Dijual: Jasa Transfer Doa dan Shalat

Di zaman yang serba online, semua barang dan jasa bisa diperjual-belikan secara online, dari mulai baju, alat olahraga, sampai tanah, mobil dan jasa seperti translation dan kelas online. Yang gak kalah heboh adalah JASA BELI DOA online dengan system pembelian online pada umumnya; pilih menu jasa doa yang diinginkan dan sesuai budget anda, transfer pembayaran dan setelah pembayaran terkonfimasi, si pedagang doa akan mendoakan anda sesuai paket doa yang anda pilih.

13697270_987673818011902_4386500682767616323_n

Hanya dijual paketan gans, ini doa, bukan kerupuk, gak bisa dibeli satuan! *Sumber Foto

Bidang perniagaan doa ini digeluti oleh seorang pria paruh baya asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Nurhadi yang kumis dan status-status facebooknya telah mencengangkan dunia maya. Pasalnya, si Pak Raden warna-warni ini membuka tarif penjualan doa dan shalat yang terpampang di foto cover akun facebooknya, doa dan shalat tidak dijual satuan, harus beli paketan. Pak Nurhadi atau yang ramai disebut dengan panggilan NurHD /:nur eij di/ oleh kalangan manusia-manusia sinis tertentu memilik lebih dari 5000 follower di facebook saat saya singgahi akunnya dan sepertinya di Pak HD mengupdate status facebook sebanyak 50x dalam sehari, kebanyakan status-statusnya berisi doa singkat bagi para pembeli, lalu beberapa persennya kata-kata mutiara a la Vicky Prasetyonisasi, dan tidak jarang juga status vulgar padahal beberapa menit sebelumnya habis bikin status doa. Mungkin berdoa membuat dia horny, ato karena berdoanya dipaksakan sesuai deadline, jadi walopun lagi horny dia tetep berdoa untuk menjunjung tinggi profesionalismenya sebagai pedagang agama.

20106255_1339758389470108_6665231790033020787_n

Profile Pic yang saat itu sedang digunakan Pak NurHD ketika saya singgahi Facebooknya. Sepertinya bapak  ini sedang terinspirasi film kartun unicorn warna-warni.  *Foto Sumber

Di profile facebooknya, Pak HD mencantumkan ‘pijat relaksasi dan pengobatan’ sebagai pekerjaannya. Meski udah dikecam dan dihina di dunia maya, sampai sekarang Pak HD is still going strong menjalankan bisnisnya. Bahkan anak-anak muda ada yang melakukan prank-call ke Pak EijDi unicorn bala-bala ini dan mengunggahnya ke youtube. Well, di negara ini, gak heran kalo yang berbau agama laku di pasaran, pantes aja gw gak kaya-kaya, abisnya gw jualan celemek dan bantal sih… bukan jualan agama kayak pak HD.

Kelihatannya, Pak Unicorn bukan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi (maaf pak kalo asumsi saya salah, jangan kutuk aku jadi unicorn juga!) jadi tingkah laku ini bisa diprediksikan. Tapi apakah cuma orang dengan dengan latar belakang seperti Pak HD yang menjual jasa transfer doa?? NO. Seorang financial consultant bernama Ahmad Gozali yang sudah mengantongi pendidikan di sebuah sekolah tinggi dengan spesialisasi akuntansi (alias STAN) dan melanjutkan pendidikan bidang Manajemen Perbankan Syariah sudah lebih dulu melakukan jasa titip doa di dunia maya pada akhir tahun 2013 lalu dengan tagar #TitipDoaBaitullah, dimana orang bisa mentransfer sejumlah uang dengan batas minimal Rp 100.000,- yang disebut sedekah (sedekah kok pake minimal sih, ngaku S2 ya pak??) agar bisa didoakan oleh beliau sendiri ketika beliau pergi ke tanah suci. Pak Gozali ini adalah salah satu dewan Pembina dan penasehat di sedekahharian.com.

titipdoabaitullah

Mungkin bagi sebagian orang yang membuat tercengang adalah karena masalah jual-beli onlinenya. Tapi apakah praktek jual-beli doa ini adalah sesuatu yang baru?? Menurut saya pribadi yang bukan lulusan bidang Manajemen Perbankan Syariah dan juga bukan unicorn, di negara ini praktek titip doa udah ada sejak dulu-dulu banget. Yang baru cuma medianya aja sekarang online.

Contohnya simplenya, kalo ada yang mau pergi haji, sering gak sih kita denger orang-orang pada minta titip doa, “Eh doain aku donk biar enteng jodoh, soalnya aku belum mampu ke tanah suci.” Sama kan? Bedanya gratis karena kenal. Lah doa kok nitip?

Di sekitaran rumah saya dulu juga ada tetangga yang di rumahnya selalu ada orang-orang yang dikumpulkan untuk berdoa untuk orang lain yang minta tolong ke Pak Ustadz itu dengan biaya sedekah sukarela. Katanya orang-orang yang berdoa ini adalah kaum dhuafa dan anak yatim yang doanya lebih afdhal. Kalo ada yang lagi pingin bersyukur atas rezeki, mereka menghubungi pak Ustadz dan ‘bersedekah’ dan minta didoakan agar rezekinya bertambah. Begitu juga kalo lagi ditimpa musibah dan kalo lagi ada sesuatu yang diinginkan. Seolah-olah baginya doanya sendiri kurang didengar, padahal ngakunya percaya kalo Tuhan Maha Mendengar. Alasan lain kenapa hal ini lebih diminati adalah karena hemat biaya jika dibandingkan dengan bikin acara doa-doa di rumah.

Keluarga besar saya sendiri pun semenjak pindah ke kampung halaman orang tua saya di Sumatra Barat, sudah 7 tahun belakangan ini selalu rutin melakukan sedekah pembagian sembako dan doa bersama setiap tahunnya, dalam setahun minimal 2 kali, pembagian sembako akbar setiap menjelang idul fitri karena biasanya jumlah penerima (dan pendoa yang dipaksakan) mencapai angka 1000 beneficiaries. Udah berapa kali saya sendiri mendebat hal ini dan menawarkan alternative jenis bantuan lain ke para mereka yang tua-tua, tapi yah apa daya kita selalu saja dianggap anak dan anak-anak. It’s their money anyway, it’s up to them what they’re gonna do with their money. But do I believe in it even though it’s done by my own family? My own parents? NO.

To be honest, for me it’s silly. Mengumpulkan orang-orang yang tidak mampu, membuat mereka menunggu sampai acara dimulai, lalu menyuruh mereka berdoa, mereka berdoa dengan tatapan kosong karena sudah lama menunggu dan mungkin mereka emang lagi gak niat berdoa karena di kepalanya ada fikiran pekerjaan mereka yang mereka tinggalkan demi pembagian sembako, dan juga mereka gak kenal untuk si nama-nama yang didoakan (lha wong kontaknya cuma setahun 3 kali). Banyak dari mereka yang saya perhatikan tidak melakukan (seolah-olah) berdoa, nah pura-pura berdoa aja gak apalagi mau beneran berdoa. Lalu membagikan sembako setelah mereka dibuat berdoa. And then what? Apa yang sebenarnya kita dapat? Apa yang sebenarnya mereka dapat? Acara seperti ini mungkin lumrah dilakukan di Indonesia, tidak hanya keluarga saya saja.

Menurut saya, hal ini terjadi mungkin karena tidak semua orang benar-benar percaya bahwa masalah doa adalah sesuatu yang personal antara ia dan Tuhannya dan bagaimana kita menginterpretasikan anjuran membantu kaum yang tidak mampu dan anak yatim karena doa mereka. Memang iya anjuran tersebut ada, tapi apa harus dilakukan dengan ngumpulin orang di rumah, disuruh berdoa, trus baru dibagiin duit/ sembako gituh? Itu cuma kebiasaan yang sudah dijadikan tradisi di suatu tempat/ negara, belum tentu mendidik. Masalah dia berdoa apa gak untuk kita setelah kita bantu, bagi saya itu adalah sesuatu yang personal antara dia sendiri dengan Tuhan, buat apa kita ikut campur dengan repot-repot mengumpulkan mereka berdoa yang ditentukan tempat dan waktunya. Kalo mau ngebantu ya ngebantu aja, gak usah pake ada garansi ‘harus didoain ya!’ segala. Lebih baik mereka mendoakan diam-diam dan lebih baik bagi kita diam-diam didoakan. Anyway, for me, when we do something good, it should be because we truly believe it’s good, not because we expect something in return. Karena hanya unicorn jadi-jadian yang pasang tariff transfer doa.

ba7393fc39046d9ed2146c3b3a5b2840--team-unicorn-unicorn-yoga

 

DIY Tutorial: Handmade Tissue Cover

thumbnail tissue

Hi everyone!

Here’s a super easy DIY project that you can try at home, palingan cuma butuh waktu 20 menit untuk membuatnya. BTW, I am making a series of sewing tutorial to decorate your living room buat persiapan lebaran nanti nih, siapa tau ada yang mau make-over ruang tamu keluarga, hehe 😀

Follow the tutorial series on my youtube channel , and for this Tissue Cover Tutorial Video, click here.

Selamat mencoba, keep calm and sew on 😀

Moving to West Sumatra for Beginners 3 — In the Name of Gengsi

Gw ingat dulu pernah nonton wawancara band Nidji waktu mereka lagi booming. Giring si vokalis yang mengaku mempunyai darah keturunan Minang mengaku kalo pengalaman tampil di Sumbar adalah yang paling memiliki tantangan untuk menghidupkan suasana. Inget dong gimana enerjiknya si Giring ini kalo di panggung. Katanya, dia hampir mati kutu karena udah satu jam jejingkrakan di atas panggung tapi penonton tidak ada yang bergoyang, anggota band saling berpandangan satu sama lain bertanya apa ada yang salah. Setelah sekian lama akhirnya penonton ikut bergoyang sedikit, itupun hanya kepala doang, ya lumayan lah. Di wawancara tersebut Giring bilang yang kurang lebih seperti ini, “Tampil di Padang ini challenging banget karena orang Minang gengsinya tinggi untuk ikutan bergoyang, kita jadi sempet gak pede, apa mereka gak suka penampilan kita. Padahal penonton rame dan makin lama makin rame.”

Seorang kenalan gw yang seorang DJ dan sudah beberapa kali tampil atau hanya sekedar main di klub malam di kota Padang bilang kalo ‘orang Padang panasnya lama, dance floor lama ramenya’.

Hhhmm… gw belum pernah ke night club atau pun konser di Sumbar sih, jadi belum pernah menyaksikan sendiri gimana situasi pergoyangan. Palingan kalo di kondangan ada music-musik gitu. Emang jarang juga sih yang naik ke panggung dan joget-joget. Tapi bukannya di tempat lain juga begitu?

Yang gw pernah cuma nonton acara stand-up comedy Raditya Dika dan beberapa talkshow waktu kuliah dulu. Audience yang hadir banyak dipuji para pembicara lewat twitter, apalagi Raditya Dika sampai beberapa kali twit hanya untuk memuji gimana asiknya audience di Sumbar. Well, mungkin untuk perjogetan, it’s not their cups of tea, hehe.

Selain masalah perjogetan, gengsi di Sumbar yang gw liat adalah tentang tempat perhelatan sebuah acara, biasanya pernikahan. Meskipun ada gedung-gedung hall atau GSG yang cukup memadai, kebanyakan masih memilih untuk melakukan pesta di rumah. Di Lampung dan Pekanbaru, untuk menunjukkan gengsi dan karena gak mau repot, pesta pernikahan umumnya di GSG atau hotel. Di Sumbar yang menurut gw menarik adalah kebalikannya. Keluarga yang sebenernya mampu (dan kadang malah sangat mampu) untuk bayar sewa gedung lebih memilih pesta di rumah dengan alasan “nanti kita disangka gak punya rumah” atau “takut disangka gak mampu bangun rumah sendiri, nanti disangka orang selama ini kita numpang”. Menarik sih alasannya, karena berbeda, tapi gengsi tersebut juga berpotensi menyebabkan kemacetan dan kerugian transportasi buat public yang lain. Keluarga besar gw sendiri sering gw kritik karena beberapa kali egois menutup jalan raya yang ada di depan rumah, mana pake back-up polisi segala, “Gengsi yang lebih penting buat dipelihara itu gengsi buat gak ngerepotin orang lain, bukan gengsi pamer nama besar keluarga.” Alhamdulillah berujung kena semprot.

Selain masalah tempat, gengsi juga ditunjukkan lewat durasi pesta. Semakin lama pestanya, apalagi sampai berhari-hari, semakin bergengsi.

Masalah perantauan juga kenal gengsi, banyak yang pantang pulang kampung kalo belum berhasil karena takut dihina, padahal yang ngehina juga gak mau ngasih bantuan. Rumah keluarga menjadi simbol gengsi. Orang-orang yang sudah lama merantau banyak yang membangun rumah keluarga di kampung walaupun mereka sendiri gak tinggal di kampungnya. Berbeda benar dengan kebanyakan teman-teman gw yang chinese yang memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana, perabotannya juga banyak yang vintage, tapi buat mereka yang lebih penting jumlah uang di tabungan dan jalan ke luar negeri. Teman saya yang chinese pernah bilang, “Gak masalah gimana tempat lw tinggal, yang penting sejauh mana lw udah pernah melangkah.”

Orang-orang di Sumbar pun sering mengakui kalo mereka emang gengsi tinggi, tapi yang membuat gw surprised adalah bahwa mereka mengaitkan gengsi dengan masalah perut. Sering banget gw dikasih tau, “Semiskin-miskinnya orang Minang, mana mau makan selain nasi.” Wah gw baru tau kalo nasi adalah gengsi, padahal gak ada yang bakal tau juga sumber karbohidrat lw darimana. Gak cuma sampe situ, mereka kadang juga sampe spesifik ke merk dan harga berasnya segala. Wow, rasanya gw telah bertemu dengan Nasi Fans Club terbesar di dunia.


Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

 

You are what you comment on Lambe Turah

Lambe Turah adalah salah satu akun Instagram Indonesia dengan jumlah followers dan akun imitasi terbanyak. Kalo ada yang belum tau Lambe Turah ini akun tentang apa, ini adalah akun yang ibaratnya fenomenanya Gossip Girl a la Indonesia. Gosip adalah salah satu komoditi yang paling banyak diminati hampir semua kalangan dan gossip yang diberitakan di Lambe Turah terasa berbeda dibanding apa yang bisa kita dapatkan di TV karena beberapa hal:

  1. Akun tersebut anonymous, sehingga akun ini gak perlu menjaga norma kesopanan seperti acara-acara gossip di TV. Kalo acara gossip di TV, ada muka-muka hostnya yang terpampang, jadi kasian kalo mereka dijadikan tumbal penulis script di belakang layar.
  2. Lambe Turah sepertinya bagian dari inner circle public figures di Indonesia sehingga dia bisa mendapatkan berita dan rekaman video (kadang candid, kadang gak) yang kadang sifatnya private.
  3. Banyak followers Lambe Turah yang merasa terhibur dengan gaya bahasa si admin akun yang membuat kosa-katanya sendiri.

Karena kesuksesan akun ini, banyak akun-akun serupa yang mengimitasi jenis konten dan gaya bahasanya.Dari sebegitu banyaknya akun imitasi, yang asli (pelopor) kemungkinan adalah yang mempunyai followers dia angka 2 juta. Kadang saya berfikir sebenarnya mungkin mereka ini jaringan admin yang sama, karena dengan semakin banyaknya akun, mereka jadi bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari tariff paid promote. Jangan anggap remeh tariff yang dipasang akun-akun seperti Lambe Turah, Lambe Lamis, Tante Rempong, Dagelan, dll. Karena saya menjalankan online shop, saya sendiri pernah survey harga tariff paid promote di akun-akun tersebut, harganya berkisar dari 25rb per posting sampai 5 juta per satu kali publish, tergantung dari jumlah followers akun tersebut berapa, kadang malah ditentukan berapa lama post tersebut akan di-keep di akun social influencers itu.

Saya, walaupun sudah bermain Instagram dari tahun 2009, malah baru mengetahui tentang si jenis-jenis Lambe ini pada akhir tahun 2016 kemaren dari teman-teman saya, padahal akun tersebut sudah ada cukup lama sebelum itu. Waktu teman-teman saya bercerita, saya jadi merasa tertinggal karena gak ngerti bahan pembicaraanya, saya jadi penasaran dan lalu terjun ke TKP. Teman-teman saya memberi wejangan tentang Lambe Turah for Dummies, yaitu adalah: “Baca comment2nya. Lo gak akan ngerti tentang gosipnya kalo lo gak baca bagian comment. Bagian terseru di Lambe Turah adalah commentnya.” Ok, noted.

Waktu saya membuka akun-akun gossip tersebut, menurut saya ya… memang sih beberapa berita yang dia punya kesannya gress karena candid dan private, tapi yah, tipikalnya entertainment news lah, yaitu lebay (ya namanya jualan gossip, pasti lebay) dan gak ada hubungannya dengan kehidupan kita (apa coba untungnya bagi saya untuk tau kalo si artis A baru aja beli sandal jepit baru buat anaknya? Atau si artis B baru aja selese nemenin pacarnya potong rambut). Saya sering bingung membaca konten akun-akun ini, bukan karena gaya bahasanya, tapi saya bingung artis yang digosipin ini siapa, apakah beneran artis ato bukan, karena saya udah lama gak nonton TV jadi yang saya tahu cuma sampe angkatan Raffi Ahmad. Saya kalah jauh dari orang tua saya yang hapal sampe ke nama orang tuanya Raffi Ahmad segala. Hehe, miris ya saya ini.

Karena kebingungan, saya mengikuti wejangan teman-teman saya, yaitu baca comment section. Dan ternyata… wow, bagian paling shocking dari Lambe Turah and the ganks adalah memang bagian comment nya! Kenapa?? Karena konten Lambe Turah hanya mencoba mengungkap personalities selebritis yang cuma segelintir dan itu-itu aja, sedangkan di comment section, beribu-ribu atau mungkin berjuta orang—yang mayoritasnya bukan dari kalangan seleb—mengumbar kepribadian mereka yang sebenarnya! The comment section really reveals how incredibly intolerant and heartless people can be!

Ada yang berkelahi sampai bikin gank segala, namanya Balajaer dan Balanemo (saya gak tau pasti mereka ini apa, tapi kayaknya sejenis Bonek gitu deh. Kenapa gak ada BalaPaus ya? Kan lebih sangar gitu namanya kalo buat berantem), ada yang jadi Dewi Kwam Im, mencoba memberi cahaya perdamaian dan kerap kali gagal, malah dia jadi ikutan berantem. Ada yang jualan krim pelangsing, penghilang jerawat, sampe pembesar payudara (gimana coba logikanya cream yang dioles di permukaan kulit bisa merangsang pertumbuhan lemak dan otot di dalam tubuh?? Besok2 anak bayi dioles krim aja daripada dibeliin dan dikasih makanan bergizi, biar bayinya jadi semok). Dan salah satu yang paling banyak adalah yang menghujat si para selebritis ini. Kadang sebenernya berita tersebut gak pantes dihujat juga sih, tapi orang-orang merasa berkewajiban aja gitu untuk merespon negatively terhadap apa yang diposting di akun-akun ini. Contohnya aja di salah satu posting tentang seorang seleb yang lagi belajar fashion design dan menggambar mengikuti contoh gambar model yang asli. Ini contoh comment yang saya screenshot.

Luar biasyak! Mereka bilang menggambar itu gampang! Kalo semua orang memang sejago ngomong mereka tentang menggambar, kita semua sudah jadi Leonardo Da Vinci dan Indonesia bakalan kebanjiran penerus Affandi! Yang namanya belajar menggambar memang dari mencontoh objek, tidak selalu harus hanya dari imajinasi. Bahkan Nick Verreos pun, salah satu educator fashion design ternama di dunia yang juga juri di Project Runway, menjelaskan metode yang sama. Yang hebat adalah orang-orang yang komen negative di postingan tsb.

Salah satu contoh lain adalah screenshot komen berikut yang saya ambil dari postingan tentang salah satu seleb yang sedang sakit parah, seleb ini terkenal karena keseksiannya dan postingan tersebut adalah si seleb di atas tempat tidur rumah sakit yang fotografinya diambil oleh salah satu fotografer socialite yang lagi naik daun, di foto itu si seleb memegang kaca dan lipstick seolah berdandan, dan terlihat (sepertinya) hanya memakai selimut rumah sakit.

Banyak yang komen mendoakan kesembuhan si artis tapi gak sedikit juga yang menghujat karena si seleb masih saja tampil vulgar. Kalau mereka berpendapat menutup aurat lebih baik dan terhormat, ya gak ada salahnya sih, itu kan hak mereka untuk berfikiran apa, tapi—terlepas dari pendapatnya benar ato gak—bandingkan bagaimana cara orang-orang ini menyampaikan criticism yang sama, mana yang lebih constructive?

Bukan cuma akun-akun gossip ini yang keramaian penghujat. Akun-akun seleb juga ramai komentar-komentar tanpa hati. Mereka menghina ketidaksempurnaan fisik si artis, gaya berpakaian, orang tua, sampai masa lalu si artis. Contohnya saya ambil di akun instagram Marshanda, si seleb ini belakangan mengunci kolom comment di beberapa foto yang dia rasa akan mengundang hujaters berkumpul. Marshanda pernah beberapa kali mengalami perubahan berat badan dan terlihat lebih berisi. Hellooww… did anyone forget that she already gave birth to a daughter? What’s wrong with being fat or skinny? It’s not a sin! God doesn’t judge you by the shape of your body. How you treat others is the one that matters. Kalo saya sih, untuk menghina fisik seorang Marshanda, saya ngaca dulu dan memastikan kaca tersebut gak pecah. Untuk saya, puncak tercantik saya pun masih gak akan menang cantik dari rock bottom nya Marshanda. Bukannya ngerendah ya, tapi emang realistis. Terlepas dari sifat seorang Marshanda bagaimana, Marshanda lagi ngorok atopun lagi ngeden juga palingan tetep aja lebih cantik dari foto saya setelah difilter camera 360 sebanyak 5 kali. Tapi saya belum pernah liat muka Marshanda lagi ngorok ato ngeden sih, tapi saya udah pernah liat muka saya setelah diedit camera 360 sebanyak 5 kali, gimana mau cantik, idung aja hilang!

Did these people forget that these celebs are also ordinary humans, they go through some phase in their life just like us and they cant keep being flawless all the time.

Tidak semua komen yang ada di akun-akun ternama ini isinya jelek-jelek dan hujatan, ada juga yang neutral dan constructive. Tapi untuk membuktikan sendiri komposisi mana yang lebih banyak, lebih baik kalian datangi sendiri.

Komen-komen yang seperti ini mengundang saya untuk stalking ke akun-akun dewa-dewi hujat ini. Dan seringnya, persona di akun instagram pribadi memang sangat menipu, apa yang di tampilkan di akun pribadi jauh berbeda dengan jenis dan konten comment di akun orang lain yang terkenal. Kalau hanya melihat akun instagram pribadi, pasti kita tidak menyangka kalo orang-orang ini sanggup melontarkan komentar-komentar barbar seperti itu. Ada yang kelihatannya wanita/ pria baik-baik, sopan, captionnya selalu bijak a la motivator, bahkan ada yang sudah menjadi parents. Ada juga yang pekerjaannya seorang guru (dia cantumkan di bio IGnya, salah satu dari pemilik comment yang saya capture ini adalah seorang guru). Seriously?? You are a teacher, man! Apparently these people believe that just because they’re not famous then they can just verbally abuse and harass people like that, just because they’re famous. They can read your comments too. And what makes you think these famous people are immune from negativity?

Bukan selebnya yang sebenarnya terbuka aibnya, tapi para komentatornya. Orang-orang yang tadinya saya gak tertarik untuk melihat akunnya, jadi tersinggahi karena komen yang julid dan destructive. Ya ampun mak, padahal akun pribadi pencitraannya ibarat ibu peri!

Yang lucunya juga, jadi di instagram itu, ketika kita membuka suatu post, dari sekian banyak komen, instagram sendiri sudah memfilter agar yang tampak oleh kita sebelum kita expand commentnya adalah comment2 dari either orang yang terkenal atau orang yang ada hubungannya dengan kita, contohnya teman-teman kita di instagram. Nampaknya gak semua orang sadar tentang hal ini ya, alangkah kagetnya saya ketika berkali-kali menemukan komen dari beberapa teman-teman soc-med saya yang berkecimpung di kolom rumpi, mending kalo sekadar nimbrung, ini ikutan menghujat juga. Padahal setau saya orang-orang ini elegan dan keibuan/kebapakan, ternyata bukan cuma strangers saja yang terbuka sifatnya, tapi juga orang yang dikenal/ teman kita sendiri!

However, I believe in the freedom of speech, they have rights to say whatever they like, just like how I have rights to write anything I like or believe in. Hence, when we think something is incorrect about one’s posts, commanding him/her to stop having opinion or write what she/he thinks is not something I believe to be done. Karena seberapa pun buruknya mereka menghina si artis, saya gak punya hak untuk menyuruh mereka berhenti menggunakan mulut dan fikirannya, yang saya bisa adalah menawarkan alternatif lain dengan cara yang tidak sama. Pedang dibalas dengan pedang, pena dengan pena.

Pengalaman Natal Pertama Saya

10660190_10205112321153064_1609364509744463560_n

Masalah mengucapkan selamat natal atau memakai atribut perayaan keagamaan agama lain adalah masalah yang tak kunjung usai perdebatannya. Foto di atas di ambil pada malam natal tahun 2015. Namun saya memposting foto tersebut agak lambat di social media, ketika saya upload di soc-med, reaksi teman-teman di sos-med sesuai prediksi saya. Di inbox saya penuh hujatan, pertanyaan, ceramah ustadz/ah dadakan (padahal dulunya negor juga gak pernah), ada yang menelpon, sampe ada yang nge-remove pertemanan segala. Katanya mereka kecewa melihat saya yang tadinya berjilbab sampai membuka aurat dan bertoleransi kebablasan, mendekatan diri kepada api neraka, dan bla-bla-bla whatsoever. Foto tersebut membuat saya mendapat message yang mengecap saya sebagai penista agama lebih dulu daripada seorang mantan gubernur ibukota.

Untungnya saya bukan gubernur, jadi mau saya bereaksi dengan diam pun juga tidak masalah. Saya tidak memberi penjelasan kepada semua yang bertanya kenapa, toh apa gunanya juga sesuatu yang personal perlu diklarifikasi, saya ini kan bukan politisi. Apalagi kalo saya tahu dari awal mereka sudah menutup niat untuk diskusi.

Di foto, saya hanya terlihat berdiri di antara dekorasi natal di sebuah kafe di kota Bandar Lampung. Yang tidak bisa dijelaskan dari foto tersebut adalah bahwa saya tidak hanya berfoto dengan dekorasi natal hari itu, saya pergi ke gereja katedral pagi harinya bersama dua teman non-muslim saya, satunya beretnis Tionghoa, satunya Jawa. Saya pergi ke katedral di hari Natal bukan untuk merayakannya atau malah misi keagamaan yang lain (apalagi kalo sampe bawa bom), saya datang dengan niat yang sama seperti saya datang ke Candi Borobudur dan Prambananan yang merupakan tempat peribadatan agama lain. Tapi kok gak ada yang heboh menghujat ya kalo fotonya di Borobudur?

IMG_9935

Saya di Prambanan. Lantas saya Hindu?

Saya datang tidak hanya sampai depan pagar, tapi saya masuk dan duduk di dalam untuk beberapa saat sebelum prosesi dimulai, lalu saya keluar, sebenernya saya mau duduk di dalam dan melihat prosesi seutuhnya, tapi saya lihat ada jemaat yang bingung mencari bangku yang sudah penuh, rasanya mereka lebih pantas mendapatkan kursi daripada saya.

Gereja Katedral ini berlokasi di tengah kota Bandar Lampung dekat stasiun Tanjung Karang dan terminal Ramayana. Di seberang katedral tersebut pas berdiri sebuah masjid. Mobil kami diparkir di lapangan parkir di sebelah masjid. Sewaktu kami menyebrang ke gereja, kami dibantu dengan pak polisi dan warga di sekitar sana yang memakai baju koko dan peci. Kebetulan natal tahun itu jatuh di hari Jumat, mungkin maksudnya mereka mau langsung shalat Jum’at. Melihat pak polisi dan warga muslim yang membantu keberlangsungan peribadatan umat Kristiani, saya terharu sekali. Saya fikir indah sekali Indonesia ini, setidaknya di Tanjung Karang, walopun saya juga agak bingung sih kenapa ada polisi.

Lebih kaget lagi saya waktu akan memasuki gereja katedral saya melihat antrian untuk security check seperti di bandara, tapi lebih diperketat. Seriously?? Security check buat masuk ke rumah ibadah?? 25 tahun saya merayakan hari besar agama Islam di masjid atau tanah lapang, setahun ada 2 kali hari raya, belum lagi shalat tarawih, tapi saya gak pernah merasakan security check segala, apalagi cuma di kota kecil seperti Bandar Lampung ini. Mungkin kalo di masjid raya seperti Istiqlal Jakarta ada, tapi saya belum pernah merayakan hari raya di sana. Saya berfikir, apakah sebegini merasa terancamnya umat ini bahkan untuk beribadah pun mereka merasa gak tenang.

Rasanya miris ya, saya yang merupakan bagian dari mayoritas bisa beribadah dengan tenang namun teman-teman saya yang minoritas ternyata ini ya yang mereka hadapi. Padahal kita hidup di kota yang sama, negara yang sama, di bawah hukum yang (seharusnya) sama.

Lalu saya tanya ke teman saya yang berumur 15 tahun lebih tua dari saya dan seorang ibu dari 3 anak perempuan yang lucu-lucu, “Apa cuma hari natal ada security check begitu?”

“Gak juga, kadang tergantung musim. Kalo lagi ada bom di kota lain, kita disini juga dikawal polisi begitu walopun hari Sabtu/ Minggu biasa.” Jawabnya

“Terus kenapa masih ke gereja?”

“Ya karena gua bersyukur dengan apa yang dikasih Tuhan. Sama kayak kenapa orang tua lo pergi ke masjid.”

“Gak takut?”

“Ya takut lah” teman saya yang satunya lagi menimpali, “Kita ini bingung, kalo lagi berdoa, pingin khusyuk tapi was-was. Kenapa sih kok kitaorang dibom?”

“Iya, gua ini pingin anak-anak gua juga belajar beribadah ke gereja, tapi bayangin kalo lo jadi seorang ibu, lo lebih takut anak lo kenapa-kenapa ketimbang diri lo sendiri.”

Ya ampun… Bahkan ibu saya pun tidak pernah harus memikirkan itu kalo pergi ke masjid bersama keluarga. Terlalu lama mungkin saya hanya terfokus ke kenyamanan diri saya sendiri jadi gak pernah bertanya apakah teman saya sendiri merasa aman. (jangan tanya nyaman dulu deh, aman aja belom tentu).

Saya duduk di dalam gereja, tidak hanya mengamati dalam ruangannya yang ternyata hanya seluas masjid di kecamatan rumah saya dulu, tapi saya terfokus ke ekspresi tiap-tiap orang. Muka-muka yang berbahagia, bersyukur. Sebenarnya ekspresi mereka adalah eskpresi-ekspresi yang sama saya temukan ketika lebaran, semuanya sama-sama bahagia, sama-sama bersyukur. Ambience yang saya rasakan pun sama. Terlepas dari perbedaan keyakinan, semuanya sama; sama-sama ingin bahagia.

Saya menengok ke bangku belakang, ada seorang ibu-ibu seumur ibu saya yang matanya berkaca-kaca air mata, saya tanya, “Kenapa Ibu menangis?”. Beliau jawab, “Karena saya bersyukur masih bisa merayakan natal tahun ini.” Dhegg. Tersentuh benar hati saya karena kata-kata yang sama juga kerap saya temukan di suasana Idul Fitri dan Idul Adha. Perbedaannya hanya objek, natal dan lebaran. Saya lihat ibu itu hanya sendiri ke gereja, mungkin beliau sama seperti ibu saya yang beberapa kali merayakan idul adha sendiri ke masjid karena kedua anaknya sedang di rantau dan suaminya sudah tak sanggup lagi berjalan. Saya lihat ke lain arah, ada laki-laki dan perempuan seumuran saya dan kakak saya. Mungkin mereka adalah seperti saya yang kerap kali ber-Idul Adha sendiri di rantau. Di arah lain saya lihat ada bapak-bapak dengan kursi roda, seperti ayah saya yang begitu semangatnya memaksakan diri untuk pergi ber-Idul Fitri. Bapak itu menangis menyebut nama Tuhannya seraya bersyukur, padahal acara dimulai juga belum. Benar-benar persis apa yang ayah saya lakukan beberapa tahun yang lalu. Saya lihat anak-anak kecil yang didandani orang tuanya, mirip dengan adik-adik dan keponakan saya. Mereka memang muka-muka orang-orang yang asing, tapi suasana ini tidak asing. Saya memandang mereka tapi di kepala saya, saya ganti wajah mereka dengan wajah orang-orang yang selalu bersama saya saat lebaran. Begitu mudahnya untuk menyayangi orang lain jika kita lebih melihat persamaan daripada terfokus ke perbedaan.

Berulang-ulang kali saat itu saya berbicara dalam kepala saya tentang tiga hal:

  1. Kenapa selama ini kita terlalu sering diajarkan bahwa kita berbeda padahal kita semua sama, sama-sama ingin bahagia.
  2. Kenapa mereka gak mengajarkan bahwa kita sama? Kenapa? Kenapa??
  3. Mana sih yang lebih membuang-buang energi, memprovokasikan perbedaan atau melihat ke persamaan?

Pertanyaan tentang kenapa dan kenapa terus berulang di kepala saya. Momen itu membuat saya ingin menangis dan mata saya berkaca-kaca tapi saat teman saya bertanya kenapa mata saya, saya bilang saya ngantuk karena semalam telat tidur. Lalu saya keluar dan duduk di warung dekat sana sementara kedua teman saya mengikuti proses keagamaan mereka.

Di warung saya duduk dengan orang-orang yang membantu para jemaat menyebrang tadi. Ada yang bertanya kenapa saya di luar dan tidak mengikuti acara, disangkanya saya Kristen karena saya memang tidak memakai identitas agama mana pun. Saya jawab saya bukan umat Kristiani, malah ditanya, “Gak takut dosa pergi natalan?” Saya tanya balik, “Tadi bapak bantuin orang-orang Kristen pergi berdoa, gak takut dosa?”. Dia jawab, “Oh, itu kan ibadah kalo kita ini sebagai umat muslim, bla… bla… bla…” si Bapak melanjutkan dengan berceramah yang di kuping saya sudah langsung tertekan tombol mute.

Prosesi berlangsung kurang lebih dua jam. Karena natal tahun itu jatuh di hari Jumat, jadi masjid yang berada di seberangnya menyiapkan persiapan shalat Jumat sekitar jam 11 sudah disiarkan bacaan-bacaan ayat-ayat Al-Quran melalu speaker dengan volume penuh yang tentunya terdengar sangat jelas ke gereja di seberangnya yang sedang merayakan natal. Masih lama gak ya acara natalnya? Tanya saya dalam hati karena saya gak tahu acara natal itu biasanya berapa lama. Mau pergi ke tempat lain pun, pada masih tutup dan kunci mobil sama teman saya di dalam.

Sekitar 20-30 menit akhirnya saya lihat jemaat sudah mulai keluar. Lalu saya ke seberang menunggu teman-teman saya di pintu masuk katedral. Jemaat yang keluar tampak berbahagia lalu mereka menyelamati sesamanya. Saya yang saat itu hanya berdiri menunggu teman-teman saya juga diselamati oleh para pengunjung yang tidak sengaja setatapan mata dengan saya. Saya biarkan mereka dengan anggapannya, toh mereka hanya bilang selamat. Selamatnya selamat apa ya tidak jelas, dan tergantung saya menginterpretasikannya bagaimana.

Saya mengambil momen hanya untuk berdiri melihat orang-orang yang lalu lalang di sekitar saya, hanya untuk merasakan lagi perasaan yang sama sebelum prosesi di mulai tadi.

Lalu saya bertemu teman-teman saya dan kami menyeberang ke parkiran dibantu oleh orang-orang tadi namun kini mereka semua memakai pakaian koko lengkap dengan peci karena waktu shalat Jum’at semakin dekat. Bayangkan, orang-orang dengan identitas agama Islam membantu orang-orang keluar dari gereja yang di lehernya ada kalung salib. Saya berdecak kagum dalam hati, indah benar rasanya. Ketika kami sampai di mobil dan keluar parkiran, ada petugas parkir yang entah lah resmi atau tidak, tapi dia memakai baju koko dan peci, lalu orang tersebut meminta uang parkir ke teman saya saat kami keluar. Teman saya memberikan uangnya. Begitu juga mobil-mobil yang lain.

Saat baru keluar, saya berkata kepada dua teman saya, “Keren ya orang-orang sini yang muslim pada bantuin ngejagain natalan.”

Lalu teman saya yang menyetir menjawab, “Yailah harus ngebantu, lo gak tau berapa juta bapak gw harus bayar tiap natal ke mereka buat kayak gini doang?? Tiga juta! Itu belom biaya yang lainnya.” Teman saya yang beretnis Jawa itu kedua orang tuanya aktif dalam kegiatan gereja, ibunya yang seorang pengusaha sukses housing dan bedding décor memberikan pelatihan keterampilan bagi wanita-wanita di persatuan gereja di daerah-daerah marginal di Lampung dan ayahnya adalah pengurus aktif persatuan umat Kristiani di Lampung.

Teman saya yang lain menimpali, “Yaiyalah, mana bisa kitaorang berdoa kalo gak bayar. Mana mungkin nolongin kalo gak ada uangnya.”

Saya benar-benar kaget, “Seriusan lo?”

“Apa lo mau liat kwitansi-kwitansinya ke rumah gua sekarang?”

Lalu untuk beberapa menit teman-teman saya bercerita dengan lebih detail tentang hal tersebut dan retrospektif ke natalan tahun-tahun sebelumnya. Saya terdiam. Mendengar hal itu, gambaran yang tadinya kedamaian saling tolong menolong yang indah tersebut retak tinggal puing di kepala saya. Perasaan saya bercampur aduk, malu semalu-malunya, mual, jijik, marah, benci, sakit hati, kecewa, emosi dan lain-lain yang secara literal saya benar-benar ingin muntah saat itu.

Untuk berdoa umat ini harus bayar?? Apa kita yang mayoritas pernah bayar pas lebaran?

Mereka yang membantu kami menyebrang tadi dan memakai peci dan baju koko, sudah dapat bayaran tapi masih saja tanpa malu meminta uang parkir??

Yang tadi bicara tentang ibadah, surga dan neraka?? Yang tadi bertanya apakah saya gak takut dosa?? Lalu yang mereka lakukan lebih suci dari dosa??

What the fuck is this shit?!!!

Berbulan-bulan setelah itu setiap kali saya melewati daerah itu (yang mana hampir tiap hari), saya mual dan terbayang-bayang kejadian natal saat itu. Rasanya ingin cepat-cepat saja melewati daerah itu, tapi sial benar kawasan itu adalah salah satu kawasan teramai di kota Bandar Lampung sehingga kendaraan saling merayap dan saya harus tersiksa dengan perasaan mual lebih lama.

Aneh benar kita ini benar-benar aneh. Lucu benar kita ini benar-benar lucu.

Mencemooh umat lain yang dianggap berkata salah, tapi sendirinya membiarkan umat sendiri melakukan kriminalitas menahun. Padahal ada masjid disitu. Ada khotbah Jumat tiap minggu disitu. Ada imam dan umat yang shalat berjamaah tiap hari disitu, sehari lima kali. Tapi apakah ada yang menegur, menceramahi, menghentikan praktek-praktek seperti ini? Seberapa sering hal ini dibahas dalam ceramah? Seberapa sering pembahasan kafir lebih sering dibahas dalam ceramah?

Kenapa yang ribut berkoar-koar tentang membela agama gak menyebut tentang hal ini? Apa karena ketidakadilan ini tidak terjadi ke diri kita jadi kita bisa biarkan saja? Kalo yang melakukan minoritas, semua disangkutpautkan ke agama, kalo yang melakukan mayoritas, mereka bilang ini bukan masalah agama. Jadi apa agama mu gak bicara tentang keadilan?? Coba tanya ke diri masing-masing, berapa kali kita pernah menatap dan bertanya ke teman kita yang minoritas, “Apa keluhan kamu yang bisa saya bantu?” Berapa kali? Sudah berapa kali? Bandingkan dengan berapa kali kita memikirkan diri dan kaum sendiri. Kadang saya berfikir mungkin saya ini hanya sekedar hoki aja kebetulan lahir di negara ini dan jadi bagian dari mayoritas, jadi saya gak harus bayar kalo lebaran, gak harus pake security check karena takut dibom.

Ada masjid disitu. Ada khotbah Jumat tiap minggu disitu. Ada imam dan umat yang shalat berjamaah tiap hari disitu, sehari lima kali. Aneh benar kita ini benar-benar aneh. Lucu benar kita ini benar-benar lucu.

67c94a70710a366a770ef0055657cf3b

 

Moving to West Sumatra for Beginners – Part 2

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

photo

  1. Indirectness

Seringnya di media dan ketika lw gede di rantau, image tentang orang Minang yang disebarluaskan adalah bahwa mereka terlalu straightforward dan cenderung gak peduli perasaan orang lain. Setelah pindah dan tinggal di Sumbar, menurut gw image tersebut exaggerated. Menurut gw, mereka—walopun suka kepo—tapi menjunjung tinggi indirectness alias basa-basi, yang mana artinya kalo lw terlalu to-the-point, bisa terkesan kurang sopan. Sebenernya ini hampir mirip dengan suku Jawa yang juga indirect, cuma beda bahasa aja. Jadi kalo kalian udah terbiasa dengan basa-basi adat Jawa, kurang lebih mirip dan selain masalah bahasa, you’ll do well.

Nah yang susah adalah buat orang-orang yang besar tanpa kenal adat seperti gw. Bukannya berarti gw gak sopan ya, tapi perbedaan makna ‘sopan’ buat gw dan buat mereka. Susah buat gw membaca kode-kode yang mereka coba sampaikan. Karena, kalo ditawari sesuatu, mereka jawabnya langsung enggak, padahal mau. Tapi kalo gak jadi dikasih, besoknya disindir-sindir secara indirect. Nyindirnya pun, karena gak to the point, palingan gw baru sadar 1 bulan kemudian, itu pun karena ada yang ngasih tau. Jadi, sekarang gw pake rumus sendiri bahwa jawaban mereka yang sebenarnya adalah jawaban setelah ditanya tiga kali. Buat antisipasi dari merugikan diri gw dan mereka, jadi gw berterus terang aja menanyakan maksud yang sebenernya karena gw gak pandai kode-kodean, so if you don’t tell me directly what you really want, you will not get it from me. Dan gw juga meminta maaf sebelumnya karena gw kemungkinan besar gak ngerti maksud mereka apa, jadi kalo nanti gw salah melakukan, langsung dikoreksi aja.

  1. The Art of Mencemeeh

Yang kita tau, yang paling disukai orang Minang adalah sambal. Tapi bagi gw yang paling disukai orang Minang adalah sambal dan mencemeeh, alias mencemooh, kadang niatnya sih nge-jokes, kadang entah lah. Bahkan kata mencemooh itu sendiri dicemooh menjadi mencemeeh. Untuk menunjukkan kekaguman dan kasih sayang pun mereka seringnya dengan mencemeeh. Maksudnya mungkin pingin mendekatkan diri. Contoh yang paling gampangnya adalah how they do catcalling here. Gw anti banget sama catcalling walopun menggunakan adjective yang baik-baik sekali pun. Di Jawa, catcalling yang sering adalah “neng geulis” atau “cah ayu” yang artinya “gadis cantik” dan sebagainya. Di Sumbar they catcall you by the shape of your body or the color of your skin. Tadinya gw gak tau kenapa orang-orang pada bilang ‘lesuik’ ketika gw jalan, teryata ‘lesuik’ artinya kurus. What the F, are you bodyshaming me?? Rasanya pingin gw tampar pake barbell. Ketika manggil orang lain pun juga begitu, cewek-cewek lain yang badannya lebih berisi dipanggil “Puak” dari kata “Gapuak” yang artinya gendut. Coba aja bayangin ada orang yang gak lw kenal tiba-tiba manggil lw gendut seolah-olah lw adalah karung beras. Gw shocked pas baru pindah ke Sumbar menyaksikan ini, sehingga sering gw konfrontasi. “Kenapa panggil saya kurus?”, jawabnya “Adiak kan kurus mah.” I replied, “Kalo gitu saya panggil kamu ‘randah’, ya.”

“Ba a tu? Awak ndak pendek do”

“Iya, itu IQ kamu.”

Tapi lama kelamaan gw capek juga mengedukasi yang harus dimulai darimana, catcalling ato bodyshaming. Karena toh orang Minang sendiri sepertinya meng-embrace their hal itu, banyak yang menggunakan nama panggilan ‘lesuik’ atau ‘gapuak’ untuk dirinya sendiri. Ya sudah lah, toh merekanya juga gak sakit hati. Asal jangan ke gw aja. Tapi tetep aja gw gak tega gitu kalo liat anak-anak kecil yang dipanggil “Gapuak”, “Kaliang”, dll.

Hal yang paling berasa beda di Sumbar bagi gw adalah how they make jokes. Bagi gw jokes mereka offensive sedangkan bagi mereka jokes gw belagu. Seiring waktu, gw mengerti mana yang bagi mereka lucu dan gw bisa ngikutin (tapi gw gak akan ikut menertawakan beberapa hal seperti fisik, gender, etnis, dan agama). Saran gw, kalo lw baru pindah, in order to fit in, jangan nge-jokes dulu, watch how they joke first.

  1. ‘Kesatuan’

Kesatuan disini bukan bermakna ‘unity’, melainkan opposite dari ‘diversity’. Di Sumbar, suku yang dominan adalah Minang dan agama mayoritas adalah Islam. Dominan disini mencapai angka 90%. Hal yang terasa lucu bagi gw adalah ketika mereka mengatakan bahwa diri mereka berbeda dan gak mau disamakan, orang Bukittinggi anti disamakan sama orang Pariaman, dll yang seperti itu lah. Sedangkan di mata gw mereka semua sama, sama-sama Minang. Saking jarangnya suku lain, waktu gw sekolah dulu ada teman yang dipanggil dengan nama daerah, si Jawa. Satu sekolah memanggil dia ‘Jawa’. Sedangkan di Lampung, walopun ada suku yang dominan, tapi hampir semua suku ada, kalo semua dipanggil pake nama daerah, si Padang, Bengkulu, Kalimantan Tengah, duh, rasanya kayak ajang putri-putrian dong, ya!

‘Kesatuan’ disini suka bikin gw kangen dengan suasana multi etnis, kangen dengan makanan-makanan khas daerah lain. Kangen dengan logat berbicara yang berbeda-beda. Kangen berteman dengan teman-teman yang berbeda agama.

  1. ‘Kekeluargaan’

Bagi orang Minang, kekeluargaan adalah penting banget. Dan keluarga disini maksudnya bukan nuclear family tapi extended family seluas-luasnya. Waktu pertama kali pindah, gw kerjanya dikenalkan ke orang-orang yang katanya sodara. Lalu gw tanya, “How are we related?” ternyata gak jarang yang jawabannya adalah ‘saudara sekampung’. Ya gw ngakak dong, eehh… ternyata mereka serius, that term really exists! Orang Minang suka berkerabat dan menjalin tali silaturahmi, banyak sodara tanpa aliran darah dan tiba-tiba jadi sodara. Pikiran gw saat itu adalah, kalo ada yang namanya ‘sodara sekampung’ apa ada yang namanya ‘sodara se-kelurahan’, ‘sodara se-negara’, ‘sodara se-benua’, se-galaksi sekalian. Trus berapa banyak dong yang harus diundang kalo pesta? Sekampung? Buju buset, bisa abis tabungan orang tua gw buat ngasih makan orang sekampung tiap ada hajatan!

Begitu juga dalam menjalin hubungan dating ato marriage. Lw gak hanya cukup ngambil muka di depan orang tua ato adek/kakaknya, tapi lw juga harus ngambil hati om nya, tantenya, tantenya dari tantenya, dll lah. Tahap “dikenalin ke keluarga” bisa jadi artinya adalah lw dikenalin ke om-tantenya segala. I was like, “Really? Did they help to raise you like, say, financially?”. Jawabannya, “No, they didn’t. They’re my family.”

Gak cuma sampe tahap perkenalan, pengambilan keputusan pun ibarat pemilu. Kebanyakan orang Minang menimbang penilaian keluarga terhadap pasangannya, sekali lagi, keluarga disini bukan nuclear family. Kadang gw suka merasa lucu ketika ada teman yang harus putus dengan pacarnya karena tidak disukai keluarga. Waktu ditanya keluarga yang mana, jawabannya pamannya. Zonk! Lalu mulai lah mereka bercerita tentang adat. Lalu aku terlelap.

Moving to West Sumatra for Beginners – Tentang Bahasa

photo

Tulisan ini buat kalian yang akan atau baru aja pindah menetap sementara atau permanen ke provinsi Sumatera Barat berdasarkan pengalaman gw sendiri. Bisa jadi karena alasan ikut suami, kuliah, pindah kerja atau orang tua pindah, dll. Terutama kalau kalian sebelumnya tinggal di daerah lain yang menjadi pusat transmigrasi, seperti tempat gw dulu; Bandar Lampung. Walau pun sama-sama berada di Pulau Sumatera, tapi culture shocknya berasa banget!

Kalo bicara tentang Sumatra Barat, pasti yang dibilang alamnya indah, kota wisata, dll. Tapi informasi semacam itu cuma lo butuhin kalo lo mau jalan-jalan, sedangkan gak mungkin kan hidup lw jalan-jalan ke Jam Gadang mulu? What I write is something people don’t tell you about what it’s like living here, karena waktu gw pindah dulu, gak ada yang kasih tau gw tentang hal ini, akhirnya gw jadi clueless dari masalah bahasa, cara berpakaian, sampe cara becanda pun gw gak ngerti.

Karena ini topic yang luas, jadi gw akan bagi di beberapa post. Di postingan ini gw hanya akan khusus membahas tentang bahasa.

Sebelumnya, gw jelasin secara singkat dulu asal muasal gw. Mungkin ada kalian yang backgroundnya kurang lebih mirip sama gw. Kedua orang tua gw berasal dari Sumatera Barat, tapi mereka udah tinggal di rantau selama berpuluh-puluh tahun. Gw lahir di Lampung dan waktu umur 17 tahun gw pindah ke Sumatera Barat. Lima tahun gw tinggal di Sumatera Barat (SMA kelas 3 dan kuliah 4 tahun), terus gw ninggalin lagi selama 5 tahun, dan sekarang gw balik lagi karena adanya negosiasi dengan orang tua. Sebelum pindah di umur 17 tahun, gw jarang banget pulang ke Sumbar, palingan cuma lebaran, itu pun 3 tahun sekali. Dan walo pun orang tua gw berasal dari Sumbar, tapi gw dan kakak gw gak pernah diajarkan bahasa Minang kecuali “Ciek, duo, tigo”. Orang tua dan tante-om gw kebanyakan di rantau lain, jadi kami semua gak pernah berbahasa Minang. Singkatnya, keluarga gw dulu adalah “Minang KTP”, walopun di KTP gak disebutin juga sih suku mah… Walopun pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, bahasa Minang gw tetep broken Minang, hehe…

PENTING: Karena tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman gw sendiri, jadi potensi subjektivitasnya tinggi, bisa jadi orang lain gak merasakannya, jadi gak bisa dijadikan acuan ya… Gw hanya ingin berbagi pengalaman. Mohon bijak dan gak sensipe. If you’re easily offended, please close the tab immediately because I’m not gonna sugar-coat this, karena toh gw bukan duta pariwisata ini, it’s not my job. If you love yourself, you’ll criticize yourself to be better. If you love your people, you’ll do the same.

Bahasa

Yang paling kerasa banget adalah masalah bahasa. I grew up in place where we speak in Bahasa Indonesia instead of local language, secara Bandar Lampung adalah korban program transmigrasi jaman orde baru, jadi kalo semua pake bahasa daerah masing-masing, bisa berabe dong. Di Sumbar, they speak mostly in Minang language, even in English class! Terutama di luar Padang, ibukota Sumbar. Ada pandangan bahwa kalo ngomong pake bahasa Indonesia itu belagu, nah bayangin apa lagi kalo lo ngomong pake bahasa Inggris! **gw kuliah di Sastra Inggris UNAND, jadi gw tau pandangan mereka ke bahasa non-minang gimana, yang gw juga gak ngerti, if you hate English that much, why did you choose English Department? Kenapa gak milih Sastra Minang aja? Apalagi kalo kelasnya non-reguler, duh gak ngerti hamba!

Tapi teman-teman gw mengerti situasi gw, jadi kalo ngomong sama gw, mereka pake bahasa Minang yang di-Indonesia-kan, tapi kalo ke temen lain, mereka pake bahasa Minang.

Pertama-tama, gw sempet takjub dengan bahasa Minang dan pingin banget belajar. Tapi gw ini manusia loh, bukan Google Translate, jadi kan pasti butuh waktu dan proses.

Gak semua orang bakal mencoba mengerti ato mengajari lw. Waktu minggu pertama gw pindah ke Sumbar, di Payakumbuh, saat gw mencoba berbaur dalam pembicaraan, seorang teman bilang, “Citra, dima awak?”. Karena gw gak ngerti maksudnya, gw jawab, “Di Kelas.” Teman lainnya menimpali dalam bahasa Indonesia yang ke-Minang-minang-an yang artinya kurang lebih “Mana ada orang Minang yang gak bisa bahasa Minang, 100 tahun pun di rantau pasti tetap berbahasa Minang.” Zonk! Padahal kan yang tinggal di Lampung gw, bukan diye! Begitunya gw coba-coba pake bahasa Minang, dibilang gw sok imut, imutnya dari mana uni??? Pake bahasa Indonesia gw salah, bahasa Minang juga salah. Sampe-sampe gw dicarutin (meaning: bahasa kasar) di depan umum. Oh yeah, these people really know how to motivate others to learn the culture. Satu bulan kemudian gw demo minta pindah ke orang tua gw, I hoped Padang was better. It was, walopun gak totally toleran juga sih.

Walo pun lw bakal ketemu orang-orang yang akan mengerti situasi lw, bahasa Minang tetep penting untuk dipelajari juga, at least Minang for survival lah, contohnya buat nawar barang. Karena beda bahasa, beda harga, dan perbedaannya itu sungguh tega banget! Buktikan sendiri di Pasar Atas Bukittinggi, dari semua pasar di Sumbar yang pernah gw datengin, menurut gw itu pasar yang naro harganya paling bikin pingin ngeyek.

Masalah bahasa, ada juga pengalaman dari sodara gw yang waktu itu pindah sekolah dari Pekanbaru ke Payakumbuh, dia masih kelas 2 SMA saat itu dan dia lagi insecure masa pubertas gitu deh… terus dia curhat ke gw karena teman-temannya bilang kalo dia gak bisa bahasa Minang, dia gak bakal punya cowok, karena cowok-cowok gak suka cewek yang gak bisa bahasa Minang. Dia sedih banget sampe berkaca-kaca, membuat gw yang dicurhatin pingin ngakak tapi gak tega. Sebagai senior yang duluan pindah ke Sumbar, gw udah kenyang deh digituin juga mah, tapi gw telat puber, jadi gw gak merasa tertekan seperti dia. Waktu dikasih tau tentang hal serupa ke gw oleh seorang cowok Minang, dengan polosnya gw jawab, “Ya gak papa sih, namanya orang kan punya tipe, itu hak. Cihud juga gak mau kok sama cowok yang gak bisa bahasa Inggris.” Jawaban gw tersebut entah kenapa sukses membuat gw jadi public enemy. Padahal kan sama-sama mengeluarkan pendapat ya, cuma beda objek, tapi reaksinya kok berbeda. Emang nasib.

Dan walo pun bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa Minang, bukan berarti bahasa Indonesia dan bahasa asing jadi gak berguna. Mereka tetep berguna ketika lw lagi gak niat ngomong sama orang tapi lw lupa bawa headset. Untuk menghindari pembicaraan basa-basi yang lebih jauh, pakai lah bahasa Indonesia, ato Inggris kalo mau kode yang lebih keras. Sejauh ini sih berfungsi di gw. For them, responding in bahasa Indonesia all the time is such a turn-off. Yah toh kan gak semua orang penting diajak ngomong kan, apalagi kalo basa-basi nya terlalu menjurus ke urusan pribadi.

Walopun gw pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, tapi bahasa Minang gw masih aja kacau balau. Kalo untuk ngobrol pendek sih ok, tapi kalo udah ngobrol panjang ato adu argument, walopun gw ngerti sebagian besar maknanya, tapi belibet ngomongnya. Mungkin karena setelah meninggalkan Sumbar, gw gak pernah mempraktekkan lagi dan juga karena gw punya beberapa trauma masalah pembelajaran bahasa minang gw yang membuat gw ogah-ogahan.

Belajar itu kan masalah ketertarikan. Gw belajar bahasa Jepang otodidak dari buku dan internet lebih cepet dari pada gw belajar bahasa Minang yang sangat dekat dengan kehidupan gw saat itu.

Sebenernya, bukan bahasanya yang rumit. Justru bahasanya itu bagus, puitis dan romantis, banyak peribahasa yang dipake dalam bahasa sehari-hari. Yang gak mungkin banget gw temuin di Lampung, mana ada orang Lampung ngomong pake peribahasa segala. Justru gw excited banget di awal, sampe-sampe gw nyanyi lagu-lagu Minang terus buat belajar, dari ‘Kampuang nan Jauah di Mato’ sampai lagu Elly Kasim. Dan kemudian baru seminggu aja ternyata kenyataan gak seindah dan seramah ekspektasi gw. Yang bikin rumit itu adalah sikap dan pandangan yang buruk terhadap sesuatu yang berbeda, jadi mematahkan semangat gw banget. Gw sering dibandingkan dengan orang-orang yang orang tuanya keturunan non-Minang tapi dari lahirnya di Sumbar, “Masa mereka yang bukan orang Minang aja bisa sedangkan Cihud yang asli Payakumbuah gak bisa?”. Pertama, that’s not an apple-to-apple comparison dan kedua, kalo gw mau shallow juga, Hellooww… sampeyan juga kan orang asli Indonesia, masa gak bisa bahasa Indonesia?? **gw pernah ngomong hal ini ke orang yang jauh lebih tua dari gw, sehingga itu om jadi shocked dan bilang, “Ondeh, agak ba lain anak Ni Len mah…” Dan ketiga, buat gw pribadi, cuma karena seseorang terlahir sipit, kulit putih dan memilih agama berbeda, bukan berarti dia less than anybody else sehingga dikeluarkan. Kalo mereka berbicara dalam bahasa yang sama, sama-sama bayar pajak, sama-sama gotong royong bersihin kota, sama-sama cinta dengan daerah tsb, bedanya dimana?

Anyway, yang bisa dipetik dari pengalaman gw ini adalah bahwa kalo lw mau belajar bahasa Minang ato pun belajar apa pun, lw harus bisa mengontrol ketenangan pikiran lw dan kuat mental walo pun dikatain. Because you can’t really do much about how people will do to you, but you’re in control of how you react to it. Sikap gw yang menutup diri di 5 tahun yang lalu itu gak bagus banget. Karena apa jadinya nanti kalo gw tinggal di tempat lain atau luar negeri. I can speak English well tapi bukan berarti gw menguasai sense of English di setiap negara kan, terus apa jadinya kalo ada yang menghina bahasa Inggris gw dan gw sakit hati terus trauma?? Masa iya mau pulkam tanpa bawa ilmu? Ato hanya berbaur dengan sesama Indonesia aja padahal di luar negeri? Pengalaman gw di bahasa Minang ini membuat gw mengerti kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tapi pas pulang tetep gak bisa bahasa Inggris.

Jadi, sekarang gw lebih open minded dan kuat mental, kalo ketemu orang yang sifatnya tertutup, bukan berarti semua orang Minang seperti itu. Dan gw gak harus ikutan tertutup juga. Ya tinggal tinggalin aja dan cari temen yang lain. Dengan begitu lw bisa liat kalo sebenernya there’s a beauty in this culture.