Technical Sourcebook for Designers

IMG_20181218_102721Woohoo, finally after waiting for literally two months (I even already gave up hoping that the book would arrive) the book that I ordered from Abebooks finally arrived! It’s a secondhand book about technical fashion design for apparel manufacturing (product development) by two American fashion educators, Jaeil Lee and Camille Steen. The title of the book is Technical Sourcebook for Designers.

The online secondhand bookshop where I got this from already refunded me because they thought that it’s lost in transit and told me if the book ever arrives, I can keep it or donate it. I was sad because I really need the book, and the brand new price will cost me a fortune. Now that the book has arrived as well as the other textbook that I purchased, it means that I got them for free!

Before I bought this book, I already read a few pages of it from Google book page views, but of course, it’s only limited to about 50 pages out of 390 pages. I’m also renting it for 6 months from an online library for arts, Bloomsbury Fashion Central. So I’ve been studying with it. So I’m very certain that I need this book. To be honest, even though the brand new price is expensive, it’s nothing compares to what this book can teach me. The content and knowledge are like what I’ll never get from my circumstances here, especially for fashion design education in Indonesia.

And I’ve heard from so many fashion design graduates (abroad and local), they didn’t even get it in school. Most people are more interested in designing creative unwearable clothes only, meanwhile, the reality is, much of the works in fashion design is not about that. I just fall in love with how complex the field is, even to produce a simple T-shirt takes a lot of technical knowledge and attention to details.

This book is a geek book for people who want to study or work in the garment industry. It covers almost everything, and I think it’s as essential as Apparel Production Terms and Processes by Janace E. Bubonia.

In the first chapters of the book, the authors give a thorough explanation of how the global garment manufacturing works; the labels, causes, cycles etc. Then it gets more complex when we start talking about tech packs, the rest of the book is about the details in tech packs, from seam, pattern, measurement, even how to fold the garment for sales.

If compared to Janace E. Bubonia’s books, I think it’s easier for me to understand the language that Camilla Steen and Jaeil use, even though all of them are Americans. I found the explanation is more straightforward and does not use fancy words (except the fashion terminologies). Well, maybe only I feel like that because I am not a native speaker.

To be honest, this book is kinda intimidating because it makes me feel like I totally know nothing. It’s so thick and every page is important, so it takes me a long time to read one page until I really understand. And I think even pro technical fashion designers will still need to look up the book sometimes. I don’t think I can grasp it in even 3 months. This is so difficult especially since I don’t have first-hand experience in garment manufacturing yet (I will apply for an internship next year). So hopefully, these books will help me to prepare myself to meet the industry standards.

IMG_20181218_103421

Advertisements

Belanja Buku Impor Bekas via Online di Abebooks

IMG_20181215_100148

Belanja buku gak selalu harus buku baru, tapi juga bisa buku bekas dengan kualitas yang masih sangat baik dan harga bisa 90% lebih murah dari harga baru. Ceritanya gw lagi butuh banget sama buku textbook untuk technical fashion design. Udah dicari-cari seantero tempat download ebook gratis tapi tetep aja gak ketemu, sedangkan kalo beli buku barunya seharga 2,5 juta di Periplus dan kalo di Book Depository seharga 1,7 juta. Sedangkan buku yang gw mau beli ada 2 buah di range harga yang sama. Gile aja kalo gw mau belanja buku di harga jutaan, hiks!

Gw juga takutnya nanti kena pajak segala macem kalo harga bukunya di atas 100 USD. Di Book Depository emang murah, namun seperti yang pernah gw review sebelumnya, BD ini gak ngasih nomor resi, jadi kalo ilang ya kita hanya bisa pasrah.

Akhirnya setelah browsing-browsing, gw memutuskan untuk mencoba membeli buku bekas di situs Abebooks. Abebooks adalah marketplace khusus buku yang menjual buku baru dan buku bekas. Lokasi sellernya semua berada di Amerika. Buku yang gw cari ternyata ada banyak stoknya dan harganya jauh lebih murah. Ongkirnya pun beda-beda, ada yang bukunya murah tapi ongkirnya mahal, ada yang kebalikannya dan ada yang sama-sama murah. Kita juga bisa lihat rating dan reviews penjualnya. Karena baru mencoba pertama kali, jadi gw cuma mau di seller yang ratingnya di atas bintang 4.

Akhirnya gw memutuskan untuk beli bukunya di toko buku bernama Thriftbooks yang ternyata adalah toko buku second terbesar di Amerika, cabangnya ada beberapa dan sudah banyak direview di Youtube. Buku yang gw beli harganya USD 9 dan ongkirnya USD 6.5. Pembayarannya melalui kartu kredit atau Paypal. Lalu gw mendapatkan estimasi berapa lama bukunya sampai di Indonesia, yaitu 15-20 hari, dan kira-kiranya nyampe di gwnya sekitar 15-20 hari lagi. Duh, lama ya… Ya maklum lah, biasanya emang mandeknya di custom dan kantor pos Indonesia.

Tapi dengan harganya yang cuma USD 15.5 dollar, jadi ya udah lah gambling aja. Kalo pun bukunya gak sampe-sampe toh gw gak rugi banget. Buku gw ternyata langsung diproses sama Thriftbooks saat itu juga dan dikirim besoknya. Selang 15 hari kemudian gw memutuskan untuk membeli buku lagi dari Thriftbooks cabang yang sama, yaitu buku Technical Sourcebook for Designers oleh Jeil Lee & Camille Steen.

Gw berharap banget mempunyai dua buku ini karena adalah investasi jangka panjang untuk bidang gw. Kalo pun enggak punya buku, nemu di perpustakaan juga boleh deh. Tapi sayangnya mana mungkin bisa menemukan buku ini di perpus Indonesia.

Tapi setelah 1,5 bulan, buku gw belum ada yang sampai. Dan gw menghubungi seller via Abebooks dan gak mendapat balesan. Lalu gw hubungi via situsnya juga belum ada balesan. Baru setelah gw menghubungi via Facebook lah gw mendapat balesan. Ternyata responnya malah:

“I’m sorry you have not received your order. We do not have additional tracking details and unfortunately we do not have any additional copies I can send to you.

I have issued a full refund for this item. Please allow 2-5 business days for your refund to post back to your original payment method.

By chance the order arrives, you may keep it free of charge or donate it to a local charity. There is no need to inform us or return it.
 
Again, my sincere apologies.”

Waduuuhh… dianya udah pasrah aja kalo buku gw kemungkinan hilang karena udah lewat 20 hari dan uang gw langsung di refund. Masalahnya, waktu gw udah kebuang nungguinnya dan gw bener-bener butuh bukunya. Gw memutar otak gimana caranya ngedapetin bukunya, apa nitip sama temen di US yang mau ke Indonesia, atau beli buku aslinya tapi mahal. Dan akhirnya gw menemukan tempat peminjaman ebook online yang sudah pernah gw review disini. Karena gw masih berharap suatu saat bukunya sampe, jadi gw rental aja dulu ebooknya, yang penting udah bisa baca bukunya segera.

Setelah 2 bulan, bukunya masih juga belum sampe dan gw udah berhenti berharap. Yaudah lah kayaknya emang gak bakal sampe. Kedua buku yang gw beli sudah direfund oleh Thriftbooks.

Ternyata tanggal 15 December 2018 (setelah 2,5 bulan lamanya) ada petugas kantor pos yang datang, gw udah menebak itu adalah buku gw dan ternyata emang bener aja! Buku pertama yang gw pesan sudah sampe dengan selamat! Begini penampakannya:

 

Bukunya pun walaupun statusnya bekas, tapi masih sangat-sangat layak di pakai, hanya ada marker post it di beberapa halaman dan bekas highlight, tapi gak ada coretan sama sekali! Berarti gw dapatin buku ini gratis karena udah direfund, hehe.

Sedangkan buku gw yang satu lagi belum datang, mungkin di bulan Januari, itu pun kalo sampe. Tapi ini membuat gw percaya dengan Abebooks dan Thriftbooks. Kesimpulannya, gw sih rekomendasiin banget belanja di Abebooks (tergantung rating seller) bagi yang lagi mencari textbook atau buku-buku langka atau mahal ASALKAN siap menunggu dengan penuh sabar dan harap-harap cemas. Jadi kalo butuhnya urgent, lebih baik jangan. Setelah ini gw akan belanja di Abebooks lagi, soalnya uang belanja bukunya kemaren kan sudah direfund ke gw, hehe, jadi bisa buat beli buku lagi. Namun mungkin gw akan membeli di seller selain Thriftbooks sebagai perbandingan.

XP Pen Artist 15.6 : Pen Display Alternatif Wacom Cintiq!

Di Tech Wish list yang gw buat beberapa bulan yang lalu, salah satu wish list gw di tahun 2019 adalah Ipad Pro 12.9. Anak graphic design dan ilustrator pasti tau lah ya gimana lagi hebohnya pesona Ipad Pro sekarang-sekarang ini, apalagi didukung dengan aplikasi seperti Procreate yang saat ini hanya untuk iOs. Sebetulnya gw hampir aja beli Ipad Pro 12.9, saat itu duit gw cuma cukup untuk beli yang 32 GB yang mana harganya 12 juta, dan itu belum termasuk Apple Pen nya seharga 1,5 juta dan keyboard 2 juta lagi. Total hampir 15 juta. Itu buat ngegambar doang bro, udah seharga motor itu mah…

Gw udah semangat 45 buat belinya hari itu karena udah ngidam lama dan udah ngumpulin duit hemat-hemat gak jajan. Pas udah sampe di iBox Grand Indonesia Jakarta, tiba-tiba gw kembali waras dan merasa kalo gw harus berfikir dulu sebelum belinya, soalnya skill gw kan masih ceteeeeknya minta ampun, kok belagu banget udah kayak ilustrator kondang aja mau pake iPad Pro segala. Sedangkan temen gw si Angga, yang gajinya udah lebih 1000an dollar USD (kata siapa seniman itu miskin, hehe. Dulu dia gak dilirik cewek-cewek, sekarang mereka nyesel kali ya nikah duluan, haha) malah boro2 pake iPad (walau pun tetep aja ya MacBook Pronya yang terbaru), tablet Wacomnya aja gak jauh2 dari punya gw, haha.

Terus gw melirik Microsoft Surface Go yang harganya lebih murah, tapi 10 inch buat gw kekecilan. Dan juga laptop-laptop series Yoga Book gitu lah (yang bisa diputer layarnya dan gambar langsung di layar).  Namun endingnya setelah bertapa berbulan-bulan, gw memutuskan untuk bukan beli Ipad, bukan Surface dan bukan Yoga Book, melainkan Pen Display aja! TADAAA…

Buat yang gak tau pen display itu apa, simple pen display (atau kadang disebut drawing monitor) adalah tablet menggambar yang pake layar atau monitor yang bisa digambar langsung di atas screennya. Tablet disini maksudnya bukan tablet Samsung atau iPad ya, tapi tablet sejenis Wacom, yaitu tablet yang gak punya fungsi lain selain untuk menggambar. Beda dengan iPad dkk yang punya fungsi full smart phone.  Kenapa akhirnya gw memilih membeli pen display ketimbang iPad atau Yoga Book?? Karenaa…:

  1. Kalo iPad dkk bukan untuk investasi jangka panjang, karena mungkin 2-3 tahun lagi udah kadaluarsa makenya. Kalo mau upgrade, harus upgrade semuanya. Sedangkan kalo pen display, bisa dipake di hampir semua laptop. Jadi kalo someday gw ganti laptop juga masih bisa dipake.
  2. Karena fungsinya yang seperti smartphone, iPad dkk cenderung bisa ngelag atau turun performancenya, belum lagi kalo mereka kena virus atau keberatan aplikasi yang lain.
  3. Dengan harga yang jauh lebih murah dibanding iPad dkk, gw bisa ngedapetin layar yang super gede dengan pen display! Bayangin, yang 22 inch aja gak lebih dari 12 juta! **tergantung merk dan tipe

Setelah browsing reviews di Youtube dan Google, akhirnya gw memutuskan untuk membeli XP Pen Artist 15.6 dari seller yang udah recommended di Tokopedia dan di Go Courier Instant di Jakarta, seharga Rp 7.000.000.

Dari sekian banyak model dan merk di price range yang sama, alasan gw memilih  XP Pen Artist 15.6 adalah:

  1. Selalu masuk rekomendasi para Youtuber kondang dunia seni digital untuk pen display di bawah harga USD 500, malah lebih bagus daripada pendahulunya yang berukuran slightly lebih besar, 16 inch.
  2. Stylus pen nya gak perlu pake batre jadi gak repot harus ngecharge pena, kapan aja mau gambar bisa.
  3. Layarnya udah dilapisi screen protector yang matte, jadi lebih berasa paper-like pas ngegambar
  4. Low to minimum parallax
  5. Harganya yang cuma 7 juta brooo….
  6. Designnya ramping, tipis dan minimal kabel. Gw liat yang lain pada banyak kabel ini-itu.
  7. Ada 6 tombol express keys

Ada juga yang 13 inch, tapi buat gw screennya kekecilan kalo 13, dan 22 inch harganya kemahalan untuk gw saat ini. Pinginnya sih yang 22, tapi bakalan repot kalo mau dibawa2 saking gedenya. Yang 16 inch, walaupun harganya lebih mahal, tapi stylusnya masih pake batre. Harganya lebih mahal karena packagenya lebih generous, dapet stylusnya aja ada 2, satunya buat cadangan, hehe. Dan udah dapet standnya juga. Berhubung gw juga ngincer standnya Artisul, jadi lebih baik gw beli yang gak pake stand aja. Begini penampakan setelah barangnya sampai:

IMG_20181127_213931

Note: enggak termasuk notebooknya ya bokk…

Setelah dibuka kotaknya:

img_20181127_141829.jpg

Semua sisinya dilindungi dengan foam yang tebal dan keras untuk melindungi si hardware. Semuanya juga masih diplastikin, agak gimana gitu bukanya, hehe… Di bagian bawah kotak, ada kotak lagi yang isinya segala perkakas lainnya:

IMG_20181127_141844

Di bagian dalam kotaknya:

IMG_20181127_142058

Kita dapet colokan buat berbagai negara, jadi nanti klo jalan-jalan ke luar negeri, tinggal bawa colokan yang sesuai aja. Juga dapat glove buat ngegambar, tapi gw gak butuh karena palm rejectionnya XP Pen Artist 15.6 ini udah bagus banget. Kerasa banget bedanya sama Samsung Tab gw!

Kotak item di atas pena stylus itu adalah holder pen nya yang dalemnya terdapat 8 nib cadangan. Bagian belakang kotaknya berfungsi buat ngelepasin nibnya.

Karena screennya matte, jadi lebih berasa natural. Kita gak dapet CD installernya karena langsung di dowload di situsnya sesuai OS kita. Ada satu masalah waktu pertama kali gw coba, yaitu pena dan tablet gw berfungsi untuk menggambar, tapi waktu gw coba jalanin driver Pen Settingnya, tulisannya “Device not found” walaupun sudah gw reinstall berulang-ulang dan sudah gw pastikan gak ada driver tablet lain di laptop gw saat gw menginstallnya. Kalo Pen Setting ini gak bisa dibuka, jadinya gw gak bisa mengatur pressure sensitivitynya dan express keys. Gw udah mencoba menghubungi CSnya yang di China dan US but they didnt help at all, they asked stupid questions that frustrated me. Akhirnya setelah berjam-jam, gw tinggal tidur aja. Besok paginya gw coba lagi, akhirnya berjalan dengan lancar! Plis deh, tau gitu gw langsung tidur aja kemaren!

Kesimpulan gw setelah make ini adalah:

  1. Bener-bener worth it!!! Gak nyesel sama sekali gw beli ini dan gw merasa ini salah satu best deal gw tahun ini!
  2. Kursornya lebih tepat di bawah pena kalo tabletnya diposisiin berdiri miring ketimbang laying flat di atas meja (kayak nulis di buku). Jadi ini memaksa gw harus membeli standnya juga, karena kalo pake buku, takutnya malah jatoh dari meja. Kan sayang bangeet… Mana harga standnya di atas 600ribuan juga pulak! Hiks.
  3. Walau pun designnya slim dan tipis, tapi tetep aja gak travel friendly karena susah nyari tas laptop yang besarnya pas, bahkan cari casenya aja susah, untung aja gw bisa jahit, jadi kemungkinan gw akan jahit sendiri casenya. Dan kalo untuk travel, mungkin gw akan tetep bawa Wacom gw kalo buat travelling.

Ini karya pertama gw menggunakan XP Pen Artist 15.6 ini:

nakedness-01

Wacom One: Pen Tablet Murah untuk Graphic Design

IMG_20181109_174325

Untuk mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman, kita harus bisa membawa kemampuan kita ke ranah digital dan mentransformasinya menjadi sebuah produk digital, termasuk menggambar. Buat yang pekerjaannya berhubungan dengan menggambar/ membuat design digital (baik graphic designer, fashion designer, illustrator etc) mempunyai pen tablet adalah salah satu kebutuhan yang membantu efisiensi, dibanding kalo menggambar dengan mouse, apalagi trackpad (tapi ada juga lho yang mampu ngedesign pake trackpad dan hasilnya bagus!).

Wacom One CTL 671 adalah pen tablet pertama gw yang baru gw punya sejak bulan Juni 2018 ini. Ini juga gw dihadiahi sama orang pas ulang tahun gw dan kebetulan emang gw udah ada rencana buat beli pen tablet sebelumnya tapi menunda-nunda mulu (ada hikmahnya juga ya procrastination, hehe…). Sebelumnya, gw mengincar Wacom Intuos Pro yang harganya 4x lipat, tapi gak kebeli-beli karena harganya mahal. Namun manfaat yang gw rasakan dengan series One ini juga udah lebih dari cukup kok, udah kebayar kok sama dollar yang gw dapat dari kerja menggunakan produk ini, hehe!

Series One by Wacom ini adalah pen tablet kelas entry level, katanya sih menyasar golongan kreatif anak muda dan pemula (yang masih kere-kere gitu deh, kayak gue, hehe), makanya harganya bisa dibilang sangat murah agar bisa bersaing dengan para merk pendatang baru seperti Huion. Series One ini terdiri dari dua ukuran, CTL 472 adalah seri Small dengan ukuran 210 x 146 x 8.7 mm (active area 152.0 x 95.0 mm). Sedangkan One by Wacom CTL 672 (yang gw punya) adalah seri Medium nya, yang memiliki ukuran 277 x 189 x 8.7 mm (active area 216.0 x 135.0 mm). Dengan berat nya masing-masing adalah 251 dan 436 gram.

IMG_20181109_164741IMG_20181109_180423

Di harga yang masih di bawah 1,5 juta (yang Small malah cuma 900ribuan), kita akan mendapatkan:

  1. Tablet
  2. Pen
  3. USB cable
  4. 3 standard replacement nib
  5. CD installer
  6. 1 nib remover

Ada beberapa serian warna, kalo gak salah merah, biru, hitam dan hijau. Bagian tabletnya rasanya seperti menggambar di atas kertas, jadi keset gitu, walaupun gak berasa se-natural menggambar di atas kertas. Di bagian penanya ada bagian yang bisa dipencet seperti fungsi mouse. Atas untuk klik kanan, bawah untuk klik kiri.

Yang gw suka dari produk ini adalah:

  1. Harganya murah (padahal bukan gw juga sih yang beli, hehe). Jadi kalo lw bisa ngehasilin duit dengan modal barang murah, rasanya tuh lebih bangga aja gitu ketimbang pake modal hardware mahal, haha.
  2. Ringan, mudah dibawa kemana2. Handy dan designnya simple.
  3. Menurut gw sih udah cukup responsive. Gak nge-lag.
  4. Hampir 80 persennya adalah aktive area

Yang gw menurut gw adalah kekurangannya adalah:

  1. Gak ada express key, jadi tabnya itu cuma datar aja gak ada tombol shortcutnya. Otomatis kita harus bisa ngelatih diri kita dengan tangan kiri di keyboard dan tangan kanan menggerakkan pena.
  2. Gak ada slot untuk wireless/ bluetooth. Jadi hanya bisa dipake dengan diconnect via USB. Agak rempong aja sih gw kalo kabel USBnya ilang.

Gw belum pernah pake pen tablet series lain jadi gw gak tau juga perbandingannya apa, kata orang-orang sih designnya dan nibnya kerasa murahan. Tapi lah gapapa murahan, yang penting bisa ngehasilin dollaran, haha. Beberapa temen gw yang udah jago banget graphic design/ ilustrasinya hanya menggunakan produk yang sama dengan gw ini (lah jadi kalo mereka aja yang penghasilannya udah segitu masih pake yang sama, ngapain gw nyusah-nyusahin hidup buat maksain beli yang mahal, hehe). Tapi jujur ya, suatu saat nanti gw akan upgrade ke  Intuos (maunya sih ya Cintiq, tapi entah kapan ya bookk…) kalo sudah pada waktunya. Untuk level pemula, ini udah lebih dari cukup!

IMG_20181109_174401

Review & Makeup Haul untuk Pemula

IMG_20181030_224843

Sebenernya udah dari bulan Agustus lalu mau bikin ini post, tapi tertunda mulu karena malesnya ngambilin foto satu-satu, hehe. Jadi ceritanya sekitar 2-3 bulan lalu entah kenapa gw kemasukan setan centil sehingga tetiba aja gw pingin maen makeup lagi setelah sekian lama gw gak pernah pegang makeup, sampe-sampe gw bikin makeup tutorial video di YouTube channel gw. Dulu di tahun 2015 gw sempet jadi makeup artist di Pekanbaru, tapi karena pindah kerja ke Lampung jadi gak pernah nyentuh makeup lagi sampe sekarang. Kesetanan gw kali ini cukup untuk membuat kantong jebol, hiks!

Untuk muka gw sehari-hari, gw hanya memakai ‘ornamen muka’ seminim mungkin karena menurut gw sih enggak sehat ya kalo pori-pori selalu ditutup sedemikian rupa. But I’m not against anyone with makeup, malah menurut gw cewek tu harus tau cara makeup sendiri walau pun enggak pake makeup on a daily basis, kalo sampe bisa dijadiin ladang usaha justru lebih baik lagi.

Tentunya, setelah selama itu gw berhibernasi dari makeup, peralatan makeup gw udah gak ada lagi karena udah gw bagi-bagiin ke orang lain sebelum masa kadaluarsa. Jadi kali ini gw belanja peralatan inti makeup–atau dengan kata lain makeup untuk pemula–dari awal lagi. Belanja makeup kalo dicicil satu per satu emang gak kerasa mahalnya, tapi kalo belinya bersamaan, rasanya mau pingsan setelah ngitung total belanjaan! Gw udah gak ingat betul harga pastinya berapa, karena gw mencoba melupakan jumlah uang yang terbuang, haha.

Berikut makeup items apa aja yang gw beli:

  1. Primer dan (Flat) Stippling Brush

IMG_20181030_230615

Gw udah pake primer dari Ultima II ini dari dulu dan gw suka banget karena bikin makeup kita jadi lebih kelihatan smooth dan tahan lama. Sebenernya ada dua varian, yang warna ijo (untuk kulit normal dan berminyak) dan putih (untuk kulit kering). Sayangnya harganya makin lama makin mahal jeuung, sekitar Rp 200ribuan. Untuk pengaplikasian gw suka pake kuas dicampur sama beauty blender. Stippling Brush dari Tammia ini bawahnya flat tapi ada bagian lingkaran yang lebih masuk ke dalam. Bulunya juga lebih lebat dibanding Real Techniques, harganya masih bawah Rp 100ribu.

2. Liquid foundation dan compact powder

IMG_20181030_225629

Keduanya gw beli dari brand Maybelline yang serian Fit Me yang sekarang lagi naik daun ya semenjak sering direview sama beauty vloggers. Sebenernya dari dulu gw selalu pake Ultima II yang Wonder Wear, tapi karena harganya lebih mahal, jadi gw beli yang ini aja. Ternyata hasilnya gak jauh beda (mungkin juga karena udah dibantu dengan primer Ultima II yang ijo tadi), harganya Rp 150ribu. Seri Fit Me ini ada dua tipe untuk setiap shade warna kulit, yaitu yang Matte untuk kulit berminyak dan Dewy untuk kulit kering. Harga compact powdernya Rp 145ribu. Ada kesalahan yang gw lakukan saat membeli foundationnya, yaitu gw membeli ketika gw abis liburan ke pantai, jadi kulit gw saat itu lebih gelap dari biasanya. Setelah beberapa lama kulit gw perlahan kembali ke warna normal, sehingga foundation yang gw beli ini lebih gelap 2 shades dari kulit gw sekarang, gw mengakalinya dengan gak make tebal-tebal dan warna bedak yang lebih terang.

3. Eyeshadow Pallettes

Kedua pallete ini warnanya bersebrangan banget karena yang satu lebih soft dan neutral, sedangkan yang kecil untuk warna-warna gonjreng. Eyeshadow pallette pertama dari brand LA Girls yang nudes pallette, harganya sekitar Rp 260ribu di Guardian. Sebenernya gw mau beli merk lain (Focallure) tapi gak ada ready stock. Warna dan kemasannya bener-bener knock-offnya Urban Decay yang naked, haha. Menurut gw warnanya cukup pigmented kok, tapi harus pake eyeshadow base (sesuai warna kulit) biar lebih keluar. Sedangkan pallette kecil yang satunya itu merk Sariayu, seri Jakarta, harganya Rp 165ribu. Daaann, sumpah deh Sariayu emang pigmentednya bukan maen, tanpa primer pun warnanya udah maksimal!

4. Highlight dan Contour Pallette

IMG_20181030_225644

Gw baru denger juga brand yang satu ini, Catrice. Kok aneh ya namanya kalo dipisah artinya jadi ‘kucing beras’, huehehe… Pilihan warna contournya memang hanya netral untuk kulit orang Indonesia, gw juga suka dengan highlightnya yang oke banget, however, gw kurang suka dengan blush dan bronzernya karena terlalu powdery. Karena hal itu, nilai produk ini jadi so-so. Harganya gw lupa berapa, kayaknya gak lebih dari Rp 300rb.

5. Ki-ka: Eyeshadow primer, eyebrow set dan color neutralizer powder.

IMG_20181030_230532

Gw udah punya eyeshadow primer yang warna putih merk NYX yang gw suka banget. Untuk kulit coklat, pake primernya harus yang warna putih kalo mau warna eyeshadownya keluar. Primer yang gw beli ini yang warna kulit, yang mana lebih cocok dipake orang yang kulitnya putih. Namun gw beli ini untuk tone down eyeshadow yang warnanya terlalu terang. Merknya Catrice juga, kalo gak salah harganya Rp 65ribu.

Selanjutnya gw juga beli eyebrow set dari Catrice, harganya kalo gak salah Rp 80ribu. Di dalamnya ada dua pallette, yang satunya powder dan satunya lagi kayak foundationnya, juga kuas eyebrow dan kaca. Minusnya cuma di powderynya aja, jadi banyak buih-buih berjatuhan, sehingga produk ini juga nilainya so-so.

Color neutralizer powder ini adalah finishing powder yang dipake untuk meratakan makeup dan selalu terdiri dari empat warna ini, mau merk apapun. Untuk touchup makeup juga sebaiknya pake ini ketimbang pake tisu/ sponge bedak yang bikin makeup jadi retak-retak atau berpori-pori. Tapi repotnya kita harus sedia brush juga kalo mau dibawa kemana-mana. Produk yang gw beli dari merk Catrice juga, harganya gak lebih dari Rp 100ribu kalo gak salah, dan so far gw suka-suka aja, dibanding dengan produk Catrice yang lain yang gw beli.

6. Up – down: Concealer, eyeliner dan lip liner.

IMG_20181030_230429

Semuanya dari merk Silky Girl karena kalo untuk pencil liner gw udah mengandalkan Silky Girl bertahun-tahun, harganya juga gak mahal, kalo gak salah @ Rp 40ribu. Sedangkan untuk concealernya gw pertama kali ini pake produk Silky Girl karena uang gw udah gak cukup untuk beli yang Maybelline punya, haha. Yang dari Silky Girl ini murah banget, cuma Rp 45ribu, bentuknya kayak pena/ pensil mekanik. Tinggal tekan bagian atas dan akan keluar dari kuas, gw lebih suka yang begini karena bisa ditakar. Untuk harga Rp 45ribu, menurut gw kualitasnya cukup, namun gak outstanding.

7. Kuas Makeup (eyeshadow set dan stippling brush)

IMG_20181030_225613

Sebenernya gw udah punya juga dari merk BH Cosmetics, tapi gw penasaran sama Real Techniques yang sering jadi andalan banyak beauticians. Eyebrow set ini harganya hampir Rp 500rb dan stippling brush di harga Rp 200rban. Emang bener ternyata ada harga ada kualitas, yang paling kerasa adalah di kualitas bulunya yang lembut dan gak rontokan sama sekali, beda banget kalo beli yang murah-murah, pas dipake sering rontok dan kalo dibersihin malah lepas semua, hehe.

8. Ki-ka: Mascara dan lip cream

IMG_20181030_230236

Lip color adalah produk makeup yang paling sering gw beli/ koleksi, terutama untuk warna-warna pinkish nude. Jadi gw perlu varian warna yang lebih gelap (coklat) dan pink gonjreng untuk campuran warna. Of course warna kulit gw yang coklat ini gak akan cocok kalo cuma dipakein warna pink terang doang, harus pink yang coral-coral gitu deh. Semua yang gw beli kali ini dari merk Emina yang naek daun semenjak direview sama beauty vlogger kondang dan kocak Suhay Salim, harganya tergolong murah, sekitar Rp 50ribu, tapi kemasannya juga lebih kecil dari pada merk lain. Produk Emina memang harganya murah-murah dengan kualitas yang lumayan karena produk ini menyasar dedek-dedek teenager dan anak kuliahan, makanya packagingnya terlalu unyu-unyu.

Untuk mascara, sebenernya gw suka produk mascara dari Maybelline, tapi entah kenapa tiap kali gw pake Maybelline abis itu bulu mata gw rontok-rontok. Alternatifnya gw pake mascara dari Emina ini dan gw takjub juga sih sama hasilnya, karena hasilnya lebih natural kalo dibanding dengan produk Maybelline, cocok buat pemakaian sehari-hari, tapi kalo untuk makeup yang agak heavy, kayaknya enggak deh.

9. Ki-ka: Beauty blender, alat bantu pasang eyelash, lem bulu mata dan pembersih kuas makeup.

IMG_20181030_230719

Dulu gw sempet gak suka sama beauty blender waktu pertama kali coba, mungkin karena gw beli yang murahan (yang harganya 20rban) jadi hasilnya malah bikin makeup retak-retak walaupun udah dibasahin. Namun kali ini gw beli yang merk agak mahalan, yaitu Real Technique, harganya di atas Rp 100rb, karena penasaran. Ternyata emang beda dan gw malah lebih sering mengandalkan beauty blender sekarang ketimbang brush. Yang gw suka adalah karena bagian atas dan bawahnya sama-sama memiliki bagian yang flat, jadi lebih mudah untuk pengaplikasian, ketimbang kalo bundar doang.

Dan bagian terlama dari proses makeup gw adalah pemasangan bulu mata palsu untuk mata gw sendiri karena mata gw sensitif. Gw pilih merk Ardell (belinya juga di Guardian) karena selain memilik penjepit, bagian ujung satunya lagi berfungsi untuk menekan/ merekatkan bulu mata. Karena bentuknya yang kecil, jadi lebih aman ketimbang kalo pake tangan yang berpotensi malah bikin lepas lagi. Tapi harganya cukup mahal juga sih, Rp 95ribu.

Lem bulu mata ini gw pilih karena gw gak nemu yang murah dan males nyari-nyari ke tempat lain. Harganya Rp 100rban, namun ternyata worth it karena gak menggumpal dan tahan lama!

Yang terakhir adalah tatakan pencuci brush makeup. Jadi kuas makeup yang udah dibasahi dengan cleaner di putar-putar di atasnya untuk membersihkan sisa-sisa makeup. Ada empat tekstur, tergantung diameter kuas. Harganya Rp 70rb.

**

Berdasarkan penjelasan di atas, budget yang gw keluarkan di makeup haul ini kurang lebih sebesar Rp 3juta. Namun gw beli ini bukan buat investasi/ usaha, cuma sekedar buat latihan sendiri doang biar gak kaku lagi. Apalagi karena gw kerja dari rumah, jadi jarang bener harus pake makeup, hehe.

Better Than Iphones

A month ago, I wrote about my tech wish list for 2019. This month, I just checked two of them; a new phone and a tripod. Both of them are for very cheap price and china products. My tripod is only USD 10, the quality is not outstanding, but enough to do the job. The other one, is a new phone. Finally after so long I can keep up with the mobile phone technology. I felt like someone who were raised in a cult then got amazed by the advances in the city.

Previously, I was always late to adopt new mobile phone technology because I only prefer to use Iphones, that mediocre overpriced brand. Because it’s always expensive, so I always waited until new series launched and the price dropped. In the end, I never knew the feeling of having a good mobile phone camera and a phone that can do everything, without me having to have another devices to do other things like ipod for listening to music and videos because those stupid Iphones only have 2GB RAM and small internal memory (of course to afford the 64 GB memory, I will have to sell my kidney). Also it’s just so stupid that they don’t have dual sim feature, it’s like other people are living in 2018 and Apple still lives in 2012. Dont forget about the camera, I’m not saying it’s bad, but they’re not outstanding for that price.

But I won’t lie that Apple has had successfully brainwashed me and many people in the world, especially the growing middle-class population like me. I felt the pressure to use Iphone only. I know that other brands can give so much for much cheaper price, but I thought I would feel embarrassed because other brands’ name and logo seemed cheap in my eyes. I dont know what magic that bitten fruit has, may be if it’s a bitten banana, it would have been different.

Luckily this time I’ve been wiser than before. Before, I didnt respect the value of money this much because my life went smoothly. Since now I’m slowly healing myself from my rock bottom, I’ve become more stingy about where and how to spend my money because I’ve collected it not easily. I ended up buying a Xiaomi phone as I’ve heard about how good it is a lot. And they’re true! This purchase is one my best deals in this year!

xiaomi_redmi_note_5_pro

The type that I bought is Xiaomi Redmi Note 5 Pro, it’s the upgrade of the previous series, Xiaomi Redmi Note 5 (however it’s not written on the box, you need to check the specs to see which one is. Otherwise you’ll pay a Pro price for a regular Note 5). You can read more about the specs here. I bought it for less than USD 200 which is still much cheaper than a secondhand Iphone 5s. It’s equipped with 4GB RAM and 64 internal memory.

And what else do I get for that price?? A lot! To be honest, first I was amazed by the casing, it doesnt look cheap at all because the back casing is not made of plastic (like most Samsung are). The size is a bit too big for pocket that makes it not handy, but it’s more comfortable for watching videos and reading ebooks, and the body is super thin. The screen color is amazing, the speaker is loud that I dont need to put on wireless speaker if I’m not on earphones. It allows me to split screen and do multi tasks, the charging is super duper fast and the battery lasts for the whole day even though being actively used for videos. The signal receiver is also strong and faster than other phones I’ve had before, it can also tether the wifi signal that I get to other device (which cant detect the wifi, this case often happens). What I love most is the camera! I will give it five stars!

Camera quality is the reason why I wanted to buy a new phone, I want a shortcut to do my things, I dont like bringing a big camera everywhere and having to transfer them to my laptop to upload on social medias.

My boyfriend bought a USD 900 Samsung with an excellent camera few months ago, I used to bring his phone everywhere (even when in an area with bad phone service) because I claimed that his phone was my Instagram camera. Now, I dont need it anymore coz I have mine (of course he’s happy about it coz he doesnt need to worry about his luxury phone’s wellbeing when it’s with me anymore), and I feel lucky because I bought mine (for almost the same quality as his) for less than USD 200 while he paid for USD 900, LOL. #competitivegirlfriend

I’m not sure yet about the durability of this phone, even though Iphone’s price is stupid but I must admit that they have the best durability (better than the classic Nokia). My Iphone 4S for example, has been used for 9 years and still working. But who would like to use the same phone for more than 5 years?? Only my mom’s generation I think, we, millenials, have commitment issue, even with phones. I predict that after 2 – 2.5 years, I will want a new phone already.

Here are some shots I took with my Xiaomi. I’m 100% sure that I’ve kissed Iphones good bye!

IMG_20181019_164221IMG_20181019_145842IMG_20181019_150336IMG-20181016-WA0002

My Startup Weekend Experience in Bali

I didn’t know about Startup Weekend until end of last year when someone who I just met for the first time–who then later become my friend–told me about it and volunteered to be my sponsor for the event.

I was in Bali for my fashion design course and as I am a hyperactive person, I always looked for interesting events in the area, I wanted to make the best of my time in Bali. There’s a cafe-coworking space in Sanur which regularly holds free events/ talks every week that I always tried to come when I could, even though it’s not close to where I stayed. In one event, at that time Aaron Mashano was the speaker, I met Jennifer. She’s a foreigner living in Bali and pursuing her fashion design career (but with different approach from mine) and she’s almost similar like me, she likes to come to events as well.

Then she told me that there was an event in the upcoming week which is very cool and a good learning and networking experience that she really liked. I didn’t really understand what it was at that time, and also hearing that it’s a paid event and in dollar rate, I thought I wouldnt be able to join. I was surprised that Jennifer just offered herself to be my sponsor, meaning she’d pay for the events and let me stay at her place during the event (because the event was held in Ubud, which is 30km from my place). It’s not cheap I think to give to someone you just met for the first time, I didnt know why she just trusted me, she only asked me to promise that I would give my dedication to the event. So I said yes and promised her that I would not take it for granted.

I didn’t know much info about what the event is about and how things would be run. All I knew is that you might pitch ideas of a startup and then we would be grouped into the chosen startup ideas. I didn’t know really clearly what to expect from the event, I only knew there would be winners in the end, and I like winning. So I already prepared an idea and a one-minute speech for a pitch.

Startup Weekend is actually a global event now run by Techstars with the help of a lot of Volunteers. It’s held in hundreds cities in the world annually, in Indonesia it’s held in several major cities like Jakarta, Bandung and Bali. But the one in Bali is the most different from other cities in Indonesia because the one in Bali has internationally mixed participants while in other cities are mostly Indonesians.

It’s a 2,5 day event started from Friday night until Saturday night. In 54 hours, we learned and experienced what it’s like to make a startup, from finding the ideas to brainstorming the execution to sell it. We’re given the opportunity to pitch our idea in such a short presentation time (so we had to make every second and sentence count) then sell it to market (the audience), recruit team, and make a product mockup. My idea and team was chosen as the 3rd winner. I was very happy that I also made a remarkable impression to the people there, every presentation I made always caught attention.

23622357_1720814677942481_4818529713690288732_n

It’s a very good event to network with people who might need your work in the future or if you’re looking for a side project to break from your routine. As for freelancers, networks is a vital part.

At that time I totally had no idea that it could be used for that, I was just there to compete and have fun. So I didnt understand why people were really putting their time, efforts and energy to the max for just a weekend activity. Now I understand that they were marketing their selves. Who knows you might find a potential client who’s looking for say a designer or programmer. At least the people who know about what you do could refer you someday to someone.

This year, I will join the event again or the ones next year in order to market myself. I will come back with different strategy and different mission. Last year I came to win and to prove my idea, but this year I’ll come to market myself as a graphic designer/ illustrator. If you’re a freelancer/ digital nomad, Bali is the right place for you to find and be found. Hence I’m preparing myself for it, that’s why I’ve been locking myself in my room since I arrived from SA to improve my skill, learning from the very basics. I’m not a good drawer, many people can draw much better than I do, but I’ve learned several skills by myself because I didnt have the fortune to pay for expensive schools. That being said, I’m a hardworker. I’ve had some plans what I’d do and make people remember me again, to tell that I’m not only a fashion designer but also I can do digital art work. Hopefully things will go as planned or better, I cant wait!! Watch Startup Weekend 2018’s video here and see more photos here.