Dijual: Jasa Transfer Doa dan Shalat

Di zaman yang serba online, semua barang dan jasa bisa diperjual-belikan secara online, dari mulai baju, alat olahraga, sampai tanah, mobil dan jasa seperti translation dan kelas online. Yang gak kalah heboh adalah JASA BELI DOA online dengan system pembelian online pada umumnya; pilih menu jasa doa yang diinginkan dan sesuai budget anda, transfer pembayaran dan setelah pembayaran terkonfimasi, si pedagang doa akan mendoakan anda sesuai paket doa yang anda pilih.

13697270_987673818011902_4386500682767616323_n

Hanya dijual paketan gans, ini doa, bukan kerupuk, gak bisa dibeli satuan! *Sumber Foto

Bidang perniagaan doa ini digeluti oleh seorang pria paruh baya asal Kudus, Jawa Tengah, bernama Nurhadi yang kumis dan status-status facebooknya telah mencengangkan dunia maya. Pasalnya, si Pak Raden warna-warni ini membuka tarif penjualan doa dan shalat yang terpampang di foto cover akun facebooknya, doa dan shalat tidak dijual satuan, harus beli paketan. Pak Nurhadi atau yang ramai disebut dengan panggilan NurHD /:nur eij di/ oleh kalangan manusia-manusia sinis tertentu memilik lebih dari 5000 follower di facebook saat saya singgahi akunnya dan sepertinya di Pak HD mengupdate status facebook sebanyak 50x dalam sehari, kebanyakan status-statusnya berisi doa singkat bagi para pembeli, lalu beberapa persennya kata-kata mutiara a la Vicky Prasetyonisasi, dan tidak jarang juga status vulgar padahal beberapa menit sebelumnya habis bikin status doa. Mungkin berdoa membuat dia horny, ato karena berdoanya dipaksakan sesuai deadline, jadi walopun lagi horny dia tetep berdoa untuk menjunjung tinggi profesionalismenya sebagai pedagang agama.

20106255_1339758389470108_6665231790033020787_n

Profile Pic yang saat itu sedang digunakan Pak NurHD ketika saya singgahi Facebooknya. Sepertinya bapak  ini sedang terinspirasi film kartun unicorn warna-warni.  *Foto Sumber

Di profile facebooknya, Pak HD mencantumkan ‘pijat relaksasi dan pengobatan’ sebagai pekerjaannya. Meski udah dikecam dan dihina di dunia maya, sampai sekarang Pak HD is still going strong menjalankan bisnisnya. Bahkan anak-anak muda ada yang melakukan prank-call ke Pak EijDi unicorn bala-bala ini dan mengunggahnya ke youtube. Well, di negara ini, gak heran kalo yang berbau agama laku di pasaran, pantes aja gw gak kaya-kaya, abisnya gw jualan celemek dan bantal sih… bukan jualan agama kayak pak HD.

Kelihatannya, Pak Unicorn bukan berasal dari latar belakang pendidikan tinggi (maaf pak kalo asumsi saya salah, jangan kutuk aku jadi unicorn juga!) jadi tingkah laku ini bisa diprediksikan. Tapi apakah cuma orang dengan dengan latar belakang seperti Pak HD yang menjual jasa transfer doa?? NO. Seorang financial consultant bernama Ahmad Gozali yang sudah mengantongi pendidikan di sebuah sekolah tinggi dengan spesialisasi akuntansi (alias STAN) dan melanjutkan pendidikan bidang Manajemen Perbankan Syariah sudah lebih dulu melakukan jasa titip doa di dunia maya pada akhir tahun 2013 lalu dengan tagar #TitipDoaBaitullah, dimana orang bisa mentransfer sejumlah uang dengan batas minimal Rp 100.000,- yang disebut sedekah (sedekah kok pake minimal sih, ngaku S2 ya pak??) agar bisa didoakan oleh beliau sendiri ketika beliau pergi ke tanah suci. Pak Gozali ini adalah salah satu dewan Pembina dan penasehat di sedekahharian.com.

titipdoabaitullah

Mungkin bagi sebagian orang yang membuat tercengang adalah karena masalah jual-beli onlinenya. Tapi apakah praktek jual-beli doa ini adalah sesuatu yang baru?? Menurut saya pribadi yang bukan lulusan bidang Manajemen Perbankan Syariah dan juga bukan unicorn, di negara ini praktek titip doa udah ada sejak dulu-dulu banget. Yang baru cuma medianya aja sekarang online.

Contohnya simplenya, kalo ada yang mau pergi haji, sering gak sih kita denger orang-orang pada minta titip doa, “Eh doain aku donk biar enteng jodoh, soalnya aku belum mampu ke tanah suci.” Sama kan? Bedanya gratis karena kenal. Lah doa kok nitip?

Di sekitaran rumah saya dulu juga ada tetangga yang di rumahnya selalu ada orang-orang yang dikumpulkan untuk berdoa untuk orang lain yang minta tolong ke Pak Ustadz itu dengan biaya sedekah sukarela. Katanya orang-orang yang berdoa ini adalah kaum dhuafa dan anak yatim yang doanya lebih afdhal. Kalo ada yang lagi pingin bersyukur atas rezeki, mereka menghubungi pak Ustadz dan ‘bersedekah’ dan minta didoakan agar rezekinya bertambah. Begitu juga kalo lagi ditimpa musibah dan kalo lagi ada sesuatu yang diinginkan. Seolah-olah baginya doanya sendiri kurang didengar, padahal ngakunya percaya kalo Tuhan Maha Mendengar. Alasan lain kenapa hal ini lebih diminati adalah karena hemat biaya jika dibandingkan dengan bikin acara doa-doa di rumah.

Keluarga besar saya sendiri pun semenjak pindah ke kampung halaman orang tua saya di Sumatra Barat, sudah 7 tahun belakangan ini selalu rutin melakukan sedekah pembagian sembako dan doa bersama setiap tahunnya, dalam setahun minimal 2 kali, pembagian sembako akbar setiap menjelang idul fitri karena biasanya jumlah penerima (dan pendoa yang dipaksakan) mencapai angka 1000 beneficiaries. Udah berapa kali saya sendiri mendebat hal ini dan menawarkan alternative jenis bantuan lain ke para mereka yang tua-tua, tapi yah apa daya kita selalu saja dianggap anak dan anak-anak. It’s their money anyway, it’s up to them what they’re gonna do with their money. But do I believe in it even though it’s done by my own family? My own parents? NO.

To be honest, for me it’s silly. Mengumpulkan orang-orang yang tidak mampu, membuat mereka menunggu sampai acara dimulai, lalu menyuruh mereka berdoa, mereka berdoa dengan tatapan kosong karena sudah lama menunggu dan mungkin mereka emang lagi gak niat berdoa karena di kepalanya ada fikiran pekerjaan mereka yang mereka tinggalkan demi pembagian sembako, dan juga mereka gak kenal untuk si nama-nama yang didoakan (lha wong kontaknya cuma setahun 3 kali). Banyak dari mereka yang saya perhatikan tidak melakukan (seolah-olah) berdoa, nah pura-pura berdoa aja gak apalagi mau beneran berdoa. Lalu membagikan sembako setelah mereka dibuat berdoa. And then what? Apa yang sebenarnya kita dapat? Apa yang sebenarnya mereka dapat? Acara seperti ini mungkin lumrah dilakukan di Indonesia, tidak hanya keluarga saya saja.

Menurut saya, hal ini terjadi mungkin karena tidak semua orang benar-benar percaya bahwa masalah doa adalah sesuatu yang personal antara ia dan Tuhannya dan bagaimana kita menginterpretasikan anjuran membantu kaum yang tidak mampu dan anak yatim karena doa mereka. Memang iya anjuran tersebut ada, tapi apa harus dilakukan dengan ngumpulin orang di rumah, disuruh berdoa, trus baru dibagiin duit/ sembako gituh? Itu cuma kebiasaan yang sudah dijadikan tradisi di suatu tempat/ negara, belum tentu mendidik. Masalah dia berdoa apa gak untuk kita setelah kita bantu, bagi saya itu adalah sesuatu yang personal antara dia sendiri dengan Tuhan, buat apa kita ikut campur dengan repot-repot mengumpulkan mereka berdoa yang ditentukan tempat dan waktunya. Kalo mau ngebantu ya ngebantu aja, gak usah pake ada garansi ‘harus didoain ya!’ segala. Lebih baik mereka mendoakan diam-diam dan lebih baik bagi kita diam-diam didoakan. Anyway, for me, when we do something good, it should be because we truly believe it’s good, not because we expect something in return. Karena hanya unicorn jadi-jadian yang pasang tariff transfer doa.

ba7393fc39046d9ed2146c3b3a5b2840--team-unicorn-unicorn-yoga

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s