Liburan di Gili Air: Island Life!!

IMG-20180704-WA0019

Salah satu bucket list gw untuk ke Gili Air sudah tercapai di akhir tahun 2017 kemarin. (Baca post ini untuk perjalanan menyeberang ke Gili Air dari Bali). Gili Air adalah salah satu dari Kepulauan Gili yang berada di Lombok Utara. Yang duluan naik daun adalah Gili Trawangan, namun Gili Trawangan terlalu ‘party’ untuk gw yang cupu ini.

Walau pun kurang terdengar di telinga wisatawan lokal, Gili Air dan Gili Meno juga gak kalah diserbu oleh wisatawan asing, justru bisa dibilang 90%nya turis asing, mungkin saat disana gw satu-satunya turis Indonesia karena apa yang ditawarkan oleh kepulauan Gili ini bukan tipikal liburannya orang Indonesia. Kenapa?? Karena #islandlife banget, you got not much to do but relaxing. Hiburan cuma cafe and bars. Saking sedikitnya wisatawan lokal, sampe-sampe orang lokal disana gak ada yang menyangka kalau gw orang Indonesia juga, mereka selalu menyangka gw bule dan mencoba berbicara bahasa Inggris. Walau pun udah pake Bahasa Indonesia, mereka masih juga sulit percaya.

IMG-20180704-WA0016

Kesamaan dari tiga kepulauan Gili tersebut adalah adanya larangan kendaraan bermotor beroperasi demi menjaga kebersihan udara di daerah wisata tersebut. Jadi jangan harap bisa menggunakan Uber atau Gojek disini, karena kendaraan publik yang ada cuma cidomo, yang seperti delman namun menggunakan ban besar seperti ban mobil, karena untuk di daerah berpasir, ban ini lebih stable dibandingkan ban delman yang ramping pada umumnya.

Walau pun demikian, biaya berlibur di Gili Air bisa dibilang mahal untuk dompet Indonesia. Harga hotel dan makanan di cafe-cafe termasuk mahal (kalo untuk bule sih tetep aja murah). Dan tidak seperti di Bali yang masih ada pilihan range harga, range harga di Gili Air sama rata, harga bule! Mungkin juga hal ini disebabkan karena–hampir sama seperti Bali–Kepulauan Gili ini bukan daerah penghasil apa-apa, jadi satu-satunya kekuatan mereka hanya di industri pariwisata. Bahkan bawang dan cabe pun mereka harus memesan dari Lombok. Jadi bisa dibayangkan ya gimana miskinnya beberapa tahun lalu daerah ini. Namun tiba-tiba booming kecipratan Gili Trawangan yang kecipratan juga dari Lombok yang mana kecipratan dari Bali.

Ada dua opsi untuk transportasi selama di Gili, yaitu dengan menggunakan cidomo atau menyewa sepeda harian yang harganya jauh berbeda. Dengan cidomo, ke satu tujuan aja bisa sampai Rp 50ribu yang padahal jaraknya kurang dari 2 km! Tentunya gw memilih merental sepeda aja (walau pun gw udah hampir lupa cara mengendarai sepeda, terakhir kali gw naik sepeda itu waktu masih tomboy, yaitu kelas 6 SD!), bukan karena mahalnya saja tapi karena gw gak tega liat kuda-kuda itu. Sepeda-sepeda yang warna-warni ini bisa dirental dengan harga Rp 30ribu sampai Rp 50rb per hari (tergantung situ bule atau lokal, hehe).

IMG-20180704-WA0021

Namun peminjaman sepeda adanya agak jauh dari dermaga, jadi harus berjalan dulu sambil menggeret-geret koper, kalo di jalanan aspal sih mudah, nah ini jalanannya masih pasir, mau gak mau harus digotong, hiks!

Saking banyaknya turis asing, gw gak berasa di Indonesia! Namun ternyata, berhubung saat gw datang itu lagi hebohnya status Gunung Agung, jadi wisatawan yang gw lihat saat itu katanya sih hanya 20% dari biasanya, hwaks!! kebayang dong gimana kaya rayanya ini supir-supir cidomo di hari normal! Sedangkan di saat sepi begitu aja, penghasilan mereka jauh melampaui para sarjana! Hiks hiks!

Lebih baik memilih akomodasi yang dekat dengan dermaga, karena kebayang dong gimana capeknya kalo harus naik sepeda bolak-balik 6 km per hari, bisa-bisa gw tinggal tulang! Apalagi kalau mau keluar di malam hari, walau pun cafe-cafe buka sampai malam, tapi tetep aja jalan baliknya jauh dan gelap!

IMG_20171231_134552_507

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Kadang-kadang sinyal internet pun timbul-tenggelam, padahal udah memakai Telkomsel. Cafe dan restaurant yang ada di Gili Air hampir sama dekorasinya seperti yang di Bali, vibe yang relaxed dengan lagu-lagu pantai yang gak peduli dengan Top 40. Gw memilih hotel tempat gw tinggal karena disana ada studio yoga tepat di depannya, namun jauh dari dermaga dan ‘pusat kota’. Harga kelas yoga di Gili Air relatif sama dengan di Bali namun semua pengajarnya (di semua studio. cuma ada 3 studio yoga di Gili Air saat itu) bule, orang lokal sana masih belum mengerti yoga kayaknya, hehe. Gua juga mendapatkan diskon KTP, sama seperti di Bali.

Gak perlu takut susah mencari uang cash karena banyak terdapat ATM berbagai bank kok disana. Tapi gak usah belanja-belanja deh mendingan, karena semua produk diimpor dari either Bali atau Jawa, bahkan harga kaus pantai yang di Bali hanya Rp 40an disana bisa mencapai Rp 200rb! Duhh….

Anyway, the diving makes up for it! Pertama kalinya gw nyobain diving, walau pun cuma kecipak-kecipuk aja di pinggiran (karena gw gak bisa berenang. Ok please, jangan diketawain. –..–“). Gw diving hampir setiap hari, lautnya bersih dan benar-benar biru. Kebayang gimana relaxednya duduk di tepi pantai sambil dengerin podcast/ baca buku. Saat kembali ke Bali, teman-teman di Bali semakin kaget kenapa kulit gw semakin gosong setiap harinya dibanding saat pertama kali pindah. Hahaha!

IMG-20180704-WA0018

 

Advertisements

Menyeberang ke Gili Air dari Bali

IMG-20180704-WA0014

Sayang banget kalo lagi liburan di Pulau Bali dalam waktu yang agak lama dan gak nyempetin ke Kepulauan Gili. Kepulauan Gili ini terbagi menjadi Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Gili Trawangan mungkin lebih familiar di telinga orang banyak, namun sebenernya Gili Air dan Meno sama bagusnya kok, malah justru Gili Trawangan itu udah terlalu ‘hype’ dan party banget, kebanyakan bule-bule muda in party mode. Tapi kalo emang party yang lo cari, lebih baik ke Gili Trawangan dan cobain boat partynya.

Berbeda dengan vibe di Gili T, Gili Air lebih chill dan relax, kalo orang Indonesia mungkin jarang banget yang tipe liburannya begini, jadi gak banyak wisatawan domestik yang berkunjung ke Gili Air. Gili Air dan Gili Meno lebih ke liburannya a la bule. Hehe.

Untuk mencapai kepulauan Gili dan Lombok dari Bali, kita hanya perlu menyebrang menggunakan kapal Fery dari pelabuhan Padangbay atau Benoa. Biaya perjalanannya untuk PP adalah sekitar Rp 400ribu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari kota ke pelabuhan. Sekedar tips, jangan tertipu dengan perusahaan-perusahaan yang kamu temukan dari internet karena berharap harga yang mereka pasang di internet lebih murah, padahal ternyata enggak. Yah, namanya juga Indonesia, semua bisa ditawar. Justru kalau datang langsung dan ketemu agen-agen malah lebih dapat murah, kalo bisa minta kontaknya orang tersebut buat perjalanan selanjut-selanjutnya. Alhasil waktu lagi mengantri mendaftar tiket, ternyata masing-masing orang membayar harga yang berbeda-beda. Maklum lah, Indonesia.

Setelah membayar, kita akan mendapatkan stiker tergantung tujuan kita, ke Gili T, Air, Meno atau Lombok. Stiker tersebut dipasang di baju kita sebagai tanda pengenal. Disarankan untuk ambil kapal keberangkatan pagi karena kalau siang, mereka akan ngaret banget, maklum lah negara kita Indonesia tercinta. Dan juga kapal baru akan berangkat kalo jumlah minimu penumpang sudah tercapai, keberangkatan lewat dari jam 5 sore akan sulit sehingga mau gak mau harus menyewa fastboat sendiri yang jauh lebih mahal.

Bisa dibilang 90% wisatawannya adalah bule, saat di kapal kita bener-bener berasa di negara lain (tapi kalo di Bali mah yang begini wajar). Dulu di tahun 2009 waktu gw ke Lombok dan Trawangan dari Bali, kapalnya sih masih jelek-jelek. Yang sekarang sudah nyaman dan bersih.

Perjalanan ditempuh dari Bali ke Gili Air sekitar 1,5 jam. Pertama naik di kapal sebelum berangkat, awak kapal mengumumkan safety guide dalam bahasa Inggris yang acak-kadut, namun karena doi mengakuinya, alhasil jadi lucu dan penumpang tertawa. Selama di perjalanan kita akan melihat pemandangan sekitar yang keren banget, membuat gw teringat kembali masa-masa gw masih kerja di WWF Indonesia.

Oia, kita juga bisa naik ke atas kapal dan bersantai disana, namun gak ada kursi, jadi lesehan dengan bule-bule yang sengaja berjemur di atas kapal. Pertama, boat akan berhenti di Gili Trawangan untuk menurunkan/ menaikkan penumpang, baru setelah itu ke Gili Air yang hanya 10 menit dari Gili Trawangan.

Saat sampai di Dermaga Teluk Nara di Gili Trawangan, gw sangat amazed melihat betapa jernihnya air disana! Di pinggir pantai sudah menanti para penumpang bule yang menunggu kapalnya. Kalo Gili Trawangan yang udah hype aja masih seindah ini, maka gw jadi gak sabaran gimana kerennya Gili Air nanti!

It was such an experience! Klik disini untuk baca pengalaman liburan gw selama di Gili Air. Dan perlu diingat, kalau ke kepulauan Gili lewat jalur udara dari Bali, akan memakan waktu dan biaya yang lebih lama dan mahal lagi karena ada biaya taksi bandara-pelabuhan dan public speedboat dengan kisaran harga Rp 75ribu s/d Rp 250ribu, tergantung jumlah penumpang.

IMG-20180704-WA0013

#BaliDiary: Yang Dikangenin dari Bali

Gak kerasa ternyata udah tiga bulan lebih meninggalkan Bali semenjak bulan Maret lalu. Gw stay di Bali selama kur-leb 6 bulan (baca pengalaman gw di Bali di sini), bisa dibilang waktu yang panjang tapi juga pendek. Pendek tapi juga panjang.

Enam bulan emang bukan waktu yang singkat, tapi di Bali selama 6 bulan itu terasa pendeek banget karena Bali adalah satu-satunya daerah yang “Cihud Banget!”, so gw sangat menikmati pengalaman gw di Bali. Namun walau pun hanya enam bulan, pengalaman yang gw dapet selama disana berasa panjaaang banget, entah karena gw anaknya yang pecicilan, jadi gw benar-benar memaksimalkan waktu gw disana buat ketemu orang-orang dan mendatangi tempat-tempat yang gw jarang bisa temuin.

Gw bukan tipe anak yang hobby party atau ngegehol gak jelas, atau orang-orang yang ke Bali cuma buat vlogging Youtube biar kayak selebgram. Keseharian gw di Bali, selain kursus gw saat itu, adalah mendatangi event-event keren gratisan seperti seminar, free trainings, coworking space, event seni, networking dengan lokal dan bule yang ngejalanin bisnis di sana atau sekedar turis tahunan, kelas yoga dan meditasi, ke pantai (hampir 3 x seminggu!) dan yaah… tipe aktivitas-aktivitas seperti ini lah ya… gw emang bukan tipikal turis lokal yang ke Bali, kebanyakan orang Indonesia yang ke Bali ngumpulnya di Seminyak dan musti partaayy hard gitu deh, kadang gw gak ngerti juga sih, kalo mau party mah ngapain di Bali yang gak ada apa-apanya kalo dibanding Jakarta. Bali menurut gw lebih cocok jadi tempat rileksasi ketimbang destinasi dugem atau ‘nakal-nakalan’, hihi.

Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantai dan keunikan tradisinya. Tapi menurut gw sih, Indonesia mah kemana-mana juga indah, kemana-mana juga unik. Pantai yang seindah di Bali juga banyak kok di kampung orang tua gw di Sumatra Barat. Terasiring sawah seperti di Tegalalang atau Canggu?? Bah… apalagi itu, bejibun! Pekerjaan gw dulu di WWF Indonesia membuat gw udah jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, terutama daerah-daerah marginal, so menurut gw kekayaan alam yang Bali punya, menangnya di advertising menteri pariwisata Indonesia jaman Soeharto dulu, hehe.

14470

Emang iya gw sering banget ke pantai waktu di Bali dulu. Tapi yang gw kangenin banget dari Bali itu bukan pantainya, bukan wisata alamnya, bukan cafe-cafe kerennya… melainkan vibe alias energinya. (Wah udah maen energi segala nih pembahasan gw!)

Vibe yang gw dapetin di Bali itu beda banget sama yang gw rasain di kota-kota lain di Indonesia yang udah gw singgahi. Vibe ini emang sesuatu yang gak berwujud fisik, tapi bisa dirasakan. Kan kita bisa ngerasain daerah mana yang bikin kita ngerasa nyaman, sangat nyaman, kurang nyaman atau hampir gila. Vibe suatu daerah diciptakan bukan hanya dari kondisi alam, cuaca, tapi juga orang-orang di dalamnya. Katanya sih, “People don’t choose Bali, it’s Bali that chooses people”. Well, mungkin emang benar, orang-orang yang ke Bali memang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, tapi punya kesamaan yang sulit diungkapkan namun bisa dirasakan. Kita bisa tau, “Ni orang Bali banget nih…” atau “Lo ini cocoknya tinggal di Bali.” Gw salah satu di antaranya, bisa dilihat lah ya dari tulisan-tulisan di blog gw ini, pola fikir gw, atau sekedar foto-foto gw di Instagram, susah diprediksi kalo gw punya darah Sumatra Barat alias Minang. Hehe…

Kalo orang bule yang ke Bali, well mereka punya alasan lain selain vibe, yaitu alasan ekonomi. Karena bagi mereka hidup di Bali itu murah banget dan mereka bisa dapat fasilitas kelas atas yang sulit mereka dapatkan di negaranya. Tapi kalo ada orang Indonesia yang ke Bali, yang gw temuin sih, jiwa-jiwanya ya mirip-mirip gw lah… So, kita bisa ngerasain ada kesamaan walau pun hanya kenal dari ngobrol 20 menit.

Berdasarkan pengamatan tidak profesional gw sih, orang Indonesia yang bukan asli Bali dan pindah ke Bali, bisa dikelompokkan menjadi dua tipe berdasarkan pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Kelompok pertama adalah karena alasan ekonomi dari daerah asalnya yang sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Mereka biasanya memiliki pekerjaan entry level atau pedagang kaki lima di Bali, kebanyakan berasal dari daerah-daerah seperti Sumba, NTT, Jawa, dll.

Kelompok kedua, memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi seperti tingkat universitas atau SMA/K atau punya pengalaman kerja di daerah sebelumnya. Biasanya memiliki minat dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan seni/ kreatifitas, seperti musisi, penulis, designer, tattoo artist, makeup artist, dll. Orang-orang dari kelompok yang kedua ini biasanya punya jiwa yang bebas atau rasa kecewa dengan daerah-daerah sebelumnya. Mereka-mereka yang punya kepribadian yang bentrok dengan norma-norma di daerah sebelumnya, yang gerah dengan apa yang dianggap normal di daerah tersebut namun bagi mereka itu gak normal. Biasanya sih gak terlalu ambisius dengan kesuksesan materi, tapi juga gak mau hidup kere-kere banget. Maksudnya, semangat kerja tapi kerjanya gak mau ngoyo banget sampe gak bisa dinikmatin hasilnya.

Salah banget orang-orang yang mikir kalo Bali itu ‘daerah nakal’ karena terkesan bebas. Seriously, kalo gw mah, ke Bali itu nyari tenang, bukan nyari nakal. Kalo mau nakal mah ngapain jauh-jauh ke Bali, dimana aja nakal bisa dicari di daerah paling religius sekali pun, tapi TENANG itu susah didapetin. Mereka yang masih berpikiran negative begitu kemungkinan adalah orang-orang yang:

  1. Belom pernah tinggal di Bali,
  2. Belom pernah nakal. (Well, persepsi ‘nakal’ tiap orang berbeda-beda.)

Kerasa banget bedanya setelah lama di Bali dan gw maen ke Jakarta, baru keluar bandara aja langsung energi negatif bermunculan. Spanduk-spanduk politis yang rasis, macetnya dan apalagi gw merasa awkward pas masuk pusat perbelanjaan seeing people trying to be someone they’re not even though it hurts. Their makeup was as thick as their heels, not to forget hair extension and faux designers stuffs. That is…. rare to find in Bali. Spanduk-spanduk yang hampir mirip juga gw temukan saat balik ke Sumatra (apalagi yang super konservatif), terlebih dengan embel-embel agama. Belum lagi dengan generalisasi kepercayaan dan pengaplikasiannya.

Gw gak bilang itu buruk, selama itu dan tinggal di daerah seperti itu membuat lo senang dan nyaman, then go for it, you do you. But if you feel like you found similarities with my views and you happen to read this, then you know what I mean and you’ll love Bali for sure. We all have places where our souls belong to, we just need to find where it is, a place that can feed us financially, emotionally, spiritually, and intellectually.

14469

 

Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.Β  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Lessons that Travels Have Taught Me (so far)

Experience is the best teacher and the most experiences I’ve got are from travelling or living nomadically. I’ve moved a lot in my 27 years although none of the places I’ve lived in or visited is abroad. Well my country is big and it’s not easy for a developing country citizen like me to travel abroad. Also, every corner of Indonesia is so different even though it’s in the same island; the people, culture, norms, weather, etc are different. The first time I moved to other city was when I was 17 y.o when my parents decided to go back to their hometown in West Sumatra. I hated it back then, the fact that I had to be separated with the things and people I’d been familiar with. Ten years later, I’ve become a restless soul that always wants to be challenged by new environment periodically. It has given me long-term impacts and lessons that shape the person I am and will be. Even the ways I travel changed. Let me share some things that travels have taught me so far :D.

  1. Travel has made me realize that life is short.

Life is short to do and be something I’m not, to only read one book, to only have one perspective, to stop questioning, to not seek for answers, to be spent in only one place, to only have one dream, to learn only one skill. And most importantly, to not be shared.

2. Changes are not always scary.

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Starting again in new places with new people, situation etc sounded scary before for me. But I survived, I’m glad of most changes that happened, sometimes a reset button is necessary. Breaking the comfort zone is good, just because something is familiar doesn’t mean it’s better. It is when you’re already outside the box then you can see what’s wrong about the box.

3. The world is so big and there are so so so so so many people in the world.

The more places I visited and the more people from different background I met, the more I want to see and experience other places. This makes me realize that for me moving is one of my needs. Many people seek for settling down in one place until they’re old and die, while I don’t think myself belongs to that category. Even if I know Bali is my fave place to live, it doesn’t mean I want to stay in Bali forever. I will someday settle, just not now. Also, knowing that there are billions of billions of people in the world–I mean yeah of course all people know the big number of population, but many of us choose to trap ourselves into small community; like people in our city or our country only–makes me more optimistic in life that it doesn’t matter if one person doesn’t agree with nor like me, there are still billions of people in the world, even Trump is still liked by some people. It doesn’t matter if I feel I don’t belong with people in West Sumatra, maybe I just happened to be a black sheep, I met people who are like me–the black sheep–in Bali, whose homes are away from homes. There will be a lot of places in the world that are more willing to accept who you are, you just need to find where it is.

4. The more I travel, the more I need less.

The moment of packing and unpacking are the times I know I’ve been collecting or wanting things I don’t actually need. It’s the time I have to decide which one to keep in my life. I still don’t travel light, but for people who know me and with so many things I had back home, it’s an achievement to pack my life into just some briefcases. It makes me realize that if I’m ok with it during travelling, then I will be okay with same at home. The more I don’t understand why people could be so obsessed with having a big big family home, taking loans for big house, fancy cars, electricities, etc. That makes more sense to me if it’s for property business, but I can’t see myself living in a big house because I don’t need that. I need plane tickets, enough money and health.

5. Self-discovery.

I’ve read somewhere that if you want to find yourself, leave your home. My self-discovery process happens faster every time I am away from home, my goals get clearer.

6. Travel gives me hope and faith that THAT kind of life is possible.

Since my childhood, my parents and most adults around me taught me how scary it is to have no uniforms, which means a job in institution or company. I believe that every generation has their own advantage from the previous generations, hence we should not live with the same fears. My generation’s advantage is the advance of information and communication technology. I don’t want to miss this opportunity. Nomad living is possible which allow us to make money from anywhere we want. It makes it possible to earn in different currency. That if I really want something to happen, there’s always ways. Travel allows me to meet alike-minded people who many of them are more successful in their 30s than my parents who worked for over 30 years in institutions. And what great about these people are their energy and creativity that are always alive and pumped.

7. Complaint less, be more patient and grateful.

When you just move to a new place, then expect the unexpected, things go out of plans and it’s okay. I saw how people can live with less and still be happy which all too often we forget how to live like that.

8. Shop less, experience more.

I can say I’ve been very lucky to be able to travel myself since young age. But the way I travel and how I see it have changed a lot. I used to only target big cities with big malls during the sale season, travel was only about shopping for me. I always flew back with extra baggage than when I left. Doing it for years, I always felt exhausted after the holiday (and broke, of course), also felt rushed during the travel. I used to list so many shopping agenda in my itinerary for a 2-3 day holiday. I think that’s how most Indonesians are like during holidays, we try to go to as many destination as possible in super short time that we don’t really enjoy our visit anymore, it’s become more like a check-list than a relaxing holiday. Now I prefer to have much less agenda and be more spontaneous. I rarely shop unless it’s something very special that I still think of after 3 days, by then I know I really want it rather than an impulse buying. I buy something that I will use and remind me of the place when I see and use it. Someday when my hair turns grey, it’s the experience that I will remember, not how many and expensive things I bought.

9. Enjoy solo travelling while you can.

The idea of travelling with a partner and family may sound tempting to many. I have friends who missed their travelling opportunities or chances to move somewhere only because of waiting for a life partner to arrive. That’s not me, at least for this moment. Most of the time for me at this moment, I want to have a time for myself. When I get married, I will less likely have it anymore, I will have husband and kids to travel with for years. So now is my time for my self (before I get stuck with them, LOL). It’s nice to have a travel partner sometimes, but not every time.

***

So that’s my ode to travel. I’m sure that’s not all yet–at least what I can think of for now. I want to continue living like this, moving place to place, looking forward to more adventures and changes for the better because nothing is more exciting than seeing who I will be at the end of each one. PS: this year I will have my first international travels, can’t wait!!

Co-working Spaces in Bali

Millennials have brought a new style in work habits in which we prefer to be able to still make money from anywhere we want. Bali as the holiday destination is also in the digital nomads’ travel lists where they want to travel yet still be productive.

Co-working space is basically you’re renting a desk instead of a whole room or building as a place where you go to be more productive even when you’re working freelance or on your own stuffs. Maybe this sounds a bit strange, why would you leave your job to later spend money just to go to an office? Well, for many people, we can be more productive and motivated when we’re surrounded with people with the same working ambience, while at home or a nice cafe, we tend to procrastinate.

To be honest, I didn’t know about this concept until August 2017 when I came to Bali. I was totally amazed by this idea, also the fact that most co-working spaces in Bali have communities and interesting programs that help you to network or improve your knowledge in other fields. Here are some co-working spaces that I’d been to during my stay in Bali from October 2017 to March 2018. These places are located in different parts of Bali, if you don’t know, one good thing and very unique about Bali is that every area has different vibe and different characteristics of people. Say, Ubud is more like the meditation and yoga center, Kuta is for party animals, Sanur is where the oldies go to, Canggu is creative and relaxed.

  1. Kumpul Coworking

Kumpul is located in Sanur and shares the building with a creative house Rumah Sanur, a cafe and coffee shop, then a shop. Equipped with a good internet connection and office equipments (printer, fotocopy, skype rooms, lockers, infocus etc), it has a well-balanced proportion of members between locals and foreigners. Faye Alund, the founder, is also an amazing woman who likes to share and help women and communities as I’ve attended some events for women entrepreneurs that she held. It collaborates with Google and became the place where Google’s Gapura Digital initiative took place. Various membership package starts from Rp 30.000,- (USD 2.2) for hourly drop in, one day visit Rp 200.000 (USD 15) , weekly and monthly packages for 20 and 40 hours, and unlimited monthly and weekly. There’s discount for Indonesians too. However, I didn’t register myself here because lately there have been less events and people, also I’m not a Sanur people.

*Photo source: Kumpul’s IG

2. The Night Market Cafe and Coworking

It’s located about 5-7 km from Seminyak, I don’t really know what the owner’s concept of the place is. The building is nice, the cafe is also good and cheap, but for a coworking place, the music is too loud and there’s no office equipments nor community like other coworkings. But it rents out meeting rooms also with good internet connection, with electricity socket almost in every table. There’s no border between the cafe and coworking, so you can be in the same room with lovey-dovey couples, families, etc while you’re working. There’s no membership fee either, you just need to buy the food. It doesn’t open 24 hrs, and I don’t recommend coming at after 16.00 as the cafe starts to get busy.

**Photo source: The Night Market’s Instagram

3. Genius Cafe and Coworking Sanur

28276860_10213665110653658_4367410962601371589_n

with my besties, Jennifer and Gaby on my last day.

Even though Sanur is not my fave in Bali, but I came to Sanur Beach almost every week for the free talks that the place holds every week. Every day it has regular free events, and my fave was the talks where people who are already experts in their own field can register themselves to host a talk, mostly business coach. During the talks, they give 50% discount on food and drinks for Indonesians and Genius members. Although it also doesn’t have office equipments, skype rooms and indoor rooms, it has a very nice community with very positive vibe. The staffs are very friendly, they remember our names. I met some good people here where I’ve learned a lot from, including Dee, the owner and founder of the place. She’s a Rusian woman with a love for Bali and dedication to women empowerment. When I visit Bali again, Genius cafe is in my must-visit list for sure, I miss the people already! Check out its price here.

4. Hubud

Hubud is the first co-working space in Bali, one of the two coworkings in Ubud. Hubud is for me one of the best, it is designed with an open space concept, surrounded by gardens, and equipped with amenities such as fast internet, a printer, a scanner, a copier, and a seminar room. Located near The Monkey Forest, next to Habitat Cafe. The people in Hubud are fun, also every week they hold regular events and most of them are free. Too bad I’m not an Ubud person, but would like to visit Hubud again in my next Bali visit.

Check out its price here.

5. Dojo

Dojo is the winner, it’s my fave coworking space, also because I’m more of a Canggu person. Well, you’ll know what I mean if you’ve been to Bali. Dojo has the coolest office place because it has a pool! Yess, you can work by the pool on bean bags and if you’re lucky, hot guys usually jump into the pool, what a distraction you wish you have in your office, right? It opens 24 hours and offers you a night worker membership for you who work like an owl (read: at night). The coolest thing about Dojo is the vibe that you get from the people there, every week they hold free talks for members and public, Dojo also provides events where start-ups can meet up and network. Some successful youtubers and vloggers did talks here, I was lucky to get knowledge from them. It also has regular photography meetings. Btw, in Canggu and Ubud, people are either barefoot or in flip-flops, and when you enter the coworking space, you leave your flip-flops outside and work barefoot. Also, there’s no AC in Dojo, unless in the meeting rooms.

Check out its gallery, price and events here.

Actually, I made a youtube video on this topic, I didn’t take pics, hence I’m using photos from their own IG accounts. But if you wanna see a tour of the coworking spaces, please kindly watch my vid πŸ˜€

Happy nomad life, everyone!

#BaliDiary: Gak Enaknya Tinggal di Bali

I LOVE BALI SO MUCH…

Satu-satunya daerah di Indonesia yang gw bikin gw jatuh cinta pertama kali adalah Bali. Sebelumnya gw udah pernah buat tulisan kenapa tinggal di Bali itu enak. Tapi gimana pun juga, semua hal ada plus dan minusnya. Tulisan kali ini membahas kurang enaknya tinggal di Bali, bagi gw hal-hal berikut ini hanya hal minor, gak sebanding dengan plus pointsnya. Anyway, hopefully ini bisa jadi informasi dan bahan pertimbangan buat kamu-kamu yang niat pindah ke Bali temporarily or permanently πŸ˜€ (**Baca tulisan-tulisan gw tentang tinggal di Bali di sini.)

  • Bali = Banyak Libur

Bali bisa jadi singkatan dari “Banyak Libur”. Hari libur di Bali bisa dua-tiga kali lipat libur nasional. Orang Bali yang masih menjaga tradisi memang hobby banget bikin perayaan dan upacara. Jadi di Bali berlaku kalender libur lokal. Eits, mungkin bagi beberapa, banyak yang malah seneng ya kalo banyak liburnya! Ya mungkin aja, kalo kamu bekerja sebagai PNS atau kantoran. Tapi bagi kamu yang menjalankan usaha sendiri, jadi repot deh kalo toko-toko pada tutup dan para pekerja kamu pada cuti libur, deadline jadi ngaret karena libur. Makanya sekarang banyak usaha di Bali yang memvariasi karyawannya dengan agama dan asal dari daerah lain biar bisa tetep jalan di hari libur lokal.

  • Penutupan Jalan yang Bikin Macet

Masih berkaitan dengan poin pertama, kadang-kadang upacara keagamaan seperti ngaben, bisa memakan jalan sepenuhnya dan berakibat penutupan jalan. Alhasil jadi macet di jalan alternatif. Tapi ya maklum lah ya namanya juga Indonesia, hampir di semua daerah di negara ini adalah hal lumrah yang namanya ‘makan’ jalan umum buat acara hajatan. Bedanya, kalo di Bali, bisa nutup sepanjang jalan, bukan cuma gang depan rumah aja. Hehe… Repot dah kalo lagi buru-buru naik taxi online, mana jalan di Bali pada kecil-kecil –..–“

  • Balinese are (too) slow and relaxed

Waktu gw di Lampung dulu, orang-orang Bali terkenal dengan keuletan dan kerajinannya, makanya banyak orang Bali yang sukses di Lampung. Ternyata Balinese yang tinggal di Bali jauh berbeda. Yah sama lah ya, orang Minang di perantauan dengan orang Minang yang belum pernah merantau juga kan beda. Mungkin ini efek tinggal di daerah yang terlalu nyaman, alhasil gaya hidup mereka terlalu nyantai alias gak ‘ngoyo’. Secara background gw Sumatra, jadi kerasa banget. Salah satu kelebihan di SumBar adalah orangnya cepat tanggap, contoh kecilnya aja kalo di tempat makan. Kalo di SumBar, mayoritas pelayanannya cepat tanggap. Tapi di Bali, sloooowww banget, gw keburu starving! Huhu… Ternyata bukan cuma gw aja yang merasakan ini, temen-temen bule gw juga merasakan hal yang sama! Di pekerjaan yang lainnya juga begitu, hal ini jadi berdampak ke beberapa industri di Bali yang akhirnya kalah bersaing dengan negara lain. Salah satu contohnya adalah usaha garmen. Pernah ada masa dimana industri garmen di Bali laris manis, namun sekarang investor-investor asing banyak yang sudah berpindah ke Filipina dan China, seperti yang pernah gw dengar dari podcast tentang seorang fashion designer yang pernah mencoba produksinya di Bali. Kebanyakan businessmen garment yang bertahan di Bali adalah new businessmen atau mereka yang tulus cinta kepada Bali dan memilih membantu kehidupan di Bali.

  • Misinterpretasi cueknya orang Bali

Salah satu yang bikin betah tinggal di Bali adalah karena orang-orangnya yang tidak ngurusin urusan orang atau pun memaksakan sesuatu ke orang lain. Namun, karena terlampau cuek, orang Bali bisa disalahartikan sebagai tidak ramah. Apalagi kalo kamu berasal dari daerah dengan tingkat basa-basi tinggi seperti Sumatra Barat dan Jawa. Gw pertama kali dateng agak shocked, kenapa ya ni orang-orang kok sensitif ke gw, apa ada yang salah dengan muka gw yang membuat mereka jadi bad mood. Ternyata memang orang Bali begitu, kurang berbasa-basi. Kalo ada temen-temen gw dari Sumatra yang datang berkunjung, mereka juga merasa begitu dan gw harus menjelaskan bahwa sebenernya mereka gak berniat seperti itu. Yah begitulah, di Sumatra kebanyakan basa-basi alhasil kepo. Di Bali terlalu cuek, jadi gak ramah. Haha, serba salah ya!

  • Susah Cari Parkiran

Jalanan di Bali itu kecil-kecil. Mungkin karena berasal dari desa-desa kecil dan gak menyangka kalo Bali bakal berkembang seperti ini, jadi infrastrukturnya masih skala desa. Menurut aku, tempat paling mudah di Bali untuk cari parkiran cuma di Denpasar yang merupakan kota tuanya Bali, karena Denpasar dari dulu sudah dirancang sebagai daerah pemerintahan (that’s why Denpasar is the most borrriiing part of Bali for me, but I lived there, hiks!). Contohnya jalan-jalan di Ubud dan Kuta yang sempit-sempit banget, toko-toko gak punya parkiran, satu parkiran untuk semua. Jadi kita harus jalan kaki ke tempat yang dituju. Walau pun enak juga sih jalan kaki di Bali, cuci mata liat toko-toko yang unik-unik, tapi kalo lagi buru-buru kan susyeeh jugaa…

  • Kurangnya variasi jenis pekerjaan

Hal ini gak berlaku bagi gw sih, karena di Bali sebenernya cocok dengan gw dari semua aspek, berhubung gw juga enterpreneur. Namun hal ini pastinya berbeda dengan kalian yang sudah terbiasa dengan dunia korporasi. Bidang yang paling berkembang di Bali adalah pariwisata, jadi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah yang berhubungan dengan pariwisata dan lifestyle. Katanya sih, kalo kamu bisa berbahasa Inggris, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Bali. Tapi ya gitu deh, otomatis range jenjang karir tidak seluas di kota-kota besar seperti Jakarta. Bali cocok banget bagi orang-orang yang bekerja remotely (digital nomad), tapi buat orang-orang yang kerjanya bergantung dengan lokasi dan korporasi, agak susah sih untuk pindah ke Bali.

  • Almost Everything is Imported

Bisa dibilang, ‘nyawa’ Bali terletak di bidang pariwisata. Bali bukan daerah penghasil sumber daya alam, hanya bergantung pada pariwisata. Walaupun masyarakatnya masih banyak yang bertani dan pergi ke sawah, tapi itu lebih kepada tradisi dan kebiasaan (kerjanya sih di sawah, padahal income-nya dari villa, hehe), namun hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, gak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata di Bali. Kebutuhan makanan (dari bawang, cabe dll) dikirim dari Jawa atau Lombok. Kain Bali pun bukan dari Bali, tapi dari Jawa. Tas rotan yang lagi ngehits banget dan disebut Tas Bali, sebenarnya dari Lombok dan dijual murah banget di Lombok, sekitar Rp 100.000, namun di Bali harganya udah naik starts from Rp 200.000 sampe Rp 700.000! Tapi tetep aja banyak yang beli! Haha.

  • Terlalu nyaman

Nah, lho! Kok bisa terlalu nyaman malah jadi gak enak?? Well, di satu sisi kita penting juga untuk menghadapi ketidaknyamanan kalo kita mau berkembang. Apalagi kalo kita disekeliling Balinese yang slow and relaxed. Akhirnya gw lebih sering bergaul dengan bulenya di Bali biar jiwa kompetitif gw tetep hidup. Terus, di Bali gak ada demo, gak ada spanduk-spanduk hate-speech atau provokasi. Jadi gak kerasa kalo negara kita ini politiknya lagi kacau balau. Di satu sisi bagus sih, bikin kepala dan hati tenang. Tapi buruk juga kalo kita jadi gak mawas diri bahwa hal negatif tersebut ada.

  • Second-Class Citizen

Kalo di postingan yang sebelumnya gw mensyukuri karena sering dapet diskon KTP, kali ini gw bahas kejadian yang bertentangan dimana WNI diperlakukan lebih rendah ketimbang WNA, dan mirisnya lagi perlakuan diskriminatif tersebut malah dilakukan oleh sesama WNI sendiri! Gak semua sih seperti ini, hanya sebagian kecil, tapi sangat menyebalkan kalo melihat ‘saudara’ sendiri malah mendewakan bule. Biasanya terjadi di tempat hiburan seperti cafe dan clubs. Mereka memprioritaskan tamu bule untuk memenuhi tempatnya agar terlihat lebih eksklusif, padahal kan harga makanan yang dibayar juga sama aja! Contohnya aja di sebuah club malam yang lagi hits banget saat ini, yaitu La Favela. Gw udah kecewa banget sama club satu ini, udah banyak review buruk di internet juga buat tempat satu ini yang mana hanya memberikan free entry ke tamu bule. Karena disangka bule (entah darimana sih gw ini bulenya… –..–“) awalnya gw disambut baik, tapi pas gw udah ngomong bahasa Indonesia, langsung disuruh memperlihatkan KTP dan no free entry, pake waiting list lagi, katanya lagi full. Begitunya ada tamu bule, langsung diperbolehkan masuk. WTF banget kan, no more waiting, langsung aja gw cabs! Langsung deh gw udah black list semua tempat yang masih satu group sama La Favela ini, termasuk yang di Canggu, La Brisa, udah ilfeel duluan gw untuk berkunjung kesana.

  • Bersaing Lapangan Pekerjaan dengan Bule

Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan lw untuk bersaing dengan bule dan pasarnya sendiri lebih memilih yang bule ketimbang orang lokal. Salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai guru yoga dan instruktur surfing, secara gitu gaji dua pekerjaan ini sangatlah menggiurkan. Bali kan terkenal banget sebagai mecca nya yoga setelah India, sehingga yoga di Bali diperlakukan sebagai komoditas untuk dijual ke turis-turis, baik turis domestik mau pun internasional. Sedih juga kalo liat turis domestik sendiri lebih prefer sama pengajar bule dan memandang sebelah mata kualitas bangsa sendiri. Well, pengalaman gw yoga di Bali, kalo dibilang masalah bahasa, Bahasa Inggris para pengajar yoga WNI yang gw temuin udah super duper banget! Malah yang pengajar bule dari negara-negara seperti Perancis dan Rusia lah yang kacau balau yang merusak konsentrasi gw. Pengajar Indonesia juga gak kalah kompeten kok! Gw pernah bayar mahal sama pengajar bule di salah satu tempat yoga yang tenar, namun kecewa banget karena ternyata cuma dapet fotokopian kertas berisi lima kalimat. Usut punya usut, banyak kejadian di Bali dimana para bule-bule ini bekerja tanpa KITAS atau pun visa kerja. Mereka orang-orang yang baru lulus teacher training (yang mana juga digalang tiap kali owner yoga studionya lagi butuh duit) sehingga penghasilan mereka itu gak dipotong dengan pajak. Sedangkan para guru yoga WNI harus bayar sertifikasi yang mahal dan pajak penghasilan. Sedihnya lagi, hal ini terjadi juga karena adanya korupsi di level pemerintahan. Awal-awal dulu gw juga tergiur dengan this so-called bule charm, namun setelah tahu hal ini (gw dapet bocoran dari tenaker lokal dan orang dekat para businessmen bule ini), gw lebih baik bayar mahal tapi masuk ke saku orang Indonesia sendiri daripada bayar lebih murah di tempat yang gak mematuhi peraturan negara gw.

***

However, I still love Bali and Bali is still the best for me! I will leave Bali soon, but I leave to come back. Bali, I will come back for sure!