A Video to A Celebrity I Despise (UYA KUYA) – Writing Challenge #5

He’s not a drug dealer, nor a corruptor, politician, assassin, rapist, terrorist, bomber, or any bad profession you can think of.

He’s a father of two and a husband. But that doesn’t make him innocent. He’s a criminal too.

By feeding non-sense to people, especially the poor through stupid TV programs that he creates. He has gained wealth more than he and family needs, but he doesn’t stop. Giving fake hopes and playing with people’s dreams, and he self-proclaims his self a king. King of what? King of bullshit??

3239d0c2c85f46920bde5514959d95de

Here’s a video for you.

May you rot in hell.

A Video to the Leader of My Country – 30 Day Writing Challenge#4

 

I choose to make my own rules about the 30 day writing challenge, because I am a bit moody. LOL. So I choose topics randomly rather than in order.

This time I choose a letter to the leader of my country but instead of making it in writing, I did a video on my youtube channel!

Yesterday, we just had the Jakarta regional election, and it’s been overwhelming. I don’t have right to vote to participate in the election as I am not a Jakarta resident. But this is the first time an election gives me hopes and heartbreak. I really believe in this media darling-to-hate, Basuki Tjahaja Purnama, he has the principles that I believe in. So, when the result stated that he didn’t win, I felt a great disappointment too.

If you’re Indonesian, you must know that Indonesia is now divided into two, pro-Ahok and pro-Muslim. No matter how much they deny it’s about religion, it’s about religion and using religion and race as the main weapons.

Anyway, we should all take the result, it happened already. You cant force to change it. I still hope the elected governor and vice governor of Jakarta can be much better than Ahok, because they have to. No regression is tolerated. Make people who believe in you proud, and make us who look down on you bow!

Watch the video HERE.

Diary Masa (terlalu) Muda

IMG_9969Dari pertama kali bisa menulis, gw udah mulai menulis diary (yang akhirnya keterusan sampe ke jaman internet ini). Foto di atas adalah foto diary pertama gw yang gw tulis dari umur 6 – 10 tahun. Buku diary gambar Little Bob Dog ini lagi nge-hits banget saat itu. Terus di kelas 4 SD, semua anak SD yang gw kenal terjangkit virus biodata, yaitu tuker-tukeran biodata lengkap dengan data makanan favorit dan pantun-pantunan. Entah lah ya anak SD jaman sekarang ngerasaain ini apa enggak, mungkin mereka gak tau apa itu diary, taunya Snapchat dan Live IG.

Waktu umur 10 tahun, gw memergoki nyokap gw yang lagi baca buku diary gw tanpa izin. Dari kecil kayaknya gw udah menjunjung tinggi konsep privasi jadi saat itu gw marah besar dan berjanji gak mau nulis diary lagi setelah insiden pelanggaran privacy oleh ibu kandung tsb. Ternyata gw gak tahan kalo gak nulis, jadi gw ganti strategi menulis. I didn’t want to keep it, jadi setelah habis nulis, kertasnya gw sobek-sobek, sampe-sampe gw kena marah juga karena kerjaannya buang-buang kertas. Ternyata nyokap gw lebih menghargai kertas daripada privasi dan kepercayaan anaknya. Sedih.

Tahun lalu gw gak sengaja nemuin diary pertama gw ini. Dulu, rasanya diary gw ini adalah top secret dan harus dijaga karena isinya penting banget. Setelah gw baca 20 tahun kemudian, gw merasakan gedubrag moment karena waktu SD dulu mungkin gw delutional. Siapa juga yang mau maling diary anak SD begini sih yang isinya cuma agenda maen ke rumah si Ewin tetangga sebelah rumah.

Anyway, diary gw ini memberikan gw fakta-fakta tentang masa kecil gw yang baru gw sadari sekarang. Ini beberapa di antaranya:

Bahkan dari umur 6 tahun pun gw udah tau kalo buku yang baik itu harus punya intro.

IMG_9972

Ternyata gw pernah jadi anak penurut, demi Mama, gw rela cuci otak. Kandas cita-cita gw show bareng Agnes Monica Tralalal Trilili.

diary 1

Dari umur 6 tahun ternyata gw adalah seorang cerpenis alias penulis cerita pendek. Bukan hanya pendek, tapi super pendek! Mungkin saat itu gw terinspirasi oleh karya 6 katanya Hemingway!

IMG_9977

Bukan hanya cerpen, tapi juga puisi dengan berbagai macam tema, dari tema kesepian sampe nasionalis. Kalo aja bakat puisi kesepian ini diasah, mungkin gw udah jadi kayak Adele.

IMG_9983

IMG_9982

Kadang tulisan gw juga kayak orang yang mengidap masalah kejiwaan karena semua benda mati gw anggap hidup dan seolah-olah mereka temen ngobrol gw yang bernyawa, gw suka ngomong sama robot-robotan, mobil-mobilan, lego, sampe diary.

IMG_9980IMG_9979

Kalo aja dulu udah ada vlog, begini lah kira-kira konten daily vlog gw:

Juga ada perseteruan sengit antara gw dan kakak gw. Nasib seorang adik yang ‘disiksa’ kakaknya yang tidak tahu terimakasih.

IMG_9986IMG_9985

Ketika sedang bahagia, gw anaknya tidak suka pamer karena kata ibu guru PPKn, pamer itu sifat yang tidak baik. Sebagai anak yang selalu dapet rangking baik (hanya sekali terjun bebas karena kecelakaan mobil), gw tidak boleh memiliki sifat yang tidak baik. Rakus boleh, pamer jangan.

Terakhir, entah kenapa ini favorit gw. IMG_9993

Moving to West Sumatra for Beginners – Tentang Bahasa

photo

Tulisan ini buat kalian yang akan atau baru aja pindah menetap sementara atau permanen ke provinsi Sumatera Barat berdasarkan pengalaman gw sendiri. Bisa jadi karena alasan ikut suami, kuliah, pindah kerja atau orang tua pindah, dll. Terutama kalau kalian sebelumnya tinggal di daerah lain yang menjadi pusat transmigrasi, seperti tempat gw dulu; Bandar Lampung. Walau pun sama-sama berada di Pulau Sumatera, tapi culture shocknya berasa banget!

Kalo bicara tentang Sumatra Barat, pasti yang dibilang alamnya indah, kota wisata, dll. Tapi informasi semacam itu cuma lo butuhin kalo lo mau jalan-jalan, sedangkan gak mungkin kan hidup lw jalan-jalan ke Jam Gadang mulu? What I write is something people don’t tell you about what it’s like living here, karena waktu gw pindah dulu, gak ada yang kasih tau gw tentang hal ini, akhirnya gw jadi clueless dari masalah bahasa, cara berpakaian, sampe cara becanda pun gw gak ngerti.

Karena ini topic yang luas, jadi gw akan bagi di beberapa post. Di postingan ini gw hanya akan khusus membahas tentang bahasa.

Sebelumnya, gw jelasin secara singkat dulu asal muasal gw. Mungkin ada kalian yang backgroundnya kurang lebih mirip sama gw. Kedua orang tua gw berasal dari Sumatera Barat, tapi mereka udah tinggal di rantau selama berpuluh-puluh tahun. Gw lahir di Lampung dan waktu umur 17 tahun gw pindah ke Sumatera Barat. Lima tahun gw tinggal di Sumatera Barat (SMA kelas 3 dan kuliah 4 tahun), terus gw ninggalin lagi selama 5 tahun, dan sekarang gw balik lagi karena adanya negosiasi dengan orang tua. Sebelum pindah di umur 17 tahun, gw jarang banget pulang ke Sumbar, palingan cuma lebaran, itu pun 3 tahun sekali. Dan walo pun orang tua gw berasal dari Sumbar, tapi gw dan kakak gw gak pernah diajarkan bahasa Minang kecuali “Ciek, duo, tigo”. Orang tua dan tante-om gw kebanyakan di rantau lain, jadi kami semua gak pernah berbahasa Minang. Singkatnya, keluarga gw dulu adalah “Minang KTP”, walopun di KTP gak disebutin juga sih suku mah… Walopun pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, bahasa Minang gw tetep broken Minang, hehe…

PENTING: Karena tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman gw sendiri, jadi potensi subjektivitasnya tinggi, bisa jadi orang lain gak merasakannya, jadi gak bisa dijadikan acuan ya… Gw hanya ingin berbagi pengalaman. Mohon bijak dan gak sensipe. If you’re easily offended, please close the tab immediately because I’m not gonna sugar-coat this, karena toh gw bukan duta pariwisata ini, it’s not my job. If you love yourself, you’ll criticize yourself to be better. If you love your people, you’ll do the same.

Bahasa

Yang paling kerasa banget adalah masalah bahasa. I grew up in place where we speak in Bahasa Indonesia instead of local language, secara Bandar Lampung adalah korban program transmigrasi jaman orde baru, jadi kalo semua pake bahasa daerah masing-masing, bisa berabe dong. Di Sumbar, they speak mostly in Minang language, even in English class! Terutama di luar Padang, ibukota Sumbar. Ada pandangan bahwa kalo ngomong pake bahasa Indonesia itu belagu, nah bayangin apa lagi kalo lo ngomong pake bahasa Inggris! **gw kuliah di Sastra Inggris UNAND, jadi gw tau pandangan mereka ke bahasa non-minang gimana, yang gw juga gak ngerti, if you hate English that much, why did you choose English Department? Kenapa gak milih Sastra Minang aja? Apalagi kalo kelasnya non-reguler, duh gak ngerti hamba!

Tapi teman-teman gw mengerti situasi gw, jadi kalo ngomong sama gw, mereka pake bahasa Minang yang di-Indonesia-kan, tapi kalo ke temen lain, mereka pake bahasa Minang.

Pertama-tama, gw sempet takjub dengan bahasa Minang dan pingin banget belajar. Tapi gw ini manusia loh, bukan Google Translate, jadi kan pasti butuh waktu dan proses.

Gak semua orang bakal mencoba mengerti ato mengajari lw. Waktu minggu pertama gw pindah ke Sumbar, di Payakumbuh, saat gw mencoba berbaur dalam pembicaraan, seorang teman bilang, “Citra, dima awak?”. Karena gw gak ngerti maksudnya, gw jawab, “Di Kelas.” Teman lainnya menimpali dalam bahasa Indonesia yang ke-Minang-minang-an yang artinya kurang lebih “Mana ada orang Minang yang gak bisa bahasa Minang, 100 tahun pun di rantau pasti tetap berbahasa Minang.” Zonk! Padahal kan yang tinggal di Lampung gw, bukan diye! Begitunya gw coba-coba pake bahasa Minang, dibilang gw sok imut, imutnya dari mana uni??? Pake bahasa Indonesia gw salah, bahasa Minang juga salah. Sampe-sampe gw dicarutin (meaning: bahasa kasar) di depan umum. Oh yeah, these people really know how to motivate others to learn the culture. Satu bulan kemudian gw demo minta pindah ke orang tua gw, I hoped Padang was better. It was, walopun gak totally toleran juga sih.

Walo pun lw bakal ketemu orang-orang yang akan mengerti situasi lw, bahasa Minang tetep penting untuk dipelajari juga, at least Minang for survival lah, contohnya buat nawar barang. Karena beda bahasa, beda harga, dan perbedaannya itu sungguh tega banget! Buktikan sendiri di Pasar Atas Bukittinggi, dari semua pasar di Sumbar yang pernah gw datengin, menurut gw itu pasar yang naro harganya paling bikin pingin ngeyek.

Masalah bahasa, ada juga pengalaman dari sodara gw yang waktu itu pindah sekolah dari Pekanbaru ke Payakumbuh, dia masih kelas 2 SMA saat itu dan dia lagi insecure masa pubertas gitu deh… terus dia curhat ke gw karena teman-temannya bilang kalo dia gak bisa bahasa Minang, dia gak bakal punya cowok, karena cowok-cowok gak suka cewek yang gak bisa bahasa Minang. Dia sedih banget sampe berkaca-kaca, membuat gw yang dicurhatin pingin ngakak tapi gak tega. Sebagai senior yang duluan pindah ke Sumbar, gw udah kenyang deh digituin juga mah, tapi gw telat puber, jadi gw gak merasa tertekan seperti dia. Waktu dikasih tau tentang hal serupa ke gw oleh seorang cowok Minang, dengan polosnya gw jawab, “Ya gak papa sih, namanya orang kan punya tipe, itu hak. Cihud juga gak mau kok sama cowok yang gak bisa bahasa Inggris.” Jawaban gw tersebut entah kenapa sukses membuat gw jadi public enemy. Padahal kan sama-sama mengeluarkan pendapat ya, cuma beda objek, tapi reaksinya kok berbeda. Emang nasib.

Dan walo pun bahasa yang dominan digunakan adalah bahasa Minang, bukan berarti bahasa Indonesia dan bahasa asing jadi gak berguna. Mereka tetep berguna ketika lw lagi gak niat ngomong sama orang tapi lw lupa bawa headset. Untuk menghindari pembicaraan basa-basi yang lebih jauh, pakai lah bahasa Indonesia, ato Inggris kalo mau kode yang lebih keras. Sejauh ini sih berfungsi di gw. For them, responding in bahasa Indonesia all the time is such a turn-off. Yah toh kan gak semua orang penting diajak ngomong kan, apalagi kalo basa-basi nya terlalu menjurus ke urusan pribadi.

Walopun gw pernah 5 tahun tinggal di Sumbar, tapi bahasa Minang gw masih aja kacau balau. Kalo untuk ngobrol pendek sih ok, tapi kalo udah ngobrol panjang ato adu argument, walopun gw ngerti sebagian besar maknanya, tapi belibet ngomongnya. Mungkin karena setelah meninggalkan Sumbar, gw gak pernah mempraktekkan lagi dan juga karena gw punya beberapa trauma masalah pembelajaran bahasa minang gw yang membuat gw ogah-ogahan.

Belajar itu kan masalah ketertarikan. Gw belajar bahasa Jepang otodidak dari buku dan internet lebih cepet dari pada gw belajar bahasa Minang yang sangat dekat dengan kehidupan gw saat itu.

Sebenernya, bukan bahasanya yang rumit. Justru bahasanya itu bagus, puitis dan romantis, banyak peribahasa yang dipake dalam bahasa sehari-hari. Yang gak mungkin banget gw temuin di Lampung, mana ada orang Lampung ngomong pake peribahasa segala. Justru gw excited banget di awal, sampe-sampe gw nyanyi lagu-lagu Minang terus buat belajar, dari ‘Kampuang nan Jauah di Mato’ sampai lagu Elly Kasim. Dan kemudian baru seminggu aja ternyata kenyataan gak seindah dan seramah ekspektasi gw. Yang bikin rumit itu adalah sikap dan pandangan yang buruk terhadap sesuatu yang berbeda, jadi mematahkan semangat gw banget. Gw sering dibandingkan dengan orang-orang yang orang tuanya keturunan non-Minang tapi dari lahirnya di Sumbar, “Masa mereka yang bukan orang Minang aja bisa sedangkan Cihud yang asli Payakumbuah gak bisa?”. Pertama, that’s not an apple-to-apple comparison dan kedua, kalo gw mau shallow juga, Hellooww… sampeyan juga kan orang asli Indonesia, masa gak bisa bahasa Indonesia?? **gw pernah ngomong hal ini ke orang yang jauh lebih tua dari gw, sehingga itu om jadi shocked dan bilang, “Ondeh, agak ba lain anak Ni Len mah…” Dan ketiga, buat gw pribadi, cuma karena seseorang terlahir sipit, kulit putih dan memilih agama berbeda, bukan berarti dia less than anybody else sehingga dikeluarkan. Kalo mereka berbicara dalam bahasa yang sama, sama-sama bayar pajak, sama-sama gotong royong bersihin kota, sama-sama cinta dengan daerah tsb, bedanya dimana?

Anyway, yang bisa dipetik dari pengalaman gw ini adalah bahwa kalo lw mau belajar bahasa Minang ato pun belajar apa pun, lw harus bisa mengontrol ketenangan pikiran lw dan kuat mental walo pun dikatain. Because you can’t really do much about how people will do to you, but you’re in control of how you react to it. Sikap gw yang menutup diri di 5 tahun yang lalu itu gak bagus banget. Karena apa jadinya nanti kalo gw tinggal di tempat lain atau luar negeri. I can speak English well tapi bukan berarti gw menguasai sense of English di setiap negara kan, terus apa jadinya kalo ada yang menghina bahasa Inggris gw dan gw sakit hati terus trauma?? Masa iya mau pulkam tanpa bawa ilmu? Ato hanya berbaur dengan sesama Indonesia aja padahal di luar negeri? Pengalaman gw di bahasa Minang ini membuat gw mengerti kenapa banyak mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri tapi pas pulang tetep gak bisa bahasa Inggris.

Jadi, sekarang gw lebih open minded dan kuat mental, kalo ketemu orang yang sifatnya tertutup, bukan berarti semua orang Minang seperti itu. Dan gw gak harus ikutan tertutup juga. Ya tinggal tinggalin aja dan cari temen yang lain. Dengan begitu lw bisa liat kalo sebenernya there’s a beauty in this culture.

Happiness according to My Mother

img_9992

I’m turning my sweet Muslim mother into a badass.

The cover pic above is my mom holding the embroidery hoop art that she stitched following the design that I made. She did a good job, didn’t she? But does she understand anything about it, the middle finger or the text? NOPE. Nothing but the green leaves that she understands.

My mom is a simple Indonesian Muslim woman. She likes cooking (even though her cooking is not better than mine), cleaning and crafting–yeah, I got it from her, the difference is that she doesn’t know how to turn it into money.

Her happiness is simple; to live, get job, marry, have kids, send kids to school, grow old together with my dad. For her, she doesn’t need to seek nor understand why she does things. Never question. I don’t think my mom has ever been in a quarter life nor self-identity crisis, like I’ve been through. For her, life is to be lived, not to be thought about.

She can be happy with simple stuffs, “don’t aim more so that you don’t get jealous of others, just be ordinary.” The only thing she can be jealous of others is about having grandchildren. D’Oh!

Sometimes I thought that when she sent her kids to school, she just did it because everybody else’s doing it or because that’s what she thinks parents do. Because she sometimes is not ready for what education and books can change her babies.

One day, my brother bought her a present. A 5 million Guess watch. It’s packaged in a cute fancy drawstring pouch with the brand tassel on it. Looking at the brand and knowing the price, my eyes glared with amazement. Her eyes were too, her face looked so happy. She said, “Thank you so much for the pouch, I need a handy pouch like this to go to wedding parties.” She thought the gift was the wrapping pouch. Until now she is still using the pouch. Not the watch.

My mom doesn’t understand any English at all. I love crafting but not a fan of hand sewing, I don’t have the patience like my mom and she always asked me whether I have things for her to do. I saw embroidery hoops in my craft box that I never used, then I just drew the design. She asked, “Where’s the flowers?” She thought embroidery is always about flowers and cute, girly stuffs. Not today, Mom. At first I just wanted to keep her busy, but the result turns to be great. So I give her another design every time she finishes one.

After 1 hour of stitching my first design, she asked, “What does the text mean?” I replied, “It means ‘Cinta Fitri’ (Eng: Pure Love).” I couldn’t be bothered to explain nor argue. So I just made it up with the title of her fave Indonesian soap opera.

“Oh, that’s why there’s finger in it.” she said.

Dang. I don’t know why my mom thinks one would put wedding ring on middle finger. And I don’t want to know.

Here’s her finished projects so far:

cimg_0012cimg_0029