#CADAS2018 Day 1: Ke Australia dengan Singapore Airlines

It was the 14th of May 2018, my Mom and I were ready to fly to Adelaide, South Australia. YEAY! Tiket pesawat yang kami beli waktu itu sedang di harga promo, hanya Rp 6.500.000 untuk return tickets kelas ekonomi per orangnya dengan maskapai Singapore Airlines. Lagi hoki juga ini, karena kalo dibanding dengan AirA*ia harganya sama tapi gak dapet makan nekkk… giling aja penerbangan 8 jam gak makan-minum, hehe.

20180514_191103.jpg

my mom doesnt really like camera –-..–“

Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Singapore Airlines, maklum lah kere. Dan ternyata, pengalaman pertama gua ini membuat gw memberikan nilai A+ buat Singapore Airlines untuk servis dan fasilitasnya! Highly recommended untuk melakukan penerbangan panjang. Penerbangan kami menuju Adelaide melalui transit di Singapore. Penerbangan dari Jakarta ke Singapore selama 1,5 jam dan Singapore ke Adelaide 6 jam.

Pesawat yang digunakan adalah tipe Airbus yang gede itu, jadi susunan bangkunya bukan 3-3 melainkan 3-4-3. Enggak kayak budget airlines yang jarak antar bangkunya mepet sangat, Singapore Airline seperti Garuda Indonesia yang lebih luas dan manusiawi, hehe. Mungkin udah standarnya kalo maskapai nasional begitu ya.

Setiap bangkunya mendapatkan screen TV untuk entertainment yang berisi musik, podcasts, film, TV series dan game. Judul-judul film dan TV series yang tersedia juga keren-keren lho! Selama penerbangan gw menonton beberapa TV series dan film, salah satunya All the Money in the World yang terinspirasi dari kisah nyata. Di bawah layar, ada remote yang bisa digunakan juga sebagai stick untuk main games.

20180525_170455Yang paling gw suka selama penerbangan dengan Singapore Airlines adalah gw gak pernah kekurangan makanan, ibarat perbaikan gizi dalam pesawat, dan makanannya bisa dibilang enak untuk standar masakan pesawat, bukan sekedar makan. Makanannya selalu lengkap dengan dengan makanan utama, side dish, drinks, dan desert. Malah di perjalanan siang hari, kami juga diberikan ice cream seperti Con*llo gitu. Pramugari/a nya telaten putar-balik buat nawarin minuman, jadi gak akan kehausan. Kayaknya sih udah habis susu satu kotak untuk gw doank, haha. Maklum kak, perbaikan gizi. :p

Sebelum terbang kita diberikan handuk hangat buat bikin fresh, begitu juga setelah beberapa jam di pesawat. Beda banget dengan fligt attendant Indonesia (kecuali Garuda Indonesia–apalagi maskapai L*on Air) yang attitudenya ampun dah dan mukanya dipelintir tanpa senyum, flight attendant Singapore Airline sangat ramah-ramah, attentive dan sopan banget. Selalu mengucapkan ‘thank you’ dan ‘excuse me/ sorry’, berasa banget jiwa ‘service’ mereka memang ada, bukan sekedar jadi pekerjaan keren-kerenan.

Setelah total 7,5 jam perjalanan dan transit 1 jam, tanggal 15 May 2018 pagi kami sampai di Adelaide International Airport. Udara dingin langsung menusuk walau pun baju udah tebal, mata gw sampe berair saking dinginnya, sebenernya sih sekitar 13 C – 17 C, tapi gw kan manusia iklim tropis banget, sedangkan di Ubud aja bisa menggigil! Oia, ada yang menarik ketika baru sampai di airport, gw menemukan adanya daerah bernama Younghusband di Australia! Waduh, kira-kira apa ya yang kita bisa temukan di daerah itu?? I still prefer older guys though, no brondong, hihi!

20180515_060850.jpg

Advertisements

Feb’s Faves: Skincare Drugstore & Organic Murah

cIMG_2037

Semenjak di Bali kemaren, hasrat belanja skincare organic dan drugstore gw terpenuhi karena banyak pilihan tersedia, gak seperti di Sumatra Barat atau Lampung dulu. Yang pasti gw selalu mengincar yang se-natural mungkin dan anti beli yang mahal, dulu gw udah pernah coba produk-produk dari yang mahal sampe yang murah gak jelas karena cuma jadi korban marketing. Dengan pengetahuan yang udah lebih mumpuni, udah fixed deh yang natural memang lebih baik dan cantik–walau pun harus bermodal–gak mesti mahal. Beberapa produk ini udah gw pake selama 2-3 bulanan, so here’s why I like them:

  1. Energizing Day Cream by Himalaya

IMG_2046

Gw emang udah lama banget nyari day cream yang cocok, selama ini pake produk dari Acnes dan BioDerma tapi ngerasa kurang greget karena gak mengandung pelindung dari sinar UV, terlalu ringan untuk di umur aku yang telah meninggalkan usia belia ini, haha… Pertama kali beli agak ragu karena harganya agak mahal juga sih dan packagingnya gak travel friendly, tapi setelah dipakai hasilnya lumayan oke, creamnya cepat meresap dan menahan minyak lebih lama dibanding dua merk sebelumnya.

2. Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Gw udah ngefans banget lah ya sama brand ini, khusus untuk body butternya gw udah pernah review di postingan sebelumnya, bisa dicheck disini.

3. Face Serum Mineral Botanica

IMG_2043

Face serum ini ternyata penting banget agar manfaat cream-cream setelahnya terserap dengan baik dan lebih maksimal. Sebelumnya gw pake pre-serum dari The Body Shop dari rangkaian Drops of Youth dan gw udah menggunakan itu bertahun-tahun, tapi hanya dipake untuk ritual malam aja, karena mahal ciiinn… jadi pemakaiannya diutamakan di malam hari aja, nasib miskin memang begini lah.. haha. Terus ketemu dengan face serum dari Mineral Botanica ini, ada dua varian face serum; acne untuk wajah berjerawat dan brightening yang fungsinya untuk mencerahkan dan anti-aging. Jangan tertipu dengan kata brightening-nya dan berharap kulit bisa jadi putih, karena sebenarnya yang dimaksud adalah membuat kulit lebih fresh dan lebih kencang.

4. Castor Oil Utama Spice

IMG_2040

As you may know, gw penggemar body oil, dari VCO, olive oil, rose hip oil, dll. Utama Spice yang produk-produknya banyak menggunakan bahan minyak alami adalah salah satu incaran gw. Salah satunya adalah castor oil yang baru gw coba dan baru pertama kali denger tentang castor oil. Castor Oil berasal dari tanaman Riccinus Communis ini memiliki keistimewaan di antaranya:

  • Mengangkat kotoran sisa make-up (bahkan yang waterproof)
  • Low comodogenicity, artinya tidak beresiko menimbulkan komedo/ jerawat
  • Baik untuk rambut dan kulit kepala yang kering
  • Dapat digunakan sebagai pelarut maskara yang kering

5. Baby Skin Pore Eraser by Maybelline

IMG_2045

Cocok untuk bagian hidung yang lebih mudah oil, sebelumnya gw pernah pake Wonderblur dari The Body Shop, tapi mehong bo’… Ternyata produk dari Maybelline ini gak jauh beda kualitasnya, bikin bagian hidung jadi smooth banget dan oil control lebih lama dibanding hanya dengan menggunakan moisturizer aja. Pore erasernya ini diambilnya sedikit aja dan dioleskan hanya dibagian yang pori-porinya lebih terbuka.

6. Micellar Cleansing Water by Garnier

IMG_2041

Micellar water udah booming banget semenjak diperkenalkan oleh Bio Derma yang harganya mahal banget. Emang bener sih, micellar water ini emang terobosan baru yang lebih mengangkat kotoran muka bahkan setelah cuci muka. Namun setelah menghabiskan tiga botol micellar water dari Bio Derma yang tidak ramah di kantong, gw mulai mencari alternatif baru yang lebih murah dan mudah didapatkan di Sumatra Barat, dan pilihan jatoh ke brand Garnier. Awalnya deg-degan takut gak cocok, ternyata kualitasnya gak jauh beda kok, emang sih pake yang BioDerma wanginya lebih harum dan rasanya lebih fresh, tapi untuk masalah pengangkatan kotoran, hasilnya sama kok.

7. Purifying Neem Mask by Himalaya Herbals

IMG_2039

Menurut aku ada dua brand yang bisa jadi alternatif varian Tea Tree dari TBS, yaitu Acnes dan Himalaya. Neem mask ini tekstur dan hasilnya mirip dengan charcoal mask TBS, tapi wanginya lebih nyengat. Aku tadinya sering pake clay mask dari Utama Spice, tapi rempong juga kalo harus diracik dulu, jadilah pilih Neem Mask ini yang bentuknya tube, praktis digunakan, murah, banyak, dan ampuh buat jerawat!

8. Hair Oil by Botaneco Garden

IMG_2042

Berhubung gw gak bisa hidup tanpa hair dryer dan catokan, jadi berbagai vitamin rambut is a must untuk menjaga ujung rambut dan kehitamannya. Kalo menggunkan VCO atau olive oil, rambut jadi berminyak dan lepek, sedangkan kalo pake hair oil dari Botaneco Garden ini membuat rambut lebih berkilau tanpa rasa lepek, wanginya juga harum, botolnya aman dari tumpah. Gw sih lebih suka ini daripada hair oil dari L’Oreal.

#BeautyReview: Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Beauty brand yang paling sering gw review di blog gw adalah Utama Spice karena I’ve fallen in love with this organic skincare brand! Well, I’m into organic skincare only, gak nafsu deh kalo ngeliat brand-brand lain yang lebih mahal dan lagi hebring, karena menurut gw, untuk apa buang duit mahal-mahal kalo cuma untuk barang-barang kimiawi yang gak natural, belum tentu baik, dan apalagi kalo pake animal testing segala. Yang bikin gw tambah cinta dengan Utama Spice ini adalah karena ini brand Indonesia, made in Bali!

Dulu gw adalah customer The Body Shop, namun sekarang udah selingkuh, hehe. Hanya produk Drops of Youth yang masih gw pake, selebihnya, terutama untuk produk yang berbasis oil, sudah digantikan dengan Utama Spice. Selain karena rasa nasionalisme yang tinggi, harganya jauh lebih murah, kandungan alaminya pun lebih banyak. Difikir-fikir, untuk apa menghabiskan duit untuk produk organic yang diimpor dari negara lain padahal negeri sendiri sangat-sangat kaya raw materials.

Menambah list panjang koleksi Utama Spice gw adalah body butternya yang menjadi salah satu my current faves di semester pertama tahun 2018 ini. Body butter dari Utama Spice saat ini ada lima varian; Rose Allure, Lavender, Tropical Flower, Lemongrass Ginger, dan Cocoa Love. Masing-masing varian memiliki campuran oil yang berbeda-beda yang menentukan wanginya. Terdapat dua size kemasan, yang kecil ukuran 30 gr dengan harga Rp 26.000 dan yang besar ukuran 100 ml dengan harga Rp 83.000. Kecuali untuk varian Cocoa Love, ya… Harganya dua kali lipat lebih mahal, mungkin karena bahan dasarnya Cocoa Seed Butter yang lebih mahal.

Pertama kali coba testernya di store Utama Spice di Ubud, well teksturnya beda banget dengan body butter yang banyak di pasaran Indonesia. Kalo body butter lain umumnya teksturnya lotion yang lengket, body butter Utama spice lebih mirip butter dan berkesan oily, ya karena bahan utamanya memang minyak, yaitu Virgin Coconut Oil yang sangat baik untuk kulit. Awalnya ngerasa aneh emang, takutnya lengket-lengket gitu, namun ternyata enggak banget! Minyaknya langsung lumer di kulit dan membuat kulit coklat gw terlihat mengkilap seperti abis pake tanning oil namun tanpa rasa lengket! Namun baunya gak selembut produk lain seperti TBS, makanya aku cuma beli yang Rose Allure dan Tropical Flower yang menurut aku wanginya gak terlalu strong.

Berbeda dengan varian yang lain, Cocoa Love teksturnya sangat-sangat padat seperti balm. Wanginya harum coklat banget sehingga biking ngidam Silverqueen setiap kali dibuka, hehe. Karena soliditynya, gw pun makenya harus mengikis pake kuku bagian luar dulu baru dioleskan ke tubuh. Hasilnya di kulit gak nampak kilau minyak seperti yang lain, namun wanginya tahan lama dan bikin kulit lembut. Tapi aku mensejajarkan Cocoa Love ini dengan Petroleum Jelly, Lucas Papaw dan kawan-kawan yang lebih sering digunakan untuk kulit-kulit kasar seperti di siku, telapak kaki, lutut, dll. Kenapa? Karena harganya mahal, hehe.. padahal enak banget kalo kulit jadi wangi-wangi coklat gitu.

Untuk harga segitu, mungkin banyak yang merasa ukurannya terlalu mini. Namun sebenarnya kalo kamu memakainya dengan cara yang benar, akan bertahan lama. Karena kita gak perlu make banyak-banyak seperti body lotion, cukup tipis-tipis aja saat dibalur akan merata ke bagian yang lain. Buat aku yang rajin menggunakan body butter setiap hari saja, yang ukuran 30gr itu bisa bertahan untuk 2-3 minggu. Oia, body butter ini juga dibundle menjadi gift set yang lucu banget dengan tin can khas Bali, cocok buat jadi oleh-oleh dari Bali! Pemesanan produk bisa langsung di situs resmi Utama Spice atau lewat IG mereka.

Review produk Utama Spice yang lain di blog aku:

Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia

IMG_0123

Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

  1. BukaBuku

Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

2. BukuKita

BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

3. Periplus

Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

4. Books and Beyond

Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

5. Book Depository

Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!

 

#BeautyReview: Utama Spice Volcano Clay Mask

IMG_1094Salah satu beauty products yang aku beli di Bali Haul aku satu bulan yang lalu adalah Volcano Clay Mask dari Utama Spice ini. Sekarang aku udah re-purchased karena yang aku beli pertama kemaren udah abis karena selama pemakaian sebulan itu aku pakenya lumayan sering, sekitar 3-4 kali dalam seminggu, kadang aku pake buat badan juga, jadinya cepet abis. Nah, kalo aku sampe re-purchase, berarti barangnya menurut gw bagus, it works on me. Udah gak sabaran mau tulis review progress pemakaian aku dengan produk yang satu ini.

Utama Spice adalah brand organic beauty products Indonesia dari Bali yang udah cukup well-established dan banyak mendapatkan review positif di female daily. Produk-produknya organik, paraben free dan no animal testing. Aku sendiri merasa kalo produk-produk dari Utama Spice bisa jadi alternatif dari beauty brands luar yang harganya cukup mahal buat kantong Indonesia, seperti The Body Shop, The Face Shop dan Yves Roches. Selain clay mask, produk lain Utama Spice yang aku pakai adalah face serum, argan oil, yoga mat sprays,virgin coconut oil (VCO) dan essential oils.

IMG_1130Volcano clay mask ini ingredientsnya hanya terbuat dari 100% volcano white clay, seperti yang ditulis di bagian belakang packagingnya. Dengan harga yang cuma Rp 95.000 bisa mendapatkan 150gr clay mask yang mana itu adalah banyaaak banget, apalagi kalo kamu pemakaiannya hanya untuk bagian muka. Volcano clay mask ini bisa digunakan untuk wajah dan tubuh, makanya isinya banyak banget. Di aku sendiri, 150gr itu baru habis setelah aku pakai untuk sekitar 10x maskeran badan, dan berpuluh-puluh kali maskeran muka buat malam dan pagi hari kalo malamnya aku pake night oil (face serum dari Utama Spice), jadi aku perlu mengurangi minyak hasil semalem. Pemakaian untuk wajah hanya memerlukan 1 sendok teh dan untuk seluruh tubuh tergantung seberapa kental masker yang diinginkan.

Yang aku rasakan, muka keliatan lebih cerah (bukan putih ya, karena aku gak suka kulit putih dan gak suka pake produk yang iklan memutihkan kulit dsbg) dan di kulit aku yang tadinya berminyak atau kombinasi (tergantung gaya hidup dan makanan), minyaknya jadi berkurang. Yang paling aku suka adalah pori-pori aku yang tadinya gede jadi mengecil, black head di hidung hilang. Tapi untuk mendapatkan hasil ini, pemakaiannya harus rutin. Kalo aku lagi males, mereka bisa balik lagi. Oh ribetnya terlahir cantik pas-pasan ini!

Pemakaian clay mask sebelum ritual panjang lainnya menurut aku jadi mengoptimalkan hasil kerja produk-produk lain sesudahnya. Kadang kalo malas melanda, aku skip aja, tapi ujug-ujug jadi merasa guilty, apa sih susahnya nyediain waktu 10 menit doank buat maskeran yang toh selama maskeran 10 menit kan bukan berarti gw diam mematung, masih bisa ngelakuin hal yang lain juga, huhuhu..

Kekurangannya menurut aku cuma di bagian rempongnya, apalagi buat orang-orang yang gak suka ribet, karena pemakaian masker yang harus diracik jadi clay dulu dengan air biasa atau air mawar untuk hasil yang lebih baik. Beda dengan sheet masks yang tinggal tempel tanpa dicuci dan masker lain yang tinggal dioles. Terus juga kalo udah kering (dalam 10 menit) maskernya jadi gampang berterbangan dan bertaburan gitu, apalagi kalo maskeran sambil tiduran, wah, bantal jadi penuh putih-putih butiran masker!

Perbandingan dengan clay mask lain yang sudah pernah aku coba adalah dari Bali Alus. Menurut aku Utama Spice jauh lebih berpengaruh di aku dan lebih cepat dibentuk clay ketimbang clay mask dari Bali Alus, yang dari Bali Alus, gak bisa dibuat kental walaupun sebanyak apa pun aku tuang, selalu jadi berbentuk terlalu encer kayak susu.ย 

Volcano Clay Mask Utama Spice ini bisa didapatkan di situs resmi Utama Spice atau di Sociolla. Have a try, girls! ๐Ÿ˜€ย 

 

TouchFive Twin Marker : Alternatif Copic

IMG_1191

Seberapa penting seorang fashion designer untuk bisa gambar? Menurut gw, penting banget! Karena yang membedakan seorang designer dengan tailor adalah kemampuan untuk merancang, baik dalam ilustrasi maupun pattern making, sedangkan tailor hanya menjahit. Kalo sudah mampu menggaji orang lain, nantinya yang mengerjakan proses produksi adalah penjahit, mengikuti pola yang sudah dibuat seorang designer. Makanya menurut gw, ada 3 kemampuan wajib seorang fashion designer; pattern making, basic sewing, dan ngegambar, agar design yang kita mau bisa lebih dimengerti oleh penjahit. Gak perlu perfecto banget (kecuali kalo emang tujuannya pingin jadi fashion illustrator), yang penting gak kayak orang-orangan sawah lah gambarnya.

Jadilah gw mempelajari cara menggambar anatomi fashion, cara menggambar kain dan baju, coloring, flat sketching, dan lain-lain bermodal dari internet, maklum lah miskin. Salah satu alat yang banyak digunakan dan dikoleksi para fashion design gurus itu adalah twin markers, alias spidol dengan dua mata; broad nib dan fine nib. Sebelumnya gw hanya menggunakan watercolor pencils dan spidol faber castle biasa. Tapi kok kurang uwowow ya, mungkin karena gwnya aja yang gak berbakat, jadi harus dimodali lebih. Haha.

Merk twin marker yang ter-recommended adalah Copic, tapi harganya bikin dunia gw terbalik, jadi muram durja. Spidol aja sampe seharga handphone! Keunggulannya katanya bisa direfill, jadi punya brush seumur hidup. Gw suka gambar tapi gak sampe addicted banget, dan hanya sesuai kebutuhan gw aja, jadi gak perlu banget lah ngehedon pake spidol jutaan segala, terlalu mewah buat tangan gw yang rajin cuci piring ini. Jadilah gw cari-cari produk alternatif dari Copic, pilihannya: Finecolor dan Touch. Tapi tetep aja harganya masih terlalu Taj Mahal buat kantong gw. Disaat-saat seperti ini, gw bersyukur Tuhan menciptakan China, karena mereka selalu menciptakan produk knock-off. Salah satunya spidol TouchFive yang niatnya jadi knock-offnya produk ShinHan Touch Twin Brush Marker. Selain merk TouchFive, ada juga Touch New yang harganya sama. Dua merk tersebut bisa ditemukan di Lazada, alias Ali Expressnya Indonesia, tersedia set 30 warna, 40, 60 dan 80 warna. Yang paling mahal, 80 warna, harganya gak lebih dari Rp 700.000, tapi sayangnya duit gw juga gak cukup untuk beli yang 80 warna. Selain itu, kalo beli di Lazada gw harus nunggu sekitar 1 bulan untuk barang sampai, kalo lagi belajar gini, time is money, cuy! Gak bisa gw menyia-nyiakan 1 bulan yang berharga itu untuk menunggu di pagar rumah! Belum lagi banyak review seller yang menjual spidol beberapa sudah kering jadi gak bisa dipake. Untungnya di Instagram gw menemukan akun yang saat itu lagi jual art supplies bekas dia yang masih bagus banget kondisinya, termasuk si spidol TouchFive 60 warna dan marker paper ukuran A4 merk Canson, harga keduanya Rp. 400.000 sajooo… Hoki banget emang gw ini! Hehe. Walopun bekas, seenggaknya gw udah liat color swatch dari spidol-spidolnya jadi terjamin gak ada yang kering.

IMG_1195

Color swatch TouchFive di kertas HVS biasa

IMG_1196

Perbandingan ukuran spidol TouchFive dengan Finecolour. Bagian lancipnya dari Finecolor lebih panjang dan lancip dibanding Touchfive. Nibnya pun terasa lebih lembut. Maklum beda harga.

Set spidol ini dilengkapi dengan tas warna hitam dan gw dikasih bonus spidol color blender merk Finecolor dan pena gel warna putih sama sellernya–terpujilah wahai engkau, sis! Setelah gw coba, gw amazed sama hasilnya karena gw terbiasa pake yang murce maria. Range warnanya juga bagus untuk bikin gradasi. Oia, sebenernya dia ada varian Architecture, Animation dan Illustration, setiap varian percampuran warnanya beda-beda tergantung kebutuhan, contohnya kalo architecture mungkin gak banyak gradasi warna pink seperti varian illustration, lebih banyak warna netral. Warna swatch sama warna di label atasnya juga gak terlalu beda-beda amat lah, ada beberapa sih yang beda jauh. Di bagian kepalanya selain berwarna juga ada tulisan angka dan nama warna, jadi memudahkan untuk ngambilnya. Hasil warna setelah kering bisa berbeda sedikit tergantung kertas yang dipakai, menurut gw sih hasil lebih baik ya jelas di marker paper. Setelah kering, warna juga berbeda ketimbang saat masih basah yang lebih gelap.

IMG_1194

Perbandingan coloring dengan Touch Five dan spidol biasa merk Faber Castle. Kentara kan untuk blending color lebih baik. Gambar baju di sebelah kanan terlihat seolah-olah baju yang gw design terbuat dari jerami.

Untuk masalah percampuran warna, menurut gw sih gak bagus, tapi juga gak jelek, Warnanya masih kentara bordernya walaupun setelah dikasih color blender Finecolor. Tapi yaudah sih maklum aja namanya juga produk jelata.

IMG_1197

Beberapa gambar yang gw buat dengan TouchFive.

So far, kalo untuk kebutuhan, kemampuan dan skill gw yang segala pas-pasan ini, nothing I cant complain about these markers. Malah jadi pingin beli yang 80 warna biar puas ngegambarnya. In conclusion, produk ini recommended banget untuk orang-orang yang masih newbie dan belajar ngegambar. Nanti, kalo udah expert atau udah kaya, baru beli art suplies tingkat dewa.

Yoga Mat Sprays by Utama Spice

IMG_1133It’s very important to keep your yoga mat clean especially if you practice with it often. Not only that the fresh aromatherapeutic smell can energise you but also that you don’t want to get breakouts on your face as a result of a dirty mat.

When I did yoga in Bali, I noticed that almost all the yogis always clean the mats (whether the ones they brought or provided by the studios) before and after use. Most yoga studios provided yoga mat sprays, which is very different from yoga studios and gyms I’ve been to in Lampung and West Sumatra. In fancy gyms I went to, the mats are cleaned by the gym staffs weekly with brush and soaps which can damage the mats obviously. Regular yoga studios also don’t provide any yoga mat cleaning sprays. It feels gross to me that’s why I’d rather use my own. But if you’re a mobile person and do yoga while travelling, bringing your own yoga mat could be a bit troublesome. Using studio’s mats is one easier option. For that reason, having a go-to yoga mat spray could be the solution.

I made my own yoga mat spray with the how-to I learned from the internet, minus the essential oils because I couldn’t find them in West Sumatra. Sometimes I only use wet tissue to clean my mats. But was curious to try this Utama Spice’s Supa Dupa Yoga Mat Spray when I was in Bali because the brand’s other beauty products have stolen my heart and it was not pricey, only Rp 47.000 (US 4$). Then I got a gift package from Utama Spice after I made a review video, so now I have two more yoga mat sprays from Utama Spice; Energizing and Lavender.

I gotta say if compared to my homemade yoga mat sprays, these sprays by Utama Spice smell so much relaxing. It affects my practice and sooth my mind as they’re blended with essential oils. Out of the three variants, my favorite is the Energizing one meanwhile Supa Dupa that I bought is too strong for my nose, that I have to let it dry for some minutes before use to reduce the strong scent.

I have mentioned about this 100% natural beauty brand before in my previous post.ย Itโ€™s super quick and easy to clean your mat with this. You just need to spray it on (spray at about a 15-20 cm distance) wait for like 10 seconds for the spray to settle and then wipe it with paper towel or simply let it dry. What I like is the size that’s so travel friendly and portable.

Even though I like these yoga mat sprays, I don’t think I will repurchase after I finish all of them. Not because I dont like them, I do like them a lot, but I use yoga mat sprays often, I am too stingy to spend regularly on my yoga mat cleaning, haha. I already have essential oils by Utama Spice, so I’d prefer to create my own like I did before, but this time it will smell better coz I will use essential oils!