Wanita dalam Perlombaan

I am so amazed and thankful for the existence of internet and social media, tanpa mereka gw gak akan bisa hidup sebebas ini, gw berani memilih ngejalanin apa yang gw lakuin sekarang karena gw yakin gw beruntung hidup di zaman yang tepat. Zaman dimana orang bisa sukses tanpa harus merelakan tidak menjadi diri mereka sendiri. Namun demikian gw kadang rindu zaman sebelum adanya social media, waktu dimana kita gak perlu berlomba-lomba mengukuhkan eksistensi diri, berlomba-lomba menunjukkan siapa yang lebih bahagia, sukses, bahkan tingkat iman pun diperlombakan. Waktu dimana kita melakukan sesuatu karena rasa suka, bukan karena ajang di panggung yang semu.

Dari pandangan gw sendiri sebagai pengamat (dan mungkin tanpa sadar pernah menjadi peserta), wanita adalah yang lebih sering ikut perlombaan fana ini. Emang udah fakta umum sepertinya kalo wanita memang jiwa kompetitif dan insekuritasnya lebih mudah diombang-ambingkan daripada pria. Atau mungkin pria lebih jago menyembunyikan insecurities mereka ketimbang kita.

Memang sulit jadi wanita, kita selalu hidup berkompetisi. Kalo kata Oscar Wilde, “Women don’t dress up to impress men, women dress up to annoy other women.” Sadly true. Di umur yang sudah sedikit melebihi seperempat abad ini, gw udah melihat dan menjadi bagian dalam kompetisi wanita ini, kompetisi yang gak jelas judulnya apa, namun intinya, dalam kompetisi ini kita harus menunjukkan dan kadang menjatuhkan wanita lain untuk meraih gelar ‘Gw lah yang paling wanita sejati!’. Di tiap jenjang umur pun, kategori yang diperlombakan berbeda-beda, namun piala akhir tetap sama, yaitu gelar ‘wanita sejati’. Dengan adanya sosial media, kompetisi ini semakin sengit dan jelas terpampang.

Gw sudah melewati umur dimana kriteria ‘wanita sejati’ ditentukan oleh bentuk fisik. Kulit warna ini lebih baik dari warna ini, tinggi badan segini lebih baik daripada yang itu, lingkar badan, jenis rambut, cara berpakaian, dan lain-lain. Hal ini paling kenceng terjadi di usia belasan tahun, biasanya diiringi dengan kompetisi ‘siapa yang punya kawan paling banyak dan nge-hits abis’. Kalo kemana-mana bareng orang se-genk udah kayak mau kampanye. Tinggal bikin yel-yel aja lagi.

Ketika udah bertambah umur, level kompetisi semakin sulit karena berhubungan dengan pernikahan. Dimulai dari umur 23 tahun, foto tunangan, prewedding, undangan, pernikahan dan honeymoon semakin bertebaran. Hal ini tergantung di kota mana kamu tinggal atau kuliah dulu, kalo di kota besar mungkin agak relaxed. Fisik bukan lagi masalah yang penting, yang penting di level ini adalah status. Buat apa cantik kalo nikahnya belakangan, begitu lah kira-kira stereotypenya. Di umur ini banyak banget jiwa-jiwa insecure bermunculan, kode minta diajak nikah berserakan. Apalagi bagi yang belum mendapatkan pengalaman kerja atau gak puas dengan pekerjaannya, fikirannya pingin nikah aja, seolah-olah nikah adalah solusi wahid bagi semua masalah. Kalo masih jomblo atau galau tanpa kejelasan hubungan di umur ini, bertahan lah. Nanti juga momen ini berlalu di umur 25 tahun.

Gw ngerasain dan ngeliat dengan jelas gimana kompetisi di umur ini terjadi. Banyak yang promosi diri sebagai wife material nomero uno, hobby dan cara berpakaian pun  pun langsung berubah drastis, caption yang elegan jangan sampe ketinggalan, walau pun hasil copas. Ada kenalan yang tiba-tiba rajin posting hal-hal berbau agama, cara berpakaiannya berubah drastis. Ternyata lagi ngincer ustadz, walau pun ustadz-ustadzan. Kalo udah putus, ganti lagi, kode lagi. Pengambilan keputusan dengan cepat, banyak yang nikah dengan memaksakan hubungan yang sebenernya gak bisa lagi (ujung-ujung pas nikah langsung cerai atau diselingkuhin), kadang alasannya se-sepele hanya ingin pamer foto prewedding atau foto bareng suami di sosial media. Sosial media membuat seolah-olah nikah itu masalah gampang, yang penting bisa bikin caption #withhubby, adu du du duh…

Dengan adanya sosmed, persaingan di fase ini makin berat, karena adanya banyak aspek. Dari ada dan ketidak-adaan pasangan sampai acara resepsi. Harus ada foto bridal shower dengan girls squad-nya, belum lagi prewedding, foto aja gak cukup, harus pake video juga biar oke dan geger seantero Instagram. Undangan juga harus kece, baju bridesmaid jangan sampe malu-maluin. Di umur ini, umur baru mulai kerja dan berpenghasilan, tapi persahabatan diuji karena banyaknya ‘biaya persahabatan’ yang harus dijaga, dari persiapan bridal shower, jahit baju bridesmaid, sokongan kado, tiket pesawat, akomodasi, makeup artist, dan entrebe-entrebe lainnya. Semuanya demi apa? Demi menang lomba!

Lalu apakah kompetisi ini berhenti setelah menikah? Kagak, welcome to the next level. Level dimana suami aja gak cukup, harus punya anak juga untuk pembuktian betapa wanita sejatinya kita ini. Bagi yang telah melewati fase sebelumnya dengan status ‘masih single’, ini adalah momen dimana kalian bakal jadi penonton para istri-istri baru berkompetisi di level ‘siapa yang hamil duluan’. Sumpah ini konyol banget, seolah-olah membuktikan uterus siapa yang paling unggul. Saking konyolnya, bagi yang masih single bakal sering ditanyain sama teman lain yang sudah menikah apakah teman dekat kita yang juga baru menikah sudah hamil atau belum, kenapa gak tanya langsung sama orangnya aja yak? Gw kan bukan suaminya, gak pergi control ke dokter bareng gw juga. Kalo di fase sebelumnya bertebaran foto dengan pasangan dari engagement sampai honeymoon, di fase ini foto yang bertebaran adalah foto hasil test pack atau hasil USG. Langsung deh posting-posting tentang anak, menjadi orang tua, dan bahagianya menjadi istri. Gw ikut seneng kalo liat temen-temen gw bahagia, tapi ketika masalah punya anak dijadikan bahan perlombaan, aku hanya bisa facepalm.

Di fase ini adalah dimana tidak sedikit kenalan-kenalan yang sudah menikah tadi jadi sensitif berkelebihan masalah belom punya anak, terlebih kalo ditanya sudah berapa lama menikah. Gemes rasanya kalo liat perempuan yang sedih, kesepian dan merasa gak sempurna karena belum punya anak biologis. Hellow… lady, you’re still a woman!

Wanita-wanita yang udah menikah dan punya anak juga punya kompetisi lain sesama mereka, salah satu contohnya siapa yang bisa tetap menjaga penampilan, langsing dan menawan walau pun sudah launching produk. Hal ini memberikan pressure kepada mamah muda yang gak bisa back to normal pasca melahirkan seperti artis-artis di media, gak semua orang punya genetik dan kondisi fisik yang sama. Ada yang jadi udah males foto selfie lagi karena ngerasa udah gak cantik lagi, jauh benar kalo dibanding waktu single dulu yang tiap menit upload foto narsis muka close-up melulu, sampe ada yang udah bedah plastik untuk mengecilkan segala bagian yang membesar, dari bentuk hidung, pipi, perut, dan lain-lain.

Setelah lewat umur 27 tahun, para kontestan yang gagal nikah di umur 23-25 tahun tadi ternyata sudah banyak yang telah berubah, mereka bebas melalang buana menghabiskan duitnya untuk dirinya sendiri tanpa harus berbagi dengan orang lain, banyak juga yang karirnya menanjak atau telah menemukan passionnya. Tanpa disadari mungkin mereka melakukan pembenaran, ‘syukurlah gw belum nikah, daripada udah nikah hidupnya cuma gitu-gitu aja.’ Di lain sisi, pihak yang sudah berlabel istri gak mau kalah, seolah-olah gak ada posisi yang lebih indah dan terhormat selain menjadi istri, apalagi kalo udah jadi istri, bisa juga jadi ibu biologis, sudah lah jannah di tangan.

Namun para ibu-ibu yang udah punya anak pun juga bersaing dengan sesama emak-emak perihal siapa yang jadi ibu rumah tangga dan wanita karir. Siapa yang mengasuh anaknya sendiri dengan siapa yang memperkerjakan baby sitter. Siapa yang hanya bergantung dari dompet suami dengan siapa yang punya penghasilan tambahan atau ikut membantu keuangan keluarga.

Ya ampun, baru 27 tahun gw hidup di bumi tapi udah banyak banget segala kompetisi yang gak jelasnya hadiahnya apa. Membuat gw jadi bertanya-tanya setelah umur ini, levelnya apa lagi? Kadang gw heran sama yang rela mati-matian transgender buat jadi wanita, persaingan di dunia wanita keras lho, bro! Kalo sekarang anak mereka masih sama-sama kecil, masih belum punya pendapat yang permanent. Gimana nanti kalo anak-anaknya udah pada remaja atau lulus kuliah, apakah kita harus bersaing siapa yang anaknya paling banyak prestasi akademik? Masuk sekolah mana, pilih jurusan apa, nikah ama siapa dan umur berapa, dan pilihan-pilihan lainnya yang menentukan prestasi seorang wanita menjadi seorang ibu. Bukannya hal itu terlalu selfish, hanya untuk pembuktian diri sendiri kita harus mengorbankan orang lain. Orang tua yang hasilnya memaksakan kehendak kepada anaknya mungkin adalah orang tua yang belum lepas dari bayang-bayang perlombaan.

Kenapa dan kenapa kita gak bisa berbahagia saja atas pilihan kita DAN pilihan orang lain, berbahagia atas apa yang terjadi di diri kita DAN di orang lain. Tanpa harus membandingkan siapa yang lebih bahagia, sukses atau lebih wanita sejati. Karena selama kita masih sering membandingkan, gak ada yang sebenarnya menjadi pemenang.

Hanya karena kamu sudah menikah, bukan berarti yang masih single hidupnya merana dan kesepian. Hanya karena kamu belum menikah, bukan berarti yang sudah menikah hidupnya tidak bahagia dan terkekang. Hanya karena kamu sudah punya anak, bukan berarti mereka yang belum adalah wanita gagal. Hanya karena kamu belum punya anak, bukan berarti mereka yang sudah punya anak hidupnya terbatas. Kalau kamu memilih menjadi wanita karir, bukan berarti mereka yang menjadi ibu rumah tangga adalah lemah. Kalau kamu memilih jadi ibu rumah tangga, bukan berarti mereka yang bekerja adalah durhaka.

Siapa lah kita untuk punya wewenang mendefinisikan standar kebahagiaan orang lain. Terlebih lagi masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain adalah sesuatu yang di luar kontrol diri kita, bukan kita yang mengatur. Setiap orang punya jam yang berbeda-beda, adzan shalat aja beda RT beda waktu, bisa gak barengan, apalagi yang namanya jalan hidup seseorang. Perempuan sesama perempuan sebaiknya sama-sama mendukung, bukan menjatuhkan perempuan lain agar terlihat lebih sempurna. Tentang apa yang terjadi di masalah jodoh, anak, rezeki dan perasaan orang lain kita hanya punya dua pilihan; either berbahagia dan iklas atau berburuk hati dan prasangka. Pilihan pertama tidak memakan biaya sedangkan pilihan yang kedua menghabiskan budget, tenaga dan waktu.  Rempong, ciiinnn…

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s