Tipe-Tipe Bule di Bali

Bali sebagai destinasi wisata internasional memang mengundang banyak wisatawan internasional yang biasa disebut “bule” dalam bahasa Indonesia (walau pun kadang kata ‘bule’ lebih sering dikaitkan dengan ras kaukasoid).

Bule-bule ini banyak yang udah tinggal cukup lama di Bali atau yang tamu rutin setiap tahun. Banyak alasan mereka datang ke Bali, Bali sendiri memiliki keunikan ‘vibe’ yang berbeda-beda di setiap daerahnya sehingga tipe-tipe orang yang kita temukan di Canggu akan berbeda dengan yang di Ubud, begitu juga Kuta dan Sanur dll. Walau pun sering dianggap superior oleh bangsa kita sendiri, padahal bule itu sama aja dengan kita karena mereka juga sama-sama manusia, yang baik ya baik, yang jahat ya jahat. Ada yang pinter, ada yang setengah dan ada yang ‘otak kuah kacang’ juga. Pengalaman gua tinggal di Bali membuat gw bisa mengkategorikan bule-bule itu menjadi beberapa tipe (**disusun random):

  1. Bule Ordinary Tourist

Bule yang ini hanya wisatawan biasa, tujuannya hanya berlibur dalam waktu relatif singkat, gak ada tujuan lain (misal mencari jati diri, atau investasi). Biasanya sama pasangan atau sama keluarga. Mereka gak sibuk-sibuk cari penginapan atau transportasi yang murah karena mereka cuma mau nyaman, dan mereka juga gak seberapa make time to know the locals karena mereka cuma akan disana sebentar saja. Dari cara jalannya pun mereka berbeda, karena biasanya lebih lambat karena mereka melihat-lihat sekitar dan untuk shopping souvenirs. Mereka biasanya ada di tempat-tempat wisata yang mainstream seperti Pantai Kuta, Tegalalang di Ubud etc.

2. Bule Party-Mode

Nah ini dia bule yang tujuannya mabok dan party doank (dan sex), mereka melihat Bali hanya sebagai Vegas-tanpa-cassino murah muriah. Kebanyakan berasal dari Australia, karena paling dekat dengan Indonesia, usianya kebanyakan masih dedek-dedek bule yang kerjaan di negaranya sebenernya masih entry-level, misal waiter, penjaga toko dll, tapi karena konversi dolar ke rupiah, mereka jadi bisa seneng-seneng dengan murah yang belum tentu di negaranya mereka bisa. Gak cuma dedek-dedek ababil, ada juga yang usia dewasa yang lagi mengalami puber kedua (atau gak berhenti puber) kali ya, hehe.

Destinasinya cuma night clubs and bars di daerah Seminyak. Looking for drinks, dance, drugs, and hookups. Boring buat gua mah. Bule begini nih yang sasarannya para prostitutes dan one-night-standers. Mereka gak mencari cinta, jadi kalo ketemu di Tinder dengan bule yang stay di daerah Seminyak, jangan berharap lebih, ya! Hehe.

3. Bule Kismin: Bule Backpacker, Bule Kehabisan Duit karena Gak Mau Pulang

Bule miskin atau PaHe (Paket Hemat) ada yang karena emang tujuannya backpacker dan ada juga yang karena keasikan tinggal di Bali tapi gak mau pulang-pulang, jadi lama-lama duitnya abis dongs. Kalo bule backpacker, kisminnya masih terhormat (menurut gw sih ya..) siapa tau mereka cuma mau bikin record perjalanan termurah aja, bukan berarti mereka kere. Mereka berjiwa adventurous, berbaur dengan lokal, makan-makanan lokal, dan seringnya ke tempat-tempat anti-mainstream, kayak pantai dan air terjun yang masih belum terjamah gitu. Tujuannya wisatanya lebih ke berpetualang dan mengenal kultur negara lain, walau pun kere, mereka ini punya ‘charm’ tersendiri, yah pesonanya anak Mapala gitu deh, hehe…

Sedangkan kategori bule kismin yang satunya lagi lebih mengarah ke gembel. Yang begini lebih baik dijauhin, mereka mengerti cara memanfaatkan kebaikan orang lokal dan kadang mau numpang hidup via couchsurfing dalam waktu yang relatively lama (hitungan bulan) dan selalu cari masalah kalo diminta pindah.

4. Bule Eat, Pray, Love Syndrome

Ini adalah kategori bule mencari cinta. Kesuksesan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert berdampak magis membuat para hopeless romantic ini datang ke Bali dengan tujuan mencari cinta atau mencari inspirasi, biar kayak si penulis gitu ya… Jiwa-jiwa yang insecured dan sedang mencoba membangun optimisme dan berharap menemukan sesuatu di Bali, kebanyakan sih berjiwa penulis gitu. Paling banyak ditemukan di daerah Ubud (karena si Elizabeth Gilbert perginya ke Ubud) sambil memegang pena dan notebook di meja-meja cafe, layaknya orang menunggu ditendang inspirasi. Tapi believe it or not, karena banyaknya penulis yang tinggal di Ubud, Ubud bisa dijadikan tempat yang baik bagi para penulis ini untuk networking atau belajar dari penulis senior juga!

5. Bule Hippie

Bule Hippie adalah salah satu tipe manusia yang sering ditemukan di Ubud, mereka kadang terlalu (sok) spiritual gitu sampe-sampe kalo mereka ngomong, kita jadi bingung mereka ini lagi ngomong apa ngelantur mabok. Mungkin niatnya terdengar bijak tingkat dewa, tapi malah jadi kebanyakan bullshit kadangan, haha. Seringnya mereka melakukan yoga, tapi gak cuma yoga olahraga fisik, lebih ke spiritualitas. Yang spiritual tapi masih normal juga banyak kok, bedanya kalo udah level hippie ini, udah di luar normal. Mereka gak begitu peduli dengan penampilan, terlihat seperti gembel, hobi nyeker dan kadang-kadang bau badan (entah dengan alasan spiritual macam apa).

6. Bule Pensiunan

Oma dan opa bule yang sudah pensiun dan mau menjalani masa-masa pensiunnya dengan senang-senang ke tempat-tempat eksotis di negara berkembang seperti Bali biasanya berlokasi di Sanur. Kenapa Sanur?? Karena Sanur adalah Seminyak zaman dulu, dulu Sanur adalah tempat party dan hectic, namun sekarang sudah berpindah ke Seminyak jadi Sanur lebih adem buat para elderly ini. Makanya kalo ke Sanur banyaknya bule-bule yang udah tua yang mencari ketenangan atau bule-bule yang berwisata dengan keluarga karena mungkin Kuta dinilai kurang aman buat keluarga (ya iyalah ya, kalo lakinya digodain hookers gimana coba, hehe). Mereka gak peduli dengan yoga di Ubud atau dugem di Seminyak.

7. Bule Yoga Melulu

Bule Yoga berbeda dengan bule hippie, bule yoga gak segila bule hippie. Tujuan mereka memang untuk memperdalam yoga atau sedang mengambil teacher training, jadi kerjanya yoga melulu, sehari bisa ambil 3-4 kelas, gila gak itu! Bule Yoga kebanyakan di Ubud, tapi gak menutup kemungkinan di Canggu karena dengan di Canggu juga banyak studio yoga yang oke dan karena Bule Yoga lebih fleksibel dan fun orangnya ketimbang Bule Hippie, Canggu terlalu ‘berisik’ mungkin buat bule Hippie.

8. Bule Senior

Bule Senior maksudnya bukan bule gaek, tapi bule yang udah lama tinggal di Indonesia, baik tahunan atau sudah menikah dengan orang Indonesia. Bule tipe ini sudah lebih mengerti tentang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dari yang sedikit sampai yang lancar dan tau seluk-beluk jalan di Bali. Karena bule ini udah terbiasa dengan beberapa kekurangan sifat orang Indonesia (misal ngaret), mereka jadi lebih toleran, atau malah mereka jadi ikutan ngaret. Ada yang bilang, saking santainya hidup di Bali, bule aja bisa ngaret!

9. Bule Surfer

Bule Surfer menduduki peringkat bule paling seksi menurut Madame Citra Ayu Wardani, hahaha. Mereka dengan kulit terpapar mataharinya dan hobi maen-maen sama ombak, kalo keluar ngegotong papan surfer sambil topless, dan karena olahraga surfing, dadanya biasanya keren dan ‘memanggil’ gitu deh–memanggil buat ditatap. Surfer juga biasanya orangnya asik dan easy-going, gak cuma surfer cowok, tapi juga cewek. Ada yang sudah bekerja sebagai instruktur surfing baik dengan legal dan illegal, hehe. Bule Surfer banyak ditemukan di daerah pantai, seperti Canggu, Uluwatu etc.

10. Bule Start-up/ Digital Nomad

Bali gak cuma sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai tempat kerja impian para digital nomads yang banyak berkembang di generasi millenial. Bali bisa dibilang salah satu pusat start-up di Indonesia, didukung dengan adanya coworking space Dojo dan Hubud yang masuk dalam nominasi coworking space terbaik dan community-oriented di dunia. Thank’s to YouTube yang semakin mengiklankan Bali sebagai lokasi idaman bagi para digital nomads. Banyak yang menemukan rekan kerja atau dapat kerjaan juga di Bali karena berkumpul di pusat digital nomads ini, pekerjaannya juga menarik-menarik dari content creator, programmer, marketer, designer, trader, dropshipper dll.

Tujuan mereka datang ke Bali yang paling utama adalah mencapai digital nomad lifestyle, so mereka bukan yang tipe mencari cinta, spiritual etc. Mereka punya goals dan semangat untuk maju yang kuat tapi juga tetap bisa diajak asik, karena sehabis kerja mereka nyantai ke pantai, tapi kalo lagi kerja ya serius banget. Ini tipe bule yang paling gw suka untuk gw deketin, karena semangat, kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya yang bagi gw menginspirasi. Gua jadi belajar dari mereka ternyata cara nyari duit yang anti-mainstream dan fun itu banyak asal mau kerja keras. Gaya mereka emang santai (tipikal gaya anak startup lah ya…) tapi duitnya oke punya. Namun karena mereka freelancers atau entrepreneur, mereka bukan tipe bule hura-hura, mereka saving money for what might happen in the future.

Bule StartUp bisa ditemukan di daerah Canggu dan Hubud karena dua tempat ini punya coworking yang paling keren dan paling banyak diminati. Paling keren kalo udah programmer terus juga surfer, adududuhhhh… udah lah bang, pasang harga aja, Adek beli! Hahah!

Mereka biasanya tinggal di Bali untuk durasi yang semi-permanent, hitungan bulan sampai tahunan, yah namanya juga nomads, jadi pindah-pindah.

11. Bule Money-Minded

Bule Money-Minded berbeda dengan Bule StartUp, bule ini hanya melihat Bali sebagai ladang investasi. Di otaknya cuma beli tanah atau beli properti, mereka menuntut gimana caranya biar bisa cepat dan mudah beli tanah di Indonesia tapi mereka gak peduli untuk membantu membangun Bali. Mereka cuma bisa complain dan berfikiran buruk tentang orang lokal–walau pun emang sih banyak kasusnya orang lokal yang menipu bule dan bawa lari kepemilikan tanah/ properti karena orang asing hanya bisa beli Hak Pakai untuk 50 tahun unless memakai nama orang Indonesia. Gak sedikit dari mereka yang nikahin lokal hanya untuk bisnis, kadang yang orang lokalnya gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Bukannya gw mau ngejudge ya, tapi gw gak ngerti gimana caranya bisa sayang kalo komunikasi aja gak nyambung, bukan dari masalah bahasa tapi juga dari topik pembahasan.

Bule Money-Minded ini gak peduli untuk berbaur dengan orang lokal kalau gak ada untungnya. Bule ini, ketika mereka memiliki bisnis di Bali, hanya perduli dengan harga tenaga kerja murah. Ini tipe bule yang gua gak suka, pernah di beberapa seminar ketika mereka complain ini-itu tentang Indonesia, gw debat abis. “Lo mau enaknya doank, lo dateng ke Indonesia enggak bayar visa, enggak harus tes kefasihan bahasa Indonesia, mana konversi dolar ke rupiah pula. Nah orang gua, mau bikin negara lo untung aja harus bayar berjuta-juta dulu buat tes bahasa doang. Do we complain? Kagak. Nah sampeyan segala enak, cuma ngikutin peraturan aja gak mau. Lo mau berurusan sama orang Indonesia, tapi buat belajar bahasa orang aja lo gak mau, ya itu sih namanya minta ditipu, Bro/ Mbak’e!” Mereka complain peraturan negara kita susah, woy gak ngaca apa gw ngurus visa buat masuk negara dia liburan aja susahnya minta ampun. Nah kan, jadi esmosi ini gw. Huhah!!

12. Bule Influencer

Karena keeksotisan dan ketenaran Bali, maka banyak travel vloggers atau seleb Instagram dari beberapa negara yang memasukkan Bali ke daftar wajib mereka. Kita mungkin gak kenal mereka, tapi ternyata di negara mereka sendiri mereka mempunya following yang cukup banyak, paling banyak nangkring di daerah Canggu, Seminyak dan Uluwatu. Beberapa yang pernah gw ketemuin langsung adalah Lost Le Blanc, Laura Reid dan alm. Ryker Gambler. Tapi saat itu gw gak tau mereka siapa dan kalau mereka ternyata YouTuber. Kadang tipe bule ini agak annoying sih, bukan tipe bule doank dink, maksud gw tipe manusia jenis ini in general kayaknya emang gak asik di dunia nyata, terlalu self-centered, hehe.

13. Bule Mafia dan Illegal

Bule jenis ini biasanya ngejalanin bisnis dengan cara suap dan bohong, misalnya bekerja atau memperkerjakan sesama bule dengan visa turis di Indonesia tanpa work permit etc. Hampir mirip dengan Bule Money-Minded, namun Bule Mafia/ Illegal juga termasuk orang dengan criminal record di negaranya, misal child predators dan juga orang-orang yang visanya udah habis tapi males ngurus sehingga keberadaan mereka di Indonesia jadi illegal. Gak bisa disalahin merekanya doank juga karena justru negara kita yang kenapa bisa memperbolehkan orang-orang dengan criminal record masuk dengan mudah.

14. Bule Seniman

Bali banyak mengundang hati para seniman dari berbagai negara, dari musisi, penulis, dan pelukis. Beberapa di antaranya memilih menetap dan menikah dengan orang Indonesia dan membuat museum karya-karya mereka, salah satu contohnya alm. Antonio Blanco yang memiliki museum di Ubud. Kebanyakan seniman ini tinggal di daerah Ubud.

15. Bule Heroes

Bule Heroes adalah para bule yang memiliki sifat terpuji dan patut dicontoh. Mereka bener-bener cinta dengan Bali dan Indonesia sehingga mereka banyak membantu lewat charity dan membangun organisasi relawan, dari relawan membantu anak-anak jalanan, binatang terlantar, bersihin pantai, edukasi, dll. Karena jasanya bagi masyarakat setempat, gak sedikit dari mereka yang diberikan gelar adat dari masyarakat Bali.

16. Bule Asia

Bule Asia adalah bule dari negara-negara Asia yang kurang lebih bentuk fisiknya mirip sama kita, kebanyakan berasal dari Thailand, Jepang dan Filipina. Makanya kalau gw lagi jalan-jalan di Bali sendiri, orang lokal selalu mencoba berbahasa Inggris sama gw karena gw disangkanya wisatawan asing.

17. Bule Setengah Bule

Ini adalah bule blasteran dari pernikahan campuran orang Indonesia dengan Bule. Hasil produk blasteran ini emang beda pula pesonanya. Mereka fasih berbahasa Inggris dan Indonesia ketimbang orang tuanya.

18. Bule TKA

Bule ini adalah tenaga kerja asing di Indonesia, mereka bekerja di pulau lain di Indonesia, contohnya pilot-pilot bule yang kerja di daerah-daerah atau yang kerja di perusahaan asing di kota besar lain. Biasanya mereka ke Bali karena kangen dengan western environment, ya maklum lah kita juga kalo tinggal di negara orang juga pasti bakal kangen dengan suasana Asia.

Advertisements

#BaliDiary: Yang Dikangenin dari Bali

Gak kerasa ternyata udah tiga bulan lebih meninggalkan Bali semenjak bulan Maret lalu. Gw stay di Bali selama kur-leb 6 bulan (baca pengalaman gw di Bali di sini), bisa dibilang waktu yang panjang tapi juga pendek. Pendek tapi juga panjang.

Enam bulan emang bukan waktu yang singkat, tapi di Bali selama 6 bulan itu terasa pendeek banget karena Bali adalah satu-satunya daerah yang “Cihud Banget!”, so gw sangat menikmati pengalaman gw di Bali. Namun walau pun hanya enam bulan, pengalaman yang gw dapet selama disana berasa panjaaang banget, entah karena gw anaknya yang pecicilan, jadi gw benar-benar memaksimalkan waktu gw disana buat ketemu orang-orang dan mendatangi tempat-tempat yang gw jarang bisa temuin.

Gw bukan tipe anak yang hobby party atau ngegehol gak jelas, atau orang-orang yang ke Bali cuma buat vlogging Youtube biar kayak selebgram. Keseharian gw di Bali, selain kursus gw saat itu, adalah mendatangi event-event keren gratisan seperti seminar, free trainings, coworking space, event seni, networking dengan lokal dan bule yang ngejalanin bisnis di sana atau sekedar turis tahunan, kelas yoga dan meditasi, ke pantai (hampir 3 x seminggu!) dan yaah… tipe aktivitas-aktivitas seperti ini lah ya… gw emang bukan tipikal turis lokal yang ke Bali, kebanyakan orang Indonesia yang ke Bali ngumpulnya di Seminyak dan musti partaayy hard gitu deh, kadang gw gak ngerti juga sih, kalo mau party mah ngapain di Bali yang gak ada apa-apanya kalo dibanding Jakarta. Bali menurut gw lebih cocok jadi tempat rileksasi ketimbang destinasi dugem atau ‘nakal-nakalan’, hihi.

Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantai dan keunikan tradisinya. Tapi menurut gw sih, Indonesia mah kemana-mana juga indah, kemana-mana juga unik. Pantai yang seindah di Bali juga banyak kok di kampung orang tua gw di Sumatra Barat. Terasiring sawah seperti di Tegalalang atau Canggu?? Bah… apalagi itu, bejibun! Pekerjaan gw dulu di WWF Indonesia membuat gw udah jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, terutama daerah-daerah marginal, so menurut gw kekayaan alam yang Bali punya, menangnya di advertising menteri pariwisata Indonesia jaman Soeharto dulu, hehe.

14470

Emang iya gw sering banget ke pantai waktu di Bali dulu. Tapi yang gw kangenin banget dari Bali itu bukan pantainya, bukan wisata alamnya, bukan cafe-cafe kerennya… melainkan vibe alias energinya. (Wah udah maen energi segala nih pembahasan gw!)

Vibe yang gw dapetin di Bali itu beda banget sama yang gw rasain di kota-kota lain di Indonesia yang udah gw singgahi. Vibe ini emang sesuatu yang gak berwujud fisik, tapi bisa dirasakan. Kan kita bisa ngerasain daerah mana yang bikin kita ngerasa nyaman, sangat nyaman, kurang nyaman atau hampir gila. Vibe suatu daerah diciptakan bukan hanya dari kondisi alam, cuaca, tapi juga orang-orang di dalamnya. Katanya sih, “People don’t choose Bali, it’s Bali that chooses people”. Well, mungkin emang benar, orang-orang yang ke Bali memang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, tapi punya kesamaan yang sulit diungkapkan namun bisa dirasakan. Kita bisa tau, “Ni orang Bali banget nih…” atau “Lo ini cocoknya tinggal di Bali.” Gw salah satu di antaranya, bisa dilihat lah ya dari tulisan-tulisan di blog gw ini, pola fikir gw, atau sekedar foto-foto gw di Instagram, susah diprediksi kalo gw punya darah Sumatra Barat alias Minang. Hehe…

Kalo orang bule yang ke Bali, well mereka punya alasan lain selain vibe, yaitu alasan ekonomi. Karena bagi mereka hidup di Bali itu murah banget dan mereka bisa dapat fasilitas kelas atas yang sulit mereka dapatkan di negaranya. Tapi kalo ada orang Indonesia yang ke Bali, yang gw temuin sih, jiwa-jiwanya ya mirip-mirip gw lah… So, kita bisa ngerasain ada kesamaan walau pun hanya kenal dari ngobrol 20 menit.

Berdasarkan pengamatan tidak profesional gw sih, orang Indonesia yang bukan asli Bali dan pindah ke Bali, bisa dikelompokkan menjadi dua tipe berdasarkan pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Kelompok pertama adalah karena alasan ekonomi dari daerah asalnya yang sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Mereka biasanya memiliki pekerjaan entry level atau pedagang kaki lima di Bali, kebanyakan berasal dari daerah-daerah seperti Sumba, NTT, Jawa, dll.

Kelompok kedua, memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi seperti tingkat universitas atau SMA/K atau punya pengalaman kerja di daerah sebelumnya. Biasanya memiliki minat dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan seni/ kreatifitas, seperti musisi, penulis, designer, tattoo artist, makeup artist, dll. Orang-orang dari kelompok yang kedua ini biasanya punya jiwa yang bebas atau rasa kecewa dengan daerah-daerah sebelumnya. Mereka-mereka yang punya kepribadian yang bentrok dengan norma-norma di daerah sebelumnya, yang gerah dengan apa yang dianggap normal di daerah tersebut namun bagi mereka itu gak normal. Biasanya sih gak terlalu ambisius dengan kesuksesan materi, tapi juga gak mau hidup kere-kere banget. Maksudnya, semangat kerja tapi kerjanya gak mau ngoyo banget sampe gak bisa dinikmatin hasilnya.

Salah banget orang-orang yang mikir kalo Bali itu ‘daerah nakal’ karena terkesan bebas. Seriously, kalo gw mah, ke Bali itu nyari tenang, bukan nyari nakal. Kalo mau nakal mah ngapain jauh-jauh ke Bali, dimana aja nakal bisa dicari di daerah paling religius sekali pun, tapi TENANG itu susah didapetin. Mereka yang masih berpikiran negative begitu kemungkinan adalah orang-orang yang:

  1. Belom pernah tinggal di Bali,
  2. Belom pernah nakal. (Well, persepsi ‘nakal’ tiap orang berbeda-beda.)

Kerasa banget bedanya setelah lama di Bali dan gw maen ke Jakarta, baru keluar bandara aja langsung energi negatif bermunculan. Spanduk-spanduk politis yang rasis, macetnya dan apalagi gw merasa awkward pas masuk pusat perbelanjaan seeing people trying to be someone they’re not even though it hurts. Their makeup was as thick as their heels, not to forget hair extension and faux designers stuffs. That is…. rare to find in Bali. Spanduk-spanduk yang hampir mirip juga gw temukan saat balik ke Sumatra (apalagi yang super konservatif), terlebih dengan embel-embel agama. Belum lagi dengan generalisasi kepercayaan dan pengaplikasiannya.

Gw gak bilang itu buruk, selama itu dan tinggal di daerah seperti itu membuat lo senang dan nyaman, then go for it, you do you. But if you feel like you found similarities with my views and you happen to read this, then you know what I mean and you’ll love Bali for sure. We all have places where our souls belong to, we just need to find where it is, a place that can feed us financially, emotionally, spiritually, and intellectually.

14469

 

Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.Β  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Lessons that Travels Have Taught Me (so far)

Experience is the best teacher and the most experiences I’ve got are from travelling or living nomadically. I’ve moved a lot in my 27 years although none of the places I’ve lived in or visited is abroad. Well my country is big and it’s not easy for a developing country citizen like me to travel abroad. Also, every corner of Indonesia is so different even though it’s in the same island; the people, culture, norms, weather, etc are different. The first time I moved to other city was when I was 17 y.o when my parents decided to go back to their hometown in West Sumatra. I hated it back then, the fact that I had to be separated with the things and people I’d been familiar with. Ten years later, I’ve become a restless soul that always wants to be challenged by new environment periodically. It has given me long-term impacts and lessons that shape the person I am and will be. Even the ways I travel changed. Let me share some things that travels have taught me so far :D.

  1. Travel has made me realize that life is short.

Life is short to do and be something I’m not, to only read one book, to only have one perspective, to stop questioning, to not seek for answers, to be spent in only one place, to only have one dream, to learn only one skill. And most importantly, to not be shared.

2. Changes are not always scary.

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Starting again in new places with new people, situation etc sounded scary before for me. But I survived, I’m glad of most changes that happened, sometimes a reset button is necessary. Breaking the comfort zone is good, just because something is familiar doesn’t mean it’s better. It is when you’re already outside the box then you can see what’s wrong about the box.

3. The world is so big and there are so so so so so many people in the world.

The more places I visited and the more people from different background I met, the more I want to see and experience other places. This makes me realize that for me moving is one of my needs. Many people seek for settling down in one place until they’re old and die, while I don’t think myself belongs to that category. Even if I know Bali is my fave place to live, it doesn’t mean I want to stay in Bali forever. I will someday settle, just not now. Also, knowing that there are billions of billions of people in the world–I mean yeah of course all people know the big number of population, but many of us choose to trap ourselves into small community; like people in our city or our country only–makes me more optimistic in life that it doesn’t matter if one person doesn’t agree with nor like me, there are still billions of people in the world, even Trump is still liked by some people. It doesn’t matter if I feel I don’t belong with people in West Sumatra, maybe I just happened to be a black sheep, I met people who are like me–the black sheep–in Bali, whose homes are away from homes. There will be a lot of places in the world that are more willing to accept who you are, you just need to find where it is.

4. The more I travel, the more I need less.

The moment of packing and unpacking are the times I know I’ve been collecting or wanting things I don’t actually need. It’s the time I have to decide which one to keep in my life. I still don’t travel light, but for people who know me and with so many things I had back home, it’s an achievement to pack my life into just some briefcases. It makes me realize that if I’m ok with it during travelling, then I will be okay with same at home. The more I don’t understand why people could be so obsessed with having a big big family home, taking loans for big house, fancy cars, electricities, etc. That makes more sense to me if it’s for property business, but I can’t see myself living in a big house because I don’t need that. I need plane tickets, enough money and health.

5. Self-discovery.

I’ve read somewhere that if you want to find yourself, leave your home. My self-discovery process happens faster every time I am away from home, my goals get clearer.

6. Travel gives me hope and faith that THAT kind of life is possible.

Since my childhood, my parents and most adults around me taught me how scary it is to have no uniforms, which means a job in institution or company. I believe that every generation has their own advantage from the previous generations, hence we should not live with the same fears. My generation’s advantage is the advance of information and communication technology. I don’t want to miss this opportunity. Nomad living is possible which allow us to make money from anywhere we want. It makes it possible to earn in different currency. That if I really want something to happen, there’s always ways. Travel allows me to meet alike-minded people who many of them are more successful in their 30s than my parents who worked for over 30 years in institutions. And what great about these people are their energy and creativity that are always alive and pumped.

7. Complaint less, be more patient and grateful.

When you just move to a new place, then expect the unexpected, things go out of plans and it’s okay. I saw how people can live with less and still be happy which all too often we forget how to live like that.

8. Shop less, experience more.

I can say I’ve been very lucky to be able to travel myself since young age. But the way I travel and how I see it have changed a lot. I used to only target big cities with big malls during the sale season, travel was only about shopping for me. I always flew back with extra baggage than when I left. Doing it for years, I always felt exhausted after the holiday (and broke, of course), also felt rushed during the travel. I used to list so many shopping agenda in my itinerary for a 2-3 day holiday. I think that’s how most Indonesians are like during holidays, we try to go to as many destination as possible in super short time that we don’t really enjoy our visit anymore, it’s become more like a check-list than a relaxing holiday. Now I prefer to have much less agenda and be more spontaneous. I rarely shop unless it’s something very special that I still think of after 3 days, by then I know I really want it rather than an impulse buying. I buy something that I will use and remind me of the place when I see and use it. Someday when my hair turns grey, it’s the experience that I will remember, not how many and expensive things I bought.

9. Enjoy solo travelling while you can.

The idea of travelling with a partner and family may sound tempting to many. I have friends who missed their travelling opportunities or chances to move somewhere only because of waiting for a life partner to arrive. That’s not me, at least for this moment. Most of the time for me at this moment, I want to have a time for myself. When I get married, I will less likely have it anymore, I will have husband and kids to travel with for years. So now is my time for my self (before I get stuck with them, LOL). It’s nice to have a travel partner sometimes, but not every time.

***

So that’s my ode to travel. I’m sure that’s not all yet–at least what I can think of for now. I want to continue living like this, moving place to place, looking forward to more adventures and changes for the better because nothing is more exciting than seeing who I will be at the end of each one. PS: this year I will have my first international travels, can’t wait!!