Moving to West Sumatra for Beginners – Part 2

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan sebelumnya. To understand more about my background, read here. I re-state, this is purely based on personal experience and perspective (yaiyalah namanya aja tulisan di blog), hence, this doesn’t solely describe all Minangnese.

photo

  1. Indirectness

Seringnya di media dan ketika lw gede di rantau, image tentang orang Minang yang disebarluaskan adalah bahwa mereka terlalu straightforward dan cenderung gak peduli perasaan orang lain. Setelah pindah dan tinggal di Sumbar, menurut gw image tersebut exaggerated. Menurut gw, mereka—walopun suka kepo—tapi menjunjung tinggi indirectness alias basa-basi, yang mana artinya kalo lw terlalu to-the-point, bisa terkesan kurang sopan. Sebenernya ini hampir mirip dengan suku Jawa yang juga indirect, cuma beda bahasa aja. Jadi kalo kalian udah terbiasa dengan basa-basi adat Jawa, kurang lebih mirip dan selain masalah bahasa, you’ll do well.

Nah yang susah adalah buat orang-orang yang besar tanpa kenal adat seperti gw. Bukannya berarti gw gak sopan ya, tapi perbedaan makna ‘sopan’ buat gw dan buat mereka. Susah buat gw membaca kode-kode yang mereka coba sampaikan. Karena, kalo ditawari sesuatu, mereka jawabnya langsung enggak, padahal mau. Tapi kalo gak jadi dikasih, besoknya disindir-sindir secara indirect. Nyindirnya pun, karena gak to the point, palingan gw baru sadar 1 bulan kemudian, itu pun karena ada yang ngasih tau. Jadi, sekarang gw pake rumus sendiri bahwa jawaban mereka yang sebenarnya adalah jawaban setelah ditanya tiga kali. Buat antisipasi dari merugikan diri gw dan mereka, jadi gw berterus terang aja menanyakan maksud yang sebenernya karena gw gak pandai kode-kodean, so if you don’t tell me directly what you really want, you will not get it from me. Dan gw juga meminta maaf sebelumnya karena gw kemungkinan besar gak ngerti maksud mereka apa, jadi kalo nanti gw salah melakukan, langsung dikoreksi aja.

  1. The Art of Mencemeeh

Yang kita tau, yang paling disukai orang Minang adalah sambal. Tapi bagi gw yang paling disukai orang Minang adalah sambal dan mencemeeh, alias mencemooh, kadang niatnya sih nge-jokes, kadang entah lah. Bahkan kata mencemooh itu sendiri dicemooh menjadi mencemeeh. Untuk menunjukkan kekaguman dan kasih sayang pun mereka seringnya dengan mencemeeh. Maksudnya mungkin pingin mendekatkan diri. Contoh yang paling gampangnya adalah how they do catcalling here. Gw anti banget sama catcalling walopun menggunakan adjective yang baik-baik sekali pun. Di Jawa, catcalling yang sering adalah “neng geulis” atau “cah ayu” yang artinya “gadis cantik” dan sebagainya. Di Sumbar they catcall you by the shape of your body or the color of your skin. Tadinya gw gak tau kenapa orang-orang pada bilang ‘lesuik’ ketika gw jalan, teryata ‘lesuik’ artinya kurus. What the F, are you bodyshaming me?? Rasanya pingin gw tampar pake barbell. Ketika manggil orang lain pun juga begitu, cewek-cewek lain yang badannya lebih berisi dipanggil “Puak” dari kata “Gapuak” yang artinya gendut. Coba aja bayangin ada orang yang gak lw kenal tiba-tiba manggil lw gendut seolah-olah lw adalah karung beras. Gw shocked pas baru pindah ke Sumbar menyaksikan ini, sehingga sering gw konfrontasi. “Kenapa panggil saya kurus?”, jawabnya “Adiak kan kurus mah.” I replied, “Kalo gitu saya panggil kamu ‘randah’, ya.”

“Ba a tu? Awak ndak pendek do”

“Iya, itu IQ kamu.”

Tapi lama kelamaan gw capek juga mengedukasi yang harus dimulai darimana, catcalling ato bodyshaming. Karena toh orang Minang sendiri sepertinya meng-embrace their hal itu, banyak yang menggunakan nama panggilan ‘lesuik’ atau ‘gapuak’ untuk dirinya sendiri. Ya sudah lah, toh merekanya juga gak sakit hati. Asal jangan ke gw aja. Tapi tetep aja gw gak tega gitu kalo liat anak-anak kecil yang dipanggil “Gapuak”, “Kaliang”, dll.

Hal yang paling berasa beda di Sumbar bagi gw adalah how they make jokes. Bagi gw jokes mereka offensive sedangkan bagi mereka jokes gw belagu. Seiring waktu, gw mengerti mana yang bagi mereka lucu dan gw bisa ngikutin (tapi gw gak akan ikut menertawakan beberapa hal seperti fisik, gender, etnis, dan agama). Saran gw, kalo lw baru pindah, in order to fit in, jangan nge-jokes dulu, watch how they joke first.

  1. ‘Kesatuan’

Kesatuan disini bukan bermakna ‘unity’, melainkan opposite dari ‘diversity’. Di Sumbar, suku yang dominan adalah Minang dan agama mayoritas adalah Islam. Dominan disini mencapai angka 90%. Hal yang terasa lucu bagi gw adalah ketika mereka mengatakan bahwa diri mereka berbeda dan gak mau disamakan, orang Bukittinggi anti disamakan sama orang Pariaman, dll yang seperti itu lah. Sedangkan di mata gw mereka semua sama, sama-sama Minang. Saking jarangnya suku lain, waktu gw sekolah dulu ada teman yang dipanggil dengan nama daerah, si Jawa. Satu sekolah memanggil dia ‘Jawa’. Sedangkan di Lampung, walopun ada suku yang dominan, tapi hampir semua suku ada, kalo semua dipanggil pake nama daerah, si Padang, Bengkulu, Kalimantan Tengah, duh, rasanya kayak ajang putri-putrian dong, ya!

‘Kesatuan’ disini suka bikin gw kangen dengan suasana multi etnis, kangen dengan makanan-makanan khas daerah lain. Kangen dengan logat berbicara yang berbeda-beda. Kangen berteman dengan teman-teman yang berbeda agama.

  1. ‘Kekeluargaan’

Bagi orang Minang, kekeluargaan adalah penting banget. Dan keluarga disini maksudnya bukan nuclear family tapi extended family seluas-luasnya. Waktu pertama kali pindah, gw kerjanya dikenalkan ke orang-orang yang katanya sodara. Lalu gw tanya, “How are we related?” ternyata gak jarang yang jawabannya adalah ‘saudara sekampung’. Ya gw ngakak dong, eehh… ternyata mereka serius, that term really exists! Orang Minang suka berkerabat dan menjalin tali silaturahmi, banyak sodara tanpa aliran darah dan tiba-tiba jadi sodara. Pikiran gw saat itu adalah, kalo ada yang namanya ‘sodara sekampung’ apa ada yang namanya ‘sodara se-kelurahan’, ‘sodara se-negara’, ‘sodara se-benua’, se-galaksi sekalian. Trus berapa banyak dong yang harus diundang kalo pesta? Sekampung? Buju buset, bisa abis tabungan orang tua gw buat ngasih makan orang sekampung tiap ada hajatan!

Begitu juga dalam menjalin hubungan dating ato marriage. Lw gak hanya cukup ngambil muka di depan orang tua ato adek/kakaknya, tapi lw juga harus ngambil hati om nya, tantenya, tantenya dari tantenya, dll lah. Tahap “dikenalin ke keluarga” bisa jadi artinya adalah lw dikenalin ke om-tantenya segala. I was like, “Really? Did they help to raise you like, say, financially?”. Jawabannya, “No, they didn’t. They’re my family.”

Gak cuma sampe tahap perkenalan, pengambilan keputusan pun ibarat pemilu. Kebanyakan orang Minang menimbang penilaian keluarga terhadap pasangannya, sekali lagi, keluarga disini bukan nuclear family. Kadang gw suka merasa lucu ketika ada teman yang harus putus dengan pacarnya karena tidak disukai keluarga. Waktu ditanya keluarga yang mana, jawabannya pamannya. Zonk! Lalu mulai lah mereka bercerita tentang adat. Lalu aku terlelap.

Advertisements

One thought on “Moving to West Sumatra for Beginners – Part 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s