Liburan di Gili Air: Island Life!!

IMG-20180704-WA0019

Salah satu bucket list gw untuk ke Gili Air sudah tercapai di akhir tahun 2017 kemarin. (Baca post ini untuk perjalanan menyeberang ke Gili Air dari Bali). Gili Air adalah salah satu dari Kepulauan Gili yang berada di Lombok Utara. Yang duluan naik daun adalah Gili Trawangan, namun Gili Trawangan terlalu ‘party’ untuk gw yang cupu ini.

Walau pun kurang terdengar di telinga wisatawan lokal, Gili Air dan Gili Meno juga gak kalah diserbu oleh wisatawan asing, justru bisa dibilang 90%nya turis asing, mungkin saat disana gw satu-satunya turis Indonesia karena apa yang ditawarkan oleh kepulauan Gili ini bukan tipikal liburannya orang Indonesia. Kenapa?? Karena #islandlife banget, you got not much to do but relaxing. Hiburan cuma cafe and bars. Saking sedikitnya wisatawan lokal, sampe-sampe orang lokal disana gak ada yang menyangka kalau gw orang Indonesia juga, mereka selalu menyangka gw bule dan mencoba berbicara bahasa Inggris. Walau pun udah pake Bahasa Indonesia, mereka masih juga sulit percaya.

IMG-20180704-WA0016

Kesamaan dari tiga kepulauan Gili tersebut adalah adanya larangan kendaraan bermotor beroperasi demi menjaga kebersihan udara di daerah wisata tersebut. Jadi jangan harap bisa menggunakan Uber atau Gojek disini, karena kendaraan publik yang ada cuma cidomo, yang seperti delman namun menggunakan ban besar seperti ban mobil, karena untuk di daerah berpasir, ban ini lebih stable dibandingkan ban delman yang ramping pada umumnya.

Walau pun demikian, biaya berlibur di Gili Air bisa dibilang mahal untuk dompet Indonesia. Harga hotel dan makanan di cafe-cafe termasuk mahal (kalo untuk bule sih tetep aja murah). Dan tidak seperti di Bali yang masih ada pilihan range harga, range harga di Gili Air sama rata, harga bule! Mungkin juga hal ini disebabkan karena–hampir sama seperti Bali–Kepulauan Gili ini bukan daerah penghasil apa-apa, jadi satu-satunya kekuatan mereka hanya di industri pariwisata. Bahkan bawang dan cabe pun mereka harus memesan dari Lombok. Jadi bisa dibayangkan ya gimana miskinnya beberapa tahun lalu daerah ini. Namun tiba-tiba booming kecipratan Gili Trawangan yang kecipratan juga dari Lombok yang mana kecipratan dari Bali.

Ada dua opsi untuk transportasi selama di Gili, yaitu dengan menggunakan cidomo atau menyewa sepeda harian yang harganya jauh berbeda. Dengan cidomo, ke satu tujuan aja bisa sampai Rp 50ribu yang padahal jaraknya kurang dari 2 km! Tentunya gw memilih merental sepeda aja (walau pun gw udah hampir lupa cara mengendarai sepeda, terakhir kali gw naik sepeda itu waktu masih tomboy, yaitu kelas 6 SD!), bukan karena mahalnya saja tapi karena gw gak tega liat kuda-kuda itu. Sepeda-sepeda yang warna-warni ini bisa dirental dengan harga Rp 30ribu sampai Rp 50rb per hari (tergantung situ bule atau lokal, hehe).

IMG-20180704-WA0021

Namun peminjaman sepeda adanya agak jauh dari dermaga, jadi harus berjalan dulu sambil menggeret-geret koper, kalo di jalanan aspal sih mudah, nah ini jalanannya masih pasir, mau gak mau harus digotong, hiks!

Saking banyaknya turis asing, gw gak berasa di Indonesia! Namun ternyata, berhubung saat gw datang itu lagi hebohnya status Gunung Agung, jadi wisatawan yang gw lihat saat itu katanya sih hanya 20% dari biasanya, hwaks!! kebayang dong gimana kaya rayanya ini supir-supir cidomo di hari normal! Sedangkan di saat sepi begitu aja, penghasilan mereka jauh melampaui para sarjana! Hiks hiks!

Lebih baik memilih akomodasi yang dekat dengan dermaga, karena kebayang dong gimana capeknya kalo harus naik sepeda bolak-balik 6 km per hari, bisa-bisa gw tinggal tulang! Apalagi kalau mau keluar di malam hari, walau pun cafe-cafe buka sampai malam, tapi tetep aja jalan baliknya jauh dan gelap!

IMG_20171231_134552_507

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Kadang-kadang sinyal internet pun timbul-tenggelam, padahal udah memakai Telkomsel. Cafe dan restaurant yang ada di Gili Air hampir sama dekorasinya seperti yang di Bali, vibe yang relaxed dengan lagu-lagu pantai yang gak peduli dengan Top 40. Gw memilih hotel tempat gw tinggal karena disana ada studio yoga tepat di depannya, namun jauh dari dermaga dan ‘pusat kota’. Harga kelas yoga di Gili Air relatif sama dengan di Bali namun semua pengajarnya (di semua studio. cuma ada 3 studio yoga di Gili Air saat itu) bule, orang lokal sana masih belum mengerti yoga kayaknya, hehe. Gua juga mendapatkan diskon KTP, sama seperti di Bali.

Gak perlu takut susah mencari uang cash karena banyak terdapat ATM berbagai bank kok disana. Tapi gak usah belanja-belanja deh mendingan, karena semua produk diimpor dari either Bali atau Jawa, bahkan harga kaus pantai yang di Bali hanya Rp 40an disana bisa mencapai Rp 200rb! Duhh….

Anyway, the diving makes up for it! Pertama kalinya gw nyobain diving, walau pun cuma kecipak-kecipuk aja di pinggiran (karena gw gak bisa berenang. Ok please, jangan diketawain. –..–“). Gw diving hampir setiap hari, lautnya bersih dan benar-benar biru. Kebayang gimana relaxednya duduk di tepi pantai sambil dengerin podcast/ baca buku. Saat kembali ke Bali, teman-teman di Bali semakin kaget kenapa kulit gw semakin gosong setiap harinya dibanding saat pertama kali pindah. Hahaha!

IMG-20180704-WA0018

 

Advertisements

Menyeberang ke Gili Air dari Bali

IMG-20180704-WA0014

Sayang banget kalo lagi liburan di Pulau Bali dalam waktu yang agak lama dan gak nyempetin ke Kepulauan Gili. Kepulauan Gili ini terbagi menjadi Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno. Gili Trawangan mungkin lebih familiar di telinga orang banyak, namun sebenernya Gili Air dan Meno sama bagusnya kok, malah justru Gili Trawangan itu udah terlalu ‘hype’ dan party banget, kebanyakan bule-bule muda in party mode. Tapi kalo emang party yang lo cari, lebih baik ke Gili Trawangan dan cobain boat partynya.

Berbeda dengan vibe di Gili T, Gili Air lebih chill dan relax, kalo orang Indonesia mungkin jarang banget yang tipe liburannya begini, jadi gak banyak wisatawan domestik yang berkunjung ke Gili Air. Gili Air dan Gili Meno lebih ke liburannya a la bule. Hehe.

Untuk mencapai kepulauan Gili dan Lombok dari Bali, kita hanya perlu menyebrang menggunakan kapal Fery dari pelabuhan Padangbay atau Benoa. Biaya perjalanannya untuk PP adalah sekitar Rp 400ribu sudah termasuk penjemputan dan pengantaran dari kota ke pelabuhan. Sekedar tips, jangan tertipu dengan perusahaan-perusahaan yang kamu temukan dari internet karena berharap harga yang mereka pasang di internet lebih murah, padahal ternyata enggak. Yah, namanya juga Indonesia, semua bisa ditawar. Justru kalau datang langsung dan ketemu agen-agen malah lebih dapat murah, kalo bisa minta kontaknya orang tersebut buat perjalanan selanjut-selanjutnya. Alhasil waktu lagi mengantri mendaftar tiket, ternyata masing-masing orang membayar harga yang berbeda-beda. Maklum lah, Indonesia.

Setelah membayar, kita akan mendapatkan stiker tergantung tujuan kita, ke Gili T, Air, Meno atau Lombok. Stiker tersebut dipasang di baju kita sebagai tanda pengenal. Disarankan untuk ambil kapal keberangkatan pagi karena kalau siang, mereka akan ngaret banget, maklum lah negara kita Indonesia tercinta. Dan juga kapal baru akan berangkat kalo jumlah minimu penumpang sudah tercapai, keberangkatan lewat dari jam 5 sore akan sulit sehingga mau gak mau harus menyewa fastboat sendiri yang jauh lebih mahal.

Bisa dibilang 90% wisatawannya adalah bule, saat di kapal kita bener-bener berasa di negara lain (tapi kalo di Bali mah yang begini wajar). Dulu di tahun 2009 waktu gw ke Lombok dan Trawangan dari Bali, kapalnya sih masih jelek-jelek. Yang sekarang sudah nyaman dan bersih.

Perjalanan ditempuh dari Bali ke Gili Air sekitar 1,5 jam. Pertama naik di kapal sebelum berangkat, awak kapal mengumumkan safety guide dalam bahasa Inggris yang acak-kadut, namun karena doi mengakuinya, alhasil jadi lucu dan penumpang tertawa. Selama di perjalanan kita akan melihat pemandangan sekitar yang keren banget, membuat gw teringat kembali masa-masa gw masih kerja di WWF Indonesia.

Oia, kita juga bisa naik ke atas kapal dan bersantai disana, namun gak ada kursi, jadi lesehan dengan bule-bule yang sengaja berjemur di atas kapal. Pertama, boat akan berhenti di Gili Trawangan untuk menurunkan/ menaikkan penumpang, baru setelah itu ke Gili Air yang hanya 10 menit dari Gili Trawangan.

Saat sampai di Dermaga Teluk Nara di Gili Trawangan, gw sangat amazed melihat betapa jernihnya air disana! Di pinggir pantai sudah menanti para penumpang bule yang menunggu kapalnya. Kalo Gili Trawangan yang udah hype aja masih seindah ini, maka gw jadi gak sabaran gimana kerennya Gili Air nanti!

It was such an experience! Klik disini untuk baca pengalaman liburan gw selama di Gili Air. Dan perlu diingat, kalau ke kepulauan Gili lewat jalur udara dari Bali, akan memakan waktu dan biaya yang lebih lama dan mahal lagi karena ada biaya taksi bandara-pelabuhan dan public speedboat dengan kisaran harga Rp 75ribu s/d Rp 250ribu, tergantung jumlah penumpang.

IMG-20180704-WA0013