You are what you comment on Lambe Turah

Lambe Turah adalah salah satu akun Instagram Indonesia dengan jumlah followers dan akun imitasi terbanyak. Kalo ada yang belum tau Lambe Turah ini akun tentang apa, ini adalah akun yang ibaratnya fenomenanya Gossip Girl a la Indonesia. Gosip adalah salah satu komoditi yang paling banyak diminati hampir semua kalangan dan gossip yang diberitakan di Lambe Turah terasa berbeda dibanding apa yang bisa kita dapatkan di TV karena beberapa hal:

  1. Akun tersebut anonymous, sehingga akun ini gak perlu menjaga norma kesopanan seperti acara-acara gossip di TV. Kalo acara gossip di TV, ada muka-muka hostnya yang terpampang, jadi kasian kalo mereka dijadikan tumbal penulis script di belakang layar.
  2. Lambe Turah sepertinya bagian dari inner circle public figures di Indonesia sehingga dia bisa mendapatkan berita dan rekaman video (kadang candid, kadang gak) yang kadang sifatnya private.
  3. Banyak followers Lambe Turah yang merasa terhibur dengan gaya bahasa si admin akun yang membuat kosa-katanya sendiri.

Karena kesuksesan akun ini, banyak akun-akun serupa yang mengimitasi jenis konten dan gaya bahasanya.Dari sebegitu banyaknya akun imitasi, yang asli (pelopor) kemungkinan adalah yang mempunyai followers dia angka 2 juta. Kadang saya berfikir sebenarnya mungkin mereka ini jaringan admin yang sama, karena dengan semakin banyaknya akun, mereka jadi bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari tariff paid promote. Jangan anggap remeh tariff yang dipasang akun-akun seperti Lambe Turah, Lambe Lamis, Tante Rempong, Dagelan, dll. Karena saya menjalankan online shop, saya sendiri pernah survey harga tariff paid promote di akun-akun tersebut, harganya berkisar dari 25rb per posting sampai 5 juta per satu kali publish, tergantung dari jumlah followers akun tersebut berapa, kadang malah ditentukan berapa lama post tersebut akan di-keep di akun social influencers itu.

Saya, walaupun sudah bermain Instagram dari tahun 2009, malah baru mengetahui tentang si jenis-jenis Lambe ini pada akhir tahun 2016 kemaren dari teman-teman saya, padahal akun tersebut sudah ada cukup lama sebelum itu. Waktu teman-teman saya bercerita, saya jadi merasa tertinggal karena gak ngerti bahan pembicaraanya, saya jadi penasaran dan lalu terjun ke TKP. Teman-teman saya memberi wejangan tentang Lambe Turah for Dummies, yaitu adalah: “Baca comment2nya. Lo gak akan ngerti tentang gosipnya kalo lo gak baca bagian comment. Bagian terseru di Lambe Turah adalah commentnya.” Ok, noted.

Waktu saya membuka akun-akun gossip tersebut, menurut saya ya… memang sih beberapa berita yang dia punya kesannya gress karena candid dan private, tapi yah, tipikalnya entertainment news lah, yaitu lebay (ya namanya jualan gossip, pasti lebay) dan gak ada hubungannya dengan kehidupan kita (apa coba untungnya bagi saya untuk tau kalo si artis A baru aja beli sandal jepit baru buat anaknya? Atau si artis B baru aja selese nemenin pacarnya potong rambut). Saya sering bingung membaca konten akun-akun ini, bukan karena gaya bahasanya, tapi saya bingung artis yang digosipin ini siapa, apakah beneran artis ato bukan, karena saya udah lama gak nonton TV jadi yang saya tahu cuma sampe angkatan Raffi Ahmad. Saya kalah jauh dari orang tua saya yang hapal sampe ke nama orang tuanya Raffi Ahmad segala. Hehe, miris ya saya ini.

Karena kebingungan, saya mengikuti wejangan teman-teman saya, yaitu baca comment section. Dan ternyata… wow, bagian paling shocking dari Lambe Turah and the ganks adalah memang bagian comment nya! Kenapa?? Karena konten Lambe Turah hanya mencoba mengungkap personalities selebritis yang cuma segelintir dan itu-itu aja, sedangkan di comment section, beribu-ribu atau mungkin berjuta orang—yang mayoritasnya bukan dari kalangan seleb—mengumbar kepribadian mereka yang sebenarnya! The comment section really reveals how incredibly intolerant and heartless people can be!

Ada yang berkelahi sampai bikin gank segala, namanya Balajaer dan Balanemo (saya gak tau pasti mereka ini apa, tapi kayaknya sejenis Bonek gitu deh. Kenapa gak ada BalaPaus ya? Kan lebih sangar gitu namanya kalo buat berantem), ada yang jadi Dewi Kwam Im, mencoba memberi cahaya perdamaian dan kerap kali gagal, malah dia jadi ikutan berantem. Ada yang jualan krim pelangsing, penghilang jerawat, sampe pembesar payudara (gimana coba logikanya cream yang dioles di permukaan kulit bisa merangsang pertumbuhan lemak dan otot di dalam tubuh?? Besok2 anak bayi dioles krim aja daripada dibeliin dan dikasih makanan bergizi, biar bayinya jadi semok). Dan salah satu yang paling banyak adalah yang menghujat si para selebritis ini. Kadang sebenernya berita tersebut gak pantes dihujat juga sih, tapi orang-orang merasa berkewajiban aja gitu untuk merespon negatively terhadap apa yang diposting di akun-akun ini. Contohnya aja di salah satu posting tentang seorang seleb yang lagi belajar fashion design dan menggambar mengikuti contoh gambar model yang asli. Ini contoh comment yang saya screenshot.

Luar biasyak! Mereka bilang menggambar itu gampang! Kalo semua orang memang sejago ngomong mereka tentang menggambar, kita semua sudah jadi Leonardo Da Vinci dan Indonesia bakalan kebanjiran penerus Affandi! Yang namanya belajar menggambar memang dari mencontoh objek, tidak selalu harus hanya dari imajinasi. Bahkan Nick Verreos pun, salah satu educator fashion design ternama di dunia yang juga juri di Project Runway, menjelaskan metode yang sama. Yang hebat adalah orang-orang yang komen negative di postingan tsb.

Salah satu contoh lain adalah screenshot komen berikut yang saya ambil dari postingan tentang salah satu seleb yang sedang sakit parah, seleb ini terkenal karena keseksiannya dan postingan tersebut adalah si seleb di atas tempat tidur rumah sakit yang fotografinya diambil oleh salah satu fotografer socialite yang lagi naik daun, di foto itu si seleb memegang kaca dan lipstick seolah berdandan, dan terlihat (sepertinya) hanya memakai selimut rumah sakit.

Banyak yang komen mendoakan kesembuhan si artis tapi gak sedikit juga yang menghujat karena si seleb masih saja tampil vulgar. Kalau mereka berpendapat menutup aurat lebih baik dan terhormat, ya gak ada salahnya sih, itu kan hak mereka untuk berfikiran apa, tapi—terlepas dari pendapatnya benar ato gak—bandingkan bagaimana cara orang-orang ini menyampaikan criticism yang sama, mana yang lebih constructive?

Bukan cuma akun-akun gossip ini yang keramaian penghujat. Akun-akun seleb juga ramai komentar-komentar tanpa hati. Mereka menghina ketidaksempurnaan fisik si artis, gaya berpakaian, orang tua, sampai masa lalu si artis. Contohnya saya ambil di akun instagram Marshanda, si seleb ini belakangan mengunci kolom comment di beberapa foto yang dia rasa akan mengundang hujaters berkumpul. Marshanda pernah beberapa kali mengalami perubahan berat badan dan terlihat lebih berisi. Hellooww… did anyone forget that she already gave birth to a daughter? What’s wrong with being fat or skinny? It’s not a sin! God doesn’t judge you by the shape of your body. How you treat others is the one that matters. Kalo saya sih, untuk menghina fisik seorang Marshanda, saya ngaca dulu dan memastikan kaca tersebut gak pecah. Untuk saya, puncak tercantik saya pun masih gak akan menang cantik dari rock bottom nya Marshanda. Bukannya ngerendah ya, tapi emang realistis. Terlepas dari sifat seorang Marshanda bagaimana, Marshanda lagi ngorok atopun lagi ngeden juga palingan tetep aja lebih cantik dari foto saya setelah difilter camera 360 sebanyak 5 kali. Tapi saya belum pernah liat muka Marshanda lagi ngorok ato ngeden sih, tapi saya udah pernah liat muka saya setelah diedit camera 360 sebanyak 5 kali, gimana mau cantik, idung aja hilang!

Did these people forget that these celebs are also ordinary humans, they go through some phase in their life just like us and they cant keep being flawless all the time.

Tidak semua komen yang ada di akun-akun ternama ini isinya jelek-jelek dan hujatan, ada juga yang neutral dan constructive. Tapi untuk membuktikan sendiri komposisi mana yang lebih banyak, lebih baik kalian datangi sendiri.

Komen-komen yang seperti ini mengundang saya untuk stalking ke akun-akun dewa-dewi hujat ini. Dan seringnya, persona di akun instagram pribadi memang sangat menipu, apa yang di tampilkan di akun pribadi jauh berbeda dengan jenis dan konten comment di akun orang lain yang terkenal. Kalau hanya melihat akun instagram pribadi, pasti kita tidak menyangka kalo orang-orang ini sanggup melontarkan komentar-komentar barbar seperti itu. Ada yang kelihatannya wanita/ pria baik-baik, sopan, captionnya selalu bijak a la motivator, bahkan ada yang sudah menjadi parents. Ada juga yang pekerjaannya seorang guru (dia cantumkan di bio IGnya, salah satu dari pemilik comment yang saya capture ini adalah seorang guru). Seriously?? You are a teacher, man! Apparently these people believe that just because they’re not famous then they can just verbally abuse and harass people like that, just because they’re famous. They can read your comments too. And what makes you think these famous people are immune from negativity?

Bukan selebnya yang sebenarnya terbuka aibnya, tapi para komentatornya. Orang-orang yang tadinya saya gak tertarik untuk melihat akunnya, jadi tersinggahi karena komen yang julid dan destructive. Ya ampun mak, padahal akun pribadi pencitraannya ibarat ibu peri!

Yang lucunya juga, jadi di instagram itu, ketika kita membuka suatu post, dari sekian banyak komen, instagram sendiri sudah memfilter agar yang tampak oleh kita sebelum kita expand commentnya adalah comment2 dari either orang yang terkenal atau orang yang ada hubungannya dengan kita, contohnya teman-teman kita di instagram. Nampaknya gak semua orang sadar tentang hal ini ya, alangkah kagetnya saya ketika berkali-kali menemukan komen dari beberapa teman-teman soc-med saya yang berkecimpung di kolom rumpi, mending kalo sekadar nimbrung, ini ikutan menghujat juga. Padahal setau saya orang-orang ini elegan dan keibuan/kebapakan, ternyata bukan cuma strangers saja yang terbuka sifatnya, tapi juga orang yang dikenal/ teman kita sendiri!

However, I believe in the freedom of speech, they have rights to say whatever they like, just like how I have rights to write anything I like or believe in. Hence, when we think something is incorrect about one’s posts, commanding him/her to stop having opinion or write what she/he thinks is not something I believe to be done. Karena seberapa pun buruknya mereka menghina si artis, saya gak punya hak untuk menyuruh mereka berhenti menggunakan mulut dan fikirannya, yang saya bisa adalah menawarkan alternatif lain dengan cara yang tidak sama. Pedang dibalas dengan pedang, pena dengan pena.

Advertisements

2 thoughts on “You are what you comment on Lambe Turah

  1. Meluncurrrr ke Lambe Turah 😊😊😊 aku baru tau dr post kamu lho hahaha. Btw soal Marshanda aku malah suka simpati, habis kayanya kok orang2 benci banget sama dia padahal dia ngga ngapa2in yang merugikan orang jg

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s