#BaliDiary: Enaknya Tinggal di Bali

Setelah 27 tahun hidup di dunia, hal yang gw pahami tentang diri gw adalah bahwa salah satu bentuk kebutuhan gw untuk saat ini adalah merantau, millenial banget gak sih… hehe, ya gapapa toh, mumpung masih bisa! It’s when you break out of your comfort zone that you really find yourself. Dan gw percaya bahwa everyone in life is looking for a place to call home, gw gak percaya bahwa hidup adalah hanya menerima pilihan yang dipilihkan orang lain buat lw, meaning that bukan berarti the place you’re born in atau pun your parents’ origin bisa dipaksakan menjadi identitas seseorang. That’s why I’m moving places to places to eventually decide which one is really my home.

Gw udah pindah-pindah tempat beberapa kali dalam hidup gw, tapi so far, mostly di Pulau Sumatra. Destinasi perantauan impian gw dari dulu adalah Bali, gw penasaran banget sama Bali, saat ini dan sejauh ini, menurut gw satu-satunya daerah di Indonesia yang ‘Cihud Banget!’ adalah Pulau Dewata. Dan akhirnya ketika gw memilih untuk melanjutkan studi untuk karir impian gw, gw memilih melakukannya di Bali ketimbang di daerah lain seperti Jakarta atau Surabaya etc. Karena juga, dari masalah kualitas seimbang dengan harga yang jauh sangat lebih murah. Sampai dengan tulisan ini dibuat, gw udah tinggal selama 1,5 bulan di Bali. Satu bulan sebelum pindah, gw sempat 2 minggu liburan di Bali–terakhir kali gw ke Bali di tahun 2009–yang membuat gw makin mantap untuk memilih Bali.

Namanya juga hidup, kenyataan seringnya gak seindah mimpi kita dulu. Pasti lah ada juga yang bikin gw sebel tentang Bali, pasti lah ada juga bad days. However, buat gw, lebih baik having bad days in Bali than having bad days anywhere else. Yang gw bakal bahas sekarang yang enak-enaknya aja dulu, dari sudut pandang gw sebagai sesama orang Indonesia juga.

  1. Banyak hiburan yang MUDAH DIJANGKAU

Terutama wisata alam, alias banyak banget pantai-pantai yang indahnya pake banget tapi lokasinya juga gak jauh-jauh amet dan tiap daerahnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nuance yang lo dapetin dari pantai di Kuta berbeda dengan yang di Canggu, beda lagi dengan yang di Uluwatu, Sanur, dll. Dan yang paling penting adalah MUDAH DIJANGKAU, alias gak jauh-jauh amet. Jalan 30 menit juga udah ketemu pantai, pantainya bagus lagi! Di kota-kota yang pernah gw tinggali sebelumnya, hiburan terdekat cuma mall atau pusat perbelanjaan, sedangkan gw bukan anak mall. Di Pekanbaru, untuk nemuin wisata alam aja harus ditempuh dalam 6 jam dulu deh ke Sumatra Barat, itu pun baru ketemu air terjun Lembah Harau, apalagi kalo mau ke pantai, beuh… makin panjang lagi perjalanan! Gw suka wisata alam, tapi gw juga gak suka kalo harus terlalu banyak effort dan preparation untuk menjangkaunya. Emang sih jumlah transportasi publik di Bali sangat minim, tapi untungnya sekarang udah ada taxi dan ojek online dengan tarif yang murah, sangat membantu buat orang yang gak bisa mengendarai motor seperti gw ini. Makasih banget, Bang Nadim!

2. Gak banyak mall tapi fasilitas lumayan komplit

I’m not a big city girl, not a fan of big malls kayak yang di Jakarta. Tapi kalo tinggal di daerah yang semuanya serba sulit di dapat atau pola pikir orang-orangnya masih tertutup, gw juga gak nyaman. Di Bali cuma ada sekitar 3 pusat perbelanjaan yang bisa disebut mall, itu pun kecil-kecil kalo untuk ukuran mall. Namun fasilitas lumayan lengkap kok!

3. No macet

Dibilang gak ada sama sekali sih ya gak juga, ada juga macet di daerah-daerah tertentu dan kadar macetnya masih level tempe, cuma dikit dan lw masih bisa bergerak, bukan berarti stuck total berjam-jam seperti Jakarta. Sehingga, hidup lw masih bisa impulsive, kalo tiba-tiba mau ke suatu tempat, masih bisa dilakukan. Gak kayak di Jakarta yang hidup lw tiap harinya hanya bisa memiliki 1-2 rencana. Dari lokasi gw tinggal ke Pantai Canggu jaraknya 14 km dan hanya memakan waktu 30-45 menit.

4. Balinese’s high tolerance to differences

Aset Pulau Bali bukan hanya kekayaan keindahan alamnya, tapi juga manusia-manusianya! Suatu daerah gak akan bisa mengembangkan potensi pariwisatanya kalo belum mampu menghargai perbedaan. Mau dibangun fasilitas infrastruktur semewah apa pun juga, kalo orang-orangnya gak bisa memberikan rasa nyaman, tentunya gak akan maju. Nah ini dia kerennya orang Bali! Mereka memang terbuka dengan perbedaan, tapi bukan berarti mereka kehilangan jati diri mereka. Adat mereka tuh masih kental banget lho, tapi mereka gak pernah memaksakan itu ke orang lain. Jadi turis-turis yang datang pun merasa nyaman namun tetap dapat melihat sesuatu yang eksotis.

Sudut pandang mereka tentang aspek-aspek kehidupan pun menurut gw unik. Bagaimana mereka bisa dibilang lebih spiritual ketimbang religius, toh yang mengaku religius pun belum tentu spiritual. Makanya gw lebih sering ngomong sama orang Bali ketimbang sama bule-bule disini, karena gw udah bosen ngomong sama bule, toh gw bisa ketemu bule lebih sering, tapi jarang-jarang gw bisa ketemu sama orang Bali.

5. Biaya hidup masih terbilang standar dan ada pilihan

Well, masalah harga, kemampuan seseorang berbeda-beda. Yang bagi gw standar, bagi orang lain mungkin murah atau mahal. Semua ragam harga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan ada di Bali, dari yang murah sampe yang mahal. Kalo dibandingkan dengan daerah kecil lainnya, pilihannya termasuk lebih banyak. Harga kamar kosan tergantung lokasi, kamar kosongan seharga Rp 500.000 – Rp 800.000 masih banyak kok ditemukan, untuk kamar kosan lengkap (AC, water heater, bed, cupboard, wifi, fridge, mini kitchen, TV) range harga dari Rp 1.800.000 – Rp 4.000.000 (tergantung lokasi). Untuk transportasi, karena Bali kecil, dari satu tempat ke tempat lainnya palingan cuma berapa Km, jadi gak boros ongkos ojek online. Makanan pun pilihannya beragam, dari masakan asli Bali, provinsi lain dan negara-negara lain ada. Mau harga dari nasi-lauk (nasi kucing) yang harga Rp 5.000 sampe air putih yang harganya Rp 100.000 juga ada. Oh ya, berhubung gw udah jarang makan nasi putih, jenis makanan yang gw konsumsi (biasanya untuk sarapan), seperti quinoa, couscous, almond milk, chia seeds dan kawan-kawan mereka yang lain, lebih mudah didapatkan, merk dan harga pun variatif.

6. KTP = Kartu Diskon

Yang baru gw temuin di Bali selama tinggal di Indonesia adalah fungsi lain KTP Indonesia. Biasanya KTP cuma digunain untuk administrasi pengurusan apaaa gitu, tapi di Bali, dengan menunjukkan KTP Indonesia bisa mendapatkan diskon di berbagai macam events dan tempat hiburan seperti cafe, tempat gym, coworking space, amusement park, penginapan, bahkan yoga studio! Diskonnya juga gak tanggung-tanggung, kadang sampe 50%! Di beberapa tempat, kalo lo memiliki KTP Indonesia dan berasal asli dari Bali, diskonnya bakal ditambah! Anehnya, tempat-tempat yang memberikan diskon KTP ini adalah bisnis-bisnis yang dikelola oleh bule. Gw pernah berbincang dengan salah seorang bule pemilik yoga studio, dia bilang kalo alasan dia memberikan diskon adalah karena dia tau bagi orang Indonesia, harga Rp 130.000 per visit itu mahal banget sedangkan bagi standar bule hidup di Bali adalah murah pake banget. Jadi gak bisa disamaratakan antara orang Indonesia dan bule. Sedangkan tempat-tempat yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri malah lebih sering menyamaratakan harga, malah kadang lebih mahal, padahal mereka sebagai orang Indonesia seharusnya lebih tau lho susahnya orang kita cari duit! Hiks!

7. Banyak museum

Well, gak semua orang sih bakal suka museum, tapi gw suka dan gw mendatangi suatu tempat berulang-ulang. Banyak seniman internasional yang memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tuanya di Bali lalu membuatkan museum untuk karya-karyanya.

8. You’ll be surprised with the persons you run into

Banyak orang yang merasa pencapaian karirnya sudah cukup dan merasa ingin tinggal nyaman di Bali, atau orang-orang yang berprofesi sebagai digital nomad. Misalnya ngajak ngobrol orang di kafe, eehh ternyata si kakek penulis buku apa gitu. Atau malah ketemu youtubers yang ternyata kondang banget di suatu negara. Atau orang-orang yang sangat ahli di bidang-bidang tertentu, orang-orang yang kerja di Google, Microsoft atau retail fashion besar, etc. Orang-orang ini juga gak pelit ilmu, kadang mereka suka berbagi ilmu gratis di tempat-tempat seperti cafe dan coworking space. Gw belajar tentang basic web design, online marketing sampe cara membuat channel Podcast dari orang-orang yang gw temui disini. Paling berkesan adalah ketika gw ketemu Mbak Niluh Djelantik di Ubud Writers and Readers Festival 2017 kemaren dan youtuber fitness cewek Indonesia Yulia Baltschun karena gw ngefans giling sama dua perempuan Indonesia ini! Pernah gw baca di buku seorang travel writer, Becky Wicks, bertuliskan, “People don’t choose Bali. It’s Bali that chooses people.”

9. No radicalism

Pasti tau donk situasi politik di Indonesia lagi panas-panasnya banget, liat TV dan timeline dunia maya malah bikin esmosi, apalagi semakin mendekati masa akhir jabatan presiden Joko Widodo. Di daerah-daerah yang gw singgahi belakangan ini, sering gw melihat spanduk-spanduk provokatif di ruang publik yang sangat bersifat politis, beberapa pernah gw liat membawa-bawa agama. Yang paling parah yang gw inget adalah waktu gw maen ke Jakarta di bulan April 2017, ada yang berdemo dengan tulisan “Kami mau ulangi lagi Mei ’98 demi keadilan!” Astagaa… kurang cukup ya sejarah massacre di Indonesia? Hal-hal seperti ini membuat gw merasa gak nyaman. Kebayang deh gw gimana stressfulnya mereka yang hidup di Jakarta yang rajin kebagian demo. Nah yang begitu-begitu tuh gak ada di Bali, setidaknya sejauh ini, dari hasil ngobrol sama Balinese, gw belum menemukan radikalisme apa pun mendapat tempat di Pulau Bali. Di satu sisi, bagus sih bikin awet muda kalo hidup tenang dan menjauhi fake news. Tapi di satu sisi juga, just because you ignore it, it doesn’t mean it ain’t happen.

10. Kesadaran Go-Green lebih tinggi

Salah satu dampak positif dari wisatawan yang datang adalah mereka umumnya orang-orang yang sangat concern kepada lingkungan. Ada banyak organisasi-organisasi non-profit untuk menjaga lingkungan yang didirikan/ dikelola olah percampuran orang bule dengan lokal, seperti green shools. Bule-bule ini menularkan konsep responsible business yang menimbulkan awareness effect walau dalam hal kecil seperti no plastic bags use di toko-toko. Jangan heran kalo setelah belanja takeaway food atau produk lainnya kalian tidak diberikan plastik bungkus, kalau pun ada, terbuat dari kertas daur ulang. Concern tentang Go-Green ini lebih tinggi jika di daerah-daerah wisata seperti Ubud, kalo di Denpasar yang paling minim turis, penggunaan plastik di toko-toko masih tinggi. Pernah gw makan di salah satu cafe di Ubud, ada bule yang complain kenapa itu cafe masih menggunakan plastik. Complaint-nya serius lho, bukan cuma sepatah-dua patah kata. Saking niatnya ni bule complaint, ternyata dia kontak temen-temennya dongs buat dateng ke itu cafe. Terus rame-rame mereka ceramahin si manager cafe yang langsung minta maaf ke bule-bule itu, malah dibilang, “Jangan minta maaf ke kami, minta maaf ke alam. Minta maaf ke Bali.” Abisnya ya mereka ngancem, kalo sampe ini cafe masih menggunakan plastik, mereka gak mau datang ke cafe itu lagi dan bakalan bilang ke turis-turis yang lain berita yang sama. Nah lho!

11. Balinese massage is easy to find

Gw rutin melakukan massage sekali dalam 2 minggu dari gw masih SMA sampai sekarang. Ada nenek temen gw yang waktu itu kulit badannya (bukan cuma mukanya doank) yang masih terlihat begitu muda dari umurnya, dia bilang salah satu rahasianya adalah rutin massage dari umurnya masih 20 tahunan. Ternyata gw udah ikutan melakukannya juga selama bertahun-tahun, haha. Namun waktu pindah ke daerah Sumatra Barat, susah banget cari tempat pijat yang maknyoss, biasanya harus kenal sama orang yang bisa buat dipanggil ke rumah. Mungkin karena di daerah itu image massage masih negatif dan walau pun sesama perempuan, masih banyak yang gak nyaman untuk buka baju almost naked. Tapi di Bali, spa dan massage tiap sudut ada! Eits, jangan langsung negative thinking ya sama semua tempat massage, karena masih banyak kok spa and massage yang bener-bener pure relaksasi, without ‘happy ending’ buat kaum pria.

Balinese massage itu asooy banget deh. Di Sumatra, gw harus coba-coba dan cari-cari tempat langganan yang pijitannya endang. Sedangkan di Bali, gw asal nemplok aja kayak cicak jatoh dari atep, tetep aja sampai saat ini belom ada yang mengecewakan.

12. Surga bagi yang berkulit coklat

Umumnya orang Indonesia sangat memuja-muja kulit putih. Sedangkan di Bali, jumlah produk tanning lebih banyak dibandingkan produk memutihkan kulit. Di Bali, lebih banyak orang-orang berlomba mencoklatkan kulit ketimbang memutihkan kulit. Gw yang memang sudah dari dulunya suka banget sama kulit coklat juga ikutan mencoklatkan lagi kulit gw yang sudah coklat ini sampai mencapai coklat maksimal. Beuuh, kalo kulit lw coklat, rambut lo item, udah deh… melenggok-lenggok jalan lo disini bak Miss Universe. Tingkat kepedean dan kesok-cantikan kalian disini akan meningkat karena disinilah kita benar-benar dianggap eksotis! Yeahh! Hidup brown skin!

Advertisements

Perempuan, Umur dan Pernikahan

Hampir mirip dengan seni, umur adalah apa yang dikatakan, disangkakan dan direaksikan oleh kita dan orang lain kepadanya. Banyak yang bilang, secara fisik gw terlihat lebih muda daripada umur gw. Di umur gw yang sekarang 27 tahun, banyak yang menyangka gw masih 20-21 tahun (ini bukan maksud nyombong, lho!), apalagi kalo ketemunya waktu gw baru selesai olahraga, dengan hormon-hormon positif yang terpompa, bisa disangka lebih muda lagi, padahal menurut gw muka gw sehabis olahraga udah beruk maksimal banget rasanya. Tadinya gw gak ‘ngeh’ kalo gw terlihat demikian, baru karena semakin banyak reaksi serupa, makanya gw perhatikan foto diri gw dari masa ke masa, ternyata… ya emang gak significant sih perbedaannya. Di saat temen-temen atau junior telah melalui berbagai turbulensi dan transformasi penampilan, gw ya begitu-begitu aja, dari model rambut, muka, sampe bentuk tubuh, sampe-sampe baju yang gw pake sampai saat ini udah cukup umurnya untuk sekolah SD! Kalo pertama kenal, baru setelah ngobrol panjang orang-orang berkomentar, “Wah kamu dewasa ya untuk anak seumuran kamu!”, lah emang diye tau umur gw berape? Lol. 

Mungkin ini karena pola hidup gw yang berubah semakin perduli dengan kesehatan dan keafiatan fisik, atau mungkin karena kemampuan emosi gw untuk memanajemen dan minimalisir stress dan tidak takut untuk meninggalkan orang dan keadaan yang membuat gw tidak nyaman dan bahagia. Well, kalo kamu terlihat cepat tua, mungkin kamu gak nyaman/ bahagia dengan lingkungan, hubungan atau pekerjaan kamu etc tapi terlalu takut meninggalkan karena berbagai macam ketakutan. Ato mungkin malah sebenernya gw ini bukan awet muda tapi awet tua? Hahaha… Terserah lah… Tapi berhubung gw lebih seringnya bergaul dengan orang seni atau orang-orang yang jalan hidupnya anti-mainstream, gw gak ngerasa awet muda sih, karena mereka-mereka ini yang menurut gw lebih awet muda.

Anyway, kalo orang-orang belum tau umur gw berapa dan menyangka gw lebih muda, reaksi mereka pun berbeda, bahan pembicaraanya berbeda. Entah kenapa gw sering disangkakan suka dengan drama Korea, mengapa demikian gw juga gak mengerti sub-consiousness apa yang telah dibawa oleh Korean wave ini. Padahal gw bener-bener anti sama Kpop dan K-drama. Sedangkan kalo gw udah bilang umur gw yang sebenernya, reaksi dan bahan pembicaraanya berbalik 180 derajat. Pernah di gym, ada cewek yang dua tahun lebih muda daripada gw sampe teriak dan bikin orang-orang nengok, “Iiihh masa sihhh, Kaaaaaak (red: sebelumnya dia manggil gw ‘Dek’). Aku gak relaaa…” Loh, apa maksudnya dia yang gak rela?? Gw juga gak ngerti. Respon kedua, “Kok bisa awet muda, kak?” Well, ya karena emang gw masih muda! 27 tahun ya emang masih muda keles! Lebay banget di negara ini umur 27 diperlakukan seperti umur 72 tahun. Respon ketiga adalah masalah kapan menikah, “Hati-hati lho kalo wanita mah kalo udah di atas umur 25 gak ada yang mau lagi, udah susah dapet anak. Udah gak cantik lagi.” Kalo ngobrol sama bule, umur gak pernah jadi masalah. Menurut analisa sotoy gw pribadi, hal ini mungkin karena beberapa hal:

  1. Timeline hidup umum orang Indonesia berbeda dengan mereka. Di Indonesia, terutama bagi perempuan kebanyakan dan apalagi yang tinggal bukan di kota besar, umur 27 tahun ‘diekspektasikan’ setidaknya udah menikah atau punya anak. Sedangkan di negara mereka, umur 27 tahun ya masih melalang buana menstabilkan diri secara emosi dan finansial. Terutama generasi millenial yang berfikir berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya
  2. Usia harapan hidup orang Indonesia lebih pendek, sama seperti negara-negara maju sebelum mereka menjadi negara maju. Di Indonesia, umur 50-60 tahun ngerasa udah ringkih dan manja banget, bawaannya minta cucu melulu. Lah bule-bule di Sanur umur 70 mah masih travelling. Jadi karena merasa takut mati, mendingan buru-buru nikah. Padahal mati mah bisa kapan aja. Tuhan gak pernah ngejanjiin kok kalo lo cepat nikah mati lo bisa diundur.
  3. Pendidikan mereka yang lebih maju membuat pola fikirnya berbeda, wanita gak dinilai dengan ukuran-ukuran tradisional seperti umur atau apakah lw mencuci piring temen lelaki lw apa gak. Pendidikan tentang masalah fertilitas dan equality sudah tersebar dengan mengacu pada hasil riset terbaru yang lebih reliable, bukannya ngajar pake ilmu dan data lama, emang ilmu gak berkembang? Di luar negeri, feminis memperjuangkan equal salary, nah di Indonesia masih aja sibuk poligami. Baru lahir kemaren udah minta nikah, begitu udah nikah, minta poligami. Gak puas-puas. 
  4. Biaya hidup yang lebih tinggi membuat mereka harus lebih independen sedini mungkin dan wanita tidak lagi dididik mencari suami kaya, tapi untuk menjadi pribadi yang bisa berdiri sendiri. Everybody is busy paying for their own needs, lo sangka mudah cari orang yang bisa ditebengin atau yang mau nebengin? Disini masih lumrah kuliah menjadi tanggung jawab orang tua, nah mereka dongs pake student loans. Sehabis lulus, interest is coming.

Gw kenal banyak wanita seumur gw dan yang lebih senior yang masih belum menikah. Mereka juga pastinya sudah kenyang dengan berbagai reaksi yang mostly negatif, dari yang iba, kepo, nyalah-nyalahin sampe yang merasa perlu menceramahi, kadang yang ceramah juga gak ngaca, pernikahannya sendiri aja masih berabe udah berasa punyak hak buat ngedikte hidup orang lain. Wanita Indonesia di atas umur 25 tahun yang masih belom menikah sangat rentan mendapat stereotypes negatif. Nih ya, gw coba jabarin satu-satu.

  1. “Itu lah kalo cewek terlalu pintar, jadinya belom laku-laku.”

Sebenernya ini adalah pujian lho, mereka mengakui kalo lo pintar. Yang ngasih lo pinter siapa coba?? yang menciptakan seseorang jadi pintar siapa? Emang kalo dulu sebelum dilahirin dikasih milih, lo mau minta dikasih pinter ato bego? Berarti secara gak langsung, mereka nyalahin Tuhan dongs! Lagian banyak orang pingin jadi pinter, masa yang udah pinter mau minta jadi bego. Kalo Tuhan menciptakan lo pintar maka bersyukurlah, udah dikasih rejeki, dikasih pula natural selection. Dan kalo lo merasa lo sebenernya gak pintar, ya bersyukur aja juga, akhirnya kan lo dilabeli pinter juga karena belom nikah, hehe. 

2. “Itu lah wanita yang terlalu memikirkan karir dan prestasi, akhirnya jadi LUPA DIRI dan LUPA KODRAT.”

Yah maklum lah sodari-sodari sekalian, kita hidup di lokasi yang paling suka menjadikan wanita sebagai bantalan. Lo belum nikah, dianggap salah. Sampe gagal nikah, disalahin. Udah nikah, salah juga. Sayur kurang garem aja bisa disalah-salahin. Udah nikah belom/ gak punya anak, yang salah istri. Udah nikah, suami berpaling, yang salah istri. Udah nikah menolak dipoligami, yang salah istri. Udah nikah, anak telat pulang, yang salah istri. Istri di rumah selalu pake daster, yang salah istri. Sampe Setya Novanto lulus dari pengadilan juga salahnya istri. Nah, ini lah resiko nikah sama wong ndableg. Mirisnya tipe ini masih merajalela di Indonesia setelah lebih 70 tahun merdeka.

Justru semakin matang pola fikir seseorang, dia semakin mengerti dirinya sendiri, semakin ingat dengan dirinya dan bukannya lupa diri. Semakin dia mengerti kenapa dia menginginkan sesuatu, semakin memahami bagaimana dirinya ingin diperlakukan dan memperlakukan. Semakin lo dewasa, list persyaratan/ kriteria pasangan lo semakin sedikit. Waktu muda belia dan labil, banyak syaratnya. Harus yang fisiknya begini, gelar pendidikannya ini, pekerjaannya begini, dll. Tapi dengan banyaknya jumlah persyaratan tersebut, justru lebih mudah nyarinya, Contoh, kalo syarat lw minimal S1, gampang kan nyarinya? Yang S1 bejibun! Minimal gaji sekian, banyak kan kandidatnya? Namun semakin lo dewasa, semakin lo mengerti apa yang lo butuhkan, tapi kandidatnya semakin langka. Semakin lw mengerti nilai diri lw, semakin lw memahami standar moral lw, semakin sulit nyarinya. Gw punya standar moral yang gak bisa dinego, seseorang pernah bilang ke gw, “What you tolerate makes you worried. Learn to say ’No’.” Kalo gw sampe nikah dengan orang yang tidak mempercayai apa yg gw percaya, tidak membela apa yang gw bela, gw tidak akan bisa bahagia, walau pun dengan kecukupan materi. Kalo lo yakin dengan hasil pendidikan yang lo kantongi, yakin dengan didikan orang tua lo, yakin dengan wawasan lo dari membaca, pengalaman, dll, lo gak perlu menurunkan standar moral hanya karena rasa takut yang tidak perlu; takut nanti gak ketemu jodohnya lah, takut terlalu tua, etc. Lebih baik singkat dengan orang yang tepat, daripada terjebak lama dengan orang yang salah. Dan setiap orang memiliki jam berbeda-beda, gak bisa disamakan si A lulus kuliah umur segini, si B umur sekian. Pikir aja ya, adzan sholat atau lonceng gereja aja beda RT bisa selisih waktu, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang!

Lagian sotoy amet ya yang pada bilangin lupa diri, seolah-olah mengecap bahwa perempuan tersebut tidak ingin menikah akibat terlalu liberal lah, dll. Yang tau keinginan seseorang adalah orang itu sendiri, apa kah dia ingin menikah apa gak. Siapa pun gak punya hak untuk menghakimi keinginan orang lain selama keinginan tersebut tidak merugikan orang lain.

3. “Kalo telat nikahnya, nanti susah punya anak.”

Well, pertama, kata ‘telat’. Emang adu lari sama siapa? Menurut lo semua bayi perempuan yang lahir di suatu rumah sakit yang sama dan di hari yang sama itu kayak adu pacu lari gitu, siapa yang duluan nikah?? 

Kedua, ini nih efek rendahnya pendidikan yang gw bilang tadi. Semua salah perempuan, emangnya masalah fertilitas bisa disimpulkan segampang itu? Lo bisa aja nikah semuda mungkin, dan terlihat sesubur mungkin, tapi susah punya anak biologis. Udah banyak kok kasusnya yang sudah bertahun-tahun menikah belum punya anak, ada juga teman gw yang sampai diceraikan dan sebelum diceraikan dipermalukan di depan keluarga dan umum, dikatakan bahwa si istri mandul, padahal hasil tes lab berbeda. Alhasil sekarang hidup dengan trauma. 

Gak salah sih, kalo seseorang menikah karena ingin punya keturunan biologis, namun beware of your own dreams, karena gak ada yang bisa menjanjikan garansi nikah dengan si A bisa punya anak apa gak, anaknya bakalan terlahir sehat apa gak, dll. Ada juga teman yang pernikahannya sudah perang dingin hanya karena belum ada anak, jadi gak ada yang bisa mempersatukan mereka. Well, you can never fix a broken marriage by having kids, that’s so selfish for him/ her and for the kids. Lagian, setelah anak-anak dewasa, mereka akan meninggalkan rumah dan kalian akan tinggal berdua lagi. Terus mau gimana lagi?

Gw sebagai seorang wanita, terlahir dengan rahim. Namun gw gak mau dinilai hanya sebagai rahim. Binatang mamalia juga punya rahim. Dan gw semakin berfikir tentang sebenernya punya anak itu tentang apa sih? Hanya tentang menjadi bunting anak sendiri atau tentang memberikan kesempatan, cinta, kasih sayang, pendidikan ke manusia lain? Semakin gw mengenal diri gw, semakin gw tau bahwa salah satu keinginan terbesar gw adalah mengadopsi anak. Jika punya anak adalah tentang memberi dan berbagi, kenapa cinta dan kesempatan harus dibatasi oleh alasan biologis? Bagaimana nasib anak-anak yang sudah terlahir ke dunia tanpa siapa-siapa? Gw tidak menjudge pilihan orang lain. Bagi orang lain, kebahagian mereka mungkin adalah punya anak dari darah daging sendiri, yang mukanya mirip mereka, sifatnya mirip mereka dll. Dan itu tidak salah, gak ada yang berhak memaksakan konsep kebahagiaan untuk orang lain. Bagi gw, bahagia gw adalah ketika gw memberikan harapan dan kesempatan pada orang yang merasa sudah kehilangan harapan. Kenapa gak diangkat jadi adik aja ketimbang jadi anak? Karena rasanya berbeda, perasaan yang tumbuh ke manusia tersebut saat diangkat menjadi adik dan diangkat menjadi anak akan berbeda. Maka itu gw gak mau punya anak biologis lebih dari dua anak, atau mungkin satu. Dan gw gak akan menunggu sampe ketemu calon suami dulu baru adopsi anak. Yang menjadi tolak ukur gw untuk masalah anak adalah kemampuan finansial. Sudah menikah atau pun belum, gw akan mengadopsi anak kalo gw sudah selesai dengan diri dan mimpi gw dan sudah financially ready (ya gila aja kalo udah susah ngajakin orang ikutan susah!). Bahagia kita yang ciptakan, buat apa menunggu kalo memang sudah mampu. Nah, makin susah kan nyari cowok yang bisa nerima dan berfikir seperti ini? Embeeer… karena itu lah dia akan menjadi sangat sangat sangat special. Langka, tapi pasti ada. 

4. “Jangan terlalu idealis, kamu itu gak realistis.”

Gak realistis?? Justru yang gak realistis itu adalah mereka yang mengatakan bahwa menikah dapat menyelesaikan semua permasalahan dalam hidup lo dan bahwa semua pernikahan akan baik-baik saja. Justru karena gw realistis, gw tau ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dan seberapa siap gw menghadapi hal tersebut. Justru karena gw realistis, gw tau nikah itu gak mudah, penuh tantangan, nah kalo sampe nikah sama orang yang prinsip hidupnya lemah gimana? Justru karena gw realistis gw tau semua-mua butuh duit, mau makan pake cinta? Justru karena gw realistis, gw tau karir hidup seseorang bisa terancam jatuh kapan saja, sudah siap belum menghadapi itu? Justru karena gw realistis, gw tau manusia gak ada yang sempurna. 

5. “Jangan terlalu milih, terima aja apa yang ada.”

Kalimat ini biasanya dilanjutkan dengan kalimat nakut-nakutin lainnya. Yaiyalah cuy harus milih, sedangkan beli martabak aja mau yang spesial, masa mau pasangan hidup yang gak spesial?? Martabak itu cuma nempel 10 menit di hidup gw, abis itu keluar jadi tokai. Untuk sesuatu yang singkat dan berujung jadi tokai aja mau yang spesial, masa iya mau cari orang yang bakal hidup sama-sama lo (kalo bisa untuk selamanya), yang bakal jadi tempat bersandar, jadi team, best friend, lover, partner diskusi dll sama orang yang gak spesial??

Dan gw gak mau memilih dan dipilih hanya karena rasa takut. Gw gak mau dipilih karena orang itu takut gak nemu calon istri, takut umur, atau takut karena keluarganya udah ngedesak, dll. Gw juga gak mau memilih dengan alasan yang sama. Hidup itu simple, yang bikin repot itu rasa takut. Gw hanya mau dipilih karena gw adalah gw, kualitas gw. Karena kalo seseorang bertindak karena rasa takut, dia gak bisa melihat kualitas orang lain, hanya melihat ketakutannya sendiri. Kalo dia menikah hanya karena takut gak punya anak, kalau sampai kejadian gak dapet anak biologis dari pasangannya, dia akan meninggalkan pasangannya tersebut. Dan juga percuma donk orang tua susah-susah ngegedein lo biar lo tumbuh menjadi batu berlian, kalo ujung-ujung berserah diri jatoh ke tangan orang yang gak bisa membedakan mana berlian dan mana batu kali.

**

Ini baru lima stereotypes, udah panjang begini penjelasannya, belom yang lain. Jadi biar gampangnya, kalo ada orang baru dikenal yang nyangka lo masih anak kuliah, ya udahlah iya-iyain aja biar gak panjang cerita. “Iya nih, gw masih kuliah…” dalam hati dilanjutkan,  “… tapi 5 tahun yang lalu ciiinnn…” Hahaha…

#BaliDiary: Who Let The Dogs Out

Bali is known as The Island of Gods. Many people come to Bali for the spiritual quest. Been living in Bali for over a month, I can give another title to the island as the Island of (wild) Dogs.

In the island I am from–Sumatra–people don’t like dogs, mostly for ‘religious’ reasons so that they can do irreligious things to this ‘haram’ animal; like throwing them with stones for no reason, even kick them out if the dogs just want to lay down under cars for shade during a super hot day. I’ve never had pet in my life because my parents never allowed us to have one. So until now I don’t know how to pet one even though I actually want to. In Sumatra, especially West Sumatra, the dogs are afraid of humans. I feel sorry for the dogs and I never want to hurt them or any other animals. My achievement was when a dog which was beaten and kicked often was not afraid of me because I let her sleep under my car for shades and I talked to it–from a distance, because I still don’t know how to do physical contact with animals. I told her that she should not listen to those mean humans, she’s a normal beautiful animal and those people are just shallow. I don’t know if she could understand human language but she became protective of me that when a stranger came to my house when I went to a nearby ‘warung’ and let the door open, she barked at him and stood in front of my door. The guy was a delivery courier though.

I found it sweet and that they’re very very loyal. Reminds me of some movies I watched in my childhood in which dogs joined in and played  for a hockey club. So I began to imagine to play and run along the beach with cute fluffy short-legged dogs, with my long-black hair down and beautiful sunset sky. Imagine how sexy that scene would be in a slow-motioned clip. I was waiting for it to happen before my flights to Bali.

When in Bali, it happened, unluckily with some modifications. Instead of running along with me, they ran behind me to chase me for no reason with unstoppable barking. The dogs in Bali, especially in Canggu and Ubud, are very different from what we have in Sumatra. They’re not afraid of humans, but also not in a friendly way. They’re as scary as Japanese Yakuza (though I haven’t met Yakuza in person).

I wanted to do a morning walk. A morning walk in Bali, that sounds like a movie, ain’t it? What happened next was indeed like in movies,  HORROR MOVIE though. Sensing I am an easy prey and has a lot of bones, three dogs chased me. WTH, they have 12 legs and I only have two!! I screamed for help in my girly sundress, made me look more like Annabelle than a sexy sweet beach girl that I planned to be. I literally almost cried having thoughts in my head that my family and friends would read my name in newspapers; GIRL KILLED GANG-CHASED BY WILD DOGS IN CANGGU. Luckily a tourist couple helped to rescue me from the frustrating situation meanwhile three local guys–who previously cat-called me–just laughed and one was ready to record a video. How dare you, you son of sandwich!!

That was just one of my numerous thriller experiences with wild dogs in Bali. These dogs are not always street dogs, they have owners. But how could they be so different if I compared to dogs that the tourists bring. In Bali, you can find people drive bike with dog, even two dogs in one bike, that looks very cool and cute. And these dogs are swag, friendly and tamed. I believe that the way animals behave to humans are the reflection of what is wrong/right about the community.

Later I made friends with a local who loves dog so much and always travel with two dogs on his bike. He loves dog from the heart as real friends, not as fancy accessories or toys that you sell when you get bored of. He told me that many locals treat dogs just as house security and don’t give them care and affection that they long for. Also common that they’re left in the street when the owners don’t need them anymore. Well, even humans can behave wildly in that situation. So please, if you can’t love your dogs, don’t have one so that a sweet girl in sundress like me can have a peaceful walk in Bali.

PS: Not all areas are like this. Only in Canggu and Ubud that I found dogs are a bit uncontrollable. Other than that are safe(r), people treat dogs as pets they love.

Cihud Bali Dogs

Sally Sendiri

Have you ever been haunted by your past? Well, I have. Not by things I did, but by something I didn’t do.

Ada kejadian yang sebenernya gak terjadi langsung ke diri gw sendiri, tapi efeknya besar dan lama ke the way I saw my self; full of shame and guilt. Di tahun ke tiga/ empat kuliah, gw bertemu  dengan dosen yang kemampuan akademiknya jadi tertutup dengan sifatnya yang super duper irrationally moody-menjurus-ke-pendendam, tambah lagi waktu itu beliau lagi hamil besar. Seantero jurusan tau bagaimana she treated students she personally liked and disliked, because she was not afraid to make it obvious, sehingga kisah seorang senior top student yang sudah dia gagalkan 3 kali ujian menjadi momok bagi mahasiswa jurusan gw apalagi bagi yang pingin lulus cepat/ tepat waktu.

Suatu ketika, seorang teman sekelas gw–anggep aja namanya Sally biar kayak lagu–kehilangan ibunya untuk selama-lamanya. Sebelumnya, Sally juga udah kehilangan ayahnya karena ajal. Sebelum ibunya meninggal, Sally sering izin karena merawat ibunya yang sakit. Pokoknya, anak ‘setrong’ banget deh si Sally ini kalo pake bahasa anak sekarang. Sally ini anaknya gak ‘mencolok’ dan gak neko-neko. Kalo ngomong suaranya lembut, gak cempreng kayak gua. Gw gak berteman deket sih, tapi berhubung jurusan gw itu muridnya cuma seimprit–apalagi yang bertahan sampe lulus dan gak gugur di medan perang–jadi cukup lah untuk seenggaknya sering berinteraksi di kelas, tugas kelompok dll selama bertahun-tahun, cuma sama orang-orang itu aja.

Beberapa hari setelah kepergian ibunya, Sally masuk kuliah lagi, pas di kelasnya si ibuk dosen moody ini. Tergolong cepat untuk orang yang masih berkabung, tapi mungkin itu cara dia to cope with sadness; daripada meratapi nasib sendirian mendingan balik kuliah buat ketemu banyak orang. Waktu pelajaran baru dimulai, ada mahasiswa yang telat masuk, karena gw duduknya (selalu) di depan, gw kasih kode ke temen tsb kalo kelasnya baru mulai dan kemungkinan dia bisa masuk. Si temen yang telat, mengetok pintu dan diijinkan masuk sama si Ibuk. Gak lama setelah itu, ada temen lain lagi yang telat. Sally yang duduknya dua kursi di samping gw memberikan kode yang sama ke temen yang telat itu. Tetiba aja, si Ibuk langsung membentak Sally, “Sally, kamu ini sok sekali ya jadi mahasiswa. Berani-beraninya ngelangkahin dosen, siapa kamu bisa-bisanya ngebolehin dia masuk?”

Kelas yang tadinya damai-damai-tegang berubah menjadi totally-tegang. Sally yang anaknya gak pernah aneh-aneh ini kayaknya shocked berat, mungkin itu pertama kalinya dia dimarahi guru seumur hidup. Walau pun yang dimarahi Sally, yang tegang satu kelas, karena lo gak pernah tau apa yang akan terjadi kalo ngehadapin orang mood-moodan. Coba aja pacaran ama orang moody, kelar idup lo, mereka bisa ngeloncat kemana-mana kalo marah, ke tahun 200 sebelum masehi pun bisa. Sally mencoba menjawab dengan suara terbata-bata, “Ma– maaf bu.. Sally minta maaf, soalnya tadi teman lain juga ngelakuin itu ke teman yang telat…” , belom selesai si Sally ngomong, Bu Dosen langsung tambah naik pitam maksimal sampe-sampe dia bilang, “Heh kamu ini ya, saya tu cuma menenggang kamu karena KAMU ITU ANAK YATIM PIATU!!”

JLEBB…

Sally pastinya baru kali itu dihardik dengan status anak yatim piatu (secara ibunya baru meninggal), gw pun baru kali itu seumur hidup gw secara langsung menyaksikan status yatim piatu dibawa-bawa di dunia nyata, selama ini cuma di sinetron. Apalagi antara statement dan response gak nyambung banget, mirisnya lagi itu di salah satu kelas Linguistics. Sally langsung terdiam, mungkin kalo disuruh berdiri pun saat itu dia gak sanggup. Gw yang denger aja pingin nangis, apalagi dia yang ngerasain.

Terlepas dari masalah agama, agama apa pun, negara apa pun, yang namanya menghina seseorang atas sesuatu yang di luar kekuasaannya adalah salah. Yang dilakukan Ibu itu adalah salah, tapi yang lebih salah menurut gw adalah gw sendiri. I have no place to judge her kalo saat itu gw sendiri gak menegakkan apa yang gw percaya benar. Dari saat Bu Dosen mengeluarkan kata-kata itu, jantung gw berdetak kenceng banget sampe pelajaran berakhir, memikirkan apa yang harus gw lakukan, whether I should stand up for her or not, jangan lah anggep dia sebagai teman, anggep sebagai manusia aja, gak ada manusia yang pantas digituin. Gw gak tenang selama pelajaran berlangsung, yang seolah-olah gak terjadi apa-apa. Gw memikirkan harus berkata apa dan kemungkinan resiko dan konsekwensi. Teman-teman sekelas yang lain juga tidak bereaksi apa-apa, tapi sikap mereka bukan urusan gw, yang jadi masalah gw adalah apa yang tidak dan gw lakukan.

Mata gw melirik ke meja Sally, tangannya gemetar memegang pena untuk menulis. Udah tau liat hal kayak gitu, tapi gw tetep aja terlalu lama berfikir dan menghitung ketakutan yang gak masuk akal tanpa mengambil tindakan apa-apa. Duh rasanya gak nyaman banget, lo tau sesuatu yang salah terjadi, tapi lo gak ngapa-ngapain. Sampe akhirnya bel berbunyi, kelas berakhir. Sumpah gw benci banget perasaan itu, perasaan malu aja setelah itu kalo ketemu Sally. Bahkan kalo namanya muncul di halaman Facebook aja masih kebayang. Kok bisa-bisanya gw gak ngelakuin apa-apa, kok goblog banget sih Cihud… Mungkin Sally nya sendiri pun sibuk dengan kesedihannya, gak sempet lah dia memikirkan perasaan orang yang gak membantu dirinya. Tapi gwnya sendiri merasa punya beban moral. Kalo gw jadi dia, sedih emang ditinggal orang tua, dihardik yatim piatu lagi, dan lebih sedih lagi karena gak ada satu orang pun yang ngebelain lw, gak ada yang mau untuk ngebikin lw ngerasa gak sendirian. Buat apa selama ini bertahun-tahun sekelas bareng, maen bareng, ketawa bareng, tapi takut sama ancaman kekuasaan dosen yang padahal mah kalo dipikir logis, banyakan jumlah mahasiswa daripada dosen, buat apa takut, yang bayar gaji dia juga duit orang tua gw.

Sampe gw itu ngerasa jijik sama diri gw sendiri. Gw coba biarkan, siapa tau perasaan ini hilang dengan waktu. Ternyata gak hilang-hilang. Kalo aja gw tau rasanya begini, gw lebih baik dibenci dosen dan gagal kelas/ ujian. Kalo gagal kelas/ ujian, bisa ditebus, toh gw bakal lulus juga. Tapi kalo rasa sesal dan perasaan gak bangga sama diri sendiri, ya mau gimana, a moment after it’s missed, a time after it passed and a word after it’s said gak bisa diulang.

Gw jadi inget waktu gw SD dulu, ada guru yang terkenal killer banget karena hobby menampar pipi murid (anak SD lho!), gw pun pernah sekali kena tampar karena alasan–yang setelah gw gede gw fikir alasannya–adalah karena si Bapak lagi bad mood, terus gw nasib apes aja lagi lari-lari ngejer bola kasti di depan dia, yaudah deh gw kena tampar. Orang tua gw sendiri aja gak pernah main tangan ke gw. Alhasil gw jadi benci banget sama Bapak itu waktu gw kecil dan memuja guru-guru lain yang lebih baik, friendly dan gak pernah main tangan. Tapi setelah gw gede, gw baru ngerasa, justru yang lebih jahat daripada si Bapak-hobby-nampar ini adalah ya guru-guru lain yang membiarkan hal ini terjadi. Padahal gw inget waktu gw dan temen-temen gw ditampar itu di lapangan sekolah lho, ada banyak guru-guru lain yang ngeliat, tapi mereka gak melakukan apa-apa. Padahal mereka adults, punya kemampuan dan wewenang, mereka liat kok gw nangis karena sakit dan rasa malu. Dan ternyata, sekarang gw malah berubah menjadi mereka; diam gak melakukan apa-apa terhadap apa yang salah!

Seperti kata-katanya R.A. Kartini yang kurang lebih seperti ini, “Agama ku adalah naluri. Jika aku berbuat baik, naluri ku lah yang paling pertama membahagiakanku. Jika aku berbuat salah, naluri ku lah yang menghukumku, memenjarakanku.” Memang benar, gw dihukum naluri. Seringnya naluri ini membuat repot sendiri, apalagi di jaman ini. Tapi kalo sampai berhenti berfungsi, apalah kualitas hidup ini.

Gw gak bisa memperbaiki apa yang telah terjadi ke Sally dan apa yang tidak gw lakukan saat itu. Tapi gw bisa berusaha agar itu gak terulang. Lebih baik gw kehilangan orang-orang yang memilih pergi karena tidak sepaham, daripada diam membiarkan yang salah terjadi. Hal ini mudah dibilang, tapi gak mudah diamalkan terutama kalo lo dibesarkan di keluarga menengah yang hanya puas berada di tengah-tengah; takut miskin, takut kaya, takut disenangi, takut dibenci, takut ke kanan, takut ke kiri, hanya percaya untuk jadi di tengah-tengah biar aman dan tak terlihat. Tapi satu-satunya yang belum pernah meninggalkan gw sendiri adalah naluri gw, friends leave, everybody will eventually leave, so I have to please her, only her.

img_20170808_183655_103.jpg

#BeautyReview: Utama Spice Volcano Clay Mask

IMG_1094Salah satu beauty products yang aku beli di Bali Haul aku satu bulan yang lalu adalah Volcano Clay Mask dari Utama Spice ini. Sekarang aku udah re-purchased karena yang aku beli pertama kemaren udah abis karena selama pemakaian sebulan itu aku pakenya lumayan sering, sekitar 3-4 kali dalam seminggu, kadang aku pake buat badan juga, jadinya cepet abis. Nah, kalo aku sampe re-purchase, berarti barangnya menurut gw bagus, it works on me. Udah gak sabaran mau tulis review progress pemakaian aku dengan produk yang satu ini.

Utama Spice adalah brand organic beauty products Indonesia dari Bali yang udah cukup well-established dan banyak mendapatkan review positif di female daily. Produk-produknya organik, paraben free dan no animal testing. Aku sendiri merasa kalo produk-produk dari Utama Spice bisa jadi alternatif dari beauty brands luar yang harganya cukup mahal buat kantong Indonesia, seperti The Body Shop, The Face Shop dan Yves Roches. Selain clay mask, produk lain Utama Spice yang aku pakai adalah face serum, argan oil, yoga mat sprays,virgin coconut oil (VCO) dan essential oils.

IMG_1130Volcano clay mask ini ingredientsnya hanya terbuat dari 100% volcano white clay, seperti yang ditulis di bagian belakang packagingnya. Dengan harga yang cuma Rp 95.000 bisa mendapatkan 150gr clay mask yang mana itu adalah banyaaak banget, apalagi kalo kamu pemakaiannya hanya untuk bagian muka. Volcano clay mask ini bisa digunakan untuk wajah dan tubuh, makanya isinya banyak banget. Di aku sendiri, 150gr itu baru habis setelah aku pakai untuk sekitar 10x maskeran badan, dan berpuluh-puluh kali maskeran muka buat malam dan pagi hari kalo malamnya aku pake night oil (face serum dari Utama Spice), jadi aku perlu mengurangi minyak hasil semalem. Pemakaian untuk wajah hanya memerlukan 1 sendok teh dan untuk seluruh tubuh tergantung seberapa kental masker yang diinginkan.

Yang aku rasakan, muka keliatan lebih cerah (bukan putih ya, karena aku gak suka kulit putih dan gak suka pake produk yang iklan memutihkan kulit dsbg) dan di kulit aku yang tadinya berminyak atau kombinasi (tergantung gaya hidup dan makanan), minyaknya jadi berkurang. Yang paling aku suka adalah pori-pori aku yang tadinya gede jadi mengecil, black head di hidung hilang. Tapi untuk mendapatkan hasil ini, pemakaiannya harus rutin. Kalo aku lagi males, mereka bisa balik lagi. Oh ribetnya terlahir cantik pas-pasan ini!

Pemakaian clay mask sebelum ritual panjang lainnya menurut aku jadi mengoptimalkan hasil kerja produk-produk lain sesudahnya. Kadang kalo malas melanda, aku skip aja, tapi ujug-ujug jadi merasa guilty, apa sih susahnya nyediain waktu 10 menit doank buat maskeran yang toh selama maskeran 10 menit kan bukan berarti gw diam mematung, masih bisa ngelakuin hal yang lain juga, huhuhu..

Kekurangannya menurut aku cuma di bagian rempongnya, apalagi buat orang-orang yang gak suka ribet, karena pemakaian masker yang harus diracik jadi clay dulu dengan air biasa atau air mawar untuk hasil yang lebih baik. Beda dengan sheet masks yang tinggal tempel tanpa dicuci dan masker lain yang tinggal dioles. Terus juga kalo udah kering (dalam 10 menit) maskernya jadi gampang berterbangan dan bertaburan gitu, apalagi kalo maskeran sambil tiduran, wah, bantal jadi penuh putih-putih butiran masker!

Perbandingan dengan clay mask lain yang sudah pernah aku coba adalah dari Bali Alus. Menurut aku Utama Spice jauh lebih berpengaruh di aku dan lebih cepat dibentuk clay ketimbang clay mask dari Bali Alus, yang dari Bali Alus, gak bisa dibuat kental walaupun sebanyak apa pun aku tuang, selalu jadi berbentuk terlalu encer kayak susu. 

Volcano Clay Mask Utama Spice ini bisa didapatkan di situs resmi Utama Spice atau di Sociolla. Have a try, girls! 😀 

 

TouchFive Twin Marker : Alternatif Copic

IMG_1191

Seberapa penting seorang fashion designer untuk bisa gambar? Menurut gw, penting banget! Karena yang membedakan seorang designer dengan tailor adalah kemampuan untuk merancang, baik dalam ilustrasi maupun pattern making, sedangkan tailor hanya menjahit. Kalo sudah mampu menggaji orang lain, nantinya yang mengerjakan proses produksi adalah penjahit, mengikuti pola yang sudah dibuat seorang designer. Makanya menurut gw, ada 3 kemampuan wajib seorang fashion designer; pattern making, basic sewing, dan ngegambar, agar design yang kita mau bisa lebih dimengerti oleh penjahit. Gak perlu perfecto banget (kecuali kalo emang tujuannya pingin jadi fashion illustrator), yang penting gak kayak orang-orangan sawah lah gambarnya.

Jadilah gw mempelajari cara menggambar anatomi fashion, cara menggambar kain dan baju, coloring, flat sketching, dan lain-lain bermodal dari internet, maklum lah miskin. Salah satu alat yang banyak digunakan dan dikoleksi para fashion design gurus itu adalah twin markers, alias spidol dengan dua mata; broad nib dan fine nib. Sebelumnya gw hanya menggunakan watercolor pencils dan spidol faber castle biasa. Tapi kok kurang uwowow ya, mungkin karena gwnya aja yang gak berbakat, jadi harus dimodali lebih. Haha.

Merk twin marker yang ter-recommended adalah Copic, tapi harganya bikin dunia gw terbalik, jadi muram durja. Spidol aja sampe seharga handphone! Keunggulannya katanya bisa direfill, jadi punya brush seumur hidup. Gw suka gambar tapi gak sampe addicted banget, dan hanya sesuai kebutuhan gw aja, jadi gak perlu banget lah ngehedon pake spidol jutaan segala, terlalu mewah buat tangan gw yang rajin cuci piring ini. Jadilah gw cari-cari produk alternatif dari Copic, pilihannya: Finecolor dan Touch. Tapi tetep aja harganya masih terlalu Taj Mahal buat kantong gw. Disaat-saat seperti ini, gw bersyukur Tuhan menciptakan China, karena mereka selalu menciptakan produk knock-off. Salah satunya spidol TouchFive yang niatnya jadi knock-offnya produk ShinHan Touch Twin Brush Marker. Selain merk TouchFive, ada juga Touch New yang harganya sama. Dua merk tersebut bisa ditemukan di Lazada, alias Ali Expressnya Indonesia, tersedia set 30 warna, 40, 60 dan 80 warna. Yang paling mahal, 80 warna, harganya gak lebih dari Rp 700.000, tapi sayangnya duit gw juga gak cukup untuk beli yang 80 warna. Selain itu, kalo beli di Lazada gw harus nunggu sekitar 1 bulan untuk barang sampai, kalo lagi belajar gini, time is money, cuy! Gak bisa gw menyia-nyiakan 1 bulan yang berharga itu untuk menunggu di pagar rumah! Belum lagi banyak review seller yang menjual spidol beberapa sudah kering jadi gak bisa dipake. Untungnya di Instagram gw menemukan akun yang saat itu lagi jual art supplies bekas dia yang masih bagus banget kondisinya, termasuk si spidol TouchFive 60 warna dan marker paper ukuran A4 merk Canson, harga keduanya Rp. 400.000 sajooo… Hoki banget emang gw ini! Hehe. Walopun bekas, seenggaknya gw udah liat color swatch dari spidol-spidolnya jadi terjamin gak ada yang kering.

IMG_1195

Color swatch TouchFive di kertas HVS biasa

IMG_1196

Perbandingan ukuran spidol TouchFive dengan Finecolour. Bagian lancipnya dari Finecolor lebih panjang dan lancip dibanding Touchfive. Nibnya pun terasa lebih lembut. Maklum beda harga.

Set spidol ini dilengkapi dengan tas warna hitam dan gw dikasih bonus spidol color blender merk Finecolor dan pena gel warna putih sama sellernya–terpujilah wahai engkau, sis! Setelah gw coba, gw amazed sama hasilnya karena gw terbiasa pake yang murce maria. Range warnanya juga bagus untuk bikin gradasi. Oia, sebenernya dia ada varian Architecture, Animation dan Illustration, setiap varian percampuran warnanya beda-beda tergantung kebutuhan, contohnya kalo architecture mungkin gak banyak gradasi warna pink seperti varian illustration, lebih banyak warna netral. Warna swatch sama warna di label atasnya juga gak terlalu beda-beda amat lah, ada beberapa sih yang beda jauh. Di bagian kepalanya selain berwarna juga ada tulisan angka dan nama warna, jadi memudahkan untuk ngambilnya. Hasil warna setelah kering bisa berbeda sedikit tergantung kertas yang dipakai, menurut gw sih hasil lebih baik ya jelas di marker paper. Setelah kering, warna juga berbeda ketimbang saat masih basah yang lebih gelap.

IMG_1194

Perbandingan coloring dengan Touch Five dan spidol biasa merk Faber Castle. Kentara kan untuk blending color lebih baik. Gambar baju di sebelah kanan terlihat seolah-olah baju yang gw design terbuat dari jerami.

Untuk masalah percampuran warna, menurut gw sih gak bagus, tapi juga gak jelek, Warnanya masih kentara bordernya walaupun setelah dikasih color blender Finecolor. Tapi yaudah sih maklum aja namanya juga produk jelata.

IMG_1197

Beberapa gambar yang gw buat dengan TouchFive.

So far, kalo untuk kebutuhan, kemampuan dan skill gw yang segala pas-pasan ini, nothing I cant complain about these markers. Malah jadi pingin beli yang 80 warna biar puas ngegambarnya. In conclusion, produk ini recommended banget untuk orang-orang yang masih newbie dan belajar ngegambar. Nanti, kalo udah expert atau udah kaya, baru beli art suplies tingkat dewa.

It’s always been there

IMG_1176I was arranging my bookshelves when I stumbled upon my old notebooks and binders. I realised that I used to always keep two kinds of journals; diary and inspiration books. When I wanted to write about my feelings and experience, I poured in my diaries. Inspiration books are where I collaged everything that I liked from printed media, whether it’s quotes, articles, illustration, language learning, and fashion styles.

These are some inspiration books I kept since 2006. At that time internet was expensive and there’s no Pinterest, I couldn’t just pin-and-save all the inspiration I like. I was a magazine addict, I hunted old English teenage magazines because I wanted to learn English (later I found out, English teenage magazines’ content was too ‘mature’ and ‘experienced’ for an ordinary nerdy Indonesian teen like me, seriously they talked about sex and sexual identity at that age, I was like, “Ouch!! Is it porn?”)

I didn’t keep inspiration books anymore since I befriended more intensely with internet. Also after highschool I was distracted with so many silly things. Also, we often listen more to what other people say than to our selves. Now at this age, 10 years later, re-reading those books makes me realized there are some parts of me that’s always been there and haven’t changed. Yet, at some stage, I didn’t know it :

  1. I’ve always been fond of fashion; about 60% of the content is fashion collage. I cut all the looks that I like, they all have similarity, that explains my style. After learning fashion at 27 y.o, I knew that method is called Mood-boarding, that’s what fashion students and designers have to do to design a collection and to find what their styles are. Meaning I have had done it before I even know that’s a part of a curriculum in fashion design study. No wonder now I go back to what I dreamed at 16-17, to be a fashion designer.
  2. I love languages; I collected vocabs and idioms from books and movies. I always watched English movies with notebook and dictionary in my hands. I watched a movie more than once, first to follow the story, second to check the new vocabularies, third time to re-play with new knowledge I got. And not only English, I taught myself Japanese and Spanish ( I still can understand a little Japanese, but Spanish has been gone forever from my brain and muscle memory, haha!). Now, I am a big fan of illegal movie streaming, too many movies and videos to watch, I can’t waste my 6 hours for just one movie!
  3. I like writing; I created fiction, short stories and sometimes poems. But majority of my short stories dont have endings yet, I dont think it’s because I didnt know how to end them, I just hopped to other stories/ things that caught my attention.

I see I made progress in my drawing and writing, language as well. I think these fashion moodboards by far have given me more inspiration than other resources I have now, because it’s already filtered by the old me to define the future me. The present me is stealing from myself in the past. Like Austin Kleon said, “We steal from ourselves; from dreams and memories.”

IMG_1180

I drew this when I was a Japanese Manga-lover 16 y.o kid.

IMG_1190

Those on the right are from 9 years ago. The green one is the most recent, a month ago.

How about you, what have you stolen from your dreams and memories?