#CADAS2018: Gelandangan di Adelaide

20180521_141248.jpg

Sebagai warga negara dari negara berkembang, gambaran awal gue tentang negara maju seperti Australia adalah rakyatnya makmur sentosa karena negaranya beneran berusaha memberikan yang terbaik buat warganya, pajak tinggi tapi emang bisa dinikmati rakyat, kebutuhan hidup terpenuhi, gak kayak negara kite yang uang buat bikin KTP aja dikorupsi rame-rame.

Australia juga memberikan jaminan pensiunan yang baik untuk warganya, makanya banyak orang-orang tua yang bekerja sebagai volunteer di tempat-tempat seperti museum dll dan gak digaji, karena mereka juga hidupnya udah secured. Dengan gambaran seperti itu, gw jadi gak ngerti kenapa masih gw liat ada homeless people di Adelaide.

Orang-orang ini hidup hanya dengan tas yang berisi kebutuhan hidup untuk empat musim. Mereka menggunakan fasilitas publik untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dengan bis gratis, mandi, buang air dll. Gue disana saat musim dingin, kebayang dong kalo harus berada di luar ruangan terus selama berbulan-bulan di udara seperti itu. So, orang-orang ini kadang curi-curi kesempatan di fasiitas umum seperti perpustakaan, pengalaman yang lucu ketika gw ngeliat orang yang pura-pura ngebaca buku di perpustakaan dengan kacamata yang ada stiker mata, sehingga seolah-olah dia lagi baca buku, padahal numpang tidur, hehe.

Gw penasaran, kok masih ada yang hidup jadi gembel disini dan kenapa gak ada gw temuin gelandangan yang usia anak-anak (beda dengan Indonesia yang gelandangan dari segala umur ada). Berbuhung gw anaknya hiperaktif, jadi gw selalu mencari event yang ada di suatu kota yang lagi gw tempati dari internet, apps yang biasa gw pake untuk menemukan event-event menarik adalah Eventbrite. So, hampir setiap hari selama di Adelaide, gw selalu aja ada event yang gw datengin, dari seminar sampe kelas yoga dan dance dan malah malam perkumpulan orang-orang Arab pun gw datengin (padahal gw bukan Arab!). Salah satu event yang gw datengin adalah charity event tentang homeless people ini dimana komunitas tersebut mencoba menolong para homeless people dengan bantuan makanan, pakaian, sharing skill untuk mencari kerja, atau hanya being someone to talk to, dan sebagai mediasi aspirasi dari apa yang mereka harapkan dari pemerintah. Jadi gw ikutan deh, jarang-jarang kan gw nemu gembel bule-bule, hehe.

Ada sekitar 15 gelandangan yang dikumpul saat itu, sebagian besarnya ras kulit putih dan semuanya berusia dewasa, gak ada usia anak-anak. Saat itu gw bertanya hampir ke mereka semua tentang apa yang terjadi di hidup mereka sehingga mereka bisa di situasi ini, kenapa sampe negara gak bisa menolong lagi. Kesimpulan gw dari para gelandangan ini dan juga informasi dari para volunteer adalah bahwa penyebab kemiskinan paling tinggi di Australia adalah ADDICTION alias penyakit kecanduan terhadap sesuatu, baik itu candu drugs, alcohol dan judi. 

Setiap orang punya alasan masing-masing yang membuat mereka berada di situasi seperti itu, pemicu kebanyakan adalah depresi yang bisa disebabkan karena kejadian buruk di masa lalu atau ketidakpuasaan dengan sesuatu. Salah satu contohnya, ada ibu-ibu yang jadi gelandangan karena korban sex abuse waktu dia masih berumur 18 tahun dan berpuluh-puluh tahun kemudian kejadian itu masih mempengaruhi dia sehingga dia gak bisa fokus bekerja dan mengejar mimpinya, it’s hard for her to get back on her feet, padahal waktu itu dia baru aja keterima kuliah di universitas bergengsi dengan harapan sukses di kemudian hari.

Awalnya, karena gw berasal dari negara yang katanya negara miskin, mendengar alasan kata addiction membuat gw sekilas gak simpati karena gw berfikir, itu kan pilihan lo, lah di negara gw lebih banyak orang-orang yang lebih pantas ditolong karena mereka gak pernah punya pilihan. Tapi sebenernya itu pemikiran yang ignorant, karena just because mereka hidup di negara kaya tidak menjamin kalo hidup mereka terlepas dari masalah.

Addiction memang terdengar seperti pilihan, namun sebenarnya mereka juga helpless. Coba fikirkan kalo aja saat umur begitu belia, kita dikhianatin oleh orang yang kita percaya separah itu, sedangkan gua aja waktu masih 17 tahun enggak dibolehin kuliah di tempat yang gw mau, gw memendam kekesalan itu sampe lebih dari lima tahun, dan itu mempengaruhi gw membuang-buang waktu, uang dan tenaga selama bertahun-tahun.

Alasan kenapa gak ada gelandangan anak-anak adalah karena negaranya punya child care yang baik, kalo ketemu anak gak keurus di jalanan, negara mengambil alih. Namun demikian gak ada yang menjamin anak-anak tersebut bisa terlepas dari kekecewaan setelah mereka dewasa walau pun negara udah berusaha sebisa mungkin.

Depresi bukan lah hal yang sepele. Gak ada orang yang memilih untuk depresi, bahkan Dewi Persik yang gila drama sekali pun. Para volunteer ini sebagian memiliki background yang pernah berhubungan dengan pengidap depresi, entah keluarga atau temannya, jadi mereka membantu para gelandangan ini sebagai mediasi harapan dari para gelandangan ini bagi pemerintah dan masyarakat, memberi donasi atau hanya sebagai somebody to talk to for a night. Karena bisa jadi ada yang berencana mengakhiri hidupnya karena merasakan kesepian dan kegagalan yang mendalam, tapi karena seseorang ‘lending his ears and attention’ bahkan hanya untuk sejenak, itu bisa merubah pilihan orang tersebut.

Advertisements

#CADAS2018: Pengalaman tidak menyenangkan di Australia, dikatain “Immigrant” sama bule

Overall, pengalaman gw selama liburan di Adelaide, South Australia memberikan kesan positif baik untuk alamnya, pengelolaan daerahnya dan orang-orangnya yang menurut gw ramah-ramah dan sopan. Mereka kayak udah di-setting default untuk mengucapkan “Thank you”, “Sorry” dan “Excuse me”, mereka mengatakan “Sorry” walaupun bukan mereka yang salah, contoh kecilnya kalo gw jalannya hampir nabrak, harusnya gw yang minta maaf duluan, tapi mereka udah refleks aja gitu bilang “I’m sorry”, mau dari orang tua sampe anak kecil umur 4 tahunan udah begini.

Tapi bukan berarti gw gak mengalami kejadian kurang menyenangkan selama di Aussie, walau pun gw sebenernya juga  menunggu-nunggu untuk dikecewain, soalnya gw capek juga ya terkesima. I was like, “Ayo dong tunjukkin gw kekurangan lo sedikit aja, gak mungkin dong ini negara bagus-bagus doang.” Well, gw menemukan beberapa kekurangan juga akhirnya, banyak juga kok, namun yang satu ini gw bener-bener gak nyangka, dan pertama kalinya seumur hidup gw diperlakukan begini (yah secara gua belom pernah hijrah antar negara dan menjadi minoritas di negara lain).

Kronologisnya, gw lagi melalang buana sendirian di city center yang mana gw kesana hampir setiap hari (karena harus beliin nyokap gw makanan Indonesia di mall, jauh-jauh ke negara orang, nyokap gw cuma mau makan makanan Indonesia, hehe). Di Australia, negaranya banyak aturan, bahkan untuk menyebrang jalan aja ada aturannya. Kalo di Indonesia, kita bebas mau nyebrang kapan aja asal resiko tanggung sendiri. Di Australia, sebelum menyebrang jalan kita harus memencet tombol dulu dan menunggu sampai terdengar bunyi yang menandakan kita sudah boleh menyebrang jalan, hal ini gak cuma di pusat kota saja, tapi di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota pun demikian. Jadi, orang-orang serentak menyebrang bersamaan dan kendaraan berhenti, gak ada satu pun yang mencoba nyelonong melabas.

Orang-orangnya pun mostly menaati peraturan tersebut, ada juga yang gak menaati aturan penyebrangan ini dan menyebrang begitu aja, tapi hanya satu-dua, jarang gw temuin. Kalau pun menyebrang begitu, palingan saat jalan sangat sepi. So, gw juga gak enak dong kalo gak menaati aturan ini, bisa-bisa gw dapet tatapan cringe gitu kan, apalagi warna kulit gw beda dengan mereka, jadi gw harus menjaga kehormatan ras gw yang sudah terlalu banyak tercemar reputasinya ini, hehe.

Hari itu hari-hari terakhir gw di Adelaide, langit Adelaide lagi gerimis dan gw akan menyebrangi jalan, di sisi gw hanya ada gw dan satu orang pria kulit putih. Dari sisi seberang, ada wanita kulit putih berbadan gemuk yang kelihatannya lagi bad mood karena mukanya menggerutu. Cewek ini langsung nyelonong aja tanpa menunggu bel berbunyi, sedangkan orang-orang lain disisi seberang menunggu. Saat sudah sampai di sisi gw yang di seberangnya, dia berjalan lurus aja jadi berpapasan dengan gw yang berdiri di tempat yang seharusnya. Bukannya melipir dikit (sebelah-sebelah gw kosong lhoo, cuma ada gw dan satu cowok), dia malah memilih hampir menabrak gw, I stood on my ground karena emang gw gak salah, eee… dia malah bilang, “You immigrant!!” yang bisa diartiin, “Dasar lo, imigran!!” dengan intonasi geram lalu melewati gw.

HAH?? Apa dia bilang barusan?? GUE IMMIGRANTTT??

Cowok kulit putih di sebelah gw tadi yang melihat itu meneriaki cewek itu, “Hey!! you’re a loser!” namun gak digubris, dia jalan melengos aja. Cowok itu lalu bilang ke gw, “I’m sorry for that, don’t mind her, she’s just a loser.” Gw cuma ketawa aja, “Dont worry, I bet she is, I’m just a tourist by the way and this is my first time in Australia.” Si Mas bule jadi gak enak, ujung-ujung ngobrol, ngobrol dan ngopi bareng. hehe tapi yang ini lain cerita.

Gw masih mencerna apa yang barusan terjadi, ini beneran apa enggak sih gw dikatain immigrant sama orang yang gak kenal gw sama sekali. Dia kan gak tau latar belakang orang yang dia katain itu apa, bisa jadi turis kayak gw atau bisa jadi orang yang dia katain adalah orang yang sudah menjadi warga negara Australia dan sudah berkontribusi besar untuk negaranya. Gimana coba kalo sampe kejadian ke orang lain yang ternyata pemenang olimpiade internasional?? Atau simply an ordinary permanent resident yang sama-sama bayar pajak, menaati peraturan yang sama dan berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di negaranya?

Lagian dia lupa kali ya sejarah nenek moyangnya, penduduk asli Australia kan suku Aborigin keles mbak, yang notabene berkulit hitam, bola mata hitam, rambut hitam. Jadi yang berketurunan imigran disana siapa ya?? Kalau memang gw imigran, seharusnya dia yang malu karena dia sendiri yang gak menghormati peraturan negaranya, walau pun cuma peraturan menyebrang jalan.

Cuma karena warna kulit gw, mata, rambut dan penampakan fisik gw yang berbeda, dia bisa seenaknya aja menyalahkan orang lain atas kesalahan dia sendiri. Gw menceritakan hal ini ke abang gw yang tinggal di Adelaide dan kenalan-kenalan gw orang Australia selama disana, mereka semua mengatakan kalau orang seperti itu di Australia disebut ‘bogun’, yang artinya orang Australia kulit putih kelas bawah yang biasanya bersikap kasar dan anti dengan yang asing karena pendatang banyak yang lebih sukses dari mereka.

Well, hal seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, di Amerika yang sedang hangat juga demikian, padahal ini negara terbentuknya juga karena imigran! Di negara kita sendiri juga begitu. Identitas tentang pribumi dan non-pribumi dimasalahkan. Kalau difikir-fikir mah ya, di zaman udah mobilitas tinggi begini, apa masih ada lagi yang bener-bener 100% original? Bahkan kodok aja dari masa ke masa bisa mengalami perubahan dan perpindahan, apalagi manusia. Gak ada yang jamin gw bener-bener 100% keturunan Indonesia apa enggak, siapa tau nenek moyang dari nenek-nenek moyang keluarga gw adalah orang Arab, Belanda, India Terajana Kuch-kuch hota hai atau malah Zimbabwe yang hijrah ke Indonesia. Nah apalagi si cewek tadi yang sejarah negaranya udah terpampang kemana-mana. Sedangkan Nabi aja menganjurkan untuk hijrah, so, Nabi sendiri pun pernah jadi imigran dong ya. Lantas apa yang salah kalau fisik dan identitas kita berbeda tapi kita menjalankan kewajiban yang sama? Selama kita mencapai apa yang kita punya dengan tidak mendzalimi orang lain, ya sah-sah aja dong. Lebih baik bangga dengan apa yang kita lakukan ketimbang perihal ‘kita siapa’. In the end, what define a person is not his/ her identity (race, religion, beliefs, family background), it’s what he/ she does. As JFK once said, “Don’t ask the world what it can give to you, ask yourself what you can give to the world.”

Kasian si wanita kulit putih tadi yang masih seperti itu pemikirannya, semoga aja dapet hidayah si Mbak’e. Lo mikir kayak gitu gak akan bikin negara lo maju, Mbak… (Tapi negara doi emang udah maju juga sih ya… huhu, hoki aja lo, Mbak, lahir disana).

IMG_20180518_201543.jpg

Patung babi di tengah pusat kota di Rundle Street mungkin menginterpretasikan sesuatu. Mungkin ya, mungkin… cuma mungkin.

 

#CADAS2018 Day 3: Wisuda a la Bule di Adelaide

Seperti yang sudah gw jelaskan di posts sebelumnya, alasan utama gw ke Adelaide adalah untuk menghadiri wisuda S2 abang gw yang kuliah di Carnegie Mellon University. Ini adalah pertama kalinya gw menghadiri acara wisuda bule atau ke-bule-bulean, maklum gw mah anak kuliah universitas negeri aja, gak tau ya kalo di Indonesia kalo di universitas franchise internasional gitu gimana acaranya.

Carnegie Mellon University (CMU)  ini adalah universitas swasta franchise dari Amerika yang masuk dalam Top 50 QS Global World Ranking dan baru beberapa tahun berdiri di Adelaide, jadi mungkin belum banyak yang tau, hehe.

IMG_3033

Gede banget ya bok, ijazahnya :p

CMU Australia berlokasi di sebelah Flinders University, bangunannya bangunan tua seperti kebanyakan bangunan lain di sekitarnya. Namun di dalamnya didukung dengan teknologi yang oke punya, bahkan mau masuk toilet aja musti punya kartu akses.

Kalau wisuda–apalagi wisuda S2–di Indonesia, biasanya ya heboh gitu kan ya, wisudawati khususnya, dengan make-up full menyaingi make up Kim Kardashian, baju kebaya sampe harga jutaan, begitu juga dengan keluarga para wisudawan/ti. Namun di adatnya negara bule ini, acara wisuda jauh berbeda dengan kultur kita yang hebring. So, abang gw udah mewanti-wanti agar gw dan nyokap gw gak tampil all-out a la West Sumatrans. Gw sih aman lah karena gw lebih familiar dengan kultur mereka ketimbang nyokap gw. Nah nyokap gw ini dong, gak percaya banget dibilangin.

 

IMG_3124

Wearing my own design yang tadinya mau dipake ke acara wisuda

Bahkan semenjak masih di Indonesia sebelum berangkat, dimulai dari hari visa kami granted, setiap malam (literally EVERY NIGHT), nyokap gw bolak balik bak peragawati gonta-ganti kostum yang menurut gw sih sama aja, cuma baju kurung plus songket. Tapi kok ya mudeng banget menentukan pilihan, alasannya “Mama gak mau nanti abang malu ngenalin mama ke orang-orang kalo mama gak oke.” , duuhh gw mah… durhaka amat tu anak kalo sampe begitu. Gak cuma rempong masalah outfitnya sendiri, nyokap gw juga selalu nanyain gw bakal pake baju apa, “Kamu kan designer, pake aja salah satu baju kamu itu…” Ya tapi kan gw bridal designer… Gak mungkin dong gw pake gaun heboh begitu, disangka mau menghadiri acara Gala bisa-bisa gwnya!

Namun tetiba aja, satu hari sebelum berangkat gw kemasukan setan kali ya, jadi langsung bikin baju yang formal tapi tetep simple, dress selutut warna abu-abu. Tapi apa daya, Adelaide saat itu dingin banget, gak memungkinkan untuk gw pake baju ini apalagi itu hari kedua gw sampai di Adelaide, so badan gw masih belum terbiasa dengan suhu disana. Ujug-ujug gw hanya memakai celana jeans dan blazer yang kata nyokap gw, “Kamu ini mau ke acara wisuda kok kayak preman.”

IMG_2944

Kostum preman menurut nyokap gw.

Sebelum acara utama, hari sebelumnya kami mendapat undangan untuk menghadiri reception party dimana para calon graduates dan keluarganya (sesuai undangan) diundang ke acara small gathering gitu deh a la standing party. Begitu masuk ke dalam ruangan, kami langsung disambut dengan staff universitas yang sudah bisa menebak kalo kami adalah Harry’s family (my brother), mungkin karena muka gw yang mirip banget sama abang gw. Para profesor dan dekan juga hadir dan berbincang dengan para keluarga yang datang, yang bikin gw salut adalah mereka gak membawa statusnya ke dalam pembicaraan, jadi mereka sangat sangat humble, bahkan mereka menawari gw dan nyokap gw pinjaman jas musim dingin saat gw bilang udara di Adelaide terlalu dingin untuk manusia tropis seperti gw so I didnt bring enough warm clothes. Nah kapan coba ada dosen di universitas gw dulu yang bisa segitu humblenya. Dari staff sampe kepala universitas menghadiri seluruh masing-masing keluarga dan abang gw mendapatkan komentar positif dari semuanya tapi nyokap gw gak ngerti bahasa Inggris sama sekali jadi gw harus mentranslate dengan setengah hati, udah bosen aja gw rasanya dengerin dia dipuji-puji dari SD yang membuat gw sebagai adiknya hidup dalam bayang-bayang prestasi sang kakak. –..–“

Besoknya, tanggal 16 May 2018, adalah the graduation day. Gw hadir dengan kostum preman gw dan nyokap gw dengan baju kurung dan songket andalannya. Karena pendiri CMU memiliki darah Skotlandia, jadi ada tradisi Scottish untuk pembukaanya dimana para graduates diarak dari gedung universitas ke gedung perhelatan wisuda (hanya beberapa ratus meter) diiringi dengan tiupan pipe band lengkap dengan seragam kulot a la Skotlandia, bahkan sampe udah masuk di dalam gedung pun pipe ini masih ditiup, bayangin dong gimana bisingnya suara alat musik yang gak bisa lemah-lembut ini, haha.

IMG_2951

Banyak dari mahasiswa CMU yang berasal dari negara lain yang gak cuma negara-negara Asia. Nyokap gw ternyata menjadi satu-satunya yang berpakaian adat, bahkan yang dari India pun gak ada yang memakai kain sari kayak kalo wisuda di UNAND (note: di fakultas kedokteran UNAND banyak mahasiswa dari India dan Malaysia yang kalo wisuda, orang tuanya datang memakai kain sari). Para graduates juga gak ada yang tampil lebay, make-up mereka tipis banget, malah lebih heboh makeup anak SMP Indonesia yang nongkrong di mall ketimbang makeup wisuda mereka. Kalo di Indonesia, biasanya yang wajib hadir adalah orang tuanya wisudawan/ti, tapi di wisuda CMU banyak gw liat yang malah gak dihadiri siapa-siapa atau hanya GF/ BFnya aja.

Yang sangat ‘bule banget’ dari acara wisuda ini adalah ketepatan waktu, dari waktu masuk sampe waktu keluar, lewat semenit aja enggak. Susunan acara pun ringkas dan to-the-point, mungkin karena biaya sewa gedung mahal yak… Speech dari para petinggi universitas pun keren-keren, gw udah berasa kayak nonton TED Talk. Yang paling berkesan adalah speech pertama dari kepala yayasan CMU dari US karena kalimat pertamanya adalah kur-leb seperti ini, “May what you achieved today, whatever your  major is, are the choices of your own, not anybody else, live your life the way you dream it to be because that’s the first thing that matters.” Jleb banget itu… gak banyak gw denger ceramah di Indonesia apalagi di institusi akademis yang mengutamakan self-discovery, kebanyakan kita hanya dituntut jadi ini-itu aja. Sehabis itu para lulusan terbaik dari tiap jurusan juga memberikan valedictorian speech, kata profesornya sih, abang gw nyaris jadi lulusan terbaik karena nilainya hanya bersaing 0,3 dari yang nomor satu.

Acara terakhir adalah penyerahan ijazah kepada masing-masing graduate yang dipanggil satu-satu ke atas panggung namun tanpa adegan pemindahan tali toga kayak di Indonesia. Sehabis itu seluruh graduates dan undangan menikmati dessert di lantai dua, lagi-lagi standing party, nyokap gw hanya bisa berdiri-berdiri sambil senyum awkward karena gak bisa bahasa Inggris. Untungnya gw udah biasa di acara social gathering bule (apalagi waktu di Bali) so I didn’t make any awkward conversation, malah sampe-sampe gw ditawarin partial scholarship juga sama dosennya kalo mau kuliah disana juga, hehe… tapi gak ada jurusan fashion design dongss…

IMG_3018

Happy Graduation, Bro!

#CADAS2018 Day 2: My first day in Adelaide

I arrived in Adelaide on May 15th 2018 morning after a 7.5 hour long flights in total (via Singapore). At that time, it’s autumn already in Adelaide while just two weeks before I came, the weather was perfectly warm (that’s what people said).

This is my first travel to a western country which has more than two seasons. In Indonesia, I don’t need to really concern about clothes when travelling, because every where and every season, it’s relatively similar temperature. What can affect how one should dress when travelling in Indonesia is not the temperature, but the religions and beliefs of the people in the area.

For me as a tropical human, I get cold easily, even if I turn on the AC to 25 Celcius, imagine how Adelaide’s 13 C – 17 C temperature was torturing me at that first time. I admit that it was also my fault to underestimate the temperature and prioritized which clothes would make me look good in photos instead of ones that can comfort and secure me from cold. 70% of my luggage is knee-length dresses which I thought would look good with old European-influenced buildings in Adelaide, this decision turned out to be a big fail.

Lucky I brought some stockings and yoga pants (yes I thought of trying yoga classes or even morning jogging, but the cold made me step back –..–” ), so I wore yoga pants underneath my stockings. Phew!

20180515_151645.jpg

The real reason why I crossed my legs was because I was freezing.

The first day I arrived, we went to my bro’s university for a reception party (a small party for the graduates’ families), but it started in the late afternoon, I felt that I should not just waste time waiting, so we decided to go early to look around the city. And I decided to challenge myself with this outfit (in photo), I wanted to adjust my body to the cold fast so that I would be able to enjoy the city instead of hiding under layers of blanket at home.

The first time we landed at the airport, there’s a funny feeling I felt that may be unusual to hear if you’re white. In my country, white people call their selves expats–just like everywhere–, and they’re mostly treated a level higher than others. In Bali–I lived in Bali for half a year–there are so many foreigners (mostly white), whether they’re only tourists or work/ have business there. Even if they’re working in Indonesia, most of them have descent jobs or higher class, or if they work as, say, teachers, they’re paid four times higher than local teachers in international schools. So, visiting a dominantly-white country and seeing white people doing blue-collar jobs, it felt different for me, especially when I saw white homeless people on the street (yes, there are still people living on the street in Aussie too!), I mean that’s just not common to see for me, even though I know that people are just the same everywhere, we do what we gotta do, we gotta work even it means a job that people don’t really appreciate. It felt different–I don’t know which word can describe it best–when a white cleaning lady cleaned my table in a cafe, I imagined if she’s not in that uniform and not holding broom, and she’s in Bali, she would be treated with the so-called expats service, she would suddenly be a princess. It’s unusual for my eyes, because usually it’s the other way around in Indonesia.

The people I saw in the airport were the ones that gave me the first impression about a country and my first impressions about Australians were they’re very nice and friendly. They always say “Thank you” and “Sorry”, even for minor things and sometimes it’s my fault, it made me feel that I’d been impolite all my life because I didn’t say those words as much, LOL. The airport officers, even though they’re strict in doing their jobs (which I am not used to see people in uniforms being string doing their jobs in Indonesia), they’re very friendly and helpful. Even the immigration officer made a small talk with me and my mom asking whether we’re excited about our holiday in Aussie. It may be just a little thing, but it made us felt welcome. This experience made me feel that maybe Indonesia needs to review/ evaluate our airport staffs.

As soon as I stepped out of the airport building and saw Adelaide’s sky, I was amazed to see how blue the blue sky in Adelaide. I saw sky that blue in Indonesia only when I was sent to remote areas when I was still working for WWF and in Gili Air (Lombok) during a holiday, that’s because in those areas, there are not many motor vehicles (especially in Gili Air, motor vehicles are prohibited). Adelaide’s sky is not polluted, it’s bright, maybe even brighter than my future. LOL. But how come we live under the same sky but the sky can look different?

Another thing that wowed me was the fact it’s sooo clean. My eyes couldn’t find any trash on the street! If this is the impression that I first got coming to their country, I wonder what they think when coming to my country and see our streets. Ouch!!

20180515_145818.jpg

In Indonesia, people run away from the sun (afraid of getting dark skin), in Adelaide I just wanted to get under the sun because it’s warm.

 

**For more stories in Adelaide by me, click here.