#CADAS2018 Day 1: Ke Australia dengan Singapore Airlines

It was the 14th of May 2018, my Mom and I were ready to fly to Adelaide, South Australia. YEAY! Tiket pesawat yang kami beli waktu itu sedang di harga promo, hanya Rp 6.500.000 untuk return tickets kelas ekonomi per orangnya dengan maskapai Singapore Airlines. Lagi hoki juga ini, karena kalo dibanding dengan AirA*ia harganya sama tapi gak dapet makan nekkk… giling aja penerbangan 8 jam gak makan-minum, hehe.

20180514_191103.jpg

my mom doesnt really like camera –-..–“

Ini adalah kali pertama gua terbang dengan Singapore Airlines, maklum lah kere. Dan ternyata, pengalaman pertama gua ini membuat gw memberikan nilai A+ buat Singapore Airlines untuk servis dan fasilitasnya! Highly recommended untuk melakukan penerbangan panjang. Penerbangan kami menuju Adelaide melalui transit di Singapore. Penerbangan dari Jakarta ke Singapore selama 1,5 jam dan Singapore ke Adelaide 6 jam.

Pesawat yang digunakan adalah tipe Airbus yang gede itu, jadi susunan bangkunya bukan 3-3 melainkan 3-4-3. Enggak kayak budget airlines yang jarak antar bangkunya mepet sangat, Singapore Airline seperti Garuda Indonesia yang lebih luas dan manusiawi, hehe. Mungkin udah standarnya kalo maskapai nasional begitu ya.

Setiap bangkunya mendapatkan screen TV untuk entertainment yang berisi musik, podcasts, film, TV series dan game. Judul-judul film dan TV series yang tersedia juga keren-keren lho! Selama penerbangan gw menonton beberapa TV series dan film, salah satunya All the Money in the World yang terinspirasi dari kisah nyata. Di bawah layar, ada remote yang bisa digunakan juga sebagai stick untuk main games.

20180525_170455Yang paling gw suka selama penerbangan dengan Singapore Airlines adalah gw gak pernah kekurangan makanan, ibarat perbaikan gizi dalam pesawat, dan makanannya bisa dibilang enak untuk standar masakan pesawat, bukan sekedar makan. Makanannya selalu lengkap dengan dengan makanan utama, side dish, drinks, dan desert. Malah di perjalanan siang hari, kami juga diberikan ice cream seperti Con*llo gitu. Pramugari/a nya telaten putar-balik buat nawarin minuman, jadi gak akan kehausan. Kayaknya sih udah habis susu satu kotak untuk gw doank, haha. Maklum kak, perbaikan gizi. :p

Sebelum terbang kita diberikan handuk hangat buat bikin fresh, begitu juga setelah beberapa jam di pesawat. Beda banget dengan fligt attendant Indonesia (kecuali Garuda Indonesia–apalagi maskapai L*on Air) yang attitudenya ampun dah dan mukanya dipelintir tanpa senyum, flight attendant Singapore Airline sangat ramah-ramah, attentive dan sopan banget. Selalu mengucapkan ‘thank you’ dan ‘excuse me/ sorry’, berasa banget jiwa ‘service’ mereka memang ada, bukan sekedar jadi pekerjaan keren-kerenan.

Setelah total 7,5 jam perjalanan dan transit 1 jam, tanggal 15 May 2018 pagi kami sampai di Adelaide International Airport. Udara dingin langsung menusuk walau pun baju udah tebal, mata gw sampe berair saking dinginnya, sebenernya sih sekitar 13 C – 17 C, tapi gw kan manusia iklim tropis banget, sedangkan di Ubud aja bisa menggigil! Oia, ada yang menarik ketika baru sampai di airport, gw menemukan adanya daerah bernama Younghusband di Australia! Waduh, kira-kira apa ya yang kita bisa temukan di daerah itu?? I still prefer older guys though, no brondong, hihi!

20180515_060850.jpg

Advertisements

#CADAS2018: Yang Tidak Boleh & Boleh Dibawa Masuk ke Australia

Jalan-jalan ke negara orang memang berbeda dengan jalan-jalan domestik yang kita gak perlu mikirin apa yang boleh dan gak boleh dibawa. Setiap negara punya peraturannya masing-masing untuk memproteksi negara mereka dari segi ekonomi, kesehatan dan lain-lain yang berasal dari wisatawan luar. Mendingan jangan maen-maen deh dengan petugas bandara mereka, karena mereka ini walaupun ramah, tapi tegas banget dan gak suka dibohongin, mereka juga gak mau menerima suap (gak kayak di Indonesia ya bok…). Lebih baik jujur apa adanya, daripada kena denda jutaan atau malah dipenjara selama maksimal 10 tahun. Terkesan paranoid banget ya kalo di banding imigrasi Indonesia yang relatively loose.

Saat pertama kali mendarat, yang kita lakukan adalah menuju bagian imigrasi ke antrian foreign passport. Di bagian ini, seperti biasa kita menunjukkan passport dan diambil fotonya. Di wawancara sedikit sih sekedar basa-basi penyambutan gitu, berhubung mama gak bisa bahasa Inggris sama sekali, jadi kami langsung maju berdua aja.

Setelah pelaporan imigrasi, kita menuju ke pengambilan bagasi, dan sebelum keluar dari bandara, kita akan melalui bagian yang disebut dengan “CUSTOM” dimana kita diminta untuk mendeclare apakah kita membawa barang-barang yang perlu di-declare apa gak.

Seperti penerbangan internasional pada umumnya, sejak dari di pesawat, kita diberikan passenger’s declaration card. Kalo ke Aussie, penampakannya seperti ini:

img_0608a

Bisa dilihat, di situ ada 11 points yang harus di-declare. Kalo ragu, boleh ditanyakan ke petugas bandara yang menurut gw sih super ramah ya, kata siapa bule gak ramah… Justru lebih ramah kalo dibandingin pengalaman gw ke Malaysia, hehe. Anyway, berikut penjelasan point-point tersebut:

  1. Obat-obatan dan senjata. Bukan hanya obat-obatan terlarang yang harus dideclare, tapi juga obat resep dari dokter, untuk obat-obat warung seperti generic, Neozep, panadol gak akan jadi masalah karena mungkin banyaknya orang Indonesia yang datang ke Aussie membuat petugas jadi hapal dengan Panadol, haha.
  2. Alcohol yang lebih dari 1125mL atau rokok yang lebih dari 250 batang atau 250 g. Jadi kalo mau bawa rokok, hanya boleh tiga kotak aja, jangan pura-pura bego gak tau, karena ujug-ujug akan ditahan petugas. Rokok sangat ketat peraturannya karena di Aussie pajaknya mahal.
  3. Barang yang senilai atau lebih dari AUD 400. Peralatan elektronik seperti laptop atau kamera tidak termasuk.
  4. Barang dagangan kamu, atau sample yang digunakan untuk tujuan komersil.
  5. Uang cash senilai/ lebih dari AUD 10.000 (baik dalam dollar atau rupiah).
  6. Makanan, ini yang paling tricky. Gak semua makanan gak boleh masuk, hanya makanan tertentu aja, seperti buah segar, dried fruits, sayur, makanan hasil buatan sendiri (seperti rendang, sambal goreng, abon, gado2 etc) dan produk turunan susu dan telur, dairy products. Kenapa? Karena Aussie adalah negara penghasil dairy products, jadi mereka pingin kita beli produk mereka aja gitu… Lagian, disana harga produk turunan susu itu murah dan rasanya enak banget, kalo di Indonesia mungkin cuma ada di mall-mall mahal yang seenak itu. Hehe. Oia, kopi sachet yang three in one juga gak boleh ya, karena ada susunya. Kopi lain boleh asal bukan kopi luwak karena kopi luwak ternyata mahal banget disana harganya. Kita juga gak boleh membawa produk daging olahan yang tidak dikaleng. Alasan kenapa mereka gak memperbolehkan makanan daging adalah karena mereka takut daging yang berasal dari negara luar mengandung virus, misal virus ANTHRAX. My mom takut gak ada makanan yang sesuai seleranya ketika di Aussie, so tanpa sepengetahuan gw, dese udah masak rendang dua kilo dongs. Malesnya adalah, my mom ini tipikal orang Indonesia yang mau coba-coba siapa tau lolos dan gak percaya dengan omongan gw sampe ketika gw bilang, nanti didenda pake dollar lho! Baru dah mempan, orang Indonesia mah takut rugi! Hehe.
  7. Barang-barang yang terbuat dari bagian tanaman, misalnya souvenir yang terbuat dari kayu seperti seruling, ukiran kayu, souvenir kayu, dll.
  8. Bagian tubuh hewan.
  9. Tanah atau barang yang tereskpos dengan tanah, misalnya sepatu olahraga. Gw bawa sepatu juga sih tapi tanahnya kan gak tebel, jadi gak papa. Kalo mau aman, sepatunya dicuci dulu bagian tapaknya.

Screen Shot 2018-05-28 at 12.59.22 PM

Lalu apa nasibnya barang-barang yang gak lulus custom?? Masuk ke tong sampah! Hehe, berbeda dengan di Indonesia yang kemungkinan diambil petugas, mereka juga gak mau ambil resiko untuk dirinya sendiri, seperti makan makanan dari negeri orang yang mereka gak kenal.

Sebaiknya saat packing, barang-barang yang berpotensi dideclare kamu taruh di satu tas dan yang mudah dibuka, jangan dibungkus kado atau dibagian yang susah ambilnya. Walau pun udah dibungkus kado rapi-rapi, akan diminta bongkar.

Dari passenger card yang sudah diisi tadi, kita akan diminta berbaris ke antrian baris tertentu (pihak petugas yang menentukan kita di nomor berapa), di salah satu barisan, barang kita akan diperiksa dengan anjing security segala.

Kalau sudah melewati bagian ini, tandanya kamu sudah resmi dianggap tidak membahayakan untuk masuk Australia, enjoy your visit in Aussie!

20180515_091946.jpg

My face after an 8-hour journey. I forgot about tired, was just happy to be there. 

**For more of my Aussie stories, click here

 

CADAS 2018 : Cihud’s Adelaide Story 2018

Hey, everyone!

20180514_175304.jpgI’m writing this post in the State Library of South Australia di Adelaide. Yes, I made it to Aussie, even though for only 12 days this time (who knows, I came to Bali for two weeks in August 2017, two months later I came again and stayed for half a year).

Karena ini pertama kalinya gw travelling abroad ke western country, so perjalanan ini punya nilai historis bagi gw and I wanna document it on this blog, sekalian sharing apa aja yang menurut gw menarik atau aneh selama di negeri wong bule ini dari kacamata gw.

Tujuan utama gw pergi ke Adelaide adalah untuk menghadiri acara wisuda S2 abang gw yang kuliah di Carnegie Mellon University Australia, sekalian jalan-jalan sama nyokap gw, walau pun pada kenyataannya gw lebih banyak jalan-jalan sendirian karena nyokap gw gak kuat jalan kaki lama-lama (ya ampun hidup di luar negeri ternyata banyak jalan kakinya, bok!) sedangkan abang gw… yaaa gitu deh… he’s just being his self, mana peduli dia gw mau jalan kemana pun, boro2 diservis seperti layaknya kakak yang baik, dia mendidik gw untuk urus sendiri my own business dari kecil.

20180514_174921.jpg

Gw berangkat ke Aussie di pertengahan bulan May 2018 dimana Aussie akan memasuki winter season, so udara udah dingin di kisaran 13 C – 17 C. Namun karena kepedean atau saking gak pernah jalan-jalan ke luar negeri (jadi gw gak terbiasa memikirkan baju apa yang harus dibawa tergantung musim, karena musim dan cuaca di Indonesia kemana-mana mah hampir sama), baju yang kebanyakan gw bawa adalah dress selutut dongs… biar kece gitu kalo di foto, such a big fail! Untungnya gw bawa beberapa full leggings. Hari pertama gw sampe, gw cuma bisa merinding disko aja walau pun di dalam ruangan. Namun kerennya badan manusia adalah we adapt fast to changes, so hanya dalam beberapa hari setelah gw melawan dingin, gw udah udah bisa jalan kaki dalam cuaca begitu walau pun hanya dengan legging tipis dan jaket yang gak tebel (city jacket). Namun hal yang sama tidak terjadi di nyokap gw karena dese gak ngelawan dinginnya dan selalu berlindung di tumpukan baju tebal.

Di Adelaide kami tinggal di college tempat abang gw tinggal (college disini maksudnya bukan kuliah ya, tapi tempat akomodasi, kayak rumah kos-kosan gitu) karena biar gak mencar-mencar. Tadinya sih gw pingin couchsurfing atau Airbnb aja biar lebih hemat, but my mom insisted that we better stick together in one place.

Selama ini gw sangka hidup abang gw selama di Aussie prihatin lah gitu ya, ternyata sesudah liat gimana dia tinggal, menurut gw sih ini mewah lah buat orang yang cuma dapet partial scholarship di negeri orang yang mahalnya minta ampun. Gak jadi deh gw prihatin. Gimana enggak, di akomodasinya udah include breakfast dan dinner prasmanan all you can eat, sehat, gak perlu mikir mau makan/ masak apa, ada regular room cleaning service, ada library, meeting room, kitchen, entertainment room (lengkap dengan meja billiard, Netflix dan board games), ada juga ruang buat relaxing yang ada perapiannya gitu, dan free laundry. Apa-apaan ini, he’s not being Indonesian, as Indonesians, seharusnya dia hidup hemat menjurus pelit, masak sendiri dan bersihin kamar sendiri kek. Kebiasaan hidup nge-boss di Jakartanya masih dibawa-bawa. Ampun gw mah…

In his defense, what he pays is the good environment and network. Ibaratnya rusun ama apartemen di Jakarta kan gede ruangannya sama, tapi yang bikin mahal  adalah lingkungannya, you wanna be in the environment that can help you to achieve something. Emang bener sih ya… Kadang gw heran kalo liat banyaknya pelajar dari Indonesia yang notabene mendapatkan beasiswa full tuition dari LPDP malah hidup mepet-mepet dan kerja nguli, ibaratnya sekolah jadi nomor dua dan kerja nguli nomor satu. Sedangkan mereka dibiayai negara buat memprioritaskan pendidikan, buat apa cari kerja tambahan yang gak ada hubungannya dengan karir ke depan. Sedangkan abang gw yang cuma dapet partial scholarship dari pihak universitas malah mengusahakan untuk mendapatkan lingkungan dan pekerjaan sampingan yang sejalan dengan tujuannya. Kalo orang kayak gw atau abang gw yang dapet beasiswa full tuition mah, ya udah bakal fokus ke networking dan cari pengalaman yang nambah-nambahin CV aja kali gw. Tapi bok, belom rejeki… hehe…

1527300764659

My mom in front of my bro’s place

Walau pun hanya dua minggu dan hanya di Adelaide selama di Australia, banyak hal menarik yang gw alami dan pelajari. Dari baru mendarat di bagian custom di airport, wisuda a la bule, situs-situs historis, ngapelin koala, main LEGO di State Library and many more!

20180523_113050

Sebelumnya gw juga udah tulis tentang persiapan apa aja buat pengurusan visa di sini, dan proses gw mendapatkan visa Australia di sini. Please click here to read my day-to-day diary in Adelaide, Aussie.

Di semester pertama tahun 2018 ini gw tiap bulan jalan-jalan melulu, semoga bisa selalu dapat kemudahan seperti ini dan bisa liat penjuru dunia lainnya 😀

I can’t wait to tell my stories to you! Happy reading #CADAS2018 😀

Cara Cara Inn: Budget Hotel 100rban di Bali yang Instagrammable Banget!

13078

Berlibur ke Bali gak perlu mahal a la jetsetter kayak incess Syahrini, karena sebenarnya industri pariwisata di Bali yang sudah berkembang memudahkan kita untuk menemukan penginapan dan hiburan yang oke di kantong namun dengan kualitas yang terjamin, salah satunya adalah budget hotel di daerah Kuta ini; Cara Cara Inn!!

Udah lama sebenernya pingin ngereview hotel ini karena bukan hanya harganya yang murah, tapi juga konsepnya yang menarik dan totalitas banget dengan designnya yang fun, colorful namun tetap simple, juga functional. Begitu lihat official websitenya aja udah kerasa banget deh kalo ini hotel cocok untuk jiwa-jiwa muda (gak mesti umur yang muda, hehe) yang hobby travelling and enjoying life! Namun biasanya banyak hotel yang hanya bagus di foto aja, pas dateng ke lokasi malah zonk. Tapi enggak dengan Cara Cara Inn yang menurut gw, dengan harga segitu adalah sangat worth it!

Berlokasi di tengah Kuta yang strategis banget kalo kamu pingin jalan kaki ke pantai, cafe-cafe keren or lokasi party (ciee yang anak ajojing…) di sekitaran Kuta. Harga per kamarnya masih di bawah Rp 200rb/ hari yang terdiri dari 2 bunkbed di kamar yang super mungil tapi fasilitas lengkap; TV, AC, fridge, pemanas air untuk kopi, meja belajar, handuk, water heater, shower, wastafel dan hair dryer. Harga tersebut sudah include breakfast, so kalau kamu mau tanpa breakfast, bisa lebih murah lagi deh kayaknya. Oia, jangan berekspektasi berlebihan ya tentang makanannya, namanya juga paket murah, bisa dibilang, hanya satu level lebih baik dari nasi kucing! hehe.

Design kamar mungilnya ini ngebuat gw jadi kefikiran dengan design-design apartemen di Jepang yang small, minimalistic and functional, di bagian bawah tempat tidur dijadikan lemari, begitu juga tangga untuk naik ke tempat tidur atas yang ternyata juga bisa dijadikan lemari.

Di masing-masing dinding tempat tidur ada electricity socket buat ngecharge HP dan meja tempel kecil gitu deh buat naro HP. Kamu juga dapet sendal jepit hotel yang unyu-unyu banget, kanan dan kirinya beda warna! Kalo di dalam kamar menginap 3 orang, maka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100rb/ hari untuk si orang ketiga tsb, tapi kalo gak ketahuan (kayak gw dan temen-temen gw) sih ya gapapa, hehe.

Screen Shot 2018-05-08 at 12.17.27 PM

Sayangnya pas gw kesana, ternyata floaties yang lucu-lucu ini gak ada, hiks! **Sumber foto

Fasilitas bangunan pun juga gak kalah oke, dilengkapi dengan swimming pool di lantai 2 dengan hammock dan bean bag and floaties, cafe, pantry yang dilengkapi dengan microwave and sink, so kamu bisa manasin makanan tengah malem.  Di lantai 1 ada mobil VW yang disulap jadi mini bar dan yang keren adalah kita bisa ngelaundry sendiri dengan membeli token laundry seharga Rp 30.000 langsung kering dan gak musti digosok karena gak bikin baju jadi wrinkly kok, tapi kalo mau gosok juga, disediakan ironing board.

Yah namanya juga Bali, kebanyakan tamu-tamu disana adalah bule-bule singles atau travelling bareng pacar dan teman, karena tempat ini emang cocoknya bukan untuk wisata keluarga. Jadi bisa sekalian cuci mata dan hunting gitu ya bukk… mana tau ada yang nemplok… hehe!

Oia, namanya juga budget hotel, jadi gak punya lapangan parkir yang luas, hanya di bagian depan hotel yang hanya cukup untuk sekitar empat atau lima mobil, di Bali pun memang susah yang namanya cari parkiran. Jadi lokasi hotel ini cocok banget kalo liburan kamu hanya di sekitar Kuta!

Anyway, walau pun murah, Cara Cara Inn menurut gw tidak cocok untuk level backpacker sejati yang bisa lebih murah lagi dan lebih banyak interaksi dengan sesama traveller. Karena kalo di hostel backpacker, biasanya kita tidur di kamar dengan banyak bunkbed dengan orang-orang yang baru kita kenal, sedangkan di Cara Cara Inn masih ada ruang privasi karena kita tidur di kamar-kamar kecil dengan orang yang kita sudah kenal. So, Cara Cara Inn cocok untuk orang-orang kayak gua yang backpacking banget juga gak mau tapi ke hotel mahal juga gak mampu, hehe.

Happy holiday, it’s always Sunday in Bali!

Mengurus Visa Turis Australia Sendiri: mudah dan lima hari kelar!

2018 has been a travelling year for me! Tiap bulannya, dari Januari sampai Juni, I have  not and will not stay in one city only, udah ada jadwal travelling! Jadi susah sih untuk fokus on my thingies, tapi yah disyukuri aja mumpung rezeki. Tahun ini juga pertama kalinya gw ke luar negeri setelah 27 tahun hidup di bumi, dimulai dari Malaysia di bulan April kemaren–mainstream banget ya ke Malaysia–and in this May, I will fly to Aussie for two weeks! Woohoo!

Gara-garanya Abang gw wisuda S2nya di Adelaide and we havent met since he left almost two years ago, so my mother sudah kangen akut dan pingin ngehadirin wisuda, disangkanya acara wisuda di luar se-hebring wisuda di Indonesia. Sebenernya gw sih gak pingin pergi mengingat biayanya mahal banget, lebih baik uangnya dipake buat yang lain, but my mother insisted and she doesn’t speak any English, gak mungkin dong dese dibiarin pergi sendiri, takutnya nanti emak gw dititipin narkoba ama orang trus udah muncul aja di TV. Duh, kebanyakan nonton Narcos ini gw!

Berhubung ada tiket promo, jadi kami beli tiket dulu sebelum mengurus visa, udah gitu baru mengurus visa dalam 3 minggu sebelum jadwal keberangkatan! Padahal menurut rekomendasi dari kisah-kisah di internet, sebaiknya persiapkan waktu dua bulan sebelum jadwal, just in case visa ditolak dan harus re-apply, diperkirakan pengurusan visa memakan waktu 15 s/d 30 hari, malah ada yang pernah sampai 1,5 bulan dan ujung-ujungnya ditolak. Nah lho, jadi tambah horror kan! Ini juga pengalaman pertama gw mengurus visa, so I was very nervous, lah kok ya mau ngasih devisa ke negara orang aja prosedurnya lebih susah dibanding ujian SPMB yang menentukan jalan hidup gw, sedangkan mereka bisa gampang aja keluar-masuk negara kita, oh susahnya jadi pemilik passport hijau ini! Hiks!

Namun sebenarnya hal ini gw rasa rumit karena belom pernah mengurus visa, kalo sudah pernah, berkas-berkasnya hampir sama untuk apply ke negara lain. Jadi pastikan aplikasi kamu lengkap se-lengkaplengkapnya walau pun yang bakal memutuskan orang kedutaan juga, at least you’ve done your part well.

Hal pertama yang gw lakukan adalah riset dari internet dari sumber resmi dan cerita di blog yang visanya ditolak dan diterima. Maka itu gw simpulkan untuk mengurus visa sendiri daripada ke agen karena banyaknya visa perorangan yang apply melalui agen memakan waktu lama dan kebanyakan agen tidak perduli dengan kelengkapan data kita, toh mau visa kita ditolak atau diterima mereka tetep dapet duit. Mereka hanya terima aplikasi kita (yang mana harus kita isi sendiri, bukan dibantuin) dan dikirim ke VFS Global (agen resmi pengurusan visa yang ditunjuk oleh kedutaan Aussie).

Oh ya, dengan ditunjuknya VFS, kedutaan tidak menerima pendaftaran langsung ke kedutaan, mungkin mereka males kalo rame orang berbondong-bondong dateng ke kantornya. So, agen-agen seperti Dwi**ya Tour dll hanya jadi perpanjangan tangan yang memakan biaya tidak perlu. Di bagian pengisian formulir juga ada pertanyaan apakah kita menggunakan agen atau tidak, menurut gw sih ini menjadi bahan pertimbangan bagi kedutaan karena biasanya orang-orang yang menggunakan agen dinilai suka ambil shortcut gitu deh. Lagian, semenjak bulan November 2017 lalu, pendaftaran visa Australia sudah bisa melalui online di link ini, so kita yang tidak harus datang langsung ke kantor VFS yang cuma ada di Jakarta dan Bali. Tapi berhubung gw ada urusan lain ke Jakarta, jadi gw memilih mendatangi langsung ke VFS Jakarta yang berlokasi di Kuningan City Mall lantai 2.

Sebelum gw jelaskan detailnya apa aja yang harus dipersiapkan, I want you to keep this in mind bahwa pihak kedutaan menilai dari hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu.

Supporting documents yang akan dicantumkan mengacu ke poin-poin di atas, walaupun namanya supporting documents, tapi sangat berpengaruh sebagai bahan pertimbangan kedutaan, semakin lengkap semakin baik, daripada di-reject dan duit melayang. Visa OZ berbeda dengan visa negara lain yang bisa mengajukan banding ketika visa ditolak dan ada kemungkinan uang dikembalikan. Sedangkan visa OZ sungguh raja tega! Kalau sampai direject, harus bayar dan daftar ulang lagi. Detail checklist kelengkapan formulir dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Kebanyakan sumber yang gw baca di internet adalah yang mengurus visa untuk orang yang sudah bekerja, bukan wiraswasta atau pun freelancer seperti gw. So, gw akan membuat posting khusus tentang kelengkapan data apa aja untuk kasus gw di post ini daripada terlalu panjang kalo dibahas dalam satu post ini.

Setelah siap semua data yang diperlukan, kita harus mendaftar appointment dulu ke situs resmi VFS, karena kalo sampai gak daftar dan langsung go show aja, kita bakal kena biaya tambahan sebesar Rp 115.000 per applicant (di denda gitu, ya ampun mau bertamu aja kena denda ya, somse banget dah ini negara!) Disitu kita bisa memilih hari dan jam yang bagi kita memungkinkan kapan kita datang, bisa direschedule maksimal 2 kali.

Data yang dimasukkan harus sama persis dengan yang di passport, karena kalo typo sedikit aja bisa berabe. Berhubung gw pergi sama mama, gak perlu bikin dua akun, satu akun aja dengan dua data applicant. Satu akun maksimal 5 applicant. Jadi kalau kamu pergi dengan suami, istri, dan dua anak, kamu harus mengisi empat data applicant.

Setelah selesai kamu akan mendapatkan email undangan dari VFS yang ditunjukkan saat datang ke kantornya, gak perlu di print, ditunjukkan dari HP juga gapapa. Dan gak harus datang semuanya, satu orang saja juga boleh, karena gak ada wawancara, hanya penyetoran document aja dan pembayaran visa sebesar 135 AUD (jadi besarnya biaya tergantung kurs yang berlaku ya!) dan biaya pendaftaran ke VFS sebesar Rp 165.000, ada biaya lain kalau mau dapat pemberitahuan proses visa via SMS sebesar Rp 25.000 per applicant, total yang gw bayar saat itu Rp 1.730.000 per applicant. Karena banyaknya jumlah pertanyaan di formulir subclass 600, kalau ada pertanyaan yang ragu, bisa ditanya langsung ke staffnya maksudnya apa.

Untuk visa turis, kita tidak perlu membawa semua dokumen asli kecuali passport yang akan ditunjukkan saat pelaporan ke VFS. Namun passport ini bisa langsung dibawa pulang dan tidak ditinggal di VFS. Berbeda dengan pengajuan melalui agen yang meminjam passport kita sampai ada jawaban dari kedutaan. Repot banget kan kalo passport kita dipinjam selama 1 bulan dan akan pergi ke luar negri sementaranya!

Pembayarannya melalui cash, kalau melalui debit dan berbeda bank akan kena charge 3%, lumayan bowh buat jajan somay. Disaat pengecekan document ada lembaran checklist yang diisi oleh staff VFS, pihak kedutaan akan mengacu ke lembar tersebut sebelum membaca isi dokumen kita, so pastikan kita mengecheck ulang apakah sudah sesuai sebelum kita tanda tangan. Seperti kasus gw yang si Mbaknya awalnya menulis gw tidak menyertakan beberapa supporting documents yang padahal ada, jadi dikoreksi sama Mbaknya, total kelengkapan gw lengkap banget malah, haha! Nah ini enaknya mengurus sendiri, sedangkan kalo lewat agen, kita tidak bisa lihat data kita diisi dengan benar atau tidak.

VFS ternyata gak mengurus visa Aussie saja, tapi juga negara-negara lain seperti NZ dan UK. Untuk ke Aussie, lokasinya di paling belakang. Begitu masuk sudah terasa aura imigrasi karena melalui metal scan, dilarang membawa laptop ke dalam. So kalau kamu bawa laptop, harus dititip dan bayar biaya penitipan.

Setelah bayar, yang bisa kita lakukan hanya menunggu dengan harap-harap cemas. Staffnya bilang akan diproses dalam waktu 15 sampai 30 hari, tergantung pihak kedutaan. Waduh, padahal gw cuma punya waktu 3 minggu sebelum keberangkatan! But I think I’ve done my part very very well, clearly dan super complete, hence gw bisa dikatakan confident dengan aplikasi gw.

Saat itu kami mendaftar pada tanggal 18 April 2018 yang jatuh di hari Rabu, setelah lima hari kerja (so, Sabtu dan Minggu gak diitung ya bro), email cinta dari kedutaan sudah datang dan menyatakan visa kami approved! YEAY!! Saking senengnya sampe joget-joget India, minus tiang bendera aja! Oh ya, selama lima hari itu kami juga mendapat SMS kok dari VFS tentang proses visa kami. Mungkin juga karena kami apply tidak di high season, jadi prosesnya cepat. Kalau visa sudah pernah diapprove, saat apply lagi dikemudian hari jadi lebih meyakinkan. Akan sulit bagi kamu mendaftar visa kalau sudah pernah ditolak dua kali, ibaratnya ya pacaran putus-balik sama mantan lebih dari dua kali, ya mendingan move on ke negara lain aja, hehe.

Good luck buat yang lagi berjuang visa! 😀

pic_approved

Persyaratan Visa Turis Australia

2000px-australia_stub

I’m so excited that this year marks the first international travel in my life, setelah bulan April lalu travelling ke Malaysia yang mainstream itu dan bulan May 2018 ini ke Aussie! This is the first time I applied for a visa yang katanya sih bikin deg-degan, namun sebenernya enggak juga kalo dokumen kamu udah lengkap dan meyakinkan. Buktinya visa gw granted hanya dalam waktu lima hari kerja! Baca prosesnya disini 😀

Document checklist dari pihak kedutaan bisa dibaca disini. Intinya, dalam memberikan persetujuan visa, pihak kedutaan menimbang hal-hal berikut:

  1. Kejelasan dan keabsahan data diri, mereka gak mau orang yang datang ke negaranya orang gak jelas yang punya criminal record atau pun serious health issue yang menular, seperti virus.
  2. Kejujuran bahwa tujuan pengajuan visa turis hanya untuk berwisata, bukan untuk mencari kerja atau migrasi illegal.
  3. That you are able to support your stay financially, mau pake sponsor kek, atau gaji dan tabungan sendiri, yang penting jelas dan tidak mencurigakan.
  4. That you will come back to Indonesia after your stay, so mereka butuh bukti bahwa kamu punya sesuatu yang mengikat kamu untuk balik ke Indonesia, entah itu keluarga, pernikahan, pekerjaan, aset properti, dll.
  5. Konsistensi pernyataan di tiap dokumen, contohnya, jangan sampai di formulir kamu menulis bahwa biaya kamu akan ditanggung pihak sponsor, tapi di invitation letter tidak dijelaskan bahwa mereka akan menanggung kamu. Atau kamu menulis niatan hanya untuk berlibur, tapi kamu cantumkan juga pingin cari suami bule, wah bisa berabe disangka cewek gak bener! Haha, niatan Tinder-annya disimpan untuk diri sendiri aja ya, sis!

Berikut daftar apa aja yang gw submit untuk kondisi gw dan mama gw (karena gw pergi berdua mama, namun satu applicant satu dokumen ya, gak digabung), disusun berurutan:

  1. Cover Letter atau bisa dibilang surat pembuka untuk petugas yang akan me-review aplikasi kita nanti. Cover letter ini membantu petugas menyimpulkan tentang aplikasi kita daripada harus langsung bergulik dengan formulir dan supporting documents yang suka ngacak. Di cover letter ini kita menjelaskan:
    • Siapa diri kita,
    • Tanggal dan tujuan berkunjung. Karena tujuan gw adalah mendatangi wisuda kakak gw, gw tulis demikian lengkap dengan nama universitasnya, selebihnya untuk jalan-jalan,
    • Pekerjaan atau usaha kita. Karena pihak kedutaan ingin yakin bahwa kita akan balik ke negara kita,
    • Runtutan supporting documents yang diberikan,
    • Cover letter harus singkat, tidak bertele-tele dan usahakan hanya satu halaman. Contoh cover letter gw bisa dilihat di sini: Cover Letter Visa Aussie Cihud
  2. Formulir 1419 yang sudah diisi, bisa didownload di sini. Bisa diisi dengan diedit langsung di pdf atau dengan tulisan tangan, usahakan tidak ada coretan dan data yang diisi sama persis dengan dengan data asli, karena typo sedikit aja bisa jadi masalah. Formulir ini berisi 17 halaman dan 53 pertanyaan. Nanti akan gw bikin post tersendiri tentang panduan mengisi formulir ini. Sabar ya, bro sis!
  3. Bukti pembayaran pendaftaran visa sebesar 135 AUD dan biaya logistik sebesar Rp 165.000 (diisi oleh petugas VFS Global)
  4. Fotokopi passport yang masih berlaku, setidaknya enam bulan sebelum expiration date. Yang difotokopi bagian depan yang ada no passport dan foto, bagian belakang, dan semua bagian dalam yang ada cap imigrasi ketika kamu melakukan perjalanan luar negeri. Cap-cap dari negara-negara ini katanya berpengaruh, kalo kamu sudah pernah ke luar negeri, apalagi Amerika. Untungnya, di bulan April kemaren gw ke Malaysia, jadi gak kosong melompong banget lah passport gw. Kalo ada passport lama, fotokopi passport lama juga dicantumkan.
  5. Satu lembar pas foto berwarna ukuran passport terbaru, tidak lebih dari 6 bulan, dengan latar belakang putih, ditempel di kotak di kanan atas formulir 1419. Jangan lupa di bagian belakangnya ditulis nama dan no passport, kalo-kalo tercecer. Fotonya close up sampai pundak, jangan sampai pake gaya alay ya, apalagi pake filter Snapchat. Kalo gak sempat foto, bisa foto langsung di photo box yang ada di kantor VFS Global (Agen resmi yang ditunjuk kedutaan Australia untuk pengajuan visa, jadi nanti dokumen kita disubmit di sini, bukan di kedutaan) seharga Rp 50.000.
  6. Fotokopi KTP, Kartu Keluarga dan akte kelahiran. Untuk orang tua yang tidak memiliki akte kelahiran, bisa menggunakan ijazah terakhir.
  7. Surat keterangan ganti nama (bila ada, misal dulunya nama kamu Lucinta Luna sekarang berganti menjadi Muhammad Brad Pitt).
  8. Surat Nikah (bagi yang sudah menikah), bagi yang belum gak usah bikin Surat Jomblo Galau segala ya, hehe! Bagi wanita yang sudah menikah dan pergi tanpa didampingi suami, perlu dilampirkan juga KTP suami dan surat izin dari suami, seperti yang gw buatkan untuk mama gw. Contoh surat izin suami bisa dilihat di sini: Contoh Surat Izin Suami Visa Australia
  9. Bukti status pekerjaan/ usaha, yang meliputi:
    • Fotokopi NPWP, kalo bisa dengan print SPT terakhir
    • Surat referensi dari kantor yang menyatakan kamu adalah karyawan disana dan harus balik kalo udah selesai jalan-jalannya. Yang ini gw gak punya karena sudah berhenti bekerja dan menjalankan usaha sendiri.
    • Berhubung mama sudah pensiun, jadi dilampirkan surat pensiunnya dan bukti kepemilikan usaha, seperti surat keterangan usaha dari kelurahan atau bukti pembayaran pajak. Untuk kasus gw yang basis usahanya online, maka gw memberikan screenshots Instagram usaha gw. Kalau kamu freelancer atau blogger, kamu juga bisa menyertakan screenshot blog atau IG kamu. Sekalian promosi kali ya, hehe…
  10. Bukti kesanggupan finansial (kecukupan dana), yang meliputi:
    • Rekening koran dalam 3 bulan terakhir dengan jumlah dana yang cukup. Ada yang bilang, minimal saldo 50 juta namun banyak yang hanya sekitar 20-30 jutaan dan tetap approved. Intinya, kepastian bahwa kamu bisa mengcover biaya hidup per hari di Aussie yang kira-kira 120 AUD, jadi kalo kamu liburan selama 3 minggu, tinggal dikalikan aja ya!
    • Oh ya, pihak kedutaan akan mereview secara detail aktivitas yang ada di rekening kita, jadi jangan tiba-tiba menambah saldo puluhan juta mendekati tanggal pendaftaran, karena akan mencurigakan, seolah-olah kita minjem demi buat visa (walo pun kadang emang kenyataannya begitu sih ya… hehe) Namun di kasus gw, terjadi pelonjakan saldo puluhan juta karena dibantu oleh Mama yang menjadi sponsor gw, maka itu harus dijelaskan di sponsorship letter bahwa pelonjakan saldo secara tiba-tiba yang terjadi adalah karena dan sepengetahuan pihak sponsor.
    • Slip gaji tiga bulan terakhir (kalo ada).
    • Kalo punya credit card, surat pernyataan limit kartu kredit dari bank.
    • Sponsorship letter bagi kamu yang biaya perjalanannya ditanggung oleh orang lain, misal: housewife yang dibiayai suami atau seperti gw yang walau pun sudah memiliki penghasilan namun dibantu oleh pihak keluarga. Di surat tersebut menjelaskan pekerjaan dan keadaan finansial si pemberi sponsor dan apa aja yang dibantu cover oleh sponsor. Mereka gak mau dong ya orang yang financially unstable ngesponsorin orang lain, maka itu kamu juga perlu mencantumkan fotokopi rekening koran 3 bulan terakhir atau slip gaji dari sponsor kamu. Contoh sponsorship letter gw bisa dilihat di sini: Contoh Surat Sponsor Visa Turis Cihud
  11. Bukti kepemilikan aset di Indonesia. Well, mereka ingin memastikan bahwa kamu ada alasan untuk balik ke Indonesia, jadi kalau ada rumah, property lainnya yang atas nama kamu bisa dicantumkan juga. Karena ada lho kisahnya yang memiliki tabungan yang melebihi cukup namun ditolak karena statusnya yang wanita lajang tanpa kepemilikan aset, seolah-olah mencurigakan gitu, because she seemed like she didn’t have something that tied her to come back. Padahal dasar negara mereka aja yang parno kali ya! Hihi.
  12. Invitation Letter dari keluarga atau kerabat di Australia. Berhubung gw akan mendatangi acara wisuda abang gw, jadi gw mendapatkan invitation letter dari pihak universitas. Invitation ini penting banget lho, untuk meyakinkan kalo kita bukan datang tak diundang atau pergi tak diantar ibarat jaelangkung, hehe, gak dink! Intinya, kalo benar ada, akan menambah poin. Kalo tidak ada invitation, ya gak usah di-ada-adain. Kalo sampai pihak kedutaan menghubungi orang tersebut dan terbukti bohong, kan bisa berabe! Di invitation letter personal dari abang gw juga dijelaskan status visa dan passportnya doi, serta apa aja yang akan dibantu oleh pihak inviter, kalo inviter kamu juga adalah sponsor kamu, perlu dijelaskan disana. Tidak lupa kamu juga harus menyertakan fotokopi visa dan passport si inviter. Saking complete nya, gw juga melampirkan akte kelahiran abang gw, biar makin convincing eke sama doi sodaraan lho, mak! Contoh invitation letter gw bisa dilihat di sini: Contoh Invitation Letter Visa Turis Cihud
  13. Bagi anak yang berumur di bawah 18 tahun dan:
    • Berpergian tanpa kedua orangtua, Formulir 1229 dan fotokopi KTP mereka; atau,
    • Berpergian dengan salah satu orangtua, Formulir 1229 dari orangtua yang tidak pergi dan fotokopi KTP orang tua tersebut.
  14. Bagi yang berumur 75 tahun, diperlukan tes kesehatan (Formulir 26) di salah satu panel dokter dan asuransi perjalanan selama masa kunjungan di Australia.
  15. Print tiket PP dan booking akomodasi selama di Aussie (kalo sudah beli)
  16. Itinerary perjalanan atau agenda kegiatan perjalanan (kepo banget kan ya ini negara!), gak usah detail banget juga sih, kasarnya aja, misalnya tanggal sekian berangkat, tanggal sekian berada di mana, etc. Itinerary ini gak harus juga sih ya, tapi kalo ada lebih baik

Catatan tambahan:

  • Biaya pengurusan visa bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kurs dollar Australia.
  • Per November 2017, aplikasi visa Australia untuk WNI sudah bisa melalu online di sini tanpa harus datang langsung ke kantor VFS Global.
  • Jika memilih mendaftar langsung, sebelum mendatangi kantor VFS Global untuk pendaftaran visa, harus membuat janji temu dulu via online di sini. Datang tanpa janji temu akan dikenakan denda sebesar Rp 115.000. Kantor VFS Global terdapat di Jakarta dan Bali.
  • Semua dokument diprint dan difotokopi di kertas A4, tidak dipotong kecil-kecil, contohnya fotokopi KTP di satu lembar A4 tersendiri, tidak digabung dengan fotokopi NPWP.
  • Cover letter, sponsorship letter dan surat izin suami dibuat dalam bahasa Inggris dan disertai tanda tangan di atas materai Rp 6.000,-.
  • Untuk visa turis, tidak perlu memberikan/ menunjukkan dokumen asli kecuali passport. Dokumen berbahasa Indonesia seperti akte, surat kelurahan, dll juga tidak perlu ditranslate ke bahasa Inggris. Berbeda dengan pengajuan visa pelajar, business atau pun WHV yang harus menunjukkan dokumen asli dan ditranslate English.
  • Kalau ada yang lupa atau salah difotokopi, di kantor VFS ada tempat fotokopi dengan biaya Rp 500,- per lembar. Mehong ya ciiinnn…. Udah dapet bakso tusuk itu, mah! Hehe.
  • Dokumen tidak perlu distaples, diberi map atau dibundle di binder, karena nantinya akan dimasukkan ke dalam map tersendiri oleh pihak VFS saat dikirim ke kedutaan.
  • Saat submit dokumen di kantor VFS Global, kelengkapan dokumen akan dicheck oleh petugas dan diisi ke satu lembar pernyataan yang akan menjadi rujukan pihak kedutaan sebelum membaca dokumen kita, so pastikan kamu membaca apa yang diisikan petugas sebelum kamu tanda tangan, ya!
  • Kamu sendiri yang harus sensitif dengan data di dokumen kamu, yang artinya menjelaskan sebelum dipertanyakan. Contoh, menjelaskan alasan kalo ada pelonjakan saldo di rekening, atau di passport kamu ada keadaan dimana kamu bolak-balik ke negara yang sama selama tiga kali dalam waktu yang berdekatan, padahal karena urusan kantor. Takutnya malah disangka imigran gelap yang mencari pekerjaan di negara tersebut, hadeuh!

Nah, kalo kamu sudah merasa komplit semua documentnya, selanjutnya nasib pendaftaran visa berada di tangan kedutaan, at least you know you’ve done your part well dan bisa tenang selama proses menunggu.

Good luck and cheers 😀

 

Lessons that Travels Have Taught Me (so far)

Experience is the best teacher and the most experiences I’ve got are from travelling or living nomadically. I’ve moved a lot in my 27 years although none of the places I’ve lived in or visited is abroad. Well my country is big and it’s not easy for a developing country citizen like me to travel abroad. Also, every corner of Indonesia is so different even though it’s in the same island; the people, culture, norms, weather, etc are different. The first time I moved to other city was when I was 17 y.o when my parents decided to go back to their hometown in West Sumatra. I hated it back then, the fact that I had to be separated with the things and people I’d been familiar with. Ten years later, I’ve become a restless soul that always wants to be challenged by new environment periodically. It has given me long-term impacts and lessons that shape the person I am and will be. Even the ways I travel changed. Let me share some things that travels have taught me so far :D.

  1. Travel has made me realize that life is short.

Life is short to do and be something I’m not, to only read one book, to only have one perspective, to stop questioning, to not seek for answers, to be spent in only one place, to only have one dream, to learn only one skill. And most importantly, to not be shared.

2. Changes are not always scary.

Fly High Yoga by the sea in Gili Air

Starting again in new places with new people, situation etc sounded scary before for me. But I survived, I’m glad of most changes that happened, sometimes a reset button is necessary. Breaking the comfort zone is good, just because something is familiar doesn’t mean it’s better. It is when you’re already outside the box then you can see what’s wrong about the box.

3. The world is so big and there are so so so so so many people in the world.

The more places I visited and the more people from different background I met, the more I want to see and experience other places. This makes me realize that for me moving is one of my needs. Many people seek for settling down in one place until they’re old and die, while I don’t think myself belongs to that category. Even if I know Bali is my fave place to live, it doesn’t mean I want to stay in Bali forever. I will someday settle, just not now. Also, knowing that there are billions of billions of people in the world–I mean yeah of course all people know the big number of population, but many of us choose to trap ourselves into small community; like people in our city or our country only–makes me more optimistic in life that it doesn’t matter if one person doesn’t agree with nor like me, there are still billions of people in the world, even Trump is still liked by some people. It doesn’t matter if I feel I don’t belong with people in West Sumatra, maybe I just happened to be a black sheep, I met people who are like me–the black sheep–in Bali, whose homes are away from homes. There will be a lot of places in the world that are more willing to accept who you are, you just need to find where it is.

4. The more I travel, the more I need less.

The moment of packing and unpacking are the times I know I’ve been collecting or wanting things I don’t actually need. It’s the time I have to decide which one to keep in my life. I still don’t travel light, but for people who know me and with so many things I had back home, it’s an achievement to pack my life into just some briefcases. It makes me realize that if I’m ok with it during travelling, then I will be okay with same at home. The more I don’t understand why people could be so obsessed with having a big big family home, taking loans for big house, fancy cars, electricities, etc. That makes more sense to me if it’s for property business, but I can’t see myself living in a big house because I don’t need that. I need plane tickets, enough money and health.

5. Self-discovery.

I’ve read somewhere that if you want to find yourself, leave your home. My self-discovery process happens faster every time I am away from home, my goals get clearer.

6. Travel gives me hope and faith that THAT kind of life is possible.

Since my childhood, my parents and most adults around me taught me how scary it is to have no uniforms, which means a job in institution or company. I believe that every generation has their own advantage from the previous generations, hence we should not live with the same fears. My generation’s advantage is the advance of information and communication technology. I don’t want to miss this opportunity. Nomad living is possible which allow us to make money from anywhere we want. It makes it possible to earn in different currency. That if I really want something to happen, there’s always ways. Travel allows me to meet alike-minded people who many of them are more successful in their 30s than my parents who worked for over 30 years in institutions. And what great about these people are their energy and creativity that are always alive and pumped.

7. Complaint less, be more patient and grateful.

When you just move to a new place, then expect the unexpected, things go out of plans and it’s okay. I saw how people can live with less and still be happy which all too often we forget how to live like that.

8. Shop less, experience more.

I can say I’ve been very lucky to be able to travel myself since young age. But the way I travel and how I see it have changed a lot. I used to only target big cities with big malls during the sale season, travel was only about shopping for me. I always flew back with extra baggage than when I left. Doing it for years, I always felt exhausted after the holiday (and broke, of course), also felt rushed during the travel. I used to list so many shopping agenda in my itinerary for a 2-3 day holiday. I think that’s how most Indonesians are like during holidays, we try to go to as many destination as possible in super short time that we don’t really enjoy our visit anymore, it’s become more like a check-list than a relaxing holiday. Now I prefer to have much less agenda and be more spontaneous. I rarely shop unless it’s something very special that I still think of after 3 days, by then I know I really want it rather than an impulse buying. I buy something that I will use and remind me of the place when I see and use it. Someday when my hair turns grey, it’s the experience that I will remember, not how many and expensive things I bought.

9. Enjoy solo travelling while you can.

The idea of travelling with a partner and family may sound tempting to many. I have friends who missed their travelling opportunities or chances to move somewhere only because of waiting for a life partner to arrive. That’s not me, at least for this moment. Most of the time for me at this moment, I want to have a time for myself. When I get married, I will less likely have it anymore, I will have husband and kids to travel with for years. So now is my time for my self (before I get stuck with them, LOL). It’s nice to have a travel partner sometimes, but not every time.

***

So that’s my ode to travel. I’m sure that’s not all yet–at least what I can think of for now. I want to continue living like this, moving place to place, looking forward to more adventures and changes for the better because nothing is more exciting than seeing who I will be at the end of each one. PS: this year I will have my first international travels, can’t wait!!