CADAS 2018 : Cihud’s Adelaide Story 2018

Hey, everyone!

20180514_175304.jpgI’m writing this post in the State Library of South Australia di Adelaide. Yes, I made it to Aussie, even though for only 12 days this time (who knows, I came to Bali for two weeks in August 2017, two months later I came again and stayed for half a year).

Karena ini pertama kalinya gw travelling abroad ke western country, so perjalanan ini punya nilai historis bagi gw and I wanna document it on this blog, sekalian sharing apa aja yang menurut gw menarik atau aneh selama di negeri wong bule ini dari kacamata gw.

Tujuan utama gw pergi ke Adelaide adalah untuk menghadiri acara wisuda S2 abang gw yang kuliah di Carnegie Mellon University Australia, sekalian jalan-jalan sama nyokap gw, walau pun pada kenyataannya gw lebih banyak jalan-jalan sendirian karena nyokap gw gak kuat jalan kaki lama-lama (ya ampun hidup di luar negeri ternyata banyak jalan kakinya, bok!) sedangkan abang gw… yaaa gitu deh… he’s just being his self, mana peduli dia gw mau jalan kemana pun, boro2 diservis seperti layaknya kakak yang baik, dia mendidik gw untuk urus sendiri my own business dari kecil.

20180514_174921.jpg

Gw berangkat ke Aussie di pertengahan bulan May 2018 dimana Aussie akan memasuki winter season, so udara udah dingin di kisaran 13 C – 17 C. Namun karena kepedean atau saking gak pernah jalan-jalan ke luar negeri (jadi gw gak terbiasa memikirkan baju apa yang harus dibawa tergantung musim, karena musim dan cuaca di Indonesia kemana-mana mah hampir sama), baju yang kebanyakan gw bawa adalah dress selutut dongs… biar kece gitu kalo di foto, such a big fail! Untungnya gw bawa beberapa full leggings. Hari pertama gw sampe, gw cuma bisa merinding disko aja walau pun di dalam ruangan. Namun kerennya badan manusia adalah we adapt fast to changes, so hanya dalam beberapa hari setelah gw melawan dingin, gw udah udah bisa jalan kaki dalam cuaca begitu walau pun hanya dengan legging tipis dan jaket yang gak tebel (city jacket). Namun hal yang sama tidak terjadi di nyokap gw karena dese gak ngelawan dinginnya dan selalu berlindung di tumpukan baju tebal.

Di Adelaide kami tinggal di college tempat abang gw tinggal (college disini maksudnya bukan kuliah ya, tapi tempat akomodasi, kayak rumah kos-kosan gitu) karena biar gak mencar-mencar. Tadinya sih gw pingin couchsurfing atau Airbnb aja biar lebih hemat, but my mom insisted that we better stick together in one place.

Selama ini gw sangka hidup abang gw selama di Aussie prihatin lah gitu ya, ternyata sesudah liat gimana dia tinggal, menurut gw sih ini mewah lah buat orang yang cuma dapet partial scholarship di negeri orang yang mahalnya minta ampun. Gak jadi deh gw prihatin. Gimana enggak, di akomodasinya udah include breakfast dan dinner prasmanan all you can eat, sehat, gak perlu mikir mau makan/ masak apa, ada regular room cleaning service, ada library, meeting room, kitchen, entertainment room (lengkap dengan meja billiard, Netflix dan board games), ada juga ruang buat relaxing yang ada perapiannya gitu, dan free laundry. Apa-apaan ini, he’s not being Indonesian, as Indonesians, seharusnya dia hidup hemat menjurus pelit, masak sendiri dan bersihin kamar sendiri kek. Kebiasaan hidup nge-boss di Jakartanya masih dibawa-bawa. Ampun gw mah…

In his defense, what he pays is the good environment and network. Ibaratnya rusun ama apartemen di Jakarta kan gede ruangannya sama, tapi yang bikin mahal  adalah lingkungannya, you wanna be in the environment that can help you to achieve something. Emang bener sih ya… Kadang gw heran kalo liat banyaknya pelajar dari Indonesia yang notabene mendapatkan beasiswa full tuition dari LPDP malah hidup mepet-mepet dan kerja nguli, ibaratnya sekolah jadi nomor dua dan kerja nguli nomor satu. Sedangkan mereka dibiayai negara buat memprioritaskan pendidikan, buat apa cari kerja tambahan yang gak ada hubungannya dengan karir ke depan. Sedangkan abang gw yang cuma dapet partial scholarship dari pihak universitas malah mengusahakan untuk mendapatkan lingkungan dan pekerjaan sampingan yang sejalan dengan tujuannya. Kalo orang kayak gw atau abang gw yang dapet beasiswa full tuition mah, ya udah bakal fokus ke networking dan cari pengalaman yang nambah-nambahin CV aja kali gw. Tapi bok, belom rejeki… hehe…

1527300764659

My mom in front of my bro’s place

Walau pun hanya dua minggu dan hanya di Adelaide selama di Australia, banyak hal menarik yang gw alami dan pelajari. Dari baru mendarat di bagian custom di airport, wisuda a la bule, situs-situs historis, ngapelin koala, main LEGO di State Library and many more!

20180523_113050

Sebelumnya gw juga udah tulis tentang persiapan apa aja buat pengurusan visa di sini, dan proses gw mendapatkan visa Australia di sini. Please click here to read my day-to-day diary in Adelaide, Aussie.

Di semester pertama tahun 2018 ini gw tiap bulan jalan-jalan melulu, semoga bisa selalu dapat kemudahan seperti ini dan bisa liat penjuru dunia lainnya 😀

I can’t wait to tell my stories to you! Happy reading #CADAS2018 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s