Tipe-Tipe Bule di Bali

Bali sebagai destinasi wisata internasional memang mengundang banyak wisatawan internasional yang biasa disebut “bule” dalam bahasa Indonesia (walau pun kadang kata ‘bule’ lebih sering dikaitkan dengan ras kaukasoid).

Bule-bule ini banyak yang udah tinggal cukup lama di Bali atau yang tamu rutin setiap tahun. Banyak alasan mereka datang ke Bali, Bali sendiri memiliki keunikan ‘vibe’ yang berbeda-beda di setiap daerahnya sehingga tipe-tipe orang yang kita temukan di Canggu akan berbeda dengan yang di Ubud, begitu juga Kuta dan Sanur dll. Walau pun sering dianggap superior oleh bangsa kita sendiri, padahal bule itu sama aja dengan kita karena mereka juga sama-sama manusia, yang baik ya baik, yang jahat ya jahat. Ada yang pinter, ada yang setengah dan ada yang ‘otak kuah kacang’ juga. Pengalaman gua tinggal di Bali membuat gw bisa mengkategorikan bule-bule itu menjadi beberapa tipe (**disusun random):

  1. Bule Ordinary Tourist

Bule yang ini hanya wisatawan biasa, tujuannya hanya berlibur dalam waktu relatif singkat, gak ada tujuan lain (misal mencari jati diri, atau investasi). Biasanya sama pasangan atau sama keluarga. Mereka gak sibuk-sibuk cari penginapan atau transportasi yang murah karena mereka cuma mau nyaman, dan mereka juga gak seberapa make time to know the locals karena mereka cuma akan disana sebentar saja. Dari cara jalannya pun mereka berbeda, karena biasanya lebih lambat karena mereka melihat-lihat sekitar dan untuk shopping souvenirs. Mereka biasanya ada di tempat-tempat wisata yang mainstream seperti Pantai Kuta, Tegalalang di Ubud etc.

2. Bule Party-Mode

Nah ini dia bule yang tujuannya mabok dan party doank (dan sex), mereka melihat Bali hanya sebagai Vegas-tanpa-cassino murah muriah. Kebanyakan berasal dari Australia, karena paling dekat dengan Indonesia, usianya kebanyakan masih dedek-dedek bule yang kerjaan di negaranya sebenernya masih entry-level, misal waiter, penjaga toko dll, tapi karena konversi dolar ke rupiah, mereka jadi bisa seneng-seneng dengan murah yang belum tentu di negaranya mereka bisa. Gak cuma dedek-dedek ababil, ada juga yang usia dewasa yang lagi mengalami puber kedua (atau gak berhenti puber) kali ya, hehe.

Destinasinya cuma night clubs and bars di daerah Seminyak. Looking for drinks, dance, drugs, and hookups. Boring buat gua mah. Bule begini nih yang sasarannya para prostitutes dan one-night-standers. Mereka gak mencari cinta, jadi kalo ketemu di Tinder dengan bule yang stay di daerah Seminyak, jangan berharap lebih, ya! Hehe.

3. Bule Kismin: Bule Backpacker, Bule Kehabisan Duit karena Gak Mau Pulang

Bule miskin atau PaHe (Paket Hemat) ada yang karena emang tujuannya backpacker dan ada juga yang karena keasikan tinggal di Bali tapi gak mau pulang-pulang, jadi lama-lama duitnya abis dongs. Kalo bule backpacker, kisminnya masih terhormat (menurut gw sih ya..) siapa tau mereka cuma mau bikin record perjalanan termurah aja, bukan berarti mereka kere. Mereka berjiwa adventurous, berbaur dengan lokal, makan-makanan lokal, dan seringnya ke tempat-tempat anti-mainstream, kayak pantai dan air terjun yang masih belum terjamah gitu. Tujuannya wisatanya lebih ke berpetualang dan mengenal kultur negara lain, walau pun kere, mereka ini punya ‘charm’ tersendiri, yah pesonanya anak Mapala gitu deh, hehe…

Sedangkan kategori bule kismin yang satunya lagi lebih mengarah ke gembel. Yang begini lebih baik dijauhin, mereka mengerti cara memanfaatkan kebaikan orang lokal dan kadang mau numpang hidup via couchsurfing dalam waktu yang relatively lama (hitungan bulan) dan selalu cari masalah kalo diminta pindah.

4. Bule Eat, Pray, Love Syndrome

Ini adalah kategori bule mencari cinta. Kesuksesan novel Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert berdampak magis membuat para hopeless romantic ini datang ke Bali dengan tujuan mencari cinta atau mencari inspirasi, biar kayak si penulis gitu ya… Jiwa-jiwa yang insecured dan sedang mencoba membangun optimisme dan berharap menemukan sesuatu di Bali, kebanyakan sih berjiwa penulis gitu. Paling banyak ditemukan di daerah Ubud (karena si Elizabeth Gilbert perginya ke Ubud) sambil memegang pena dan notebook di meja-meja cafe, layaknya orang menunggu ditendang inspirasi. Tapi believe it or not, karena banyaknya penulis yang tinggal di Ubud, Ubud bisa dijadikan tempat yang baik bagi para penulis ini untuk networking atau belajar dari penulis senior juga!

5. Bule Hippie

Bule Hippie adalah salah satu tipe manusia yang sering ditemukan di Ubud, mereka kadang terlalu (sok) spiritual gitu sampe-sampe kalo mereka ngomong, kita jadi bingung mereka ini lagi ngomong apa ngelantur mabok. Mungkin niatnya terdengar bijak tingkat dewa, tapi malah jadi kebanyakan bullshit kadangan, haha. Seringnya mereka melakukan yoga, tapi gak cuma yoga olahraga fisik, lebih ke spiritualitas. Yang spiritual tapi masih normal juga banyak kok, bedanya kalo udah level hippie ini, udah di luar normal. Mereka gak begitu peduli dengan penampilan, terlihat seperti gembel, hobi nyeker dan kadang-kadang bau badan (entah dengan alasan spiritual macam apa).

6. Bule Pensiunan

Oma dan opa bule yang sudah pensiun dan mau menjalani masa-masa pensiunnya dengan senang-senang ke tempat-tempat eksotis di negara berkembang seperti Bali biasanya berlokasi di Sanur. Kenapa Sanur?? Karena Sanur adalah Seminyak zaman dulu, dulu Sanur adalah tempat party dan hectic, namun sekarang sudah berpindah ke Seminyak jadi Sanur lebih adem buat para elderly ini. Makanya kalo ke Sanur banyaknya bule-bule yang udah tua yang mencari ketenangan atau bule-bule yang berwisata dengan keluarga karena mungkin Kuta dinilai kurang aman buat keluarga (ya iyalah ya, kalo lakinya digodain hookers gimana coba, hehe). Mereka gak peduli dengan yoga di Ubud atau dugem di Seminyak.

7. Bule Yoga Melulu

Bule Yoga berbeda dengan bule hippie, bule yoga gak segila bule hippie. Tujuan mereka memang untuk memperdalam yoga atau sedang mengambil teacher training, jadi kerjanya yoga melulu, sehari bisa ambil 3-4 kelas, gila gak itu! Bule Yoga kebanyakan di Ubud, tapi gak menutup kemungkinan di Canggu karena dengan di Canggu juga banyak studio yoga yang oke dan karena Bule Yoga lebih fleksibel dan fun orangnya ketimbang Bule Hippie, Canggu terlalu ‘berisik’ mungkin buat bule Hippie.

8. Bule Senior

Bule Senior maksudnya bukan bule gaek, tapi bule yang udah lama tinggal di Indonesia, baik tahunan atau sudah menikah dengan orang Indonesia. Bule tipe ini sudah lebih mengerti tentang Indonesia, bisa berbahasa Indonesia dari yang sedikit sampai yang lancar dan tau seluk-beluk jalan di Bali. Karena bule ini udah terbiasa dengan beberapa kekurangan sifat orang Indonesia (misal ngaret), mereka jadi lebih toleran, atau malah mereka jadi ikutan ngaret. Ada yang bilang, saking santainya hidup di Bali, bule aja bisa ngaret!

9. Bule Surfer

Bule Surfer menduduki peringkat bule paling seksi menurut Madame Citra Ayu Wardani, hahaha. Mereka dengan kulit terpapar mataharinya dan hobi maen-maen sama ombak, kalo keluar ngegotong papan surfer sambil topless, dan karena olahraga surfing, dadanya biasanya keren dan ‘memanggil’ gitu deh–memanggil buat ditatap. Surfer juga biasanya orangnya asik dan easy-going, gak cuma surfer cowok, tapi juga cewek. Ada yang sudah bekerja sebagai instruktur surfing baik dengan legal dan illegal, hehe. Bule Surfer banyak ditemukan di daerah pantai, seperti Canggu, Uluwatu etc.

10. Bule Start-up/ Digital Nomad

Bali gak cuma sebagai tempat wisata, tapi juga sebagai tempat kerja impian para digital nomads yang banyak berkembang di generasi millenial. Bali bisa dibilang salah satu pusat start-up di Indonesia, didukung dengan adanya coworking space Dojo dan Hubud yang masuk dalam nominasi coworking space terbaik dan community-oriented di dunia. Thank’s to YouTube yang semakin mengiklankan Bali sebagai lokasi idaman bagi para digital nomads. Banyak yang menemukan rekan kerja atau dapat kerjaan juga di Bali karena berkumpul di pusat digital nomads ini, pekerjaannya juga menarik-menarik dari content creator, programmer, marketer, designer, trader, dropshipper dll.

Tujuan mereka datang ke Bali yang paling utama adalah mencapai digital nomad lifestyle, so mereka bukan yang tipe mencari cinta, spiritual etc. Mereka punya goals dan semangat untuk maju yang kuat tapi juga tetap bisa diajak asik, karena sehabis kerja mereka nyantai ke pantai, tapi kalo lagi kerja ya serius banget. Ini tipe bule yang paling gw suka untuk gw deketin, karena semangat, kemampuan, pengetahuan dan pengalamannya yang bagi gw menginspirasi. Gua jadi belajar dari mereka ternyata cara nyari duit yang anti-mainstream dan fun itu banyak asal mau kerja keras. Gaya mereka emang santai (tipikal gaya anak startup lah ya…) tapi duitnya oke punya. Namun karena mereka freelancers atau entrepreneur, mereka bukan tipe bule hura-hura, mereka saving money for what might happen in the future.

Bule StartUp bisa ditemukan di daerah Canggu dan Hubud karena dua tempat ini punya coworking yang paling keren dan paling banyak diminati. Paling keren kalo udah programmer terus juga surfer, adududuhhhh… udah lah bang, pasang harga aja, Adek beli! Hahah!

Mereka biasanya tinggal di Bali untuk durasi yang semi-permanent, hitungan bulan sampai tahunan, yah namanya juga nomads, jadi pindah-pindah.

11. Bule Money-Minded

Bule Money-Minded berbeda dengan Bule StartUp, bule ini hanya melihat Bali sebagai ladang investasi. Di otaknya cuma beli tanah atau beli properti, mereka menuntut gimana caranya biar bisa cepat dan mudah beli tanah di Indonesia tapi mereka gak peduli untuk membantu membangun Bali. Mereka cuma bisa complain dan berfikiran buruk tentang orang lokal–walau pun emang sih banyak kasusnya orang lokal yang menipu bule dan bawa lari kepemilikan tanah/ properti karena orang asing hanya bisa beli Hak Pakai untuk 50 tahun unless memakai nama orang Indonesia. Gak sedikit dari mereka yang nikahin lokal hanya untuk bisnis, kadang yang orang lokalnya gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Bukannya gw mau ngejudge ya, tapi gw gak ngerti gimana caranya bisa sayang kalo komunikasi aja gak nyambung, bukan dari masalah bahasa tapi juga dari topik pembahasan.

Bule Money-Minded ini gak peduli untuk berbaur dengan orang lokal kalau gak ada untungnya. Bule ini, ketika mereka memiliki bisnis di Bali, hanya perduli dengan harga tenaga kerja murah. Ini tipe bule yang gua gak suka, pernah di beberapa seminar ketika mereka complain ini-itu tentang Indonesia, gw debat abis. “Lo mau enaknya doank, lo dateng ke Indonesia enggak bayar visa, enggak harus tes kefasihan bahasa Indonesia, mana konversi dolar ke rupiah pula. Nah orang gua, mau bikin negara lo untung aja harus bayar berjuta-juta dulu buat tes bahasa doang. Do we complain? Kagak. Nah sampeyan segala enak, cuma ngikutin peraturan aja gak mau. Lo mau berurusan sama orang Indonesia, tapi buat belajar bahasa orang aja lo gak mau, ya itu sih namanya minta ditipu, Bro/ Mbak’e!” Mereka complain peraturan negara kita susah, woy gak ngaca apa gw ngurus visa buat masuk negara dia liburan aja susahnya minta ampun. Nah kan, jadi esmosi ini gw. Huhah!!

12. Bule Influencer

Karena keeksotisan dan ketenaran Bali, maka banyak travel vloggers atau seleb Instagram dari beberapa negara yang memasukkan Bali ke daftar wajib mereka. Kita mungkin gak kenal mereka, tapi ternyata di negara mereka sendiri mereka mempunya following yang cukup banyak, paling banyak nangkring di daerah Canggu, Seminyak dan Uluwatu. Beberapa yang pernah gw ketemuin langsung adalah Lost Le Blanc, Laura Reid dan alm. Ryker Gambler. Tapi saat itu gw gak tau mereka siapa dan kalau mereka ternyata YouTuber. Kadang tipe bule ini agak annoying sih, bukan tipe bule doank dink, maksud gw tipe manusia jenis ini in general kayaknya emang gak asik di dunia nyata, terlalu self-centered, hehe.

13. Bule Mafia dan Illegal

Bule jenis ini biasanya ngejalanin bisnis dengan cara suap dan bohong, misalnya bekerja atau memperkerjakan sesama bule dengan visa turis di Indonesia tanpa work permit etc. Hampir mirip dengan Bule Money-Minded, namun Bule Mafia/ Illegal juga termasuk orang dengan criminal record di negaranya, misal child predators dan juga orang-orang yang visanya udah habis tapi males ngurus sehingga keberadaan mereka di Indonesia jadi illegal. Gak bisa disalahin merekanya doank juga karena justru negara kita yang kenapa bisa memperbolehkan orang-orang dengan criminal record masuk dengan mudah.

14. Bule Seniman

Bali banyak mengundang hati para seniman dari berbagai negara, dari musisi, penulis, dan pelukis. Beberapa di antaranya memilih menetap dan menikah dengan orang Indonesia dan membuat museum karya-karya mereka, salah satu contohnya alm. Antonio Blanco yang memiliki museum di Ubud. Kebanyakan seniman ini tinggal di daerah Ubud.

15. Bule Heroes

Bule Heroes adalah para bule yang memiliki sifat terpuji dan patut dicontoh. Mereka bener-bener cinta dengan Bali dan Indonesia sehingga mereka banyak membantu lewat charity dan membangun organisasi relawan, dari relawan membantu anak-anak jalanan, binatang terlantar, bersihin pantai, edukasi, dll. Karena jasanya bagi masyarakat setempat, gak sedikit dari mereka yang diberikan gelar adat dari masyarakat Bali.

16. Bule Asia

Bule Asia adalah bule dari negara-negara Asia yang kurang lebih bentuk fisiknya mirip sama kita, kebanyakan berasal dari Thailand, Jepang dan Filipina. Makanya kalau gw lagi jalan-jalan di Bali sendiri, orang lokal selalu mencoba berbahasa Inggris sama gw karena gw disangkanya wisatawan asing.

17. Bule Setengah Bule

Ini adalah bule blasteran dari pernikahan campuran orang Indonesia dengan Bule. Hasil produk blasteran ini emang beda pula pesonanya. Mereka fasih berbahasa Inggris dan Indonesia ketimbang orang tuanya.

18. Bule TKA

Bule ini adalah tenaga kerja asing di Indonesia, mereka bekerja di pulau lain di Indonesia, contohnya pilot-pilot bule yang kerja di daerah-daerah atau yang kerja di perusahaan asing di kota besar lain. Biasanya mereka ke Bali karena kangen dengan western environment, ya maklum lah kita juga kalo tinggal di negara orang juga pasti bakal kangen dengan suasana Asia.

Advertisements

“Kenapa Harus Bule”: When Indonesian Woman Dating Bule

“Kenapa harus bule?” (means “Why Bule?”) is one of the most-asked questions people give to me lately ( in the first place is question about how I can stay skinny –..–” ). The term ‘bule’ (read: boo -lé) means non-Indonesians, mostly referred to white people. If they’re not white but non-Indonesians, they are still referred as bule, added with the name of country they’re from, for instance; bule Arab, bule Korea, etc. Historically, it was a derogatory towards white people, but it’s changed a lot, maybe because most Asians adore fair skin or it’s the dollar effects.

This post is inspired by a newly released Indonesian movie with the same title, “Kenapa Harus Bule”, that tells about a brown-skinned, black-haired Indonesian woman in her early 30s who’s looking for a man to be with but she’s been told many times that her look is not up to Indonesian standard of beauty and only bules find her beautiful. Anyway, this post is not a movie review, because I haven’t watched it yet. It’s my own opinions as an Indonesian woman who hasn’t dated Indonesians for years and because of that, people like me, can easily got labelled as a Bule Hunter. Bule Hunter is such a phenomenon that I don’t deny it exists, especially in touristy areas and has negative connotations because they’re mostly only after the dollars, or other prestige or any other silly reasons. Of course there are also people like me who just happen to have/ have had non-Indonesian partners because we really fall in love with the persons they are, not because they’re bules, it just happened to be a part of their identities. I mean, come on, me?? hunt?? I’m the fox, baby! LOL.

In Indonesia, it’s common to give stereotypes to Indonesian who’s dating or married to a bule, especially if the bule is Caucasian. These stereotypes are more easily thrown to Indonesian women who date bule than Indonesian men who date bule. Why?? Because that’s just the world of patriarchy works, so sad but it’s still the world we live in.

I’ve dated (and flirted with) both locals and bules, from my experience, I can say that we’re all the same in many ways regardless the country, race, religions, etc, there’s only one race which is human race. You can find douchebags Indonesian guys, you can find douchebags bule guys. There are good, open-minded bule guys, there are also good open-minded Indonesian guys. But yeah, I do admit that there are some traits that can be easily found in westerners, there are some traits that can be easily found in Indonesian guys, it depends on what you’re looking for. I mean, I’m 27 y.o and just like most 27 y.o, we’ve known our selves well, we already know which person will go along well with us, we know which one will make us feel comfortable without being someone we’re not. And in my case, local guys who have that are either in relationship with other people or don’t find me attractive. Hiks!

Of course in dating we’re trying to find someone we feel most comfortable with who has the same values and points of views. I think it’s kinda obvious for people who know me, I don’t think like many Indonesians especially from the ways I look at gender roles. Well probably it’s because in Indonesia (especially in small towns) and many Asian countries, at home parents really give samples of gender roles, home chores are mostly given to girls and young girls are told about how important marriage is since we’re 16, how to be a good wife, how to find husband, etc. I’m too rebel for that. For a small example, I witness a lot how wives are exhausted taking care of the house and kids all day and when the husbands come home, they asked the wives to make coffee for them. I mean, are you serious?? You have legs, hands, and brain, why don’t you do your sh*t by yourself? And if I speak my mind about it, I will be called ‘a challenge’ or ‘disturbed’ or whatever that sounds like I got wrong education. Meanwhile in bule’s culture and countries, maybe it’s not easy to afford a housemaid, so they’re accustomed to take care of their selves and don’t feel right to ask somebody to do small basic stuffs for them, like making coffee. Some bule guys I was seeing earlier complained because I always gave drink to the guys first before I gave for myself, they asked why I was doing that and they wanted us to be equal.

In Indonesian relationship, women are expected to sacrifice once they get in relationship or marriage. That women are the ones who more likely to give up their career and dreams in the relationship. I disagree with this, why can’t we both grow together? In a broken family with a working mom in Indonesia, woman will be the first to be judged for her husband cheating on her, that’s crazy, if she’s not the one who cheats how could that be her faults? Raising kids and saving a relationships are the responsibilities of everyone in the relationship, not only one side which is determined by gender.

Other thing that I find very obvious is the way of expressing love. I don’t know why in Indonesia it’s so common to believe that if you love someone you need to forbid him/ her from many stuffs to show that you love and care about them. I’ve been told many times by local guys (event though in friendly situations) about how to think, how to dress, which to befriend with and what I think the worst is how and what to dream. Every time I give them signals of interest, they always start to show this symptom. Meanwhile with bule, I feel they’re more free, they may disagree with what I do, but they will not just forbid me right away. I feel more loved when I am given trust rather than limitations without logical explanation.

Also I don’t think I belong to the attractive category in Indonesian standards which prefer lighter skin. I admit that this ever affected me when I was a teenager that I tried so badly to whiten my skin. But deep down I’ve always found sun-kissed skin very sexy, I was just afraid people didn’t find me attractive because I didn’t match the standards. I went out with some locals who told me that they liked me because I was fair and if I was darker, they wouldn’t even try to approach me. Well it’s fine for me and I respect their honesty, we all have taste. What bothers me is when they try to control and make fun of me when my skin got darker after an outdoor activity. One day I posted a photo on my soc-med of my hand holding my then BF’s hand, you know what response I got from my local friends (guys and girls)? “Cihud why is your hand darker than your BF’s hand? He has a more beautiful hand than yours.”, seriously as if I didn’t deserve him because of my shade. I know it was joking, but still didn’t find it funny. So I feel more appreciated by bules that find me physically exotic (that’s what they say). Not only physically, but also intellectually that these guys who I hanged out with always said that the most attractive asset I have is not my skin, face, hair or look, but my mindset and passion. If I was just an exotic brown-skinned but didn’t think like this, didn’t have any other drives in life and only accepted what guys give to me, they wouldn’t fall for me. While many local guys tend to see this as a threat that needs to be shut down.

Also Indonesian guys tend to be more in a hurry when it comes to relationship, they like to plan about marriage at very early stage of relationship for many reasons (not all, but so common), most common reason is age. I kinda see it dangerous to only want things without really knowing why you want it, and I don’t want to be married with someone just because of his fears; fears of age, fears of time, family, etc.

For most Indonesian guys, age is an important consideration. Woman closing to 30 y.o is closing to her game-over. You can be smart, good looking and successful woman, but if you’re over 25, it’s like you’re over 52. Meanwhile, age has never been an issue with bule.

The way we see concept of success also influences how people behave in the relationship and how he/she expects the other to behave. I personally feel that local guys prefer their women to be more needy to them. While for me that is not cute. I always got complaints from local guys for being not needy. One very little example is shown by so many Indo girls speaking in baby voice, like literally baby voice, when they’re with the BFs. Every time I tried this with bule, I successfully got cringe in their eyes, like, “Babe, did you hit your head in a car accident?”

cihudwardani___BfKnTIRHpkT___.jpg

Or maybe I’ll end up with a swan. We already have a pre-wedding photo.

So, based on the points above, I think my point is that everyone has his/her own ‘market’. Your market may be different from mine. There are billions of billions people in the world, there are so many places. To limit based on specific area is like wasting opportunities, nobody can guarantee that the person who was destined for you was born in the same city, district or country. Maybe he/she was born somewhere in other parts of the world, maybe he/she was born right in the same neighbourhood with you, who knows. So we can’t judge other people’s path that’s different from ours. For many people, they find it easier to understand partners who are from the same city, country or customs. Unfortunately, it doesn’t apply to me, I find understanding Indonesians harder, or maybe it was just bad luck for me to meet only the difficult ones. Nobody can know whether I will end up with a bule or local, nobody knows. Also, to generalize all bules based on race and countries of origins is wrong, they may look similar in our eyes, but they have different passports, different habits, different many things. There were locals who treated me bad, there were bules who treated me bad. I will share about the common misconceptions about dating with bules in different writing later. The more we meet people from different backgrounds, the more we feel that we’re all the same, that we want to be loved, understood and appreciated. We just want to find which one does us more.