#CADAS2018: Pengalaman tidak menyenangkan di Australia, dikatain “Immigrant” sama bule

Overall, pengalaman gw selama liburan di Adelaide, South Australia memberikan kesan positif baik untuk alamnya, pengelolaan daerahnya dan orang-orangnya yang menurut gw ramah-ramah dan sopan. Mereka kayak udah di-setting default untuk mengucapkan “Thank you”, “Sorry” dan “Excuse me”, mereka mengatakan “Sorry” walaupun bukan mereka yang salah, contoh kecilnya kalo gw jalannya hampir nabrak, harusnya gw yang minta maaf duluan, tapi mereka udah refleks aja gitu bilang “I’m sorry”, mau dari orang tua sampe anak kecil umur 4 tahunan udah begini.

Tapi bukan berarti gw gak mengalami kejadian kurang menyenangkan selama di Aussie, walau pun gw sebenernya juga  menunggu-nunggu untuk dikecewain, soalnya gw capek juga ya terkesima. I was like, “Ayo dong tunjukkin gw kekurangan lo sedikit aja, gak mungkin dong ini negara bagus-bagus doang.” Well, gw menemukan beberapa kekurangan juga akhirnya, banyak juga kok, namun yang satu ini gw bener-bener gak nyangka, dan pertama kalinya seumur hidup gw diperlakukan begini (yah secara gua belom pernah hijrah antar negara dan menjadi minoritas di negara lain).

Kronologisnya, gw lagi melalang buana sendirian di city center yang mana gw kesana hampir setiap hari (karena harus beliin nyokap gw makanan Indonesia di mall, jauh-jauh ke negara orang, nyokap gw cuma mau makan makanan Indonesia, hehe). Di Australia, negaranya banyak aturan, bahkan untuk menyebrang jalan aja ada aturannya. Kalo di Indonesia, kita bebas mau nyebrang kapan aja asal resiko tanggung sendiri. Di Australia, sebelum menyebrang jalan kita harus memencet tombol dulu dan menunggu sampai terdengar bunyi yang menandakan kita sudah boleh menyebrang jalan, hal ini gak cuma di pusat kota saja, tapi di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota pun demikian. Jadi, orang-orang serentak menyebrang bersamaan dan kendaraan berhenti, gak ada satu pun yang mencoba nyelonong melabas.

Orang-orangnya pun mostly menaati peraturan tersebut, ada juga yang gak menaati aturan penyebrangan ini dan menyebrang begitu aja, tapi hanya satu-dua, jarang gw temuin. Kalau pun menyebrang begitu, palingan saat jalan sangat sepi. So, gw juga gak enak dong kalo gak menaati aturan ini, bisa-bisa gw dapet tatapan cringe gitu kan, apalagi warna kulit gw beda dengan mereka, jadi gw harus menjaga kehormatan ras gw yang sudah terlalu banyak tercemar reputasinya ini, hehe.

Hari itu hari-hari terakhir gw di Adelaide, langit Adelaide lagi gerimis dan gw akan menyebrangi jalan, di sisi gw hanya ada gw dan satu orang pria kulit putih. Dari sisi seberang, ada wanita kulit putih berbadan gemuk yang kelihatannya lagi bad mood karena mukanya menggerutu. Cewek ini langsung nyelonong aja tanpa menunggu bel berbunyi, sedangkan orang-orang lain disisi seberang menunggu. Saat sudah sampai di sisi gw yang di seberangnya, dia berjalan lurus aja jadi berpapasan dengan gw yang berdiri di tempat yang seharusnya. Bukannya melipir dikit (sebelah-sebelah gw kosong lhoo, cuma ada gw dan satu cowok), dia malah memilih hampir menabrak gw, I stood on my ground karena emang gw gak salah, eee… dia malah bilang, “You immigrant!!” yang bisa diartiin, “Dasar lo, imigran!!” dengan intonasi geram lalu melewati gw.

HAH?? Apa dia bilang barusan?? GUE IMMIGRANTTT??

Cowok kulit putih di sebelah gw tadi yang melihat itu meneriaki cewek itu, “Hey!! you’re a loser!” namun gak digubris, dia jalan melengos aja. Cowok itu lalu bilang ke gw, “I’m sorry for that, don’t mind her, she’s just a loser.” Gw cuma ketawa aja, “Dont worry, I bet she is, I’m just a tourist by the way and this is my first time in Australia.” Si Mas bule jadi gak enak, ujung-ujung ngobrol, ngobrol dan ngopi bareng. hehe tapi yang ini lain cerita.

Gw masih mencerna apa yang barusan terjadi, ini beneran apa enggak sih gw dikatain immigrant sama orang yang gak kenal gw sama sekali. Dia kan gak tau latar belakang orang yang dia katain itu apa, bisa jadi turis kayak gw atau bisa jadi orang yang dia katain adalah orang yang sudah menjadi warga negara Australia dan sudah berkontribusi besar untuk negaranya. Gimana coba kalo sampe kejadian ke orang lain yang ternyata pemenang olimpiade internasional?? Atau simply an ordinary permanent resident yang sama-sama bayar pajak, menaati peraturan yang sama dan berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di negaranya?

Lagian dia lupa kali ya sejarah nenek moyangnya, penduduk asli Australia kan suku Aborigin keles mbak, yang notabene berkulit hitam, bola mata hitam, rambut hitam. Jadi yang berketurunan imigran disana siapa ya?? Kalau memang gw imigran, seharusnya dia yang malu karena dia sendiri yang gak menghormati peraturan negaranya, walau pun cuma peraturan menyebrang jalan.

Cuma karena warna kulit gw, mata, rambut dan penampakan fisik gw yang berbeda, dia bisa seenaknya aja menyalahkan orang lain atas kesalahan dia sendiri. Gw menceritakan hal ini ke abang gw yang tinggal di Adelaide dan kenalan-kenalan gw orang Australia selama disana, mereka semua mengatakan kalau orang seperti itu di Australia disebut ‘bogun’, yang artinya orang Australia kulit putih kelas bawah yang biasanya bersikap kasar dan anti dengan yang asing karena pendatang banyak yang lebih sukses dari mereka.

Well, hal seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, di Amerika yang sedang hangat juga demikian, padahal ini negara terbentuknya juga karena imigran! Di negara kita sendiri juga begitu. Identitas tentang pribumi dan non-pribumi dimasalahkan. Kalau difikir-fikir mah ya, di zaman udah mobilitas tinggi begini, apa masih ada lagi yang bener-bener 100% original? Bahkan kodok aja dari masa ke masa bisa mengalami perubahan dan perpindahan, apalagi manusia. Gak ada yang jamin gw bener-bener 100% keturunan Indonesia apa enggak, siapa tau nenek moyang dari nenek-nenek moyang keluarga gw adalah orang Arab, Belanda, India Terajana Kuch-kuch hota hai atau malah Zimbabwe yang hijrah ke Indonesia. Nah apalagi si cewek tadi yang sejarah negaranya udah terpampang kemana-mana. Sedangkan Nabi aja menganjurkan untuk hijrah, so, Nabi sendiri pun pernah jadi imigran dong ya. Lantas apa yang salah kalau fisik dan identitas kita berbeda tapi kita menjalankan kewajiban yang sama? Selama kita mencapai apa yang kita punya dengan tidak mendzalimi orang lain, ya sah-sah aja dong. Lebih baik bangga dengan apa yang kita lakukan ketimbang perihal ‘kita siapa’. In the end, what define a person is not his/ her identity (race, religion, beliefs, family background), it’s what he/ she does. As JFK once said, “Don’t ask the world what it can give to you, ask yourself what you can give to the world.”

Kasian si wanita kulit putih tadi yang masih seperti itu pemikirannya, semoga aja dapet hidayah si Mbak’e. Lo mikir kayak gitu gak akan bikin negara lo maju, Mbak… (Tapi negara doi emang udah maju juga sih ya… huhu, hoki aja lo, Mbak, lahir disana).

IMG_20180518_201543.jpg

Patung babi di tengah pusat kota di Rundle Street mungkin menginterpretasikan sesuatu. Mungkin ya, mungkin… cuma mungkin.

 

Advertisements

#CADAS2018 Day 2: My first day in Adelaide

I arrived in Adelaide on May 15th 2018 morning after a 7.5 hour long flights in total (via Singapore). At that time, it’s autumn already in Adelaide while just two weeks before I came, the weather was perfectly warm (that’s what people said).

This is my first travel to a western country which has more than two seasons. In Indonesia, I don’t need to really concern about clothes when travelling, because every where and every season, it’s relatively similar temperature. What can affect how one should dress when travelling in Indonesia is not the temperature, but the religions and beliefs of the people in the area.

For me as a tropical human, I get cold easily, even if I turn on the AC to 25 Celcius, imagine how Adelaide’s 13 C – 17 C temperature was torturing me at that first time. I admit that it was also my fault to underestimate the temperature and prioritized which clothes would make me look good in photos instead of ones that can comfort and secure me from cold. 70% of my luggage is knee-length dresses which I thought would look good with old European-influenced buildings in Adelaide, this decision turned out to be a big fail.

Lucky I brought some stockings and yoga pants (yes I thought of trying yoga classes or even morning jogging, but the cold made me step back –..–” ), so I wore yoga pants underneath my stockings. Phew!

20180515_151645.jpg

The real reason why I crossed my legs was because I was freezing.

The first day I arrived, we went to my bro’s university for a reception party (a small party for the graduates’ families), but it started in the late afternoon, I felt that I should not just waste time waiting, so we decided to go early to look around the city. And I decided to challenge myself with this outfit (in photo), I wanted to adjust my body to the cold fast so that I would be able to enjoy the city instead of hiding under layers of blanket at home.

The first time we landed at the airport, there’s a funny feeling I felt that may be unusual to hear if you’re white. In my country, white people call their selves expats–just like everywhere–, and they’re mostly treated a level higher than others. In Bali–I lived in Bali for half a year–there are so many foreigners (mostly white), whether they’re only tourists or work/ have business there. Even if they’re working in Indonesia, most of them have descent jobs or higher class, or if they work as, say, teachers, they’re paid four times higher than local teachers in international schools. So, visiting a dominantly-white country and seeing white people doing blue-collar jobs, it felt different for me, especially when I saw white homeless people on the street (yes, there are still people living on the street in Aussie too!), I mean that’s just not common to see for me, even though I know that people are just the same everywhere, we do what we gotta do, we gotta work even it means a job that people don’t really appreciate. It felt different–I don’t know which word can describe it best–when a white cleaning lady cleaned my table in a cafe, I imagined if she’s not in that uniform and not holding broom, and she’s in Bali, she would be treated with the so-called expats service, she would suddenly be a princess. It’s unusual for my eyes, because usually it’s the other way around in Indonesia.

The people I saw in the airport were the ones that gave me the first impression about a country and my first impressions about Australians were they’re very nice and friendly. They always say “Thank you” and “Sorry”, even for minor things and sometimes it’s my fault, it made me feel that I’d been impolite all my life because I didn’t say those words as much, LOL. The airport officers, even though they’re strict in doing their jobs (which I am not used to see people in uniforms being string doing their jobs in Indonesia), they’re very friendly and helpful. Even the immigration officer made a small talk with me and my mom asking whether we’re excited about our holiday in Aussie. It may be just a little thing, but it made us felt welcome. This experience made me feel that maybe Indonesia needs to review/ evaluate our airport staffs.

As soon as I stepped out of the airport building and saw Adelaide’s sky, I was amazed to see how blue the blue sky in Adelaide. I saw sky that blue in Indonesia only when I was sent to remote areas when I was still working for WWF and in Gili Air (Lombok) during a holiday, that’s because in those areas, there are not many motor vehicles (especially in Gili Air, motor vehicles are prohibited). Adelaide’s sky is not polluted, it’s bright, maybe even brighter than my future. LOL. But how come we live under the same sky but the sky can look different?

Another thing that wowed me was the fact it’s sooo clean. My eyes couldn’t find any trash on the street! If this is the impression that I first got coming to their country, I wonder what they think when coming to my country and see our streets. Ouch!!

20180515_145818.jpg

In Indonesia, people run away from the sun (afraid of getting dark skin), in Adelaide I just wanted to get under the sun because it’s warm.

 

**For more stories in Adelaide by me, click here.

#CADAS2018 Day 1: Ke Australia dengan Singapore Airlines

It was the 14th of May 2018, my Mom and I were ready to fly to Adelaide, South Australia. YEAY! Tiket pesawat yang kami beli waktu itu sedang di harga promo, hanya Rp 6.500.000 untuk return tickets kelas ekonomi per orangnya dengan maskapai Singapore Airlines. Lagi hoki juga ini, karena kalo dibanding dengan AirA*ia harganya sama tapi gak dapet makan nekkk… giling aja penerbangan 8 jam gak makan-minum, hehe.

20180514_191103.jpg

my mom doesnt really like camera –-..–“

Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Singapore Airlines, maklum lah kere. Dan ternyata, pengalaman pertama gua ini membuat gw memberikan nilai A+ buat Singapore Airlines untuk servis dan fasilitasnya! Highly recommended untuk melakukan penerbangan panjang. Penerbangan kami menuju Adelaide melalui transit di Singapore. Penerbangan dari Jakarta ke Singapore selama 1,5 jam dan Singapore ke Adelaide 6 jam.

Pesawat yang digunakan adalah tipe Airbus yang gede itu, jadi susunan bangkunya bukan 3-3 melainkan 3-4-3. Enggak kayak budget airlines yang jarak antar bangkunya mepet sangat, Singapore Airline seperti Garuda Indonesia yang lebih luas dan manusiawi, hehe. Mungkin udah standarnya kalo maskapai nasional begitu ya.

Setiap bangkunya mendapatkan screen TV untuk entertainment yang berisi musik, podcasts, film, TV series dan game. Judul-judul film dan TV series yang tersedia juga keren-keren lho! Selama penerbangan gw menonton beberapa TV series dan film, salah satunya All the Money in the World yang terinspirasi dari kisah nyata. Di bawah layar, ada remote yang bisa digunakan juga sebagai stick untuk main games.

20180525_170455Yang paling gw suka selama penerbangan dengan Singapore Airlines adalah gw gak pernah kekurangan makanan, ibarat perbaikan gizi dalam pesawat, dan makanannya bisa dibilang enak untuk standar masakan pesawat, bukan sekedar makan. Makanannya selalu lengkap dengan dengan makanan utama, side dish, drinks, dan desert. Malah di perjalanan siang hari, kami juga diberikan ice cream seperti Con*llo gitu. Pramugari/a nya telaten putar-balik buat nawarin minuman, jadi gak akan kehausan. Kayaknya sih udah habis susu satu kotak untuk gw doank, haha. Maklum kak, perbaikan gizi. :p

Sebelum terbang kita diberikan handuk hangat buat bikin fresh, begitu juga setelah beberapa jam di pesawat. Beda banget dengan fligt attendant Indonesia (kecuali Garuda Indonesia–apalagi maskapai L*on Air) yang attitudenya ampun dah dan mukanya dipelintir tanpa senyum, flight attendant Singapore Airline sangat ramah-ramah, attentive dan sopan banget. Selalu mengucapkan ‘thank you’ dan ‘excuse me/ sorry’, berasa banget jiwa ‘service’ mereka memang ada, bukan sekedar jadi pekerjaan keren-kerenan.

Setelah total 7,5 jam perjalanan dan transit 1 jam, tanggal 15 May 2018 pagi kami sampai di Adelaide International Airport. Udara dingin langsung menusuk walau pun baju udah tebal, mata gw sampe berair saking dinginnya, sebenernya sih sekitar 13 C – 17 C, tapi gw kan manusia iklim tropis banget, sedangkan di Ubud aja bisa menggigil! Oia, ada yang menarik ketika baru sampai di airport, gw menemukan adanya daerah bernama Younghusband di Australia! Waduh, kira-kira apa ya yang kita bisa temukan di daerah itu?? I still prefer older guys though, no brondong, hihi!

20180515_060850.jpg

#CADAS2018: Yang Tidak Boleh & Boleh Dibawa Masuk ke Australia

Jalan-jalan ke negara orang memang berbeda dengan jalan-jalan domestik yang kita gak perlu mikirin apa yang boleh dan gak boleh dibawa. Setiap negara punya peraturannya masing-masing untuk memproteksi negara mereka dari segi ekonomi, kesehatan dan lain-lain yang berasal dari wisatawan luar. Mendingan jangan maen-maen deh dengan petugas bandara mereka, karena mereka ini walaupun ramah, tapi tegas banget dan gak suka dibohongin, mereka juga gak mau menerima suap (gak kayak di Indonesia ya bok…). Lebih baik jujur apa adanya, daripada kena denda jutaan atau malah dipenjara selama maksimal 10 tahun. Terkesan paranoid banget ya kalo di banding imigrasi Indonesia yang relatively loose.

Saat pertama kali mendarat, yang kita lakukan adalah menuju bagian imigrasi ke antrian foreign passport. Di bagian ini, seperti biasa kita menunjukkan passport dan diambil fotonya. Di wawancara sedikit sih sekedar basa-basi penyambutan gitu, berhubung mama gak bisa bahasa Inggris sama sekali, jadi kami langsung maju berdua aja.

Setelah pelaporan imigrasi, kita menuju ke pengambilan bagasi, dan sebelum keluar dari bandara, kita akan melalui bagian yang disebut dengan “CUSTOM” dimana kita diminta untuk mendeclare apakah kita membawa barang-barang yang perlu di-declare apa gak.

Seperti penerbangan internasional pada umumnya, sejak dari di pesawat, kita diberikan passenger’s declaration card. Kalo ke Aussie, penampakannya seperti ini:

img_0608a

Bisa dilihat, di situ ada 11 points yang harus di-declare. Kalo ragu, boleh ditanyakan ke petugas bandara yang menurut gw sih super ramah ya, kata siapa bule gak ramah… Justru lebih ramah kalo dibandingin pengalaman gw ke Malaysia, hehe. Anyway, berikut penjelasan point-point tersebut:

  1. Obat-obatan dan senjata. Bukan hanya obat-obatan terlarang yang harus dideclare, tapi juga obat resep dari dokter, untuk obat-obat warung seperti generic, Neozep, panadol gak akan jadi masalah karena mungkin banyaknya orang Indonesia yang datang ke Aussie membuat petugas jadi hapal dengan Panadol, haha.
  2. Alcohol yang lebih dari 1125mL atau rokok yang lebih dari 250 batang atau 250 g. Jadi kalo mau bawa rokok, hanya boleh tiga kotak aja, jangan pura-pura bego gak tau, karena ujug-ujug akan ditahan petugas. Rokok sangat ketat peraturannya karena di Aussie pajaknya mahal.
  3. Barang yang senilai atau lebih dari AUD 400. Peralatan elektronik seperti laptop atau kamera tidak termasuk.
  4. Barang dagangan kamu, atau sample yang digunakan untuk tujuan komersil.
  5. Uang cash senilai/ lebih dari AUD 10.000 (baik dalam dollar atau rupiah).
  6. Makanan, ini yang paling tricky. Gak semua makanan gak boleh masuk, hanya makanan tertentu aja, seperti buah segar, dried fruits, sayur, makanan hasil buatan sendiri (seperti rendang, sambal goreng, abon, gado2 etc) dan produk turunan susu dan telur, dairy products. Kenapa? Karena Aussie adalah negara penghasil dairy products, jadi mereka pingin kita beli produk mereka aja gitu… Lagian, disana harga produk turunan susu itu murah dan rasanya enak banget, kalo di Indonesia mungkin cuma ada di mall-mall mahal yang seenak itu. Hehe. Oia, kopi sachet yang three in one juga gak boleh ya, karena ada susunya. Kopi lain boleh asal bukan kopi luwak karena kopi luwak ternyata mahal banget disana harganya. Kita juga gak boleh membawa produk daging olahan yang tidak dikaleng. Alasan kenapa mereka gak memperbolehkan makanan daging adalah karena mereka takut daging yang berasal dari negara luar mengandung virus, misal virus ANTHRAX. My mom takut gak ada makanan yang sesuai seleranya ketika di Aussie, so tanpa sepengetahuan gw, dese udah masak rendang dua kilo dongs. Malesnya adalah, my mom ini tipikal orang Indonesia yang mau coba-coba siapa tau lolos dan gak percaya dengan omongan gw sampe ketika gw bilang, nanti didenda pake dollar lho! Baru dah mempan, orang Indonesia mah takut rugi! Hehe.
  7. Barang-barang yang terbuat dari bagian tanaman, misalnya souvenir yang terbuat dari kayu seperti seruling, ukiran kayu, souvenir kayu, dll.
  8. Bagian tubuh hewan.
  9. Tanah atau barang yang tereskpos dengan tanah, misalnya sepatu olahraga. Gw bawa sepatu juga sih tapi tanahnya kan gak tebel, jadi gak papa. Kalo mau aman, sepatunya dicuci dulu bagian tapaknya.

Screen Shot 2018-05-28 at 12.59.22 PM

Lalu apa nasibnya barang-barang yang gak lulus custom?? Masuk ke tong sampah! Hehe, berbeda dengan di Indonesia yang kemungkinan diambil petugas, mereka juga gak mau ambil resiko untuk dirinya sendiri, seperti makan makanan dari negeri orang yang mereka gak kenal.

Sebaiknya saat packing, barang-barang yang berpotensi dideclare kamu taruh di satu tas dan yang mudah dibuka, jangan dibungkus kado atau dibagian yang susah ambilnya. Walau pun udah dibungkus kado rapi-rapi, akan diminta bongkar.

Dari passenger card yang sudah diisi tadi, kita akan diminta berbaris ke antrian baris tertentu (pihak petugas yang menentukan kita di nomor berapa), di salah satu barisan, barang kita akan diperiksa dengan anjing security segala.

Kalau sudah melewati bagian ini, tandanya kamu sudah resmi dianggap tidak membahayakan untuk masuk Australia, enjoy your visit in Aussie!

20180515_091946.jpg

My face after an 8-hour journey. I forgot about tired, was just happy to be there. 

**For more of my Aussie stories, click here

 

CADAS 2018 : Cihud’s Adelaide Story 2018

Hey, everyone!

20180514_175304.jpgI’m writing this post in the State Library of South Australia di Adelaide. Yes, I made it to Aussie, even though for only 12 days this time (who knows, I came to Bali for two weeks in August 2017, two months later I came again and stayed for half a year).

Karena ini pertama kalinya gw travelling abroad ke western country, so perjalanan ini punya nilai historis bagi gw and I wanna document it on this blog, sekalian sharing apa aja yang menurut gw menarik atau aneh selama di negeri wong bule ini dari kacamata gw.

Tujuan utama gw pergi ke Adelaide adalah untuk menghadiri acara wisuda S2 abang gw yang kuliah di Carnegie Mellon University Australia, sekalian jalan-jalan sama nyokap gw, walau pun pada kenyataannya gw lebih banyak jalan-jalan sendirian karena nyokap gw gak kuat jalan kaki lama-lama (ya ampun hidup di luar negeri ternyata banyak jalan kakinya, bok!) sedangkan abang gw… yaaa gitu deh… he’s just being his self, mana peduli dia gw mau jalan kemana pun, boro2 diservis seperti layaknya kakak yang baik, dia mendidik gw untuk urus sendiri my own business dari kecil.

20180514_174921.jpg

Gw berangkat ke Aussie di pertengahan bulan May 2018 dimana Aussie akan memasuki winter season, so udara udah dingin di kisaran 13 C – 17 C. Namun karena kepedean atau saking gak pernah jalan-jalan ke luar negeri (jadi gw gak terbiasa memikirkan baju apa yang harus dibawa tergantung musim, karena musim dan cuaca di Indonesia kemana-mana mah hampir sama), baju yang kebanyakan gw bawa adalah dress selutut dongs… biar kece gitu kalo di foto, such a big fail! Untungnya gw bawa beberapa full leggings. Hari pertama gw sampe, gw cuma bisa merinding disko aja walau pun di dalam ruangan. Namun kerennya badan manusia adalah we adapt fast to changes, so hanya dalam beberapa hari setelah gw melawan dingin, gw udah udah bisa jalan kaki dalam cuaca begitu walau pun hanya dengan legging tipis dan jaket yang gak tebel (city jacket). Namun hal yang sama tidak terjadi di nyokap gw karena dese gak ngelawan dinginnya dan selalu berlindung di tumpukan baju tebal.

Di Adelaide kami tinggal di college tempat abang gw tinggal (college disini maksudnya bukan kuliah ya, tapi tempat akomodasi, kayak rumah kos-kosan gitu) karena biar gak mencar-mencar. Tadinya sih gw pingin couchsurfing atau Airbnb aja biar lebih hemat, but my mom insisted that we better stick together in one place.

Selama ini gw sangka hidup abang gw selama di Aussie prihatin lah gitu ya, ternyata sesudah liat gimana dia tinggal, menurut gw sih ini mewah lah buat orang yang cuma dapet partial scholarship di negeri orang yang mahalnya minta ampun. Gak jadi deh gw prihatin. Gimana enggak, di akomodasinya udah include breakfast dan dinner prasmanan all you can eat, sehat, gak perlu mikir mau makan/ masak apa, ada regular room cleaning service, ada library, meeting room, kitchen, entertainment room (lengkap dengan meja billiard, Netflix dan board games), ada juga ruang buat relaxing yang ada perapiannya gitu, dan free laundry. Apa-apaan ini, he’s not being Indonesian, as Indonesians, seharusnya dia hidup hemat menjurus pelit, masak sendiri dan bersihin kamar sendiri kek. Kebiasaan hidup nge-boss di Jakartanya masih dibawa-bawa. Ampun gw mah…

In his defense, what he pays is the good environment and network. Ibaratnya rusun ama apartemen di Jakarta kan gede ruangannya sama, tapi yang bikin mahal  adalah lingkungannya, you wanna be in the environment that can help you to achieve something. Emang bener sih ya… Kadang gw heran kalo liat banyaknya pelajar dari Indonesia yang notabene mendapatkan beasiswa full tuition dari LPDP malah hidup mepet-mepet dan kerja nguli, ibaratnya sekolah jadi nomor dua dan kerja nguli nomor satu. Sedangkan mereka dibiayai negara buat memprioritaskan pendidikan, buat apa cari kerja tambahan yang gak ada hubungannya dengan karir ke depan. Sedangkan abang gw yang cuma dapet partial scholarship dari pihak universitas malah mengusahakan untuk mendapatkan lingkungan dan pekerjaan sampingan yang sejalan dengan tujuannya. Kalo orang kayak gw atau abang gw yang dapet beasiswa full tuition mah, ya udah bakal fokus ke networking dan cari pengalaman yang nambah-nambahin CV aja kali gw. Tapi bok, belom rejeki… hehe…

1527300764659

My mom in front of my bro’s place

Walau pun hanya dua minggu dan hanya di Adelaide selama di Australia, banyak hal menarik yang gw alami dan pelajari. Dari baru mendarat di bagian custom di airport, wisuda a la bule, situs-situs historis, ngapelin koala, main LEGO di State Library and many more!

20180523_113050

Sebelumnya gw juga udah tulis tentang persiapan apa aja buat pengurusan visa di sini, dan proses gw mendapatkan visa Australia di sini. Please click here to read my day-to-day diary in Adelaide, Aussie.

Di semester pertama tahun 2018 ini gw tiap bulan jalan-jalan melulu, semoga bisa selalu dapat kemudahan seperti ini dan bisa liat penjuru dunia lainnya 😀

I can’t wait to tell my stories to you! Happy reading #CADAS2018 😀

Mengurus Visa Turis Australia Sendiri: mudah dan lima hari kelar!

2018 has been a travelling year for me! Tiap bulannya, dari Januari sampai Juni, I have  not and will not stay in one city only, udah ada jadwal travelling! Jadi susah sih untuk fokus on my thingies, tapi yah disyukuri aja mumpung rezeki. Tahun ini juga pertama kalinya gw ke luar negeri setelah 27 tahun hidup di bumi, dimulai dari Malaysia di bulan April kemaren–mainstream banget ya ke Malaysia–and in this May, I will fly to Aussie for two weeks! Woohoo!

Gara-garanya Abang gw wisuda S2nya di Adelaide and we havent met since he left almost two years ago, so my mother sudah kangen akut dan pingin ngehadirin wisuda, disangkanya acara wisuda di luar se-hebring wisuda di Indonesia. Sebenernya gw sih gak pingin pergi mengingat biayanya mahal banget, lebih baik uangnya dipake buat yang lain, but my mother insisted and she doesn’t speak any English, gak mungkin dong dese dibiarin pergi sendiri, takutnya nanti emak gw dititipin narkoba ama orang trus udah muncul aja di TV. Duh, kebanyakan nonton Narcos ini gw!

Berhubung ada tiket promo, jadi kami beli tiket dulu sebelum mengurus visa, udah gitu baru mengurus visa dalam 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan! Padahal menurut rekomendasi dari kisah-kisah di internet, sebaiknya persiapkan waktu dua bulan sebelum jadwal, just in case visa ditolak dan harus re-apply, diperkirakan pengurusan visa memakan waktu 15 s/d 30 hari, malah ada yang pernah sampai 1,5 bulan dan ujung-ujungnya ditolak. Nah lho, jadi tambah horror kan! Ini juga pengalaman pertama gw mengurus visa, so I was very nervous, lah kok ya mau ngasih devisa ke negara orang aja prosedurnya lebih susah dibanding ujian SPMB yang menentukan jalan hidup gw, sedangkan mereka bisa gampang aja keluar-masuk negara kita, oh susahnya jadi pemilik passport hijau ini! Hiks!

Namun sebenarnya hal ini gw rasa rumit karena belom pernah mengurus visa, kalo sudah pernah, berkas-berkasnya hampir sama untuk apply ke negara lain. Jadi pastikan aplikasi kamu lengkap se-lengkaplengkapnya walau pun yang bakal memutuskan orang kedutaan juga, at least you’ve done your part well.

Hal pertama yang gw lakukan adalah riset dari internet dari sumber resmi dan cerita di blog yang visanya ditolak dan diterima. Maka itu gw simpulkan untuk mengurus visa sendiri daripada ke agen karena banyaknya visa perorangan yang apply melalui agen memakan waktu lama dan kebanyakan agen tidak perduli dengan kelengkapan data kita, toh mau visa kita ditolak atau diterima mereka tetep dapet duit. Mereka hanya terima aplikasi kita (yang mana harus kita isi sendiri, bukan dibantuin) dan dikirim ke VFS Global (agen resmi pengurusan visa yang ditunjuk oleh kedutaan Aussie).

Oh ya, dengan ditunjuknya VFS, kedutaan tidak menerima pendaftaran langsung ke kedutaan, mungkin mereka males kalo rame orang berbondong-bondong dateng ke kantornya. So, agen-agen seperti Dwi**ya Tour dll hanya jadi perpanjangan tangan yang memakan biaya tidak perlu. Di bagian pengisian formulir juga ada pertanyaan apakah kita menggunakan agen atau tidak, menurut gw sih ini menjadi bahan pertimbangan bagi kedutaan karena biasanya orang-orang yang menggunakan agen dinilai suka ambil shortcut gitu deh. Lagian, semenjak bulan November 2017 lalu, pendaftaran visa Australia sudah bisa melalui online di link ini, so kita yang tidak harus datang langsung ke kantor VFS yang cuma ada di Jakarta dan Bali. Tapi berhubung gw ada urusan lain ke Jakarta, jadi gw memilih mendatangi langsung ke VFS Jakarta yang berlokasi di Kuningan City Mall lantai 2.

Sebelum gw jelaskan detailnya apa aja yang harus dipersiapkan, I want you to keep this in mind bahwa pihak kedutaan menilai dari hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu.

Supporting documents yang akan dicantumkan mengacu ke poin-poin di atas, walaupun namanya supporting documents, tapi sangat berpengaruh sebagai bahan pertimbangan kedutaan, semakin lengkap semakin baik, daripada di-reject dan duit melayang. Visa OZ berbeda dengan visa negara lain yang bisa mengajukan banding ketika visa ditolak dan ada kemungkinan uang dikembalikan. Sedangkan visa OZ sungguh raja tega! Kalau sampai direject, harus bayar dan daftar ulang lagi. Detail checklist kelengkapan formulir dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Kebanyakan sumber yang gw baca di internet adalah yang mengurus visa untuk orang yang sudah bekerja, bukan wiraswasta atau pun freelancer seperti gw. So, gw akan membuat posting khusus tentang kelengkapan data apa aja untuk kasus gw di post ini daripada terlalu panjang kalo dibahas dalam satu post ini.

Setelah siap semua data yang diperlukan, kita harus mendaftar appointment dulu ke situs resmi VFS, karena kalo sampai gak daftar dan langsung go show aja, kita bakal kena biaya tambahan sebesar Rp 115.000 per applicant (di denda gitu, ya ampun mau bertamu aja kena denda ya, somse banget dah ini negara!) Disitu kita bisa memilih hari dan jam yang bagi kita memungkinkan kapan kita datang, bisa direschedule maksimal 2 kali.

Data yang dimasukkan harus sama persis dengan yang di passport, karena kalo typo sedikit aja bisa berabe. Berhubung gw pergi sama mama, gak perlu bikin dua akun, satu akun aja dengan dua data applicant. Satu akun maksimal 5 applicant. Jadi kalau kamu pergi dengan suami, istri, dan dua anak, kamu harus mengisi empat data applicant.

Setelah selesai kamu akan mendapatkan email undangan dari VFS yang ditunjukkan saat datang ke kantornya, gak perlu di print, ditunjukkan dari HP juga gapapa. Dan gak harus datang semuanya, satu orang saja juga boleh, karena gak ada wawancara, hanya penyetoran document aja dan pembayaran visa sebesar 135 AUD (jadi besarnya biaya tergantung kurs yang berlaku ya!) dan biaya pendaftaran ke VFS sebesar Rp 165.000, ada biaya lain kalau mau dapat pemberitahuan proses visa via SMS sebesar Rp 25.000 per applicant, total yang gw bayar saat itu Rp 1.730.000 per applicant. Karena banyaknya jumlah pertanyaan di formulir subclass 600, kalau ada pertanyaan yang ragu, bisa ditanya langsung ke staffnya maksudnya apa.

Untuk visa turis, kita tidak perlu membawa semua dokumen asli kecuali passport yang akan ditunjukkan saat pelaporan ke VFS. Namun passport ini bisa langsung dibawa pulang dan tidak ditinggal di VFS. Berbeda dengan pengajuan melalui agen yang meminjam passport kita sampai ada jawaban dari kedutaan. Repot banget kan kalo passport kita dipinjam selama 1 bulan dan akan pergi ke luar negri sementaranya!

Pembayarannya melalui cash, kalau melalui debit dan berbeda bank akan kena charge 3%, lumayan bowh buat jajan somay. Disaat pengecekan document ada lembaran checklist yang diisi oleh staff VFS, pihak kedutaan akan mengacu ke lembar tersebut sebelum membaca isi dokumen kita, so pastikan kita mengecheck ulang apakah sudah sesuai sebelum kita tanda tangan. Seperti kasus gw yang si Mbaknya awalnya menulis gw tidak menyertakan beberapa supporting documents yang padahal ada, jadi dikoreksi sama Mbaknya, total kelengkapan gw lengkap banget malah, haha! Nah ini enaknya mengurus sendiri, sedangkan kalo lewat agen, kita tidak bisa lihat data kita diisi dengan benar atau tidak.

VFS ternyata gak mengurus visa Aussie saja, tapi juga negara-negara lain seperti NZ dan UK. Untuk ke Aussie, lokasinya di paling belakang. Begitu masuk sudah terasa aura imigrasi karena melalui metal scan, dilarang membawa laptop ke dalam. So kalau kamu bawa laptop, harus dititip dan bayar biaya penitipan.

Setelah bayar, yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Staffnya bilang akan diproses dalam waktu 15 sampai 30 hari, tergantung pihak kedutaan. Waduh, padahal gw cuma punya waktu 3 minggu sebelum keberangkatan! But I think I’ve done my part very very well, clearly dan super complete, hence gw bisa dikatakan confident dengan aplikasi gw.

Saat itu kami mendaftar pada tanggal 18 April 2018 yang jatuh di hari Rabu, setelah lima hari kerja (so, Sabtu dan Minggu gak diitung ya bro), email cinta dari kedutaan sudah datang dan menyatakan visa kami approved! YEAY!! Saking senengnya sampe joget-joget India, minus tiang bendera aja! Oh ya, selama lima hari itu kami juga mendapat SMS kok dari VFS tentang proses visa kami. Mungkin juga karena kami apply tidak di high season, jadi prosesnya cepat. Kalau visa sudah pernah diapprove, saat apply lagi dikemudian hari jadi lebih meyakinkan. Akan sulit bagi kamu mendaftar visa kalau sudah pernah ditolak dua kali, ibaratnya ya pacaran putus-balik sama mantan lebih dari dua kali, ya mendingan move on ke negara lain aja, hehe.

Good luck buat yang lagi berjuang visa! 😀

pic_approved