Mengurus Visa Turis Australia Sendiri: mudah dan lima hari kelar!

2018 has been a travelling year for me! Tiap bulannya, dari Januari sampai Juni, I have  not and will not stay in one city only, udah ada jadwal travelling! Jadi susah sih untuk fokus on my thingies, tapi yah disyukuri aja mumpung rezeki. Tahun ini juga pertama kalinya gw ke luar negeri setelah 27 tahun hidup di bumi, dimulai dari Malaysia di bulan April kemaren–mainstream banget ya ke Malaysia–and in this May, I will fly to Aussie for two weeks! Woohoo!

Gara-garanya Abang gw wisuda S2nya di Adelaide and we havent met since he left almost two years ago, so my mother sudah kangen akut dan pingin ngehadirin wisuda, disangkanya acara wisuda di luar se-hebring wisuda di Indonesia. Sebenernya gw sih gak pingin pergi mengingat biayanya mahal banget, lebih baik uangnya dipake buat yang lain, but my mother insisted and she doesn’t speak any English, gak mungkin dong dese dibiarin pergi sendiri, takutnya nanti emak gw dititipin narkoba ama orang trus udah muncul aja di TV. Duh, kebanyakan nonton Narcos ini gw!

Berhubung ada tiket promo, jadi kami beli tiket dulu sebelum mengurus visa, udah gitu baru mengurus visa dalam 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan! Padahal menurut rekomendasi dari kisah-kisah di internet, sebaiknya persiapkan waktu dua bulan sebelum jadwal, just in case visa ditolak dan harus re-apply, diperkirakan pengurusan visa memakan waktu 15 s/d 30 hari, malah ada yang pernah sampai 1,5 bulan dan ujung-ujungnya ditolak. Nah lho, jadi tambah horror kan! Ini juga pengalaman pertama gw mengurus visa, so I was very nervous, lah kok ya mau ngasih devisa ke negara orang aja prosedurnya lebih susah dibanding ujian SPMB yang menentukan jalan hidup gw, sedangkan mereka bisa gampang aja keluar-masuk negara kita, oh susahnya jadi pemilik passport hijau ini! Hiks!

Namun sebenarnya hal ini gw rasa rumit karena belom pernah mengurus visa, kalo sudah pernah, berkas-berkasnya hampir sama untuk apply ke negara lain. Jadi pastikan aplikasi kamu lengkap se-lengkaplengkapnya walau pun yang bakal memutuskan orang kedutaan juga, at least you’ve done your part well.

Hal pertama yang gw lakukan adalah riset dari internet dari sumber resmi dan cerita di blog yang visanya ditolak dan diterima. Maka itu gw simpulkan untuk mengurus visa sendiri daripada ke agen karena banyaknya visa perorangan yang apply melalui agen memakan waktu lama dan kebanyakan agen tidak perduli dengan kelengkapan data kita, toh mau visa kita ditolak atau diterima mereka tetep dapet duit. Mereka hanya terima aplikasi kita (yang mana harus kita isi sendiri, bukan dibantuin) dan dikirim ke VFS Global (agen resmi pengurusan visa yang ditunjuk oleh kedutaan Aussie).

Oh ya, dengan ditunjuknya VFS, kedutaan tidak menerima pendaftaran langsung ke kedutaan, mungkin mereka males kalo rame orang berbondong-bondong dateng ke kantornya. So, agen-agen seperti Dwi**ya Tour dll hanya jadi perpanjangan tangan yang memakan biaya tidak perlu. Di bagian pengisian formulir juga ada pertanyaan apakah kita menggunakan agen atau tidak, menurut gw sih ini menjadi bahan pertimbangan bagi kedutaan karena biasanya orang-orang yang menggunakan agen dinilai suka ambil shortcut gitu deh. Lagian, semenjak bulan November 2017 lalu, pendaftaran visa Australia sudah bisa melalui online di link ini, so kita yang tidak harus datang langsung ke kantor VFS yang cuma ada di Jakarta dan Bali. Tapi berhubung gw ada urusan lain ke Jakarta, jadi gw memilih mendatangi langsung ke VFS Jakarta yang berlokasi di Kuningan City Mall lantai 2.

Sebelum gw jelaskan detailnya apa aja yang harus dipersiapkan, I want you to keep this in mind bahwa pihak kedutaan menilai dari hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu.

Supporting documents yang akan dicantumkan mengacu ke poin-poin di atas, walaupun namanya supporting documents, tapi sangat berpengaruh sebagai bahan pertimbangan kedutaan, semakin lengkap semakin baik, daripada di-reject dan duit melayang. Visa OZ berbeda dengan visa negara lain yang bisa mengajukan banding ketika visa ditolak dan ada kemungkinan uang dikembalikan. Sedangkan visa OZ sungguh raja tega! Kalau sampai direject, harus bayar dan daftar ulang lagi. Detail checklist kelengkapan formulir dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Kebanyakan sumber yang gw baca di internet adalah yang mengurus visa untuk orang yang sudah bekerja, bukan wiraswasta atau pun freelancer seperti gw. So, gw akan membuat posting khusus tentang kelengkapan data apa aja untuk kasus gw di post ini daripada terlalu panjang kalo dibahas dalam satu post ini.

Setelah siap semua data yang diperlukan, kita harus mendaftar appointment dulu ke situs resmi VFS, karena kalo sampai gak daftar dan langsung go show aja, kita bakal kena biaya tambahan sebesar Rp 115.000 per applicant (di denda gitu, ya ampun mau bertamu aja kena denda ya, somse banget dah ini negara!) Disitu kita bisa memilih hari dan jam yang bagi kita memungkinkan kapan kita datang, bisa direschedule maksimal 2 kali.

Data yang dimasukkan harus sama persis dengan yang di passport, karena kalo typo sedikit aja bisa berabe. Berhubung gw pergi sama mama, gak perlu bikin dua akun, satu akun aja dengan dua data applicant. Satu akun maksimal 5 applicant. Jadi kalau kamu pergi dengan suami, istri, dan dua anak, kamu harus mengisi empat data applicant.

Setelah selesai kamu akan mendapatkan email undangan dari VFS yang ditunjukkan saat datang ke kantornya, gak perlu di print, ditunjukkan dari HP juga gapapa. Dan gak harus datang semuanya, satu orang saja juga boleh, karena gak ada wawancara, hanya penyetoran document aja dan pembayaran visa sebesar 135 AUD (jadi besarnya biaya tergantung kurs yang berlaku ya!) dan biaya pendaftaran ke VFS sebesar Rp 165.000, ada biaya lain kalau mau dapat pemberitahuan proses visa via SMS sebesar Rp 25.000 per applicant, total yang gw bayar saat itu Rp 1.730.000 per applicant. Karena banyaknya jumlah pertanyaan di formulir subclass 600, kalau ada pertanyaan yang ragu, bisa ditanya langsung ke staffnya maksudnya apa.

Untuk visa turis, kita tidak perlu membawa semua dokumen asli kecuali passport yang akan ditunjukkan saat pelaporan ke VFS. Namun passport ini bisa langsung dibawa pulang dan tidak ditinggal di VFS. Berbeda dengan pengajuan melalui agen yang meminjam passport kita sampai ada jawaban dari kedutaan. Repot banget kan kalo passport kita dipinjam selama 1 bulan dan akan pergi ke luar negri sementaranya!

Pembayarannya melalui cash, kalau melalui debit dan berbeda bank akan kena charge 3%, lumayan bowh buat jajan somay. Disaat pengecekan document ada lembaran checklist yang diisi oleh staff VFS, pihak kedutaan akan mengacu ke lembar tersebut sebelum membaca isi dokumen kita, so pastikan kita mengecheck ulang apakah sudah sesuai sebelum kita tanda tangan. Seperti kasus gw yang si Mbaknya awalnya menulis gw tidak menyertakan beberapa supporting documents yang padahal ada, jadi dikoreksi sama Mbaknya, total kelengkapan gw lengkap banget malah, haha! Nah ini enaknya mengurus sendiri, sedangkan kalo lewat agen, kita tidak bisa lihat data kita diisi dengan benar atau tidak.

VFS ternyata gak mengurus visa Aussie saja, tapi juga negara-negara lain seperti NZ dan UK. Untuk ke Aussie, lokasinya di paling belakang. Begitu masuk sudah terasa aura imigrasi karena melalui metal scan, dilarang membawa laptop ke dalam. So kalau kamu bawa laptop, harus dititip dan bayar biaya penitipan.

Setelah bayar, yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Staffnya bilang akan diproses dalam waktu 15 sampai 30 hari, tergantung pihak kedutaan. Waduh, padahal gw cuma punya waktu 3 minggu sebelum keberangkatan! But I think I’ve done my part very very well, clearly dan super complete, hence gw bisa dikatakan confident dengan aplikasi gw.

Saat itu kami mendaftar pada tanggal 18 April 2018 yang jatuh di hari Rabu, setelah lima hari kerja (so, Sabtu dan Minggu gak diitung ya bro), email cinta dari kedutaan sudah datang dan menyatakan visa kami approved! YEAY!! Saking senengnya sampe joget-joget India, minus tiang bendera aja! Oh ya, selama lima hari itu kami juga mendapat SMS kok dari VFS tentang proses visa kami. Mungkin juga karena kami apply tidak di high season, jadi prosesnya cepat. Kalau visa sudah pernah diapprove, saat apply lagi dikemudian hari jadi lebih meyakinkan. Akan sulit bagi kamu mendaftar visa kalau sudah pernah ditolak dua kali, ibaratnya ya pacaran putus-balik sama mantan lebih dari dua kali, ya mendingan move on ke negara lain aja, hehe.

Good luck buat yang lagi berjuang visa! 😀

pic_approved

Advertisements