Moving to West Sumatra for Beginners 3 — In the Name of Gengsi

Gw ingat dulu pernah nonton wawancara band Nidji waktu mereka lagi booming. Giring si vokalis yang mengaku mempunyai darah keturunan Minang mengaku kalo pengalaman tampil di Sumbar adalah yang paling memiliki tantangan untuk menghidupkan suasana. Inget dong gimana enerjiknya si Giring ini kalo di panggung. Katanya, dia hampir mati kutu karena udah satu jam jejingkrakan di atas panggung tapi penonton tidak ada yang bergoyang, anggota band saling berpandangan satu sama lain bertanya apa ada yang salah. Setelah sekian lama akhirnya penonton ikut bergoyang sedikit, itupun hanya kepala doang, ya lumayan lah. Di wawancara tersebut Giring bilang yang kurang lebih seperti ini, “Tampil di Padang ini challenging banget karena orang Minang gengsinya tinggi untuk ikutan bergoyang, kita jadi sempet gak pede, apa mereka gak suka penampilan kita. Padahal penonton rame dan makin lama makin rame.”

Seorang kenalan gw yang seorang DJ dan sudah beberapa kali tampil atau hanya sekedar main di klub malam di kota Padang bilang kalo ‘orang Padang panasnya lama, dance floor lama ramenya’.

Hhhmm… gw belum pernah ke night club atau pun konser di Sumbar sih, jadi belum pernah menyaksikan sendiri gimana situasi pergoyangan. Palingan kalo di kondangan ada music-musik gitu. Emang jarang juga sih yang naik ke panggung dan joget-joget. Tapi bukannya di tempat lain juga begitu?

Yang gw pernah cuma nonton acara stand-up comedy Raditya Dika dan beberapa talkshow waktu kuliah dulu. Audience yang hadir banyak dipuji para pembicara lewat twitter, apalagi Raditya Dika sampai beberapa kali twit hanya untuk memuji gimana asiknya audience di Sumbar. Well, mungkin untuk perjogetan, it’s not their cups of tea, hehe.

Selain masalah perjogetan, gengsi di Sumbar yang gw liat adalah tentang tempat perhelatan sebuah acara, biasanya pernikahan. Meskipun ada gedung-gedung hall atau GSG yang cukup memadai, kebanyakan masih memilih untuk melakukan pesta di rumah. Di Lampung dan Pekanbaru, untuk menunjukkan gengsi dan karena gak mau repot, pesta pernikahan umumnya di GSG atau hotel. Di Sumbar yang menurut gw menarik adalah kebalikannya. Keluarga yang sebenernya mampu (dan kadang malah sangat mampu) untuk bayar sewa gedung lebih memilih pesta di rumah dengan alasan “nanti kita disangka gak punya rumah” atau “takut disangka gak mampu bangun rumah sendiri, nanti disangka orang selama ini kita numpang”. Menarik sih alasannya, karena berbeda, tapi gengsi tersebut juga berpotensi menyebabkan kemacetan dan kerugian transportasi buat public yang lain. Keluarga besar gw sendiri sering gw kritik karena beberapa kali egois menutup jalan raya yang ada di depan rumah, mana pake back-up polisi segala, “Gengsi yang lebih penting buat dipelihara itu gengsi buat gak ngerepotin orang lain, bukan gengsi pamer nama besar keluarga.” Alhamdulillah berujung kena semprot.

Selain masalah tempat, gengsi juga ditunjukkan lewat durasi pesta. Semakin lama pestanya, apalagi sampai berhari-hari, semakin bergengsi.

Masalah perantauan juga kenal gengsi, banyak yang pantang pulang kampung kalo belum berhasil karena takut dihina, padahal yang ngehina juga gak mau ngasih bantuan. Rumah keluarga menjadi simbol gengsi. Orang-orang yang sudah lama merantau banyak yang membangun rumah keluarga di kampung walaupun mereka sendiri gak tinggal di kampungnya. Berbeda benar dengan kebanyakan teman-teman gw yang chinese yang memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana, perabotannya juga banyak yang vintage, tapi buat mereka yang lebih penting jumlah uang di tabungan dan jalan ke luar negeri. Teman saya yang chinese pernah bilang, “Gak masalah gimana tempat lw tinggal, yang penting sejauh mana lw udah pernah melangkah.”

Orang-orang di Sumbar pun sering mengakui kalo mereka emang gengsi tinggi, tapi yang membuat gw surprised adalah bahwa mereka mengaitkan gengsi dengan masalah perut. Sering banget gw dikasih tau, “Semiskin-miskinnya orang Minang, mana mau makan selain nasi.” Wah gw baru tau kalo nasi adalah gengsi, padahal gak ada yang bakal tau juga sumber karbohidrat lw darimana. Gak cuma sampe situ, mereka kadang juga sampe spesifik ke merk dan harga berasnya segala. Wow, rasanya gw telah bertemu dengan Nasi Fans Club terbesar di dunia.


Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

 

Advertisements

Moving to West Sumatra for Beginners – Part 2

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

photo

  1. Indirectness

Seringnya di media dan ketika lw gede di rantau, image tentang orang Minang yang disebarluaskan adalah bahwa mereka terlalu straightforward dan cenderung gak peduli perasaan orang lain. Setelah pindah dan tinggal di Sumbar, menurut gw image tersebut exaggerated. Menurut gw, mereka—walopun suka kepo—tapi menjunjung tinggi indirectness alias basa-basi, yang mana artinya kalo lw terlalu to-the-point, bisa terkesan kurang sopan. Sebenernya ini hampir mirip dengan suku Jawa yang juga indirect, cuma beda bahasa aja. Jadi kalo kalian udah terbiasa dengan basa-basi adat Jawa, kurang lebih mirip dan selain masalah bahasa, you’ll do well.

Nah yang susah adalah buat orang-orang yang besar tanpa kenal adat seperti gw. Bukannya berarti gw gak sopan ya, tapi perbedaan makna ‘sopan’ buat gw dan buat mereka. Susah buat gw membaca kode-kode yang mereka coba sampaikan. Karena, kalo ditawari sesuatu, mereka jawabnya langsung enggak, padahal mau. Tapi kalo gak jadi dikasih, besoknya disindir-sindir secara indirect. Nyindirnya pun, karena gak to the point, palingan gw baru sadar 1 bulan kemudian, itu pun karena ada yang ngasih tau. Jadi, sekarang gw pake rumus sendiri bahwa jawaban mereka yang sebenarnya adalah jawaban setelah ditanya tiga kali. Buat antisipasi dari merugikan diri gw dan mereka, jadi gw berterus terang aja menanyakan maksud yang sebenernya karena gw gak pandai kode-kodean, so if you don’t tell me directly what you really want, you will not get it from me. Dan gw juga meminta maaf sebelumnya karena gw kemungkinan besar gak ngerti maksud mereka apa, jadi kalo nanti gw salah melakukan, langsung dikoreksi aja.

  1. The Art of Mencemeeh

Yang kita tau, yang paling disukai orang Minang adalah sambal. Tapi bagi gw yang paling disukai orang Minang adalah sambal dan mencemeeh, alias mencemooh, kadang niatnya sih nge-jokes, kadang entah lah. Bahkan kata mencemooh itu sendiri dicemooh menjadi mencemeeh. Untuk menunjukkan kekaguman dan kasih sayang pun mereka seringnya dengan mencemeeh. Maksudnya mungkin pingin mendekatkan diri. Contoh yang paling gampangnya adalah how they do catcalling here. Gw anti banget sama catcalling walopun menggunakan adjective yang baik-baik sekali pun. Di Jawa, catcalling yang sering adalah “neng geulis” atau “cah ayu” yang artinya “gadis cantik” dan sebagainya. Di Sumbar they catcall you by the shape of your body or the color of your skin. Tadinya gw gak tau kenapa orang-orang pada bilang ‘lesuik’ ketika gw jalan, teryata ‘lesuik’ artinya kurus. What the F, are you bodyshaming me?? Rasanya pingin gw tampar pake barbell. Ketika manggil orang lain pun juga begitu, cewek-cewek lain yang badannya lebih berisi dipanggil “Puak” dari kata “Gapuak” yang artinya gendut. Coba aja bayangin ada orang yang gak lw kenal tiba-tiba manggil lw gendut seolah-olah lw adalah karung beras. Gw shocked pas baru pindah ke Sumbar menyaksikan ini, sehingga sering gw konfrontasi. “Kenapa panggil saya kurus?”, jawabnya “Adiak kan kurus mah.” I replied, “Kalo gitu saya panggil kamu ‘randah’, ya.”

“Ba a tu? Awak ndak pendek do”

“Iya, itu IQ kamu.”

Tapi lama kelamaan gw capek juga mengedukasi yang harus dimulai darimana, catcalling ato bodyshaming. Karena toh orang Minang sendiri sepertinya meng-embrace their hal itu, banyak yang menggunakan nama panggilan ‘lesuik’ atau ‘gapuak’ untuk dirinya sendiri. Ya sudah lah, toh merekanya juga gak sakit hati. Asal jangan ke gw aja. Tapi tetep aja gw gak tega gitu kalo liat anak-anak kecil yang dipanggil “Gapuak”, “Kaliang”, dll.

Hal yang paling berasa beda di Sumbar bagi gw adalah how they make jokes. Bagi gw jokes mereka offensive sedangkan bagi mereka jokes gw belagu. Seiring waktu, gw mengerti mana yang bagi mereka lucu dan gw bisa ngikutin (tapi gw gak akan ikut menertawakan beberapa hal seperti fisik, gender, etnis, dan agama). Saran gw, kalo lw baru pindah, in order to fit in, jangan nge-jokes dulu, watch how they joke first.

  1. ‘Kesatuan’

Kesatuan disini bukan bermakna ‘unity’, melainkan opposite dari ‘diversity’. Di Sumbar, suku yang dominan adalah Minang dan agama mayoritas adalah Islam. Dominan disini mencapai angka 90%. Hal yang terasa lucu bagi gw adalah ketika mereka mengatakan bahwa diri mereka berbeda dan gak mau disamakan, orang Bukittinggi anti disamakan sama orang Pariaman, dll yang seperti itu lah. Sedangkan di mata gw mereka semua sama, sama-sama Minang. Saking jarangnya suku lain, waktu gw sekolah dulu ada teman yang dipanggil dengan nama daerah, si Jawa. Satu sekolah memanggil dia ‘Jawa’. Sedangkan di Lampung, walopun ada suku yang dominan, tapi hampir semua suku ada, kalo semua dipanggil pake nama daerah, si Padang, Bengkulu, Kalimantan Tengah, duh, rasanya kayak ajang putri-putrian dong, ya!

‘Kesatuan’ disini suka bikin gw kangen dengan suasana multi etnis, kangen dengan makanan-makanan khas daerah lain. Kangen dengan logat berbicara yang berbeda-beda. Kangen berteman dengan teman-teman yang berbeda agama.

  1. ‘Kekeluargaan’

Bagi orang Minang, kekeluargaan adalah penting banget. Dan keluarga disini maksudnya bukan nuclear family tapi extended family seluas-luasnya. Waktu pertama kali pindah, gw kerjanya dikenalkan ke orang-orang yang katanya sodara. Lalu gw tanya, “How are we related?” ternyata gak jarang yang jawabannya adalah ‘saudara sekampung’. Ya gw ngakak dong, eehh… ternyata mereka serius, that term really exists! Orang Minang suka berkerabat dan menjalin tali silaturahmi, banyak sodara tanpa aliran darah dan tiba-tiba jadi sodara. Pikiran gw saat itu adalah, kalo ada yang namanya ‘sodara sekampung’ apa ada yang namanya ‘sodara se-kelurahan’, ‘sodara se-negara’, ‘sodara se-benua’, se-galaksi sekalian. Trus berapa banyak dong yang harus diundang kalo pesta? Sekampung? Buju buset, bisa abis tabungan orang tua gw buat ngasih makan orang sekampung tiap ada hajatan!

Begitu juga dalam menjalin hubungan dating ato marriage. Lw gak hanya cukup ngambil muka di depan orang tua ato adek/kakaknya, tapi lw juga harus ngambil hati om nya, tantenya, tantenya dari tantenya, dll lah. Tahap “dikenalin ke keluarga” bisa jadi artinya adalah lw dikenalin ke om-tantenya segala. I was like, “Really? Did they help to raise you like, say, financially?”. Jawabannya, “No, they didn’t. They’re my family.”

Gak cuma sampe tahap perkenalan, pengambilan keputusan pun ibarat pemilu. Kebanyakan orang Minang menimbang penilaian keluarga terhadap pasangannya, sekali lagi, keluarga disini bukan nuclear family. Kadang gw suka merasa lucu ketika ada teman yang harus putus dengan pacarnya karena tidak disukai keluarga. Waktu ditanya keluarga yang mana, jawabannya pamannya. Zonk! Lalu mulai lah mereka bercerita tentang adat. Lalu aku terlelap.

Productivity Tips: Personal Logbook

IMG_0238

Have you ever felt, in the year end, like you haven’t done nor achieved anything that year? “Crap! It’s December already? Where did it go?”

I’ve been in that situation several times, one of my weaknesses before was that I didn’t appreciate the meaning and importance of a process. Like most millenials, I like instant things that doesn’t take long and a lot of stuffs to do. However, I’ve learned the only shortcut to success, for whatever your goals are, is consistency and commitment to what you have to do to achieve the goals. Big goals are achieved by doing the little daily goals. I’ve come to the point when I realized that all the successful people I know in my life are NOT talented people, but those who are hardworking, patiently and consistently do what they ought to do. I used to believe in talent, now I don’t believe there’s such thing anymore.

You can’t suddenly finish a writing and publish a book in one day. You can’t build your muscles in a week. A clear, smooth skin over night. Lose/ gain weight healthily in a week. That’s impossible things to achieve unless you opt plastic surgeries. And all instant things are dangerous; instant fame, noodles, beauty, etc.

Hence I need to form habits and keep a track of it to keep my focus. I make a logbook of my daily goals. Of course I can’t do all the things in one day, but I have to do it regularly as often as possible. Making personal logbook is also advised by Austen Kleon in Steal Like an Artist that we should not underestimate writing one page each day, because in a year, that’s enough to make a 365 page-book.

I use bullet points system to create the journal. Not only it helps me to stay in track and productive, it’s also a relaxing creative outlet. First, I started with listing all the habits I want to form. Make columns like below, check each daily goal with colorful markers.

IMG_0242

I also make tracks of little achievements in a month, it doesn’t have to be a big thing like winning a Grammy or a Nobel Prize. Little things like finishing reading books, watching good movies, etc are good way to start.

IMG_0246IMG_0250

You can make your own templates, or you can also use logbook templates from Pinterest. But remember, honesty is needed to fill the journals. Don’t color if you didn’t do that in a day, week or month. You don’t need to lie, you’re not in a competition.

Moving to West Sumatra for Beginners – Tentang Bahasa

photo

Tulisan ini buat kalian yang akan atau baru aja pindah menetap sementara atau permanen ke provinsi Sumatera Barat berdasarkan pengalaman gw sendiri. Bisa jadi karena alasan ikut suami, kuliah, pindah kerja atau orang tua pindah, dll. Terutama kalau kalian sebelumnya tinggal di daerah lain yang menjadi pusat transmigrasi, seperti tempat gw dulu; Bandar Lampung. Walau pun sama-sama berada di Pulau Sumatera, tapi culture shocknya berasa banget!

Kalo bicara tentang Sumatra Barat, pasti yang dibilang alamnya indah, kota wisata, dll. Tapi informasi semacam itu cuma lo butuhin kalo lo mau jalan-jalan, sedangkan gak mungkin kan hidup lw jalan-jalan ke Jam Gadang mulu? What I write is something people don’t tell you about what it’s like living here, karena waktu gw pindah dulu, gak ada yang kasih tau gw tentang hal ini, akhirnya gw jadi clueless dari masalah bahasa, cara berpakaian, sampe cara becanda pun gw gak ngerti.

Karena ini topic yang luas, jadi gw akan bagi di beberapa post. Di postingan ini gw hanya akan khusus membahas tentang bahasa.

Sebelumnya, gw jelasin secara singkat dulu asal muasal gw. Mungkin ada kalian yang backgroundnya kurang lebih mirip sama gw. Kedua orang tua gw berasal dari Sumatera Barat, tapi mereka udah tinggal di rantau selama berpuluh-puluh tahun. Gw lahir di Lampung dan waktu umur 17 tahun gw pindah ke Sumatera Barat. Lima tahun gw tinggal di Sumatera Barat (SMA kelas 3 dan kuliah 4 tahun), terus gw ninggalin lagi selama 5 tahun, dan sekarang gw balik lagi karena adanya negosiasi dengan orang tua. Sebelum pindah di umur 17 tahun, gw jarang banget pulang ke Sumbar, palingan cuma lebaran, itu pun 3 tahun sekali. Dan walo pun orang tua gw berasal dari Sumbar, tapi gw dan kakak gw gak pernah diajarkan bahasa Minang kecuali “Ciek, duo, tigo”. Orang tua dan tante-om gw kebanyakan di rantau lain, jadi kami semua gak pernah berbahasa Minang. Singkatnya, keluarga gw dulu adalah “Minang KTP”, walopun di KTP gak disebutin juga sih suku mah… Walopun pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, bahasa Minang gw tetep broken Minang, hehe…

PENTING: Karena tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman gw sendiri, jadi potensi subjektivitasnya tinggi, bisa jadi orang lain gak merasakannya, jadi gak bisa dijadikan acuan ya… Gw hanya ingin berbagi pengalaman. Mohon bijak dan gak sensipe. If you’re easily offended, please close the tab immediately because I’m not gonna sugar-coat this, karena toh gw bukan duta pariwisata ini, it’s not my job. If you love yourself, you’ll criticize yourself to be better. If you love your people, you’ll do the same.

Bahasa

Yang paling kerasa banget adalah masalah bahasa. I grew up in place where we speak in Bahasa Indonesia instead of local language, secara Bandar Lampung adalah korban program transmigrasi jaman orde baru, jadi kalo semua pake bahasa daerah masing-masing, bisa berabe dong. Di Sumbar, they speak mostly in Minang language, even in English class! Terutama di luar Padang, ibukota Sumbar. Ada pandangan bahwa kalo ngomong pake bahasa Indonesia itu belagu, nah bayangin apa lagi kalo lo ngomong pake bahasa Inggris! **gw kuliah di Sastra Inggris UNAND, jadi gw tau pandangan mereka ke bahasa non-minang gimana, yang gw juga gak ngerti, if you hate English that much, why did you choose English Department? Kenapa gak milih Sastra Minang aja? Apalagi kalo kelasnya non-reguler, duh gak ngerti hamba!

Tapi teman-teman gw mengerti situasi gw, jadi kalo ngomong sama gw, mereka pake bahasa Minang yang di-Indonesia-kan, tapi kalo ke temen lain, mereka pake bahasa Minang.

Pertama-tama, gw sempet takjub dengan bahasa Minang dan pingin banget belajar. Tapi gw ini manusia loh, bukan Google Translate, jadi kan pasti butuh waktu dan proses.

Gak semua orang bakal mencoba mengerti ato mengajari lw. Waktu minggu pertama gw pindah ke Sumbar, di Payakumbuh, saat gw mencoba berbaur dalam pembicaraan, seorang teman bilang, “Citra, dima awak?”. Karena gw gak ngerti maksudnya, gw jawab, “Di Kelas.” Teman lainnya menimpali dalam bahasa Indonesia yang ke-Minang-minang-an yang artinya kurang lebih “Mana ada orang Minang yang gak bisa bahasa Minang, 100 tahun pun di rantau pasti tetap berbahasa Minang.” Zonk! Padahal kan yang tinggal di Lampung gw, bukan diye! Begitunya gw coba-coba pake bahasa Minang, dibilang gw sok imut, imutnya dari mana uni??? Pake bahasa Indonesia gw salah, bahasa Minang juga salah. Sampe-sampe gw dicarutin (meaning: bahasa kasar) di depan umum. Oh yeah, these people really know how to motivate others to learn the culture. Satu bulan kemudian gw demo minta pindah ke orang tua gw, I hoped Padang was better. It was, walopun gak totally toleran juga sih.

Walo pun lw bakal ketemu orang-orang yang akan mengerti situasi lw, bahasa Minang tetep penting untuk dipelajari juga, at least Minang for survival lah, contohnya buat nawar barang. Karena beda bahasa, beda harga, dan perbedaannya itu sungguh tega banget! Buktikan sendiri di Pasar Atas Bukittinggi, dari semua pasar di Sumbar yang pernah gw datengin, menurut gw itu pasar yang naro harganya paling bikin pingin ngeyek.

Masalah bahasa, ada juga pengalaman dari sodara gw yang waktu itu pindah sekolah dari Pekanbaru ke Payakumbuh, dia masih kelas 2 SMA saat itu dan dia lagi insecure masa pubertas gitu deh… terus dia curhat ke gw karena teman-temannya bilang kalo dia gak bisa bahasa Minang, dia gak bakal punya cowok, karena cowok-cowok gak suka cewek yang gak bisa bahasa Minang. Dia sedih banget sampe berkaca-kaca, membuat gw yang dicurhatin pingin ngakak tapi gak tega. Sebagai senior yang duluan pindah ke Sumbar, gw udah kenyang deh digituin juga mah, tapi gw telat puber, jadi gw gak merasa tertekan seperti dia. Waktu dikasih tau tentang hal serupa ke gw oleh seorang cowok Minang, dengan polosnya gw jawab, “Ya gak papa sih, namanya orang kan punya tipe, itu hak. Cihud juga gak mau kok sama cowok yang gak bisa bahasa Inggris.” Jawaban gw tersebut entah kenapa sukses membuat gw jadi public enemy. Padahal kan sama-sama mengeluarkan pendapat ya, cuma beda objek, tapi reaksinya kok berbeda. Emang nasib.

Dan walo pun bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa Minang, bukan berarti bahasa Indonesia dan bahasa asing jadi gak berguna. Mereka tetep berguna ketika lw lagi gak niat ngomong sama orang tapi lw lupa bawa headset. Untuk menghindari pembicaraan basa-basi yang lebih jauh, pakai lah bahasa Indonesia, ato Inggris kalo mau kode yang lebih keras. Sejauh ini sih berfungsi di gw. For them, responding in bahasa Indonesia all the time is such a turn-off. Yah toh kan gak semua orang penting diajak ngomong kan, apalagi kalo basa-basi nya terlalu menjurus ke urusan pribadi.

Walopun gw pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, tapi bahasa Minang gw masih aja kacau balau. Kalo untuk ngobrol pendek sih ok, tapi kalo udah ngobrol panjang ato adu argument, walopun gw ngerti sebagian besar maknanya, tapi belibet ngomongnya. Mungkin karena setelah meninggalkan Sumbar, gw gak pernah mempraktekkan lagi dan juga karena gw punya beberapa trauma masalah pembelajaran bahasa minang gw yang membuat gw ogah-ogahan.

Belajar itu kan masalah ketertarikan. Gw belajar bahasa Jepang otodidak dari buku dan internet lebih cepet dari pada gw belajar bahasa Minang yang sangat dekat dengan kehidupan gw saat itu.

Sebenernya, bukan bahasanya yang rumit. Justru bahasanya itu bagus, puitis dan romantis, banyak peribahasa yang dipake dalam bahasa sehari-hari. Yang gak mungkin banget gw temuin di Lampung, mana ada orang Lampung ngomong pake peribahasa segala. Justru gw excited banget di awal, sampe-sampe gw nyanyi lagu-lagu Minang terus buat belajar, dari ‘Kampuang nan Jauah di Mato’ sampai lagu Elly Kasim. Dan kemudian baru seminggu aja ternyata kenyataan gak seindah dan seramah ekspektasi gw. Yang bikin rumit itu adalah sikap dan pandangan yang buruk terhadap sesuatu yang berbeda, jadi mematahkan semangat gw banget. Gw sering dibandingkan dengan orang-orang yang orang tuanya keturunan non-Minang tapi dari lahirnya di Sumbar, “Masa mereka yang bukan orang Minang aja bisa sedangkan Cihud yang asli Payakumbuah gak bisa?”. Pertama, that’s not an apple-to-apple comparison dan kedua, kalo gw mau shallow juga, Hellooww… sampeyan juga kan orang asli Indonesia, masa gak bisa bahasa Indonesia?? **gw pernah ngomong hal ini ke orang yang jauh lebih tua dari gw, sehingga itu om jadi shocked dan bilang, “Ondeh, agak ba lain anak Ni Len mah…” Dan ketiga, buat gw pribadi, cuma karena seseorang terlahir sipit, kulit putih dan memilih agama berbeda, bukan berarti dia less than anybody else sehingga dikeluarkan. Kalo mereka berbicara dalam bahasa yang sama, sama-sama bayar pajak, sama-sama gotong royong bersihin kota, sama-sama cinta dengan daerah tsb, bedanya dimana?

Anyway, yang bisa dipetik dari pengalaman gw ini adalah bahwa kalo lw mau belajar bahasa Minang ato pun belajar apa pun, lw harus bisa mengontrol ketenangan pikiran lw dan kuat mental walo pun dikatain. Because you can’t really do much about how people will do to you, but you’re in control of how you react to it. Sikap gw yang menutup diri di 5 tahun yang lalu itu gak bagus banget. Karena apa jadinya nanti kalo gw tinggal di tempat lain atau luar negeri. I can speak English well tapi bukan berarti gw menguasai sense of English di setiap negara kan, terus apa jadinya kalo ada yang menghina bahasa Inggris gw dan gw sakit hati terus trauma?? Masa iya mau pulkam tanpa bawa ilmu? Ato hanya berbaur dengan sesama Indonesia aja padahal di luar negeri? Pengalaman gw di bahasa Minang ini membuat gw mengerti kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tapi pas pulang tetep gak bisa bahasa Inggris.

Jadi, sekarang gw lebih open minded dan kuat mental, kalo ketemu orang yang sifatnya tertutup, bukan berarti semua orang Minang seperti itu. Dan gw gak harus ikutan tertutup juga. Ya tinggal tinggalin aja dan cari temen yang lain. Dengan begitu lw bisa liat kalo sebenernya there’s a beauty in this culture.