How to Get the Most Out of Scribd’s One-Month Free Trial


Scribd is a free social sharing and publishing service you can use to get your various documents out to the world, and as a reader, you can download so many great docs with an exchange of uploading another document or with monthly subscription to access unlimited files ranging from books, docs, texts, audiobooks, newspaper articles. It has been one of my major sources to get the books I need to read in my journey to study both fashion design and graphic design for free.

I think, compared to other online libraries, Scribd’s service is the most generous of all. I limit myself to subscribe to many sites or platform unless I really need to, like online courses (I’m now subscribing to Skillshare with 2-month free and member-get-member free months, haha I’m so cheap!). And I know how annoying it is when you’re searching for a document/ book then to access it you  have to register to a questionable site, giving access to your credit card and then it’s complicated to cancel subscription.

However, I need the documents, especially right now. With Scribd, I can get the documents but I have to upload something that’s worth reading if I don’t pay for membership, and I’ve come to the points where I got tired of browsing my whole folders to find something to upload, meanwhile so many design books I wanna get from the site. And if you’re not a member, you get access to documents only, not for books and audiobooks. Meanwhile with paid membership of $8.99/ month, you get unlimited access, no need to upload docs anymore, instant download and easy user interface.

So I decided to register, this is my first time signing up to an online library because I saw that Scribd has a good credibility of not sucking your money without your permission. As a first-time member, I got one month free trial and can cancel anytime.  So I was thinking that I would download as many as possible then cancel when it’s close to one-month end. You probably think that it could be a waste, what if you dont have time during the month and other considerations, so here’s my tips how to make the most out of your one-month free-trial:

  1. Know what you’re looking for and make the list

I decided to register because right now I’m studying graphic design so I’ve collected book recommendations from Youtube and googling, what books I need to read for the study. Then I started downloading everything from the list which I found 85% of them from Scribd. When you’re gonna read them?? Doesnt matter when, you dont need to wait until you finish one book, just download everything while you still have time. Sometimes I also got good book recommendations from Scribd from its “You Might Also Like” section.


YASS!! This is the best that I love so much about Scribd, it has audiobooks too! Learning and sitting in front of my laptop all day can make my eyes dry and tired, so I need to rest my eyes but also need to make the most of my time. Or sometimes I just feel like I wanna read but I dont wanna/ cant focus attention to books/ ebooks. I’ve finished many books in a week compared to if I have to read by myself, I might have to take longer time to finish just one book. I’ve listened to Eric Ries’ “The Lean Startup”, Mark Manson’s “The Subtle Act of Not Giving A Fuck”, biography of Elon Musk, and some other memoirs and start-up related that I haven’t finished (saved for later).

3. Pause Subscription

I wish I knew about this before it’s close to the end of my one-month free trial that we can actually pause our subscription up to 12 weeks, so Scribd won’t charge us during those time. And we can resume anytime. For example, I paid for August but after looking at my schedule, I realized I wouldn’t have time to read for the 2nd and 3rd week. So I can set pause it until the 4th week to resume and Scribd doesnt count those two weeks. This is so cool and I wish other online services will follow this too!

4. Set your alarm

Bad reviews sometimes come from people who can take the blame for themselves when they’re the only one who forgot to cancel before the due date and get annoyed that they don’t get notification closer to the free trial end date. I mean, come on, they already give you one-month free access, and you want them to set the alarm for you too? Cant  you just remind yourself to cancel before it starts to charge?? Unless the site makes it complicated to cancel the plan, then it’s their fault. So set a reminder a week earlier, just in case it’s gonna take some time to process the cancellation.

5. Share the membership with other people you trust (family and friends)

One account for many, like your kids, friends, and family. Isn’t it nice if your little kids start listening to audiobooks too?

I guess the key to any subscription (whether it’s gym membership, online course, etc) is to really know what you’re looking for and to be sure whether you’re gonna have time to use it or not. The only one who can answer those questions is you. And in my opinion, I don’t mind paying $8.99 when I can read these many books (of course I have to finish in a month if I dont want to pay more for the subs). It’s much cheaper if compared to buying each book and nobody reads it for me. Hehe.


Pengalaman Terbang dengan Ethiopian Airlines


Penampakan dalam pesawat Ethiopian Airlines

Perjalanan ke luar negeri kedua gw di tahun ini adalah ke Afrika Selatan di akhir bulan Juli sampai Agustus kemaren. Biar lebih berasa African trip, jadi gw pilih airlinesnya juga yang Afrika-afrika gitu deh, yaitu dengan Ethiopian Airlines karena gw juga mau coba-coba airlines setelah sebelumnya terbang dengan Singapore Airline waktu ke Australia.

Selain itu juga karena waktu itu harganya lagi promo karena penerbangan gw saat itu adalah penerbangan perdana maskapai ini di Indonesia, makanya waktu gw berangkat, ada acara ceremonial dulu di pintu gate keberangkatan (dari pembuka oleh para manager dan tari-tarian Ethiopia gitu deh) dan penumpang yang berangkat hanya 40 orang, itu pun 90% para keluarga dari si manager tersebut. Yang orang Indonesia saat itu hanya gw dan satu orang lagi, selebihnya warga kulit hitam semua. Karena cuma 40 orang, jadi gw bebas pindah tempat duduk dan tidur selonjoran, hehe.

Penerbangan ke Afrika Selatan dari Indonesia totalnya adalah 22 jam terbang dengan dua kali transit, di Bangkok dan Addis Ababa. Transit di Bangkok penumpang tidak turun dari pesawat, karena hanya menaikkan penumpang lain dari Bangkok ke Ethiopia, hanya di Addis Ababa kita ganti pesawat. Ini adalah penerbangan terlama selama hidup gw selama ini, walau pun bisa dibilang pesawatnya nyaman, tapi gak kebayang sampe umur berapa gw kuat terbang lagi selama itu, haha!


Pilihan makanan utama: beef, chicken, and fish. Gak ada pilihan menu B2 (alias pork).

Pesawat yang digunakan adalah pesawat yang besar dengan susunan bangku 3-4-3, layaknya pesawat penerbangan internasional. Untuk kualitas pesawat dan service, bisa dibilang sih kurang lebih sama dengan Singapore Airlines. Kenyamanan tempat duduknya dengan space kaki yang lebih luas dan manusiawi (kalo dibanding budget flights like Lion Air or Air Asia, haha) atau mungkin juga karena bule–apalagi orang kulit hitam–kan badannya gede-gede, jadi emang standarnya segitu, sedangkan untuk gw yang orang Asia, segitu sih udah nyaman dan luas (karena kebiasaan pake penerbangan murah sih ya, haha).


Setiap bangku juga dilengkapi dengan in-flight entertainment yang sama persis alatnya dengan Singapore Airlines. Kita juga bisa pake USB dari device pribadi dan bisa ngecharge laptop dan hp (ada colokan listrik juga di bawah kursi). Perbedaannya isinya gak se-up-to-date Singapore Airlines, dan kebanyakan isinya film Afrika walau pun menggunakan bahasa Inggris. Makanannya pun juga enak-enak seperti Singapore Airlines, kita gak akan kelaparan karena dibagikan makan setiap penerbangan dan pramugari rajin mondar-mandir nawarin minuman. Bagi gua terasa berbeda kalo dibanding dengan Singapore Airlines adalah:

  1. Kurangnya variasi konten di in-flight entertainmentnya,
  2. Pramugarinya gak se-ramah dan gak peduli penampilan seperti pramugari Asia. Mereka baik sih, cuma gak murah senyum seperti orang Asia. Dan kalo pramugari Singapore Airlines, mau penerbangannya selama apa juga mereka penampilannya tetep rapi dan klimis, sedangkan pramugari Ethiopian Airlines lebih cuek dengan penampilan, layaknya orang yang sedang travelling, rambut mereka kadang sama kusutnya dengan rambut gw, haha, jadi gw merasa ada temennya gitu.
  3. Penumpangnya kebanyakan orang kulit hitam, such an experience juga sih buat gw. Gw ngerasa kulit gw ini udah hitam eksotis, ternyata gw malah yang paling putih di pesawat itu (untuk standar kulit berwarna, hehe).

Bayi yang entah kenapa ngeliatin gw terus dan minta foto sama gw, disangka badut kali yak!

Seragam pramugarinya tidak menggunakan rok, mereka pakai celana dan kalo lagi mondar-mandir nawaran makanan-minuman, mereka pakai celemek. Jadi kerasa banget bahwa pekerjaan utama mereka adalah safety and service, gak kayak pramugari di Indonesia yang kebanyakan belagu gitu ya, hehe. Berbeda dengan pramugari Singapore Airlines yang badannya sumpah kecil banget, pramugari Ethiopian Airlines badannya lebih besar dan tinggi, mukanya eksotis gitu dengan matanya yang besar dan tulang rahangnya yang tinggi. Yang gw kurang suka sih style makeupnya, menurut gw style makeupnya lebih tebal dan pake warna lipstik yang gonjreng, gw sih kurang suka yang begitu, tapi ini selera pribadi ya…

Waktu di pesawat, gw sempat ngobrol-ngobrol dengan beberapa penumpang dan ternyata bagi mereka cewek yang cantik itu yang badannya besar dan tinggi, so mereka gak mengerti kenapa cewek Asia (especially Thailand) pada pingin punya badan sekecil mungkin, terlebih lagi mereka gak tinggi. Haha, tiap negara emang punya definisi cantik yang berbeda!

Overall gw punya impression positif untuk Ethiopian Airlines, tapi mungkin kalo gw terbang ke Afrika Selatan lagi gw akan mempertimbangkan Singapore Airlines aja karena maskapai tersebut memilik direct flight yang cuma 10 jam aja dongs…

Belajar Online di Skillshare dan Udemy dengan Murah


Banyak online learning platform yang bisa ditemukan di internet, dari yang berbayar seperti Udemy sampai yang gratisan seperti YouTube. Enak memang belajar dari YouTube karena gratisan, tapi karena gw mengerti tipe cara belajar gw, gw memutuskan untuk ambil beberapa course di Udemy dan Skillshare.

Salah satu kekurangan gw–atau mungkin kelebihan–adalah gw gak bisa belajar atau melakukan sesuatu tanpa struktur, patokan dan aturan. Kalo gw baca buku aja gw gak bisa ngelompat-lompat halaman walau pun bukunya antologi cerpen. Beberapa kekurangan belajar di YouTube adalah:

  • Gak ada struktur, pembuat konten membuat konten based on demand, seringnya semua materi dirampung dalam video-video QnA. Dari topik di level satu, langsung loncat ke level 12, loncat lagi ke level 4.
  • Gak ada standar penyampaian pengajaran, maksudnya seperti kualitas audio dan video, karena juga gak ada tim yang mereview. Mau YouTuber-nya kebanyakan ngomong “Uumm…”  atau keseringan ngibasin rambut, juga kita cuma bisa terima-terima aja, hehe.

Hal kayak gini membuat gw puyeng kalo lagi mempelajari dasar dari sesuatu, kalo dasarnya aja udah gak bener, ke depannya bakal susah. Mereka yang mengerti flaw dari YouTube ini membuat platform yang khusus untuk yang mau belajar dan mengajar online. Gak cuma Udemy dan Skillshare, ada banyak seperti Coursera, Lynda, Duolingo dll. Gw pernah coba beberapanya, namun sekarang yang lagi aktif gw pelajari ada di Udemy dan Skillshare. Masing-masing platform memiliki business model dan target market yang berbeda-beda, jenis courses yang ada pun berbeda-beda. Udemy dan Skillshare bisa dibilang hampir mirip, karena banyak kelas di bidang-bidang kreatif ketimbang situs yang lain, pengajar yang ada di Udemy juga kadang buka kelas di Skillshare.

Yang paling berbeda antara Udemy dan Skillshare adalah business modelnya dimana Udemy jenisnya pay per course (bayar per kelas) sedangkan Skillshare dengan langganan perbulan. Harga kelas di Udemy banyak yang diskon sampai menjadi $10, bisa juga cari kupon diskon di situs-situs diskon, kayak yang gw lakukan ketika mengambil kelas digital illustration dan fashion technical drawing. Kelas yang dibayar bisa diakses selamanya. Sedangkan di Skillshare, dengan biaya bulananan $8 – $15, kita bisa belajar apa aja sepuasnya ambil kelas sebanyak-banyaknya selama kita gak berhenti subscription. Enaknya lagi, kita dapat one-month free trial, atau cari kupon biar bisa dapet promo gratis 2 bulan atau 3 bulan hanya dengan $0.99. Subscription bisa dicancel kapan aja.

Jadi mana yang lebih murah?? Tergantung. Tergantung seberapa sering kamu bisa meluangkan waktu dalam tiap bulannya untuk belajar. Sekilas mungkin Skillshare kedengaran lebih murah, karena cuma bayar satu kali dalam sebulan. Padahal, kalo kamu gak punya waktu untuk belajar dalam satu bulannya atau cuma mengambil satu kelas dalam sebulan (itu pun gak diselesaikan), ya sama aja rugi. Karena kelas-kelas yang ada Skillshare umumnya berdurasi lebih pendek-pendek, karena dipecah-pecah per materi, jadi cuma 35 menit sampai 1 jam per kelas. Sedangkan di Udemy kebanyakan berdurasi lebih panjang.

Di kedua situs kita juga bisa liat trailer video dulu buat lihat tipe pengajar dan bahan ajarnya seperti apa, kalo gak cocok ya tinggal cari guru yang lain. Menurut gw sih, untuk bidang yang gw mau pelajari, banyaknya yang tersedia di tingkat Basic sampai Intermediate, yang Advanced jarang (gak tau ya kalo bidang lain, seperti coding, gimana). Yaiyalah ya bro, kalo mau master mah bayar kuliah, hehe.

Menurut gw sih, kalo kita udah mengerti dasar, kita jadi mudah kalo mau belajar dari YouTube. Kita bisa search sesuai kebutuhan kita, sedangkan kalo bener-bener belajar dari nol, kita jadi bingung mana yang harus dipelajari duluan kalo langsung terjun bebas ke YouTube. Makanya gw kalo belajar dasar dari sesuatu biasanya berulang-ulang dan dari banyak guru, karena setiap orang punya ilmu dan teknik yang berbeda-beda. Seperti waktu belajar patternmaking pun, dari penjahit gak tamat SD sampe yang designer lulusan luar negeri pun gw mau belajar. Di Skillshare dan Udemy, gw juga ambil kelas basic patternmaking lagi karena pasti ada sesuatu yang mereka lakukan berbeda, walau pun hanya dalam 10 menit. Tambah lagi karena kebanyakan pengajarnya adalah orang luar, standar mereka pasti berbeda.

Enaknya di Skillshare, karena biayanya bulanan, jadi kita bisa patungan sama temen, satu akun buat rame-rame. Yah kalo $15/month tapi yang make 15 orang mah ya gak rugi dong ya…. hehe.

Dan pastikan guru yang kita pilih memang kredibel di bidangnya, atau seenggaknya, tahu cara mengajar (pinter tapi kalo gak bisa ngajar juga percuma). Alasan kenapa gw memilih kelas Technical Drawing for Fashion Design di Udemy adalah ya karena guru yang gw suka adanya di Udemy.

Oia, semua kelas menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (namanya juga platform internasional), jadi pastikan kamu seenggaknya memiliki kemampuan bahasa Inggris pasif yang mumpuni, atau bisa sekalian juga buat latihan listening Bahasa Inggris kan, hehe.

Gw pribadi sih merasa puas dengan kelas-kelas yang gw ambil dan waktu yang gw luangkan untuk belajar dari orang-orang ini. Menurut gw biaya segitu gak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang gw dapat, karena dengan belajar dari mereka gw bisa ngehasilin duit lagi dengan skill yang baru. Juga, kalo dibandingkan dengan biaya belajar offline (misal ambil kursus di kota tempat kita tinggal), belajar online masih sangat-sangat jauh lebih murah. Gw tau persis karena salah satu kelas yang gw ambil itu biayanya jutaan untuk satu kali pertemuan di salah satu tempat pembelajaran di Bali (itu baru di Bali, belom yang di Jakarta!), pengetahuan dan pengalaman pengajarnya masih dipertanyakan.

So, kalo kamu punya waktu luang, apalagi buat mamak-mamak muda atau karyawan yang kerjaanya masih agak santai, gak ada salahnya ngeluangin waktu buat belajar di internet, ketimbang hal-hal yang kurang bermanfaat kan 😀

#CADAS2018 Day 1: Ke Australia dengan Singapore Airlines

It was the 14th of May 2018, my Mom and I were ready to fly to Adelaide, South Australia. YEAY! Tiket pesawat yang kami beli waktu itu sedang di harga promo, hanya Rp 6.500.000 untuk return tickets kelas ekonomi per orangnya dengan maskapai Singapore Airlines. Lagi hoki juga ini, karena kalo dibanding dengan AirA*ia harganya sama tapi gak dapet makan nekkk… giling aja penerbangan 8 jam gak makan-minum, hehe.


my mom doesnt really like camera –-..–“

Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Singapore Airlines, maklum lah kere. Dan ternyata, pengalaman pertama gua ini membuat gw memberikan nilai A+ buat Singapore Airlines untuk servis dan fasilitasnya! Highly recommended untuk melakukan penerbangan panjang. Penerbangan kami menuju Adelaide melalui transit di Singapore. Penerbangan dari Jakarta ke Singapore selama 1,5 jam dan Singapore ke Adelaide 6 jam.

Pesawat yang digunakan adalah tipe Airbus yang gede itu, jadi susunan bangkunya bukan 3-3 melainkan 3-4-3. Enggak kayak budget airlines yang jarak antar bangkunya mepet sangat, Singapore Airline seperti Garuda Indonesia yang lebih luas dan manusiawi, hehe. Mungkin udah standarnya kalo maskapai nasional begitu ya.

Setiap bangkunya mendapatkan screen TV untuk entertainment yang berisi musik, podcasts, film, TV series dan game. Judul-judul film dan TV series yang tersedia juga keren-keren lho! Selama penerbangan gw menonton beberapa TV series dan film, salah satunya All the Money in the World yang terinspirasi dari kisah nyata. Di bawah layar, ada remote yang bisa digunakan juga sebagai stick untuk main games.

20180525_170455Yang paling gw suka selama penerbangan dengan Singapore Airlines adalah gw gak pernah kekurangan makanan, ibarat perbaikan gizi dalam pesawat, dan makanannya bisa dibilang enak untuk standar masakan pesawat, bukan sekedar makan. Makanannya selalu lengkap dengan dengan makanan utama, side dish, drinks, dan desert. Malah di perjalanan siang hari, kami juga diberikan ice cream seperti Con*llo gitu. Pramugari/a nya telaten putar-balik buat nawarin minuman, jadi gak akan kehausan. Kayaknya sih udah habis susu satu kotak untuk gw doank, haha. Maklum kak, perbaikan gizi. :p

Sebelum terbang kita diberikan handuk hangat buat bikin fresh, begitu juga setelah beberapa jam di pesawat. Beda banget dengan fligt attendant Indonesia (kecuali Garuda Indonesia–apalagi maskapai L*on Air) yang attitudenya ampun dah dan mukanya dipelintir tanpa senyum, flight attendant Singapore Airline sangat ramah-ramah, attentive dan sopan banget. Selalu mengucapkan ‘thank you’ dan ‘excuse me/ sorry’, berasa banget jiwa ‘service’ mereka memang ada, bukan sekedar jadi pekerjaan keren-kerenan.

Setelah total 7,5 jam perjalanan dan transit 1 jam, tanggal 15 May 2018 pagi kami sampai di Adelaide International Airport. Udara dingin langsung menusuk walau pun baju udah tebal, mata gw sampe berair saking dinginnya, sebenernya sih sekitar 13 C – 17 C, tapi gw kan manusia iklim tropis banget, sedangkan di Ubud aja bisa menggigil! Oia, ada yang menarik ketika baru sampai di airport, gw menemukan adanya daerah bernama Younghusband di Australia! Waduh, kira-kira apa ya yang kita bisa temukan di daerah itu?? I still prefer older guys though, no brondong, hihi!


Finecolour: Twin Marker Pemula Alternatif Copic


Semenjak beli twin marker merk TouchFive di akhir tahun 2017 yang lalu (baca reviewnya disini–Red), gw sudah lebih sering menggambar menggunakan spidol dibanding alat pewarna yang lain, berhubung juga karena tuntuan pekerjaan (*duilee…).

Walopun suka seni, tapi kemampuan gw hanya a lil’ bit of everything, termasuk menggambar, jadi gw termasuk level pemula lah ya… Untuk orang-orang seperti gw, yang pemula atau keterbatasan dana, lebih baik mencoba dengan alat gambar yang gak mahal-mahal dulu, makanya kemaren gw memutuskan untuk beli twin marker merk TouchFive yang harga set 60 warnanya masih terjangkau sama gw, itu pun gw beli secondhand udh sama buku gambar Canson dengan hanya Rp 400.000.


Namun akhirnya gw tergiur dengan merk Finecolor karena color rangenya yang lebih banyak, dan blending warnanya lebih smooth daripada merk TouchFive walau pun keduanya berasal dari negara yang sama alias Cina (yaiyalah ya, wong beda harga). Sama seperti TouchFive, Finecolor adalah alcohol-based marker yang lebih murah daripada Copic –>> twin marker kasta bangsawan, per piece nya harga Rp 45.000! Selain harga, perbedaanya dengan TouchFive adalah Finecolor bisa dibeli satuan sedangkan TouchFive dan TouchNew harus per set. Sepertinya, kalo diurut berdasarkan kasta, kasta tertinggi setelah Copic adalah Finecolour, disusul TouchNew dan terakhir TouchFive.

Twin marker Finecolour ada dua variant, yang casenya warna hitam dan warna putih. Yang warna hitam harganya lebih mahal, Rp 25.000, karena ada brush nib yang lebih empuk dan enak digunakan untuk hasil yang lebih smooth. Sedangkan yang warna putih, harganya Rp 15.000/ piece. Karena saking sukanya sama range warnanya, jadi gw udah mulai nyicil mengkoleksi Finecolour, namun baru mampu yang warna putih aja, itu pun rasanya udah tekor karena dibanding pembelian twin marker sebelumnya.

Kalau dari penampakan luar, design twin marker hampir-hampir mirip satu sama lain, dengan nama dan nomor warna tertera di ujung-ujung tutup spidol. Perbedaannya dengan TouchFive, kepala tutupnya berbeda bentuk pada masing-masing ujung untuk membantu memudahkan pengguna membedakan mana yang broad nib dan nib yang lancip. Tutup spidol bagian broad nib bentuknya kotak, sedangkan yang lancip berbentuk oval. Di bagian badan spidol juga diberikan tanda garis abu-abu untuk ujung yang lancip. Hal ini mungkin terkesan remeh-temeh, tapi membuktikan kualitas produsen yang memikirkan kenyamanan penggunanya dengan mendetail.


Alasan utama kenapa awalnya gw membeli Finecolour adalah karena mencari tone kulit yang lebih natural. Variant warna kulit dari set TouchFive yang gw punya terlalu pink dan gradasi warna kurang lengkap.


Perbedaan ukuran nib. Atas: TouchFive, tengah: Finecolour Rp 25.000, bawah: Finecolour Rp 15.000


Perbandingan tone warna kulit merk TouchFive dan Finecolour. Tone kulit merk Finecolour gw kurang lengkap karena warna-warna yang gw mau ada yang sold-out.

Finecolour juga lebih mudah ditemukan di art supply shops di Bali (entah lah ya kalau di Padang), atau juga bisa beli satuan via online, tapi gak enaknya gak bisa dicoba dong ya, hiks!

Overall, untuk beginner’s level, twin marker ini recommended banget. Tapi kalo kalian emang hobi banget gambar dan menggambar hampir setiap hari, mendingan dicicil langsung merk Copic, karena kelebihan Copic bisa di refill tintanya, sedangkan merk lain harus beli lagi.

Happy playing with colors, guys!

Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia


Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

  1. BukaBuku

Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

2. BukuKita

BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

3. Periplus

Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

4. Books and Beyond

Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

5. Book Depository

Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!