Flying Under

Just this week, my country was shaken by a heartbreaking news of a plane crash that killed 189 people on the 29th of October 2018. Until now, we’re still mourning.

The news made to international news agencies. The plane JT610 was supposed to fly from Jakarta to Pangkal Pinang but never made it as it blew off in the air and fell down to 30 meter below the sea, just 10 minutes after take-off.  The airline, Lion Air, has made itself to top 5 for the worst airlines in the world for years. Yet, this low-cost airline has never got its license taken off despite the number of accidents, constant delays, lies to customers and enslaving its employees.

It’s very rare to find Indonesians who has never had bad experience with the airline in the plane and at the airports (by their management). Yet, it’s one of the most selling one in Indonesia because of its cheap price and it offers many schedules in a day (which turn out to be just lies, they will eventually just merge the flights into less flight schedule. By doing this, they make more profits with the ticket price difference). My rants about this company could fill up a book.

Before you start telling me, “Dont blame the airline, it can happen to any airlines, bla bla blah…”, well, do your own research first about this airline. It’s so easy to point fingers at them in this matter by looking at their track record of lacking both safety and sympathy.

But to say that I never flew with Lion Air would be a lie, especially in the last 2 years since I quit my job and hit my rock bottom. Before I quit my job in an international organization, I never ever flew with Lion Air. Especially if it’s paid by the office. Even if I paid by myself, I always booked either Batik/ Sriwijaya/ Garuda Indonesia. But then I slowly couldn’t afford them anymore, so I booked my first Lion Air flight.

I remember I was so nervous that I was sweating before and during the flight. It was full of turbulence. But then after one and two flights with this airline, I gave myself excuse to fly with shitty airlines all the time. In fact, just a day before the crash, I flew with Lion Air from the same airport and the same boarding lounge where the victims were last before their deaths.

The same plane flew from Bali to Jakarta the night before the fateful morning. Bali-Jakarta is one of the routes that I fly often. Thinking of the many possibilities just gives me thrills.

I am getting more skeptical about the airline since I’m dating a pilot who works in Indonesia. Every month, he needs to fly from different cities to his bases. My boyfriend himself says that he won’t ever choose Lion Air unless he doesnt have any choice anymore. I remember that whenever he booked me tickets, it’s never Lion Air, but I was the one who always asked for Lion Air because I didnt want to cost him a lot.

If non-pilots dislike Lion Air, I will think it’s not as worrying as when pilots dislike Lion Air, because I believe they know more than us about what’s going on with the turbulence, the hard landing and even whether it’s a good decision to fly or not considering the weather.

I actually already bought return tickets from West Sumatra to Bali with Lion Air, which means four flights of 2 hours each. That’s too scary to imagine, I’m not gonna risk my life in those eight hours of terrors. But it’s already too late now to book other flights, the price has already surged. In the end I decide to cancel my visit to Bali that I’ve been waiting for months.

It’s so heart-wrenching to watch about the victims’ story in the news, everyone of them had a story and loved ones waiting for them. Especially when the SAR team brought up baby shoes from the plane that has sinked down in to the sea, two babies were in the victims list.

I get worried sometimes with my boyfriend’s flying in and to remote areas with less facility in case something bad happens. One day I read a news about a small plane that crashed in the location of his work, my heart literally skipped a beat at that time to load the news in my phone, hoping it’s not his airline. Even though I knew he’s a good one (Well I dont know anything about flying but I can feel when someone makes you feel safe when his driving/ flying. Also his friends told me that he’s good) and I know how much he loves his job, it’s just still not easy to not worry about someone you love. I cant imagine what his parents feel when their son’s gonna live in a third-world country with poor healthcare and safety procedures. (But then told my self, “Why the hell are you acting like a white person from a developed nation? Look at yourself, you’ve survived 28 years living in this country! hehe)

Deepest condolence to all the victims, hope that justice will be served to whoever took responsibilities of this case because their lives matter.

Advertisements

Wanita dalam Perlombaan

I am so amazed and thankful for the existence of internet and social media, tanpa mereka gw gak akan bisa hidup sebebas ini, gw berani memilih ngejalanin apa yang gw lakuin sekarang karena gw yakin gw beruntung hidup di zaman yang tepat. Zaman dimana orang bisa sukses tanpa harus merelakan tidak menjadi diri mereka sendiri. Namun demikian gw kadang rindu zaman sebelum adanya social media, waktu dimana kita gak perlu berlomba-lomba mengukuhkan eksistensi diri, berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih bahagia, sukses, bahkan tingkat iman pun diperlombakan. Waktu dimana kita melakukan sesuatu karena rasa suka, bukan karena ajang di panggung yang semu.

Dari pandangan gw sendiri sebagai pengamat (dan mungkin tanpa sadar pernah menjadi peserta), wanita adalah yang lebih sering ikut perlombaan fana ini. Emang udah fakta umum sepertinya kalo wanita memang jiwa kompetitif dan insekuritasnya lebih mudah diombang-ambingkan daripada pria. Atau mungkin pria lebih jago menyembunyikan insecurities mereka ketimbang kita.

Memang sulit jadi wanita, kita selalu hidup berkompetisi. Kalo kata Oscar Wilde, “Women don’t dress up to impress men, women dress up to annoy other women.” Sadly true. Di umur yang sudah sedikit melebihi seperempat abad ini, gw udah melihat dan menjadi bagian dalam kompetisi wanita ini, kompetisi yang gak jelas judulnya apa, namun intinya, dalam kompetisi ini kita harus menunjukkan dan kadang menjatuhkan wanita lain untuk meraih gelar ‘Gw lah yang paling wanita sejati!’. Di tiap jenjang umur pun, kategori yang diperlombakan berbeda-beda, namun piala akhir tetap sama, yaitu gelar ‘wanita sejati’. Dengan adanya sosial media, kompetisi ini semakin sengit dan jelas terpampang.

Gw sudah melewati umur dimana kriteria ‘wanita sejati’ ditentukan oleh bentuk fisik. Kulit warna ini lebih baik dari warna ini, tinggi badan segini lebih baik daripada yang itu, lingkar badan, jenis rambut, cara berpakaian, dan lain-lain. Hal ini paling kenceng terjadi di usia belasan tahun, biasanya diiringi dengan kompetisi ‘siapa yang punya kawan paling banyak dan nge-hits abis’. Kalo kemana-mana bareng orang se-genk udah kayak mau kampanye. Tinggal bikin yel-yel aja lagi.

Ketika udah bertambah umur, level kompetisi semakin sulit karena berhubungan dengan pernikahan. Dimulai dari umur 23 tahun, foto tunangan, prewedding, undangan, pernikahan dan honeymoon semakin bertebaran. Hal ini tergantung di kota mana kamu tinggal atau kuliah dulu, kalo di kota besar mungkin agak relaxed. Fisik bukan lagi masalah yang penting, yang penting di level ini adalah status. Buat apa cantik kalo nikahnya belakangan, begitu lah kira-kira stereotypenya. Di umur ini banyak banget jiwa-jiwa insecure bermunculan, kode minta diajak nikah berserakan. Apalagi bagi yang belum mendapatkan pengalaman kerja atau gak puas dengan pekerjaannya, fikirannya pingin nikah aja, seolah-olah nikah adalah solusi wahid bagi semua masalah. Kalo masih jomblo atau galau tanpa kejelasan hubungan di umur ini, bertahan lah. Nanti juga momen ini berlalu di umur 25 tahun.

Gw ngerasain dan ngeliat dengan jelas gimana kompetisi di umur ini terjadi. Banyak yang promosi diri sebagai wife material nomero uno, hobby dan cara berpakaian pun  pun langsung berubah drastis, caption yang elegan jangan sampe ketinggalan, walau pun hasil copas. Ada kenalan yang tiba-tiba rajin posting hal-hal berbau agama, cara berpakaiannya berubah drastis. Ternyata lagi ngincer ustadz, walau pun ustadz-ustadzan. Kalo udah putus, ganti lagi, kode lagi. Pengambilan keputusan dengan cepat, banyak yang nikah dengan memaksakan hubungan yang sebenernya gak bisa lagi (ujung-ujung pas nikah langsung cerai atau diselingkuhin), kadang alasannya se-sepele hanya ingin pamer foto prewedding atau foto bareng suami di sosial media. Sosial media membuat seolah-olah nikah itu masalah gampang, yang penting bisa bikin caption #withhubby, adu du du duh…

Dengan adanya sosmed, persaingan di fase ini makin berat, karena adanya banyak aspek. Dari ada dan ketidak-adaan pasangan sampai acara resepsi. Harus ada foto bridal shower dengan girls squad-nya, belum lagi prewedding, foto aja gak cukup, harus pake video juga biar oke dan geger seantero Instagram. Undangan juga harus kece, baju bridesmaid jangan sampe malu-maluin. Di umur ini, umur baru mulai kerja dan berpenghasilan, tapi persahabatan diuji karena banyaknya ‘biaya persahabatan’ yang harus dijaga, dari persiapan bridal shower, jahit baju bridesmaid, sokongan kado, tiket pesawat, akomodasi, makeup artist, dan entrebe-entrebe lainnya. Semuanya demi apa? Demi menang lomba!

Lalu apakah kompetisi ini berhenti setelah menikah? Kagak, welcome to the next level. Level dimana suami aja gak cukup, harus punya anak juga untuk pembuktian betapa wanita sejatinya kita ini. Bagi yang telah melewati fase sebelumnya dengan status ‘masih single’, ini adalah momen dimana kalian bakal jadi penonton para istri-istri baru berkompetisi di level ‘siapa yang hamil duluan’. Sumpah ini konyol banget, seolah-olah membuktikan uterus siapa yang paling unggul. Saking konyolnya, bagi yang masih single bakal sering ditanyain sama teman lain yang sudah menikah apakah teman dekat kita yang juga baru menikah sudah hamil atau belum, kenapa gak tanya langsung sama orangnya aja yak? Gw kan bukan suaminya, gak pergi control ke dokter bareng gw juga. Kalo di fase sebelumnya bertebaran foto dengan pasangan dari engagement sampai honeymoon, di fase ini foto yang bertebaran adalah foto hasil test pack atau hasil USG. Langsung deh posting-posting tentang anak, menjadi orang tua, dan bahagianya menjadi istri. Gw ikut seneng kalo liat temen-temen gw bahagia, tapi ketika masalah punya anak dijadikan bahan perlombaan, aku hanya bisa facepalm.

Di fase ini adalah dimana tidak sedikit kenalan-kenalan yang sudah menikah tadi jadi sensitif berkelebihan masalah belom punya anak, terlebih kalo ditanya sudah berapa lama menikah. Gemes rasanya kalo liat perempuan yang sedih, kesepian dan merasa gak sempurna karena belum punya anak biologis. Hellow… lady, you’re still a woman!

Wanita-wanita yang udah menikah dan punya anak juga punya kompetisi lain sesama mereka, salah satu contohnya siapa yang bisa tetap menjaga penampilan, langsing dan menawan walau pun sudah launching produk. Hal ini memberikan pressure kepada mamah muda yang gak bisa back to normal pasca melahirkan seperti artis-artis di media, gak semua orang punya genetik dan kondisi fisik yang sama. Ada yang jadi udah males foto selfie lagi karena ngerasa udah gak cantik lagi, jauh benar kalo dibanding waktu single dulu yang tiap menit upload foto narsis muka close-up melulu, sampe ada yang udah bedah plastik untuk mengecilkan segala bagian yang membesar, dari bentuk hidung, pipi, perut, dan lain-lain.

Setelah lewat umur 27 tahun, para kontestan yang gagal nikah di umur 23-25 tahun tadi ternyata sudah banyak yang telah berubah, mereka bebas melalang buana menghabiskan duitnya untuk dirinya sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain, banyak juga yang karirnya menanjak atau telah menemukan passionnya. Tanpa disadari mungkin mereka melakukan pembenaran, ‘syukurlah gw belum nikah, daripada udah nikah hidupnya cuma gitu-gitu aja.’ Di lain sisi, pihak yang sudah berlabel istri gak mau kalah, seolah-olah gak ada posisi yang lebih indah dan terhormat selain menjadi istri, apalagi kalo udah jadi istri, bisa juga jadi ibu biologis, sudah lah jannah di tangan.

Namun para ibu-ibu yang udah punya anak pun juga bersaing dengan sesama emak-emak perihal siapa yang jadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Siapa yang mengasuh anaknya sendiri dengan siapa yang memperkerjakan baby sitter. Siapa yang hanya bergantung dari dompet suami dengan siapa yang punya penghasilan tambahan atau ikut membantu keuangan keluarga.

Ya ampun, baru 27 tahun gw hidup di bumi tapi udah banyak banget segala kompetisi yang gak jelasnya hadiahnya apa. Membuat gw jadi bertanya-tanya setelah umur ini, levelnya apa lagi? Kadang gw heran sama yang rela mati-matian transgender buat jadi wanita, persaingan di dunia wanita keras lho, bro! Kalo sekarang anak mereka masih sama-sama kecil, masih belum punya pendapat yang permanent. Gimana nanti kalo anak-anaknya udah pada remaja atau lulus kuliah, apakah kita harus bersaing siapa yang anaknya paling banyak prestasi akademik? Masuk sekolah mana, pilih jurusan apa, nikah ama siapa dan umur berapa, dan pilihan-pilihan lainnya yang menentukan prestasi seorang wanita menjadi seorang ibu. Bukannya hal itu terlalu selfish, hanya untuk pembuktian diri sendiri kita harus mengorbankan orang lain. Orang tua yang hasilnya memaksakan kehendak kepada anaknya mungkin adalah orang tua yang belum lepas dari bayang-bayang perlombaan.

Kenapa dan kenapa kita gak bisa berbahagia saja atas pilihan kita DAN pilihan orang lain, berbahagia atas apa yang terjadi di diri kita DAN di orang lain. Tanpa harus membandingkan siapa yang lebih bahagia, sukses atau lebih wanita sejati. Karena selama kita masih sering membandingkan, gak ada yang sebenarnya menjadi pemenang.

Hanya karena kamu sudah menikah, bukan berarti yang masih single hidupnya merana dan kesepian. Hanya karena kamu belum menikah, bukan berarti yang sudah menikah hidupnya tidak bahagia dan terkekang. Hanya karena kamu sudah punya anak, bukan berarti mereka yang belum adalah wanita gagal. Hanya karena kamu belum punya anak, bukan berarti mereka yang sudah punya anak hidupnya terbatas. Kalau kamu memilih menjadi wanita karir, bukan berarti mereka yang menjadi ibu rumah tangga adalah lemah. Kalau kamu memilih jadi ibu rumah tangga, bukan berarti mereka yang bekerja adalah durhaka.

Siapa lah kita untuk punya wewenang mendefinisikan standar kebahagiaan orang lain. Terlebih lagi masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang di luar kontrol diri kita, bukan kita yang mengatur. Setiap orang punya jam yang berbeda-beda, adzan shalat aja beda RT beda waktu, bisa gak barengan, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang. Perempuan sesama perempuan sebaiknya sama-sama mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain agar terlihat lebih sempurna. Tentang apa yang terjadi di masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain kita hanya punya dua pilihan; either berbahagia dan iklas atau berburuk hati dan prasangka. Pilihan pertama tidak memakan biaya sedangkan pilihan yang kedua menghabiskan budget, tenaga dan waktu.  Rempong, ciiinnn…

 

“Kenapa Harus Bule”: When Indonesian Woman Dating Bule

“Kenapa harus bule?” (means “Why Bule?”) is one of the most-asked questions people give to me lately ( in the first place is question about how I can stay skinny –..–” ). The term ‘bule’ (read: boo -lé) means non-Indonesians, mostly referred to white people. If they’re not white but non-Indonesians, they are still referred as bule, added with the name of country they’re from, for instance; bule Arab, bule Korea, etc. Historically, it was a derogatory towards white people, but it’s changed a lot, maybe because most Asians adore fair skin or it’s the dollar effects.

This post is inspired by a newly released Indonesian movie with the same title, “Kenapa Harus Bule”, that tells about a brown-skinned, black-haired Indonesian woman in her early 30s who’s looking for a man to be with but she’s been told many times that her look is not up to Indonesian standard of beauty and only bules find her beautiful. Anyway, this post is not a movie review, because I haven’t watched it yet. It’s my own opinions as an Indonesian woman who hasn’t dated Indonesians for years and because of that, people like me, can easily got labelled as a Bule Hunter. Bule Hunter is such a phenomenon that I don’t deny it exists, especially in touristy areas and has negative connotations because they’re mostly only after the dollars, or other prestige or any other silly reasons. Of course there are also people like me who just happen to have/ have had non-Indonesian partners because we really fall in love with the persons they are, not because they’re bules, it just happened to be a part of their identities. I mean, come on, me?? hunt?? I’m the fox, baby! LOL.

In Indonesia, it’s common to give stereotypes to Indonesian who’s dating or married to a bule, especially if the bule is Caucasian. These stereotypes are more easily thrown to Indonesian women who date bule than Indonesian men who date bule. Why?? Because that’s just the world of patriarchy works, so sad but it’s still the world we live in.

I’ve dated (and flirted with) both locals and bules, from my experience, I can say that we’re all the same in many ways regardless the country, race, religions, etc, there’s only one race which is human race. You can find douchebags Indonesian guys, you can find douchebags bule guys. There are good, open-minded bule guys, there are also good open-minded Indonesian guys. But yeah, I do admit that there are some traits that can be easily found in westerners, there are some traits that can be easily found in Indonesian guys, it depends on what you’re looking for. I mean, I’m 27 y.o and just like most 27 y.o, we’ve known our selves well, we already know which person will go along well with us, we know which one will make us feel comfortable without being someone we’re not. And in my case, local guys who have that are either in relationship with other people or don’t find me attractive. Hiks!

Of course in dating we’re trying to find someone we feel most comfortable with who has the same values and points of views. I think it’s kinda obvious for people who know me, I don’t think like many Indonesians especially from the ways I look at gender roles. Well probably it’s because in Indonesia (especially in small towns) and many Asian countries, at home parents really give samples of gender roles, home chores are mostly given to girls and young girls are told about how important marriage is since we’re 16, how to be a good wife, how to find husband, etc. I’m too rebel for that. For a small example, I witness a lot how wives are exhausted taking care of the house and kids all day and when the husbands come home, they asked the wives to make coffee for them. I mean, are you serious?? You have legs, hands, and brain, why don’t you do your sh*t by yourself? And if I speak my mind about it, I will be called ‘a challenge’ or ‘disturbed’ or whatever that sounds like I got wrong education. Meanwhile in bule’s culture and countries, maybe it’s not easy to afford a housemaid, so they’re accustomed to take care of their selves and don’t feel right to ask somebody to do small basic stuffs for them, like making coffee. Some bule guys I was seeing earlier complained because I always gave drink to the guys first before I gave for myself, they asked why I was doing that and they wanted us to be equal.

In Indonesian relationship, women are expected to sacrifice once they get in relationship or marriage. That women are the ones who more likely to give up their career and dreams in the relationship. I disagree with this, why can’t we both grow together? In a broken family with a working mom in Indonesia, woman will be the first to be judged for her husband cheating on her, that’s crazy, if she’s not the one who cheats how could that be her faults? Raising kids and saving a relationships are the responsibilities of everyone in the relationship, not only one side which is determined by gender.

Other thing that I find very obvious is the way of expressing love. I don’t know why in Indonesia it’s so common to believe that if you love someone you need to forbid him/ her from many stuffs to show that you love and care about them. I’ve been told many times by local guys (event though in friendly situations) about how to think, how to dress, which to befriend with and what I think the worst is how and what to dream. Every time I give them signals of interest, they always start to show this symptom. Meanwhile with bule, I feel they’re more free, they may disagree with what I do, but they will not just forbid me right away. I feel more loved when I am given trust rather than limitations without logical explanation.

Also I don’t think I belong to the attractive category in Indonesian standards which prefer lighter skin. I admit that this ever affected me when I was a teenager that I tried so badly to whiten my skin. But deep down I’ve always found sun-kissed skin very sexy, I was just afraid people didn’t find me attractive because I didn’t match the standards. I went out with some locals who told me that they liked me because I was fair and if I was darker, they wouldn’t even try to approach me. Well it’s fine for me and I respect their honesty, we all have taste. What bothers me is when they try to control and make fun of me when my skin got darker after an outdoor activity. One day I posted a photo on my soc-med of my hand holding my then BF’s hand, you know what response I got from my local friends (guys and girls)? “Cihud why is your hand darker than your BF’s hand? He has a more beautiful hand than yours.”, seriously as if I didn’t deserve him because of my shade. I know it was joking, but still didn’t find it funny. So I feel more appreciated by bules that find me physically exotic (that’s what they say). Not only physically, but also intellectually that these guys who I hanged out with always said that the most attractive asset I have is not my skin, face, hair or look, but my mindset and passion. If I was just an exotic brown-skinned but didn’t think like this, didn’t have any other drives in life and only accepted what guys give to me, they wouldn’t fall for me. While many local guys tend to see this as a threat that needs to be shut down.

Also Indonesian guys tend to be more in a hurry when it comes to relationship, they like to plan about marriage at very early stage of relationship for many reasons (not all, but so common), most common reason is age. I kinda see it dangerous to only want things without really knowing why you want it, and I don’t want to be married with someone just because of his fears; fears of age, fears of time, family, etc.

For most Indonesian guys, age is an important consideration. Woman closing to 30 y.o is closing to her game-over. You can be smart, good looking and successful woman, but if you’re over 25, it’s like you’re over 52. Meanwhile, age has never been an issue with bule.

The way we see concept of success also influences how people behave in the relationship and how he/she expects the other to behave. I personally feel that local guys prefer their women to be more needy to them. While for me that is not cute. I always got complaints from local guys for being not needy. One very little example is shown by so many Indo girls speaking in baby voice, like literally baby voice, when they’re with the BFs. Every time I tried this with bule, I successfully got cringe in their eyes, like, “Babe, did you hit your head in a car accident?”

cihudwardani___BfKnTIRHpkT___.jpg

Or maybe I’ll end up with a swan. We already have a pre-wedding photo.

So, based on the points above, I think my point is that everyone has his/her own ‘market’. Your market may be different from mine. There are billions of billions people in the world, there are so many places. To limit based on specific area is like wasting opportunities, nobody can guarantee that the person who was destined for you was born in the same city, district or country. Maybe he/she was born somewhere in other parts of the world, maybe he/she was born right in the same neighbourhood with you, who knows. So we can’t judge other people’s path that’s different from ours. For many people, they find it easier to understand partners who are from the same city, country or customs. Unfortunately, it doesn’t apply to me, I find understanding Indonesians harder, or maybe it was just bad luck for me to meet only the difficult ones. Nobody can know whether I will end up with a bule or local, nobody knows. Also, to generalize all bules based on race and countries of origins is wrong, they may look similar in our eyes, but they have different passports, different habits, different many things. There were locals who treated me bad, there were bules who treated me bad. I will share about the common misconceptions about dating with bules in different writing later. The more we meet people from different backgrounds, the more we feel that we’re all the same, that we want to be loved, understood and appreciated. We just want to find which one does us more.

Perempuan, Umur dan Pernikahan

Hampir mirip dengan seni, umur adalah apa yang dikatakan, disangkakan dan direaksikan oleh kita dan orang lain kepadanya. Banyak yang bilang, secara fisik gw terlihat lebih muda daripada umur gw. Di umur gw yang sekarang 27 tahun, banyak yang menyangka gw masih 20-21 tahun (ini bukan maksud nyombong, lho!), apalagi kalo ketemunya waktu gw baru selesai olahraga, dengan hormon-hormon positif yang terpompa, bisa disangka lebih muda lagi, padahal menurut gw muka gw sehabis olahraga udah beruk maksimal banget rasanya. Tadinya gw gak ‘ngeh’ kalo gw terlihat demikian, baru karena semakin banyak reaksi serupa, makanya gw perhatikan foto diri gw dari masa ke masa, ternyata… ya emang gak significant sih perbedaannya. Di saat temen-temen atau junior telah melalui berbagai turbulensi dan transformasi penampilan, gw ya begitu-begitu aja, dari model rambut, muka, sampe bentuk tubuh, sampe-sampe baju yang gw pake sampai saat ini udah cukup umurnya untuk sekolah SD! Kalo pertama kenal, baru setelah ngobrol panjang orang-orang berkomentar, “Wah kamu dewasa ya untuk anak seumuran kamu!”, lah emang diye tau umur gw berape? Lol. 

Mungkin ini karena pola hidup gw yang berubah semakin perduli dengan kesehatan dan keafiatan fisik, atau mungkin karena kemampuan emosi gw untuk memanajemen dan minimalisir stress dan tidak takut untuk meninggalkan orang dan keadaan yang membuat gw tidak nyaman dan bahagia. Well, kalo kamu terlihat cepat tua, mungkin kamu gak nyaman/ bahagia dengan lingkungan, hubungan atau pekerjaan kamu etc tapi terlalu takut meninggalkan karena berbagai macam ketakutan. Ato mungkin malah sebenernya gw ini bukan awet muda tapi awet tua? Hahaha… Terserah lah… Tapi berhubung gw lebih seringnya bergaul dengan orang seni atau orang-orang yang jalan hidupnya anti-mainstream, gw gak ngerasa awet muda sih, karena mereka-mereka ini yang menurut gw lebih awet muda.

Anyway, kalo orang-orang belum tau umur gw berapa dan menyangka gw lebih muda, reaksi mereka pun berbeda, bahan pembicaraanya berbeda. Entah kenapa gw sering disangkakan suka dengan drama Korea, mengapa demikian gw juga gak mengerti sub-consiousness apa yang telah dibawa oleh Korean wave ini. Padahal gw bener-bener anti sama Kpop dan K-drama. Sedangkan kalo gw udah bilang umur gw yang sebenernya, reaksi dan bahan pembicaraanya berbalik 180 derajat. Pernah di gym, ada cewek yang dua tahun lebih muda daripada gw sampe teriak dan bikin orang-orang nengok, “Iiihh masa sihhh, Kaaaaaak (red: sebelumnya dia manggil gw ‘Dek’). Aku gak relaaa…” Loh, apa maksudnya dia yang gak rela?? Gw juga gak ngerti. Respon kedua, “Kok bisa awet muda, kak?” Well, ya karena emang gw masih muda! 27 tahun ya emang masih muda keles! Lebay banget di negara ini umur 27 diperlakukan seperti umur 72 tahun. Respon ketiga adalah masalah kapan menikah, “Hati-hati lho kalo wanita mah kalo udah di atas umur 25 gak ada yang mau lagi, udah susah dapet anak. Udah gak cantik lagi.” Kalo ngobrol sama bule, umur gak pernah jadi masalah. Menurut analisa sotoy gw pribadi, hal ini mungkin karena beberapa hal:

  1. Timeline hidup umum orang Indonesia berbeda dengan mereka. Di Indonesia, terutama bagi perempuan kebanyakan dan apalagi yang tinggal bukan di kota besar, umur 27 tahun ‘diekspektasikan’ setidaknya udah menikah atau punya anak. Sedangkan di negara mereka, umur 27 tahun ya masih melalang buana menstabilkan diri secara emosi dan finansial. Terutama generasi millenial yang berfikir berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya
  2. Usia harapan hidup orang Indonesia lebih pendek, sama seperti negara-negara maju sebelum mereka menjadi negara maju. Di Indonesia, umur 50-60 tahun ngerasa udah ringkih dan manja banget, bawaannya minta cucu melulu. Lah bule-bule di Sanur umur 70 mah masih travelling. Jadi karena merasa takut mati, mendingan buru-buru nikah. Padahal mati mah bisa kapan aja. Tuhan gak pernah ngejanjiin kok kalo lo cepat nikah mati lo bisa diundur.
  3. Pendidikan mereka yang lebih maju membuat pola fikirnya berbeda, wanita gak dinilai dengan ukuran-ukuran tradisional seperti umur atau apakah lw mencuci piring temen lelaki lw apa gak. Pendidikan tentang masalah fertilitas dan equality sudah tersebar dengan mengacu pada hasil riset terbaru yang lebih reliable, bukannya ngajar pake ilmu dan data lama, emang ilmu gak berkembang? Di luar negeri, feminis memperjuangkan equal salary, nah di Indonesia masih aja sibuk poligami. Baru lahir kemaren udah minta nikah, begitu udah nikah, minta poligami. Gak puas-puas. 
  4. Biaya hidup yang lebih tinggi membuat mereka harus lebih independen sedini mungkin dan wanita tidak lagi dididik mencari suami kaya, tapi untuk menjadi pribadi yang bisa berdiri sendiri. Everybody is busy paying for their own needs, lo sangka mudah cari orang yang bisa ditebengin atau yang mau nebengin? Disini masih lumrah kuliah menjadi tanggung jawab orang tua, nah mereka dongs pake student loans. Sehabis lulus, interest is coming.

Gw kenal banyak wanita seumur gw dan yang lebih senior yang masih belum menikah. Mereka juga pastinya sudah kenyang dengan berbagai reaksi yang mostly negatif, dari yang iba, kepo, nyalah-nyalahin sampe yang merasa perlu menceramahi, kadang yang ceramah juga gak ngaca, pernikahannya sendiri aja masih berabe udah berasa punyak hak buat ngedikte hidup orang lain. Wanita Indonesia di atas umur 25 tahun yang masih belom menikah sangat rentan mendapat stereotypes negatif. Nih ya, gw coba jabarin satu-satu.

  1. “Itu lah kalo cewek terlalu pintar, jadinya belom laku-laku.”

Sebenernya ini adalah pujian lho, mereka mengakui kalo lo pintar. Yang ngasih lo pinter siapa coba?? yang menciptakan seseorang jadi pintar siapa? Emang kalo dulu sebelum dilahirin dikasih milih, lo mau minta dikasih pinter ato bego? Berarti secara gak langsung, mereka nyalahin Tuhan dongs! Lagian banyak orang pingin jadi pinter, masa yang udah pinter mau minta jadi bego. Kalo Tuhan menciptakan lo pintar maka bersyukurlah, udah dikasih rejeki, dikasih pula natural selection. Dan kalo lo merasa lo sebenernya gak pintar, ya bersyukur aja juga, akhirnya kan lo dilabeli pinter juga karena belom nikah, hehe. 

2. “Itu lah wanita yang terlalu memikirkan karir dan prestasi, akhirnya jadi LUPA DIRI dan LUPA KODRAT.”

Yah maklum lah sodari-sodari sekalian, kita hidup di lokasi yang paling suka menjadikan wanita sebagai bantalan. Lo belum nikah, dianggap salah. Sampe gagal nikah, disalahin. Udah nikah, salah juga. Sayur kurang garem aja bisa disalah-salahin. Udah nikah belom/ gak punya anak, yang salah istri. Udah nikah, suami berpaling, yang salah istri. Udah nikah menolak dipoligami, yang salah istri. Udah nikah, anak telat pulang, yang salah istri. Istri di rumah selalu pake daster, yang salah istri. Sampe Setya Novanto lulus dari pengadilan juga salahnya istri. Nah, ini lah resiko nikah sama wong ndableg. Mirisnya tipe ini masih merajalela di Indonesia setelah lebih 70 tahun merdeka.

Justru semakin matang pola fikir seseorang, dia semakin mengerti dirinya sendiri, semakin ingat dengan dirinya dan bukannya lupa diri. Semakin dia mengerti kenapa dia menginginkan sesuatu, semakin memahami bagaimana dirinya ingin diperlakukan dan memperlakukan. Semakin lo dewasa, list persyaratan/ kriteria pasangan lo semakin sedikit. Waktu muda belia dan labil, banyak syaratnya. Harus yang fisiknya begini, gelar pendidikannya ini, pekerjaannya begini, dll. Tapi dengan banyaknya jumlah persyaratan tersebut, justru lebih mudah nyarinya, Contoh, kalo syarat lw minimal S1, gampang kan nyarinya? Yang S1 bejibun! Minimal gaji sekian, banyak kan kandidatnya? Namun semakin lo dewasa, semakin lo mengerti apa yang lo butuhkan, tapi kandidatnya semakin langka. Semakin lw mengerti nilai diri lw, semakin lw memahami standar moral lw, semakin sulit nyarinya. Gw punya standar moral yang gak bisa dinego, seseorang pernah bilang ke gw, “What you tolerate makes you worried. Learn to say ’No’.” Kalo gw sampe nikah dengan orang yang tidak mempercayai apa yg gw percaya, tidak membela apa yang gw bela, gw tidak akan bisa bahagia, walau pun dengan kecukupan materi. Kalo lo yakin dengan hasil pendidikan yang lo kantongi, yakin dengan didikan orang tua lo, yakin dengan wawasan lo dari membaca, pengalaman, dll, lo gak perlu menurunkan standar moral hanya karena rasa takut yang tidak perlu; takut nanti gak ketemu jodohnya lah, takut terlalu tua, etc. Lebih baik singkat dengan orang yang tepat, daripada terjebak lama dengan orang yang salah. Dan setiap orang memiliki jam berbeda-beda, gak bisa disamakan si A lulus kuliah umur segini, si B umur sekian. Pikir aja ya, adzan sholat atau lonceng gereja aja beda RT bisa selisih waktu, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang!

Lagian sotoy amet ya yang pada bilangin lupa diri, seolah-olah mengecap bahwa perempuan tersebut tidak ingin menikah akibat terlalu liberal lah, dll. Yang tau keinginan seseorang adalah orang itu sendiri, apa kah dia ingin menikah apa gak. Siapa pun gak punya hak untuk menghakimi keinginan orang lain selama keinginan tersebut tidak merugikan orang lain.

3. “Kalo telat nikahnya, nanti susah punya anak.”

Well, pertama, kata ‘telat’. Emang adu lari sama siapa? Menurut lo semua bayi perempuan yang lahir di suatu rumah sakit yang sama dan di hari yang sama itu kayak adu pacu lari gitu, siapa yang duluan nikah?? 

Kedua, ini nih efek rendahnya pendidikan yang gw bilang tadi. Semua salah perempuan, emangnya masalah fertilitas bisa disimpulkan segampang itu? Lo bisa aja nikah semuda mungkin, dan terlihat sesubur mungkin, tapi susah punya anak biologis. Udah banyak kok kasusnya yang sudah bertahun-tahun menikah belum punya anak, ada juga teman gw yang sampai diceraikan dan sebelum diceraikan dipermalukan di depan keluarga dan umum, dikatakan bahwa si istri mandul, padahal hasil tes lab berbeda. Alhasil sekarang hidup dengan trauma. 

Gak salah sih, kalo seseorang menikah karena ingin punya keturunan biologis, namun beware of your own dreams, karena gak ada yang bisa menjanjikan garansi nikah dengan si A bisa punya anak apa gak, anaknya bakalan terlahir sehat apa gak, dll. Ada juga teman yang pernikahannya sudah perang dingin hanya karena belum ada anak, jadi gak ada yang bisa mempersatukan mereka. Well, you can never fix a broken marriage by having kids, that’s so selfish for him/ her and for the kids. Lagian, setelah anak-anak dewasa, mereka akan meninggalkan rumah dan kalian akan tinggal berdua lagi. Terus mau gimana lagi?

Gw sebagai seorang wanita, terlahir dengan rahim. Namun gw gak mau dinilai hanya sebagai rahim. Binatang mamalia juga punya rahim. Dan gw semakin berfikir tentang sebenernya punya anak itu tentang apa sih? Hanya tentang menjadi bunting anak sendiri atau tentang memberikan kesempatan, cinta, kasih sayang, pendidikan ke manusia lain? Semakin gw mengenal diri gw, semakin gw tau bahwa salah satu keinginan terbesar gw adalah mengadopsi anak. Jika punya anak adalah tentang memberi dan berbagi, kenapa cinta dan kesempatan harus dibatasi oleh alasan biologis? Bagaimana nasib anak-anak yang sudah terlahir ke dunia tanpa siapa-siapa? Gw tidak menjudge pilihan orang lain. Bagi orang lain, kebahagian mereka mungkin adalah punya anak dari darah daging sendiri, yang mukanya mirip mereka, sifatnya mirip mereka dll. Dan itu tidak salah, gak ada yang berhak memaksakan konsep kebahagiaan untuk orang lain. Bagi gw, bahagia gw adalah ketika gw memberikan harapan dan kesempatan pada orang yang merasa sudah kehilangan harapan. Kenapa gak diangkat jadi adik aja ketimbang jadi anak? Karena rasanya berbeda, perasaan yang tumbuh ke manusia tersebut saat diangkat menjadi adik dan diangkat menjadi anak akan berbeda. Maka itu gw gak mau punya anak biologis lebih dari dua anak, atau mungkin satu. Dan gw gak akan menunggu sampe ketemu calon suami dulu baru adopsi anak. Yang menjadi tolak ukur gw untuk masalah anak adalah kemampuan finansial. Sudah menikah atau pun belum, gw akan mengadopsi anak kalo gw sudah selesai dengan diri dan mimpi gw dan sudah financially ready (ya gila aja kalo udah susah ngajakin orang ikutan susah!). Bahagia kita yang ciptakan, buat apa menunggu kalo memang sudah mampu. Nah, makin susah kan nyari cowok yang bisa nerima dan berfikir seperti ini? Embeeer… karena itu lah dia akan menjadi sangat sangat sangat special. Langka, tapi pasti ada. 

4. “Jangan terlalu idealis, kamu itu gak realistis.”

Gak realistis?? Justru yang gak realistis itu adalah mereka yang mengatakan bahwa menikah dapat menyelesaikan semua permasalahan dalam hidup lo dan bahwa semua pernikahan akan baik-baik saja. Justru karena gw realistis, gw tau ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan seberapa siap gw menghadapi hal tersebut. Justru karena gw realistis, gw tau nikah itu gak mudah, penuh tantangan, nah kalo sampe nikah sama orang yang prinsip hidupnya lemah gimana? Justru karena gw realistis gw tau semua-mua butuh duit, mau makan pake cinta? Justru karena gw realistis, gw tau karir hidup seseorang bisa terancam jatuh kapan saja, sudah siap belum menghadapi itu? Justru karena gw realistis, gw tau manusia gak ada yang sempurna. 

5. “Jangan terlalu milih, terima aja apa yang ada.”

Kalimat ini biasanya dilanjutkan dengan kalimat nakut-nakutin lainnya. Yaiyalah cuy harus milih, sedangkan beli martabak aja mau yang spesial, masa mau pasangan hidup yang gak spesial?? Martabak itu cuma nempel 10 menit di hidup gw, abis itu keluar jadi tokai. Untuk sesuatu yang singkat dan berujung jadi tokai aja mau yang spesial, masa iya mau cari orang yang bakal hidup sama-sama lo (kalo bisa untuk selamanya), yang bakal jadi tempat bersandar, jadi team, best friend, lover, partner diskusi dll sama orang yang gak spesial??

Dan gw gak mau memilih dan dipilih hanya karena rasa takut. Gw gak mau dipilih karena orang itu takut gak nemu calon istri, takut umur, atau takut karena keluarganya udah ngedesak, dll. Gw juga gak mau memilih dengan alasan yang sama. Hidup itu simple, yang bikin repot itu rasa takut. Gw hanya mau dipilih karena gw adalah gw, kualitas gw. Karena kalo seseorang bertindak karena rasa takut, dia gak bisa melihat kualitas orang lain, hanya melihat ketakutannya sendiri. Kalo dia menikah hanya karena takut gak punya anak, kalau sampai kejadian gak dapet anak biologis dari pasangannya, dia akan meninggalkan pasangannya tersebut. Dan juga percuma donk orang tua susah-susah ngegedein lo biar lo tumbuh menjadi batu berlian, kalo ujung-ujung berserah diri jatoh ke tangan orang yang gak bisa membedakan mana berlian dan mana batu kali.

**

Ini baru lima stereotypes, udah panjang begini penjelasannya, belom yang lain. Jadi biar gampangnya, kalo ada orang baru dikenal yang nyangka lo masih anak kuliah, ya udahlah iya-iyain aja biar gak panjang cerita. “Iya nih, gw masih kuliah…” dalam hati dilanjutkan,  “… tapi 5 tahun yang lalu ciiinnn…” Hahaha…

Mengkritisi Karir Cetar Fashion Designer Who Loves Shortcuts

Nama Anniesa Hasibuan lagi meroket di media Indonesia karena prestasinya dalam hal merugikan lebih dari 58.000 calon jamaah umrah di Indonesia dengan kisaran kerugian ratusan milyar. Banyak hal mulai dikuak tentang Anniesa, dari harga gorden rumahnya, ketebalan foundation, warna kulit tangan sampai dengan konflik lama Anniesa dengan designer lain yang sudah duluan kondang, Dian Pelangi. Namun saya sendiri baru ngelirik kasus ini setelah saya tau kalo dia adalah designer yang udah tampil di NYFW, salah satu ajang fashion show paling bergengsi di dunia. Yang anehnya karena nama designer fashion muslimah ini malah gak pernah kedengeran di tanah air, jadilah saya penasaran dengan latar belakang dan perjalanan karir seorang Anniesa Hasibuan karena saya sendiri sangat tertarik dengan dunia fashion dan sedang mempelajari fashion dengan lebih mendalam. Saya baca berbagai sumber tentang dia, semua video-videonya baik interview maupun runway shows, saya perhatikan sampai ke pilihan kata dan kesehubungan antara pertanyaan dan jawaban dari video-video interview tersebut. Maklum, saya memang pedantic.

Ternyata memang ini orang penuh sensasi. Dari semua sensasi tentang dirinya yang lagi hangat dibicarakan, yang paling menarik bagi saya adalah tentang karirnya di dunia fashion meroket dengan instan lebih cepat daripada nunggu bikin mie gelas. Bagi sebagian orang mungkin karirnya terdahulu ibarat prestasi yang tercoreng karena kasusnya, namun bagi saya, perjalanan karirnya penuh tanda Tanya dan kejanggalan untuk dinilai prestasi. Banyak hal yang terasa tidak alami, too good to be true, apalagi setelah saya mendalami dunia fashion design itu complexnya seperti apa. Tahapan-tahapan seperti apa untuk menjadi seorang fashion designer, pencapaian Anniesa Hasibuan terlihat seperti fiksi apalagi untuk orang yang tidak punya latar belakang fashion design maupun pengalaman sebelumnya dan tiba-tiba ujug-ujug bisa tampil di berbagai show kancah internasional. JSYK, selain New York, Anniesa sudah belasan kali tampil show di berbagai negara seperti London, Prancis, Malaysia, Qatar dan lain-lain dalam kurun waktu hanya kurang dari 2,5 tahun. Bahkan kalo pun saya tidak mendengar namanya dari kasus penipuan, saya akan tetap skeptis tentang perjalanan karirnya.

Sekilas tentang karir fashion Anniesa Hasibuan, dimulai di awal tahun 2015, dalam hitungan bulan setelah ambil kursus fashion kurang dari seminggu di London, boom langsung jadi designer. Semakin meroket di tahun 2016 dan eng ing eng… masuk penjara tahun 2017 setelah dua kali tampil di NYFW. Kursus kilat tersebut diakui Anniesa sebagai satu-satunya background semi-formal yang dia miliki, namun dia mengaku sudah senang menggambar baju dari dulu dan sering mendesain baju sendiri untuk dirinya dan keluarga beberapa kali. Bisa dikatakan disini bahwa modal Anniesa adalah minat, kursus super duper kilat, pengalaman mendesign baju untuk diri sendiri.

Well, saya coba ibaratkan dengan proses belajar bahasa Inggris. Saya bisa bilang hampir semua orang dapat dikatakan bisa bahasa Inggris, Namun kata “BISA” itu sendiri terdiri dari berbagai level, BISA level 1 sampai 100. Di level-level awal mungkin adalah orang yang sekedar minat dan sering belajar dari lagu-lagu bahasa Inggris. Pencapaiannya hanya sering bikin status di social media pake bahasa Inggris. Dapat dikatakan “BISA” juga kan? Tapi mungkin gak kalo orang di level 15 untuk mewakilkan Indonesia di kompetisi debat melawan Harvard, Yale, dan lain-lain?

Memang iya era perkembangan teknologi informasi membuat peluang yang tak mungkin jadi mungkin, semua bisa dipelajari. TAPI bukan berarti kita harus tidak jadi realistis. Optimis boleh, tapi tetap aja semua itu ada batas pencapaian. Kalo resource yang dimiliki dan efforts yang dikeluarkan minim gak mungkin donk bisa mendapatkan pencapaian yang wow. Kita semua punya batas, batas itu sejalan dengan resource, efforts dan DURASI perjalanan. Oke, memang gak semua orang harus punya resource bidang akademik formal tapi tetep sukses di bidangnya. Contohnya musisi Barry Likumahuwa , tapi jangan lupa, ada DURASI PERJALANAN. Tahapan-tahapan yang dia lalui panjang untuk sampe di posisi dia sekarang. Designer Dian Pelangi pun demikian. Lha Anniesa Hasibuan piye?

Yang namanya bagi seorang designer, tampil di fashion show adalah modal sendiri, ibaratnya itu beli lapak. Siapa pun bisa mengadakan fashion show asal punya modal uang yang cukup, bahkan designer muda yang baru lulus pun, atau yang tidak punya titel lulusan fashion design mana pun. Namun ini New York Fashion Week lho, ajang yang punya standar kurasi yang ketat dan tinggi. Mau punya modal uang sekali pun, kalo gak punya konsep dan standar yang cukup, pastinya pihak penyelenggara gak mau mempertaruhkan nama eventnya. Rancangan Anniesa Hasibuan tentunya dinilai telah memenuhi persyaratan- persyaratan tsb. Saya sudah lihat hampir semua design Anniesa Hasibuan dari Pearlasia sampai yang terbaru,’Drama’ yang tampil di NYFW Februari 2017, dan jujur saya dibuat amazed. Karena rancangan-rancangan itu begitu kompleks dan memiliki konsep yang kuat. Wajar kalo sampe dapet standing ovation segala.

Untuk mendesign satu baju tidaklah begitu sulit bagi orang yang suka mendesign baju untuk keperluan sendiri. TAPI untuk mendesign suatu collection yang terdiri dari puluhan baju yang saling terhubung dalam satu konsep dan harus menghasilkan beberapa collection beberapa kali dalam setahun dengan waktu yang begitu berdekatan, THAT IS HARD. It’s hard level 1000. Sama dengan menulis, ya menulis satu tulisan berdasarkan mood untuk blog sendiri tentunya gak sulit donk, tapi coba kalo harus jadi kolumnis rutin, tulisan harus publish sesuai jadwal dan tuntutan pasar, apa kemampuan menulis tingkat Goenawan Muhammad bisa dicapai hanya dengan kursus singkat tentang menulis di London selama 6 hari?? Masuk akal??

Apalagi, setelah menonton berbagai interview Anniesa Hasibuan (contohnya yang ini dan ini), menurut saya itu janggal sekali. Karena Anniesa tidak bisa menjawab pertanyaan presenter tentang tahapan karirnya dan apa yang membuat karyanya berbeda dengan karya designer Indonesia yang lain yang lebih dahulu berkiprah di bidang fashion. Dia selalu bilang “Ya gak tau ya, Alhamdulillah aja… blab la bla…” Sempat juga dipuji humble oleh sang presenter karena jawaban ‘gak-tau-alhamdulillah ‘ tersebut, for me personally it’s not humble. Successful people never has nothing to talk about their success, mereka pasti punya banyak hal yang ingin mereka ceritakan dari apa yang mereka alami. Makanya banyak orang sukses yang bikin buku, tandanya apa? Tandanya mereka memang melalui banyak hal. Ya kalo yang dilalui emang gak banyak, makanya jawabannya “Gak tau ya, Alhamdulillah…” Logikanya aja, orang yang bekerja keras untuk mimpinya dari awal, sudah menunggu begitu lama untuk suatu saat bisa di posisi tsb dan berbicara ttg hal itu. Siang malam dia berusaha dan menunggu, bukan untuk bilang, “Gak tau ya…” Bagi saya, orang yang kelihatan sukses tapi cuma bisa bilang “Gak tau ya” tentang kesuksesannya, bisa jadi karena dua hal:

  1. Karena memang gak ada proses, alias ambil shortcuts
  2. Kalo pun ada proses, proses yang dia lakukan memalukan/ tidak membanggakan.

Menurut saya pribadi bagian karirnya tersendiri perlu dikritisi karena itu dapat berpotensi merusak mimpi banyak orang. Ini orang bukan hanya udah merusak mimpi ribuan calon jamaah yang gak jadi umrah, tapi juga meracuni mimpi orang-orang yang bercita-cita ingin jadi designer. Dia membuat seolah-olah jadi designer itu mudah dan gak perlu kerja keras kalo dari sononya emang udah bakat, palingan nanti disodorin tawaran di ajang fashion show dunia yang penting punya duit. Pertama, there’s no such things as talent, membuat konsep, pemilihan dan teknik permainan bahan, dan entrebe entrebe lainnya yang ada di syllabus Fashion Design dengan ketebalan buku yang ampun DJ itu bukan hal yang bisa dicapai dengan modal “bakat alam”, karena sesuatu bisa dikatakan seni apabila dihasilkan dengan teknik, bukan coincidence, dan teknik adalah metode yang bisa dipelajari. Kedua, gimana nanti pemikiran dreamers lainnya yang kekurangan modal uang? Dia bisa pupus semangat karena sesusah apa pun berusaha belajar dia gak punya modal uang yang cukup buat jadi sukses, seolah-olah sukses adalah soal money capital semata.

Perlu diingat, I am not saying (dan tidak ada dalam tulisan ini) that I said the designs were not hers, karena saya juga gak punya bukti dan kemampuan untuk membuktikannya. BUT, don’t forget, Anniesa Hasibuan sudah terbukti adalah a woman that loves shortcuts to get what she wants. It could be just a matter of time. Let’s see.

Dijual: Jasa Transfer Doa dan Shalat

Di zaman yang serba online, semua barang dan jasa bisa diperjual-belikan secara online, dari mulai baju, alat olahraga, sampai tanah, mobil dan jasa seperti translation dan kelas online. Yang gak kalah heboh adalah JASA BELI DOA online dengan system pembelian online pada umumnya; pilih menu jasa doa yang diinginkan dan sesuai budget anda, transfer pembayaran dan setelah pembayaran terkonfimasi, si pedagang doa akan mendoakan anda sesuai paket doa yang anda pilih.

13697270_987673818011902_4386500682767616323_n

Hanya dijual paketan gans, ini doa, bukan kerupuk, gak bisa dibeli satuan! *Sumber Foto

Bidang perniagaan doa ini digeluti oleh seorang pria paruh baya asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Nurhadi yang kumis dan status-status facebooknya telah mencengangkan dunia maya. Pasalnya, si Pak Raden warna-warni ini membuka tarif penjualan doa dan shalat yang terpampang di foto cover akun facebooknya, doa dan shalat tidak dijual satuan, harus beli paketan. Pak Nurhadi atau yang ramai disebut dengan panggilan NurHD /:nur eij di/ oleh kalangan manusia-manusia sinis tertentu memilik lebih dari 5000 follower di facebook saat saya singgahi akunnya dan sepertinya di Pak HD mengupdate status facebook sebanyak 50x dalam sehari, kebanyakan status-statusnya berisi doa singkat bagi para pembeli, lalu beberapa persennya kata-kata mutiara a la Vicky Prasetyonisasi, dan tidak jarang juga status vulgar padahal beberapa menit sebelumnya habis bikin status doa. Mungkin berdoa membuat dia horny, ato karena berdoanya dipaksakan sesuai deadline, jadi walopun lagi horny dia tetep berdoa untuk menjunjung tinggi profesionalismenya sebagai pedagang agama.

20106255_1339758389470108_6665231790033020787_n

Profile Pic yang saat itu sedang digunakan Pak NurHD ketika saya singgahi Facebooknya. Sepertinya bapak  ini sedang terinspirasi film kartun unicorn warna-warni.  *Foto Sumber

Di profile facebooknya, Pak HD mencantumkan ‘pijat relaksasi dan pengobatan’ sebagai pekerjaannya. Meski udah dikecam dan dihina di dunia maya, sampai sekarang Pak HD is still going strong menjalankan bisnisnya. Bahkan anak-anak muda ada yang melakukan prank-call ke Pak EijDi unicorn bala-bala ini dan mengunggahnya ke youtube. Well, di negara ini, gak heran kalo yang berbau agama laku di pasaran, pantes aja gw gak kaya-kaya, abisnya gw jualan celemek dan bantal sih… bukan jualan agama kayak pak HD.

Kelihatannya, Pak Unicorn bukan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi (maaf pak kalo asumsi saya salah, jangan kutuk aku jadi unicorn juga!) jadi tingkah laku ini bisa diprediksikan. Tapi apakah cuma orang dengan dengan latar belakang seperti Pak HD yang menjual jasa transfer doa?? NO. Seorang financial consultant bernama Ahmad Gozali yang sudah mengantongi pendidikan di sebuah sekolah tinggi dengan spesialisasi akuntansi (alias STAN) dan melanjutkan pendidikan bidang Manajemen Perbankan Syariah sudah lebih dulu melakukan jasa titip doa di dunia maya pada akhir tahun 2013 lalu dengan tagar #TitipDoaBaitullah, dimana orang bisa mentransfer sejumlah uang dengan batas minimal Rp 100.000,- yang disebut sedekah (sedekah kok pake minimal sih, ngaku S2 ya pak??) agar bisa didoakan oleh beliau sendiri ketika beliau pergi ke tanah suci. Pak Gozali ini adalah salah satu dewan Pembina dan penasehat di sedekahharian.com.

titipdoabaitullah

Mungkin bagi sebagian orang yang membuat tercengang adalah karena masalah jual-beli onlinenya. Tapi apakah praktek jual-beli doa ini adalah sesuatu yang baru?? Menurut saya pribadi yang bukan lulusan bidang Manajemen Perbankan Syariah dan juga bukan unicorn, di negara ini praktek titip doa udah ada sejak dulu-dulu banget. Yang baru cuma medianya aja sekarang online.

Contohnya simplenya, kalo ada yang mau pergi haji, sering gak sih kita denger orang-orang pada minta titip doa, “Eh doain aku donk biar enteng jodoh, soalnya aku belum mampu ke tanah suci.” Sama kan? Bedanya gratis karena kenal. Lah doa kok nitip?

Di sekitaran rumah saya dulu juga ada tetangga yang di rumahnya selalu ada orang-orang yang dikumpulkan untuk berdoa untuk orang lain yang minta tolong ke Pak Ustadz itu dengan biaya sedekah sukarela. Katanya orang-orang yang berdoa ini adalah kaum dhuafa dan anak yatim yang doanya lebih afdhal. Kalo ada yang lagi pingin bersyukur atas rezeki, mereka menghubungi pak Ustadz dan ‘bersedekah’ dan minta didoakan agar rezekinya bertambah. Begitu juga kalo lagi ditimpa musibah dan kalo lagi ada sesuatu yang diinginkan. Seolah-olah baginya doanya sendiri kurang didengar, padahal ngakunya percaya kalo Tuhan Maha Mendengar. Alasan lain kenapa hal ini lebih diminati adalah karena hemat biaya jika dibandingkan dengan bikin acara doa-doa di rumah.

Keluarga besar saya sendiri pun semenjak pindah ke kampung halaman orang tua saya di Sumatra Barat, sudah 7 tahun belakangan ini selalu rutin melakukan sedekah pembagian sembako dan doa bersama setiap tahunnya, dalam setahun minimal 2 kali, pembagian sembako akbar setiap menjelang idul fitri karena biasanya jumlah penerima (dan pendoa yang dipaksakan) mencapai angka 1000 beneficiaries. Udah berapa kali saya sendiri mendebat hal ini dan menawarkan alternative jenis bantuan lain ke para mereka yang tua-tua, tapi yah apa daya kita selalu saja dianggap anak dan anak-anak. It’s their money anyway, it’s up to them what they’re gonna do with their money. But do I believe in it even though it’s done by my own family? My own parents? NO.

To be honest, for me it’s silly. Mengumpulkan orang-orang yang tidak mampu, membuat mereka menunggu sampai acara dimulai, lalu menyuruh mereka berdoa, mereka berdoa dengan tatapan kosong karena sudah lama menunggu dan mungkin mereka emang lagi gak niat berdoa karena di kepalanya ada fikiran pekerjaan mereka yang mereka tinggalkan demi pembagian sembako, dan juga mereka gak kenal untuk si nama-nama yang didoakan (lha wong kontaknya cuma setahun 3 kali). Banyak dari mereka yang saya perhatikan tidak melakukan (seolah-olah) berdoa, nah pura-pura berdoa aja gak apalagi mau beneran berdoa. Lalu membagikan sembako setelah mereka dibuat berdoa. And then what? Apa yang sebenarnya kita dapat? Apa yang sebenarnya mereka dapat? Acara seperti ini mungkin lumrah dilakukan di Indonesia, tidak hanya keluarga saya saja.

Menurut saya, hal ini terjadi mungkin karena tidak semua orang benar-benar percaya bahwa masalah doa adalah sesuatu yang personal antara ia dan Tuhannya dan bagaimana kita menginterpretasikan anjuran membantu kaum yang tidak mampu dan anak yatim karena doa mereka. Memang iya anjuran tersebut ada, tapi apa harus dilakukan dengan ngumpulin orang di rumah, disuruh berdoa, trus baru dibagiin duit/ sembako gituh? Itu cuma kebiasaan yang sudah dijadikan tradisi di suatu tempat/ negara, belum tentu mendidik. Masalah dia berdoa apa gak untuk kita setelah kita bantu, bagi saya itu adalah sesuatu yang personal antara dia sendiri dengan Tuhan, buat apa kita ikut campur dengan repot-repot mengumpulkan mereka berdoa yang ditentukan tempat dan waktunya. Kalo mau ngebantu ya ngebantu aja, gak usah pake ada garansi ‘harus didoain ya!’ segala. Lebih baik mereka mendoakan diam-diam dan lebih baik bagi kita diam-diam didoakan. Anyway, for me, when we do something good, it should be because we truly believe it’s good, not because we expect something in return. Karena hanya unicorn jadi-jadian yang pasang tariff transfer doa.

ba7393fc39046d9ed2146c3b3a5b2840--team-unicorn-unicorn-yoga

 

Moving to West Sumatra for Beginners 3 — In the Name of Gengsi

Gw ingat dulu pernah nonton wawancara band Nidji waktu mereka lagi booming. Giring si vokalis yang mengaku mempunyai darah keturunan Minang mengaku kalo pengalaman tampil di Sumbar adalah yang paling memiliki tantangan untuk menghidupkan suasana. Inget dong gimana enerjiknya si Giring ini kalo di panggung. Katanya, dia hampir mati kutu karena udah satu jam jejingkrakan di atas panggung tapi penonton tidak ada yang bergoyang, anggota band saling berpandangan satu sama lain bertanya apa ada yang salah. Setelah sekian lama akhirnya penonton ikut bergoyang sedikit, itupun hanya kepala doang, ya lumayan lah. Di wawancara tersebut Giring bilang yang kurang lebih seperti ini, “Tampil di Padang ini challenging banget karena orang Minang gengsinya tinggi untuk ikutan bergoyang, kita jadi sempet gak pede, apa mereka gak suka penampilan kita. Padahal penonton rame dan makin lama makin rame.”

Seorang kenalan gw yang seorang DJ dan sudah beberapa kali tampil atau hanya sekedar main di klub malam di kota Padang bilang kalo ‘orang Padang panasnya lama, dance floor lama ramenya’.

Hhhmm… gw belum pernah ke night club atau pun konser di Sumbar sih, jadi belum pernah menyaksikan sendiri gimana situasi pergoyangan. Palingan kalo di kondangan ada music-musik gitu. Emang jarang juga sih yang naik ke panggung dan joget-joget. Tapi bukannya di tempat lain juga begitu?

Yang gw pernah cuma nonton acara stand-up comedy Raditya Dika dan beberapa talkshow waktu kuliah dulu. Audience yang hadir banyak dipuji para pembicara lewat twitter, apalagi Raditya Dika sampai beberapa kali twit hanya untuk memuji gimana asiknya audience di Sumbar. Well, mungkin untuk perjogetan, it’s not their cups of tea, hehe.

Selain masalah perjogetan, gengsi di Sumbar yang gw liat adalah tentang tempat perhelatan sebuah acara, biasanya pernikahan. Meskipun ada gedung-gedung hall atau GSG yang cukup memadai, kebanyakan masih memilih untuk melakukan pesta di rumah. Di Lampung dan Pekanbaru, untuk menunjukkan gengsi dan karena gak mau repot, pesta pernikahan umumnya di GSG atau hotel. Di Sumbar yang menurut gw menarik adalah kebalikannya. Keluarga yang sebenernya mampu (dan kadang malah sangat mampu) untuk bayar sewa gedung lebih memilih pesta di rumah dengan alasan “nanti kita disangka gak punya rumah” atau “takut disangka gak mampu bangun rumah sendiri, nanti disangka orang selama ini kita numpang”. Menarik sih alasannya, karena berbeda, tapi gengsi tersebut juga berpotensi menyebabkan kemacetan dan kerugian transportasi buat public yang lain. Keluarga besar gw sendiri sering gw kritik karena beberapa kali egois menutup jalan raya yang ada di depan rumah, mana pake back-up polisi segala, “Gengsi yang lebih penting buat dipelihara itu gengsi buat gak ngerepotin orang lain, bukan gengsi pamer nama besar keluarga.” Alhamdulillah berujung kena semprot.

Selain masalah tempat, gengsi juga ditunjukkan lewat durasi pesta. Semakin lama pestanya, apalagi sampai berhari-hari, semakin bergengsi.

Masalah perantauan juga kenal gengsi, banyak yang pantang pulang kampung kalo belum berhasil karena takut dihina, padahal yang ngehina juga gak mau ngasih bantuan. Rumah keluarga menjadi simbol gengsi. Orang-orang yang sudah lama merantau banyak yang membangun rumah keluarga di kampung walaupun mereka sendiri gak tinggal di kampungnya. Berbeda benar dengan kebanyakan teman-teman gw yang chinese yang memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana, perabotannya juga banyak yang vintage, tapi buat mereka yang lebih penting jumlah uang di tabungan dan jalan ke luar negeri. Teman saya yang chinese pernah bilang, “Gak masalah gimana tempat lw tinggal, yang penting sejauh mana lw udah pernah melangkah.”

Orang-orang di Sumbar pun sering mengakui kalo mereka emang gengsi tinggi, tapi yang membuat gw surprised adalah bahwa mereka mengaitkan gengsi dengan masalah perut. Sering banget gw dikasih tau, “Semiskin-miskinnya orang Minang, mana mau makan selain nasi.” Wah gw baru tau kalo nasi adalah gengsi, padahal gak ada yang bakal tau juga sumber karbohidrat lw darimana. Gak cuma sampe situ, mereka kadang juga sampe spesifik ke merk dan harga berasnya segala. Wow, rasanya gw telah bertemu dengan Nasi Fans Club terbesar di dunia.


Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.