Moving to West Sumatra for Beginners 3 — In the Name of Gengsi

Gw ingat dulu pernah nonton wawancara band Nidji waktu mereka lagi booming. Giring si vokalis yang mengaku mempunyai darah keturunan Minang mengaku kalo pengalaman tampil di Sumbar adalah yang paling memiliki tantangan untuk menghidupkan suasana. Inget dong gimana enerjiknya si Giring ini kalo di panggung. Katanya, dia hampir mati kutu karena udah satu jam jejingkrakan di atas panggung tapi penonton tidak ada yang bergoyang, anggota band saling berpandangan satu sama lain bertanya apa ada yang salah. Setelah sekian lama akhirnya penonton ikut bergoyang sedikit, itupun hanya kepala doang, ya lumayan lah. Di wawancara tersebut Giring bilang yang kurang lebih seperti ini, “Tampil di Padang ini challenging banget karena orang Minang gengsinya tinggi untuk ikutan bergoyang, kita jadi sempet gak pede, apa mereka gak suka penampilan kita. Padahal penonton rame dan makin lama makin rame.”

Seorang kenalan gw yang seorang DJ dan sudah beberapa kali tampil atau hanya sekedar main di klub malam di kota Padang bilang kalo ‘orang Padang panasnya lama, dance floor lama ramenya’.

Hhhmm… gw belum pernah ke night club atau pun konser di Sumbar sih, jadi belum pernah menyaksikan sendiri gimana situasi pergoyangan. Palingan kalo di kondangan ada music-musik gitu. Emang jarang juga sih yang naik ke panggung dan joget-joget. Tapi bukannya di tempat lain juga begitu?

Yang gw pernah cuma nonton acara stand-up comedy Raditya Dika dan beberapa talkshow waktu kuliah dulu. Audience yang hadir banyak dipuji para pembicara lewat twitter, apalagi Raditya Dika sampai beberapa kali twit hanya untuk memuji gimana asiknya audience di Sumbar. Well, mungkin untuk perjogetan, it’s not their cups of tea, hehe.

Selain masalah perjogetan, gengsi di Sumbar yang gw liat adalah tentang tempat perhelatan sebuah acara, biasanya pernikahan. Meskipun ada gedung-gedung hall atau GSG yang cukup memadai, kebanyakan masih memilih untuk melakukan pesta di rumah. Di Lampung dan Pekanbaru, untuk menunjukkan gengsi dan karena gak mau repot, pesta pernikahan umumnya di GSG atau hotel. Di Sumbar yang menurut gw menarik adalah kebalikannya. Keluarga yang sebenernya mampu (dan kadang malah sangat mampu) untuk bayar sewa gedung lebih memilih pesta di rumah dengan alasan “nanti kita disangka gak punya rumah” atau “takut disangka gak mampu bangun rumah sendiri, nanti disangka orang selama ini kita numpang”. Menarik sih alasannya, karena berbeda, tapi gengsi tersebut juga berpotensi menyebabkan kemacetan dan kerugian transportasi buat public yang lain. Keluarga besar gw sendiri sering gw kritik karena beberapa kali egois menutup jalan raya yang ada di depan rumah, mana pake back-up polisi segala, “Gengsi yang lebih penting buat dipelihara itu gengsi buat gak ngerepotin orang lain, bukan gengsi pamer nama besar keluarga.” Alhamdulillah berujung kena semprot.

Selain masalah tempat, gengsi juga ditunjukkan lewat durasi pesta. Semakin lama pestanya, apalagi sampai berhari-hari, semakin bergengsi.

Masalah perantauan juga kenal gengsi, banyak yang pantang pulang kampung kalo belum berhasil karena takut dihina, padahal yang ngehina juga gak mau ngasih bantuan. Rumah keluarga menjadi simbol gengsi. Orang-orang yang sudah lama merantau banyak yang membangun rumah keluarga di kampung walaupun mereka sendiri gak tinggal di kampungnya. Berbeda benar dengan kebanyakan teman-teman gw yang chinese yang memilih untuk tinggal di rumah yang sederhana, perabotannya juga banyak yang vintage, tapi buat mereka yang lebih penting jumlah uang di tabungan dan jalan ke luar negeri. Teman saya yang chinese pernah bilang, “Gak masalah gimana tempat lw tinggal, yang penting sejauh mana lw udah pernah melangkah.”

Orang-orang di Sumbar pun sering mengakui kalo mereka emang gengsi tinggi, tapi yang membuat gw surprised adalah bahwa mereka mengaitkan gengsi dengan masalah perut. Sering banget gw dikasih tau, “Semiskin-miskinnya orang Minang, mana mau makan selain nasi.” Wah gw baru tau kalo nasi adalah gengsi, padahal gak ada yang bakal tau juga sumber karbohidrat lw darimana. Gak cuma sampe situ, mereka kadang juga sampe spesifik ke merk dan harga berasnya segala. Wow, rasanya gw telah bertemu dengan Nasi Fans Club terbesar di dunia.


Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

 

Advertisements

6 thoughts on “Moving to West Sumatra for Beginners 3 — In the Name of Gengsi

  1. jadi pengen nyanyi…

    You seem to find the dark when everything is bright
    You look for all thats wrong instead of all thats right
    Does it feel good to you to rain on my parade
    You never say a word unless its to complain
    Its driving me insane

    If i were you
    Holding the world right in my hands
    The first thing I’d do
    Is thank the stars for all that i have
    If i were you

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s