Travelling ke Raja Ampat: Pesona Birunya Pulau Pef

batch__DSC9618Salah satu checklist travelling gw di tahun ini adalah kepulauan Raja Ampat di Papua. Raja Ampat adalah salah satu destinasi wisata yang lagi naik daun di kalangan pelancong domestik baru-baru ini dikarenakan ramainya foto para traveller domestik dengan background Fam Islands yang indahnya bukan main.

Padahal, bagi wisatawan asing, Raja Ampat sudah lama berkumandang apalagi di kalangan pecinta olahraga diving dan snorkeling. Terlebih lagi semenjak bermunculan resort-resort (yang mayoritas dikelola pihak asing–namun ownership tetap milik Indo. Kabarnya orang tua dari Nadine Chandrawinata juga punya resort di Raja Ampat) yang dipelopori oleh Papua Diving Resort di Raja Ampat. Pasalnya, Raja Ampat memiliki keindahan alam dan biota laut yang masih ‘perawan’, baik di darat mau pun di laut.

Namanya juga kepulauan, jadi di Raja Ampat ada banyak pulau-pulau kecil yang sebagian besar masih tidak berpenghuni. Pulau-pulai kecil ini sering dijadikan tempat transit untuk lunch break saat diving trips. Di masing-masing pulau biasanya hanya terdapat satu resort, ibaratnya pulau tersebut udah dimiliki oleh resort tersebut. Tentunya orang asing gak bisa mendapatkan hak milik lahan dan properti di Indonesia selain hak guna lahan, jadi selalu ada kepemilikan oleh orang Indonesia di dalam managementnya, walau pun sumber dana terbesar ya pastinya dari bule. Tapi toh, nanti kan balik lagi ke kita.

Waktu tempuh yang dibutuhkan dari pelabuhan di Sorong ke kepulauan ini berkisar dari 3,5 – 5 jam (tergantung jauh pulau dan jenis boat yang digunakan). Gw berkesempatan menginap di Raja4Divers resot di Pulau Pef yang bisa dilihat di Trip Advisor kalo ratingnya almost bintang lima! Menurut para bule-bule yang sudah berpengalaman island and resort hopping di Raja Ampat, Raja4Divers adalah salah satu yang terbaik dari segi service dan fasilitas, rasa kekeluargaan yang dipupuk di kalangan para karyawan (baik yang bule dan lokal) memberi rasa hangat yang berbeda, cocok dengan tagline mereka, “Come as a guest, live a king, leave as family”.

batch__DSC9548

Katanya sih jarang banget ada orang Indonesia yang berkunjung ke resort-resort ini kecuali para VIP seperti pejabat negara dan koruptor kelas kakap karena harganya emang gak main-main, seminggunya cukup untuk beli mobil secondhand alias USD 3000- 4000, cuma gw lah ya orang lokal dengan kasta rendah yang bisa hoki banget dapet kenalan jadi bisa totally gratisan kecuali ongkos transportasi udara.

Lagian jenis wisata kayak gini bukan stylenya orang Indonesia yang kebanyakan takut dengan sinar matahari (orang Indo kan kalo liburan jarang yang mau menikmati alam, maunya menikmati mall dan fasilitas modern, haha!), kata para guidesnya, biasanya orang Indo cuma ngejer foto di puncak Piaynemo yang mempunyai pemandangan yang hits banget dan abis itu balik lagi ke Sorong (capek-capek aja gak sih…).

batch__DSC9640

Jujur aja sebenernya gw ini gak bisa berenang, bisa sih kalo pake balon buat berenang itu, haha. Tapi gw ketagihan snorkeling semenjak diracuni oleh seseorang yang membuat gw suka banget sama pantai, dulu mah mana gw kepikiran duduk-duduk di pantai. Nah sekarang jadi beach girl banget deh gw! Sampe-sampe emak gw mengucap-ucap karena melihat kulit gw yang makin hari makin eksotis (my mom is a typical Indonesian who adores fair skin and underestimates dark skin).

Pengalaman snorkeling gw gak banyak sih, hanya baru di beberapa tempat yang masih bisa dihitung dengan jari. Tapi mungkin gw ini termasuk orang yang beruntung, karena walau pun begitu, gw udah langsung naek level dengan snorkeling di Raja Ampat yang diyakini sebagai satu-satunya biota laut terkaya di dunia yang masih tersisa, bahkan bule-bule yang udah menjelajahi dunia sampe Maldives aja bilang kalo Maldives masih gak ada apa-apanya dengan Raja Ampat. Yah bagus lah kalo gitu gw gak perlu ke Maldives lagi, haha.

Pertama kali sampai di Pulau Pef, kami disambut dengan para karyawan dan keluarganya dengan tarian khas Papua, orang Papua emang suka menyanyi dan menari, jadi suaranya bagus-bagus. Mereka juga sangat jarang menonton TV apalagi yang namanya internet (karena untuk dapet sinyal internet yang memadai juga harus naik bukit dulu), jadi hiburan mereka ya hanya alam dan bermain musik/ menari. Sama sekali gak ada wajah terpaksa ketika mereka harus memberikan party setiap Kamis malam yang mana adalah farewell party. Hari Jumat adalah hari farewell dari para tamu, kapal hanya berangkat seminggu sekali, jadi pastikan gak ada barang/ urusan yang ketinggalan di Sorong, karena kalo mau balik juga gak gampang/ murah.

Dari sewaktu masih di atas boat aja, gw udah takjub melihat langit dan laut yang betul-betul biru, lebih biru daripada langit di Adelaide dan Afsel yang udah gw lihat! Belum lagi waktu di atas jembatan panjang dari jetty ke resort yang bener-bener indah pemandangannya, kayak di lukisan, bahkan photos can’t do justice!

IMG-20181003-WA0011Gw gak bisa ngelupain perasaan yang gw rasakan waktu pertama kali nyeburin kepala waktu snorkeling di Raja Ampat, padahal itu cuma di sekitaran resort lho, belum ke diving spotsnya! Dari atas kelihatannya lautannya hanya datar dan tenang, ternyata bahkan hanya setengah meter di dalamnya aja mereka itu kayak punya kerajaan bawah laut sendiri! Ikan-ikan warna-warni berseliweran, dari yang kecil sampe yang gede, kura-kura, gurita, sharks pun ada dan ternyata sharks itu gak seserem yang kita bayangin, karena mereka cuek aja tuh dengan para divers. Setiap diving spot punya nama yang biasanya diambil dari nama penemunya, ada yang orang Papua dan orang asing. Contohnya adalah Nickson’s Garden yang diambil dari nama Pak Nickson, salah satu guide paling senior di Raja Ampat. Masing-masing spot memiliki keindahan yang berbeda dan sesuai namanya, ada yang namanya Ikan Party, Melissa’s Garden, dll. Kita juga bisa kayaking mengelilingi pulau–yang mana bikin jerok juga ya bok mengayuh sejauh itu!

Sayangnya, gw masih menemukan sampah plastik (walau pun dikit banget sih) di lautan Papua ini. Gak bisa langsung menyalahkan orang sekitar juga karena ombak laut bisa membawa sampah dari mana saja bahkan dari negara lain yang jauhnya ribuan miles (makanya itu kita gak boleh nyampah di laut mana pun, bisa jadi buang sampahnya di Pantai Panjang Lampung, sampahnya sampai dengan cepat ke Bali, Papua dll.) Orang Papua sangat mengerti laut adalah hidup mereka, sehingga hukum adat yang berlaku jika kedapatan menangkap ikan (apalagi kalo pake bom) hukuman penjaranya gak main-main. Menurut cerita mereka sih, kebanyakan yang begitu adalah pendatang dari pulau lain yang kesana mencari uang dan kurang memiliki rasa kepemilikan. Dan gw salut ya sama bule-bule serombongan gw di resort ini, karena beberapa kali di lunch break diving dan kita berhenti ke pantai, mereka ngumpulin sampah di pulau-pulau itu lho, yang duluan inisiatif malah mereka bukannya gw sendiri yang orang Indonesia (malu banget gak sih! Hiks!). Tapi ada juga sih bule yang norak, yaitu yang pada ngambilin kerang yang entah lah buat apa. Bule-bule begini kadang ditegor juga sama bule-bule lain (bule yang gak norak dan berpendidikan). Oh iya, bule yang ke Raja Ampat akan berbeda dengan bule-bule yang ditemukan di Bali, karena gak sembarang bule bisa ke Raja Ampat, beda dengan Bali yang terkenal sebagai wisata murah.

Owner Raja4Divers–yang mana adalah kenalan gw yang baik hati ini–adalah orang Swiss yang sangat sangat dihormati oleh warga Raja Ampat, mereka memanggil dese dengan panggilan ‘Ibu’ karena beliau emang seperti ibu bagi mereka. Ibu Maya gak memperlakukan mereka hanya sebagai karyawan, tapi sebagai keluarga. Bahkan waktu dia baru dateng, anak-anak kecil berbondong-bondong dari berbagai kampung rela-relain buat naik kapal dua jam buat menyambut dia dengan tari-tarian dan lagu. Anak Papua gw akui mempunyai mata terindah untuk mata orang Indonesia yang gw temuin, mata mereka besar dan beda banget! Hanya sayang aja mereka gak begitu mementingkan kebersihan, jadi banyak anak-anak ini yang ingusnya dadah-dadah di bawah idung mereka. Terus siapa yang ngelap ingus-ingus itu? Lah si Ibu Maya ini sendiri! Dia gak ada perasaan jijik, bener-bener kelihatan rasa sayangnya itu tulus, tanpa mengenal batas-batas ras, negara, sosial atau pun kepercayaan. Ternyata, Ibu Maya juga sering memberikan gratisan ke temen-temen dekatnya dan orang yang dia suka kalo ada kamar kosong dan gak di peak season. Beruntung banget lah itu para sohibnya yang udah jadi tamu langganan!

Di depan bungalow kita, kita bisa menikmati baby sharks yang lagi bermain-main dan mencari makan (ternyata kalo masih bayi mereka hidupnya di air dangkal, kalo udah akhil baligh baru boleh maen di laut yang lebih dalam, hehe). I’m such a lucky gal to have this opportunity padahal latar belakang gw hanya orang biasa-biasa aja dan dari keluarga yang biasa. Sangat beruntung lagi kalo bisa berkunjung kesana lagi, karena sedih rasanya waktu berpisah dengan orang-orang di Pulau Pef. 

batch__DSC9557

Advertisements

My Startup Weekend Experience in Bali

I didn’t know about Startup Weekend until end of last year when someone who I just met for the first time–who then later become my friend–told me about it and volunteered to be my sponsor for the event.

I was in Bali for my fashion design course and as I am a hyperactive person, I always looked for interesting events in the area, I wanted to make the best of my time in Bali. There’s a cafe-coworking space in Sanur which regularly holds free events/ talks every week that I always tried to come when I could, even though it’s not close to where I stayed. In one event, at that time Aaron Mashano was the speaker, I met Jennifer. She’s a foreigner living in Bali and pursuing her fashion design career (but with different approach from mine) and she’s almost similar like me, she likes to come to events as well.

Then she told me that there was an event in the upcoming week which is very cool and a good learning and networking experience that she really liked. I didn’t really understand what it was at that time, and also hearing that it’s a paid event and in dollar rate, I thought I wouldnt be able to join. I was surprised that Jennifer just offered herself to be my sponsor, meaning she’d pay for the events and let me stay at her place during the event (because the event was held in Ubud, which is 30km from my place). It’s not cheap I think to give to someone you just met for the first time, I didnt know why she just trusted me, she only asked me to promise that I would give my dedication to the event. So I said yes and promised her that I would not take it for granted.

I didn’t know much info about what the event is about and how things would be run. All I knew is that you might pitch ideas of a startup and then we would be grouped into the chosen startup ideas. I didn’t know really clearly what to expect from the event, I only knew there would be winners in the end, and I like winning. So I already prepared an idea and a one-minute speech for a pitch.

Startup Weekend is actually a global event now run by Techstars with the help of a lot of Volunteers. It’s held in hundreds cities in the world annually, in Indonesia it’s held in several major cities like Jakarta, Bandung and Bali. But the one in Bali is the most different from other cities in Indonesia because the one in Bali has internationally mixed participants while in other cities are mostly Indonesians.

It’s a 2,5 day event started from Friday night until Saturday night. In 54 hours, we learned and experienced what it’s like to make a startup, from finding the ideas to brainstorming the execution to sell it. We’re given the opportunity to pitch our idea in such a short presentation time (so we had to make every second and sentence count) then sell it to market (the audience), recruit team, and make a product mockup. My idea and team was chosen as the 3rd winner. I was very happy that I also made a remarkable impression to the people there, every presentation I made always caught attention.

23622357_1720814677942481_4818529713690288732_n

It’s a very good event to network with people who might need your work in the future or if you’re looking for a side project to break from your routine. As for freelancers, networks is a vital part.

At that time I totally had no idea that it could be used for that, I was just there to compete and have fun. So I didnt understand why people were really putting their time, efforts and energy to the max for just a weekend activity. Now I understand that they were marketing their selves. Who knows you might find a potential client who’s looking for say a designer or programmer. At least the people who know about what you do could refer you someday to someone.

This year, I will join the event again or the ones next year in order to market myself. I will come back with different strategy and different mission. Last year I came to win and to prove my idea, but this year I’ll come to market myself as a graphic designer/ illustrator. If you’re a freelancer/ digital nomad, Bali is the right place for you to find and be found. Hence I’m preparing myself for it, that’s why I’ve been locking myself in my room since I arrived from SA to improve my skill, learning from the very basics. I’m not a good drawer, many people can draw much better than I do, but I’ve learned several skills by myself because I didnt have the fortune to pay for expensive schools. That being said, I’m a hardworker. I’ve had some plans what I’d do and make people remember me again, to tell that I’m not only a fashion designer but also I can do digital art work. Hopefully things will go as planned or better, I cant wait!! Watch Startup Weekend 2018’s video here and see more photos here.

 

If You Can, You Should

I’ve been wanting to write about this for months since a tragic incident that shook many people worldwide. This post is not about me (well, the intro is related to me), but we can learn from what happened to them and what they’ve taught to us.

Back to my last weeks in Bali, I went to Canggu a lot. For you who dont know what Canggu is like, it is the trending area now in Bali. It has the youth relaxed vibe, not too party, not too lazy, and it’s the home for digital nomads from all over the world. It’s the Must-Visit place for content creators, so it’s not rare that you bumped into an influencer in a cafe or coworking place. You might not know about them, but they’re famous in their home countries or in their fields of work.

I remember there’s a face I saw, not often, but easily attached to mind. He’s good looking but that’s not the reason. It’s more about his vibe in his presence, the kind of person that makes you want to approach him/ her and get to know or make friends with when you see them in crowds. He was with his goofy friends, later I knew one of them was his long-time girlfriend. I really wanted to ask for his name and be friends with him and his friends. But I held my self and never made the move until I left Bali.

Months after I left Bali, I was scrolling my Facebook timeline and a news from an international media popped out with a photo of a face that’s familiar to me. That was his face, the mysterious guy I saw in Bali. I was like, “Hey, I know this face. He made an international news, who is he??”. So I clicked on the news without reading the headline first.

Took a few seconds to load the page, and I was waiting to find out about his name and what he did. Once it’s loaded, I was shocked by the headline in which I found what his name is, it’s a news about his death! WHATTT…

The tittle reads, “YouTuber Ryker Gamble and two friends plunge to death at Canada Waterfall”. So now I got his name. Now I know what he did for a living. And I knew he was a Canadian. But now he’s not in this world anymore. It’s a tragic way to know a person’s name.

Turned out he was one of a travel vlogging team called ‘High on Life’ with his best friends from Canada, some of them are his childhood best friends. Travelling the world and working with people in tourism business was his job and his passion. They were just ordinary youths with passion for adventuring the world and story telling in videos. They’re not rich, they’ve been like us, they struggled to reach what their legacy now. At first, they made videos just for documenting what they’ve experienced, something to look at when they’re old. Slowly many people started to follow their channel and enjoyed to watch their stories and perspectives. Their channel is not like other travel vlogging videos where the YouTubers just wanna show off and make people jealous of their lives meanwhile they actually spent on their parents’ money. These High on Life guys, they’re different. That’s why High on Life has one of the most loyal fan base because they’re relatable. And the fact that they have a strong friendship, it makes you  feel that you want to have a friend like that, or you feel like you’re their friends just by watching their videos.

In the beginning of July 2018, they went back to Canada. Ryker and his friends (who were also High on Life team) were travelling to Shannon Falls. His friend’s girlfriend slipped while trying to take a footage and the boyfriend tried to help her. Ryker tried to help them but in the end the three lost their lives.

I’ve never watched their videos before Ryker’s death (of course, I just found out his name). If you just cherrypick and watch one video footage of their back flips, maybe you’ll think that these people were looking for death and finally got one, like some people badmouthed about them. Yes I do admit they had done crazy backflip stunts, but that’s just one bit tiny part of what their content is about. If you really watch their videos and journeys without malice and jealousy, you’ll see how these people had lived to the fullest, even in that short life.

Their videos are inspiring and the fact they worked hard to build the company, to be able to live their passion. What really touched me is their message to believe in your passion (whatever it is) and start taking steps and putting steps in place. That often times we’re too afraid to do what we want to do while in fact we are able to do, we’re just full of doubts and fears. One of the sentences that Ryker wrote and narrated in his video which really resonates to me is, “Stop looking for reasons why you can’t. Start looking for reasons why you can. And if you can, you should.” DAANGGG… it hits my spot so bad!!

Then, my attention came to his long-time girlfriend, Alissa Hansen, who followed him travelling and been together for years, been through many things, the uglies, beautiful, failures, success, etc. She never expected this to happen for her at the age of 28. All the life she thought she knew, the future she thought she could read, all of the sudden just gone. I can never imagine myself in her position, I’ve never been in that kind of relationship with a man. I thought my ex dumping me after a one-year-long relationship was already sad, because I thought that would never happen to me and didn’t think that I would lose something I was familiar with. But that’s nothing compared to Alissa’s loss, mine was a LDR, while she was with him most of the times, she lived with him, they’re like a husband and wife already. It’s like she has to start and rebuild her life again, but must be hard to start, to know from where she has to. I can’t imagine if that happened to me, I’d not know how to ever fall in love again, whether I would ever find someone who could make me feel the way he did before. Gosh, that’s so tragic!

But in the end in life, we all are gonna lose someone and something that’s dear to our hearts. It’s a fact of life that we can’t avoid. Some had it earlier than others. Like my friends who already lost their parents they were young, I still have both of my parents and sometimes it makes me worried and scared when my time will come. Or what if I die first?

Death and love are the two things we can’t control and predict. All we can do is just to make our life count while we have it. How?? I choose to agree with Ryker’s words, just stop looking for reasons why I can’t and start looking for reasons why I can. And if I can, I should. What a time to be alive!

R.I.P Ryker Gamble, Alexy Lyakh and Megan Scraper. #HOLinspired

Pengalaman Terbang dengan Ethiopian Airlines

20180721_200556

Penampakan dalam pesawat Ethiopian Airlines

Perjalanan ke luar negeri kedua gw di tahun ini adalah ke Afrika Selatan di akhir bulan Juli sampai Agustus kemaren. Biar lebih berasa African trip, jadi gw pilih airlinesnya juga yang Afrika-afrika gitu deh, yaitu dengan Ethiopian Airlines karena gw juga mau coba-coba airlines setelah sebelumnya terbang dengan Singapore Airline waktu ke Australia.

Selain itu juga karena waktu itu harganya lagi promo karena penerbangan gw saat itu adalah penerbangan perdana maskapai ini di Indonesia, makanya waktu gw berangkat, ada acara ceremonial dulu di pintu gate keberangkatan (dari pembuka oleh para manager dan tari-tarian Ethiopia gitu deh) dan penumpang yang berangkat hanya 40 orang, itu pun 90% para keluarga dari si manager tersebut. Yang orang Indonesia saat itu hanya gw dan satu orang lagi, selebihnya warga kulit hitam semua. Karena cuma 40 orang, jadi gw bebas pindah tempat duduk dan tidur selonjoran, hehe.

Penerbangan ke Afrika Selatan dari Indonesia totalnya adalah 22 jam terbang dengan dua kali transit, di Bangkok dan Addis Ababa. Transit di Bangkok penumpang tidak turun dari pesawat, karena hanya menaikkan penumpang lain dari Bangkok ke Ethiopia, hanya di Addis Ababa kita ganti pesawat. Ini adalah penerbangan terlama selama hidup gw selama ini, walau pun bisa dibilang pesawatnya nyaman, tapi gak kebayang sampe umur berapa gw kuat terbang lagi selama itu, haha!

20180808_155632

Pilihan makanan utama: beef, chicken, and fish. Gak ada pilihan menu B2 (alias pork).

Pesawat yang digunakan adalah pesawat yang besar dengan susunan bangku 3-4-3, layaknya pesawat penerbangan internasional. Untuk kualitas pesawat dan service, bisa dibilang sih kurang lebih sama dengan Singapore Airlines. Kenyamanan tempat duduknya dengan space kaki yang lebih luas dan manusiawi (kalo dibanding budget flights like Lion Air or Air Asia, haha) atau mungkin juga karena bule–apalagi orang kulit hitam–kan badannya gede-gede, jadi emang standarnya segitu, sedangkan untuk gw yang orang Asia, segitu sih udah nyaman dan luas (karena kebiasaan pake penerbangan murah sih ya, haha).

20180721_200613

Setiap bangku juga dilengkapi dengan in-flight entertainment yang sama persis alatnya dengan Singapore Airlines. Kita juga bisa pake USB dari device pribadi dan bisa ngecharge laptop dan hp (ada colokan listrik juga di bawah kursi). Perbedaannya isinya gak se-up-to-date Singapore Airlines, dan kebanyakan isinya film Afrika walau pun menggunakan bahasa Inggris. Makanannya pun juga enak-enak seperti Singapore Airlines, kita gak akan kelaparan karena dibagikan makan setiap penerbangan dan pramugari rajin mondar-mandir nawarin minuman. Bagi gua terasa berbeda kalo dibanding dengan Singapore Airlines adalah:

  1. Kurangnya variasi konten di in-flight entertainmentnya,
  2. Pramugarinya gak se-ramah dan gak peduli penampilan seperti pramugari Asia. Mereka baik sih, cuma gak murah senyum seperti orang Asia. Dan kalo pramugari Singapore Airlines, mau penerbangannya selama apa juga mereka penampilannya tetep rapi dan klimis, sedangkan pramugari Ethiopian Airlines lebih cuek dengan penampilan, layaknya orang yang sedang travelling, rambut mereka kadang sama kusutnya dengan rambut gw, haha, jadi gw merasa ada temennya gitu.
  3. Penumpangnya kebanyakan orang kulit hitam, such an experience juga sih buat gw. Gw ngerasa kulit gw ini udah hitam eksotis, ternyata gw malah yang paling putih di pesawat itu (untuk standar kulit berwarna, hehe).
20180809_163956

Bayi yang entah kenapa ngeliatin gw terus dan minta foto sama gw, disangka badut kali yak!

Seragam pramugarinya tidak menggunakan rok, mereka pakai celana dan kalo lagi mondar-mandir nawaran makanan-minuman, mereka pakai celemek. Jadi kerasa banget bahwa pekerjaan utama mereka adalah safety and service, gak kayak pramugari di Indonesia yang kebanyakan belagu gitu ya, hehe. Berbeda dengan pramugari Singapore Airlines yang badannya sumpah kecil banget, pramugari Ethiopian Airlines badannya lebih besar dan tinggi, mukanya eksotis gitu dengan matanya yang besar dan tulang rahangnya yang tinggi. Yang gw kurang suka sih style makeupnya, menurut gw style makeupnya lebih tebal dan pake warna lipstik yang gonjreng, gw sih kurang suka yang begitu, tapi ini selera pribadi ya…

Waktu di pesawat, gw sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa penumpang dan ternyata bagi mereka cewek yang cantik itu yang badannya besar dan tinggi, so mereka gak mengerti kenapa cewek Asia (especially Thailand) pada pingin punya badan sekecil mungkin, terlebih lagi mereka gak tinggi. Haha, tiap negara emang punya definisi cantik yang berbeda!

Overall gw punya impression positif untuk Ethiopian Airlines, tapi mungkin kalo gw terbang ke Afrika Selatan lagi gw akan mempertimbangkan Singapore Airlines aja karena maskapai tersebut memilik direct flight yang cuma 10 jam aja dongs…

Tipe-Tipe Bule di Bali

Bali sebagai destinasi wisata internasional memang mengundang banyak wisatawan internasional yang biasa disebut “bule” dalam bahasa Indonesia (walau pun kadang kata ‘bule’ lebih sering dikaitkan dengan ras kaukasoid).

Bule-bule ini banyak yang udah tinggal cukup lama di Bali atau yang tamu rutin setiap tahun. Banyak alasan mereka datang ke Bali, Bali sendiri memiliki keunikan ‘vibe’ yang berbeda-beda di setiap daerahnya sehingga tipe-tipe orang yang kita temukan di Canggu akan berbeda dengan yang di Ubud, begitu juga Kuta dan Sanur dll. Walau pun sering dianggap superior oleh bangsa kita sendiri, padahal bule itu sama aja dengan kita karena mereka juga sama-sama manusia, yang baik ya baik, yang jahat ya jahat. Ada yang pinter, ada yang setengah dan ada yang ‘otak kuah kacang’ juga. Pengalaman gua tinggal di Bali membuat gw bisa mengkategorikan bule-bule itu menjadi beberapa tipe (**disusun random):

  1. Bule Ordinary Tourist

Bule yang ini hanya wisatawan biasa, tujuannya hanya berlibur dalam waktu relatif singkat, gak ada tujuan lain (misal mencari jati diri, atau investasi). Biasanya sama pasangan atau sama keluarga. Mereka gak sibuk-sibuk cari penginapan atau transportasi yang murah karena mereka cuma mau nyaman, dan mereka juga gak seberapa make time to know the locals karena mereka cuma akan disana sebentar saja. Dari cara jalannya pun mereka berbeda, karena biasanya lebih lambat karena mereka melihat-lihat sekitar dan untuk shopping souvenirs. Mereka biasanya ada di tempat-tempat wisata yang mainstream seperti Pantai Kuta, Tegalalang di Ubud etc.

2. Bule Party-Mode

Nah ini dia bule yang tujuannya mabok dan party doank (dan sex), mereka melihat Bali hanya sebagai Vegas-tanpa-cassino murah muriah. Kebanyakan berasal dari Australia, karena paling dekat dengan Indonesia, usianya kebanyakan masih dedek-dedek bule yang kerjaan di negaranya sebenernya masih entry-level, misal waiter, penjaga toko dll, tapi karena konversi dolar ke rupiah, mereka jadi bisa seneng-seneng dengan murah yang belum tentu di negaranya mereka bisa. Gak cuma dedek-dedek ababil, ada juga yang usia dewasa yang lagi mengalami puber kedua (atau gak berhenti puber) kali ya, hehe.

Destinasinya cuma night clubs and bars di daerah Seminyak. Looking for drinks, dance, drugs, and hookups. Boring buat gua mah. Bule begini nih yang sasarannya para prostitutes dan one-night-standers. Mereka gak mencari cinta, jadi kalo ketemu di Tinder dengan bule yang stay di daerah Seminyak, jangan berharap lebih, ya! Hehe.

3. Bule Kismin: Bule Backpacker, Bule Kehabisan Duit karena Gak Mau Pulang

Bule miskin atau PaHe (Paket Hemat) ada yang karena emang tujuannya backpacker dan ada juga yang karena keasikan tinggal di Bali tapi gak mau pulang-pulang, jadi lama-lama duitnya abis dongs. Kalo bule backpacker, kisminnya masih terhormat (menurut gw sih ya..) siapa tau mereka cuma mau bikin record perjalanan termurah aja, bukan berarti mereka kere. Mereka berjiwa adventurous, berbaur dengan lokal, makan-makanan lokal, dan seringnya ke tempat-tempat anti-mainstream, kayak pantai dan air terjun yang masih belum terjamah gitu. Tujuannya wisatanya lebih ke berpetualang dan mengenal kultur negara lain, walau pun kere, mereka ini punya ‘charm’ tersendiri, yah pesonanya anak Mapala gitu deh, hehe…

Sedangkan kategori bule kismin yang satunya lagi lebih mengarah ke gembel. Yang begini lebih baik dijauhin, mereka mengerti cara memanfaatkan kebaikan orang lokal dan kadang mau numpang hidup via couchsurfing dalam waktu yang relatively lama (hitungan bulan) dan selalu cari masalah kalo diminta pindah.

4. Bule Eat, Pray, Love Syndrome

Ini adalah kategori bule mencari cinta. Kesuksesan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert berdampak magis membuat para hopeless romantic ini datang ke Bali dengan tujuan mencari cinta atau mencari inspirasi, biar kayak si penulis gitu ya… Jiwa-jiwa yang insecured dan sedang mencoba membangun optimisme dan berharap menemukan sesuatu di Bali, kebanyakan sih berjiwa penulis gitu. Paling banyak ditemukan di daerah Ubud (karena si Elizabeth Gilbert perginya ke Ubud) sambil memegang pena dan notebook di meja-meja cafe, layaknya orang menunggu ditendang inspirasi. Tapi believe it or not, karena banyaknya penulis yang tinggal di Ubud, Ubud bisa dijadikan tempat yang baik bagi para penulis ini untuk networking atau belajar dari penulis senior juga!

5. Bule Hippie

Bule Hippie adalah salah satu tipe manusia yang sering ditemukan di Ubud, mereka kadang terlalu (sok) spiritual gitu sampe-sampe kalo mereka ngomong, kita jadi bingung mereka ini lagi ngomong apa ngelantur mabok. Mungkin niatnya terdengar bijak tingkat dewa, tapi malah jadi kebanyakan bullshit kadangan, haha. Seringnya mereka melakukan yoga, tapi gak cuma yoga olahraga fisik, lebih ke spiritualitas. Yang spiritual tapi masih normal juga banyak kok, bedanya kalo udah level hippie ini, udah di luar normal. Mereka gak begitu peduli dengan penampilan, terlihat seperti gembel, hobi nyeker dan kadang-kadang bau badan (entah dengan alasan spiritual macam apa).

6. Bule Pensiunan

Oma dan opa bule yang sudah pensiun dan mau menjalani masa-masa pensiunnya dengan senang-senang ke tempat-tempat eksotis di negara berkembang seperti Bali biasanya berlokasi di Sanur. Kenapa Sanur?? Karena Sanur adalah Seminyak zaman dulu, dulu Sanur adalah tempat party dan hectic, namun sekarang sudah berpindah ke Seminyak jadi Sanur lebih adem buat para elderly ini. Makanya kalo ke Sanur banyaknya bule-bule yang udah tua yang mencari ketenangan atau bule-bule yang berwisata dengan keluarga karena mungkin Kuta dinilai kurang aman buat keluarga (ya iyalah ya, kalo lakinya digodain hookers gimana coba, hehe). Mereka gak peduli dengan yoga di Ubud atau dugem di Seminyak.

7. Bule Yoga Melulu

Bule Yoga berbeda dengan bule hippie, bule yoga gak segila bule hippie. Tujuan mereka memang untuk memperdalam yoga atau sedang mengambil teacher training, jadi kerjanya yoga melulu, sehari bisa ambil 3-4 kelas, gila gak itu! Bule Yoga kebanyakan di Ubud, tapi gak menutup kemungkinan di Canggu karena dengan di Canggu juga banyak studio yoga yang oke dan karena Bule Yoga lebih fleksibel dan fun orangnya ketimbang Bule Hippie, Canggu terlalu ‘berisik’ mungkin buat bule Hippie.

8. Bule Senior

Bule Senior maksudnya bukan bule gaek, tapi bule yang udah lama tinggal di Indonesia, baik tahunan atau sudah menikah dengan orang Indonesia. Bule tipe ini sudah lebih mengerti tentang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dari yang sedikit sampai yang lancar dan tau seluk-beluk jalan di Bali. Karena bule ini udah terbiasa dengan beberapa kekurangan sifat orang Indonesia (misal ngaret), mereka jadi lebih toleran, atau malah mereka jadi ikutan ngaret. Ada yang bilang, saking santainya hidup di Bali, bule aja bisa ngaret!

9. Bule Surfer

Bule Surfer menduduki peringkat bule paling seksi menurut Madame Citra Ayu Wardani, hahaha. Mereka dengan kulit terpapar mataharinya dan hobi maen-maen sama ombak, kalo keluar ngegotong papan surfer sambil topless, dan karena olahraga surfing, dadanya biasanya keren dan ‘memanggil’ gitu deh–memanggil buat ditatap. Surfer juga biasanya orangnya asik dan easy-going, gak cuma surfer cowok, tapi juga cewek. Ada yang sudah bekerja sebagai instruktur surfing baik dengan legal dan illegal, hehe. Bule Surfer banyak ditemukan di daerah pantai, seperti Canggu, Uluwatu etc.

10. Bule Start-up/ Digital Nomad

Bali gak cuma sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai tempat kerja impian para digital nomads yang banyak berkembang di generasi millenial. Bali bisa dibilang salah satu pusat start-up di Indonesia, didukung dengan adanya coworking space Dojo dan Hubud yang masuk dalam nominasi coworking space terbaik dan community-oriented di dunia. Thank’s to YouTube yang semakin mengiklankan Bali sebagai lokasi idaman bagi para digital nomads. Banyak yang menemukan rekan kerja atau dapat kerjaan juga di Bali karena berkumpul di pusat digital nomads ini, pekerjaannya juga menarik-menarik dari content creator, programmer, marketer, designer, trader, dropshipper dll.

Tujuan mereka datang ke Bali yang paling utama adalah mencapai digital nomad lifestyle, so mereka bukan yang tipe mencari cinta, spiritual etc. Mereka punya goals dan semangat untuk maju yang kuat tapi juga tetap bisa diajak asik, karena sehabis kerja mereka nyantai ke pantai, tapi kalo lagi kerja ya serius banget. Ini tipe bule yang paling gw suka untuk gw deketin, karena semangat, kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya yang bagi gw menginspirasi. Gua jadi belajar dari mereka ternyata cara nyari duit yang anti-mainstream dan fun itu banyak asal mau kerja keras. Gaya mereka emang santai (tipikal gaya anak startup lah ya…) tapi duitnya oke punya. Namun karena mereka freelancers atau entrepreneur, mereka bukan tipe bule hura-hura, mereka saving money for what might happen in the future.

Bule StartUp bisa ditemukan di daerah Canggu dan Hubud karena dua tempat ini punya coworking yang paling keren dan paling banyak diminati. Paling keren kalo udah programmer terus juga surfer, adududuhhhh… udah lah bang, pasang harga aja, Adek beli! Hahah!

Mereka biasanya tinggal di Bali untuk durasi yang semi-permanent, hitungan bulan sampai tahunan, yah namanya juga nomads, jadi pindah-pindah.

11. Bule Money-Minded

Bule Money-Minded berbeda dengan Bule StartUp, bule ini hanya melihat Bali sebagai ladang investasi. Di otaknya cuma beli tanah atau beli properti, mereka menuntut gimana caranya biar bisa cepat dan mudah beli tanah di Indonesia tapi mereka gak peduli untuk membantu membangun Bali. Mereka cuma bisa complain dan berfikiran buruk tentang orang lokal–walau pun emang sih banyak kasusnya orang lokal yang menipu bule dan bawa lari kepemilikan tanah/ properti karena orang asing hanya bisa beli Hak Pakai untuk 50 tahun unless memakai nama orang Indonesia. Gak sedikit dari mereka yang nikahin lokal hanya untuk bisnis, kadang yang orang lokalnya gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Bukannya gw mau ngejudge ya, tapi gw gak ngerti gimana caranya bisa sayang kalo komunikasi aja gak nyambung, bukan dari masalah bahasa tapi juga dari topik pembahasan.

Bule Money-Minded ini gak peduli untuk berbaur dengan orang lokal kalau gak ada untungnya. Bule ini, ketika mereka memiliki bisnis di Bali, hanya perduli dengan harga tenaga kerja murah. Ini tipe bule yang gua gak suka, pernah di beberapa seminar ketika mereka complain ini-itu tentang Indonesia, gw debat abis. “Lo mau enaknya doank, lo dateng ke Indonesia enggak bayar visa, enggak harus tes kefasihan bahasa Indonesia, mana konversi dolar ke rupiah pula. Nah orang gua, mau bikin negara lo untung aja harus bayar berjuta-juta dulu buat tes bahasa doang. Do we complain? Kagak. Nah sampeyan segala enak, cuma ngikutin peraturan aja gak mau. Lo mau berurusan sama orang Indonesia, tapi buat belajar bahasa orang aja lo gak mau, ya itu sih namanya minta ditipu, Bro/ Mbak’e!” Mereka complain peraturan negara kita susah, woy gak ngaca apa gw ngurus visa buat masuk negara dia liburan aja susahnya minta ampun. Nah kan, jadi esmosi ini gw. Huhah!!

12. Bule Influencer

Karena keeksotisan dan ketenaran Bali, maka banyak travel vloggers atau seleb Instagram dari beberapa negara yang memasukkan Bali ke daftar wajib mereka. Kita mungkin gak kenal mereka, tapi ternyata di negara mereka sendiri mereka mempunya following yang cukup banyak, paling banyak nangkring di daerah Canggu, Seminyak dan Uluwatu. Beberapa yang pernah gw ketemuin langsung adalah Lost Le Blanc, Laura Reid dan alm. Ryker Gambler. Tapi saat itu gw gak tau mereka siapa dan kalau mereka ternyata YouTuber. Kadang tipe bule ini agak annoying sih, bukan tipe bule doank dink, maksud gw tipe manusia jenis ini in general kayaknya emang gak asik di dunia nyata, terlalu self-centered, hehe.

13. Bule Mafia dan Illegal

Bule jenis ini biasanya ngejalanin bisnis dengan cara suap dan bohong, misalnya bekerja atau memperkerjakan sesama bule dengan visa turis di Indonesia tanpa work permit etc. Hampir mirip dengan Bule Money-Minded, namun Bule Mafia/ Illegal juga termasuk orang dengan criminal record di negaranya, misal child predators dan juga orang-orang yang visanya udah habis tapi males ngurus sehingga keberadaan mereka di Indonesia jadi illegal. Gak bisa disalahin merekanya doank juga karena justru negara kita yang kenapa bisa memperbolehkan orang-orang dengan criminal record masuk dengan mudah.

14. Bule Seniman

Bali banyak mengundang hati para seniman dari berbagai negara, dari musisi, penulis, dan pelukis. Beberapa di antaranya memilih menetap dan menikah dengan orang Indonesia dan membuat museum karya-karya mereka, salah satu contohnya alm. Antonio Blanco yang memiliki museum di Ubud. Kebanyakan seniman ini tinggal di daerah Ubud.

15. Bule Heroes

Bule Heroes adalah para bule yang memiliki sifat terpuji dan patut dicontoh. Mereka bener-bener cinta dengan Bali dan Indonesia sehingga mereka banyak membantu lewat charity dan membangun organisasi relawan, dari relawan membantu anak-anak jalanan, binatang terlantar, bersihin pantai, edukasi, dll. Karena jasanya bagi masyarakat setempat, gak sedikit dari mereka yang diberikan gelar adat dari masyarakat Bali.

16. Bule Asia

Bule Asia adalah bule dari negara-negara Asia yang kurang lebih bentuk fisiknya mirip sama kita, kebanyakan berasal dari Thailand, Jepang dan Filipina. Makanya kalau gw lagi jalan-jalan di Bali sendiri, orang lokal selalu mencoba berbahasa Inggris sama gw karena gw disangkanya wisatawan asing.

17. Bule Setengah Bule

Ini adalah bule blasteran dari pernikahan campuran orang Indonesia dengan Bule. Hasil produk blasteran ini emang beda pula pesonanya. Mereka fasih berbahasa Inggris dan Indonesia ketimbang orang tuanya.

18. Bule TKA

Bule ini adalah tenaga kerja asing di Indonesia, mereka bekerja di pulau lain di Indonesia, contohnya pilot-pilot bule yang kerja di daerah-daerah atau yang kerja di perusahaan asing di kota besar lain. Biasanya mereka ke Bali karena kangen dengan western environment, ya maklum lah kita juga kalo tinggal di negara orang juga pasti bakal kangen dengan suasana Asia.

#CADAS2018: Gelandangan di Adelaide

20180521_141248.jpg

Sebagai warga negara dari negara berkembang, gambaran awal gue tentang negara maju seperti Australia adalah rakyatnya makmur sentosa karena negaranya beneran berusaha memberikan yang terbaik buat warganya, pajak tinggi tapi emang bisa dinikmati rakyat, kebutuhan hidup terpenuhi, gak kayak negara kite yang uang buat bikin KTP aja dikorupsi rame-rame.

Australia juga memberikan jaminan pensiunan yang baik untuk warganya, makanya banyak orang-orang tua yang bekerja sebagai volunteer di tempat-tempat seperti museum dll dan gak digaji, karena mereka juga hidupnya udah secured. Dengan gambaran seperti itu, gw jadi gak ngerti kenapa masih gw liat ada homeless people di Adelaide.

Orang-orang ini hidup hanya dengan tas yang berisi kebutuhan hidup untuk empat musim. Mereka menggunakan fasilitas publik untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dengan bis gratis, mandi, buang air dll. Gue disana saat musim dingin, kebayang dong kalo harus berada di luar ruangan terus selama berbulan-bulan di udara seperti itu. So, orang-orang ini kadang curi-curi kesempatan di fasiitas umum seperti perpustakaan, pengalaman yang lucu ketika gw ngeliat orang yang pura-pura ngebaca buku di perpustakaan dengan kacamata yang ada stiker mata, sehingga seolah-olah dia lagi baca buku, padahal numpang tidur, hehe.

Gw penasaran, kok masih ada yang hidup jadi gembel disini dan kenapa gak ada gw temuin gelandangan yang usia anak-anak (beda dengan Indonesia yang gelandangan dari segala umur ada). Berbuhung gw anaknya hiperaktif, jadi gw selalu mencari event yang ada di suatu kota yang lagi gw tempati dari internet, apps yang biasa gw pake untuk menemukan event-event menarik adalah Eventbrite. So, hampir setiap hari selama di Adelaide, gw selalu aja ada event yang gw datengin, dari seminar sampe kelas yoga dan dance dan malah malam perkumpulan orang-orang Arab pun gw datengin (padahal gw bukan Arab!). Salah satu event yang gw datengin adalah charity event tentang homeless people ini dimana komunitas tersebut mencoba menolong para homeless people dengan bantuan makanan, pakaian, sharing skill untuk mencari kerja, atau hanya being someone to talk to, dan sebagai mediasi aspirasi dari apa yang mereka harapkan dari pemerintah. Jadi gw ikutan deh, jarang-jarang kan gw nemu gembel bule-bule, hehe.

Ada sekitar 15 gelandangan yang dikumpul saat itu, sebagian besarnya ras kulit putih dan semuanya berusia dewasa, gak ada usia anak-anak. Saat itu gw bertanya hampir ke mereka semua tentang apa yang terjadi di hidup mereka sehingga mereka bisa di situasi ini, kenapa sampe negara gak bisa menolong lagi. Kesimpulan gw dari para gelandangan ini dan juga informasi dari para volunteer adalah bahwa penyebab kemiskinan paling tinggi di Australia adalah ADDICTION alias penyakit kecanduan terhadap sesuatu, baik itu candu drugs, alcohol dan judi. 

Setiap orang punya alasan masing-masing yang membuat mereka berada di situasi seperti itu, pemicu kebanyakan adalah depresi yang bisa disebabkan karena kejadian buruk di masa lalu atau ketidakpuasaan dengan sesuatu. Salah satu contohnya, ada ibu-ibu yang jadi gelandangan karena korban sex abuse waktu dia masih berumur 18 tahun dan berpuluh-puluh tahun kemudian kejadian itu masih mempengaruhi dia sehingga dia gak bisa fokus bekerja dan mengejar mimpinya, it’s hard for her to get back on her feet, padahal waktu itu dia baru aja keterima kuliah di universitas bergengsi dengan harapan sukses di kemudian hari.

Awalnya, karena gw berasal dari negara yang katanya negara miskin, mendengar alasan kata addiction membuat gw sekilas gak simpati karena gw berfikir, itu kan pilihan lo, lah di negara gw lebih banyak orang-orang yang lebih pantas ditolong karena mereka gak pernah punya pilihan. Tapi sebenernya itu pemikiran yang ignorant, karena just because mereka hidup di negara kaya tidak menjamin kalo hidup mereka terlepas dari masalah.

Addiction memang terdengar seperti pilihan, namun sebenarnya mereka juga helpless. Coba fikirkan kalo aja saat umur begitu belia, kita dikhianatin oleh orang yang kita percaya separah itu, sedangkan gua aja waktu masih 17 tahun enggak dibolehin kuliah di tempat yang gw mau, gw memendam kekesalan itu sampe lebih dari lima tahun, dan itu mempengaruhi gw membuang-buang waktu, uang dan tenaga selama bertahun-tahun.

Alasan kenapa gak ada gelandangan anak-anak adalah karena negaranya punya child care yang baik, kalo ketemu anak gak keurus di jalanan, negara mengambil alih. Namun demikian gak ada yang menjamin anak-anak tersebut bisa terlepas dari kekecewaan setelah mereka dewasa walau pun negara udah berusaha sebisa mungkin.

Depresi bukan lah hal yang sepele. Gak ada orang yang memilih untuk depresi, bahkan Dewi Persik yang gila drama sekali pun. Para volunteer ini sebagian memiliki background yang pernah berhubungan dengan pengidap depresi, entah keluarga atau temannya, jadi mereka membantu para gelandangan ini sebagai mediasi harapan dari para gelandangan ini bagi pemerintah dan masyarakat, memberi donasi atau hanya sebagai somebody to talk to for a night. Karena bisa jadi ada yang berencana mengakhiri hidupnya karena merasakan kesepian dan kegagalan yang mendalam, tapi karena seseorang ‘lending his ears and attention’ bahkan hanya untuk sejenak, itu bisa merubah pilihan orang tersebut.

Cerita dari Afrika Selatan, Ternyata Afsel itu…

IMG-20180723-WA0003

Negara-negara di benua Afrika bukan lah negara destinasi wisata yang umum bagi orang Indonesia, kita juga gak tau banyak tentang benua tersebut, malah banyak yang masih mengeneralisasi benua tersebut sebagai sebuah negara! **Duuh!!

Gua sendiri juga gak tau banyak tentang Afrika Selatan sebelum tenarnya Trevor Noah (komedian dan host The Daily Show dari Afsel yang berketurunan campuran saat apartheid masih berlaku). Dulu gua cuma tau dari World Cup tahun 2010 dimana Afsel adalah salah satu host countrynya. Who had known delapan tahun kemudian gw malah berkesempatan berkunjung ke Afrika Selatan.

Berikut adalah beberapa hal yang ternyata berbeda dengan apa yang orang Indonesia persepsikan tentang Afrika Selatan:

  • Bukan negara miskin!

LOL, selama ini kita selalu aja dapat gambaran yang gak bagus-bagus tentang Afrika, seolah-olah semua negara di benua Afrika adalah negara kismin, penuh kelaparan, jorok, dll. Padahal gak semua negara seperti itu, sama dengan negara-negara di benua Asia, ada yang miskin, STD, dan maju. Afsel mungkin salah satu negara yang maju, pendapatan perkapita mereka menempati urutan ke 76 sedangkan Indonesia berada di peringkat 120 berdasarkan data dari IMF. Capetown, ibu kota legistatifnya, masuk dalam nominasi The Best City to Live In pada tahun 2016. Afsel memiliki tambang emas yang melimpah juga.

  • Negaranya bersih!

‘Miskin’ yang gw maksud mungkin berbeda maknanya kalo dibandingkan oleh pemahaman dari negara-negara barat, bagi mereka mungkin Afsel masih masuk dalam kategori negara berkembang, tapi bagi gw yang datang dari negara yang seperti Indonesia, bagi gw Afsel lebih maju dalam banyak hal ketimbang kita. Salah satu contoh kemajuannya aja adalah kesadaran masyarakatnya untuk gak buang sampah sembarangan. Negaranya bersih banget kalo dibanding Indonesia yang tiap 3 meter ketemu sampah. Gw melewati beberapa slum area (bronx) yang mayoritas dihuni kulit hitam dan salutnya adalah bahwa bahkan slum area nya pun bersih minta ampun! Gak ada sampah berserakan atau bau-bauan (apalagi bau kali keitem-iteman) sepanjang jalan. Bahkan anak kecil aja sadar buat lebih baik ngantongin sampah di sakunya sampai ketemu kotak sampah daripada harus buang sampah bukan di tempatnya. Apa kabar di Indonesia?? Jangan kan buang sampah, lah buang ingus, dahak dan upil aja bisa ditempat umum.

Saat berbelanja juga sangat jarang diberikan kantong plastic, banyak yang membawa tas belanjaan sendiri, penggunaan kantong plastic juga dikenakan biaya tambahan. Udara disana bersih, sehingga jarak pandang pun bisa jauh. Duh, kalo liat yang begini suka jadi ngerasa miris kalo inget negeri sendiri, selama ini kepedean kalo kita lebih ‘maju’ dibanding Afrika (in general), ternyata enggak juga cinnn!

  • Gak cuma kulit hitam, ada kulit putihnya juga!

Inget gak film Mean Girls dimana Lindsay Lohan yang anak baru mengenalkan dirinya yang baru pindah dari Afsel dan anak-anak di sekolah barunya di Amerika menanyakan kenapa dia berkulit putih kalo dia dari Afsel?? Hehe, begitu juga sepertinya persepsi orang Indonesia tentang Afsel, disangka hitam semua! Padahal, sebagai negara ex-apartheid, banyak warga kulit putih juga di Afsel. Mereka sudah menghuni Afsel selama ratusan tahun dari generasi ke generasi. Saat Apartheid berlaku, mereka tidak hidup berbaur dengan warga kulit hitam, namun setelah jatuhnya rezim Apartheid di tahun 1994, sudah mulai terjadi perbauran antar mereka. Walau pun belum sepenuhnya berbaur (yah namanya juga masih baru, baru 24 tahun), tapi gak mesti kalo kulit putih kaya semua atau kalo hitam pasti miskin. Banyak juga kulit putih yang memiliki pekerjaan blue-collar kok, in the end what you can do defines what you will be, not what you’re born with.

11% dari total populasi di Afsel adalah ras kulit putih yang mayoritas berketurunan Belanda, Perancis, Inggris dan Jerman. Dari nama belakang/ nama keluarganya kita bisa tau seseorang berketurunan dari negara mana. Kulit berwarna (termasuk Asia) menduduki 9% dari jumlah populasi, tapi sangat jarang gw temukan orang Asia selain India disana.

Dinamika dan hubungan kedua ras di Afsel menurut gw sangat menarik yang mempengaruhi banyak aspek kehidupan mereka dan punya kesamaan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Nanti gua akan bikin tulisan khusus tentang hal ini.

  • Ada penguin di Afsel!
IMG-20180811-WA0011

Penguins di Boulders Beach

img-20180811-wa0008.jpgSelama ini jujur gw sangka penguins cuma ada di kutub, ternyata gw malah ketemu dan berenang bareng penguins di Boulders Beach, Cape Town! Seneng banget bisa ketemu binatang satu ini karena mereka lucu banget apalagi kalo baca tentang bagaimana setianya mereka kepada pasangannya. Cara jalannya juga lucu banget dengan kaki-kaki pendeknya, dan mereka cuek aja gitu berenang bareng manusia, SWAG banget lah gayanya! Hehe…

  • Afsel juga punya musim dingin

Ketika gua memberi tahu teman-teman gua kalo gua akan ke Afsel, salah satu reaksi mereka adalah disangkanya gua mau pergi berjemur, hehe. Padahal Afsel memiliki musim dingin juga, di beberapa daerah malah mencapai di bawah 0 C. Gue emang udah ditraining musim dingin saat sebelumnya ke Australia, tapi ini jauh lebih dingin dan windy. Beberapa hari gua harus make baju empat sampai lima lapis! Haha

Kalo dulu gua ngeliat negara luar yang punya lebih dari dua musim sempet iri, karena kalo liat fashionnya kayaknya seru aja gitu. Jadi gua udah mempersiapkan baju-baju kece buat musim dingin, nyatanya ketika berada di udara seperti itu, mana kepikiran lagi buat tampil kece! Yang penting hangat, dan buat gua bener-bener kangen Indonesia, gua bener-bener gak suka musim dingin!!

IMG-20180811-WA0000

Satu-satunya hari gua bisa pake baju satu lapis doang, itu pun cuma bertahan 4 jam, abis itu dingin lagi.

  • They have no idea about Indonesia

Sama seperti kita yang juga awam tentang negara mereka, mereka juga buta dengan yang namanya Indonesia, mungkin saat gua bilang gw orang Indonesia adalah pertama kalinya mereka mendengar kata itu. Bahkan saat gua sebut nama Bali pun, masih banyak yang gak tau Bali itu apa, khususnya orang kulit hitam dan berwarna. Orang kulit putih lebih banyak yang tau tentang Bali karena mereka surfing (well, surfing is more like a white people’s thingie, kayaknya gua gak pernah deh liat orang kulit item surfing, di Bali or Afsel. Kalo di Afsel, karena sebelumnya orang kulit hitam dilarang memasuki pantai-pantai tertentu pada masa apartheid.). Gak cuma tau tentang Bali, tapi surfers juga tau tentang Mentawai, tapi malah gak tau Indonesia. Hahaha… Sampai-sampai waktu itu di sebuah resort gua menemukan cangkir yang tulisannya ‘Made in Indonesia’, lalu gua bilang “That’s where I’m from.”

Gua juga jarang menemukan orang yang mirip gw, I mean, kulit berwarna memang ada (hasil dari kawin campur), tapi mereka kan bukan terlihat seperti gua walau pun warna kulitnya hampir mirip. Sedangkan di Australia, masih ada orang-orang yang mirip gw karena lebih dekat dengan Asia. Jadi orang-orang disini pun bingung gua ini apa, karena gua bukan terlihat seperti chinese dan bukan indian, bukan juga timur tengah. Ada seorang penjaga toko yang bilang ke gw, “You’re racially ambiguous.” Haha, you just haven’t seen enough Asians, girl!

Selain warna kulit dan bentuk wajah, kayaknya bentuk tubuh gw disana juga jarang. Biasanya wanita kulit hitam dan berwarna disana badannya lebih gemuk-gemuk pake banget, saat masih remaja badannya pada bagus-bagus kayak Beyonce zaman dulu, alhasil karena badan ini gw sering disangka masih anak kecil, padahal gw udah 28 tahun masbro dan mbak’e!

  • Harga barang-barang elektronik yang mahal banget

Konversi rupiah ke mata uang Afsel (Rand) gak terlalu tinggi gap nya seperti dollar lainnya, 1 Rand nya berkisar Rp 1000,-an, so menurut gw sih biaya hidup untuk makan dan transportasi gak terlalu mahal banget, masih agak sama dengan beberapa daerah wisata di Bali. Kalo dibanding dengan harga makanan di Adelaide, kurang lebih setengah harga di Adelaide. Tapi untuk produk seperti pakaian dan elektronik, harganya mahal pake ampun. Bisa dibilang kita masih beruntung sebagai negara buruh, jadi harga barang gak mehong-mehong amet karena manufactured in Indonesia.

Di Indonesia, TV flat screen bukan barang mewah, di angkot aja banyak. Sedangkan di Afsel harga TV sekitar 20 jutaan, gak semua orang bisa gonta-ganti HP kayak di Indonesia karena disana harga HP dan internet gak murah. Makanya beberapa kenalan gua yang orang Afsel dan kerja di Indonesia pada gila beli kamera dan barang-barang elektronik disini. Kamera yang disini harga 10 juta, disana harganya bisa 30 juta, ajegile! So, kalo mereka balik ke negara mereka, mereka pada buka jasa titip beli, yang mana harganya lebih murah dari harga toko di Afsel walau pun udah di mark-up 2 kali lipat, lumayan kan buat ongkos tiket pesawat, haha.

FB_IMG_1533930135096