Belanja Buku Impor Online di Book Depository

IMG_20181018_075242Ini bukan pertama kalinya gw belanja buku online dari luar negeri. Namun karena melihatnya tingginya statistik orang yang mampir ke postingan gw tentang toko buku online di Indonesia, so gw akan mereview belanjaan online gw yang baru aja gw beli baru-baru ini.

Textbook fashion design gak gampang nyarinya yang versi pdf, baik yang bisa didownload gratis dan berbayar. So, mau gak mau gw harus beli buku fisiknya yang kadang gw temukan di toko buku seperti Periplus dan WH Smith. Tapi kebanyakan gak ready stock dan harus pre-order, nunggunya sekitar 3-4 minggu (atau lebih) dan juga dikenai biaya tambahan untuk shipping, sehingga harga bukunya jadi mahal banget. Alternatifnya dari harga buku yang mahal itu adalah 1.) Beli buku second (nanti akan gw tulis di postingan lain tentang beli buku secondhand dari luar negeri), atau 2.) Cari marketplace lain yang lebih murah shippingnya atau malah free. Berhubung ini tulisan tentang review BookDepository, maka gw akan bahas pilihan yang kedua.

BookDepository adalah sebuah platform toko buku online internasional yang menjual sebanyak 19 juta buku dan melayani pengiriman ke seluruh penjuru dunia. Gak semua negara diberikan bebas ongkir, namun untungnya negara kita termasuk yang bebas ongkir dari BookDepository. Sebenernya BookDepository ini gak punya stoknya sendiri, tapi mengambil dari berbagai supplier (toko buku) di UK dan Australia, makanya nanti kita akan dapet info buku tersebut akan dikirim dari mana dan akan makan waktu berapa lama.

Tapi ya namanya juga gratis ongkir, jadi pengiriman yang digunakan juga yang termurah dan tidak memberikan nomor resi, sehingga gak bisa ditracking. Kalo bukunya hilang, itu menjadi resiko kita sendiri, sedangkan kalo kita memesan buku lewat toko buku seperti Periplus, resiko kehilangan buku akan ditanggung oleh Periplus sendiri. Sedangkan di BookDep, kalo status buku sudah dikirim, pihak BookDep juga udah gak akan berbuat apa-apa lagi kalo kita menghubungi, mereka hanya akan menyarankan untuk menghubungi PT Pos Indonesia karena pengiriman di Indonesia akan dilanjutkan oleh Pos Indonesia, jadi kalo sampai bukumu belum sampai di atas 2 bulan lamanya, kamu bisa mendatangi dan check langsung ke kantor Pos Indonesia (dimana aja), kalo ternyata bukunya udah sampai di kantor pos tempat kamu tinggal, kamu bisa mencari SENDIRI di tumpukan paket-paket yang terlantar, haha. Namun sejauh ini sih, sudah beberapa kali gw belanja di BookDepository selalu aman-aman saja, buku selalu sampai antara kisaran waktu 3 minggu s/d 1,5 bulan paling lama. Padahal kalo di website dan email dari BookDepository, kisaran waktu sampai ke Indonesia (well, adanya Malaysia sih) adalah 8-10 hari, tapi sejauh ini gw belum pernah bukunya sampai secepat itu.

Saran gw sih, yang namanya membeli barang online (apalagi dari luar negeri) hindari musim liburan seperti November-Desember dan lebaran karena resiko barang gak sampe-sampe/ hilang lebih besar di musim ini, bukannya gw underestimate negara sendiri, tapi kayaknya errornya itu justru terjadinya pas barangnya udah masuk di Indonesia (ini sering banget nih kejadian, gw udah pengalaman, mau pake Pos ke, JNE kek, dll lah… emang orang kita sering banyak excusenya).

Di Terms and Conditionsnya juga dijelaskan bahwa untuk buku yang dinilai ‘Valuable’ akan diberikan kode tracking dan dikirim dengan DHL, namun gak jelas definisi dari ‘Valuable’ ini berapa, karena bagi gw pribadi kalo bukunya udah di harga lebih dari satu juta, udah termasuk valuable. Jadi gw menghubungi pihak BookDepository karena ada buku yang gw mau yang harganya 1,5 juta, apakah buku tersebuh dinilai valuable dan akan dikirim pake DHL apa tidak, ternyata jawabannya enggak. Oh iya, salah satu yang gw kurang suka dari BookDep adalah customer servicenya yang… aduh gimana yak, menurut gw sih gak memenuhi standar. Udah lah balasnya lama, balesannya pun kadang gak nyambung dan masih nanya-nanya lagi. Biasanya sih startup seperti ini outsource ke startup khusus customer service, dan mungkin BookDep bermitra dengan startup yang kurang bagus kualitas outsourcingnya, padahal yang namanya customer service itu berada di lini depan dengan para customer.

Akhirnya gw enggak jadi membeli kalo bukunya di atas harga 1 juta, karena kalo sampe ilang rasanya menusuk di dada, lebih baik gw cari versi secondhandnya. Buku yang gw beli di BookDep kali ini hanya satu, yaitu “Apparel Production Management and Technical Design” oleh Paula J. Myers-McDevitt. Harga normalnya sih 1 jutaan namun gw belinya ketika diskon 60%, jadi cuma Rp 500ribu. Hehe, untung banget deh…

Pilihan pembayaran di BookDep bisa melalui PayPal atau kartu kredit, sayangnya gak ada pilihan cicilan kayak Lazada, haha. Jadi kalo gak punya kartu kredit, nebeng dulu di kartu kredit orang lain. Kalau sudah checkout dan bayar, kita akan mendapat email dari BookDep atas invoice kita dan order number yang bisa dicheck apakah order kita sudah dikirim atau belum. Kalau status ordernya sudah “dispatched”, artinya buku sudah dikirim dari negara asal.

Gw juga tadinya ragu untuk pembelian buku di atas harga USD 100 apakah akan dikenakan pajak masuk/barang atau enggak. Karena informasi yang gw dapatkan enggak ada yang fixed, ada yang bilang buku pelajaran umum dibebaspajakkan. Tapi setelah gw fikir-fikir, yang namanya buku juga wrappingnya gak dicantumin harga atau judul bukunya, jadi seharusnya sih enggak kena pajak, dan buku yang gw beli kali ini juga standar harga buku yang sebelum-sebelumnya pernah gw beli di BookDep, so bakalan gak ada masalah, fikir gw begitu. Ternyata, setelah tiga minggu, buku gw sampe. Dan kebetulan gw gak di rumah, yang menerima adalah orang tua gw. Kata orang tua gw, kurir Pos Indonesia meminta tambahan uang 20ribu katanya kena pajak, tapi gak dijelasin pajak apa dan juga gak memberikan bukti pembayaran. Yaelah, gw gak sekali dua kali beli barang dari luar negeri, baru kali ini gw diminta biaya tambahan, apalagi yang gak kuat alasannya, jelas banget si kurir ini bohong. Memang hanya 20ribu, tapi tetep aja yang namanya dibohongin mah gak enak, kalo aja gw ada disitu, bakal gw minta bukti segala macem atau adu argumen sekalian.

Buku yang gw beli dikemas standarnya pembelian buku online di toko buku impor, yaitu dengan box coklat dengan label BookDepository. Walau pun kita membeli lebih dari 1 buku, buku gak akan digabung, akan dikirim satu-satu. Sampainya pun akan berbeda-beda tanggal karena mungkin suppliernya berbeda. Bagian dalam buku dibungkus plastik, sehingga kalau sampai terkena air dalam perjalanan panjang dari UK ke Indo, bukunya aman. Di dalam paket juga terdapat bookmark dari BookDep dan receipt pembelian. Ini penampakan buku yang harga aslinya 1 jutaan itu, hehe

In conclusion, gw percaya dengan BookDep dan akan memakai jasa BookDep untuk buku-buku impor yang gak bisa gw temukan di Indonesia dan yang gak bisa gw temukan versi secondhandnya (FYI, gw lebih suka beli buku second, akan gw tulis di posting terpisah untuk topik ini).

Advertisements

How I Clean My Yoga Mats

I’ve been doing yoga for over 1.5 years though I skipped for some months in between and sometimes don’t do it regularly. I need yoga mat not only because I like to go to yoga classes but also because bare floor is too hard for my skin and bones. I’ve had four yoga mats so far, with different thickness, brand and materials. I dont like using yoga studios’ mats even if the yoga studio is clean and provides mat cleaner after use. Hence, the cleanliness of yoga mat is important for me as we sweat or put lotion before practice and it drips off to the mat. Smelly mat is a big No-No, imagine when you’re doing caturrangga and child poses and your nose is exposed to a stinky mat. Yuck!

Cleaning mat regularly even when you dont use it is essential as dirt and dust cant also stick on the mat during storage in your trunk or closet. If you already invested in a good expensive mat, better know how to properly clean it, otherwise your mat won’t last as long. A thorough cleaning may be needed when the mat starts to smell bad. But I personally choose to ALWAYS clean my mats after use regularly rather than soak or machine wash them, because the spinning can tear delicate materials. Then I just air-dry it for about 15 mins before rolling it up. It’s better to directly clean the mat after use instead of waiting until it gets really dirty, because sometimes the dirt can be very difficult to clean after some time. My Reebok PVC yoga mat for instance, until now it has brown dirt at some parts even after I cleaned it out with brush.

I have two PVC mats, one TPE and my favorite towel-like surface mat from Yoga Design Lab. Every material should be treated differently. I’ve never used brush on my TPE and towel-like mats, only on PVC ones and not so often.
What I use to clean my mats:

1. Wipes
First I wipe it with wet tissue or just wet soft fabrics. Actually body wipes are not the best to use eventhough it sounds like the simplest go-to cleaner, because the materials in it that’s made for human body may contain chemicals and soap that is too harsh for mats. Actuall wipes that’s specially made for yoga mats is the best choice, but it’s too expesive for me and not easy to find in Indonesia. Usually I use wet clean soft cotton fabrics to wipe it before spraying yoga mat cleaner. But if I go to yoga classes, I use just non-perfumed wet tissue.

2. Yoga Mat Spray

Then I spray my mat deliberately with yoga mat spray from Utama Spice that I got as a gift from the brand for my video review (read my review here–red). I usually also make my own yoga mat spray with these ingredients:

1/2 cup white vinegar

1/2 cup water

3 to 5 drops of essential oil

Avoid harsh cleaners like commercial kitchen and bathroom solutions when treating your mats. Not only it’s gonna be bad for the mat, but also for your skin. Choose essential oil fragrance that helps to calm your mind when practice.