampu menghargai perbedaan. Mau dibangun fasilitas infrastruktur semewah apa pun juga, kalo orang-orangnya gak bisa memberikan rasa nyaman, tentunya gak akan maju. Nah ini dia kerennya orang Bali! Mereka memang terbuka dengan perbedaan, tapi bukan berarti mereka kehilangan jati diri mereka. Adat mereka tuh masih kental banget lho, tapi mereka gak pernah memaksakan itu ke orang lain. Jadi turis-turis yang datang pun merasa nyaman namun tetap dapat melihat sesuatu yang eksotis.

Sudut pandang mereka tentang aspek-aspek kehidupan pun menurut gw unik. Bagaimana mereka bisa dibilang lebih spiritual ketimbang religius, toh yang mengaku religius pun belum tentu spiritual. Makanya gw lebih sering ngomong sama orang Bali ketimbang sama bule-bule disini, karena gw udah bosen ngomong sama bule, toh gw bisa ketemu bule lebih sering, tapi jarang-jarang gw bisa ketemu sama orang Bali.

5. Biaya hidup masih terbilang standar dan ada pilihan

Well, masalah harga, kemampuan seseorang berbeda-beda. Yang bagi gw standar, bagi orang lain mungkin murah atau mahal. Semua ragam harga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan ada di Bali, dari yang murah sampe yang mahal. Kalo dibandingkan dengan daerah kecil lainnya, pilihannya termasuk lebih banyak. Harga kamar kosan tergantung lokasi, kamar kosongan seharga Rp 500.000 – Rp 800.000 masih banyak kok ditemukan, untuk kamar kosan lengkap (AC, water heater, bed, cupboard, wifi, fridge, mini kitchen, TV) range harga dari Rp 1.800.000 – Rp 4.000.000 (tergantung lokasi). Untuk transportasi, karena Bali kecil, dari satu tempat ke tempat lainnya palingan cuma berapa Km, jadi gak boros ongkos ojek online. Makanan pun pilihannya beragam, dari masakan asli Bali, provinsi lain dan negara-negara lain ada. Mau harga dari nasi-lauk (nasi kucing) yang harga Rp 5.000 sampe air putih yang harganya Rp 100.000 juga ada. Oh ya, berhubung gw udah jarang makan nasi putih, jenis makanan yang gw konsumsi (biasanya untuk sarapan), seperti quinoa, couscous, almond milk, chia seeds dan kawan-kawan mereka yang lain, lebih mudah didapatkan, merk dan harga pun variatif.

6. KTP = Kartu Diskon

Yang baru gw temuin di Bali selama tinggal di Indonesia adalah fungsi lain KTP Indonesia. Biasanya KTP cuma digunain untuk administrasi pengurusan apaaa gitu, tapi di Bali, dengan menunjukkan KTP Indonesia bisa mendapatkan diskon di berbagai macam events dan tempat hiburan seperti cafe, tempat gym, coworking space, amusement park, penginapan, bahkan yoga studio! Diskonnya juga gak tanggung-tanggung, kadang sampe 50%! Di beberapa tempat, kalo lo memiliki KTP Indonesia dan berasal asli dari Bali, diskonnya bakal ditambah! Anehnya, tempat-tempat yang memberikan diskon KTP ini adalah bisnis-bisnis yang dikelola oleh bule. Gw pernah berbincang dengan salah seorang bule pemilik yoga studio, dia bilang kalo alasan dia memberikan diskon adalah karena dia tau bagi orang Indonesia, harga Rp 130.000 per visit itu mahal banget sedangkan bagi standar bule hidup di Bali adalah murah pake banget. Jadi gak bisa disamaratakan antara orang Indonesia dan bule. Sedangkan tempat-tempat yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri malah lebih sering menyamaratakan harga, malah kadang lebih mahal, padahal mereka sebagai orang Indonesia seharusnya lebih tau lho susahnya orang kita cari duit! Hiks!

7. Banyak museum

Well, gak semua orang sih bakal suka museum, tapi gw suka dan gw mendatangi suatu tempat berulang-ulang. Banyak seniman internasional yang memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tuanya di Bali lalu membuatkan museum untuk karya-karyanya.

8. You’ll be surprised with the persons you run into

Banyak orang yang merasa pencapaian karirnya sudah cukup dan merasa ingin tinggal nyaman di Bali, atau orang-orang yang berprofesi sebagai digital nomad. Misalnya ngajak ngobrol orang di kafe, eehh ternyata si kakek penulis buku apa gitu. Atau malah ketemu youtubers yang ternyata kondang banget di suatu negara. Atau orang-orang yang sangat ahli di bidang-bidang tertentu, orang-orang yang kerja di Google, Microsoft atau retail fashion besar, etc. Orang-orang ini juga gak pelit ilmu, kadang mereka suka berbagi ilmu gratis di tempat-tempat seperti cafe dan coworking space. Gw belajar tentang basic web design, online marketing sampe cara membuat channel Podcast dari orang-orang yang gw temui disini. Paling berkesan adalah ketika gw ketemu Mbak Niluh Djelantik di Ubud Writers and Readers Festival 2017 kemaren dan youtuber fitness cewek Indonesia Yulia Baltschun karena gw ngefans giling sama dua perempuan Indonesia ini! Pernah gw baca di buku seorang travel writer, Becky Wicks, bertuliskan, “People don’t choose Bali. It’s Bali that chooses people.”

9. No radicalism

Pasti tau donk situasi politik di Indonesia lagi panas-panasnya banget, liat TV dan timeline dunia maya malah bikin esmosi, apalagi semakin mendekati masa akhir jabatan presiden Joko Widodo. Di daerah-daerah yang gw singgahi belakangan ini, sering gw melihat spanduk-spanduk provokatif di ruang publik yang sangat bersifat politis, beberapa pernah gw liat membawa-bawa agama. Yang paling parah yang gw inget adalah waktu gw maen ke Jakarta di bulan April 2017, ada yang berdemo dengan tulisan “Kami mau ulangi lagi Mei ’98 demi keadilan!” Astagaa… kurang cukup ya sejarah massacre di Indonesia? Hal-hal seperti ini membuat gw merasa gak nyaman. Kebayang deh gw gimana stressfulnya mereka yang hidup di Jakarta yang rajin kebagian demo. Nah yang begitu-begitu tuh gak ada di Bali, setidaknya sejauh ini, dari hasil ngobrol sama Balinese, gw belum menemukan radikalisme apa pun mendapat tempat di Pulau Bali. Di satu sisi, bagus sih bikin awet muda kalo hidup tenang dan menjauhi fake news. Tapi di satu sisi juga, just because you ignore it, it doesn’t mean it ain’t happen.

10. Kesadaran Go-Green lebih tinggi

Salah satu dampak positif dari wisatawan yang datang adalah mereka umumnya orang-orang yang sangat concern kepada lingkungan. Ada banyak organisasi-organisasi non-profit untuk menjaga lingkungan yang didirikan/ dikelola olah percampuran orang bule dengan lokal, seperti green shools. Bule-bule ini menularkan konsep responsible business yang menimbulkan awareness effect walau dalam hal kecil seperti no plastic bags use di toko-toko. Jangan heran kalo setelah belanja takeaway food atau produk lainnya kalian tidak diberikan plastik bungkus, kalau pun ada, terbuat dari kertas daur ulang. Concern tentang Go-Green ini lebih tinggi jika di daerah-daerah wisata seperti Ubud, kalo di Denpasar yang paling minim turis, penggunaan plastik di toko-toko masih tinggi. Pernah gw makan di salah satu cafe di Ubud, ada bule yang complain kenapa itu cafe masih menggunakan plastik. Complaint-nya serius lho, bukan cuma sepatah-dua patah kata. Saking niatnya ni bule complaint, ternyata dia kontak temen-temennya dongs buat dateng ke itu cafe. Terus rame-rame mereka ceramahin si manager cafe yang langsung minta maaf ke bule-bule itu, malah dibilang, “Jangan minta maaf ke kami, minta maaf ke alam. Minta maaf ke Bali.” Abisnya ya mereka ngancem, kalo sampe ini cafe masih menggunakan plastik, mereka gak mau datang ke cafe itu lagi dan bakalan bilang ke turis-turis yang lain berita yang sama. Nah lho!

11. Balinese massage is easy to find

Gw rutin melakukan massage sekali dalam 2 minggu dari gw masih SMA sampai sekarang. Ada nenek temen gw yang waktu itu kulit badannya (bukan cuma mukanya doank) yang masih terlihat begitu muda dari umurnya, dia bilang salah satu rahasianya adalah rutin massage dari umurnya masih 20 tahunan. Ternyata gw udah ikutan melakukannya juga selama bertahun-tahun, haha. Namun waktu pindah ke daerah Sumatra Barat, susah banget cari tempat pijat yang maknyoss, biasanya harus kenal sama orang yang bisa buat dipanggil ke rumah. Mungkin karena di daerah itu image massage masih negatif dan walau pun sesama perempuan, masih banyak yang gak nyaman untuk buka baju almost naked. Tapi di Bali, spa dan massage tiap sudut ada! Eits, jangan langsung negative thinking ya sama semua tempat massage, karena masih banyak kok spa and massage yang bener-bener pure relaksasi, without ‘happy ending’ buat kaum pria.

Balinese massage itu asooy banget deh. Di Sumatra, gw harus coba-coba dan cari-cari tempat langganan yang pijitannya endang. Sedangkan di Bali, gw asal nemplok aja kayak cicak jatoh dari atep, tetep aja sampai saat ini belom ada yang mengecewakan.

12. Surga bagi yang berkulit coklat

Umumnya orang Indonesia sangat memuja-muja kulit putih. Sedangkan di Bali, jumlah produk tanning lebih banyak dibandingkan produk memutihkan kulit. Di Bali, lebih banyak orang-orang berlomba mencoklatkan kulit ketimbang memutihkan kulit. Gw yang memang sudah dari dulunya suka banget sama kulit coklat juga ikutan mencoklatkan lagi kulit gw yang sudah coklat ini sampai mencapai coklat maksimal. Beuuh, kalo kulit lw coklat, rambut lo item, udah deh… melenggok-lenggok jalan lo disini bak Miss Universe. Tingkat kepedean dan kesok-cantikan kalian disini akan meningkat karena disinilah kita benar-benar dianggap eksotis! Yeahh! Hidup brown skin!

(**Baca tulisan gw tentang Tipe-Tipe Bule di Bali disini.)