My Youtube Milestone: 500 Subs!

Youtube-birthday-header-3

Celebration time!!

Today my youtube channel just hit a milestone of 500 subscribers in less than a year with 14 videos! I know that for many people 500 subs mean nothing, but for me, even 10 subs is big and I really appreciate them 😀 . I mean, they’re real people, not just numbers, we should see and treat people as people, not just digits on our profile page to show off to others. Showing off and fame are not the reason why I make content (videos and writings), it’s because I love sharing and the people who love sharing. So, knowing what I made have influenced other people, even for just 4 minutes, that’s priceless!

A month ago, I just wrote about my Youtube start for the first time, and at that time–25 Nov 2017–I had 340 subbies. Fast forward to today (2 months later), it’s risen to 500! At this time, in every 48 hours, my videos are shared on other soc-med platforms for at least three times!

I actually have posted 18 videos on Youtube but I took down some videos after evaluating my 11 months being on Youtube that now I need to only focus on only 1-2 streams into only tutorials and review vids. This also because I’ve seen how my craft blog, craft shop and vids have synergised together, then I decided to remove/ separate the contents that are not consistent with that stream. I’m thinking about changing my channel’s name to my craft shops name because tutorials videos seem to be my specialty, I can’t never be a travel vlogger, I’ve tried and couldn’t enjoy my trips because of vlogging!

Every big thing starts with one small step. Even Pewdiepie hit 1000 subs after his 100th videos. Thank you so much for all the subs, likes, dislikes, views, comments and shares. They mean a lot to me 😀 . For you who happen to read this post and haven’t subbed, please visit and see if you like my channel 😀

Have a great year, everyone!

 

Advertisements

My Craft Blog: CRAFTOPIA.ID

I hate doing DIYs.

That’s such a lie if it’s coming from me.

As it’s very obvious, I’m the type of girl who loves making things, I give people that I care about handmade gifts (well maybe some of them prefer branded stuffs than my gifts, but I don’t care, I’m poor. Lol.). So as my dedication to the world of DIYs, I decided to start a special blog for craft that’s not related to my personal life and political point of view.

craftopiarainbow

Unlike this blog, the new blog: www.craftopia.id , is neutral from my political agenda with aliens to take over the world and kick out patriarchy. It’s purely about creative stuffs, from DIYs, tutorials and creative product reviews, ranging not only about sewing and room decor DIYs, but also tech-related How-Tos, like setting up blogs/ blog layout, basic graphic design, and movie/photo editing.

Beside as a marketing strategy for my brand, CRAFTOPIA–I dont want to just sell products, I also want to educate–this blog is also my ways to give solution to the problem of the scarcity of Indonesian craft blogs. There are many good craft blogs like A Beautiful Mess and Tilly and the Buttons etc but they’re all in English, meanwhile I’m from a country where less than 50% of the population understand English well. That’s why my DIYs youtube videos are in Bahasa Indonesia instead of English. I specify my target market to Indonesians (well, it’s the 4th largest population in the world! Still not a small market ;D )

There are some Indonesian craft bloggers, yet their craft posts are mixed with their personal lives, meanwhile others are too formal in language. For instance, Indonesian sewing blogs that I found are still using too formal language and boring lay-outs. All this time, craft lovers have been associated with dullness and away from cool or sexy. So I want to change the stereotypes, with more lively layout and language.

This is the first time I subs to paid blog hosting and domain, I see it as an investment. I designed everything by myself, including the layout even though I’m not a coder, haha thank’s Uncle Google! Took days for me to make the landing page and everything! –..–“

Lately I’ve been busy with my fashion project, so I haven’t got back to the blog, however, even with just few posts, it already has stable daily views. So I’m positive about it once I get the time to put my head back to it. I hope that it can connect me with alike-minded people. Please kindly visit and follow, you’re welcome to contribute articles too!

Pengalaman gw jadi trader dadakan

Sekitar 2-3 tahun yang lalu, belum banyak orang di Indonesia yang tau tentang cryptocurrency. Sekarang ini, gw udah beberapa kali liat bapak-bapak driver gojek yang lagi ngetem di warteg mantengin situs exchange/trading crypto Indonesia. Memang berdasarkan riset beberapa media, tahun 2017 kemaren yang membuat value crypto semakin tinggi adalah tingginya angka investor dari kalangan mom-and-pop speculators, bukan lagi dari kalangan bos-bos besar semata.

Gw sendiri pun, yang cuma cewek biasa tanpa background trading sama sekali,  sudah mendapatkan keuntungan yang (bagi gw sih) besar. Cukup untuk membiayai hidup gw di Bali buat ambil kursus fashion design yang alamakjang mahal bingit– biaya gw kuliah S1 selama empat tahun gak ada apa-apanya dengan vocational school ini yang pertemuannya bisa dihitung. Dan, cukup pula untuk membiaya produksi koleksi design pertama gw yang akan launching bulan February nanti (berhubung gw standarnya tinggi alias sok elit, gw selektif banget sama bahan kain, tekor pisan eke, hiks!) Eitsss…. jangan cepet tergiur dengan kalimat-kalimat gw yang barusan, karena kenyataannya gak segampang itu. Gw bikin tulisan ini karena masih sedikitnya resource berbahasa Indonesia tentang pengalaman trading crypto, sebaiknya dipikir-dipikir dulu sebelum mau gambling uang DP rumah, atau biaya susu anak buat trading crypto. Karena pengalaman gw meraup untung dari crypto currency datang dengan dua kejadian yang sangat berbeda.

Kejadian pertama gw murni karena gw hoki banget, kata kakek gw sih gw ini hokinya gede sedangkan abang gw itu pintar, jujur gw tersinggung dengan komen ini, huh! Seperti kebanyakan orang awam, coin crypto yang gw kenal pertama kali adalah Bitcoin yang harganya saat ini masih yang paling tinggi. Waktu gw pertama kali kenal, harganya masih di bawah 20 juta rupiah (per Januari 2018, harga 1 Bitcoin berkisar di Rp 240 juta). Gw tau Bitcoin dari internet dan temen-temen bule gw, salah satu temen bule gw malah udah bikin rumah, perusahaan, ngegaji 5 orang karyawan dari trading crypto yang dia udah lakukan selama 3 tahun. Temen gw ini, sebut saja si Tarjo, menjadikan trader sebagai pekerjaan utamanya sampai saat ini. Terus gw cari dong success stories dari penambang Bitcoin, dan ya gw tergiur buat naro uang, daripada gw taro di deposito bank. Karena yang gw baca cuma success stories doank, ya jadi pemikiran gw tentang crypto cuma yang indah-indahnya aja. Tarjo bilang, kunci utama untuk newbie adalah untuk ‘HANYA MEMULAI DENGAN JUMLAH UANG YANG LO GAK TAKUT KALO HILANG’. Kalo bagi lo, kehilangan 1 juta bikin lo sedih, ya jangan. Mulai dengan Rp 500 ribu ke bawah.

Yaudah deh saat itu gw bisa dibilang cuma ngasal aja naro duit karena gw fikir yaudah lah toh gw juga belum mau make saat itu, jumlahnya masih di angka yang gw gak akan sedih banget kalo kehilangan. Jadi gw gak pernah yang namanya ngecheckin harga, or duit gw nambah apa enggak. Trus entah kenapa dengan begonya (sumpah ini bego banget, jangan ditiru, gw cuma hoki!) gw naro duit lagi dengan jumlah yang gw udah ngerasa ngenes kalo ilang. Buat gw yang masih level tempe ini, kalo udah di atas Rp 2,5 juta udah bisa bikin gw pingin mecahin kaca kalo hilang. Tapi karena waktu itu emang gw lagi gak butuh dalam waktu dekat, jadi gw gak pernah ngecheck. Sampe gw lupa kalo duit gw disana.

Beberapa bulan setelahnya, gw sampai di point dimana gw merasa mau gak mau gw harus ambil pendidikan dan pengalaman di dunia fashion design kalo gw emang mau terjun sepenuhnya, ini bukan hal yang semudah belajar dari youtube doank (walopun youtube udah ngebantu ilmu gw banyak banget sih..) Karena selama gw di Sumatra Barat, pendidikan dan pengalaman yang gw dapetin bener-bener minim karena susah cari designer disana yang mau berbagi, kalo pun ada, mereka masang tarif yang gak kira-kira, padahal mereka mengajar tanpa modul. Ya males lah gw, mendingan gw keluar Sumbar. Barulah gw inget sama duit gw itu, pas gw buka, sumpah gw kaget banget ternyata harga Bitcoin udah naek 5 kali lipat, begitu juga duit gw! Pikir gw, mungkin karena emang niat gw baik, untuk belajar, jadi ada aja rezeki. Yaudah deh duitnya langsung gw tarik. Saat itu gw gak mau hold Bitcoinnya karena menurut gw investasi gw yang paling penting adalah peningkatan ilmu dan skills, buat apa duit banyak di tabungan tapi gak bisa dipake dan dinikmatin.

Ternyata, setelah dijalani, gw menyadari kalo estimasi biaya gw kurang dan butuh 2 kali lipat lagi kalo gw mau tenang sampai end target gw tercapai. Pusing dong gueh, gimana cara cepat buat dapet easy money. Yang kefikiran pertama kali ya Bitcoin, tapi gw gak bisa menunggu lama berbulan-bulan seperti sebelumnya, gw butuh cepat karena waktu gw terbatas. Jadi kali ini gw bener-bener ambil resiko dengan menggunakan SELURUH uang gw satu-satunya, ada kemungkinan kalo gw bisa mencapai atau lebih dari target, atau malah gw besoknya langsung jadi gembel di Bali. Disini lah baru gw merasakan kerasnya dunia trading. Jangan percaya deh kalo liat video-video anak ABG di youtube yang udah bilang pendapatan sekian per hari dari trading, gak segampang itu cuy prakteknya!

Karena kali ini gw make duit seluruhnya, gw pelajari cara ngebaca chart, analysis, dan banyak-banyak baca situs news crypto, situasi politik yang berkemungkinan mempengaruhi harga. Kali ini gak cuma main di koin besar seperti Bitcoin, tapi lebih ke koin-koin kecil seperti Ripple, Dash, ETH, XLM, etc. Dengan koin kecil, persentase gw lebih besar, jadi kalo naik, ya gw untung gede, kalo turun ya gw rugi gede. Dan gw bener-bener intense trading, hampir 24 jam selama 3 minggu full! Gw hampir gak bisa ngapa-ngapain selain mantengin market, sampe aktivitas utama gw di fashion design sempat terganggu karena gw gak fokus. Mata gw sampe kering, belom pernah seumur hidup gw mata gw berasa kayak gini. Selama 3 minggu ini, hidup dan perasaan gw seperti diobok-obok. Hari ini mungkin dapet profit 3 juta, tapi besoknya hilang 7 juta, atau sebaliknya. Gimana coba rasanya lo liat di depan mata lo duit lo hilang belasan juta dalam hitungan detik gara-gara internet lo nge-lag waktu lagi set limit. Saldo lo saat ini bukan lah saldo lo yang seutuhnya, karena kemungkinan selalu ada selama uang itu belom lo transfer ke rekening lo. In the end, gw berhasil menghasilkan lebih dari 20 juta selama 3 minggu itu, sesuai dengan target gw di awal. Dan gw memutuskan untuk berhenti sama sekali trading karena gw babak belur, physically and emotionally! Kondisi fisik mempengaruhi our emotional state. Kalo gw terusin, gw gak bahagia hidup kayak gini, karena gw sampe di titik dimana gw gak bisa trust diri gw sendiri buat nyebrang jalan, nah bayangin segitu parahnya! Yang ada di kepala gw cuma fluktuasi harga terbaru, sampe-sampe pas gw lagi beli ketoprak dan ditanya mau berapa banyak cabenya, gw malah jawab dengan harga koin terbaru. Waks! Buat apa gw tinggal di salah satu pulau terindah di dunia tapi gw gak bisa nikmatin, buat apa dikasih sehat tapi minta sakit. Tapi walopun demikian gw akui, sejauh ini, ini rekor penghasilan 1 bulan gw yang paling tinggi, selama dulu gw kerja aja gak pernah sampe segini, apalagi dalam waktu yang sesingkat ini. Mungkin bagi sebagian orang, duit segitu mah cuil yah… bagi gua sih udah wow, hehe…

Dari pengalaman gw yang udah gw jabarin, beda banget kan perbandingannya kejadian pertama dan kedua. Di kejadian pertama gw bisa tenang, masih bisa nikmatin hidup. Kejadian kedua, gw sadar-gak-sadar bermain dengan emosi, susah untuk rational karena gw menggunakan duit yang gw butuhkan. Gw sempet bertanya apakah gw seperti karena gw gak work smart ya, mungkin kalo smart trader kerjanya gak segininya… Gw konsul dengan si Tarjo, tapii selama gw kenal dia, memang Tarjo ini salah satu orang yang paling hardworking yang gw kenal. Sampe waktu dia liburan ke Bali aja dia tetep gak bisa bener-bener liburan karena harus check market. Tarjo bilang, “Welcome to my world! It’s a living hell, haha!”, Tarjo mengakui udah beberapa kali pengobatan mata, penyakit terbaru dia adalah cidera pergelangan tangan karena kelamaan di depan laptop (pergelangan tangan yang tidak aktif bergerak dan berdiam di posisi yang sama dalam waktu lama ternyata bisa menyebabkan cidera!)

Lo bisa bilang dengan gampang, “beli pas merah, jual pas ijo”, pas prakteknya gak segampang itu, mbah! Lo gak bisa tau tu candle merah bakalan sepanjang apa, walopun menurut ilmu dan analysis ini-itu bakalan berada di titik support sekian. Yang udah expert aja masih meleset, apalagi gw yang trader dadakan kemaren sore. Yang udah belajar baca chart, news etc aja masih meleset, apalagi yang cuma bermodal iman! Contohnya aja, pertengahan Desember 2017 kemaren harga Bitcoin berada di all-time high Rp 290 juta, langsung dalam kurang dari 25 menit saja dropped ke 210 juta, sampe sekarang–3 minggu kemudian–harga Bitcoin belum pulih juga. Karena lo gak bisa sepenuhnya membaca reaksi pasar dan sentimen apa yang dirasakan pasar terhadap suatu koin, tiap tahun, bulan, minggu, atau hari atau jam pasti beda.

Beberapa poin yang bisa gw jadikan pelajaran dari pengalaman trading gw:

  • Hanya gunakan uang yang lw gak takut ilang kalo lo masih mau tidur nyenyak. Jangan gunain uang yang seharusnya buat DP motor, pendidikan anak, etc buat trading. Karena gimana pun juga, sejauh ini crypto trading masih bergantung pada spekulasi. Kalo aja gw trading dengan uang yang gw gak takut ilang, gw gak akan kebawa emosi segampang itu dalam mengambil keputusan kapan harus cut loss atau hold. Jangan mudah tergiur dengan cerita-cerita tentang kaya mendadak karena bitcoins dan langsung aja mempertaruhkan biaya hidup keluarga di cryptocurrency. **Talk to myself. Kalo gw sih masih mending, tanggungan hidup gw masih diri gw sendiri, kalo gw gagal ya yang rugi gw. Nah kalo yang udah pada berkeluarga kan bisa berabeee….
  • Control your own greed. Beberapa kesalahan yang gw lakukan adalah karena gw gak mengontrol kemarukan gw. One of my mentors told me, the biggest enemy in business is not your competitor but your own greed. Padahal hari itu gw udah profit cukup, tapi gw mau lebih, ujug-ujug gw malah lost lebih besar dari profit. Kan gak mungkin yang namanya harga uptrend mulu. Hidup gak segampang itu cuy! Nah kalo udah kayak gini, kebawa emosi nih. Trading kalo pake emosi sumpah bahaya banget! Begitu juga saat ngesetting limit jual/beli, gak usah terlalu maruk lah, karena nyangkut itu rasanya merana, bos!
  • Don’t put in all of your money in one coin. Jangan terlalu cinta atau kepedean sama satu coin. Kalo satu koin jatuh, lw masih ada back-up dari koin lain.
  • Do your own research tentang potensi suatu koin (walopun, again, ini semua berdasarkan spekulasi, media juga kadang dibayar si developer coin kan buat promosi). Jangan hanya bergantung dengan apa yang lo baca di chat room, karena banyak orang dengan berbagai kepentingan dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda disana. Penyebar hoax ada dimana-mana.
  • English is very important! Fluktuasi harga (walopun beda negara/exchange bisa beda harga) dipengaruhi oleh banyak hal, seperti situasi politik di negara lain. Update tentang hal ini mostly berbahasa Inggris, jangan berani ambil resiko gede kalo bahasa Inggris lo masih bergantung sama Google Translate, udah tau Google Translate masih sering error, masa lo mau mempertaruhkan nasib lo sama mesin!
  • Semua koin berawal dari harga rendah, BTC sebelum di harga 200 jutaan juga bermulai di harga receh.
  • Gak selamanya CL (cut loss) itu buruk. Gw heran kalo baca di CR masih aja ada orang yang berbangga hold suatu koin padahal udah jatoh 70% and keeps getting worse, gak jelas tujuan ni orang apa, lo ini trader apa tukang jaga koin??
  • Jangan confuse tujuan lo antara mengumpulkan koin, atau mengumpulkan rupiah, itu dua hal yang berbeda. Kalo lo mengumpulkan koin, bisa jadi jumlah koin lo banyak tapi profit lo berkurang, atau profit lo bertambah tapi jumlah koin lo berkurang. Orang yang ngumpulin koin biasanya untuk investasi jangka panjang. Orang yang butuh duit cepet  buat daily life kayak gw sebaiknya mengumpulkan IDR.
  • Kalo udah profit, sebaiknya IDR disimpan, dan trade lagi hanya dengan modal awal. Jangan dengan seluruh IDR (modal dan profit). Ini emang hal basic, tapi sering banget kelupaan deh!
  • Trading ini masalah serius, gak bisa dijadiin part-time job atau income sampingan. Jangan mimpi deh. Cerita gw di awal emang gw hoki banget, tapi gak semua orang bisa hoki gitu. Ada tuh temen gw yang dia hold suatu koin tanpa trading, trus harga tu koin naik berkali-kali lipat. Dia udah merasa jadi orang pintar banget karena gak ngapa-ngapain eeeh jadi kaya mendadak. Belum sempet ber-euphoria, tau-tau harga turun jauh di bawah harga waktu dia beli. Langsung zonk donk matanya. Tapi lumayan lah ya, udah ngerasain jadi orang pintar, walopun sesaat. Untungnya dia punya main job yang gajinya gede pake banget (ya maklum lah namanya juga expats di Indonesia), dan dia juga beli dengan jumlah yang menurut dia cetek. Jadi gak berasa sedih banget dia hilang di bawah 5 juta mah, cuma sebel aja dia dikasih PHP sama coin, haha..

    Dari pengalaman yang udah jelasin, gw udah menaikkan bendera putih dari dunia trading, gak mau deh gw hidup kayak gini. Gw salut lah sama si Tarjo yang melakukan ini semua demi dia bisa pensiun dini di umur 35 tahun. Dia bilang, “Gw bakal kerja abis-abisan sampe umur gw 35 tahun dan pensiun dini, nikmatin hidup dan melakukan hal lain.” Ya iya sih bener, tapi lah kalo iya dengan gaya hidup kayak gini bisa ngebuat gw sehat sampe umur 35, lah kalo dengan hidup di masa muda kayak gini terus mah, bisa-bisa udah KO gw nanti di sebelum umur 35, gimana mau nikmatin hidupnya? Sekarang gw gak mau maruk profit lagi, berhubung gw merasa udah mengumpulkan sedikit lebih dari target gw, lebih baik gw berhenti beresiko. Karena waktu dan tenaga yang gw berikan untuk trading bagi gw gak worth it kalo dibanding dengan apa yang gw lewatkan dan korbankan. Gw masih ada hold beberapa koin yang gw anggap potensial namun dalam jumlah sedikit, yang kalo duit gw harus ilang, dalam jumlah segitu gw gak sedih banget lah, kalo naik ya syukur. Anggep aja untung-untung berhadiah.

    Mungkin lebay banget ya cerita gw ini, ya maklum lah gw kan bukan trader atau pun financial expert. Jadi mental gw gak kuat untuk bertahan lama-lama. Salut lah gw sama traders sejati, gak sanggup gw ngejalanin hidup lo, hehehe…

    Two, O, Seventeen

    I’m writing this while lousy new year party’s fireworks are outside, coloring Bali’s night sky, every corner in Bali has its own firework party.

    Can’t believe it’s already a brand new year. Time flies fast when you’re enjoying what you’re doing. My 2017 was great, especially since the second semester of the year, after my 27th birthday. Or maybe my 27th is great.

    I am happy that every year of my life I’ve never had a dull year so far, hard times yes but never dull. Because I always try new things every year, every age. There’s always new lessons I got, new skills I improved. Haven’t achieved all that I planned this year, because life happened and plans changed, but I have major goals that I’ve carried out.

    The greatest thing about this year for me is the fact that I’ve lived in three different places in just one year; Lampung, West Sumatra and Bali. Meaning I moved every 3-4 months. The beginning of this year I started with big decision to come back to my parents’ house in West Sumatra after having been away from home for almost 10 years. It’s actually normal in Indonesian culture for kids to stay at their parents’ even until after marriage, but I had too much pride to do that, to admit that I needed them to help me go through the hard times, in order for me to achieve next steps. I felt very embarrassed before but in the end it’s proven as the right step, I am glad I did, otherwise I wouldn’t have been experiencing what I have now in Bali.

    I can say 2017 is my most favorite year of my 27 years dwelling this planet Earth. The more I explore my self, the more I love life and living. 2015 was like the moment I started to be ‘awake’. 2016 was very hard, like my rock bottom since the ‘awakening’ as the consequences of all the turns and directions I decided to take that were very different from what I used to do/be in many aspects. In 2017, things slowly got better, even though the first semester was very stressful for me, affected by my past relationship at that time. But the second semester has been really great, I could put more focus on my plans without feeling being pressured, I’ve been back to who I am, easy-going, chilled, and carefree. I’ve become my own person. I’ve met people from whom I can learn many things, new experiences and led me to have clearer goals and how-tos. Even though maybe we met for just one week, one hour or even 10 mins, there must be reasons why we met.

    This year I started my youtube channel and this blog, also made another new blog specialized in crafts and DIYs. My craft shop with my cute aprons has been running pretty well (but since I’m in Bali, I close orders due to my busyness with my course and first collection production. But still I got customers who wanted to order even though I didn’t promote my shop when in Bali.)

    In 2017, I went to several cities and places with people I met offline and online. Maybe there are still some aspects in my life that I still haven’t found the best answer yet, but that is life and I don’t want to put pressures to my self about things that I cant control, what I can do is to just react, adapt and overcome. I decided I’m done including other people’s plans in my plans, I just wanna focus on my plans and see who I will meet during the journey. Because I can’t force myself to run in accordance to other people’s timer. Neither can I do the same to other people.

    I was not really sure when starting my channel and blog(s), now I’m glad I did what I am doing. Things are just getting better. Slowly but sure.

    In 2017, I’ve learned to be more patient, that everything good takes process, endurance and consistency. Can be full with trials and errors sometimes, and I lost my motivation for some moments, because I felt that I’ve tried to give my best efforts, but it resulted below my expectation and deadlines I set for myself. I felt sad and cried, feeding my mind with negative thoughts; maybe I should stop, maybe I am not good, maybe I can never get better, maybe I started things too late. But then I got back to it, evaluate what I missed and try to admit I can’t do everything, but I can either drop it, delegate it or add something to it. And I keep going to that direction instead of taking other new direction.

    The only thing that is a bit harder happened this year is only something that happened to my family in the end of 2017. We’re having a ‘not-easy’ time—I don’t wanna call it difficult, because we’re stronger and we’ve been through hard times before and we passed it. I keep telling my self that things can only get better.

    My first bridal collection will be ready soon in 2018 and it’s still a long process to build my dreams. I have more dreams than I did before coming to Bali, before 2017. And that’s how life should be, to never stop having goals.

    New year, new feels, new chances, same dreams, fresh starts.

    Thank’s for the ride, 2017. Let’s bring it on, 2018!

    cIMG_1420

     

    Starting My Youtube Channel at 26

    cIMG_9940 copyAt the age of 26, when most of my friends are filling my soc-med timeline with their wedding or kids photos, I shared my first youtube video. Yes, that’s my second child in 2017. My first daughter was born in 2013, which is my craft shop, got rebranding this year, so it’s like reborn. 

    All my kids; my shop, blogs, and youtube channel, may not have blood and flesh, or chubby cheeks and thighs, but their ROIs (Return of Investment) are faster than those with. LOL. 

    What was I thinking that made me suddenly join the youtube pond? To be honest, I’ve never planned to broadcast myself before, that just looked too narcissistic for me, haha, and I didn’t have the guts to talk in front of a camera. I can talk more confidently with my thesis supervisors or bosses than to a camera. I feel it can be so judgemental. 

    But since I am a true millennial, I realized the importance of putting my self on the internet map. I want to reach and be reached by more people. Besides the fact that I love sharing and the people who love sharing, I believe that my personal branding is my future investment. If I’m good at something, I have to find ways how to present it. Especially that I’ve already decided to stop working back-stage for other people/ company/ organization. 

    I do many different things, from blogging (this personal blog and my craft blog), youtube content making, making and selling my crafts and studying fashion design. But in the end, actually all of these are connected into one stream that will help each other. 

    It was on February 28th 2017 that I made my first youtube content. Weeks before that, I spend days and nights to brainstorm what the channel is gonna be and what I expect from it. I collected ideas, listed what I need etc, and even the scripts. Maybe sounds too much for some of you, but believe me making videos–moreover if you have no background knowledge in film-making and directing–is hard. Even making stupid videos is still not easy.

    I may be a bit late to start at 26 if compared to many famous indonesian youtubers are so much younger than my age. But I think in one side it’s good because at this age I can think more deeply why and how to start things, meanwhile at younger age, fame (which they call a success) is most likely accidental than by design/ hardwork. That’s why many people are racing to do more and more stupid challenges or cringe-worthy videos for five-minutes fame. 

    At this age, I know my self and dont wanna be dictated by trend nor other people’s standard. I understand that it’s better to attract people who are also into your things than just people who demand you to entertain them by doing stupid controversy. I understand this because it’s actually not the first time I posted my videos to entertain/ share with people. When I was still a student I posted three lipsync videos of me to local songs that I kept on Facebook for years (now they’re erased in order to reduce the number of evidence of my puberty stupidity). At that time I didn’t know why I did it, I didnt care about what people can learn or get from me and how it would affect me in the future, but you know what, those vids got many views and likes instantly. I started with one stupid shallow video, then due to the good response I felt motivated to be more stupid (yeah, blame the audience too. Why they like to make stupid people famous!).

    But the so-called quarter-life crisis hit me, what is living and doing what we’re doing truly all about? Something that only looks fun or interesting is temporary. I dont wanna feel ashamed of my self when I look back to my past and realized that I’ve contributed the morality degradation. I dont wanna be found on Google search as the untalented girl who lipsync traditional songs. And I have to be realistic that by being idealistic, it will not be easy sometimes, because not all people share the same interest. Especially that crafting and sewing is not considered as a sexy hobby. LOL. Not many people know that girls who craft are actually the dream partner, we have the patience and loyalty not to just follow what’s in trend. Note that down, boys!

    My channel’s subscribers and views growth are not fast, but we should not compare ourselves to others. And in fact, even though it’s slow, it keeps making progress, and it’s better than nothing. After 8 months, I’ve gained over 340 subscribers and thousands views. The numbers are always growing so far, that I’ve reached the stage where I get one subscriber daily. In the first week, I could say I was feeling hopeless and unmotivated because I thought nobody’s gonna watch them. Seeing the statistics, I feel proud that I actually just had super low expectation, like ten people to watch my videos were enough for me at that time. So, now after seeing my videos gain hundreds of likes, it feels very great knowing that number of people liked and watched my videos and they found them useful or interesting. 

    But well, the other side of putting yourself on the internet is that you have to be ready with criticism which sometimes are not in the form of constructive criticism. There are many useless bullies on the internet that just like to bring other people down. I got my first hate comment just recently, saying that I looked like a crazy person and needed to go to mental hospital. Well that’s okay, I respect freedom of speech, besides, it’s also true that I am crazy. Sane people rarely make history.

    During 8 months, I evaluate what I’ve done not properly and what needs to be improved. One example, I underestimated myself and videos, that I used copyrighted music because I thought maybe only 100 people would watch them. I was wrong. Then I didn’t set clear target nor organize the social media optimally. In Bali, I’ve met some people making money from social media, youtube, blogs, podcasts, etc. I’ve learned from how they do things, so professional and dedicated. Money is not my priority, but it’s true everything in life should have a clear target.

    I haven’t monetized my videos, but I had been offered twice to speak in events about crafts. One of my target in 2018 is to reach 1000 subs. And there are still so many things I plan to do. Wish me luck and watch me nay-nay-nay!

    #BaliDiary: Enaknya Tinggal di Bali

    Setelah 27 tahun hidup di dunia, hal yang gw pahami tentang diri gw adalah bahwa salah satu bentuk kebutuhan gw untuk saat ini adalah merantau, millenial banget gak sih… hehe, ya gapapa toh, mumpung masih bisa! It’s when you break out of your comfort zone that you really find yourself. Dan gw percaya bahwa everyone in life is looking for a place to call home, gw gak percaya bahwa hidup adalah hanya menerima pilihan yang dipilihkan orang lain buat lw, meaning that bukan berarti the place you’re born in atau pun your parents’ origin bisa dipaksakan menjadi identitas seseorang. That’s why I’m moving places to places to eventually decide which one is really my home.

    Gw udah pindah-pindah tempat beberapa kali dalam hidup gw, tapi so far, mostly di Pulau Sumatra. Destinasi perantauan impian gw dari dulu adalah Bali, gw penasaran banget sama Bali, saat ini dan sejauh ini, menurut gw satu-satunya daerah di Indonesia yang ‘Cihud Banget!’ adalah Pulau Dewata. Dan akhirnya ketika gw memilih untuk melanjutkan studi untuk karir impian gw, gw memilih melakukannya di Bali ketimbang di daerah lain seperti Jakarta atau Surabaya etc. Karena juga, dari masalah kualitas seimbang dengan harga yang jauh sangat lebih murah. Sampai dengan tulisan ini dibuat, gw udah tinggal selama 1,5 bulan di Bali. Satu bulan sebelum pindah, gw sempat 2 minggu liburan di Bali–terakhir kali gw ke Bali di tahun 2009–yang membuat gw makin mantap untuk memilih Bali.

    Namanya juga hidup, kenyataan seringnya gak seindah mimpi kita dulu. Pasti lah ada juga yang bikin gw sebel tentang Bali, pasti lah ada juga bad days. However, buat gw, lebih baik having bad days in Bali than having bad days anywhere else. Yang gw bakal bahas sekarang yang enak-enaknya aja dulu, dari sudut pandang gw sebagai sesama orang Indonesia juga.

    1. Banyak hiburan yang MUDAH DIJANGKAU

    Terutama wisata alam, alias banyak banget pantai-pantai yang indahnya pake banget tapi lokasinya juga gak jauh-jauh amet dan tiap daerahnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nuance yang lo dapetin dari pantai di Kuta berbeda dengan yang di Canggu, beda lagi dengan yang di Uluwatu, Sanur, dll. Dan yang paling penting adalah MUDAH DIJANGKAU, alias gak jauh-jauh amet. Jalan 30 menit juga udah ketemu pantai, pantainya bagus lagi! Di kota-kota yang pernah gw tinggali sebelumnya, hiburan terdekat cuma mall atau pusat perbelanjaan, sedangkan gw bukan anak mall. Di Pekanbaru, untuk nemuin wisata alam aja harus ditempuh dalam 6 jam dulu deh ke Sumatra Barat, itu pun baru ketemu air terjun Lembah Harau, apalagi kalo mau ke pantai, beuh… makin panjang lagi perjalanan! Gw suka wisata alam, tapi gw juga gak suka kalo harus terlalu banyak effort dan preparation untuk menjangkaunya. Emang sih jumlah transportasi publik di Bali sangat minim, tapi untungnya sekarang udah ada taxi dan ojek online dengan tarif yang murah, sangat membantu buat orang yang gak bisa mengendarai motor seperti gw ini. Makasih banget, Bang Nadim!

    2. Gak banyak mall tapi fasilitas lumayan komplit

    I’m not a big city girl, not a fan of big malls kayak yang di Jakarta. Tapi kalo tinggal di daerah yang semuanya serba sulit di dapat atau pola pikir orang-orangnya masih tertutup, gw juga gak nyaman. Di Bali cuma ada sekitar 3 pusat perbelanjaan yang bisa disebut mall, itu pun kecil-kecil kalo untuk ukuran mall. Namun fasilitas lumayan lengkap kok!

    3. No macet

    Dibilang gak ada sama sekali sih ya gak juga, ada juga macet di daerah-daerah tertentu dan kadar macetnya masih level tempe, cuma dikit dan lw masih bisa bergerak, bukan berarti stuck total berjam-jam seperti Jakarta. Sehingga, hidup lw masih bisa impulsive, kalo tiba-tiba mau ke suatu tempat, masih bisa dilakukan. Gak kayak di Jakarta yang hidup lw tiap harinya hanya bisa memiliki 1-2 rencana. Dari lokasi gw tinggal ke Pantai Canggu jaraknya 14 km dan hanya memakan waktu 30-45 menit.

    4. Balinese’s high tolerance to differences

    Aset Pulau Bali bukan hanya kekayaan keindahan alamnya, tapi juga manusia-manusianya! Suatu daerah gak akan bisa mengembangkan potensi pariwisatanya kalo belum mampu menghargai perbedaan. Mau dibangun fasilitas infrastruktur semewah apa pun juga, kalo orang-orangnya gak bisa memberikan rasa nyaman, tentunya gak akan maju. Nah ini dia kerennya orang Bali! Mereka memang terbuka dengan perbedaan, tapi bukan berarti mereka kehilangan jati diri mereka. Adat mereka tuh masih kental banget lho, tapi mereka gak pernah memaksakan itu ke orang lain. Jadi turis-turis yang datang pun merasa nyaman namun tetap dapat melihat sesuatu yang eksotis.

    Sudut pandang mereka tentang aspek-aspek kehidupan pun menurut gw unik. Bagaimana mereka bisa dibilang lebih spiritual ketimbang religius, toh yang mengaku religius pun belum tentu spiritual. Makanya gw lebih sering ngomong sama orang Bali ketimbang sama bule-bule disini, karena gw udah bosen ngomong sama bule, toh gw bisa ketemu bule lebih sering, tapi jarang-jarang gw bisa ketemu sama orang Bali.

    5. Biaya hidup masih terbilang standar dan ada pilihan

    Well, masalah harga, kemampuan seseorang berbeda-beda. Yang bagi gw standar, bagi orang lain mungkin murah atau mahal. Semua ragam harga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan ada di Bali, dari yang murah sampe yang mahal. Kalo dibandingkan dengan daerah kecil lainnya, pilihannya termasuk lebih banyak. Harga kamar kosan tergantung lokasi, kamar kosongan seharga Rp 500.000 – Rp 800.000 masih banyak kok ditemukan, untuk kamar kosan lengkap (AC, water heater, bed, cupboard, wifi, fridge, mini kitchen, TV) range harga dari Rp 1.800.000 – Rp 4.000.000 (tergantung lokasi). Untuk transportasi, karena Bali kecil, dari satu tempat ke tempat lainnya palingan cuma berapa Km, jadi gak boros ongkos ojek online. Makanan pun pilihannya beragam, dari masakan asli Bali, provinsi lain dan negara-negara lain ada. Mau harga dari nasi-lauk (nasi kucing) yang harga Rp 5.000 sampe air putih yang harganya Rp 100.000 juga ada. Oh ya, berhubung gw udah jarang makan nasi putih, jenis makanan yang gw konsumsi (biasanya untuk sarapan), seperti quinoa, couscous, almond milk, chia seeds dan kawan-kawan mereka yang lain, lebih mudah didapatkan, merk dan harga pun variatif.

    6. KTP = Kartu Diskon

    Yang baru gw temuin di Bali selama tinggal di Indonesia adalah fungsi lain KTP Indonesia. Biasanya KTP cuma digunain untuk administrasi pengurusan apaaa gitu, tapi di Bali, dengan menunjukkan KTP Indonesia bisa mendapatkan diskon di berbagai macam events dan tempat hiburan seperti cafe, tempat gym, coworking space, amusement park, penginapan, bahkan yoga studio! Diskonnya juga gak tanggung-tanggung, kadang sampe 50%! Di beberapa tempat, kalo lo memiliki KTP Indonesia dan berasal asli dari Bali, diskonnya bakal ditambah! Anehnya, tempat-tempat yang memberikan diskon KTP ini adalah bisnis-bisnis yang dikelola oleh bule. Gw pernah berbincang dengan salah seorang bule pemilik yoga studio, dia bilang kalo alasan dia memberikan diskon adalah karena dia tau bagi orang Indonesia, harga Rp 130.000 per visit itu mahal banget sedangkan bagi standar bule hidup di Bali adalah murah pake banget. Jadi gak bisa disamaratakan antara orang Indonesia dan bule. Sedangkan tempat-tempat yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri malah lebih sering menyamaratakan harga, malah kadang lebih mahal, padahal mereka sebagai orang Indonesia seharusnya lebih tau lho susahnya orang kita cari duit! Hiks!

    7. Banyak museum

    Well, gak semua orang sih bakal suka museum, tapi gw suka dan gw mendatangi suatu tempat berulang-ulang. Banyak seniman internasional yang memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tuanya di Bali lalu membuatkan museum untuk karya-karyanya.

    8. You’ll be surprised with the persons you run into

    Banyak orang yang merasa pencapaian karirnya sudah cukup dan merasa ingin tinggal nyaman di Bali, atau orang-orang yang berprofesi sebagai digital nomad. Misalnya ngajak ngobrol orang di kafe, eehh ternyata si kakek penulis buku apa gitu. Atau malah ketemu youtubers yang ternyata kondang banget di suatu negara. Atau orang-orang yang sangat ahli di bidang-bidang tertentu, orang-orang yang kerja di Google, Microsoft atau retail fashion besar, etc. Orang-orang ini juga gak pelit ilmu, kadang mereka suka berbagi ilmu gratis di tempat-tempat seperti cafe dan coworking space. Gw belajar tentang basic web design, online marketing sampe cara membuat channel Podcast dari orang-orang yang gw temui disini. Paling berkesan adalah ketika gw ketemu Mbak Niluh Djelantik di Ubud Writers and Readers Festival 2017 kemaren dan youtuber fitness cewek Indonesia Yulia Baltschun karena gw ngefans giling sama dua perempuan Indonesia ini! Pernah gw baca di buku seorang travel writer, Becky Wicks, bertuliskan, “People don’t choose Bali. It’s Bali that chooses people.”

    9. No radicalism

    Pasti tau donk situasi politik di Indonesia lagi panas-panasnya banget, liat TV dan timeline dunia maya malah bikin esmosi, apalagi semakin mendekati masa akhir jabatan presiden Joko Widodo. Di daerah-daerah yang gw singgahi belakangan ini, sering gw melihat spanduk-spanduk provokatif di ruang publik yang sangat bersifat politis, beberapa pernah gw liat membawa-bawa agama. Yang paling parah yang gw inget adalah waktu gw maen ke Jakarta di bulan April 2017, ada yang berdemo dengan tulisan “Kami mau ulangi lagi Mei ’98 demi keadilan!” Astagaa… kurang cukup ya sejarah massacre di Indonesia? Hal-hal seperti ini membuat gw merasa gak nyaman. Kebayang deh gw gimana stressfulnya mereka yang hidup di Jakarta yang rajin kebagian demo. Nah yang begitu-begitu tuh gak ada di Bali, setidaknya sejauh ini, dari hasil ngobrol sama Balinese, gw belum menemukan radikalisme apa pun mendapat tempat di Pulau Bali. Di satu sisi, bagus sih bikin awet muda kalo hidup tenang dan menjauhi fake news. Tapi di satu sisi juga, just because you ignore it, it doesn’t mean it ain’t happen.

    10. Kesadaran Go-Green lebih tinggi

    Salah satu dampak positif dari wisatawan yang datang adalah mereka umumnya orang-orang yang sangat concern kepada lingkungan. Ada banyak organisasi-organisasi non-profit untuk menjaga lingkungan yang didirikan/ dikelola olah percampuran orang bule dengan lokal, seperti green shools. Bule-bule ini menularkan konsep responsible business yang menimbulkan awareness effect walau dalam hal kecil seperti no plastic bags use di toko-toko. Jangan heran kalo setelah belanja takeaway food atau produk lainnya kalian tidak diberikan plastik bungkus, kalau pun ada, terbuat dari kertas daur ulang. Concern tentang Go-Green ini lebih tinggi jika di daerah-daerah wisata seperti Ubud, kalo di Denpasar yang paling minim turis, penggunaan plastik di toko-toko masih tinggi. Pernah gw makan di salah satu cafe di Ubud, ada bule yang complain kenapa itu cafe masih menggunakan plastik. Complaint-nya serius lho, bukan cuma sepatah-dua patah kata. Saking niatnya ni bule complaint, ternyata dia kontak temen-temennya dongs buat dateng ke itu cafe. Terus rame-rame mereka ceramahin si manager cafe yang langsung minta maaf ke bule-bule itu, malah dibilang, “Jangan minta maaf ke kami, minta maaf ke alam. Minta maaf ke Bali.” Abisnya ya mereka ngancem, kalo sampe ini cafe masih menggunakan plastik, mereka gak mau datang ke cafe itu lagi dan bakalan bilang ke turis-turis yang lain berita yang sama. Nah lho!

    11. Balinese massage is easy to find

    Gw rutin melakukan massage sekali dalam 2 minggu dari gw masih SMA sampai sekarang. Ada nenek temen gw yang waktu itu kulit badannya (bukan cuma mukanya doank) yang masih terlihat begitu muda dari umurnya, dia bilang salah satu rahasianya adalah rutin massage dari umurnya masih 20 tahunan. Ternyata gw udah ikutan melakukannya juga selama bertahun-tahun, haha. Namun waktu pindah ke daerah Sumatra Barat, susah banget cari tempat pijat yang maknyoss, biasanya harus kenal sama orang yang bisa buat dipanggil ke rumah. Mungkin karena di daerah itu image massage masih negatif dan walau pun sesama perempuan, masih banyak yang gak nyaman untuk buka baju almost naked. Tapi di Bali, spa dan massage tiap sudut ada! Eits, jangan langsung negative thinking ya sama semua tempat massage, karena masih banyak kok spa and massage yang bener-bener pure relaksasi, without ‘happy ending’ buat kaum pria.

    Balinese massage itu asooy banget deh. Di Sumatra, gw harus coba-coba dan cari-cari tempat langganan yang pijitannya endang. Sedangkan di Bali, gw asal nemplok aja kayak cicak jatoh dari atep, tetep aja sampai saat ini belom ada yang mengecewakan.

    12. Surga bagi yang berkulit coklat

    Umumnya orang Indonesia sangat memuja-muja kulit putih. Sedangkan di Bali, jumlah produk tanning lebih banyak dibandingkan produk memutihkan kulit. Di Bali, lebih banyak orang-orang berlomba mencoklatkan kulit ketimbang memutihkan kulit. Gw yang memang sudah dari dulunya suka banget sama kulit coklat juga ikutan mencoklatkan lagi kulit gw yang sudah coklat ini sampai mencapai coklat maksimal. Beuuh, kalo kulit lw coklat, rambut lo item, udah deh… melenggok-lenggok jalan lo disini bak Miss Universe. Tingkat kepedean dan kesok-cantikan kalian disini akan meningkat karena disinilah kita benar-benar dianggap eksotis! Yeahh! Hidup brown skin!

    #BaliDiary: Who Let The Dogs Out

    Bali is known as The Island of Gods. Many people come to Bali for the spiritual quest. Been living in Bali for over a month, I can give another title to the island as the Island of (wild) Dogs.

    In the island I am from–Sumatra–people don’t like dogs, mostly for ‘religious’ reasons so that they can do irreligious things to this ‘haram’ animal; like throwing them with stones for no reason, even kick them out if the dogs just want to lay down under cars for shade during a super hot day. I’ve never had pet in my life because my parents never allowed us to have one. So until now I don’t know how to pet one even though I actually want to. In Sumatra, especially West Sumatra, the dogs are afraid of humans. I feel sorry for the dogs and I never want to hurt them or any other animals. My achievement was when a dog which was beaten and kicked often was not afraid of me because I let her sleep under my car for shades and I talked to it–from a distance, because I still don’t know how to do physical contact with animals. I told her that she should not listen to those mean humans, she’s a normal beautiful animal and those people are just shallow. I don’t know if she could understand human language but she became protective of me that when a stranger came to my house when I went to a nearby ‘warung’ and let the door open, she barked at him and stood in front of my door. The guy was a delivery courier though.

    I found it sweet and that they’re very very loyal. Reminds me of some movies I watched in my childhood in which dogs joined in and played  for a hockey club. So I began to imagine to play and run along the beach with cute fluffy short-legged dogs, with my long-black hair down and beautiful sunset sky. Imagine how sexy that scene would be in a slow-motioned clip. I was waiting for it to happen before my flights to Bali.

    When in Bali, it happened, unluckily with some modifications. Instead of running along with me, they ran behind me to chase me for no reason with unstoppable barking. The dogs in Bali, especially in Canggu and Ubud, are very different from what we have in Sumatra. They’re not afraid of humans, but also not in a friendly way. They’re as scary as Japanese Yakuza (though I haven’t met Yakuza in person).

    I wanted to do a morning walk. A morning walk in Bali, that sounds like a movie, ain’t it? What happened next was indeed like in movies,  HORROR MOVIE though. Sensing I am an easy prey and has a lot of bones, three dogs chased me. WTH, they have 12 legs and I only have two!! I screamed for help in my girly sundress, made me look more like Annabelle than a sexy sweet beach girl that I planned to be. I literally almost cried having thoughts in my head that my family and friends would read my name in newspapers; GIRL KILLED GANG-CHASED BY WILD DOGS IN CANGGU. Luckily a tourist couple helped to rescue me from the frustrating situation meanwhile three local guys–who previously cat-called me–just laughed and one was ready to record a video. How dare you, you son of sandwich!!

    That was just one of my numerous thriller experiences with wild dogs in Bali. These dogs are not always street dogs, they have owners. But how could they be so different if I compared to dogs that the tourists bring. In Bali, you can find people drive bike with dog, even two dogs in one bike, that looks very cool and cute. And these dogs are swag, friendly and tamed. I believe that the way animals behave to humans are the reflection of what is wrong/right about the community.

    Later I made friends with a local who loves dog so much and always travel with two dogs on his bike. He loves dog from the heart as real friends, not as fancy accessories or toys that you sell when you get bored of. He told me that many locals treat dogs just as house security and don’t give them care and affection that they long for. Also common that they’re left in the street when the owners don’t need them anymore. Well, even humans can behave wildly in that situation. So please, if you can’t love your dogs, don’t have one so that a sweet girl in sundress like me can have a peaceful walk in Bali.

    PS: Not all areas are like this. Only in Canggu and Ubud that I found dogs are a bit uncontrollable. Other than that are safe(r), people treat dogs as pets they love.

    Cihud Bali Dogs