#CADAS2018: Pengalaman tidak menyenangkan di Australia, dikatain “Immigrant” sama bule

Overall, pengalaman gw selama liburan di Adelaide, South Australia memberikan kesan positif baik untuk alamnya, pengelolaan daerahnya dan orang-orangnya yang menurut gw ramah-ramah dan sopan. Mereka kayak udah di-setting default untuk mengucapkan “Thank you”, “Sorry” dan “Excuse me”, mereka mengatakan “Sorry” walaupun bukan mereka yang salah, contoh kecilnya kalo gw jalannya hampir nabrak, harusnya gw yang minta maaf duluan, tapi mereka udah refleks aja gitu bilang “I’m sorry”, mau dari orang tua sampe anak kecil umur 4 tahunan udah begini.

Tapi bukan berarti gw gak mengalami kejadian kurang menyenangkan selama di Aussie, walau pun gw sebenernya juga  menunggu-nunggu untuk dikecewain, soalnya gw capek juga ya terkesima. I was like, “Ayo dong tunjukkin gw kekurangan lo sedikit aja, gak mungkin dong ini negara bagus-bagus doang.” Well, gw menemukan beberapa kekurangan juga akhirnya, banyak juga kok, namun yang satu ini gw bener-bener gak nyangka, dan pertama kalinya seumur hidup gw diperlakukan begini (yah secara gua belom pernah hijrah antar negara dan menjadi minoritas di negara lain).

Kronologisnya, gw lagi melalang buana sendirian di city center yang mana gw kesana hampir setiap hari (karena harus beliin nyokap gw makanan Indonesia di mall, jauh-jauh ke negara orang, nyokap gw cuma mau makan makanan Indonesia, hehe). Di Australia, negaranya banyak aturan, bahkan untuk menyebrang jalan aja ada aturannya. Kalo di Indonesia, kita bebas mau nyebrang kapan aja asal resiko tanggung sendiri. Di Australia, sebelum menyebrang jalan kita harus memencet tombol dulu dan menunggu sampai terdengar bunyi yang menandakan kita sudah boleh menyebrang jalan, hal ini gak cuma di pusat kota saja, tapi di daerah-daerah yang jauh dari pusat kota pun demikian. Jadi, orang-orang serentak menyebrang bersamaan dan kendaraan berhenti, gak ada satu pun yang mencoba nyelonong melabas.

Orang-orangnya pun mostly menaati peraturan tersebut, ada juga yang gak menaati aturan penyebrangan ini dan menyebrang begitu aja, tapi hanya satu-dua, jarang gw temuin. Kalau pun menyebrang begitu, palingan saat jalan sangat sepi. So, gw juga gak enak dong kalo gak menaati aturan ini, bisa-bisa gw dapet tatapan cringe gitu kan, apalagi warna kulit gw beda dengan mereka, jadi gw harus menjaga kehormatan ras gw yang sudah terlalu banyak tercemar reputasinya ini, hehe.

Hari itu hari-hari terakhir gw di Adelaide, langit Adelaide lagi gerimis dan gw akan menyebrangi jalan, di sisi gw hanya ada gw dan satu orang pria kulit putih. Dari sisi seberang, ada wanita kulit putih berbadan gemuk yang kelihatannya lagi bad mood karena mukanya menggerutu. Cewek ini langsung nyelonong aja tanpa menunggu bel berbunyi, sedangkan orang-orang lain disisi seberang menunggu. Saat sudah sampai di sisi gw yang di seberangnya, dia berjalan lurus aja jadi berpapasan dengan gw yang berdiri di tempat yang seharusnya. Bukannya melipir dikit (sebelah-sebelah gw kosong lhoo, cuma ada gw dan satu cowok), dia malah memilih hampir menabrak gw, I stood on my ground karena emang gw gak salah, eee… dia malah bilang, “You immigrant!!” yang bisa diartiin, “Dasar lo, imigran!!” dengan intonasi geram lalu melewati gw.

HAH?? Apa dia bilang barusan?? GUE IMMIGRANTTT??

Cowok kulit putih di sebelah gw tadi yang melihat itu meneriaki cewek itu, “Hey!! you’re a loser!” namun gak digubris, dia jalan melengos aja. Cowok itu lalu bilang ke gw, “I’m sorry for that, don’t mind her, she’s just a loser.” Gw cuma ketawa aja, “Dont worry, I bet she is, I’m just a tourist by the way and this is my first time in Australia.” Si Mas bule jadi gak enak, ujung-ujung ngobrol, ngobrol dan ngopi bareng. hehe tapi yang ini lain cerita.

Gw masih mencerna apa yang barusan terjadi, ini beneran apa enggak sih gw dikatain immigrant sama orang yang gak kenal gw sama sekali. Dia kan gak tau latar belakang orang yang dia katain itu apa, bisa jadi turis kayak gw atau bisa jadi orang yang dia katain adalah orang yang sudah menjadi warga negara Australia dan sudah berkontribusi besar untuk negaranya. Gimana coba kalo sampe kejadian ke orang lain yang ternyata pemenang olimpiade internasional?? Atau simply an ordinary permanent resident yang sama-sama bayar pajak, menaati peraturan yang sama dan berkontribusi dalam mengurangi angka pengangguran di negaranya?

Lagian dia lupa kali ya sejarah nenek moyangnya, penduduk asli Australia kan suku Aborigin keles mbak, yang notabene berkulit hitam, bola mata hitam, rambut hitam. Jadi yang berketurunan imigran disana siapa ya?? Kalau memang gw imigran, seharusnya dia yang malu karena dia sendiri yang gak menghormati peraturan negaranya, walau pun cuma peraturan menyebrang jalan.

Cuma karena warna kulit gw, mata, rambut dan penampakan fisik gw yang berbeda, dia bisa seenaknya aja menyalahkan orang lain atas kesalahan dia sendiri. Gw menceritakan hal ini ke abang gw yang tinggal di Adelaide dan kenalan-kenalan gw orang Australia selama disana, mereka semua mengatakan kalau orang seperti itu di Australia disebut ‘bogun’, yang artinya orang Australia kulit putih kelas bawah yang biasanya bersikap kasar dan anti dengan yang asing karena pendatang banyak yang lebih sukses dari mereka.

Well, hal seperti ini bisa ditemukan dimana-mana, di Amerika yang sedang hangat juga demikian, padahal ini negara terbentuknya juga karena imigran! Di negara kita sendiri juga begitu. Identitas tentang pribumi dan non-pribumi dimasalahkan. Kalau difikir-fikir mah ya, di zaman udah mobilitas tinggi begini, apa masih ada lagi yang bener-bener 100% original? Bahkan kodok aja dari masa ke masa bisa mengalami perubahan dan perpindahan, apalagi manusia. Gak ada yang jamin gw bener-bener 100% keturunan Indonesia apa enggak, siapa tau nenek moyang dari nenek-nenek moyang keluarga gw adalah orang Arab, Belanda, India Terajana Kuch-kuch hota hai atau malah Zimbabwe yang hijrah ke Indonesia. Nah apalagi si cewek tadi yang sejarah negaranya udah terpampang kemana-mana. Sedangkan Nabi aja menganjurkan untuk hijrah, so, Nabi sendiri pun pernah jadi imigran dong ya. Lantas apa yang salah kalau fisik dan identitas kita berbeda tapi kita menjalankan kewajiban yang sama? Selama kita mencapai apa yang kita punya dengan tidak mendzalimi orang lain, ya sah-sah aja dong. Lebih baik bangga dengan apa yang kita lakukan ketimbang perihal ‘kita siapa’. In the end, what define a person is not his/ her identity (race, religion, beliefs, family background), it’s what he/ she does. As JFK once said, “Don’t ask the world what it can give to you, ask yourself what you can give to the world.”

Kasian si wanita kulit putih tadi yang masih seperti itu pemikirannya, semoga aja dapet hidayah si Mbak’e. Lo mikir kayak gitu gak akan bikin negara lo maju, Mbak… (Tapi negara doi emang udah maju juga sih ya… huhu, hoki aja lo, Mbak, lahir disana).

IMG_20180518_201543.jpg

Patung babi di tengah pusat kota di Rundle Street mungkin menginterpretasikan sesuatu. Mungkin ya, mungkin… cuma mungkin.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s