Wanita dalam Perlombaan

I am so amazed and thankful for the existence of internet and social media, tanpa mereka gw gak akan bisa hidup sebebas ini, gw berani memilih ngejalanin apa yang gw lakuin sekarang karena gw yakin gw beruntung hidup di zaman yang tepat. Zaman dimana orang bisa sukses tanpa harus merelakan tidak menjadi diri mereka sendiri. Namun demikian gw kadang rindu zaman sebelum adanya social media, waktu dimana kita gak perlu berlomba-lomba mengukuhkan eksistensi diri, berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih bahagia, sukses, bahkan tingkat iman pun diperlombakan. Waktu dimana kita melakukan sesuatu karena rasa suka, bukan karena ajang di panggung yang semu.

Dari pandangan gw sendiri sebagai pengamat (dan mungkin tanpa sadar pernah menjadi peserta), wanita adalah yang lebih sering ikut perlombaan fana ini. Emang udah fakta umum sepertinya kalo wanita memang jiwa kompetitif dan insekuritasnya lebih mudah diombang-ambingkan daripada pria. Atau mungkin pria lebih jago menyembunyikan insecurities mereka ketimbang kita.

Memang sulit jadi wanita, kita selalu hidup berkompetisi. Kalo kata Oscar Wilde, “Women don’t dress up to impress men, women dress up to annoy other women.” Sadly true. Di umur yang sudah sedikit melebihi seperempat abad ini, gw udah melihat dan menjadi bagian dalam kompetisi wanita ini, kompetisi yang gak jelas judulnya apa, namun intinya, dalam kompetisi ini kita harus menunjukkan dan kadang menjatuhkan wanita lain untuk meraih gelar ‘Gw lah yang paling wanita sejati!’. Di tiap jenjang umur pun, kategori yang diperlombakan berbeda-beda, namun piala akhir tetap sama, yaitu gelar ‘wanita sejati’. Dengan adanya sosial media, kompetisi ini semakin sengit dan jelas terpampang.

Gw sudah melewati umur dimana kriteria ‘wanita sejati’ ditentukan oleh bentuk fisik. Kulit warna ini lebih baik dari warna ini, tinggi badan segini lebih baik daripada yang itu, lingkar badan, jenis rambut, cara berpakaian, dan lain-lain. Hal ini paling kenceng terjadi di usia belasan tahun, biasanya diiringi dengan kompetisi ‘siapa yang punya kawan paling banyak dan nge-hits abis’. Kalo kemana-mana bareng orang se-genk udah kayak mau kampanye. Tinggal bikin yel-yel aja lagi.

Ketika udah bertambah umur, level kompetisi semakin sulit karena berhubungan dengan pernikahan. Dimulai dari umur 23 tahun, foto tunangan, prewedding, undangan, pernikahan dan honeymoon semakin bertebaran. Hal ini tergantung di kota mana kamu tinggal atau kuliah dulu, kalo di kota besar mungkin agak relaxed. Fisik bukan lagi masalah yang penting, yang penting di level ini adalah status. Buat apa cantik kalo nikahnya belakangan, begitu lah kira-kira stereotypenya. Di umur ini banyak banget jiwa-jiwa insecure bermunculan, kode minta diajak nikah berserakan. Apalagi bagi yang belum mendapatkan pengalaman kerja atau gak puas dengan pekerjaannya, fikirannya pingin nikah aja, seolah-olah nikah adalah solusi wahid bagi semua masalah. Kalo masih jomblo atau galau tanpa kejelasan hubungan di umur ini, bertahan lah. Nanti juga momen ini berlalu di umur 25 tahun.

Gw ngerasain dan ngeliat dengan jelas gimana kompetisi di umur ini terjadi. Banyak yang promosi diri sebagai wife material nomero uno, hobby dan cara berpakaian pun  pun langsung berubah drastis, caption yang elegan jangan sampe ketinggalan, walau pun hasil copas. Ada kenalan yang tiba-tiba rajin posting hal-hal berbau agama, cara berpakaiannya berubah drastis. Ternyata lagi ngincer ustadz, walau pun ustadz-ustadzan. Kalo udah putus, ganti lagi, kode lagi. Pengambilan keputusan dengan cepat, banyak yang nikah dengan memaksakan hubungan yang sebenernya gak bisa lagi (ujung-ujung pas nikah langsung cerai atau diselingkuhin), kadang alasannya se-sepele hanya ingin pamer foto prewedding atau foto bareng suami di sosial media. Sosial media membuat seolah-olah nikah itu masalah gampang, yang penting bisa bikin caption #withhubby, adu du du duh…

Dengan adanya sosmed, persaingan di fase ini makin berat, karena adanya banyak aspek. Dari ada dan ketidak-adaan pasangan sampai acara resepsi. Harus ada foto bridal shower dengan girls squad-nya, belum lagi prewedding, foto aja gak cukup, harus pake video juga biar oke dan geger seantero Instagram. Undangan juga harus kece, baju bridesmaid jangan sampe malu-maluin. Di umur ini, umur baru mulai kerja dan berpenghasilan, tapi persahabatan diuji karena banyaknya ‘biaya persahabatan’ yang harus dijaga, dari persiapan bridal shower, jahit baju bridesmaid, sokongan kado, tiket pesawat, akomodasi, makeup artist, dan entrebe-entrebe lainnya. Semuanya demi apa? Demi menang lomba!

Lalu apakah kompetisi ini berhenti setelah menikah? Kagak, welcome to the next level. Level dimana suami aja gak cukup, harus punya anak juga untuk pembuktian betapa wanita sejatinya kita ini. Bagi yang telah melewati fase sebelumnya dengan status ‘masih single’, ini adalah momen dimana kalian bakal jadi penonton para istri-istri baru berkompetisi di level ‘siapa yang hamil duluan’. Sumpah ini konyol banget, seolah-olah membuktikan uterus siapa yang paling unggul. Saking konyolnya, bagi yang masih single bakal sering ditanyain sama teman lain yang sudah menikah apakah teman dekat kita yang juga baru menikah sudah hamil atau belum, kenapa gak tanya langsung sama orangnya aja yak? Gw kan bukan suaminya, gak pergi control ke dokter bareng gw juga. Kalo di fase sebelumnya bertebaran foto dengan pasangan dari engagement sampai honeymoon, di fase ini foto yang bertebaran adalah foto hasil test pack atau hasil USG. Langsung deh posting-posting tentang anak, menjadi orang tua, dan bahagianya menjadi istri. Gw ikut seneng kalo liat temen-temen gw bahagia, tapi ketika masalah punya anak dijadikan bahan perlombaan, aku hanya bisa facepalm.

Di fase ini adalah dimana tidak sedikit kenalan-kenalan yang sudah menikah tadi jadi sensitif berkelebihan masalah belom punya anak, terlebih kalo ditanya sudah berapa lama menikah. Gemes rasanya kalo liat perempuan yang sedih, kesepian dan merasa gak sempurna karena belum punya anak biologis. Hellow… lady, you’re still a woman!

Wanita-wanita yang udah menikah dan punya anak juga punya kompetisi lain sesama mereka, salah satu contohnya siapa yang bisa tetap menjaga penampilan, langsing dan menawan walau pun sudah launching produk. Hal ini memberikan pressure kepada mamah muda yang gak bisa back to normal pasca melahirkan seperti artis-artis di media, gak semua orang punya genetik dan kondisi fisik yang sama. Ada yang jadi udah males foto selfie lagi karena ngerasa udah gak cantik lagi, jauh benar kalo dibanding waktu single dulu yang tiap menit upload foto narsis muka close-up melulu, sampe ada yang udah bedah plastik untuk mengecilkan segala bagian yang membesar, dari bentuk hidung, pipi, perut, dan lain-lain.

Setelah lewat umur 27 tahun, para kontestan yang gagal nikah di umur 23-25 tahun tadi ternyata sudah banyak yang telah berubah, mereka bebas melalang buana menghabiskan duitnya untuk dirinya sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain, banyak juga yang karirnya menanjak atau telah menemukan passionnya. Tanpa disadari mungkin mereka melakukan pembenaran, ‘syukurlah gw belum nikah, daripada udah nikah hidupnya cuma gitu-gitu aja.’ Di lain sisi, pihak yang sudah berlabel istri gak mau kalah, seolah-olah gak ada posisi yang lebih indah dan terhormat selain menjadi istri, apalagi kalo udah jadi istri, bisa juga jadi ibu biologis, sudah lah jannah di tangan.

Namun para ibu-ibu yang udah punya anak pun juga bersaing dengan sesama emak-emak perihal siapa yang jadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Siapa yang mengasuh anaknya sendiri dengan siapa yang memperkerjakan baby sitter. Siapa yang hanya bergantung dari dompet suami dengan siapa yang punya penghasilan tambahan atau ikut membantu keuangan keluarga.

Ya ampun, baru 27 tahun gw hidup di bumi tapi udah banyak banget segala kompetisi yang gak jelasnya hadiahnya apa. Membuat gw jadi bertanya-tanya setelah umur ini, levelnya apa lagi? Kadang gw heran sama yang rela mati-matian transgender buat jadi wanita, persaingan di dunia wanita keras lho, bro! Kalo sekarang anak mereka masih sama-sama kecil, masih belum punya pendapat yang permanent. Gimana nanti kalo anak-anaknya udah pada remaja atau lulus kuliah, apakah kita harus bersaing siapa yang anaknya paling banyak prestasi akademik? Masuk sekolah mana, pilih jurusan apa, nikah ama siapa dan umur berapa, dan pilihan-pilihan lainnya yang menentukan prestasi seorang wanita menjadi seorang ibu. Bukannya hal itu terlalu selfish, hanya untuk pembuktian diri sendiri kita harus mengorbankan orang lain. Orang tua yang hasilnya memaksakan kehendak kepada anaknya mungkin adalah orang tua yang belum lepas dari bayang-bayang perlombaan.

Kenapa dan kenapa kita gak bisa berbahagia saja atas pilihan kita DAN pilihan orang lain, berbahagia atas apa yang terjadi di diri kita DAN di orang lain. Tanpa harus membandingkan siapa yang lebih bahagia, sukses atau lebih wanita sejati. Karena selama kita masih sering membandingkan, gak ada yang sebenarnya menjadi pemenang.

Hanya karena kamu sudah menikah, bukan berarti yang masih single hidupnya merana dan kesepian. Hanya karena kamu belum menikah, bukan berarti yang sudah menikah hidupnya tidak bahagia dan terkekang. Hanya karena kamu sudah punya anak, bukan berarti mereka yang belum adalah wanita gagal. Hanya karena kamu belum punya anak, bukan berarti mereka yang sudah punya anak hidupnya terbatas. Kalau kamu memilih menjadi wanita karir, bukan berarti mereka yang menjadi ibu rumah tangga adalah lemah. Kalau kamu memilih jadi ibu rumah tangga, bukan berarti mereka yang bekerja adalah durhaka.

Siapa lah kita untuk punya wewenang mendefinisikan standar kebahagiaan orang lain. Terlebih lagi masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang di luar kontrol diri kita, bukan kita yang mengatur. Setiap orang punya jam yang berbeda-beda, adzan shalat aja beda RT beda waktu, bisa gak barengan, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang. Perempuan sesama perempuan sebaiknya sama-sama mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain agar terlihat lebih sempurna. Tentang apa yang terjadi di masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain kita hanya punya dua pilihan; either berbahagia dan iklas atau berburuk hati dan prasangka. Pilihan pertama tidak memakan biaya sedangkan pilihan yang kedua menghabiskan budget, tenaga dan waktu.  Rempong, ciiinnn…

 

Advertisements

Feb’s Faves: Skincare Drugstore & Organic Murah

cIMG_2037

Semenjak di Bali kemaren, hasrat belanja skincare organic dan drugstore gw terpenuhi karena banyak pilihan tersedia, gak seperti di Sumatra Barat atau Lampung dulu. Yang pasti gw selalu mengincar yang se-natural mungkin dan anti beli yang mahal, dulu gw udah pernah coba produk-produk dari yang mahal sampe yang murah gak jelas karena cuma jadi korban marketing. Dengan pengetahuan yang udah lebih mumpuni, udah fixed deh yang natural memang lebih baik dan cantik–walau pun harus bermodal–gak mesti mahal. Beberapa produk ini udah gw pake selama 2-3 bulanan, so here’s why I like them:

  1. Energizing Day Cream by Himalaya

IMG_2046

Gw emang udah lama banget nyari day cream yang cocok, selama ini pake produk dari Acnes dan BioDerma tapi ngerasa kurang greget karena gak mengandung pelindung dari sinar UV, terlalu ringan untuk di umur aku yang telah meninggalkan usia belia ini, haha… Pertama kali beli agak ragu karena harganya agak mahal juga sih dan packagingnya gak travel friendly, tapi setelah dipakai hasilnya lumayan oke, creamnya cepat meresap dan menahan minyak lebih lama dibanding dua merk sebelumnya.

2. Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Gw udah ngefans banget lah ya sama brand ini, khusus untuk body butternya gw udah pernah review di postingan sebelumnya, bisa dicheck disini.

3. Face Serum Mineral Botanica

IMG_2043

Face serum ini ternyata penting banget agar manfaat cream-cream setelahnya terserap dengan baik dan lebih maksimal. Sebelumnya gw pake pre-serum dari The Body Shop dari rangkaian Drops of Youth dan gw udah menggunakan itu bertahun-tahun, tapi hanya dipake untuk ritual malam aja, karena mahal ciiinn… jadi pemakaiannya diutamakan di malam hari aja, nasib miskin memang begini lah.. haha. Terus ketemu dengan face serum dari Mineral Botanica ini, ada dua varian face serum; acne untuk wajah berjerawat dan brightening yang fungsinya untuk mencerahkan dan anti-aging. Jangan tertipu dengan kata brightening-nya dan berharap kulit bisa jadi putih, karena sebenarnya yang dimaksud adalah membuat kulit lebih fresh dan lebih kencang.

4. Castor Oil Utama Spice

IMG_2040

As you may know, gw penggemar body oil, dari VCO, olive oil, rose hip oil, dll. Utama Spice yang produk-produknya banyak menggunakan bahan minyak alami adalah salah satu incaran gw. Salah satunya adalah castor oil yang baru gw coba dan baru pertama kali denger tentang castor oil. Castor Oil berasal dari tanaman Riccinus Communis ini memiliki keistimewaan di antaranya:

  • Mengangkat kotoran sisa make-up (bahkan yang waterproof)
  • Low comodogenicity, artinya tidak beresiko menimbulkan komedo/ jerawat
  • Baik untuk rambut dan kulit kepala yang kering
  • Dapat digunakan sebagai pelarut maskara yang kering

5. Baby Skin Pore Eraser by Maybelline

IMG_2045

Cocok untuk bagian hidung yang lebih mudah oil, sebelumnya gw pernah pake Wonderblur dari The Body Shop, tapi mehong bo’… Ternyata produk dari Maybelline ini gak jauh beda kualitasnya, bikin bagian hidung jadi smooth banget dan oil control lebih lama dibanding hanya dengan menggunakan moisturizer aja. Pore erasernya ini diambilnya sedikit aja dan dioleskan hanya dibagian yang pori-porinya lebih terbuka.

6. Micellar Cleansing Water by Garnier

IMG_2041

Micellar water udah booming banget semenjak diperkenalkan oleh Bio Derma yang harganya mahal banget. Emang bener sih, micellar water ini emang terobosan baru yang lebih mengangkat kotoran muka bahkan setelah cuci muka. Namun setelah menghabiskan tiga botol micellar water dari Bio Derma yang tidak ramah di kantong, gw mulai mencari alternatif baru yang lebih murah dan mudah didapatkan di Sumatra Barat, dan pilihan jatoh ke brand Garnier. Awalnya deg-degan takut gak cocok, ternyata kualitasnya gak jauh beda kok, emang sih pake yang BioDerma wanginya lebih harum dan rasanya lebih fresh, tapi untuk masalah pengangkatan kotoran, hasilnya sama kok.

7. Purifying Neem Mask by Himalaya Herbals

IMG_2039

Menurut aku ada dua brand yang bisa jadi alternatif varian Tea Tree dari TBS, yaitu Acnes dan Himalaya. Neem mask ini tekstur dan hasilnya mirip dengan charcoal mask TBS, tapi wanginya lebih nyengat. Aku tadinya sering pake clay mask dari Utama Spice, tapi rempong juga kalo harus diracik dulu, jadilah pilih Neem Mask ini yang bentuknya tube, praktis digunakan, murah, banyak, dan ampuh buat jerawat!

8. Hair Oil by Botaneco Garden

IMG_2042

Berhubung gw gak bisa hidup tanpa hair dryer dan catokan, jadi berbagai vitamin rambut is a must untuk menjaga ujung rambut dan kehitamannya. Kalo menggunkan VCO atau olive oil, rambut jadi berminyak dan lepek, sedangkan kalo pake hair oil dari Botaneco Garden ini membuat rambut lebih berkilau tanpa rasa lepek, wanginya juga harum, botolnya aman dari tumpah. Gw sih lebih suka ini daripada hair oil dari L’Oreal.

#BeautyReview: Body Butter by Utama Spice

cIMG_2034

Beauty brand yang paling sering gw review di blog gw adalah Utama Spice karena I’ve fallen in love with this organic skincare brand! Well, I’m into organic skincare only, gak nafsu deh kalo ngeliat brand-brand lain yang lebih mahal dan lagi hebring, karena menurut gw, untuk apa buang duit mahal-mahal kalo cuma untuk barang-barang kimiawi yang gak natural, belum tentu baik, dan apalagi kalo pake animal testing segala. Yang bikin gw tambah cinta dengan Utama Spice ini adalah karena ini brand Indonesia, made in Bali!

Dulu gw adalah customer The Body Shop, namun sekarang udah selingkuh, hehe. Hanya produk Drops of Youth yang masih gw pake, selebihnya, terutama untuk produk yang berbasis oil, sudah digantikan dengan Utama Spice. Selain karena rasa nasionalisme yang tinggi, harganya jauh lebih murah, kandungan alaminya pun lebih banyak. Difikir-fikir, untuk apa menghabiskan duit untuk produk organic yang diimpor dari negara lain padahal negeri sendiri sangat-sangat kaya raw materials.

Menambah list panjang koleksi Utama Spice gw adalah body butternya yang menjadi salah satu my current faves di semester pertama tahun 2018 ini. Body butter dari Utama Spice saat ini ada lima varian; Rose Allure, Lavender, Tropical Flower, Lemongrass Ginger, dan Cocoa Love. Masing-masing varian memiliki campuran oil yang berbeda-beda yang menentukan wanginya. Terdapat dua size kemasan, yang kecil ukuran 30 gr dengan harga Rp 26.000 dan yang besar ukuran 100 ml dengan harga Rp 83.000. Kecuali untuk varian Cocoa Love, ya… Harganya dua kali lipat lebih mahal, mungkin karena bahan dasarnya Cocoa Seed Butter yang lebih mahal.

Pertama kali coba testernya di store Utama Spice di Ubud, well teksturnya beda banget dengan body butter yang banyak di pasaran Indonesia. Kalo body butter lain umumnya teksturnya lotion yang lengket, body butter Utama spice lebih mirip butter dan berkesan oily, ya karena bahan utamanya memang minyak, yaitu Virgin Coconut Oil yang sangat baik untuk kulit. Awalnya ngerasa aneh emang, takutnya lengket-lengket gitu, namun ternyata enggak banget! Minyaknya langsung lumer di kulit dan membuat kulit coklat gw terlihat mengkilap seperti abis pake tanning oil namun tanpa rasa lengket! Namun baunya gak selembut produk lain seperti TBS, makanya aku cuma beli yang Rose Allure dan Tropical Flower yang menurut aku wanginya gak terlalu strong.

Berbeda dengan varian yang lain, Cocoa Love teksturnya sangat-sangat padat seperti balm. Wanginya harum coklat banget sehingga biking ngidam Silverqueen setiap kali dibuka, hehe. Karena soliditynya, gw pun makenya harus mengikis pake kuku bagian luar dulu baru dioleskan ke tubuh. Hasilnya di kulit gak nampak kilau minyak seperti yang lain, namun wanginya tahan lama dan bikin kulit lembut. Tapi aku mensejajarkan Cocoa Love ini dengan Petroleum Jelly, Lucas Papaw dan kawan-kawan yang lebih sering digunakan untuk kulit-kulit kasar seperti di siku, telapak kaki, lutut, dll. Kenapa? Karena harganya mahal, hehe.. padahal enak banget kalo kulit jadi wangi-wangi coklat gitu.

Untuk harga segitu, mungkin banyak yang merasa ukurannya terlalu mini. Namun sebenarnya kalo kamu memakainya dengan cara yang benar, akan bertahan lama. Karena kita gak perlu make banyak-banyak seperti body lotion, cukup tipis-tipis aja saat dibalur akan merata ke bagian yang lain. Buat aku yang rajin menggunakan body butter setiap hari saja, yang ukuran 30gr itu bisa bertahan untuk 2-3 minggu. Oia, body butter ini juga dibundle menjadi gift set yang lucu banget dengan tin can khas Bali, cocok buat jadi oleh-oleh dari Bali! Pemesanan produk bisa langsung di situs resmi Utama Spice atau lewat IG mereka.

Review produk Utama Spice yang lain di blog aku:

#BaliDiary: Gak Enaknya Tinggal di Bali

I LOVE BALI SO MUCH…

Satu-satunya daerah di Indonesia yang gw bikin gw jatuh cinta pertama kali adalah Bali. Sebelumnya gw udah pernah buat tulisan kenapa tinggal di Bali itu enak. Tapi gimana pun juga, semua hal ada plus dan minusnya. Tulisan kali ini membahas kurang enaknya tinggal di Bali, bagi gw hal-hal berikut ini hanya hal minor, gak sebanding dengan plus pointsnya. Anyway, hopefully ini bisa jadi informasi dan bahan pertimbangan buat kamu-kamu yang niat pindah ke Bali temporarily or permanently 😀

  • Bali = Banyak Libur

Bali bisa jadi singkatan dari “Banyak Libur”. Hari libur di Bali bisa dua-tiga kali lipat libur nasional. Orang Bali yang masih menjaga tradisi memang hobby banget bikin perayaan dan upacara. Jadi di Bali berlaku kalender libur lokal. Eits, mungkin bagi beberapa, banyak yang malah seneng ya kalo banyak liburnya! Ya mungkin aja, kalo kamu bekerja sebagai PNS atau kantoran. Tapi bagi kamu yang menjalankan usaha sendiri, jadi repot deh kalo toko-toko pada tutup dan para pekerja kamu pada cuti libur, deadline jadi ngaret karena libur. Makanya sekarang banyak usaha di Bali yang memvariasi karyawannya dengan agama dan asal dari daerah lain biar bisa tetep jalan di hari libur lokal.

  • Penutupan Jalan yang Bikin Macet

Masih berkaitan dengan poin pertama, kadang-kadang upacara keagamaan seperti ngaben, bisa memakan jalan sepenuhnya dan berakibat penutupan jalan. Alhasil jadi macet di jalan alternatif. Tapi ya maklum lah ya namanya juga Indonesia, hampir di semua daerah di negara ini adalah hal lumrah yang namanya ‘makan’ jalan umum buat acara hajatan. Bedanya, kalo di Bali, bisa nutup sepanjang jalan, bukan cuma gang depan rumah aja. Hehe… Repot dah kalo lagi buru-buru naik taxi online, mana jalan di Bali pada kecil-kecil –..–“

  • Balinese are (too) slow and relaxed

Waktu gw di Lampung dulu, orang-orang Bali terkenal dengan keuletan dan kerajinannya, makanya banyak orang Bali yang sukses di Lampung. Ternyata Balinese yang tinggal di Bali jauh berbeda. Yah sama lah ya, orang Minang di perantauan dengan orang Minang yang belum pernah merantau juga kan beda. Mungkin ini efek tinggal di daerah yang terlalu nyaman, alhasil gaya hidup mereka terlalu nyantai alias gak ‘ngoyo’. Secara background gw Sumatra, jadi kerasa banget. Salah satu kelebihan di SumBar adalah orangnya cepat tanggap, contoh kecilnya aja kalo di tempat makan. Kalo di SumBar, mayoritas pelayanannya cepat tanggap. Tapi di Bali, sloooowww banget, gw keburu starving! Huhu… Ternyata bukan cuma gw aja yang merasakan ini, temen-temen bule gw juga merasakan hal yang sama! Di pekerjaan yang lainnya juga begitu, hal ini jadi berdampak ke beberapa industri di Bali yang akhirnya kalah bersaing dengan negara lain. Salah satu contohnya adalah usaha garmen. Pernah ada masa dimana industri garmen di Bali laris manis, namun sekarang investor-investor asing banyak yang sudah berpindah ke Filipina dan China, seperti yang pernah gw dengar dari podcast tentang seorang fashion designer yang pernah mencoba produksinya di Bali. Kebanyakan businessmen garment yang bertahan di Bali adalah new businessmen atau mereka yang tulus cinta kepada Bali dan memilih membantu kehidupan di Bali.

  • Misinterpretasi cueknya orang Bali

Salah satu yang bikin betah tinggal di Bali adalah karena orang-orangnya yang tidak ngurusin urusan orang atau pun memaksakan sesuatu ke orang lain. Namun, karena terlampau cuek, orang Bali bisa disalahartikan sebagai tidak ramah. Apalagi kalo kamu berasal dari daerah dengan tingkat basa-basi tinggi seperti Sumatra Barat dan Jawa. Gw pertama kali dateng agak shocked, kenapa ya ni orang-orang kok sensitif ke gw, apa ada yang salah dengan muka gw yang membuat mereka jadi bad mood. Ternyata memang orang Bali begitu, kurang berbasa-basi. Kalo ada temen-temen gw dari Sumatra yang datang berkunjung, mereka juga merasa begitu dan gw harus menjelaskan bahwa sebenernya mereka gak berniat seperti itu. Yah begitulah, di Sumatra kebanyakan basa-basi alhasil kepo. Di Bali terlalu cuek, jadi gak ramah. Haha, serba salah ya!

  • Susah Cari Parkiran

Jalanan di Bali itu kecil-kecil. Mungkin karena berasal dari desa-desa kecil dan gak menyangka kalo Bali bakal berkembang seperti ini, jadi infrastrukturnya masih skala desa. Menurut aku, tempat paling mudah di Bali untuk cari parkiran cuma di Denpasar yang merupakan kota tuanya Bali, karena Denpasar dari dulu sudah dirancang sebagai daerah pemerintahan (that’s why Denpasar is the most borrriiing part of Bali for me, but I lived there, hiks!). Contohnya jalan-jalan di Ubud dan Kuta yang sempit-sempit banget, toko-toko gak punya parkiran, satu parkiran untuk semua. Jadi kita harus jalan kaki ke tempat yang dituju. Walau pun enak juga sih jalan kaki di Bali, cuci mata liat toko-toko yang unik-unik, tapi kalo lagi buru-buru kan susyeeh jugaa…

  • Kurangnya variasi jenis pekerjaan

Hal ini gak berlaku bagi gw sih, karena di Bali sebenernya cocok dengan gw dari semua aspek, berhubung gw juga enterpreneur. Namun hal ini pastinya berbeda dengan kalian yang sudah terbiasa dengan dunia korporasi. Bidang yang paling berkembang di Bali adalah pariwisata, jadi kebanyakan lapangan pekerjaan yang tersedia adalah yang berhubungan dengan pariwisata dan lifestyle. Katanya sih, kalo kamu bisa berbahasa Inggris, sangat mudah untuk mendapatkan pekerjaan di Bali. Tapi ya gitu deh, otomatis range jenjang karir tidak seluas di kota-kota besar seperti Jakarta. Bali cocok banget bagi orang-orang yang bekerja remotely (digital nomad), tapi buat orang-orang yang kerjanya bergantung dengan lokasi dan korporasi, agak susah sih untuk pindah ke Bali.

  • Almost Everything is Imported

Bisa dibilang, ‘nyawa’ Bali terletak di bidang pariwisata. Bali bukan daerah penghasil sumber daya alam, hanya bergantung pada pariwisata. Walaupun masyarakatnya masih banyak yang bertani dan pergi ke sawah, tapi itu lebih kepada tradisi dan kebiasaan (kerjanya sih di sawah, padahal income-nya dari villa, hehe), namun hanya cukup untuk kebutuhan sendiri, gak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata di Bali. Kebutuhan makanan (dari bawang, cabe dll) dikirim dari Jawa atau Lombok. Kain Bali pun bukan dari Bali, tapi dari Jawa. Tas rotan yang lagi ngehits banget dan disebut Tas Bali, sebenarnya dari Lombok dan dijual murah banget di Lombok, sekitar Rp 100.000, namun di Bali harganya udah naik starts from Rp 200.000 sampe Rp 700.000! Tapi tetep aja banyak yang beli! Haha.

  • Terlalu nyaman

Nah, lho! Kok bisa terlalu nyaman malah jadi gak enak?? Well, di satu sisi kita penting juga untuk menghadapi ketidaknyamanan kalo kita mau berkembang. Apalagi kalo kita disekeliling Balinese yang slow and relaxed. Akhirnya gw lebih sering bergaul dengan bulenya di Bali biar jiwa kompetitif gw tetep hidup. Terus, di Bali gak ada demo, gak ada spanduk-spanduk hate-speech atau provokasi. Jadi gak kerasa kalo negara kita ini politiknya lagi kacau balau. Di satu sisi bagus sih, bikin kepala dan hati tenang. Tapi buruk juga kalo kita jadi gak mawas diri bahwa hal negatif tersebut ada.

  • Second-Class Citizen

Kalo di postingan yang sebelumnya gw mensyukuri karena sering dapet diskon KTP, kali ini gw bahas kejadian yang bertentangan dimana WNI diperlakukan lebih rendah ketimbang WNA, dan mirisnya lagi perlakuan diskriminatif tersebut malah dilakukan oleh sesama WNI sendiri! Gak semua sih seperti ini, hanya sebagian kecil, tapi sangat menyebalkan kalo melihat ‘saudara’ sendiri malah mendewakan bule. Biasanya terjadi di tempat hiburan seperti cafe dan clubs. Mereka memprioritaskan tamu bule untuk memenuhi tempatnya agar terlihat lebih eksklusif, padahal kan harga makanan yang dibayar juga sama aja! Contohnya aja di sebuah club malam yang lagi hits banget saat ini, yaitu La Favela. Gw udah kecewa banget sama club satu ini, udah banyak review buruk di internet juga buat tempat satu ini yang mana hanya memberikan free entry ke tamu bule. Karena disangka bule (entah darimana sih gw ini bulenya… –..–“) awalnya gw disambut baik, tapi pas gw udah ngomong bahasa Indonesia, langsung disuruh memperlihatkan KTP dan no free entry, pake waiting list lagi, katanya lagi full. Begitunya ada tamu bule, langsung diperbolehkan masuk. WTF banget kan, no more waiting, langsung aja gw cabs! Langsung deh gw udah black list semua tempat yang masih satu group sama La Favela ini, termasuk yang di Canggu, La Brisa, udah ilfeel duluan gw untuk berkunjung kesana.

  • Bersaing Lapangan Pekerjaan dengan Bule

Ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan lw untuk bersaing dengan bule dan pasarnya sendiri lebih memilih yang bule ketimbang orang lokal. Salah satu contohnya adalah pekerjaan sebagai guru yoga dan instruktur surfing, secara gitu gaji dua pekerjaan ini sangatlah menggiurkan. Bali kan terkenal banget sebagai mecca nya yoga setelah India, sehingga yoga di Bali diperlakukan sebagai komoditas untuk dijual ke turis-turis, baik turis domestik mau pun internasional. Sedih juga kalo liat turis domestik sendiri lebih prefer sama pengajar bule dan memandang sebelah mata kualitas bangsa sendiri. Well, pengalaman gw yoga di Bali, kalo dibilang masalah bahasa, Bahasa Inggris para pengajar yoga WNI yang gw temuin udah super duper banget! Malah yang pengajar bule dari negara-negara seperti Perancis dan Rusia lah yang kacau balau yang merusak konsentrasi gw. Pengajar Indonesia juga gak kalah kompeten kok! Gw pernah bayar mahal sama pengajar bule di salah satu tempat yoga yang tenar, namun kecewa banget karena ternyata cuma dapet fotokopian kertas berisi lima kalimat. Usut punya usut, banyak kejadian di Bali dimana para bule-bule ini bekerja tanpa KITAS atau pun visa kerja. Mereka orang-orang yang baru lulus teacher training (yang mana juga digalang tiap kali owner yoga studionya lagi butuh duit) sehingga penghasilan mereka itu gak dipotong dengan pajak. Sedangkan para guru yoga WNI harus bayar sertifikasi yang mahal dan pajak penghasilan. Sedihnya lagi, hal ini terjadi juga karena adanya korupsi di level pemerintahan. Awal-awal dulu gw juga tergiur dengan this so-called bule charm, namun setelah tahu hal ini (gw dapet bocoran dari tenaker lokal dan orang dekat para businessmen bule ini), gw lebih baik bayar mahal tapi masuk ke saku orang Indonesia sendiri daripada bayar lebih murah di tempat yang gak mematuhi peraturan negara gw.

***

However, I still love Bali and Bali is still the best for me! I will leave Bali soon, but I leave to come back. Bali, I will come back for sure!

Finecolour: Twin Marker Pemula Alternatif Copic

IMG_1554

Semenjak beli twin marker merk TouchFive di akhir tahun 2017 yang lalu (baca reviewnya disini–Red), gw sudah lebih sering menggambar menggunakan spidol dibanding alat pewarna yang lain, berhubung juga karena tuntuan pekerjaan (*duilee…).

Walopun suka seni, tapi kemampuan gw hanya a lil’ bit of everything, termasuk menggambar, jadi gw termasuk level pemula lah ya… Untuk orang-orang seperti gw, yang pemula atau keterbatasan dana, lebih baik mencoba dengan alat gambar yang gak mahal-mahal dulu, makanya kemaren gw memutuskan untuk beli twin marker merk TouchFive yang harga set 60 warnanya masih terjangkau sama gw, itu pun gw beli secondhand udh sama buku gambar Canson dengan hanya Rp 400.000.

IMG_1559

Namun akhirnya gw tergiur dengan merk Finecolor karena color rangenya yang lebih banyak, dan blending warnanya lebih smooth daripada merk TouchFive walau pun keduanya berasal dari negara yang sama alias Cina (yaiyalah ya, wong beda harga). Sama seperti TouchFive, Finecolor adalah alcohol-based marker yang lebih murah daripada Copic –>> twin marker kasta bangsawan, per piece nya harga Rp 45.000! Selain harga, perbedaanya dengan TouchFive adalah Finecolor bisa dibeli satuan sedangkan TouchFive dan TouchNew harus per set. Sepertinya, kalo diurut berdasarkan kasta, kasta tertinggi setelah Copic adalah Finecolour, disusul TouchNew dan terakhir TouchFive.

Twin marker Finecolour ada dua variant, yang casenya warna hitam dan warna putih. Yang warna hitam harganya lebih mahal, Rp 25.000, karena ada brush nib yang lebih empuk dan enak digunakan untuk hasil yang lebih smooth. Sedangkan yang warna putih, harganya Rp 15.000/ piece. Karena saking sukanya sama range warnanya, jadi gw udah mulai nyicil mengkoleksi Finecolour, namun baru mampu yang warna putih aja, itu pun rasanya udah tekor karena dibanding pembelian twin marker sebelumnya.

Kalau dari penampakan luar, design twin marker hampir-hampir mirip satu sama lain, dengan nama dan nomor warna tertera di ujung-ujung tutup spidol. Perbedaannya dengan TouchFive, kepala tutupnya berbeda bentuk pada masing-masing ujung untuk membantu memudahkan pengguna membedakan mana yang broad nib dan nib yang lancip. Tutup spidol bagian broad nib bentuknya kotak, sedangkan yang lancip berbentuk oval. Di bagian badan spidol juga diberikan tanda garis abu-abu untuk ujung yang lancip. Hal ini mungkin terkesan remeh-temeh, tapi membuktikan kualitas produsen yang memikirkan kenyamanan penggunanya dengan mendetail.

IMG_1568.JPG

Alasan utama kenapa awalnya gw membeli Finecolour adalah karena mencari tone kulit yang lebih natural. Variant warna kulit dari set TouchFive yang gw punya terlalu pink dan gradasi warna kurang lengkap.

IMG_1571

Perbedaan ukuran nib. Atas: TouchFive, tengah: Finecolour Rp 25.000, bawah: Finecolour Rp 15.000

IMG_1582

Perbandingan tone warna kulit merk TouchFive dan Finecolour. Tone kulit merk Finecolour gw kurang lengkap karena warna-warna yang gw mau ada yang sold-out.

Finecolour juga lebih mudah ditemukan di art supply shops di Bali (entah lah ya kalau di Padang), atau juga bisa beli satuan via online, tapi gak enaknya gak bisa dicoba dong ya, hiks!

Overall, untuk beginner’s level, twin marker ini recommended banget. Tapi kalo kalian emang hobi banget gambar dan menggambar hampir setiap hari, mendingan dicicil langsung merk Copic, karena kelebihan Copic bisa di refill tintanya, sedangkan merk lain harus beli lagi.

Happy playing with colors, guys!

Rekomendasi Toko Buku Online di Indonesia

IMG_0123

Dari kecil, salah satu cara gw memberi reward atau indulge diri sendiri adalah dengan belanja buku. Walopun pas udah gede hidup gw lebih sering nomaden, jadi rempong kalo beli buku fisik, tapi tetep aja belum ada teknologi yang bisa menyaingi rasa enaknya membaca dalam bentuk buku fisik (menurut gw sih ya…). So, gw tetep rajin membeli dan hunting buku. Dulu mah sumber utama beli buku hanya di toko-toko offline seperti Gramedia, Kharisma, dll. Untungnya sekarang hampir semua bisa dihubungkan lewat internet, termasuk belanja buku, baik buku dalam negeri, translated, atau pun buku import. Gw lebih suka belanja buku online karena di daerah-daerah yang pernah gw tinggali hanya ada toko-toko buku besar seperti Gramedia yang harganya menohok dompet. Gw hanya beli buku di toko offline hanya untuk buku yang diskon, selebihnya gw cari dulu judul bukunya di toko-toko buku online. Maklum lah cewek modis alias Modal Diskonan, hehe… Berikut list rekomendasi toko buku online yang paling sering gw kunjungi:

  1. BukaBuku

Kalo gw cari buku dalam negeri atau buku luar yang sudah diterjemahkan, gw lebih mengandalkan toko buku online yang satu ini. Karena dari segi kelengkapan buku lumayan, harga jauh lebih murah, sekitar Rp 20.000 lebih murah dari pada toko buku offline. Tapi kalo belinya cuma satu buku, hasilnya jadi sama mahalnya karena ongkir. Satu kg ongkir biasanya bisa untuk 3 buku, tergantung ketebalan buku. User interfacenya lebih rapih dari toko buku online saingannya, BukuKita, dan jualannya lebih ‘niat’ kalo dibandingkan dengan toko buku offline yang sudah well-established yaitu Gramedia–yang lapak onlinenya terkesan sangat ‘asal ada’ aja. BukaBuku juga memiliki customer service yang responsnya cepat kalo ada refund dan complaint, jika buku yang dipesan habis stock, uang dimasukkan ke deposit atau bisa ditransfer balik, prosesnya pun cepat dalam hitungan hari kerja.

2. BukuKita

BukuKita mungkin dimulai lebih dulu dari pada pesaingnya, tapi user interfacenya menurut gw sih kurang rapi. Kelengkapan bukunya hampir sama dengan BukaBuku, harga tidak jauh berbeda, tapi gw lebih suka belanja di BukaBuku karena customer service yang lebih baik. Gw hanya belanja di BukuKita kalo stock buku di toko sebelah sudah habis. Oia, sama seperti BukaBuku, buku-buku yang dijual hanya buku dalam negeri dan hasil terjemahan.

3. Periplus

Periplus adalah toko buku import pertama yang gw kenal setelah jatuhnya rezim orde baru yang sangat mengontrol media yang masuk ke Indonesia. Makanya saat menemukan Periplus pertama kali di bandara, gw berasa ketemu surga. Dulu sih Periplus hanya menjual buku import atau buku Indonesia yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, seperti karya-karyanya Pramoedya Ananta Toer. Namun sekarang Periplus sudah memberikan sedikit porsi untuk karya anak bangsa. Kalo dibandingkan toko buku import online lainnya, Periplus harganya lebih mahal (kadang lebih mahalnya sampe lebih dari Rp 120.000! Kan lumayan cuy buat beli kain!) Kelebihannya adalah banyak buku yang dijual sudah ready stock di cabang-cabang Periplus, jadi kita gak harus menunggu terlalu lama. Kalo buku yang kita cari sedang out of stock, kita bisa memesan, tapi jika hanya supplier buku di luar negeri yang bekerja sama dengan Periplus juga memiliki ketersediaan stock buku tersebut. Maka kita akan menunggu selama 3-4 minggu sampai buku tersebut sampai di Indonesia, kita hanya akan membayar harga di Periplus dan ongkir dalam negeri, dari Jakarta ke lokasi kamu tinggal. Tapi harga yang tertera di Periplus sudah dimark-up dengan ongkos kirim luar negeri dan entrebe-entrebe lainnya, jadi harganya lebih mahal. Namun kelebihan lainnya adalah pilihan metode pembayaran yang memungkinkan dengan kartu kredit atau transfer. Kan banyaknya orang Indonesia jarang membayar menggunakan Paypal. Lalu, kita bisa tracking pengiriman buku tersebut setelah sampai di Indonesia via Tiki atau Jne, jika buku kenapa-kenapa, menjadi resiko Periplus, bukan kita. Packaging pengiriman pun rapi dan aman, kalau mau claim complaint pun aman. Periplus juga menjual buku elektronik (ebook) demi memenuhi kebutuhan zaman yang menuntut mobilitas tinggi.

4. Books and Beyond

Books and Beyond hampir mirip kualitas tokonya dengan Periplus. Soal harga gak jauh berbeda mahalnya, hehe. Soal kelengkapan buku, tidak selengkap Periplus, namun yang gw suka di Books and Beyond adalah koleksi karya klasik yang dijual dengan harga sangat murah dari Rp 45.000. Sebenernya karya-karya klasik tersebut kan udah banyak ya ditemuin pdf nya, tapi balik lagi ke masalah serunya membaca buku fisik.

5. Book Depository

Book Depository adalah jasa pembelian buku import online yang bebas ongkos kirim dan bea cukai sehingga harga yang harus kita bayarkan sangat murah kalo dibandingkan toko buku import lainnya. Sejauh ini buku yang gw order selalu sampai dengan aman dengan lama pengiriman berkisar dari 3 minggu sampai 1,5 bulan, tergantung nasib sih kayaknya. Namun yang agak menyulitkan buat gua adalah pilihan metode pembayaran yang hanya lewat CC dan Paypal, berhubung gw belom punya dua hal tsb, jadi gw selalu harus cari tebengan akun atau kartu kredit. Dua hari setelah pembayaran, pengiriman buku sudah dilakukan, tapi karena pengirimannya juga dengan courier yang paling murah, jadi nasib kapan sampe nya ya tergantung kekuatan hoki. Dan kita gak bisa tracking buku kita udah sampe mana karena tidak diberikan nomor resi. Tapi sejauh ini selalu sampe sih, dan malah ketagihan belanja di Book Depository karena bukunya lebih lengkap. Packagingnya aman, namun gw kurang suka dengan customer servicenya kalo dibandingkan dengan customer service toko buku import online yang lain, mereka lebih cepat respon dan ngeresponnya lebih ‘niat’, bahwa pembeli adalah raja.

Selain list di atas, masih ada beberapa toko buku lain yang belom gw coba. Seperti Open Trolley dan Bukupedia. Gw gak jadi beli buku di Open Trolley karena harganya lebih mahal daripada Book Depository dan Bukupedia gw baca reviewnya banyak yang komplain. Kalo ada yang punya rekomendasi lain, boleh dong di-share!

 

#BaliDiary: Enaknya Tinggal di Bali

Setelah 27 tahun hidup di dunia, hal yang gw pahami tentang diri gw adalah bahwa salah satu bentuk kebutuhan gw untuk saat ini adalah merantau, millenial banget gak sih… hehe, ya gapapa toh, mumpung masih bisa! It’s when you break out of your comfort zone that you really find yourself. Dan gw percaya bahwa everyone in life is looking for a place to call home, gw gak percaya bahwa hidup adalah hanya menerima pilihan yang dipilihkan orang lain buat lw, meaning that bukan berarti the place you’re born in atau pun your parents’ origin bisa dipaksakan menjadi identitas seseorang. That’s why I’m moving places to places to eventually decide which one is really my home.

Gw udah pindah-pindah tempat beberapa kali dalam hidup gw, tapi so far, mostly di Pulau Sumatra. Destinasi perantauan impian gw dari dulu adalah Bali, gw penasaran banget sama Bali, saat ini dan sejauh ini, menurut gw satu-satunya daerah di Indonesia yang ‘Cihud Banget!’ adalah Pulau Dewata. Dan akhirnya ketika gw memilih untuk melanjutkan studi untuk karir impian gw, gw memilih melakukannya di Bali ketimbang di daerah lain seperti Jakarta atau Surabaya etc. Karena juga, dari masalah kualitas seimbang dengan harga yang jauh sangat lebih murah. Sampai dengan tulisan ini dibuat, gw udah tinggal selama 1,5 bulan di Bali. Satu bulan sebelum pindah, gw sempat 2 minggu liburan di Bali–terakhir kali gw ke Bali di tahun 2009–yang membuat gw makin mantap untuk memilih Bali.

Namanya juga hidup, kenyataan seringnya gak seindah mimpi kita dulu. Pasti lah ada juga yang bikin gw sebel tentang Bali, pasti lah ada juga bad days. However, buat gw, lebih baik having bad days in Bali than having bad days anywhere else. Yang gw bakal bahas sekarang yang enak-enaknya aja dulu, dari sudut pandang gw sebagai sesama orang Indonesia juga.

  1. Banyak hiburan yang MUDAH DIJANGKAU

Terutama wisata alam, alias banyak banget pantai-pantai yang indahnya pake banget tapi lokasinya juga gak jauh-jauh amet dan tiap daerahnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nuance yang lo dapetin dari pantai di Kuta berbeda dengan yang di Canggu, beda lagi dengan yang di Uluwatu, Sanur, dll. Dan yang paling penting adalah MUDAH DIJANGKAU, alias gak jauh-jauh amet. Jalan 30 menit juga udah ketemu pantai, pantainya bagus lagi! Di kota-kota yang pernah gw tinggali sebelumnya, hiburan terdekat cuma mall atau pusat perbelanjaan, sedangkan gw bukan anak mall. Di Pekanbaru, untuk nemuin wisata alam aja harus ditempuh dalam 6 jam dulu deh ke Sumatra Barat, itu pun baru ketemu air terjun Lembah Harau, apalagi kalo mau ke pantai, beuh… makin panjang lagi perjalanan! Gw suka wisata alam, tapi gw juga gak suka kalo harus terlalu banyak effort dan preparation untuk menjangkaunya. Emang sih jumlah transportasi publik di Bali sangat minim, tapi untungnya sekarang udah ada taxi dan ojek online dengan tarif yang murah, sangat membantu buat orang yang gak bisa mengendarai motor seperti gw ini. Makasih banget, Bang Nadim!

2. Gak banyak mall tapi fasilitas lumayan komplit

I’m not a big city girl, not a fan of big malls kayak yang di Jakarta. Tapi kalo tinggal di daerah yang semuanya serba sulit di dapat atau pola pikir orang-orangnya masih tertutup, gw juga gak nyaman. Di Bali cuma ada sekitar 3 pusat perbelanjaan yang bisa disebut mall, itu pun kecil-kecil kalo untuk ukuran mall. Namun fasilitas lumayan lengkap kok!

3. No macet

Dibilang gak ada sama sekali sih ya gak juga, ada juga macet di daerah-daerah tertentu dan kadar macetnya masih level tempe, cuma dikit dan lw masih bisa bergerak, bukan berarti stuck total berjam-jam seperti Jakarta. Sehingga, hidup lw masih bisa impulsive, kalo tiba-tiba mau ke suatu tempat, masih bisa dilakukan. Gak kayak di Jakarta yang hidup lw tiap harinya hanya bisa memiliki 1-2 rencana. Dari lokasi gw tinggal ke Pantai Canggu jaraknya 14 km dan hanya memakan waktu 30-45 menit.

4. Balinese’s high tolerance to differences

Aset Pulau Bali bukan hanya kekayaan keindahan alamnya, tapi juga manusia-manusianya! Suatu daerah gak akan bisa mengembangkan potensi pariwisatanya kalo belum mampu menghargai perbedaan. Mau dibangun fasilitas infrastruktur semewah apa pun juga, kalo orang-orangnya gak bisa memberikan rasa nyaman, tentunya gak akan maju. Nah ini dia kerennya orang Bali! Mereka memang terbuka dengan perbedaan, tapi bukan berarti mereka kehilangan jati diri mereka. Adat mereka tuh masih kental banget lho, tapi mereka gak pernah memaksakan itu ke orang lain. Jadi turis-turis yang datang pun merasa nyaman namun tetap dapat melihat sesuatu yang eksotis.

Sudut pandang mereka tentang aspek-aspek kehidupan pun menurut gw unik. Bagaimana mereka bisa dibilang lebih spiritual ketimbang religius, toh yang mengaku religius pun belum tentu spiritual. Makanya gw lebih sering ngomong sama orang Bali ketimbang sama bule-bule disini, karena gw udah bosen ngomong sama bule, toh gw bisa ketemu bule lebih sering, tapi jarang-jarang gw bisa ketemu sama orang Bali.

5. Biaya hidup masih terbilang standar dan ada pilihan

Well, masalah harga, kemampuan seseorang berbeda-beda. Yang bagi gw standar, bagi orang lain mungkin murah atau mahal. Semua ragam harga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan ada di Bali, dari yang murah sampe yang mahal. Kalo dibandingkan dengan daerah kecil lainnya, pilihannya termasuk lebih banyak. Harga kamar kosan tergantung lokasi, kamar kosongan seharga Rp 500.000 – Rp 800.000 masih banyak kok ditemukan, untuk kamar kosan lengkap (AC, water heater, bed, cupboard, wifi, fridge, mini kitchen, TV) range harga dari Rp 1.800.000 – Rp 4.000.000 (tergantung lokasi). Untuk transportasi, karena Bali kecil, dari satu tempat ke tempat lainnya palingan cuma berapa Km, jadi gak boros ongkos ojek online. Makanan pun pilihannya beragam, dari masakan asli Bali, provinsi lain dan negara-negara lain ada. Mau harga dari nasi-lauk (nasi kucing) yang harga Rp 5.000 sampe air putih yang harganya Rp 100.000 juga ada. Oh ya, berhubung gw udah jarang makan nasi putih, jenis makanan yang gw konsumsi (biasanya untuk sarapan), seperti quinoa, couscous, almond milk, chia seeds dan kawan-kawan mereka yang lain, lebih mudah didapatkan, merk dan harga pun variatif.

6. KTP = Kartu Diskon

Yang baru gw temuin di Bali selama tinggal di Indonesia adalah fungsi lain KTP Indonesia. Biasanya KTP cuma digunain untuk administrasi pengurusan apaaa gitu, tapi di Bali, dengan menunjukkan KTP Indonesia bisa mendapatkan diskon di berbagai macam events dan tempat hiburan seperti cafe, tempat gym, coworking space, amusement park, penginapan, bahkan yoga studio! Diskonnya juga gak tanggung-tanggung, kadang sampe 50%! Di beberapa tempat, kalo lo memiliki KTP Indonesia dan berasal asli dari Bali, diskonnya bakal ditambah! Anehnya, tempat-tempat yang memberikan diskon KTP ini adalah bisnis-bisnis yang dikelola oleh bule. Gw pernah berbincang dengan salah seorang bule pemilik yoga studio, dia bilang kalo alasan dia memberikan diskon adalah karena dia tau bagi orang Indonesia, harga Rp 130.000 per visit itu mahal banget sedangkan bagi standar bule hidup di Bali adalah murah pake banget. Jadi gak bisa disamaratakan antara orang Indonesia dan bule. Sedangkan tempat-tempat yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri malah lebih sering menyamaratakan harga, malah kadang lebih mahal, padahal mereka sebagai orang Indonesia seharusnya lebih tau lho susahnya orang kita cari duit! Hiks!

7. Banyak museum

Well, gak semua orang sih bakal suka museum, tapi gw suka dan gw mendatangi suatu tempat berulang-ulang. Banyak seniman internasional yang memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tuanya di Bali lalu membuatkan museum untuk karya-karyanya.

8. You’ll be surprised with the persons you run into

Banyak orang yang merasa pencapaian karirnya sudah cukup dan merasa ingin tinggal nyaman di Bali, atau orang-orang yang berprofesi sebagai digital nomad. Misalnya ngajak ngobrol orang di kafe, eehh ternyata si kakek penulis buku apa gitu. Atau malah ketemu youtubers yang ternyata kondang banget di suatu negara. Atau orang-orang yang sangat ahli di bidang-bidang tertentu, orang-orang yang kerja di Google, Microsoft atau retail fashion besar, etc. Orang-orang ini juga gak pelit ilmu, kadang mereka suka berbagi ilmu gratis di tempat-tempat seperti cafe dan coworking space. Gw belajar tentang basic web design, online marketing sampe cara membuat channel Podcast dari orang-orang yang gw temui disini. Paling berkesan adalah ketika gw ketemu Mbak Niluh Djelantik di Ubud Writers and Readers Festival 2017 kemaren dan youtuber fitness cewek Indonesia Yulia Baltschun karena gw ngefans giling sama dua perempuan Indonesia ini! Pernah gw baca di buku seorang travel writer, Becky Wicks, bertuliskan, “People don’t choose Bali. It’s Bali that chooses people.”

9. No radicalism

Pasti tau donk situasi politik di Indonesia lagi panas-panasnya banget, liat TV dan timeline dunia maya malah bikin esmosi, apalagi semakin mendekati masa akhir jabatan presiden Joko Widodo. Di daerah-daerah yang gw singgahi belakangan ini, sering gw melihat spanduk-spanduk provokatif di ruang publik yang sangat bersifat politis, beberapa pernah gw liat membawa-bawa agama. Yang paling parah yang gw inget adalah waktu gw maen ke Jakarta di bulan April 2017, ada yang berdemo dengan tulisan “Kami mau ulangi lagi Mei ’98 demi keadilan!” Astagaa… kurang cukup ya sejarah massacre di Indonesia? Hal-hal seperti ini membuat gw merasa gak nyaman. Kebayang deh gw gimana stressfulnya mereka yang hidup di Jakarta yang rajin kebagian demo. Nah yang begitu-begitu tuh gak ada di Bali, setidaknya sejauh ini, dari hasil ngobrol sama Balinese, gw belum menemukan radikalisme apa pun mendapat tempat di Pulau Bali. Di satu sisi, bagus sih bikin awet muda kalo hidup tenang dan menjauhi fake news. Tapi di satu sisi juga, just because you ignore it, it doesn’t mean it ain’t happen.

10. Kesadaran Go-Green lebih tinggi

Salah satu dampak positif dari wisatawan yang datang adalah mereka umumnya orang-orang yang sangat concern kepada lingkungan. Ada banyak organisasi-organisasi non-profit untuk menjaga lingkungan yang didirikan/ dikelola olah percampuran orang bule dengan lokal, seperti green shools. Bule-bule ini menularkan konsep responsible business yang menimbulkan awareness effect walau dalam hal kecil seperti no plastic bags use di toko-toko. Jangan heran kalo setelah belanja takeaway food atau produk lainnya kalian tidak diberikan plastik bungkus, kalau pun ada, terbuat dari kertas daur ulang. Concern tentang Go-Green ini lebih tinggi jika di daerah-daerah wisata seperti Ubud, kalo di Denpasar yang paling minim turis, penggunaan plastik di toko-toko masih tinggi. Pernah gw makan di salah satu cafe di Ubud, ada bule yang complain kenapa itu cafe masih menggunakan plastik. Complaint-nya serius lho, bukan cuma sepatah-dua patah kata. Saking niatnya ni bule complaint, ternyata dia kontak temen-temennya dongs buat dateng ke itu cafe. Terus rame-rame mereka ceramahin si manager cafe yang langsung minta maaf ke bule-bule itu, malah dibilang, “Jangan minta maaf ke kami, minta maaf ke alam. Minta maaf ke Bali.” Abisnya ya mereka ngancem, kalo sampe ini cafe masih menggunakan plastik, mereka gak mau datang ke cafe itu lagi dan bakalan bilang ke turis-turis yang lain berita yang sama. Nah lho!

11. Balinese massage is easy to find

Gw rutin melakukan massage sekali dalam 2 minggu dari gw masih SMA sampai sekarang. Ada nenek temen gw yang waktu itu kulit badannya (bukan cuma mukanya doank) yang masih terlihat begitu muda dari umurnya, dia bilang salah satu rahasianya adalah rutin massage dari umurnya masih 20 tahunan. Ternyata gw udah ikutan melakukannya juga selama bertahun-tahun, haha. Namun waktu pindah ke daerah Sumatra Barat, susah banget cari tempat pijat yang maknyoss, biasanya harus kenal sama orang yang bisa buat dipanggil ke rumah. Mungkin karena di daerah itu image massage masih negatif dan walau pun sesama perempuan, masih banyak yang gak nyaman untuk buka baju almost naked. Tapi di Bali, spa dan massage tiap sudut ada! Eits, jangan langsung negative thinking ya sama semua tempat massage, karena masih banyak kok spa and massage yang bener-bener pure relaksasi, without ‘happy ending’ buat kaum pria.

Balinese massage itu asooy banget deh. Di Sumatra, gw harus coba-coba dan cari-cari tempat langganan yang pijitannya endang. Sedangkan di Bali, gw asal nemplok aja kayak cicak jatoh dari atep, tetep aja sampai saat ini belom ada yang mengecewakan.

12. Surga bagi yang berkulit coklat

Umumnya orang Indonesia sangat memuja-muja kulit putih. Sedangkan di Bali, jumlah produk tanning lebih banyak dibandingkan produk memutihkan kulit. Di Bali, lebih banyak orang-orang berlomba mencoklatkan kulit ketimbang memutihkan kulit. Gw yang memang sudah dari dulunya suka banget sama kulit coklat juga ikutan mencoklatkan lagi kulit gw yang sudah coklat ini sampai mencapai coklat maksimal. Beuuh, kalo kulit lw coklat, rambut lo item, udah deh… melenggok-lenggok jalan lo disini bak Miss Universe. Tingkat kepedean dan kesok-cantikan kalian disini akan meningkat karena disinilah kita benar-benar dianggap eksotis! Yeahh! Hidup brown skin!