#BaliDiary: Enaknya Tinggal di Bali

Setelah 27 tahun hidup di dunia, hal yang gw pahami tentang diri gw adalah bahwa salah satu bentuk kebutuhan gw untuk saat ini adalah merantau, millenial banget gak sih… hehe, ya gapapa toh, mumpung masih bisa! It’s when you break out of your comfort zone that you really find yourself. Dan gw percaya bahwa everyone in life is looking for a place to call home, gw gak percaya bahwa hidup adalah hanya menerima pilihan yang dipilihkan orang lain buat lw, meaning that bukan berarti the place you’re born in atau pun your parents’ origin bisa dipaksakan menjadi identitas seseorang. That’s why I’m moving places to places to eventually decide which one is really my home.

Gw udah pindah-pindah tempat beberapa kali dalam hidup gw, tapi so far, mostly di Pulau Sumatra. Destinasi perantauan impian gw dari dulu adalah Bali, gw penasaran banget sama Bali, saat ini dan sejauh ini, menurut gw satu-satunya daerah di Indonesia yang ‘Cihud Banget!’ adalah Pulau Dewata. Dan akhirnya ketika gw memilih untuk melanjutkan studi untuk karir impian gw, gw memilih melakukannya di Bali ketimbang di daerah lain seperti Jakarta atau Surabaya etc. Karena juga, dari masalah kualitas seimbang dengan harga yang jauh sangat lebih murah. Sampai dengan tulisan ini dibuat, gw udah tinggal selama 1,5 bulan di Bali. Satu bulan sebelum pindah, gw sempat 2 minggu liburan di Bali–terakhir kali gw ke Bali di tahun 2009–yang membuat gw makin mantap untuk memilih Bali.

Namanya juga hidup, kenyataan seringnya gak seindah mimpi kita dulu. Pasti lah ada juga yang bikin gw sebel tentang Bali, pasti lah ada juga bad days (**Baca tulisan-tulisan gw tentang tinggal di Bali di sini). However, buat gw, lebih baik having bad days in Bali than having bad days anywhere else. Yang gw bakal bahas sekarang yang enak-enaknya aja dulu, dari sudut pandang gw sebagai sesama orang Indonesia juga.

  1. Banyak hiburan yang MUDAH DIJANGKAU

Terutama wisata alam, alias banyak banget pantai-pantai yang indahnya pake banget tapi lokasinya juga gak jauh-jauh amet dan tiap daerahnya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nuance yang lo dapetin dari pantai di Kuta berbeda dengan yang di Canggu, beda lagi dengan yang di Uluwatu, Sanur, dll. Dan yang paling penting adalah MUDAH DIJANGKAU, alias gak jauh-jauh amet. Jalan 30 menit juga udah ketemu pantai, pantainya bagus lagi! Di kota-kota yang pernah gw tinggali sebelumnya, hiburan terdekat cuma mall atau pusat perbelanjaan, sedangkan gw bukan anak mall. Di Pekanbaru, untuk nemuin wisata alam aja harus ditempuh dalam 6 jam dulu deh ke Sumatra Barat, itu pun baru ketemu air terjun Lembah Harau, apalagi kalo mau ke pantai, beuh… makin panjang lagi perjalanan! Gw suka wisata alam, tapi gw juga gak suka kalo harus terlalu banyak effort dan preparation untuk menjangkaunya. Emang sih jumlah transportasi publik di Bali sangat minim, tapi untungnya sekarang udah ada taxi dan ojek online dengan tarif yang murah, sangat membantu buat orang yang gak bisa mengendarai motor seperti gw ini. Makasih banget, Bang Nadim!

2. Gak banyak mall tapi fasilitas lumayan komplit

I’m not a big city girl, not a fan of big malls kayak yang di Jakarta. Tapi kalo tinggal di daerah yang semuanya serba sulit di dapat atau pola pikir orang-orangnya masih tertutup, gw juga gak nyaman. Di Bali cuma ada sekitar 3 pusat perbelanjaan yang bisa disebut mall, itu pun kecil-kecil kalo untuk ukuran mall. Namun fasilitas lumayan lengkap kok!

3. No macet

Dibilang gak ada sama sekali sih ya gak juga, ada juga macet di daerah-daerah tertentu dan kadar macetnya masih level tempe, cuma dikit dan lw masih bisa bergerak, bukan berarti stuck total berjam-jam seperti Jakarta. Sehingga, hidup lw masih bisa impulsive, kalo tiba-tiba mau ke suatu tempat, masih bisa dilakukan. Gak kayak di Jakarta yang hidup lw tiap harinya hanya bisa memiliki 1-2 rencana. Dari lokasi gw tinggal ke Pantai Canggu jaraknya 14 km dan hanya memakan waktu 30-45 menit.

4. Balinese’s high tolerance to differences

Aset Pulau Bali bukan hanya kekayaan keindahan alamnya, tapi juga manusia-manusianya! Suatu daerah gak akan bisa mengembangkan potensi pariwisatanya kalo belum mampu menghargai perbedaan. Mau dibangun fasilitas infrastruktur semewah apa pun juga, kalo orang-orangnya gak bisa memberikan rasa nyaman, tentunya gak akan maju. Nah ini dia kerennya orang Bali! Mereka memang terbuka dengan perbedaan, tapi bukan berarti mereka kehilangan jati diri mereka. Adat mereka tuh masih kental banget lho, tapi mereka gak pernah memaksakan itu ke orang lain. Jadi turis-turis yang datang pun merasa nyaman namun tetap dapat melihat sesuatu yang eksotis.

Sudut pandang mereka tentang aspek-aspek kehidupan pun menurut gw unik. Bagaimana mereka bisa dibilang lebih spiritual ketimbang religius, toh yang mengaku religius pun belum tentu spiritual. Makanya gw lebih sering ngomong sama orang Bali ketimbang sama bule-bule disini, karena gw udah bosen ngomong sama bule, toh gw bisa ketemu bule lebih sering, tapi jarang-jarang gw bisa ketemu sama orang Bali.

5. Biaya hidup masih terbilang standar dan ada pilihan

Well, masalah harga, kemampuan seseorang berbeda-beda. Yang bagi gw standar, bagi orang lain mungkin murah atau mahal. Semua ragam harga untuk kebutuhan sandang, pangan, papan ada di Bali, dari yang murah sampe yang mahal. Kalo dibandingkan dengan daerah kecil lainnya, pilihannya termasuk lebih banyak. Harga kamar kosan tergantung lokasi, kamar kosongan seharga Rp 500.000 – Rp 800.000 masih banyak kok ditemukan, untuk kamar kosan lengkap (AC, water heater, bed, cupboard, wifi, fridge, mini kitchen, TV) range harga dari Rp 1.800.000 – Rp 4.000.000 (tergantung lokasi). Untuk transportasi, karena Bali kecil, dari satu tempat ke tempat lainnya palingan cuma berapa Km, jadi gak boros ongkos ojek online. Makanan pun pilihannya beragam, dari masakan asli Bali, provinsi lain dan negara-negara lain ada. Mau harga dari nasi-lauk (nasi kucing) yang harga Rp 5.000 sampe air putih yang harganya Rp 100.000 juga ada. Oh ya, berhubung gw udah jarang makan nasi putih, jenis makanan yang gw konsumsi (biasanya untuk sarapan), seperti quinoa, couscous, almond milk, chia seeds dan kawan-kawan mereka yang lain, lebih mudah didapatkan, merk dan harga pun variatif.

6. KTP = Kartu Diskon

Yang baru gw temuin di Bali selama tinggal di Indonesia adalah fungsi lain KTP Indonesia. Biasanya KTP cuma digunain untuk administrasi pengurusan apaaa gitu, tapi di Bali, dengan menunjukkan KTP Indonesia bisa mendapatkan diskon di berbagai macam events dan tempat hiburan seperti cafe, tempat gym, coworking space, amusement park, penginapan, bahkan yoga studio! Diskonnya juga gak tanggung-tanggung, kadang sampe 50%! Di beberapa tempat, kalo lo memiliki KTP Indonesia dan berasal asli dari Bali, diskonnya bakal ditambah! Anehnya, tempat-tempat yang memberikan diskon KTP ini adalah bisnis-bisnis yang dikelola oleh bule. Gw pernah berbincang dengan salah seorang bule pemilik yoga studio, dia bilang kalo alasan dia memberikan diskon adalah karena dia tau bagi orang Indonesia, harga Rp 130.000 per visit itu mahal banget sedangkan bagi standar bule hidup di Bali adalah murah pake banget. Jadi gak bisa disamaratakan antara orang Indonesia dan bule. Sedangkan tempat-tempat yang dikelola oleh orang Indonesia sendiri malah lebih sering menyamaratakan harga, malah kadang lebih mahal, padahal mereka sebagai orang Indonesia seharusnya lebih tau lho susahnya orang kita cari duit! Hiks!

7. Banyak museum

Well, gak semua orang sih bakal suka museum, tapi gw suka dan gw mendatangi suatu tempat berulang-ulang. Banyak seniman internasional yang memutuskan untuk tinggal dan menghabiskan masa tuanya di Bali lalu membuatkan museum untuk karya-karyanya.

8. You’ll be surprised with the persons you run into

Banyak orang yang merasa pencapaian karirnya sudah cukup dan merasa ingin tinggal nyaman di Bali, atau orang-orang yang berprofesi sebagai digital nomad. Misalnya ngajak ngobrol orang di kafe, eehh ternyata si kakek penulis buku apa gitu. Atau malah ketemu youtubers yang ternyata kondang banget di suatu negara. Atau orang-orang yang sangat ahli di bidang-bidang tertentu, orang-orang yang kerja di Google, Microsoft atau retail fashion besar, etc. Orang-orang ini juga gak pelit ilmu, kadang mereka suka berbagi ilmu gratis di tempat-tempat seperti cafe dan coworking space. Gw belajar tentang basic web design, online marketing sampe cara membuat channel Podcast dari orang-orang yang gw temui disini. Paling berkesan adalah ketika gw ketemu Mbak Niluh Djelantik di Ubud Writers and Readers Festival 2017 kemaren dan youtuber fitness cewek Indonesia Yulia Baltschun karena gw ngefans giling sama dua perempuan Indonesia ini! Pernah gw baca di buku seorang travel writer, Becky Wicks, bertuliskan, “People don’t choose Bali. It’s Bali that chooses people.”

9. No radicalism

Pasti tau donk situasi politik di Indonesia lagi panas-panasnya banget, liat TV dan timeline dunia maya malah bikin esmosi, apalagi semakin mendekati masa akhir jabatan presiden Joko Widodo. Di daerah-daerah yang gw singgahi belakangan ini, sering gw melihat spanduk-spanduk provokatif di ruang publik yang sangat bersifat politis, beberapa pernah gw liat membawa-bawa agama. Yang paling parah yang gw inget adalah waktu gw maen ke Jakarta di bulan April 2017, ada yang berdemo dengan tulisan “Kami mau ulangi lagi Mei ’98 demi keadilan!” Astagaa… kurang cukup ya sejarah massacre di Indonesia? Hal-hal seperti ini membuat gw merasa gak nyaman. Kebayang deh gw gimana stressfulnya mereka yang hidup di Jakarta yang rajin kebagian demo. Nah yang begitu-begitu tuh gak ada di Bali, setidaknya sejauh ini, dari hasil ngobrol sama Balinese, gw belum menemukan radikalisme apa pun mendapat tempat di Pulau Bali. Di satu sisi, bagus sih bikin awet muda kalo hidup tenang dan menjauhi fake news. Tapi di satu sisi juga, just because you ignore it, it doesn’t mean it ain’t happen.

10. Kesadaran Go-Green lebih tinggi

Salah satu dampak positif dari wisatawan yang datang adalah mereka umumnya orang-orang yang sangat concern kepada lingkungan. Ada banyak organisasi-organisasi non-profit untuk menjaga lingkungan yang didirikan/ dikelola olah percampuran orang bule dengan lokal, seperti green shools. Bule-bule ini menularkan konsep responsible business yang menimbulkan awareness effect walau dalam hal kecil seperti no plastic bags use di toko-toko. Jangan heran kalo setelah belanja takeaway food atau produk lainnya kalian tidak diberikan plastik bungkus, kalau pun ada, terbuat dari kertas daur ulang. Concern tentang Go-Green ini lebih tinggi jika di daerah-daerah wisata seperti Ubud, kalo di Denpasar yang paling minim turis, penggunaan plastik di toko-toko masih tinggi. Pernah gw makan di salah satu cafe di Ubud, ada bule yang complain kenapa itu cafe masih menggunakan plastik. Complaint-nya serius lho, bukan cuma sepatah-dua patah kata. Saking niatnya ni bule complaint, ternyata dia kontak temen-temennya dongs buat dateng ke itu cafe. Terus rame-rame mereka ceramahin si manager cafe yang langsung minta maaf ke bule-bule itu, malah dibilang, “Jangan minta maaf ke kami, minta maaf ke alam. Minta maaf ke Bali.” Abisnya ya mereka ngancem, kalo sampe ini cafe masih menggunakan plastik, mereka gak mau datang ke cafe itu lagi dan bakalan bilang ke turis-turis yang lain berita yang sama. Nah lho!

11. Balinese massage is easy to find

Gw rutin melakukan massage sekali dalam 2 minggu dari gw masih SMA sampai sekarang. Ada nenek temen gw yang waktu itu kulit badannya (bukan cuma mukanya doank) yang masih terlihat begitu muda dari umurnya, dia bilang salah satu rahasianya adalah rutin massage dari umurnya masih 20 tahunan. Ternyata gw udah ikutan melakukannya juga selama bertahun-tahun, haha. Namun waktu pindah ke daerah Sumatra Barat, susah banget cari tempat pijat yang maknyoss, biasanya harus kenal sama orang yang bisa buat dipanggil ke rumah. Mungkin karena di daerah itu image massage masih negatif dan walau pun sesama perempuan, masih banyak yang gak nyaman untuk buka baju almost naked. Tapi di Bali, spa dan massage tiap sudut ada! Eits, jangan langsung negative thinking ya sama semua tempat massage, karena masih banyak kok spa and massage yang bener-bener pure relaksasi, without ‘happy ending’ buat kaum pria.

Balinese massage itu asooy banget deh. Di Sumatra, gw harus coba-coba dan cari-cari tempat langganan yang pijitannya endang. Sedangkan di Bali, gw asal nemplok aja kayak cicak jatoh dari atep, tetep aja sampai saat ini belom ada yang mengecewakan.

12. Surga bagi yang berkulit coklat

Umumnya orang Indonesia sangat memuja-muja kulit putih. Sedangkan di Bali, jumlah produk tanning lebih banyak dibandingkan produk memutihkan kulit. Di Bali, lebih banyak orang-orang berlomba mencoklatkan kulit ketimbang memutihkan kulit. Gw yang memang sudah dari dulunya suka banget sama kulit coklat juga ikutan mencoklatkan lagi kulit gw yang sudah coklat ini sampai mencapai coklat maksimal. Beuuh, kalo kulit lw coklat, rambut lo item, udah deh… melenggok-lenggok jalan lo disini bak Miss Universe. Tingkat kepedean dan kesok-cantikan kalian disini akan meningkat karena disinilah kita benar-benar dianggap eksotis! Yeahh! Hidup brown skin!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s