Bali I’m back : Yang berubah dari Canggu

Once again I’ve checked one of my 2019 goals, this time, it’s moving back to Bali!! YEAY! Tahun lalu gw sempet tinggal di Bali selama 5 bulan waktu lagi ngambil kursus fashion design, lalu gw meninggalkan Bali selama setahun dan selama setahun itu gw melalang buana di dalam dan luar negeri (my first international travels! Tiga benua sekaligus! haha!). Kalo dulu, gw di Bali hanya untuk belajar (ya I made money online juga sih) dan kalo sekarang gw kesini kerja. So, feelnya agak beda. Begitu juga dengan kalo kamu liburan di Bali yang cuma beberapa hari/ minggu ketimbang dengan beneran tinggal disini for long term. Maka itu lah section Bali Story hadir di blog gw ini, karena ternyata semenjak gw bikin tulisan tentang Bali, traffic ke blog gw naik drastis! Tandanya apa?? Berarti banyak orang Indonesia yang lagi menimbang-nimbang gimana sih rasanya pindah dan hidup di Bali (if you’re not a Balinese).

Dulu, gw tinggal di daerah Denpasar. Daerah Denpasar adalah daerah yang lokal banget dibanding daerah-daerah lainnya di Bali, you hardly find a bule there! So, harga kosannya jauh beda. Dulu pas gw tinggal di Denpasar, gw suka melalang buana ke daerah-daerah lain termasuk Canggu, dan gw rasa saat itu gw suka banget sama vibenya Canggu. Di kalangan turis domestik emang daerah Canggu ini masih belom kedengaran ya saat ini, tapi di kalangan turis internasional–apalagi kalangan travel influencers–Canggu ini kawasan wajib banget lah untuk dikunjungi!

27575703_1655869021173631_3205222870531702784_n

Love Anchor, Canggu, Bali.

Canggu mempunyai suasana yang berbeda dibanding Ubud yang terlalu spiritual atau Kuta yang terlalu party dan tourist-centric. Canggu adalah gabungan dari keduanya, dekat dengan pantai dan juga termasuk pusat studio-studio yoga keren, seperti Samadi Bali, Serenity, The Practice, Desa Seni, dll. Canggu berkembang pesat setelah bom bali yang menyerang Kuta, sama seperti Ubud. Dulu sebelum tragedi bom Bali, wisata terpusat di daerah Kuta dan Canggu dan Ubud cuma sawah-sawah aja yang banyak membentang dan belum ada cafe-cafe bertebaran seperti sekarang. Dalam 10 tahun, Canggu dan Ubud berubah pesat, bahkan bule yang udah 15 tahun tinggal di Bali pun kaget. Karena dulu mereka ke Canggu waktu Canggu/ Ubud masih desa abis, dan tiba-tiba sekarang udah jadi hips banget dan digadang-gadang menjadi the next Kuta. Harga tanah disini pun naik drastis, orang-orang mengkonversi tanah miliknya menjadi sewa atau ruko dalam sekejap.

Gw ke Canggu setelah Canggu sudah berkembang, apalagi di daerah sekitaran Echo beach. Tapi saat itu masih banyak ditemukan sawah-sawah yang berpadu padang dengan bangunan-bangunan artistik khas Canggu. Belum lagi Canggu adalah salah satu pusatnya para digital nomad, so cocok banget untuk orang seperti gw dan pekerjaan gw yang bergantung pada networking. Atas dasar itu, gw berminat, jika nanti gw balik lagi ke Bali, gw akan tinggal di Canggu.

Setelah setahun meninggalkan Bali dan menetap di daerah Canggu (at this moment), jujur gw shocked melihat perubahan Canggu! Terlalu banyak lahan yang dikonversi untuk tujuan komersil yang belum tentu bersifat jangka panjang. Dulu di sekitaran Echo beach masih banyak sawah, sekarang jumlahnya bisa gw itung pake jari! Secara ekonomi, memang perkembangan daerah Canggu ini membawa dampak yang positif karena warga lokal jadi meningkat incomenya. Dalam jangka panjang, hhhmmm… I dont know. Because these people can leave anytime they want when they think the place is not hype anymore, the one who stays with the damage will be us, the locals.

In terms of the vibe, juga ada sedikit perubahan, masih tetep laid back sih, namun sekarang agak pretentious, terlalu banyak social influencers atau Instagram-star-wannabes. Memang bener, yang bikin betah di suatu tempat adalah orang-orangnya, kalo vibe orang-orangnya udah gengges, bisa bikin tinggal disana jadi gak nyaman.

Gw udah cukup punya pengalaman di coworking space atau tinggal di Canggu, jadi gw gw bisa spot mana orang-orang yang faking to be a digital nomad padahal cuma jalan-jalan doang dan dibayarin orang tua, sama orang yang bener-bener bekerja. Orang yang beneran bekerja biasanya doesnt look fancy atau sering ke tempat-tempat yang lagi happening, beda dengan the wannabes yang gw juga heran ini orang-orang kerjanya gimana kok cuma maen-maen sama anjing dan taking and editing selfies aja. Makanya gw menjauhi daerah Batu Bolong untuk tempat tinggal, kentel banget aura pretentiousnya!

Selain dari itu, I’ve found no problem so far. And I’m just so glad that I live in Bali, nothing can really annoy me much!!

Advertisements

Tipe-Tipe Bule di Bali

Bali sebagai destinasi wisata internasional memang mengundang banyak wisatawan internasional yang biasa disebut “bule” dalam bahasa Indonesia (walau pun kadang kata ‘bule’ lebih sering dikaitkan dengan ras kaukasoid).

Bule-bule ini banyak yang udah tinggal cukup lama di Bali atau yang tamu rutin setiap tahun. Banyak alasan mereka datang ke Bali, Bali sendiri memiliki keunikan ‘vibe’ yang berbeda-beda di setiap daerahnya sehingga tipe-tipe orang yang kita temukan di Canggu akan berbeda dengan yang di Ubud, begitu juga Kuta dan Sanur dll. Walau pun sering dianggap superior oleh bangsa kita sendiri, padahal bule itu sama aja dengan kita karena mereka juga sama-sama manusia, yang baik ya baik, yang jahat ya jahat. Ada yang pinter, ada yang setengah dan ada yang ‘otak kuah kacang’ juga. Pengalaman gua tinggal di Bali membuat gw bisa mengkategorikan bule-bule itu menjadi beberapa tipe (**disusun random):

  1. Bule Ordinary Tourist

Bule yang ini hanya wisatawan biasa, tujuannya hanya berlibur dalam waktu relatif singkat, gak ada tujuan lain (misal mencari jati diri, atau investasi). Biasanya sama pasangan atau sama keluarga. Mereka gak sibuk-sibuk cari penginapan atau transportasi yang murah karena mereka cuma mau nyaman, dan mereka juga gak seberapa make time to know the locals karena mereka cuma akan disana sebentar saja. Dari cara jalannya pun mereka berbeda, karena biasanya lebih lambat karena mereka melihat-lihat sekitar dan untuk shopping souvenirs. Mereka biasanya ada di tempat-tempat wisata yang mainstream seperti Pantai Kuta, Tegalalang di Ubud etc.

2. Bule Party-Mode

Nah ini dia bule yang tujuannya mabok dan party doank (dan sex), mereka melihat Bali hanya sebagai Vegas-tanpa-cassino murah muriah. Kebanyakan berasal dari Australia, karena paling dekat dengan Indonesia, usianya kebanyakan masih dedek-dedek bule yang kerjaan di negaranya sebenernya masih entry-level, misal waiter, penjaga toko dll, tapi karena konversi dolar ke rupiah, mereka jadi bisa seneng-seneng dengan murah yang belum tentu di negaranya mereka bisa. Gak cuma dedek-dedek ababil, ada juga yang usia dewasa yang lagi mengalami puber kedua (atau gak berhenti puber) kali ya, hehe.

Destinasinya cuma night clubs and bars di daerah Seminyak. Looking for drinks, dance, drugs, and hookups. Boring buat gua mah. Bule begini nih yang sasarannya para prostitutes dan one-night-standers. Mereka gak mencari cinta, jadi kalo ketemu di Tinder dengan bule yang stay di daerah Seminyak, jangan berharap lebih, ya! Hehe.

3. Bule Kismin: Bule Backpacker, Bule Kehabisan Duit karena Gak Mau Pulang

Bule miskin atau PaHe (Paket Hemat) ada yang karena emang tujuannya backpacker dan ada juga yang karena keasikan tinggal di Bali tapi gak mau pulang-pulang, jadi lama-lama duitnya abis dongs. Kalo bule backpacker, kisminnya masih terhormat (menurut gw sih ya..) siapa tau mereka cuma mau bikin record perjalanan termurah aja, bukan berarti mereka kere. Mereka berjiwa adventurous, berbaur dengan lokal, makan-makanan lokal, dan seringnya ke tempat-tempat anti-mainstream, kayak pantai dan air terjun yang masih belum terjamah gitu. Tujuannya wisatanya lebih ke berpetualang dan mengenal kultur negara lain, walau pun kere, mereka ini punya ‘charm’ tersendiri, yah pesonanya anak Mapala gitu deh, hehe…

Sedangkan kategori bule kismin yang satunya lagi lebih mengarah ke gembel. Yang begini lebih baik dijauhin, mereka mengerti cara memanfaatkan kebaikan orang lokal dan kadang mau numpang hidup via couchsurfing dalam waktu yang relatively lama (hitungan bulan) dan selalu cari masalah kalo diminta pindah.

4. Bule Eat, Pray, Love Syndrome

Ini adalah kategori bule mencari cinta. Kesuksesan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert berdampak magis membuat para hopeless romantic ini datang ke Bali dengan tujuan mencari cinta atau mencari inspirasi, biar kayak si penulis gitu ya… Jiwa-jiwa yang insecured dan sedang mencoba membangun optimisme dan berharap menemukan sesuatu di Bali, kebanyakan sih berjiwa penulis gitu. Paling banyak ditemukan di daerah Ubud (karena si Elizabeth Gilbert perginya ke Ubud) sambil memegang pena dan notebook di meja-meja cafe, layaknya orang menunggu ditendang inspirasi. Tapi believe it or not, karena banyaknya penulis yang tinggal di Ubud, Ubud bisa dijadikan tempat yang baik bagi para penulis ini untuk networking atau belajar dari penulis senior juga!

5. Bule Hippie

Bule Hippie adalah salah satu tipe manusia yang sering ditemukan di Ubud, mereka kadang terlalu (sok) spiritual gitu sampe-sampe kalo mereka ngomong, kita jadi bingung mereka ini lagi ngomong apa ngelantur mabok. Mungkin niatnya terdengar bijak tingkat dewa, tapi malah jadi kebanyakan bullshit kadangan, haha. Seringnya mereka melakukan yoga, tapi gak cuma yoga olahraga fisik, lebih ke spiritualitas. Yang spiritual tapi masih normal juga banyak kok, bedanya kalo udah level hippie ini, udah di luar normal. Mereka gak begitu peduli dengan penampilan, terlihat seperti gembel, hobi nyeker dan kadang-kadang bau badan (entah dengan alasan spiritual macam apa).

6. Bule Pensiunan

Oma dan opa bule yang sudah pensiun dan mau menjalani masa-masa pensiunnya dengan senang-senang ke tempat-tempat eksotis di negara berkembang seperti Bali biasanya berlokasi di Sanur. Kenapa Sanur?? Karena Sanur adalah Seminyak zaman dulu, dulu Sanur adalah tempat party dan hectic, namun sekarang sudah berpindah ke Seminyak jadi Sanur lebih adem buat para elderly ini. Makanya kalo ke Sanur banyaknya bule-bule yang udah tua yang mencari ketenangan atau bule-bule yang berwisata dengan keluarga karena mungkin Kuta dinilai kurang aman buat keluarga (ya iyalah ya, kalo lakinya digodain hookers gimana coba, hehe). Mereka gak peduli dengan yoga di Ubud atau dugem di Seminyak.

7. Bule Yoga Melulu

Bule Yoga berbeda dengan bule hippie, bule yoga gak segila bule hippie. Tujuan mereka memang untuk memperdalam yoga atau sedang mengambil teacher training, jadi kerjanya yoga melulu, sehari bisa ambil 3-4 kelas, gila gak itu! Bule Yoga kebanyakan di Ubud, tapi gak menutup kemungkinan di Canggu karena dengan di Canggu juga banyak studio yoga yang oke dan karena Bule Yoga lebih fleksibel dan fun orangnya ketimbang Bule Hippie, Canggu terlalu ‘berisik’ mungkin buat bule Hippie.

8. Bule Senior

Bule Senior maksudnya bukan bule gaek, tapi bule yang udah lama tinggal di Indonesia, baik tahunan atau sudah menikah dengan orang Indonesia. Bule tipe ini sudah lebih mengerti tentang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dari yang sedikit sampai yang lancar dan tau seluk-beluk jalan di Bali. Karena bule ini udah terbiasa dengan beberapa kekurangan sifat orang Indonesia (misal ngaret), mereka jadi lebih toleran, atau malah mereka jadi ikutan ngaret. Ada yang bilang, saking santainya hidup di Bali, bule aja bisa ngaret!

9. Bule Surfer

Bule Surfer menduduki peringkat bule paling seksi menurut Madame Citra Ayu Wardani, hahaha. Mereka dengan kulit terpapar mataharinya dan hobi maen-maen sama ombak, kalo keluar ngegotong papan surfer sambil topless, dan karena olahraga surfing, dadanya biasanya keren dan ‘memanggil’ gitu deh–memanggil buat ditatap. Surfer juga biasanya orangnya asik dan easy-going, gak cuma surfer cowok, tapi juga cewek. Ada yang sudah bekerja sebagai instruktur surfing baik dengan legal dan illegal, hehe. Bule Surfer banyak ditemukan di daerah pantai, seperti Canggu, Uluwatu etc.

10. Bule Start-up/ Digital Nomad

Bali gak cuma sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai tempat kerja impian para digital nomads yang banyak berkembang di generasi millenial. Bali bisa dibilang salah satu pusat start-up di Indonesia, didukung dengan adanya coworking space Dojo dan Hubud yang masuk dalam nominasi coworking space terbaik dan community-oriented di dunia. Thank’s to YouTube yang semakin mengiklankan Bali sebagai lokasi idaman bagi para digital nomads. Banyak yang menemukan rekan kerja atau dapat kerjaan juga di Bali karena berkumpul di pusat digital nomads ini, pekerjaannya juga menarik-menarik dari content creator, programmer, marketer, designer, trader, dropshipper dll.

Tujuan mereka datang ke Bali yang paling utama adalah mencapai digital nomad lifestyle, so mereka bukan yang tipe mencari cinta, spiritual etc. Mereka punya goals dan semangat untuk maju yang kuat tapi juga tetap bisa diajak asik, karena sehabis kerja mereka nyantai ke pantai, tapi kalo lagi kerja ya serius banget. Ini tipe bule yang paling gw suka untuk gw deketin, karena semangat, kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya yang bagi gw menginspirasi. Gua jadi belajar dari mereka ternyata cara nyari duit yang anti-mainstream dan fun itu banyak asal mau kerja keras. Gaya mereka emang santai (tipikal gaya anak startup lah ya…) tapi duitnya oke punya. Namun karena mereka freelancers atau entrepreneur, mereka bukan tipe bule hura-hura, mereka saving money for what might happen in the future.

Bule StartUp bisa ditemukan di daerah Canggu dan Hubud karena dua tempat ini punya coworking yang paling keren dan paling banyak diminati. Paling keren kalo udah programmer terus juga surfer, adududuhhhh… udah lah bang, pasang harga aja, Adek beli! Hahah!

Mereka biasanya tinggal di Bali untuk durasi yang semi-permanent, hitungan bulan sampai tahunan, yah namanya juga nomads, jadi pindah-pindah.

11. Bule Money-Minded

Bule Money-Minded berbeda dengan Bule StartUp, bule ini hanya melihat Bali sebagai ladang investasi. Di otaknya cuma beli tanah atau beli properti, mereka menuntut gimana caranya biar bisa cepat dan mudah beli tanah di Indonesia tapi mereka gak peduli untuk membantu membangun Bali. Mereka cuma bisa complain dan berfikiran buruk tentang orang lokal–walau pun emang sih banyak kasusnya orang lokal yang menipu bule dan bawa lari kepemilikan tanah/ properti karena orang asing hanya bisa beli Hak Pakai untuk 50 tahun unless memakai nama orang Indonesia. Gak sedikit dari mereka yang nikahin lokal hanya untuk bisnis, kadang yang orang lokalnya gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Bukannya gw mau ngejudge ya, tapi gw gak ngerti gimana caranya bisa sayang kalo komunikasi aja gak nyambung, bukan dari masalah bahasa tapi juga dari topik pembahasan.

Bule Money-Minded ini gak peduli untuk berbaur dengan orang lokal kalau gak ada untungnya. Bule ini, ketika mereka memiliki bisnis di Bali, hanya perduli dengan harga tenaga kerja murah. Ini tipe bule yang gua gak suka, pernah di beberapa seminar ketika mereka complain ini-itu tentang Indonesia, gw debat abis. “Lo mau enaknya doank, lo dateng ke Indonesia enggak bayar visa, enggak harus tes kefasihan bahasa Indonesia, mana konversi dolar ke rupiah pula. Nah orang gua, mau bikin negara lo untung aja harus bayar berjuta-juta dulu buat tes bahasa doang. Do we complain? Kagak. Nah sampeyan segala enak, cuma ngikutin peraturan aja gak mau. Lo mau berurusan sama orang Indonesia, tapi buat belajar bahasa orang aja lo gak mau, ya itu sih namanya minta ditipu, Bro/ Mbak’e!” Mereka complain peraturan negara kita susah, woy gak ngaca apa gw ngurus visa buat masuk negara dia liburan aja susahnya minta ampun. Nah kan, jadi esmosi ini gw. Huhah!!

12. Bule Influencer

Karena keeksotisan dan ketenaran Bali, maka banyak travel vloggers atau seleb Instagram dari beberapa negara yang memasukkan Bali ke daftar wajib mereka. Kita mungkin gak kenal mereka, tapi ternyata di negara mereka sendiri mereka mempunya following yang cukup banyak, paling banyak nangkring di daerah Canggu, Seminyak dan Uluwatu. Beberapa yang pernah gw ketemuin langsung adalah Lost Le Blanc, Laura Reid dan alm. Ryker Gambler. Tapi saat itu gw gak tau mereka siapa dan kalau mereka ternyata YouTuber. Kadang tipe bule ini agak annoying sih, bukan tipe bule doank dink, maksud gw tipe manusia jenis ini in general kayaknya emang gak asik di dunia nyata, terlalu self-centered, hehe.

13. Bule Mafia dan Illegal

Bule jenis ini biasanya ngejalanin bisnis dengan cara suap dan bohong, misalnya bekerja atau memperkerjakan sesama bule dengan visa turis di Indonesia tanpa work permit etc. Hampir mirip dengan Bule Money-Minded, namun Bule Mafia/ Illegal juga termasuk orang dengan criminal record di negaranya, misal child predators dan juga orang-orang yang visanya udah habis tapi males ngurus sehingga keberadaan mereka di Indonesia jadi illegal. Gak bisa disalahin merekanya doank juga karena justru negara kita yang kenapa bisa memperbolehkan orang-orang dengan criminal record masuk dengan mudah.

14. Bule Seniman

Bali banyak mengundang hati para seniman dari berbagai negara, dari musisi, penulis, dan pelukis. Beberapa di antaranya memilih menetap dan menikah dengan orang Indonesia dan membuat museum karya-karya mereka, salah satu contohnya alm. Antonio Blanco yang memiliki museum di Ubud. Kebanyakan seniman ini tinggal di daerah Ubud.

15. Bule Heroes

Bule Heroes adalah para bule yang memiliki sifat terpuji dan patut dicontoh. Mereka bener-bener cinta dengan Bali dan Indonesia sehingga mereka banyak membantu lewat charity dan membangun organisasi relawan, dari relawan membantu anak-anak jalanan, binatang terlantar, bersihin pantai, edukasi, dll. Karena jasanya bagi masyarakat setempat, gak sedikit dari mereka yang diberikan gelar adat dari masyarakat Bali.

16. Bule Asia

Bule Asia adalah bule dari negara-negara Asia yang kurang lebih bentuk fisiknya mirip sama kita, kebanyakan berasal dari Thailand, Jepang dan Filipina. Makanya kalau gw lagi jalan-jalan di Bali sendiri, orang lokal selalu mencoba berbahasa Inggris sama gw karena gw disangkanya wisatawan asing.

17. Bule Setengah Bule

Ini adalah bule blasteran dari pernikahan campuran orang Indonesia dengan Bule. Hasil produk blasteran ini emang beda pula pesonanya. Mereka fasih berbahasa Inggris dan Indonesia ketimbang orang tuanya.

18. Bule TKA

Bule ini adalah tenaga kerja asing di Indonesia, mereka bekerja di pulau lain di Indonesia, contohnya pilot-pilot bule yang kerja di daerah-daerah atau yang kerja di perusahaan asing di kota besar lain. Biasanya mereka ke Bali karena kangen dengan western environment, ya maklum lah kita juga kalo tinggal di negara orang juga pasti bakal kangen dengan suasana Asia.

Liburan di Gili Air: Island Life!!

IMG-20180704-WA0019

Salah satu bucket list gw untuk ke Gili Air sudah tercapai di akhir tahun 2017 kemarin. (Baca post ini untuk perjalanan menyeberang ke Gili Air dari Bali). Gili Air adalah salah satu dari Kepulauan Gili yang berada di Lombok Utara. Yang duluan naik daun adalah Gili Trawangan, namun Gili Trawangan terlalu ‘party’ untuk gw yang cupu ini.

Walau pun kurang terdengar di telinga wisatawan lokal, Gili Air dan Gili Meno juga gak kalah diserbu oleh wisatawan asing, justru bisa dibilang 90%nya turis asing, mungkin saat disana gw satu-satunya turis Indonesia karena apa yang ditawarkan oleh kepulauan Gili ini bukan tipikal liburannya orang Indonesia. Kenapa?? Karena #islandlife banget, you got not much to do but relaxing. Hiburan cuma cafe and bars. Saking sedikitnya wisatawan lokal, sampe-sampe orang lokal disana gak ada yang menyangka kalau gw orang Indonesia juga, mereka selalu menyangka gw bule dan mencoba berbicara bahasa Inggris. Walau pun udah pake Bahasa Indonesia, mereka masih juga sulit percaya.

IMG-20180704-WA0016

Kesamaan dari tiga kepulauan Gili tersebut adalah adanya larangan kendaraan bermotor beroperasi demi menjaga kebersihan udara di daerah wisata tersebut. Jadi jangan harap bisa menggunakan Uber atau Gojek disini, karena kendaraan publik yang ada cuma cidomo, yang seperti delman namun menggunakan ban besar seperti ban mobil, karena untuk di daerah berpasir, ban ini lebih stable dibandingkan ban delman yang ramping pada umumnya.

Walau pun demikian, biaya berlibur di Gili Air bisa dibilang mahal untuk dompet Indonesia. Harga hotel dan makanan di cafe-cafe termasuk mahal (kalo untuk bule sih tetep aja murah). Dan tidak seperti di Bali yang masih ada pilihan range harga, range harga di Gili Air sama rata, harga bule! Mungkin juga hal ini disebabkan karena–hampir sama seperti Bali–Kepulauan Gili ini bukan daerah penghasil apa-apa, jadi satu-satunya kekuatan mereka hanya di industri pariwisata. Bahkan bawang dan cabe pun mereka harus memesan dari Lombok. Jadi bisa dibayangkan ya gimana miskinnya beberapa tahun lalu daerah ini. Namun tiba-tiba booming kecipratan Gili Trawangan yang kecipratan juga dari Lombok yang mana kecipratan dari Bali.

Ada dua opsi untuk transportasi selama di Gili, yaitu dengan menggunakan cidomo atau menyewa sepeda harian yang harganya jauh berbeda. Dengan cidomo, ke satu tujuan aja bisa sampai Rp 50ribu yang padahal jaraknya kurang dari 2 km! Tentunya gw memilih merental sepeda aja (walau pun gw udah hampir lupa cara mengendarai sepeda, terakhir kali gw naik sepeda itu waktu masih tomboy, yaitu kelas 6 SD!), bukan karena mahalnya saja tapi karena gw gak tega liat kuda-kuda itu. Sepeda-sepeda yang warna-warni ini bisa dirental dengan harga Rp 30ribu sampai Rp 50rb per hari (tergantung situ bule atau lokal, hehe).

IMG-20180704-WA0021

Namun peminjaman sepeda adanya agak jauh dari dermaga, jadi harus berjalan dulu sambil menggeret-geret koper, kalo di jalanan aspal sih mudah, nah ini jalanannya masih pasir, mau gak mau harus digotong, hiks!

Saking banyaknya turis asing, gw gak berasa di Indonesia! Namun ternyata, berhubung saat gw datang itu lagi hebohnya status Gunung Agung, jadi wisatawan yang gw lihat saat itu katanya sih hanya 20% dari biasanya, hwaks!! kebayang dong gimana kaya rayanya ini supir-supir cidomo di hari normal! Sedangkan di saat sepi begitu aja, penghasilan mereka jauh melampaui para sarjana! Hiks hiks!

Lebih baik memilih akomodasi yang dekat dengan dermaga, karena kebayang dong gimana capeknya kalo harus naik sepeda bolak-balik 6 km per hari, bisa-bisa gw tinggal tulang! Apalagi kalau mau keluar di malam hari, walau pun cafe-cafe buka sampai malam, tapi tetep aja jalan baliknya jauh dan gelap!

IMG_20171231_134552_507

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Kadang-kadang sinyal internet pun timbul-tenggelam, padahal udah memakai Telkomsel. Cafe dan restaurant yang ada di Gili Air hampir sama dekorasinya seperti yang di Bali, vibe yang relaxed dengan lagu-lagu pantai yang gak peduli dengan Top 40. Gw memilih hotel tempat gw tinggal karena disana ada studio yoga tepat di depannya, namun jauh dari dermaga dan ‘pusat kota’. Harga kelas yoga di Gili Air relatif sama dengan di Bali namun semua pengajarnya (di semua studio. cuma ada 3 studio yoga di Gili Air saat itu) bule, orang lokal sana masih belum mengerti yoga kayaknya, hehe. Gua juga mendapatkan diskon KTP, sama seperti di Bali.

Gak perlu takut susah mencari uang cash karena banyak terdapat ATM berbagai bank kok disana. Tapi gak usah belanja-belanja deh mendingan, karena semua produk diimpor dari either Bali atau Jawa, bahkan harga kaus pantai yang di Bali hanya Rp 40an disana bisa mencapai Rp 200rb! Duhh….

Anyway, the diving makes up for it! Pertama kalinya gw nyobain diving, walau pun cuma kecipak-kecipuk aja di pinggiran (karena gw gak bisa berenang. Ok please, jangan diketawain. –..–“). Gw diving hampir setiap hari, lautnya bersih dan benar-benar biru. Kebayang gimana relaxednya duduk di tepi pantai sambil dengerin podcast/ baca buku. Saat kembali ke Bali, teman-teman di Bali semakin kaget kenapa kulit gw semakin gosong setiap harinya dibanding saat pertama kali pindah. Hahaha!

IMG-20180704-WA0018

 

Menyeberang ke Gili Air dari Bali

IMG-20180704-WA0014

Sayang banget kalo lagi liburan di Pulau Bali dalam waktu yang agak lama dan gak nyempetin ke Kepulauan Gili. Kepulauan Gili ini terbagi menjadi Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Gili Trawangan mungkin lebih familiar di telinga orang banyak, namun sebenernya Gili Air dan Meno sama bagusnya kok, malah justru Gili Trawangan itu udah terlalu ‘hype’ dan party banget, kebanyakan bule-bule muda in party mode. Tapi kalo emang party yang lo cari, lebih baik ke Gili Trawangan dan cobain boat partynya.

Berbeda dengan vibe di Gili T, Gili Air lebih chill dan relax, kalo orang Indonesia mungkin jarang banget yang tipe liburannya begini, jadi gak banyak wisatawan domestik yang berkunjung ke Gili Air. Gili Air dan Gili Meno lebih ke liburannya a la bule. Hehe.

Untuk mencapai kepulauan Gili dan Lombok dari Bali, kita hanya perlu menyebrang menggunakan kapal Fery dari pelabuhan Padangbay atau Benoa. Biaya perjalanannya untuk PP adalah sekitar Rp 400ribu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari kota ke pelabuhan. Sekedar tips, jangan tertipu dengan perusahaan-perusahaan yang kamu temukan dari internet karena berharap harga yang mereka pasang di internet lebih murah, padahal ternyata enggak. Yah, namanya juga Indonesia, semua bisa ditawar. Justru kalau datang langsung dan ketemu agen-agen malah lebih dapat murah, kalo bisa minta kontaknya orang tersebut buat perjalanan selanjut-selanjutnya. Alhasil waktu lagi mengantri mendaftar tiket, ternyata masing-masing orang membayar harga yang berbeda-beda. Maklum lah, Indonesia.

Setelah membayar, kita akan mendapatkan stiker tergantung tujuan kita, ke Gili T, Air, Meno atau Lombok. Stiker tersebut dipasang di baju kita sebagai tanda pengenal. Disarankan untuk ambil kapal keberangkatan pagi karena kalau siang, mereka akan ngaret banget, maklum lah negara kita Indonesia tercinta. Dan juga kapal baru akan berangkat kalo jumlah minimu penumpang sudah tercapai, keberangkatan lewat dari jam 5 sore akan sulit sehingga mau gak mau harus menyewa fastboat sendiri yang jauh lebih mahal.

Bisa dibilang 90% wisatawannya adalah bule, saat di kapal kita bener-bener berasa di negara lain (tapi kalo di Bali mah yang begini wajar). Dulu di tahun 2009 waktu gw ke Lombok dan Trawangan dari Bali, kapalnya sih masih jelek-jelek. Yang sekarang sudah nyaman dan bersih.

Perjalanan ditempuh dari Bali ke Gili Air sekitar 1,5 jam. Pertama naik di kapal sebelum berangkat, awak kapal mengumumkan safety guide dalam bahasa Inggris yang acak-kadut, namun karena doi mengakuinya, alhasil jadi lucu dan penumpang tertawa. Selama di perjalanan kita akan melihat pemandangan sekitar yang keren banget, membuat gw teringat kembali masa-masa gw masih kerja di WWF Indonesia.

Oia, kita juga bisa naik ke atas kapal dan bersantai disana, namun gak ada kursi, jadi lesehan dengan bule-bule yang sengaja berjemur di atas kapal. Pertama, boat akan berhenti di Gili Trawangan untuk menurunkan/ menaikkan penumpang, baru setelah itu ke Gili Air yang hanya 10 menit dari Gili Trawangan.

Saat sampai di Dermaga Teluk Nara di Gili Trawangan, gw sangat amazed melihat betapa jernihnya air disana! Di pinggir pantai sudah menanti para penumpang bule yang menunggu kapalnya. Kalo Gili Trawangan yang udah hype aja masih seindah ini, maka gw jadi gak sabaran gimana kerennya Gili Air nanti!

It was such an experience! Klik disini untuk baca pengalaman liburan gw selama di Gili Air. Dan perlu diingat, kalau ke kepulauan Gili lewat jalur udara dari Bali, akan memakan waktu dan biaya yang lebih lama dan mahal lagi karena ada biaya taksi bandara-pelabuhan dan public speedboat dengan kisaran harga Rp 75ribu s/d Rp 250ribu, tergantung jumlah penumpang.

IMG-20180704-WA0013

#BaliDiary: Yang Dikangenin dari Bali

Gak kerasa ternyata udah tiga bulan lebih meninggalkan Bali semenjak bulan Maret lalu. Gw stay di Bali selama kur-leb 6 bulan (baca pengalaman gw di Bali di sini), bisa dibilang waktu yang panjang tapi juga pendek. Pendek tapi juga panjang.

Enam bulan emang bukan waktu yang singkat, tapi di Bali selama 6 bulan itu terasa pendeek banget karena Bali adalah satu-satunya daerah yang “Cihud Banget!”, so gw sangat menikmati pengalaman gw di Bali. Namun walau pun hanya enam bulan, pengalaman yang gw dapet selama disana berasa panjaaang banget, entah karena gw anaknya yang pecicilan, jadi gw benar-benar memaksimalkan waktu gw disana buat ketemu orang-orang dan mendatangi tempat-tempat yang gw jarang bisa temuin.

Gw bukan tipe anak yang hobby party atau ngegehol gak jelas, atau orang-orang yang ke Bali cuma buat vlogging Youtube biar kayak selebgram. Keseharian gw di Bali, selain kursus gw saat itu, adalah mendatangi event-event keren gratisan seperti seminar, free trainings, coworking space, event seni, networking dengan lokal dan bule yang ngejalanin bisnis di sana atau sekedar turis tahunan, kelas yoga dan meditasi, ke pantai (hampir 3 x seminggu!) dan yaah… tipe aktivitas-aktivitas seperti ini lah ya… gw emang bukan tipikal turis lokal yang ke Bali, kebanyakan orang Indonesia yang ke Bali ngumpulnya di Seminyak dan musti partaayy hard gitu deh, kadang gw gak ngerti juga sih, kalo mau party mah ngapain di Bali yang gak ada apa-apanya kalo dibanding Jakarta. Bali menurut gw lebih cocok jadi tempat rileksasi ketimbang destinasi dugem atau ‘nakal-nakalan’, hihi.

Bali memang terkenal dengan keindahan alamnya, terutama pantai dan keunikan tradisinya. Tapi menurut gw sih, Indonesia mah kemana-mana juga indah, kemana-mana juga unik. Pantai yang seindah di Bali juga banyak kok di kampung orang tua gw di Sumatra Barat. Terasiring sawah seperti di Tegalalang atau Canggu?? Bah… apalagi itu, bejibun! Pekerjaan gw dulu di WWF Indonesia membuat gw udah jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, terutama daerah-daerah marginal, so menurut gw kekayaan alam yang Bali punya, menangnya di advertising menteri pariwisata Indonesia jaman Soeharto dulu, hehe.

14470

Emang iya gw sering banget ke pantai waktu di Bali dulu. Tapi yang gw kangenin banget dari Bali itu bukan pantainya, bukan wisata alamnya, bukan cafe-cafe kerennya… melainkan vibe alias energinya. (Wah udah maen energi segala nih pembahasan gw!)

Vibe yang gw dapetin di Bali itu beda banget sama yang gw rasain di kota-kota lain di Indonesia yang udah gw singgahi. Vibe ini emang sesuatu yang gak berwujud fisik, tapi bisa dirasakan. Kan kita bisa ngerasain daerah mana yang bikin kita ngerasa nyaman, sangat nyaman, kurang nyaman atau hampir gila. Vibe suatu daerah diciptakan bukan hanya dari kondisi alam, cuaca, tapi juga orang-orang di dalamnya. Katanya sih, “People don’t choose Bali, it’s Bali that chooses people”. Well, mungkin emang benar, orang-orang yang ke Bali memang berbeda-beda, tujuan yang berbeda-beda, tapi punya kesamaan yang sulit diungkapkan namun bisa dirasakan. Kita bisa tau, “Ni orang Bali banget nih…” atau “Lo ini cocoknya tinggal di Bali.” Gw salah satu di antaranya, bisa dilihat lah ya dari tulisan-tulisan di blog gw ini, pola fikir gw, atau sekedar foto-foto gw di Instagram, susah diprediksi kalo gw punya darah Sumatra Barat alias Minang. Hehe…

Kalo orang bule yang ke Bali, well mereka punya alasan lain selain vibe, yaitu alasan ekonomi. Karena bagi mereka hidup di Bali itu murah banget dan mereka bisa dapat fasilitas kelas atas yang sulit mereka dapatkan di negaranya. Tapi kalo ada orang Indonesia yang ke Bali, yang gw temuin sih, jiwa-jiwanya ya mirip-mirip gw lah… So, kita bisa ngerasain ada kesamaan walau pun hanya kenal dari ngobrol 20 menit.

Berdasarkan pengamatan tidak profesional gw sih, orang Indonesia yang bukan asli Bali dan pindah ke Bali, bisa dikelompokkan menjadi dua tipe berdasarkan pekerjaan dan latar belakang pendidikan. Kelompok pertama adalah karena alasan ekonomi dari daerah asalnya yang sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Mereka biasanya memiliki pekerjaan entry level atau pedagang kaki lima di Bali, kebanyakan berasal dari daerah-daerah seperti Sumba, NTT, Jawa, dll.

Kelompok kedua, memiliki latar belakang pendidikan yang lebih tinggi seperti tingkat universitas atau SMA/K atau punya pengalaman kerja di daerah sebelumnya. Biasanya memiliki minat dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan seni/ kreatifitas, seperti musisi, penulis, designer, tattoo artist, makeup artist, dll. Orang-orang dari kelompok yang kedua ini biasanya punya jiwa yang bebas atau rasa kecewa dengan daerah-daerah sebelumnya. Mereka-mereka yang punya kepribadian yang bentrok dengan norma-norma di daerah sebelumnya, yang gerah dengan apa yang dianggap normal di daerah tersebut namun bagi mereka itu gak normal. Biasanya sih gak terlalu ambisius dengan kesuksesan materi, tapi juga gak mau hidup kere-kere banget. Maksudnya, semangat kerja tapi kerjanya gak mau ngoyo banget sampe gak bisa dinikmatin hasilnya.

Salah banget orang-orang yang mikir kalo Bali itu ‘daerah nakal’ karena terkesan bebas. Seriously, kalo gw mah, ke Bali itu nyari tenang, bukan nyari nakal. Kalo mau nakal mah ngapain jauh-jauh ke Bali, dimana aja nakal bisa dicari di daerah paling religius sekali pun, tapi TENANG itu susah didapetin. Mereka yang masih berpikiran negative begitu kemungkinan adalah orang-orang yang:

  1. Belom pernah tinggal di Bali,
  2. Belom pernah nakal. (Well, persepsi ‘nakal’ tiap orang berbeda-beda.)

Kerasa banget bedanya setelah lama di Bali dan gw maen ke Jakarta, baru keluar bandara aja langsung energi negatif bermunculan. Spanduk-spanduk politis yang rasis, macetnya dan apalagi gw merasa awkward pas masuk pusat perbelanjaan seeing people trying to be someone they’re not even though it hurts. Their makeup was as thick as their heels, not to forget hair extension and faux designers stuffs. That is…. rare to find in Bali. Spanduk-spanduk yang hampir mirip juga gw temukan saat balik ke Sumatra (apalagi yang super konservatif), terlebih dengan embel-embel agama. Belum lagi dengan generalisasi kepercayaan dan pengaplikasiannya.

Gw gak bilang itu buruk, selama itu dan tinggal di daerah seperti itu membuat lo senang dan nyaman, then go for it, you do you. But if you feel like you found similarities with my views and you happen to read this, then you know what I mean and you’ll love Bali for sure. We all have places where our souls belong to, we just need to find where it is, a place that can feed us financially, emotionally, spiritually, and intellectually.

14469

 

Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Co-working Spaces in Bali

Millennials have brought a new style in work habits in which we prefer to be able to still make money from anywhere we want. Bali as the holiday destination is also in the digital nomads’ travel lists where they want to travel yet still be productive.

Co-working space is basically you’re renting a desk instead of a whole room or building as a place where you go to be more productive even when you’re working freelance or on your own stuffs. Maybe this sounds a bit strange, why would you leave your job to later spend money just to go to an office? Well, for many people, we can be more productive and motivated when we’re surrounded with people with the same working ambience, while at home or a nice cafe, we tend to procrastinate.

To be honest, I didn’t know about this concept until August 2017 when I came to Bali. I was totally amazed by this idea, also the fact that most co-working spaces in Bali have communities and interesting programs that help you to network or improve your knowledge in other fields. Here are some co-working spaces that I’d been to during my stay in Bali from October 2017 to March 2018. These places are located in different parts of Bali, if you don’t know, one good thing and very unique about Bali is that every area has different vibe and different characteristics of people. Say, Ubud is more like the meditation and yoga center, Kuta is for party animals, Sanur is where the oldies go to, Canggu is creative and relaxed.

  1. Kumpul Coworking

Kumpul is located in Sanur and shares the building with a creative house Rumah Sanur, a cafe and coffee shop, then a shop. Equipped with a good internet connection and office equipments (printer, fotocopy, skype rooms, lockers, infocus etc), it has a well-balanced proportion of members between locals and foreigners. Faye Alund, the founder, is also an amazing woman who likes to share and help women and communities as I’ve attended some events for women entrepreneurs that she held. It collaborates with Google and became the place where Google’s Gapura Digital initiative took place. Various membership package starts from Rp 30.000,- (USD 2.2) for hourly drop in, one day visit Rp 200.000 (USD 15) , weekly and monthly packages for 20 and 40 hours, and unlimited monthly and weekly. There’s discount for Indonesians too. However, I didn’t register myself here because lately there have been less events and people, also I’m not a Sanur people.

*Photo source: Kumpul’s IG

2. The Night Market Cafe and Coworking

It’s located about 5-7 km from Seminyak, I don’t really know what the owner’s concept of the place is. The building is nice, the cafe is also good and cheap, but for a coworking place, the music is too loud and there’s no office equipments nor community like other coworkings. But it rents out meeting rooms also with good internet connection, with electricity socket almost in every table. There’s no border between the cafe and coworking, so you can be in the same room with lovey-dovey couples, families, etc while you’re working. There’s no membership fee either, you just need to buy the food. It doesn’t open 24 hrs, and I don’t recommend coming at after 16.00 as the cafe starts to get busy.

**Photo source: The Night Market’s Instagram

3. Genius Cafe and Coworking Sanur

28276860_10213665110653658_4367410962601371589_n

with my besties, Jennifer and Gaby on my last day.

Even though Sanur is not my fave in Bali, but I came to Sanur Beach almost every week for the free talks that the place holds every week. Every day it has regular free events, and my fave was the talks where people who are already experts in their own field can register themselves to host a talk, mostly business coach. During the talks, they give 50% discount on food and drinks for Indonesians and Genius members. Although it also doesn’t have office equipments, skype rooms and indoor rooms, it has a very nice community with very positive vibe. The staffs are very friendly, they remember our names. I met some good people here where I’ve learned a lot from, including Dee, the owner and founder of the place. She’s a Rusian woman with a love for Bali and dedication to women empowerment. When I visit Bali again, Genius cafe is in my must-visit list for sure, I miss the people already! Check out its price here.

4. Hubud

Hubud is the first co-working space in Bali, one of the two coworkings in Ubud. Hubud is for me one of the best, it is designed with an open space concept, surrounded by gardens, and equipped with amenities such as fast internet, a printer, a scanner, a copier, and a seminar room. Located near The Monkey Forest, next to Habitat Cafe. The people in Hubud are fun, also every week they hold regular events and most of them are free. Too bad I’m not an Ubud person, but would like to visit Hubud again in my next Bali visit.

Check out its price here.

5. Dojo

Dojo is the winner, it’s my fave coworking space, also because I’m more of a Canggu person. Well, you’ll know what I mean if you’ve been to Bali. Dojo has the coolest office place because it has a pool! Yess, you can work by the pool on bean bags and if you’re lucky, hot guys usually jump into the pool, what a distraction you wish you have in your office, right? It opens 24 hours and offers you a night worker membership for you who work like an owl (read: at night). The coolest thing about Dojo is the vibe that you get from the people there, every week they hold free talks for members and public, Dojo also provides events where start-ups can meet up and network. Some successful youtubers and vloggers did talks here, I was lucky to get knowledge from them. It also has regular photography meetings. Btw, in Canggu and Ubud, people are either barefoot or in flip-flops, and when you enter the coworking space, you leave your flip-flops outside and work barefoot. Also, there’s no AC in Dojo, unless in the meeting rooms.

Check out its gallery, price and events here.

Actually, I made a youtube video on this topic, I didn’t take pics, hence I’m using photos from their own IG accounts. But if you wanna see a tour of the coworking spaces, please kindly watch my vid 😀

Happy nomad life, everyone!