#BaliDiary : Organic Skincare Haul

IMG_1091

It’s been a month I didn’t made any writing on this blog karena aku pergi liburan ke Bali selama nearly 2 minggu. Banyak banget cerita yang udah numpuk pingin dibagi, well yang pertama di postingan ini adalah tentang belanjaan aku selama di Bali. Sebenernya aku udah bikin video lengkapnya di youtube channel aku, tapi siapa tau ada yang lagi gak punya kuota (hehe) jadi aku bikin review tertulisnya di sini.

Semua produk di foto itu adalah produk lokal semua dan total belanjaan aku untuk jumlah barang sebanyak itu kurang dari Rp 750.000,- doank lhoo! Murah banget kan kalo dibanding sama beli skincare luar yang belum tentu juga organik dan cocok dengan kulit dan iklim di Asia!

Aku emang suka banget belanja skincare ketimbang make-up, apalagi yang natural, karena aku juga gak pake make-up sehari-hari kecuali lip-cream dan eye-liner. Produk yang paling banyak aku pake adalah The Body Shop, tapi ya you know lah makin lama harga TBS semakin mahal dan aku lagi cari-cari produk yang bisa jadi alternatif TBS. Dan liburan ke Bali kemaren jadi surga banget buat aku karena di Bali udah banyak produk organik buatan lokal yang kualitasnya oke punya dengan harga yang jauh lebih terjangkau buat aku. Ini review jujur ya bukan perez, aku gak ada yang nyesel sama sekali dengan produk-produk di atas, apalagi setelah aku pakai selama lebih dari dua minggu saat tulisan ini dibuat. Beberapa produk udah bikin aku jatuh cinta banget jadi bakal aku bikin review khusus di postingan-postingan selanjutnya. Ini ulasan sesingkat-singkatnya, kalo mau lebih lengkap, tonton di video aku ya!

  1. Face and Body Clay Mask – Utama Spice

IMG_1094

Ini produk pertama yang aku beli, dan aku sukaaaa banget sama hasilnya di kulit aku sampe-sampe mama aku penasaran dan ikutan coba. Bentuknya bubuk tabur seperti bedak, jadi terbang-terbang waktu di buka. Pemakaiannya emang agak rempong karena harus diaduk dengan air biasa atau air mawar sampai berbentuk clay. Setelah kering di muka (dalam 10 menit), bubuknya jadi berjatohan dan terbang-terbang, kadang masuk ke mata, tapi walaupun demikian, it’s worth the effort! Cocok banget buat kulit berminyak dan kombinasi.

Kesimpulan:

(+) bahan alami, harga murah untuk jumlah yang banyak, bisa dipake buat badan dan lama banget habisnya karena banyak, justru lebih awet karena masker bubuk dibanding dengan masker cair, mengecilkan pori-pori, mengurangi jerawat dan minyak.

(-) Harus hati-hati ngebukanya karena bertaburan kemana-mana, apalagi kalo deket kipas angin pas dibuka. Wah, salju deh!

Repurchase?? YES banget

2. Virgin Coconut Oil – Utama Spice

IMG_1104

Gak perlu diragukan lagi kalo VCO banyak banget manfaatnya untuk kulit dan tubuh. Aku pakai VCO untuk massage dan body oil sebagai alternatif body lotion, juga untuk perawatan rambut atau hanya untuk buat kulit coklat aku jadi glowing kayak make tanning oil/ lotion.

(+) Banyak manfaat, ukurannya travel friendly, cepet kering di kulit tapi kilaunya gak hilang, jadi gak membuat risih karena minyak

(-) Lebih mahal dibanding dengan VCO lain yang aku pakai sebelumnya.

Repurchase? YES, karena VCO yang dari merk lain aku hanya gunakan untuk masak dan face cleanser (karena penggunaannya lebih sering, sayang kalo pake yang mahal hehe) sedangkan yang ini hanya untuk body oil.

3. Face Serum – Utama Spice

IMG_1120

Ini best-buy banget! This one deserves one special review!

(+) Dengan harga yang murah, bisa jadi alternatif aku untuk produk Drops of Youth dari TBS yang aku pake tiap malem. Regenerasi kulit dan mengencangkan kulit, bikin awet muda, harga murah dan cepet terserap kulit walau pun teksturnya oil.

(-) Buat yang sensitif sama bau, baunya mungkin bikin kamu gak nyaman.

Repurchase? YES pake banget!

4. Crystal Deodorant – Dukha to Sukha

IMG_1114

Pas baru coba dan liat hasilnya, reaksi aku: “Ya ampun kemana aja gw selama ini gak tau kalo ada produk kece kayak gini yang jadi jodoh paling oke buat ketek gw so far!”

(+) chemical free jadi gak menyebabkan ketiak hitam dan noda kuning/ putih di baju, lebih tahan lama dan tidak berbau.

(-) Harganya pricey dan gak travel friendly, harus dijaga ekstra hati-hati karena packagingnya dari kaca dan crystal deonya juga rawan pecah. Susah nyarinya, di Bali pun gak semua organic store menjual produk ini, di OL shop juga langka.

Repurchase? YES, baru kali ini ada produk deodorant yang cocok banget dan gak efek bikin hitam!

5. Lip Balm Peppermint – Utama Spice

IMG_1118

(+) Harganya murah banget dan gak bikin bibir terlalu berminyak

(-) Baunya menyengat langsung ke bibir

Repurchase? No. Karena bisa pake produk lain seperti ointment atau petroleum jelly dan jarang pake lipbalm kalo keluar rumah

6. Body Scrubs – Bali Alus

IMG_1096

Body scrub adalah jenis produk yang paling sering aku beli dan coba-coba dari berbagai merk, Body scrub dari Bali Alus ini termasuk di body scrub favorit aku peringkat kedua setelah Sari Ayu Kuning Langsat, makanya aku beli sampe tiga segala, hehe.

(+) Kualitas oke dengan harga murah banget, cepet banget mengangkat kotoran, walopun kecil hanya 50gr, tapi aku udah sering pake kok, satu kotaknya cukup untuk 4 kali luluran seluruh badan, ya lumayan lah daripada ke salon.

(-) Harus beli online karena gak semudah merk lulur Bali lainnya yang sudah banyak menjangkau daerah Sumatra Barat

Repurchase? YES!

7. Peeling Cream – Bali Alus

IMG_1103

(+) Mengangkat kotoran lebih dari exfoliating scrubs yang seringnya bikin kulit aku kering. Hasil lebih maksimal kalo dipake sebelum maskeran

(-) Ada rasa panas di kulit aku pas dipake walopun gak menyebabkan break-out sejauh ini.

Repurchase? No. Karena body scrubnya yang milk juga bisa dijadikan peeling cream kok.

8. Body Butter – Bali Alus

IMG_1100

(+) Packagingnya lucu banget dari tin can, jadi bisa dipake kalo udah habis. Harganya murah dan walaupun keliatannya kecil mungil, isinya bisa dipake lama kok, karena teksturnya lebih padat dibanding dengan body butter merk lain yang sakit kentelnya jadi cepet habis. Wanginya enak banget yang strawberry dan tidak lengket di kulit, travel friendly.

(-) Harus beli online (untuk aku 😦 )

Repurchase? Hanya kalo aku ke Bali karena aku juga pake produk lain yang lebih kerasa khasiatnya di kulit aku.

9. Spray Matras Yoga

IMG_1107

(+) Mematikan kuman-kuman di matras yoga, wanginya juga bisa buat relaksasi (bagi yang suka).

(-) Sebenernya yang aku cari bukan yang ini, tapi yang Lavender, tapi karena gak ketemu dan waktu aku mepet, jadi ya udah ambil yang ini aja.

Repurchase? No. Mau coba yang Lavender atau ngeracik sendiri dengan essential oils.

10. Peel-off Face Mask – Vienna

IMG_1110

(+) Pas dipake rasanya enak banget dan adem gitu. Bentuknya kayak slimey dan berwarna sesuai warna kemasan, sehabis dipake beda sensasinya dengan clay mask, lebih enak yang ini sih menurut aku.

(-) Pricey untuk satu kali pake dan susah nyarinya.

Repurchase? Hhhmm.. hanya kalo aku ke Bali dan kalo ketemu.

Aku juga beli essential oils dari Utama Spice dan Bali Alus, tapi belum aku coba jadi belum bisa kasih review. Review selanjutnya aku bakal bahas beberapa dari produk di atas secara terpisah karena aku suka banget sama produknya. Stay tune, girls 😀

Advertisements

Dijual: Jasa Transfer Doa dan Shalat

Di zaman yang serba online, semua barang dan jasa bisa diperjual-belikan secara online, dari mulai baju, alat olahraga, sampai tanah, mobil dan jasa seperti translation dan kelas online. Yang gak kalah heboh adalah JASA BELI DOA online dengan system pembelian online pada umumnya; pilih menu jasa doa yang diinginkan dan sesuai budget anda, transfer pembayaran dan setelah pembayaran terkonfimasi, si pedagang doa akan mendoakan anda sesuai paket doa yang anda pilih.

13697270_987673818011902_4386500682767616323_n

Hanya dijual paketan gans, ini doa, bukan kerupuk, gak bisa dibeli satuan! *Sumber Foto

Bidang perniagaan doa ini digeluti oleh seorang pria paruh baya asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Nurhadi yang kumis dan status-status facebooknya telah mencengangkan dunia maya. Pasalnya, si Pak Raden warna-warni ini membuka tarif penjualan doa dan shalat yang terpampang di foto cover akun facebooknya, doa dan shalat tidak dijual satuan, harus beli paketan. Pak Nurhadi atau yang ramai disebut dengan panggilan NurHD /:nur eij di/ oleh kalangan manusia-manusia sinis tertentu memilik lebih dari 5000 follower di facebook saat saya singgahi akunnya dan sepertinya di Pak HD mengupdate status facebook sebanyak 50x dalam sehari, kebanyakan status-statusnya berisi doa singkat bagi para pembeli, lalu beberapa persennya kata-kata mutiara a la Vicky Prasetyonisasi, dan tidak jarang juga status vulgar padahal beberapa menit sebelumnya habis bikin status doa. Mungkin berdoa membuat dia horny, ato karena berdoanya dipaksakan sesuai deadline, jadi walopun lagi horny dia tetep berdoa untuk menjunjung tinggi profesionalismenya sebagai pedagang agama.

20106255_1339758389470108_6665231790033020787_n

Profile Pic yang saat itu sedang digunakan Pak NurHD ketika saya singgahi Facebooknya. Sepertinya bapak  ini sedang terinspirasi film kartun unicorn warna-warni.  *Foto Sumber

Di profile facebooknya, Pak HD mencantumkan ‘pijat relaksasi dan pengobatan’ sebagai pekerjaannya. Meski udah dikecam dan dihina di dunia maya, sampai sekarang Pak HD is still going strong menjalankan bisnisnya. Bahkan anak-anak muda ada yang melakukan prank-call ke Pak EijDi unicorn bala-bala ini dan mengunggahnya ke youtube. Well, di negara ini, gak heran kalo yang berbau agama laku di pasaran, pantes aja gw gak kaya-kaya, abisnya gw jualan celemek dan bantal sih… bukan jualan agama kayak pak HD.

Kelihatannya, Pak Unicorn bukan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi (maaf pak kalo asumsi saya salah, jangan kutuk aku jadi unicorn juga!) jadi tingkah laku ini bisa diprediksikan. Tapi apakah cuma orang dengan dengan latar belakang seperti Pak HD yang menjual jasa transfer doa?? NO. Seorang financial consultant bernama Ahmad Gozali yang sudah mengantongi pendidikan di sebuah sekolah tinggi dengan spesialisasi akuntansi (alias STAN) dan melanjutkan pendidikan bidang Manajemen Perbankan Syariah sudah lebih dulu melakukan jasa titip doa di dunia maya pada akhir tahun 2013 lalu dengan tagar #TitipDoaBaitullah, dimana orang bisa mentransfer sejumlah uang dengan batas minimal Rp 100.000,- yang disebut sedekah (sedekah kok pake minimal sih, ngaku S2 ya pak??) agar bisa didoakan oleh beliau sendiri ketika beliau pergi ke tanah suci. Pak Gozali ini adalah salah satu dewan Pembina dan penasehat di sedekahharian.com.

titipdoabaitullah

Mungkin bagi sebagian orang yang membuat tercengang adalah karena masalah jual-beli onlinenya. Tapi apakah praktek jual-beli doa ini adalah sesuatu yang baru?? Menurut saya pribadi yang bukan lulusan bidang Manajemen Perbankan Syariah dan juga bukan unicorn, di negara ini praktek titip doa udah ada sejak dulu-dulu banget. Yang baru cuma medianya aja sekarang online.

Contohnya simplenya, kalo ada yang mau pergi haji, sering gak sih kita denger orang-orang pada minta titip doa, “Eh doain aku donk biar enteng jodoh, soalnya aku belum mampu ke tanah suci.” Sama kan? Bedanya gratis karena kenal. Lah doa kok nitip?

Di sekitaran rumah saya dulu juga ada tetangga yang di rumahnya selalu ada orang-orang yang dikumpulkan untuk berdoa untuk orang lain yang minta tolong ke Pak Ustadz itu dengan biaya sedekah sukarela. Katanya orang-orang yang berdoa ini adalah kaum dhuafa dan anak yatim yang doanya lebih afdhal. Kalo ada yang lagi pingin bersyukur atas rezeki, mereka menghubungi pak Ustadz dan ‘bersedekah’ dan minta didoakan agar rezekinya bertambah. Begitu juga kalo lagi ditimpa musibah dan kalo lagi ada sesuatu yang diinginkan. Seolah-olah baginya doanya sendiri kurang didengar, padahal ngakunya percaya kalo Tuhan Maha Mendengar. Alasan lain kenapa hal ini lebih diminati adalah karena hemat biaya jika dibandingkan dengan bikin acara doa-doa di rumah.

Keluarga besar saya sendiri pun semenjak pindah ke kampung halaman orang tua saya di Sumatra Barat, sudah 7 tahun belakangan ini selalu rutin melakukan sedekah pembagian sembako dan doa bersama setiap tahunnya, dalam setahun minimal 2 kali, pembagian sembako akbar setiap menjelang idul fitri karena biasanya jumlah penerima (dan pendoa yang dipaksakan) mencapai angka 1000 beneficiaries. Udah berapa kali saya sendiri mendebat hal ini dan menawarkan alternative jenis bantuan lain ke para mereka yang tua-tua, tapi yah apa daya kita selalu saja dianggap anak dan anak-anak. It’s their money anyway, it’s up to them what they’re gonna do with their money. But do I believe in it even though it’s done by my own family? My own parents? NO.

To be honest, for me it’s silly. Mengumpulkan orang-orang yang tidak mampu, membuat mereka menunggu sampai acara dimulai, lalu menyuruh mereka berdoa, mereka berdoa dengan tatapan kosong karena sudah lama menunggu dan mungkin mereka emang lagi gak niat berdoa karena di kepalanya ada fikiran pekerjaan mereka yang mereka tinggalkan demi pembagian sembako, dan juga mereka gak kenal untuk si nama-nama yang didoakan (lha wong kontaknya cuma setahun 3 kali). Banyak dari mereka yang saya perhatikan tidak melakukan (seolah-olah) berdoa, nah pura-pura berdoa aja gak apalagi mau beneran berdoa. Lalu membagikan sembako setelah mereka dibuat berdoa. And then what? Apa yang sebenarnya kita dapat? Apa yang sebenarnya mereka dapat? Acara seperti ini mungkin lumrah dilakukan di Indonesia, tidak hanya keluarga saya saja.

Menurut saya, hal ini terjadi mungkin karena tidak semua orang benar-benar percaya bahwa masalah doa adalah sesuatu yang personal antara ia dan Tuhannya dan bagaimana kita menginterpretasikan anjuran membantu kaum yang tidak mampu dan anak yatim karena doa mereka. Memang iya anjuran tersebut ada, tapi apa harus dilakukan dengan ngumpulin orang di rumah, disuruh berdoa, trus baru dibagiin duit/ sembako gituh? Itu cuma kebiasaan yang sudah dijadikan tradisi di suatu tempat/ negara, belum tentu mendidik. Masalah dia berdoa apa gak untuk kita setelah kita bantu, bagi saya itu adalah sesuatu yang personal antara dia sendiri dengan Tuhan, buat apa kita ikut campur dengan repot-repot mengumpulkan mereka berdoa yang ditentukan tempat dan waktunya. Kalo mau ngebantu ya ngebantu aja, gak usah pake ada garansi ‘harus didoain ya!’ segala. Lebih baik mereka mendoakan diam-diam dan lebih baik bagi kita diam-diam didoakan. Anyway, for me, when we do something good, it should be because we truly believe it’s good, not because we expect something in return. Karena hanya unicorn jadi-jadian yang pasang tariff transfer doa.

ba7393fc39046d9ed2146c3b3a5b2840--team-unicorn-unicorn-yoga

 

The Artist Is Present : How Is This Art?

Marina Abramovic. I guess this name is probably not familiar to your ears. I also hadn’t known anything about her nor her works until I stumbled upon her documentary film that traces her prolific career during the preparation of her exhibition in Moma in 2010. The exhibition itself is titled “The Artist Is Present” which is also the title of the doco. In the exhibition, the Yugoslavian-born performance artist sat for 750 hours (nearly 3 months), no talking and just staring to each visitor that kept coming and lining to be given attention, the artist’s and audience’s communication is performed without speech nor body contact, just by looking at each other’s eyes, as it’s true, eyes are the windows of the heart.

But why??? Why did she do that? I can’t even sit in the same position for 2 hours (that’s why I quit my job), and she nailed 750? And the question is, how is this art??

My question is also mentioned in the beginning of the doco, I guess that’s what most people think of in the first place, especially if we never thought deeply about art and which can be called as art. The doco doesn’t state the answers explicitly, because art is the interpretation towards it. Art explains in the way that makes people think and feel and done using techniques that can be learned.

After reading some definitions about art by respected artists and authors, I conclude (for myself) that if something can only touch the brain, but not feelings, it’s not art. If it only moves feelings but doesn’t make people think, it’s not art. And if it’s done coincidentally, no techniques, it’s not art. That’s why, being an artist is not easy. Hence, sitting and giving attention to strangers with no talking may sound easy peasy, but look deeper before you judge, it’s not easy to be done, the performer has to make preparation to train herself to be able to not only physically do it, but also to be mentally ready to focus and clear her state of mind to every new stranger, giving everyone the same clear start and be present.

Well, ask yourself, how much are you really being in the moment with the people you’re with without thinking of other things. Sometimes we forget to really enjoy the moment because our head is somewhere else, whether it’s on the laundry, Instagram feeds, the country’s economy, or the Game of Thrones’ episodes.  That’s why I like yoga because it unites the mind, body and soul, to really be present and clear the noise in my restless mind. Savasana, the sleeping position in the end of a sequence is truly the hardest asana if we really understand what it is about. As Marina herself stated, “We always project into the future or reflect in the past, but we are so little in the moment.”

quote-the-function-of-the-artist-in-a-disturbed-society-is-to-give-awareness-of-the-universe-marina-abramovic-0-8-45

For me, some of her other works are also amazing even though it put herself in potential serious dangers. Like in Rhythm 0 (1974) she invited audience to use any of 72 objects on her body in any way they desired, completely giving up control. People hate her and call her satan worshipper, whether it’s true or not it doesn’t matter for me. I always find artists make their selves ambiguous. Anyway, the artist’s beliefs and other personal stuffs should not be an issue to appreciate art. I idolise the works, not the artists, because the works remains the same while the artists may change.

I also dig in about her works with Ulay–her true love who then cheated on her **Oh man, that’s the most blunder thing in your life! One blog post cant be enough for me to talk about her works, they really make me think of deeper questions in life and about society we live in. I really hope to meet someone whether in person or online to discuss about it. Please let me know if you think there are other artist names that I should learn about, I will be happy 😀

Cute Aprons by CRAFTOPIA

cIMG_0893One of the products that I make on my online shop is the very stylish and girlish aprons. You know I love making things, especially cute things. Making apron is one of the new things I’ve tried this year since March 2017. I started my online craft shop in late 2013, but because of my job at that time, I only did pillows for 2 years because making pillows is the easiest and fastest crafts to make for me. It was going really well, like I made 80 pillows every month at the same time having a full-time day job. It made me have no life. LOL. But because of my job, I hibernated my shop for about a year or more. It’s in mid 2016 that I started to focus on my shop again. However, of course I couldn’t make a comeback with the same strategy. Also making only pillows for enough time doesn’t make me proud. I challenged myself with more complicated crafts, started with yoga bags then aprons.

The aprons that CRAFTOPIA makes are possibly too stylish and fancy to be actually worn for cooking, I know, hehe. Well I design them not for actual kitchen-related activities as the function of aprons has shifted to many ways. My shop can be called a gift shop, so my customers usually buy them for gifts for girlfriends, friends, mothers etc or for their own selves because they love cute things. My customers also range to business owners (mostly fashion boutiques and culinary business) who want to set a uniforms for their employees instead of giving the employees clothes which costs more money. With aprons, the employers do not need to think about the size nor worry if the staff quits, they don’t need to buy new clothes for future new staffs as aprons can fit all size. So the employees usually just wear t-shirts underneath the aprons.

Also, people ordered to me for special occasions like pre-wedding, bridal showers, and even arisan! I like to be part of other people’s happiness, if my crafts make people happy and their special days more special, that means more than material rewards. I myself maybe haven’t flown all over my country, but I know thousands of my products have been spread all over Indonesia.

Sewing apron is also the baby steps for me to eventually make clothes. I set the target that this year I have to able to sew clothes. Follow my creative passion on my shop’s IG account and youtube channel. And here are some of my apron designs. To shop, click here.

Have a nice day, peeps!

#Forever25

One day before my 27th birthday

Yesterday I turned 27, two years passed my favorite age and hopefully still far from death.

For me in my own world, my age has stopped counting since two years ago. I want to believe and feel–and look–like I’m forever 25 even though I haven’t been bitten (nor kissed) by a vampire.

25 for me was the best age. People said life begins at 30 or 40, I haven’t been both, for me that couldnt be true unless you’re George Clooney, who still looked like 27 in his 40s. Everybody has different favorite age, for me it’s 25 because during teenage years, even though we have the fitness vitality, we’re still emotionally unstable compared to the mid 20s.

My wake-up call in life occurred at 25, where I totally stop being socially dependent on friends or guys and have become more money-wise compared to when I first started making money. Every year, I always try to do new things in life and improve my self, I am happy that none of my 20s so far has been boring, there’s always new things that I did. But my 25 is special for me. I’ve tried many things at 25 and was not even afraid to fail as for me it’s better to fail at young age than feeling dissatisfied in old age. Also, because I was (and still am) not married yet, I had total freedom and financial asset to try and do things I wanted in order to really discover who I am and what I really want in life, I didn’t need to care nor to share, only when I wanted to (luckily, my parents and family don’t need me to help to support them). At my 25, I’ve stopped caring about others’ opinions towards me and stopped following trends. I’ve become more immune to people’s disagreements as I am the one who’s gonna live my life anyway.

By the way, I found this chart on ages we peak at everything throughout life. According to this chart, I’ve passed the peak age for female attractiveness. This hurts, haha, but hopefully it doesn’t apply to me like it doesnt apply to Taylor Swift and Avril Lavigne, seriously those women still look like the first time they appeared in show business!

And after this age, I will be supposedly in the best age for running a marathon! Haha, really? TV series marathon I think… Anyway, I’m still so excited about turning 27, because of my turning-point in my 25, 27 doesn’t feel old at all. Especially because many people still ask whether I am still in college if they first meet me. Lol! I don’t know whether I really look younger or they were just being nice. But if I do, maybe that’s because I keep believing and feeling that I’m 25. Like it or not, I’m forever 25!

25 y.o me

DIY Tutorial: Handmade Tissue Cover

thumbnail tissue

Hi everyone!

Here’s a super easy DIY project that you can try at home, palingan cuma butuh waktu 20 menit untuk membuatnya. BTW, I am making a series of sewing tutorial to decorate your living room buat persiapan lebaran nanti nih, siapa tau ada yang mau make-over ruang tamu keluarga, hehe 😀

Follow the tutorial series on my youtube channel , and for this Tissue Cover Tutorial Video, click here.

Selamat mencoba, keep calm and sew on 😀

The Most Interesting People

Don’t we all want to be interesting or at least to look interesting?

Well, the definition of ‘interesting’ is subjective. Beauty is in the eyes of the be(er)holder for sure. Some may call other people ‘interesting’ if only either they’re famous, successful, rich, or good looking. For me, what can keep me amazed with a person–who doesn’t need to be famous, could be my friend, or people I just met–is when I can see how much she/ he believes in what she/ he does.

Because, for me personally, if success or wealth is what makes people fascinating, well there are a lot of successful, wealthy people, but still some of them look boring to me. I also don’t think it’s about the kind of job one’s having. Two people can have the same job but one may look more fascinating than the other. Or in other case, a person can have the most boring job, but really, they’ve touched me in some ways.

I see the similarity that these people have, from artists, accountants, writers, pilots, teachers, even a supermarket customer service. They all believe in what the do, a musician like John Lennon who believed in what he sang and created. You can compare the sparks in his eyes when he sang or talked about his music to any other singers who sing just to sing because that’s what they have to do to be famous, who only sing what other people wrote for them. Compare writers who write because and what they believe than writers who write just to make money. Lecturers who teach because they love teaching than lecturers who are doing their job only to support their lives. These fascinating people put their souls into their works, and it shows, then touches others.

I think that’s what interests me most about other people. I love knowing people but I get bored easily if I see he/ she has no interests/ obsessions/ passions in anything. I was amazed with my colleagues in my previous job when I listened to them discussing about types of frogs for one hour. Seriously, I’ve never met people who could talk that long only about frogs and who cares about frogs that much. The topic was not my taste of course but I was amazed that I just kept listening to them. I want to be able to talk like that about something. If I cant talk that passionately about my job, then maybe what I am doing is not the right thing. If I cant talk about what I am doing that long and passionately, means my works won’t be good. Because in the end, the works won’t lie about the artist.